aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!
Tampilkan postingan dengan label Jihad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jihad. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Agustus 2013

Tuan Dan Budak, Bersaudara Hingga Syahid


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada para sahabatnya, “Ambillah olehmu Al-Qur’an itu dari empat orang yaitu, Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Muadz bin Jabal!” 
Salim adalah maula (hamba sahaya yang dimerdekakan) Abu Hudzaifah bin Utbah, seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mulanya, Salim adalah seorang budak, kemudian Islam memperbaiki kedudukannya, dimerdekakan dan diangkat anak oleh seorang pemimpin Islam terkemuka dan seorang bangsawan Quraisy, Abu Hudzaifah bin Utbah.
Ketika turun ayat yang membatalkan kebiasaan mengambil anak angkat, setiap anak angkat kembali menyandang nama bapaknya. Misalnya Zaid bin Muhammad, anak angkat Nabi Muhammad, kembali menyandang nama bapaknya menjadi Zaid bin Haritsah.
Tapi lain halnya dengan Salim yang tidak diketahui siapa bapaknya akibat perbudakan. Ia menghubungkan diri kepada orang yang telah memerdekakannya, sehingga dipanggil dengan nama Salim maula Abu Hudzaifah.
Ada pun Abu Hudzaifah, seorang sahabat yang mulia, sangat bangga dan merasa terhormat telah memerdekakan Salim, seorang budak yang beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta dicatat namanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai tempat orang bertanya tentang Al-Qur’an. Maka, dinikahkanlah Salim dengan kemenakannya, Fatimah binti Walid bin Utbah.
Di antara kelebihan Salim yang sangat menonjol adalah mengemukakan apa yang diangggapnya benar secara terus terang. Ia tidak akan menutup mulut terhadap suatu kalimat yang seharusnya diucapkan.
Ketika Mekah berhasil dibebaskan oleh kaum Muslimin, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus beberapa rombongan sahabatnya yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dengan tujuan untuk berdakwah bukan untuk berperang.
Ketika Khalid bin Walid sampai ke tempat yang dituju, terjadilah peristiwa yang menyebabkannya terpaksa menggunakan senjata dan menumpahkan darah. Ketika hal itu beritanya sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan Khalid.”
Dalam ekspedisi yang dipimpin oleh Khalid tersebut ikut serta pula Salim maula Abu Hudzaifah. Ketika melihat perbuatan Khalid, Salim menegurnya dengan keras dan menjelaskan kesalahan-kesalahan Khalid. Namun, Khalid yang merasa bahwa yang menegurnya adalah bekas seorang budak, membela dirinya dengan sengit. Tetapi, Salim tidak gentar sedikit pun. Ia yakin dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbunyi, “Agama itu nasihat.”
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendengar perbuatan Khalid, Beliau bertanya, “Adakah yang menyanggah Khalid bin Walid?”
Beliau menjadi tenang ketika mendengar para sahabat menjawab, “Ada, Salim maula Abu Hudzaifah. Dia menegur dan menyangggahnya.” Sejak saat itu, Khalid bin Walid sangat menghormati Salim dan sering meminta nasehatnya.
Persaudaraan antara Salim dan Abu Hudzaifah semakin erat dan kukuh, terutama ketika mereka berdua ikut dalam Perang Yamamah, peperangan untuk menumpas nabi palsu Musailamah al-Kadzab dan para pengikutnya. Peperangan kali ini dipimpin pula oleh Khalid bin Walid dengan strategi peperangan yang handal.
Abu Hudzaifah berseru memberi semangat, “Hai pengikut-pengikut Al-Qur’an. Hiasilah Al-Qur’an dengan amal-amal kalian!”
Bagaikan seorang raksasa yang lapar, pedang Abu Hudzaifah berkelebatan mencabik-cabik musuh.
Di lain tempat yang tidak begitu jauh dari Abu Hudzaifah, Salim tidak ketinggalan berseru, “Amat buruk nasibku sebagai pemikul tanggung jawab Al-Qur’an apa bila benteng kaum Muslimin hancur karena kelalaianku!”
Akhirnya, kelompok orang-orang murtad mengepung dan menyerbu Salim, hingga roboh ke tanah dalam keadaan terluka parah.
Ketika peperangan usai, dengan terbunuhnya Musailamah al-Kadzab dan penyerahan diri pengikut-pengikutnya, kaum Muslimin mencari-cari korban para syuhada mereka. Mereka menemukan Salim dalam keadaan luka parah. Ia masih sempat bertanya kepada para sahabatnya.
“Bagaimana nasib Abu Hudzaifah?”
“Ia telah menemui syahidnya,” jawab para sahabat.
“Baringkan aku di sampingnya!” pinta Salim.
“Ini dia di sampingmu, Wahai Salim. Ia telah menemui syahidnya di dekatmu.”
Mendengar itu, Salim tersenyum dan menghadap Rabbnya dengan senyum kebahagiaan. Ia telah menemukan bersama saudaranya, apa yang selama ini mereka dambakan, yaitu mati syahid.
Salim dan Abu Hudzaifah adalah orang yang masuk Islam secara bersama-sama, hidup sebagai saudara dan mati syahid bersama-sama pula, satu perjalanan hidup yang indah.
Tentang sosok Salim ini, Umar bin Khaththab RA pernah berkata, “Seandainya Salim masih hidup, pastilah ia menjadi penggantiku (sebagai khalifah).”
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menempatkannya bersama orang-orang yang beruntung dan selamat dari azab-Nya. Aamiin.

Minggu, 11 Agustus 2013

Abdullah Azzam Menghidupkan Kembali Kewajiban Jihad di Era Modern

Nama lengkap beliau adalah "Abdullah Yusuf Azzam". Lahir pada tahun 1360 H/1941 M di desa Sailatul Haritsiyah, Jenin, Tepi Barat, Palestina. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di desa kelahirannya tersebut.

Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Teknologi Pertanian di mana berhasil meraih gelar diploma dengan derajat imtiyaz (Istimewa). Selepas kuliah, bekerja di bidang pendidikan dan menikah dengan Ummu Muhammad pada usia 18 tahun.


Hafal Al-Qur’an, ribuan hadits, juga syair. Melanjutkan studi keislaman di Fakultas Syariah, Universitas Damaskus, Suriah, dengan cara intisab (studi jarak jauh). Berhasil meraih gelar sarjana (Lc.) pada tahun 1386 H/1966 M dengan predikat jayyid jiddan (Sangat Memuaskan).

Pada Perang Arab-Negara Israel 1387 H/1967 M, Abdullah Azzam kembali ke Palestina untuk melaksanakan kewajiban i’dad dan jihad serta berpartisipasi dalam banyak pertempuran mengusir penjajah. Di sela-sela perjuangannya, beliau masih sempat melanjutkan studi magister dan berhasil meraih gelar master (M.A.) pada tahun 1389 H/1969 M juga dengan predikat jayyid jiddan. Setelah wilayah Tepi Barat jatuh ke Israel, beliau berhijrah ke Yordania pada 1390 H/1970 M dan bekerja sebagai dosen di Fakultas Syariah, Universitas Yordania, Amman. Kemudian mendapat beasiswa tugas belajar dari kampusnya untuk studi doktoral pada bidang Usul Fikih di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Gelar doktor pun berhasil diraih pada tahun 1393 M/1973 M dengan predikat asyraful ‘ula (Dengan Pujian). Disertasi beliau berjudul Dalatul Kitabi was Sunnati ‘alal Ahkam, setebal 930 halaman.

Pada tahun 1980 M/1400 H keluar surat pemberhentian beliau sebagai dosen dari Otoritas Militer Yordania karena aktivitas keislaman beliau. Selama di Yordania beliau memang aktif berjihad di sekitar perbatasan Palestina–Yordania. Beliau kemudian hijrah ke Arab Saudi dan kemudian mengajar di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah. Di sinilah memulai interaksi secara intens dengan mahasiswa yang kelak dianggap sebagai pendukung dan penerus utamanya di Maktab Al-Khidmat, yaitu Usamah bin Laden.

Setahun kemudian beliau pindah mengajar sebagai “dosen terbang” di Universitas Islam Internasional di Islamabad atas permintaan sendiri, agar lebih dekat dengan jihad Afganistan. Mulai terlibat kembali dengan amal jihadi sejak tahun 1402 H. Puncaknya adalah berdirinya Maktab Al-Khidmat (Kantor Pelayanan Mujahidin) pada tahun 1404 H; sebuah lembaga yang menjadi cikal-bakal Tanzhim Al-Qa’idah.

