aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!
Tampilkan postingan dengan label Novel Sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Desember 2012

ALIRAN-ALIRAN DALAM KESUSASTRAAN

 
Aliran-aliran dalam kesusastraan memiliki kesamaan dengan aliran dalam kesenian yang lain, misalnya dalam seni lukis, seni drama, bahkan dalam dunia filsafat dan kehidupan sosial. Aliran dalam kesusastraan berhubungan erat dengan pandangan hidup dan kejiwaan pengarang dan penyair, serta biasanya terekspresikan dalam karya-karya mereka. Artinya, kita memasukkan seorang sastrawan/sastrawati ke dalam aliran tertentu, hendaknya berdasarkan buah cipta mereka. Dengan demikian, seorang pengarang bisa dimasukkan ke dalam beberapa aliran, karena corak karyanya yang bermacam-macam. Sementara itu, sebuah novel, cerpen, puisi atau teks drama bisa dijadikan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa seorang pengarang menganut beberapa aliran.

Ambillah contoh “Nyanyi Sunyi” karya Amir Hamzah, “Ziarah”, “Merahnya Merah”, dan “Kering” karya Iwan Simatupang, “Gadlob” dan “Adam Makrifat” karya Danarto, “Harimau! Harimau!”, “Jalan Tak Ada Ujung” dan “Maut dan Cinta” karya Muchtar Lubis. Antologi puisi “Nyanyi Sunyi” bisa digunakan contoh untuk romantisme, mistisme, atau religiusme, tiga novel Iwan yang tadi telah disebut untuk absurdisme dan eksistensialisme, karya-karya Danarto untuk mistisisme, simbolisme dan absurdisme, karya-karya Muchtar Lubis untuk idealisme, humanisme, psikolonialisme.

Aoh. K.Hadimadja dalam bukunya “Aliran-aliran Klasik Romantik, dan Realisme dalam Kesusastraan” mengatakan bahwa “aliran itu tidak lain daripada keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham, ditimbulkan karena menentang paham-paham lama. Adakalanya para penganut aliran yang sama tidak sepaham benar-benar, akan tetapi pada dasarnya mereka tidak bertentangan, dan ciri-cirinya pengarang membawa pembawaan dan kepribadian yang khas atau ada seorang karena ciri-ciri yang umum itu, mereka dapat digolongkan ke dalam aliran tertentu”.

Sementara itu H.B. Jassin dalam bukunya “Tifa Penyair dan Daerahnya” menyatakan bahwa aliran dalam sastra dapat “ mengenai cara pengucapan daripada isi yang diucapkan, “ tetapi “ ada pula aliran-aliran yang menyatakan isi“.

Dari penjelasan di atas dapatlah kita pahami bahwa aliran dalam sastra sebenarnya berpangkal pada kesadaran sastrawan untuk menentang paham atau aliran sebelumnya. Perlawanan menentang paham atau aliran lama itu diwujudkan dalam bentuk ciptaan yang menunjukkan ciri lain daripada yang ada sebelumnya. Ingatkah Anda pada kumpulan sanjak “Tiga Menguak Takdir”? Kumpulan sajak itu sebenarnya merupakan bukti perlawanan kelompok penyair muda (Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani) terhadap Sutan Takdir Alisjahbana. Perlawanan itu bertolak dari konsepsi kesenian yang berbeda antara dua kelompok sastrawan itu (Pujangga Baru versus Angkatan ‘45).

Di Indonesia sebenarnya adanya aliran yang secara sadar diperjuangkan untuk menentang paham atau aliran sebelumnya belum banyak terjadi. Hal ini salah satu di antaranya disebabkan oleh usia sejarah sastra Indonesia yang belum begitu lama.

Salah satu indikator (petunjuk) adanya golongan yang menentang kelompok sastrawan sebelumnya adalah : adanya suatu manifestasi yang menyatakan pendirian kelompok itu dalam memperjuangkan gagasan-gagasan barunya. Angkatan ‘45 misalnya dengan manifestasi yang tercantum pada “ Surat Kepercayaan Gelanggang “ menyatakan pendirian kelompok tersebut, yang berbeda pendirian dari kelompok sastrawan Pujangga Baru, sementara itu “ Manifes Kebudayaan “ (17 agustus 1963) lebih banyak merupakan sikap politik dari sastrawan kelompok bebas (Manifes) terhadap sastrawan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), daripada pernyataan melawan kelompok sastrawan generasi sebelumnya. Hal ini disebabkan sastrawan kelompok Manifes dan kelompok Lekra hidup sezaman.

Berikut ini akan kita pelajari beberapa aliran dalam sastra. Hendaknya dipahami bahwa aliran-aliran yang disebutkan di sini tidak menjamin bahwa sastrawannya secara sadar ingin memperjuangkan gagasan-gagasan aliran, dengan konsep atau pengertian aliran. Dapat kita indentifikasi karya sastra tertentu termasuk ke dalam kategori aliran sastra tertentu. Hendaknya kita sadari bahwa masalah aliran ini bukan merupakan monopoli bidang sastra. Aliran-aliran itu dapat berlaku dalam bidang seni lainnya, terutama pada seni lukis. Demikianlah jika kita berbicara tentang aliran realisme, maka aliran itu tidak hanya khusus berlaku pada sastra, tetapi juga berlaku pada seni lukis. Penjelasan berikut ini tidak berdasarkan pada urutan sejarah kelahirannya.

REALISME

Aliran ini mengutamakan realitas kehidupan. Sastra realis merupakan kutub seberang dari sastra imajis. Apa yang diungkapkan para pengarang realis adalah hal-hal yang nyata, yang pernah terjadi, bukan imajinatif belaka. Biografi, otobiografi, true-story, album kisah nyata, roman sejarah, bisa kita masukkan ke sini. Sastra realis juga berbeda dengan berita surat kabar atau laporan kejadian, karena ia tidak semata-mata realistik. Sebagai karya sastra, ia pun dihidupkan oleh pijar imajinasi dan plastis bahasa yang memikat.

Novel “Fatimah“ karya Titie Said, “Rindu Ibu adalah Rinduku” karya Motinggo Boesye, “Bilik-bilik Muhammad” karya A.R.Baswedan, skenario “Arie