Setelah berakhirnya masa tugas beliau di Pakistan, pihak Universitas Raja Abdul Aziz menolak untuk memperpanjang kontrak. Beliau pun mengajukan pengunduran diri dan mulai tahun 1406 H bekerja di Rabithah Al-‘Alam Islami sebagai mustasyar (konsultan) di bidang pendidikan bagi mujahidin Afganistan. Selama di Pakistan beliau berinteraksi dengan para pemimpin utama Mujahidin Afghan, seperti Abdu Rabbirrasul Sayyaf, Hikmatyar, Burhanuddin Rabbani, Muhammad Yunus Khalish, Jalaluddin Haqqani dan Ahmad Syah Mas’ud.

Dr. Abdullah Azzam pun semakin intens pergi ke medan jihad Afganistan. Beliau pun sampai pada kesimpulan bahwa jihad Afgan adalah jihad islami dan hukumnya fardhu ‘ain bagi yang mampu. Mengingat nilai strtegisnya, umat Islam seluruh dunia wajib mendukung jihad ini. Beliau pun mengonsentrasikan seluruh potensi dirinya dan memotivasi umat dengan jihad Afganistan.

Pada hari Jumat, 24 Rabiul Akhir 1410 H, Syekh Abdullah Azzam menjemput kesyahidan —insyaallah— ketika menuju ke Masjid Sab’ul Lail, Peshawar. Ketika dalam perjalanan untuk memberikan khotbah Jumat, mobilnya melaju di atas ranjau yang ditanam oleh musuh. Semoga Allah merahmati beliau dan keluarganya serta mengaruniakan pahala yang sebaik-baiknya.

Musuh-musuh Islam mungkin mengira bahwa jihad akan padam dengan meninggalnya beliau. Jasad beliau memang binasa, namun kata-kata dan motivasi beliau tetap hidup. Terbukti, akademi militer mujahidin (muaskar) yang beliau rintis berhasil meluluskan alumni-alumni yang kelak terlibat dalam berbagai kancah Jihad Internasional.

Karya-karya Abdullah Azzam pun tetap hadir di tengah umat. Maktab Al-Khidmat sendiri setidaknya berhasil mendokumentasi khotbah dan muhadharah (ceramah) beliau dan membukukannya hingga lebih dari 50 karya, di antaranya serial At-Tarbiyyah Al-Jihadiyyah wa Al-Bina’ (16 buku), Al-Hijrah wa Al-I’dad (3 buku), dan Hadamul Khilafati wa Bina’uha (1 buku). Lebih dari 40 karya beliau dalam versi digital hingga kini juga bisa diakses di situs internet Minbar At-Tauhid wa Al-Jihad pada URL: http://tawhed.ws/a?a=a82qriko.

Selasa, 06 November 2012

Empat Orang Suaminya Menjadi Syuhada

 
Namanya Atika binti Zaid bin Amar bin Nufail. Merupakan keturunan Quraisy yang baik nasabnya. Perangainya lembut, parasnya cantik, akhlaknya mulia, hatinya bersih. Wajar, jika kemudian, dalam perjalanan hidupnya, beliau tercatat bersuami para mujahid. Tidak tanggung-tanggung, beliau menikah dengan empat generasi terbaik umat ini dimana keempatnya syahid di jalan Allah.

Pertama kali beliau dinikahi oleh Abdullah putra Abu Bakar ash-Shidiq. Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Robbani ini? Sang Abu Bakar adalah yang terdepan dalam jihad, ia infaqkan semua hartanya di Jalan Allah dan RasulNya.

Sayangnya, lantaran kecantikan dan kepiawaian Atikah dalam berinteraksi, ia bercerai dengan Abdullah lantaran titah Abu Bakar. Apa pasal? Karena asyik bercengkerama dengan Atikah, Abdullah lalai dari shalat berjama’ah. Dua pasangan ini asyik bercanda dari sebelum adzan hingga shalat usai didirkan. Maka, sang Ayah yang sholih itu segera memanggil buah hatinya, “Wahai Abdullah, ceraikanlah istrimu.”

Selepas cerai, Abdullah jatuh sakit. Sang ayah yang faham itu tahu penyebab sakitnya. Maka diperintahkanlah Abdullah rujuk dengan Atikah dengan satu syarat, “Jangan sampai cintamu kepada wanita itu mengalahkan cintamu kepada Allah dan RasulNya.” Kedua sejoli inipun akhirnya menikah untuk kedua kalinya.

Waktu berjalan, keduanya bertumbuh dalam rangka saling mencintai karena Allah. Hingga akhirnya, Perang Thaif berkecamuk. Atikah berangkat sebagai penyemangat para mujahid dengan syair-syairnya. Sedangkan Abdullah maju dengan gagah perkasa hingga akhirnya menjadi syuhada’. Atikah-pun menjanda. Janda Syuhada’.

Selesai masa ‘iddah, Atikah yang sholihah itu disunting oleh Umar bin Khaththab. Cinta keduanya tumbuh subur, menjulang ke langit batangnya, akarnya menancap kuat di bumiNya dan buah nya bertebaran di seantero masyarakat sekelilingnya. Hingga akhirnya Sang Umar ditikam oleh seorang bejat. Kembali, Atikah menjadi Janda Syuhada’ untuk kedua kalinya.

Tak berselang lama, Sang Janda Syuhada’ itupun dipersunting oleh Zubair bin Awwam. Seorang sahabat nabi yang tak diragukan lagi kesholihan dan komitmennya dalam dakwah. Waktu berlalu, hingga akhirnya Sang Zubair syahid di medan Jamal. Ya, kembali untuk ketiga kalinya, Atikah menjadi Janda Syuhada’.

Selepas itu, Atikah hendak dipersunting oleh Ali bin Abi Thalib. Tapi Ali urung melaksanakan maksudnya karena Atikah mengajukan syarat agar suaminya kelak tidak terjun dalam kancah jihad bil qital. Maka akhirnya, Husein bin Ali-lah yang menyunting Janda Syuhada’ itu. Ketika itu, usia Atikah sudah berkepala lima. Namun kasih sayangnya utuh, hingga keluarga Husein-Atikah senantiasa harmonis dalam kerangka saling mencintai karena Allah.

Takdirpun berlaku. Husein bin Ali syahid dalam medan Karbala. Untuk keempat kalinya, Atikah yang memesona itu menjadi janda Syuhada’. Hingga akhirnya Atikah tidak dinikahi lagi oleh siapapun dan wafat pada tahun 40H.

Allahu Akbar Walillahil Hamd … Semoga kisah ini menginspirasi kita semua. Bahwa orang baik, tidaklah dipasangkan kecuali dengan orang baik pula.
Source : kisahislami.com

Selasa, 09 Oktober 2012

JASADNYA DIMAKAMKAN OLEH MALAIKAT



Amir Bin Fuhairah adalah salah seorang budak milik Tufail Bin Harits yang masuk Islam ketika Rasulullah saw menerima wahyu yang pertama. Masuk Islamnya Amir menimbulkan kemarahan besar pada majikan dan pemimpin Quraisy yang memuja berhala. Para pemimpin kafir Quraisy merasa cemas melihat banyak budak-budak masuk Islam, seperti halnya Amir. Sebab hal itu akan menyuburkan pertumbuhan Islam di kalangan mereka. Oleh karena itu, kaum kafir Quraisy berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi dan merintangi setiap orang yang hendak masuk Islam denga cara apaun yang mereka kehendaki.

Pada suatu hari Amir mendapat teguran dari pemimpin Quraisy setelah dilaporkan oleh majikannya Tufail. Sang pemimpin itu dengan tegas berkata, “Hai Amir, segera tinggalkan agama baru yang engkau anut itu.”

Amirpun menjawab dengan tegas pula, “Tidak! Aku sudah mantap untuk tetap dalam Islam.”

“Jika engkau mau kembali kepada agama nenek moyang kita, engkau akan diberi hadiah dan uang yang banyak” Bujuk pemimpin Quraisy itu.

“Aku tidak mau menukar keyakiananku dengan harta benda dunia. Bagiku keyakinan lebih berharga dari segalanya.” Tegas Amir.

“Kalau begitu, engkau layak mendapat siksaan!” kata pemimpin itu mengancam.

“Aku tidak takut ancaman itu!” kata Amir tegas.

“Keparat…!” seret budak itu dan siksa sampai ia mau tunduk kepada kita!” perintah sang pemimpin.

Kaum kafir Quraisy berdatangan mendengar gertakan pemimpinnya. Amir diseret beramai-ramai laksana benda mati saja. Mereka menyeret kedua kakinya sementara badannya tergeletak di tanah. Karuan saja punggungnya lecet-lecet dan darah bercucuran. Amir dibawa ke suatu tempat di lapangan terbuka. Di sana ia disabet dengan cemeti secara bergantian. Akibatnya tubuh Amir memar dan terluka. Namun Amir tetap dalam keteguhannya memegang keyakinan Islamnya. Ia menganggap bahwa itu adalah sebagai cobaan.

Pada saat itu Abu Bakar lewat dan melihat kerumunan mereka. Ia menghentikan langkahnya dan menghampiri kerumunan itu. Ternyata mereka sedang menyiksa seorang budak dan ia tahu bahwa ia adalah budak milik Tufail.

“Sungguh biadab kelakuan mereka itu.” Kata Abu Abakar dalam hati. Lalu menghampiri Tufail dan berkata,

“Tufail, aku beli budakmu itu !”.

“Silahkan, kebetulan sekali. Aku sudah muak melihat budakku itu.”

“Berapa engkau engkau jual?” tanya Abu Abakar.

“Karena engkau adalah suami dari anak saudaraku, maka terserah engkau saja, berapa engkau bayar. ”Kata Tufail. Abu Bakar membeli budak dengan harga yang pantas dan membawanya pulang. Kelak ketika Rasulullah mengadakan perjanjian persaudaaran antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, beliau memersaudarakan Amin Bin Fuhairah sebagai kaum Muhajirin dengan Harits Bin Aus sebagai kaum Anshar. Sejak dibeli oleh Abu Bakar, Amir selalu berada di belakang Rasulullah ketika shalat lima waktu.

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Amir bekerja sebagai pedagang. Tetapi baginya berdagang bukanlah untuk mengumpulkan kekayaan duniawi, melainkan yang terpenting baginya adalah dapat memenuhi kebutuhan keseharian dengan cara yang halal dan tidak mengharap-harap pemberian orang lain.

Walaupun ia rajin berdagang, tapi ia tidak pernah menyimpan uang untuk hari esok. Kekayan yang ia miliki hanyalah senjata untuk berperang dan beberapa potong pakaian untuk shalat di masjid. Karena ia tidak mempunyai apa-apa, maka ketika perang ia selalu menjadi pasukan infantri (pasukan pejalan kaki) di depan Rasulullah saw. sang komando jihad. Pernah ketika ia mengikuti perang, ia mengalami luka-luka, ia malah berkata, “Ini adalah peringa-tan Allah di hari akhir nanti.”

Dalam suatu perjalanan pulang setelah mengantarkan surat dakwah Rasulullah kepada salah seorang penguasa di wilayah Biri Maunah, ia bersama rombongannya berkemah di untuk berisirahat. Ketika sedang beristirahat itulah, mereka dikepung oleh kepala suku bersama pasukannya di wilayah itu. Terdengar kepala suku itu berkata, “ Hai kawan-kawan, segeralah minta bantuan untuk mengepung tenda itu!”

Lalu terdengar ada seseorang yang berkata dengan suara yang keras, “Hai para utusan Nabi kini saatnya kalian mati di tanganku.”

“Wah…. Kita telah terkepung.” Kata Amir. “Kita harus melawan dengan sekuat tenaga.“ Kata yang lain.

Karena jumlah rombongan Amir dan kawan-kawannya yang sedang beristirahat di dalam kemah itu tidak seimbang dengan jumlah pasukan yang mengepungnya, maka mereka kalang kabut. Meskipun mengadakan perlawanan, namun karena jumlah mereka tidak seimbang, perlawanan mereka sia-sia. Akibatnya rombongan para utusan Rasulullah itu banyak yang gugur sebagai syahid. Hanya tiga orang yang berhasil meloloskan diri dan selamat, termasuk Amir bin Fuhairah. Tetapi mereka mengejar ketiga orang tersebut. Amir ditikam dengan tombak oleh Jabbar bin Salma. Ketika ujung tombak menembus dadanya, Amir berkata, “Demi Allah, aku beruntung!” “Bagaimana engkau beruntung, sedang engkau sebentar lagi akan mati?” kata Jabbar. Amir menjawab, “Aku beruntung karena kematianku adalah sebagai syahid.”

Setelah Amir benar-benar mati terbunuh, tiba-tiba mereka menyaksikan sesuatu yang menakjubkan, yakni tubuh Amir melayang-layang di udara dan terbang ke langit. Mereka keheranan menyaksikan peristiwa itu. Peristiwa itu menyadarkan mereka. Sehingga gara-gara peristiwa itu mereka menyatakan diri masuk Islam. Setelah mereka menjadi muslim yang taat di antara mereka ada memper-tanyakan tentang kematian Amir bin Fuhairah yang jasadnya melayang-layang di udara dan terbang ke angkasa.

Maka Rasulullah saw menjawab, “Jasad Amir bin Fuhairah dibawa oleh para malaikat dan dimakamkan di langit.”

Rabu, 29 Agustus 2012

Al-Khansa' Ibunda Mujahid-Mujahid Sejati




Dialah al-Khansa’, wanita arab pertama yang jago bersyair. Para sejarawan sepakat bahwa sejarah tak pernah mengenal wanita yang lebih jago bersyair daripada al-Khansa’, sebelum maupun sepeninggal dirinya. Konon mulanya ia tak pandai bersyair, ia hanya bisa melantunkan dua atau tiga bait saja. Namun dizaman jahiliyyah , tatkala saudara kandungnya yang bernama Mu’awiyah bin Amru as-Sulami terbunuh, ia meratapi kematiannya dalam beberapa bait syair. Lalu menyusullah saudara seayahnya yang terbunuh pula, namanya Shakhr. Konon al-Khasa’ amat mencintai saudaranya yang satu ini, karena ia amat penyabar, penyantun, dan penuh perhatian terhadap keluarga. Kematiannya menyebabkannya sangat terpukul, lalu muncullah bakat bersyairnya yang selama ini terpendam. Dan mulailah ia melantunkan bait demi bait meratapi kematian saudaranya. Semenjak itulah ia mulai banyak bersyair dan syairnya semakin indah.

Keislaman al-Khansa’ dan Kaumnya                                                                       
Tatkala mendengar dakwah Islam, al-Khansa’ datang bersama kaumnya -Bani sulaim- menghadap Rasulullah SAW dan menyatakan keislaman mereka. Ahli-ahli sejarah menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah SAW menyuruhnya melantunkan syair, kemudian karena kagum atas keindahan syairnya, beliau mengatakan,”Ayo teruskan, tambah lagi syairnya, wahai Khansa’!” sambil mengisyaratkan dengan telunjuk beliau.
Wasiat al-Khansa’ Bagi Keempat Anaknya

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa’ dan keempat putranya ikut serta dalam perang al-Qadisiyyah. Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa berwasiat kepada putera-puteranya,
wahai anak-anakku, kalian telah masuk islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi allah yang tiada ilah yang haqq selain Dia, kalian adalah putera dari laki-laki yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian. Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana.
“wahai anak-anakku, kalian telah masuk islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi allah yang tiada ilah yang haqq selain Dia, kalian adalah putera dari laki-laki yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian.

Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana. Allah SAW berfirman,

 “ Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga ( diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran : 200) 

Andaikata  esok kalian masih diberi kesehatan oleh allah, mak perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi. Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk, mudah-mudahan kalian meraihghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan.”

Lalu ia pun bertempur habis-habisan hingga gugur. Semoga Allah meridhainya beserta ketiga saudaranya. Tatkala berita gugurnya keempat anaknya tadi sampai ke telinga al-Khansa’, ia hanya tabah sembari mengatakan,” segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.” ( sumber : Ibunda Para Ulama/Sufyan bin Fuad Baswedan/WAFA press)

Kepahlawanan Keempat anaknya
Terdorong oleh nasihat ibunya, keempat puteranya tampil dengan gagah berani. Mereka bangkit demi mewujudkan impian sang ibunda. Dan tatkala fajar menyingsing, majulah keempat puteranya menuju kamp-kamp musuh. Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus anak pertama  memulai seranagn sambil bersyair,

Saudaraku, ingatlah pesan ibumu
Tatkala ia menasehatimu di waktu malam..
Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,
“Majulah dengan geram dan wajah muram!”
Yang kalian hadapi nanti hanyalah
Anjing-anjing sasan yang mengaum geram..
Mereka telah yakin akan kehancurannya,
Maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram
Atau kematian yang penuh keberuntungan.
Ibarat anak panah, anak pertama melesat ke tengah-tengah musuh dan berperang mati-matian hingga akhirnya gugur. Semoga Allah merahmatinya. Berikutnya, giliran yang kedua maju menyerang sembari melantunkan,
Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah,
Pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana
Ia perintahkan kita dengan penuh bijaksana,
Sebagai nasehat tulus bagi puteranya
Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka
Dan raihlah kemenangan yang nyata
Atau kematian yang sungguh mulia
Di Jannatul Firdaus yang kekal selamanya.
Kemudian ia bertempur hingga titik darah penghabisan, menyusul saudaranya kealam baka. Semoga Allah merahmatinya. Lalu yang ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak kedua saudaranya, seraya bersyair,
Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu
Perintah yang sarat dengan kasih sayang
Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran
Maka majulah dengan gagah ke medan perang..
Hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan
Mereka tahu, bagaimana cara berjuang
Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan
Raihlah kemenangan meski maut menghadang.
Kemudian ia terus bertempur hingga mati terbunuh. Semoga allah merahmatinya. Lalu tibalah giliran anak terakhir menyerang. Ia maju seraya melantunkan,
Aku bukanlah anak si Khansa’ maupun Akhram
tidak juga Umar atau leluhur yang mulia,
Jika aku tak menghalau pasukan ajam,
Melawan bahaya dan menyibak barisan tentara
Demi kejayaan yang menanti, dan kejayaan
Ataulah kematian, dijalan yang lebih mulia.
(voa-islam.com)

Kabsyah binti Rafi' ra, Kesyahidan Putranya Mengguncang 'Arsy




Shahabiyah yang akan kita ikuti kisahnya kali ini, adalah sosok ibu yang senantiasa mendorong putranya bersegera terjun ke medan jihad. Dia telah merelakan kedua putranya syahid demi meninggikan kalimah Allah dan meraih jannah. Dialah Kabsyah binti Rafi’ bin Mu’awiyah bin ‘Ubaid bin al-Abjar al-Khudriyyah.

Kabsyah binti Rafi’ adalah ibunda Sa’ad bin Mu’adz al-Asyhali pembawa bendera kaum Anshar dan salah seorang anggota majlis syuro saat Perang Badar. Kesyahidannya mengguncang ‘Arsy, membuat Allah tersenyum dan diiringi oleh 70 ribu malaikat.

Kabsyah bersyahadat
Hidayatut taufik menembus keimanan Sa’ad bin Mu’adz melalui da’wah yang disampaikan Mush’ab bin ‘Umair. Beliau adalah utusan Rasulullah SAW ke Yatsrib/ Madinah. Atas izin Allah dengan cahaya Islam yang memancar di wajahnya dan lisan yang terbimbing, dua tokoh besar Madinah taslim, yaitu Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair.

Atas kemurahan-Nya juga keislaman Sa’ad bin Mu’adz diikuti oleh seluruh bani Abdul Asyhal, tidak seorangpun membantah seruannya sebelum matahari terbenam. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Tidak ketinggalan Ummu Sa’ad bin Mu’adz yaitu Kabsyah binti Rafi’, pada hari itu juga ia memeluk Islam. Kebersihan jiwa dan keikhlasan, mempermudah masuknya cahaya iman kedadanya. Rasa syukur dan kebahagiaannya menjadi sempurna ketika rumah yang didiaminya menjadi pusat perkembangan da’wah kala itu. Sehingga Kabsyah memiliki kesempatan turut andil secara maksimal dalam menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh pelosok Madinah.

Harapan mulia
Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, Kabsyah/Ummu Sa’ad sangat berharap Beliau SAW berkenan tinggal di rumahnya. Namun Allah berkehendak lain, dengan memilihkan tempat tinggal bagi Rasul-Nya di rumah bani Najjar. Tepatnya di rumah Abu Ayyub al-Anshari ra.
Seluruh keluarga dan suku Anshar berlomba-lomba memberi pelayanan terbaik bagi Rasulullah SAW dan para sahabatnya dari golongan Muhajirin. Kabsyah berada di barisan paling depan dalam memberikan segala sesuatu keperluan untuk da’wah dan pelayanan kepada sang pembawa risalah agung, Nabi Muhammad SAW.

Ummu Sa’ad adalah sosok yang selalu berusaha menjadi pelopor dalam kebaikan. Dia adalah perempuan pertama yang berba’iah kepada Nabi Muhammad SAW di Madinah.
Kabsyah berada di barisan terdepan dalam memberikan segala sesuatu keperluan untuk da’wah dan pelayanan kepada Rasulullah SAW.
Kabsyah adalah sosok wanita yang selalu berusaha menjadi pelopor dalam kebaikan.
Peran Kabsyah dalam Perang Badar
Ketika Perang Badar terjadi, Ummu Sa’ad mendorong dan menyemangati kedua putranya Sa’ad bin Mu’adz dan ‘Amr bin Mu’adz ra untuk ikut berjihad. Ummu Sa’ad sangat bahagia kedua anaknya bergabung dalam misi tersebut. Bahkan sang ibu berharap putranya dianugerahi syahadah di jalan-Nya. Namun takdir berbeda, mereka pulang dengan selamat dan memperoleh kemenangan. Layaknya azam setiap mereka yang berjihad, isy kariman aumut syahidan(Hiduplah mulian atau matilah sebagai syahid).

Peran Kabsyah dalam Perang Uhud
Usai Perang Uhud, para muslimah termasuk Ummu Sa’ad bergegas keluar rumah, untuk memastikan keselamatan Rasulullah SAW. Sebelumnya, terbetik kabar banyak kaum muslimin gugur dalam peperangan itu, termasuk salah seorang putra Ummu Sa’ad yaitu ‘Amr bin Mu’adz ra.
Dalam perang itu ‘Amr bin Mu’adz perang dengan gagah berani, hingga menjemput syahid.

Andil Ummu Sa’ad/ Kabsyah binti Rafi’ dalam Perang Khandak
Ummu Sa’ad, menyeru anaknya Sa’ad bin Mu’adz untuk bersegera berangkat berperang. , hingga ia tidak memperhatikan bahwa baju besi yang dipakai putranya tidak sempurna, seluruh sikunya terbuka dan terlihat jelas. Bahkan ‘Aisyah ra sempat mengingatkan hal tersebut. Rupanya itulah jalan menuju syahid. Sa’ad bin Muadz akhirnya menemui ajal,  setelah urat lengan yang terkena panah menimbulkan luka yang cukup parah dan tidak kunjung sembuh.

Di masa sakitnya, ia pernah memenuhi panggilan Rasulullah SAW untuk sebuah tugas memutus sebuah perkara untuk bani Quraizhah. Rasulullah SAW menilai putusan itu sangat adil, Beliau bersabda, ”Engkau telah memutuskan hukuman sesuai dengan hukum Allah dan hukum Rasul-Nya.”

Setiap perempuan berdusta dengan tangisnya, kecuali Ummu Sa’ad
Bagaimanapun, Ummu Sa’ad/Kabsyah binti Rafi’ sedih dan menangisi kepergian anaknya. Ketika Rasulullah SAW tiba di rumah Sa’ad bin Mu’adz, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya. Mendengar tangisan Ummu Sa’ad Rasulullah SAW bersabda, “Setiap perempuan berdusta dengan tangisnya, kecuali Ummu Sa’ad.” Kemudian jasad Sa’ad dibawa keluar. Orang-orang yang mengangkatnya berkata, ”Wahai Rasulullah kami tidak pernah mengangkat jenazah seringan ini.” Rasulullah SAW bersabda, ”bagaimana tidak ringan, malaikat telah turun ke bumi begini dan begini. Mereka belum pernah turun dengan cara seperti ini sebelumnya. Dan mereka ikut memikul jenazah bersama kalian."

Rasulullah SAW pernah menemui Sa’ad saat terbaring sakit dan nafasnya tersengal-sengal. Rasulullah SAW bersabda, ”Semoga Allah membalas kebaikanmu selama ini sebagai pemimpin kaum yang baik. Engkau telah membuktikan janjimu, maka aku berdo’a semoga Allah membuktikan janji-Nya kepadamu.”
Rasulullah SAW bersabda, ”Arsy Allah yang Maha Pengasih berguncang karena kematian Sa’ad bin Mu’adz.” ( Muttafaq ‘ alaih ).
”Arsy Allah yang Maha Pengasih berguncang karena kematian Sa’ad bin Mu’adz.”
Ibnu Umar ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Hamba shalih yang (kematiannya) telah mengguncang 'Arsy, membuat pintu-pintu langit terbuka dan 70.000 malaikat hadir mengiringinya. Padahal mereka belum pernah turun ke bumi seperti ini sebelumnya, merasa kesempitan kemudian Allah memberinya keleluasaan. Hamba shalih yang dimaksud adalah Sa’ad bin Muadz," (HR.Bukhari Muslim).
Mendengar kebaikan yang diperoleh putranya, Ummu Sa’ad sangat terhibur.
70 Ribu Malaikat hadir mengiring jenazah Sa'ad bin Mu'adz dan memikulnya bersama kaum muslimin.
Menghadap Sang Khalik
Setelah menempuh perjalan dan perjuangan yang panjang, Ummu Sa’ad akhirnya menyusul kedua putranya, menemui Sang Khalik. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha.
Semoga Allah SWT mengumpulkan mereka di surge Firdaus.
Tak inginkah kita berkumpul kembali di jannah dengan keluarga yang kita cintai ?

* Sumber: 35 Sirah Shahabiyah (Shahabiyyaat Haular Rasuul SAW), Mahmud Al Mishri

Ummu Haram binti Milhan: Teladan Kebajikan yang Syahid di Laut Putih


Keluarga Milhan Al-Anshari tergolong keluarga para sahabat mulia yang beruntung mereguk manisnya keimanan. Di dalam hati mereka bersemi rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka beruntung menyantap hidangan Islam dan hidup bahagia. Dengan izin Allah, mereka akan mendapatkan balasan yang baik di akhirat. Mereka tergolong orang-orang yang terdahulu masuk Islam. Di antara mereka yang beruntung mendapatkan keridhaan Allah adalah Ummu Haram binti Milhan bin Khalid Al-Anshariyyah An-Najjariyyah. Dia adalah bibi seorang sahabat mulia, yaitu Anas bin Malik, dan istri seorang sahabat bernama Ubbadah bin Ash-Shamit.

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah SAW datang di Masjid Quba dengan berkendaraan atau berjalan kaki, lalu mengerjakan shalat dua rekaat.” (HR. Muslim)

Di Quba, dibangun sebuah masjid berdasarkan ketakwaan. Allah berfirman, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya.” (At-Taubah: 108)

Di lembah yang penuh berkah inilah (Quba), Ummu Haram tinggal dan termasuk sebagai salah seorang penduduknya. Dia memiliki kedudukan mulia di sisi Rasulullah. Banyak riwayat menerangkan bahwa Rasulullah sangat hormat kepadanya dan sering berkunjung ke rumahnya, sekaligus tidur siang di sana. Dan terkadang beliau shalat di sana.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Anas, “Suatu ketika Rasulullah datang kepada kami. Ketika itu tiada orang selain saya, ibuku, dan bibiku (Ummu Haram). Beliau bersabda, “Bangunlah kalian semua. Sungguh aku akan melaksanakan shalat dengan kalian.” Lalu beliau shalat dengan kami. Setelah itu beliau berdoa untuk kami dan ahli bait demi mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.”

Ketika suatu hari Rasulullah berziarah kepada Ummu Haram, dia membuatkan makanan dan menghidangkannya kepada beliau. Ummu Haram duduk seraya memeriksa kepala Rasulullah yang mulia untuk membersihkan kutu darinya, kemudian Rasulullah tertidur. Setelah terbangun, beliau tertawa dan memberikan kabar gembira kepada Ummu Sulaim bahwa dia adalah seorang yang akan mendapatkan syahid. Oleh karena itu dia dipanggil “Asy-Syahidah”. Kelak, prediksi Rasulullah tersebut akan mendapatkan relevansinya.

Ummu Haram termasuk salah seorang shahabiyah yang memiliki jasa besar dalam mendirikan bangunan-bangunan kemuliaan dan merealisasikan amal-amal shalih. Dia adalah suri teladan yang baik dalam berbagai keutamaan.
…Ummu Haram telah membangun berbagai bidang kebaikan yang tidak terhitung jumlahnya. Kebajikan yang paling menonjol darinya adalah kecintaan menjadi syahid di jalan Allah, kedermawanan, dan sikap itsar…
Ummu Haram telah membangun berbagai bidang kebaikan yang tidak terhitung jumlahnya. Kebajikan yang paling menonjol darinya adalah kecintaan menjadi syahid di jalan Allah, kedermawanan, dan sikap itsar (mengutamakan orang lain). Lebih dari itu, dia juga adalah perawi hadits Nabi yang mulia. Dia meriwayatkan lima buah hadits dari Rasulullah. Para sahabat dan tabiin yang terkenal pun meriwayatkan hadits darinya.

Seperti kebanyakan para sahabat wanita lainnya, Ummu Haram pun memiliki kontribusi yang besar membantu pasukan kaum muslim dalam berbagai peperangan. Ummu Haram selalu menunggu rombongan pasukan perang kaum muslimin agar bisa turut serta dengan mereka. Bahkan dia tak segan untuk bergabung dengan pasukan muslim bertempur memerangi musuh Islam.

Diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan terjadi berbagai penaklukan besar di darat. Khalifah Utsman berpandangan bahwa untuk penyerangan ke Romawi harus bertolak dari Pulau Cyprus, dengan armada laut. Kemudian Khalifah Utsman memutuskan penyerangan itu jadi dilaksanakan. Timbullah pertanyaan, “Bagaimana tentara Islam dapat menyerang Romawi, sedangkan mereka tidak pernah naik kapal laut sebelumnya.”
Untuk mengatasi perkara tersebut, Khalifah Utsman mengadakan musyawarah. Mereka puas dengan penyerangan Cyprus yang tidak direncanakan sebelumnya. Angkatan laut pasukan Islam pun terbentuk setelah musyawarah tersebut. Pada saat itu, Khalifah Utsman mengizinkan Muawiyah bin Abu Sufyan untuk menggunakan kapal laut guna mengadakan serangan ke Cyprus, mereka pun berlayar dari Syam. Kemudian Allah menetapkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan Cyprus pun menjadi bagian kekuasaan kaum muslimin.

Dalam peperangan tersebut Ummu Haram masuk ke dalam jajaran para mujahidah. Dia mendapatkan syahid dalam peperangan itu. Dengan demikian, berita gembira yang diterimanya dari Rasulullah menjadi kenyataan dalam waktu yang tidak lama. Hadits tentang kesyahidannya diriwayatkan enam imam hadits di dalam kitab mereka. Sebagaimana tertulis dalam kitab sirah, biografi, dan thabaqat. At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dengan sanadnya dari Anas bin Malik. Suatu ketika Rasulullah SAW datang kepada Ummu Haram binti Milhan, lalu dia memberi Rasulullah makanan. Dia duduk seraya mencari kutu dari kepala Rasulullah, sampai beliau tertidur. Kemudian beliau terbangun dan tertawa. 

Ummu Haram bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku rombongan manusia dari umatku. Mereka berlayar untuk berperang di jalan Allah. Mereka laksana para raja yang sedang bergembira. Aku (Ummu Haram) berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan diriku bagian dari mereka.” Rasulullah pun berdoa untuknya, lalu meletakkan kepalanya dan tertidur kembali. Beliau terbangun dan kembali tertawa.

Ummu Haram berkata, “Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku rombongan manusia dari umatku. Mereka berlayar untuk berperang di jalan Allah. Mereka laksana para raja yang sedang bergembira.” Ummu Haram bertanya, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan diriku bagian dari mereka.”

Rasulullah bersabda kepadanya, “Engkau termasuk golongan awwalun, orang-orang yang terdahulu.” Anas menceritakan, “Dikatakan bahwa pada zaman Muawiyah bin Abi Sufyan, Ummu Haram ikut berlayar. Ketika mendarat, Ummu Haram diserang binatang tunggangannya hingga wafat.”
…mimpinya tentang kesyahidan telah menjadi kenyataan. Ummu Haram termasuk salah seorang mujahidah pertama dalam Islam yang ikut penyerbuan di Laut Putih…
Demikianlah, mimpinya tentang kesyahidan telah menjadi kenyataan. Ummu Haram termasuk salah seorang mujahidah pertama dalam Islam yang ikut penyerbuan di Laut Putih. Dia menjemput kesyahidan di jalan Allah setelah pertempuran di laut itu. Sungguh indah ketika Abu Na’im menyebutkan tentang Ummu Haram, dia berkata, “Manusia paling mulia. Syahidah di pertempuran laut. Perindu surga. Dialah Ummu Haram.”

Ummu Haram syahid pada tahun 27 Hijriah dan dimakamkan di Cyprus. Hisyam Al-Ghaz menyebutkan, “Makam Ummu Haram binti Milhan berada di Cyprus. Orang-orang mengatakan bahwa ini adalah makam wanita shalihah.” Semoga Allah ridha kepada Ummu Haram binti Milhan dan menjadikannya bersama orang-orang terdahulu di dalam Surga Firdaus. 
Referensi: Ahmad Khalil Jam’ah, Nisaa` min ‘Ashri An-Nubuwwah.

Ummu Dzar Al-Ghifariyah: Teladan Istri Setia Pendamping Suami


Shahabiyah yang akan kita telusuri kisahnya kali ini adalah  Ummu Dzar, istri shahabat Abu Dzar Al-Ghifari. Kesetiaannya mendampingi  suami, layak diteladani. Betapa tidak, karena beliau ikhlas merawat dan menemani sang suami hingga ajal menjemput . Dalam kesendirian di padang pasir liar nan luas membentang.

Rabadzah, tempat tinggal Abu Dzar Al-Ghifari
Karena adanya perbedaan pendapat, dengan Utsman bin Affan, maka Abu Dzar Al-Ghifari dan keluarganya memilih Rabadzah, padang pasir liar sebagai tempat tinggal mereka. Sebuah keputusan yang sangat berani. Karena daerah tersebut sangat jarang dilalui kafilah. Dan mereka pun hidup tanpa ada tetangga di kanan dan kirinya.
Sang istri yang shalihah, tanpa keluh kesah , dengan setia, mendampingi Abu Dzar Al-Ghifari dan anaknya. Hidup dalam kesederhanaan yang amat sangat. Ditambah lagi, di kemudian hari Abu Dzar Al-Ghifari menderita sakit yang cukup parah.

Menjelang ajal menjemput
Ajal pun semakin dekat, Ummu Dzar selalu berada di sisi sang suami untuk mengurus segala keperluannya. Melihat kondisi, yang semakin parah … Ummu Dzar akhirnya menangis di samping sang suami.

Abu Dzar bertanya, “ Apa yang kamu tangiskan, padahal maut itu pasti datang ?”
“ Karena engkau akan meninggal, padahal pada kita tidak ada kain untuk kafanmu!” jawab Ummu Dzar pilu.

Abu Dzar tersenyum dengan amat ramah, seperti layaknya orang yang akan merantau jauh. Lalu berkata kepada istrinya itu,” Janganlah menangis!  Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah saw bersama beberapa sahabatnya saw, saya dengar Beliau saw  bersabda,” Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman!”

Semua yang ada di majelis Rasulullah saw telah meninggal di kampung dan di hadapan jama’ah kaum muslimin. Tidak ada lagi yang hidup di antara mereka kecuali aku.
Nah, inilah aku sekarang menghadapi maut di padang pasir. Maka perhatikanlah jalanan, kalau-kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang !
Demi Allah, saya tidak bohong, dan tidak pula dibohongi!”
Tak berapa lama,  Abu Dzar pun kembali ke hadirat Allah SWT. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un.

Kenyataan yang ada
Subhanallah! Apa yang diucapkan Abu Dzar sungguh menjadi kenyataan. Karena tentu saja dia tidak berbohong, dan pasti tidak dibohongi. Karena Rasulullah SAW adalah ma’shum.
Tidak lama berselang, sesudah Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, tampak serombongan kafilah  yang sedang berjalan cepat di padang sahara itu. Subhanallah! Kafilah itu adalah Kafilah kaum mukminin yang  dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ibnu Mas’ud, merasa sangat trenyuh, karena ia melihat  sesosok tubuh yang terbujur seperti jenazah, sedang di sisinya duduk seorang perempuan tua, Ummu Dzar dan anaknya yang sedang menangis.
...Subhanallah! Betapa kesetiaan, ketegaran dan ketabahan Ummu Dzar, sangat layak dicontoh. Setia dan istiqamah mendampingi sang mujahid pilihan, hingga akhir hayatnya....
Subhanallah! Betapa kesetiaan, ketegaran dan ketabahan Ummu Dzar, sangat layak dicontoh. Setia dan istiqamah mendampingi sang mujahid pilihan, hingga akhir hayatnya. Walaupun harus bertempat tinggal di  padang pasir liar, padahal usianya sudah sangat tua. Dan tanpa harta yang berharga, hingga, kain untuk mengkafani suaminya pun tidak dimilikinya.

Ibnu Mas’ud, membelokkan tali kekangnya ke arah perempuan tua tersebut. Diikuti anggota rombongan dibelakangnya. Saat pandangan matanya tertuju pada tubuh sang jenazah … tampak olehnya wajah sahabatnya … sahabat seaqidah, sahabat seperjuangan dalam membela tegaknya Islam. Dialah Abu Dzar . Maka, air mata pun mengucur deras dari kedua pelupuk matanya. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un. Ia pun berkata, “Benarlah ucapan Rasulullah SAW. Anda berjalan sebatang kara. Mati sebatang kara. Dan dibangkitkan sebatang kara !”
Ibnu Mas’ud RA pun duduk, lalu bercerita kepada para sahabatnya maksud dari pujian yang diucapkannya.

‘ Anda berjalan seorang diri, mati seorang diri, dan dibangkitkan nanti seorang diri !”
Ucapan itu terjadi di waktu Perang Tabuk, tahun kesembilan Hijriah.

Perang Tabuk
Perang Tabuk, adalah perang melawan pasukan Romawi yang cukup menakutkan. Mereka berada di satu tempat dan siap menggempur umat Islam.  Saat itu, musim panas teramat teriknya. Sehingga tidak banyak kaum muslimin yang menyambut seruan Rasulullah SAW.
Mereka yang ikut pun, akhirnya berguguran di tengah jalan, satu demi satu . Sebagian disebabkan azam yang tidak mantap. Abu Dzar sempat tertinggal oleh rombongan, karena keledai yang ditungganginya, berjalan sangat gontai. Disebabkan lapar yang sangat dan teriknya matahari yang membakar. Namun Abu Dzar tidak patah semangat.

Akhirnya, karena tidak ingin tertinggal dalam kesempatan jihad, saat itu, Abu Dzar bertekad melanjutkan perjalanannya, mengejar rombongan Rasulullah saw dengan berjalan kaki, sambil memikul beban bawaannya.

Subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, ia berhasil . Alhamdulillah, bi-iznilah Abu Dzar dapat bertemu kembali dengan rombongan Rasulullah saw saat mereka beristirahat. Azam yang kuat, memberikan hasil akhir yang diharap.
Sungguh, menggapai surga adalah  hal yang tidak mudah dan hanya diberikan kepada hamba-hambanya yang terpilih …

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat”(Qs. Al-Baqarah 214).

Sebagai muslimah, banyak hal dapat kita lakukan dan persiapkan untuk berkhidmat di jalan-Nya.

Maroji: 101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah SAW oleh Hepi Andi Bastoni.

Sumayyah binti Khubbath: Wanita Beriman Pertama yang Gugur Syahid


Kisah perjuangan Sumayyah sungguh indah dan menawan untuk didengar. Kisahnya memiliki pengaruh sangat kuat untuk generasi muslim sesudahnya. Dia menjalani kehidupannya dengan berbagai ujian dan cobaan; mulai dari ujian terkecil hingga yang besar. Sumayyah merampungkan ujian dalam kehidupannya dengan sebuah titel kesuksesan terbesar, yaitu kesyahidan. Dia terdaftar dalam urutan para syuhada yang akan menerima hadiah surga dari Allah dan hidup di sisi-Nya serta diberi rezeki melimpah.

Diceritakan bahwa ketika Islam mulai muncul ke permukaan, Sumayyah yang juga istri seorang syahid bernama Yasir dan ibu seorang syahid bernama Ammar itu segera menyambutnya, sehingga dia termasuk salah satu wanita beriman pada fase pertama kemunculan Islam. Bahkan dapat dikatakan bahwa Sumayyah adalah wanita pertama yang memberikan perlawanan kepada kaum musyrikin demi membela panji Islam. Ibnul Atsir mengatakan, “Dia adalah orang ketujuh dari tujuh orang yang mula-mula masuk Islam. Dia termasuk orang yang menerima siksaan berat demi Allah SWT.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Orang yang mula-mula membela Islam ada tujuh orang; Rasulullah SAW, Abu Bakar, Bilal, Khabbab, Shuhaib, Ammar, dan Sumayyah.”

Di dalam bukunya, Nisaa` min ‘Ashri An-Nubuwwah, Syaikh Ahmad Khalil Jam’ah menegaskan bahwa dalam lintasan sejarah Islam, tidak dikenal seorang wanita yang memiliki kesabaran seperti Sumayyah. “Dia menjadikan kesabaran sebagai sebuah syiarnya,” tulisnya. Ini mengingat, dapat dibayangkan bagaimana keadaan seorang wanita yang sudah tua renta, namun mampu menghadapi siksaan yang begitu berat dari orang-orang kafir. Disebabkan keimanan kepada Allah, dia sanggup menghadapi berbagai kesedihan dan kesulitan.
... Sumayyah tidak seorang diri menghadapi pedihnya siksaan dan getirnya kehidupan. Dia menghadapi siksaan bersama seluruh anggota keluarganya...
Sumayyah tidak seorang diri menghadapi pedihnya siksaan dan getirnya kehidupan. Dia menghadapi siksaan bersama seluruh anggota keluarganya. Lecutan cemeti telah menghancurkan tubuh-tubuh mereka. Akan tetapi, keimanan yang kokoh kepada Allah laksana gunung karang yang tidak terpengaruh gelombang dahsyat ataupun angin yang hebat.
Dikisahkan bahwa Sumayyah diserahkan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah kepada keponakannya, Abu Jahal yang fasik. Meski kondisinya sangat renta dan ringkih, namun Sumayyah mampu menghadapi apa yang orang kuat sekalipun tidak mampu menghadapinya. Abu Jahal yang telah dihinakan oleh Allah mengambilnya dengan tujuan memuaskan rasa dengki di dalam hatinya, sekaligus mencabut akidah Islam yang tertanam di dada Sumayyah.
Menghadapi intimidasi Abu Jahal, Sumayyah memilih diam seribu bahasa dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Abu Jahal mengolok-oloknya dengan berkata, “Engkau tidak beriman kepada Muhammad, melainkan karena engkau merindukan ketampanannya.” Namun Sumayyah tetap tidak mau berbicara. Dia bertahan dari siksaan dengan rasa bangga. Karena dia merasa jauh lebih mulia daripada Abu Jahal dan para pengikutnya. Dia bangga dengan akidah tauhid yang diyakininya. Dengan tauhid, Sumayyah merasa ringan menghadapi siksaan yang pahit, karena dia yakin berada di jalan Allah.
...Menghadapi intimidasi Abu Jahal, Sumayyah memilih diam seribu bahasa dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Abu Jahal mengolok-oloknya...
Mengenai gambaran betapa beratnya siksaan yang dihadapi mereka, Ibnu Katsir menceritakan, dia menukil dari Ibnu Ishaq yang mengisahkan, “Ketika waktu zuhur tiba, Yasir, ayah, dan ibunya (Sumayyah) berangkat bersama Bani Makhzum. Mereka menyiksa keluarga Yasir di sekitar Kota Makkah. Rasulullah berlalu di dekat mereka seraya bersabda, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, dijanjikan surga untuk kalian.”

Lalu Al-Baihaqi, dengan sanadnya, meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulukllah berlalu di dekat Ammar dan keluarganya yang sedang menerima siksaan. Kemudian beliau bersabda kepada mereka, “Bergembiralah wahai keluarga Ammar dan Yasir, sesungguhnya telah dijanjikan surga untuk kalian semua.” (HR. Al-Hakim)

Ketika orang-orang musyrik telah merasa putus asa menghadapi ketabahan dan kesabaran Sumayyah, maka mereka membunuhnya dengan tombak yang dihunjamkan ke arah kemaluannya. Dan Sumayyah pun menjadi syahidah pertama.
... Ketika orang-orang musyrik telah merasa putus asa menghadapi ketabahan dan kesabaran Sumayyah, maka mereka membunuhnya...
Kerasnya intimidasi dan dahsyatnya siksaan kaum kafir Quraisy menyebabkan anak dan suaminya juga terbunuh di jalan Allah. Mereka terbunuh sementara keimanan dan keislaman tetap kokoh bercokol di dalam hati mereka.

Semoga Allah meridhai Sumayyah, anaknya, dan suaminya. Semoga mereka mendapatkan ampunan dari Allah, sebagai yang disabdakan Rasulullah, “Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir, dan Engkau telah melakukan itu.” 
[voa-islam.com]

Fathimah binti Yahya: Wanita Mujtahid Panutan


FATIMAH binti Yahya adalah seorang wanita mujtahid (mujtahidah) hebat pada abad ke-9. Mujtahid adalah sebuah terminologi keislaman bermakna seorang ulama mumpuni yang memiliki otoritas menarik kesimpulan hukum dari sumber-sumber hukum Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah).

Kemudian mereka menggunakan proses penarikan kesimpulan tersebut untuk memberi fatwa berkenaan dengan persoalan-persoalan kontemporer serta kebutuhan-kebutuhan individu di dalam sebuah masyarakat. Seseorang yang menyandang label mujtahid, maka dia harus memiliki pengetahuan Al-Qur`an dan sunnah, serta konsensus (ijma’) para sahabat, tabiin, para ulama fikih dan mujtahid lainnya.

Oleh karena itu, menjadi seorang mujtahid bukanlah perkara mudah. Namun Fathimah binti Yahya layak menyandangnya. Dia mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan melalui ayahnya yang merupakan salah seorang pakar hukum yang memiliki sejumlah murid.
...Ulama besar Imam Asy-Syaukani menyebut Fathimah sebagai orang yang dikenal luas dikarenakan pengetahuan yang dimilikinya...
Ulama besar, Imam Asy-Syaukani mengatakan tentang Fathimah, “Dia dikenal luas dikarenakan pengetahuan yang dimilikinya. Dia seringkali terlibat debat dengan ayahnya dalam beberapa persoalan fikih dan hukum. Ayahnya menyatakan bahwa Fathimah telah mengaplikasikan ijtihad dengan baik dalam melansir sejumlah fatwa. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dia terdepan dalam hal ilmu pengetahuan. Karena sang ayah tidak akan gegabah mengomentari demikian terkait seseorang, kecuali orang tersebut memang layak dengannya.”

Ayahnya kemudian menikahkannya dengan seorang ulama lainnya, yaitu Al-Muthahhar bin Muhammad bin Sulaiman bin Muhammad (w. 879). Tak sedikit kalangan yang menyatakan bahwa Al-Muthahat sungguh beruntung menikah dengan Fathimah. Ini mengingat, setiap kali dia kebingungan atas sesuatu persoalan fikih dan hukum, maka dia bisa berkonsultasi dengan istrinya untuk mencari keputusan tentang persoalan-persoalan fikih.

Pun demikian halnya ketika Al-Muthahhar berada di tengah-tengah muridnya, lalu menghadapi berbagai persoalan fikih dan hukum yang rumit, maka dia bangkit menuju tirai yang di baliknya terdapat Fathimah, sang mujtahidah, untuk bertanya kepadanya. Ketika Al-Muthahhar kembali dengan membawa sebuah jawaban atas persoalan sukar, maka murid-muridnya akan berkata, “Jawaban itu bukan dari engkau, melainkan dari balik tirai.” 
[voa-islam.com]

Ar-Rubayyi' binti Mu'awwidz, Wanita Pemberani yang Gandrung Berjihad


AR-RUBAYYI' binti Mu’awwidz bin Afra Al-Anshariyah ini adalah salah seorang shabiyah (shahabat wanita) dan perawi hadits Rasulullah SAW. Dia berasal dari keluarga yang baik dan terhormat, serta terkenal dengan berbagai kemuliaan sejak hari pertama mengenal Islam. Ayahnya adalah salah seorang yang menyaksikan Baiat Aqabah, Perang Badar, dan bergabung dengan pamannya dalam upaya pembunuhan Abu Jahal.  Keduanya beruntung mendapatkan doa yang indah dari Rasulullah. Sebagaimana beliau telah mendoakan keduanya, “Semoga Allah memberi rahmat kepada kedua anak Afra yang keduanya bergabung untuk membunuh Firaun umat ini (Abu Jahal).”

Kedudukan dan Kehormatannya
Ar-Rubayyi’ masuk Islam di Madinah ketika Rasulullah tiba di sana sebagai seorang muhajir (orang yang berhijrah). Saat itu dia masih berusia sangat muda. Ar-Rubayyi’ merupakan salah seorang shahabiyah yang mendapat perhatian dari Nabi Muhammad, dan cukup dekat dengan beliau. Kedekatan tersebut menorehkan kedudukan dan kehormatan mulia Ar-Rubayyi’ di sisi beliau. Diceritakan bahwa Rasulullah mengunjungi Ar-Rubayyi’ pada pagi hari setelah malam pengantinnya, sebagai wujud silaturrahim kepadanya. Hal itu terjadi setelah Perang Badar. Dan dalam kunjungan itu, beliau juga menyempatkan diri untuk memberikan petunjuk kepada para wanita, demi kebaikan dunia dan akhirat.

Bahkan tidak sedikit teks sejarah yang menyebutkan kemuliaan dan kehormatan kedudukan Ar-Rubayyi’ di sisi Rasulullah. Musa bin Harun Al-Hammal mengatakan, “Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz telah mendampingi Nabi SAW, dan dia memiliki kehormatan yang tinggi.” Kemudian Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Rasulullah mendatangi Ar-Rubayyi’ di hari pernikahannya, lalu duduk di atas kasurnya, ini menunjukkan kesempurnaan kebahagiannya.”
Begitu dekatnya Ar-Rubayyi’ dengan Rasulullah, bahkan beliau biasa makan di rumahnya, menerima hadiahnya, dan menghormatinya. Dalam hal ini, Ar-Rubayyi’ memiliki cerita yang sungguh indah. Diriwayatkan mengenai Ar-Rubayyi’ bahwa suatu ketika dia mendatangi Rasulullah dengan membawa sepiring kurma dan sepinggan anggur. Seketika beliau menggantinya dengan emas atau perhiasan, seraya bersabda kepada Ar-Rubayyi’, “Berhiaslah dengan ini!”
…Ar-Rubayyi’ menjadi shahabiyah satu-satunya yang meriwayatkan secara detil tentang wudhu Rasulullah…
Begitulah Rasulullah menunjukkan kedermawanan yang berpadu dengan kelembutan dan kemurahan kepada Ar-Rubayyi’. Dalam lembaran-lembaran tentang kehidupannya, kita akan mendapatkan riwayat tentang kunjungan Rasulullah lainnya. Tak hanya sekedar berkunjung, kedekatan Ar-Rubayyi’ dengan beliau terlihat dari fragmen ketika Rasulullah berwudhu di rumahnya dan bersabda kepadanya, “Tuangkan air wudhu untukku!” Sehingga Ar-Rubayyi’ menjadi shahabiyah satu-satunya yang meriwayatkan secara detil tentang wudhu Rasulullah. Ibnu Majah mentakhrij hadits darinya bahwa Rasulullah berwudhu dengan membasuh sebanyak tiga kali-tiga kali.

Demikianlah, terkait kedekatan Rasulullah dengan Ar-Rubayyi, tidak ada cinta yang lebih mulia daripada cinta beliau kepada para syahid dan anak-anak mereka. Rasulullah senantiasa menunjukkan kelemahlembutan kepada mereka. Beliau juga menjanjikan kepada mereka untuk selalu menziarahi mereka dan memberikan kepada mereka arahan dari waktu ke waktu.
Saking intensnya berinteraksi dengan Rasulullah, tak heran jika Ar-Rubayyi’ terampil menyebutkan sifat-sifat Rasulullah dengan cara dan diksi yang indah. Diriwayatkan Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir, “Kukatakan kepada Ar-Rubayyi’ binti Mua’wwidz bin Afra, ‘Sebutkan ciri-ciri Rasulullah untukku!’ Ar-Rubayyi’ menjawab, ‘Wahai anakku, engkau melihatnya laksana matahari terbit’.”

Sang Pemberani
Dalam berbagai literatur sejarah, diceritakan bahwa Ar-Rubayyi’ adalah seorang wanita mulia yang memiliki keberanian mumpuni. Sebuah keberanian yang diletakkannya dalam konteks perlawanan terhadap kebatilan dan kemusyrikan. Sepertinya, sifat pemberaninya itu diturunkan dari ayahnya, sang pemberani yang bergabung dalam operasi pembunuhan Abu Jahal. Ar-Rubayyi’ memliki kebanggaan yang besar kepada ayahnya.

Keberanian Ar-Rubayyi’ ditunjukkannya ketika dia menantang ibu Abu Jahal. Diriwayatkan bahwa Ar-Rubayyi’ mengambil minyak wangi dari Asma binti Makhrabah, ibu Abu Jahal. Lalu Asma menanyakan nasab Ar-Rubayyi’. Lantas dia pun menyebutkan silsilah nasabnya. Kemudian Asma berkata, “Engkau adalah anak perempuan dari seorang pembunuh tuannya (Abu Jahal).”

Dengan penuh keberanian, Ar-Rubayyi’ menjawab, “Aku adalah anak perempuan dari seorang pembunuh ‘budak’nya.” Mendengar jawaban tersebut, sontak Asma naik pitam, namun tidak berani meladeni keberanian Ar-Rubayyi’. Asma hanya bisa menimpali, “Demi Allah, aku tidak akan menjual sesuatu kepadamu untuk selama-lamanya.” Ar-Rubayyi’ yang merasa senang membuat Asma murka berkata, “Haram bagiku untuk membeli sedikit saja dari minyak wangimu.” Sungguh, ini merupakan satu bentuk sikap barra` (anti-loyalitas) yang patut ditiru oleh setiap muslim.

Mujahidah Pejuang
Keberanian yang dimiliki Ar-Rubayyi’ menjadikannya sebagai sosok yang gandrung dengan perjalanan jihad Rasulullah dan para shahabat beliau. Pengalamannya dengan amalan puncak dalam Islam ini (baca: jihad) dimulai ketika ayahnya berpartisipasi dalam Perang Badar. Ar-Rubayyi’ berangkat bersama Rasulullah untuk mengikuti berbagai peperangan dengan tujuan agar mendapatkan pahala dan balasan yang telah disediakan Allah SWT untuk para mujahidin. Dia ikut berkontribusi dalam jihad dengan melayani pengobatan para mujahidin, serta menyiapkan perlengkapan logistik mereka.
…Ar-Rubayyi’ adalah wanita mulia yang memiliki keberanian dalam perlawanan terhadap kebatilan dan kemusyrikan…
Ibnu Katsir berkata mengenai Ar-Rubayyi’, “Dia berangkat bersama Rasulullah untuk mengikuti berbagai peperangan guna mengobati para mujahidin yang terluka dan memberi minuman bagi mereka yang kehausan.” Al-Bukhari mentakhrij dari Ar-Rubayyi’ bahwa dia berkata, “Kami ikut peperangan bersama Rasulullah untuk membantu, memberikan minum, dan mengobati mujahidin yang terluka, serta membawa pulang mujahidin yang tewas ke Madinah.”

Meriwayatkan dan Menghapalkan Hadits
Kontribusi Ar-Rubayyi’ tidak hanya diarahkan pada persoalan jihad dan perjuangan saja, dia juga sangat mencintai ilmu. Dia seringkali mengunjungi Aisyah untuk menambah wawasan dan ilmu. Ilmunya terfokus pada meriwayatkan dan menghafal hadits Rasulullah. Ar-Rubayyi’ meriwayatkan hadits dari beliau sebanyak 21 buah hadits.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits darinya. Kedua imam ini bersepakat pada sebuah hadits darinya. Bahkan beberapa shahabat dan tabiin datang kepada Ar-Rubayyi’ untuk mendapatkan hadits. Sejumlah tabiin terkemuka juga meriwayatkan hadits darinya, sebut saja Khalid bin Dzakwan, Sulaiman bin Yasar, Abu Ubaidah bin Ammar bin Yasir, dan lainnya.
Karena wawasan dan keilmuannya, Ar-Rubayyi’ tampil menjadi salah seorang shahabiyah yang menjadi referensi dalam hukum, sirah Nabi, dan berbagai peristiwa dalam Islam di awal masa kemunculannya. Beberapa literatur sejarah menyebutkan bahwa dia wafat pada tahun 37 Hijriyah, setelah mewariskan berbagai pengaruh baik di kalangan wanita beriman yang terus memancarkan kebaikannya. Semoga abadi sesuai kehendak Allah SWT. Amin!

Referensi: Ahmad Khalil Jam’ah, Nisaa’ min ‘Ashri an-Nubuwwah.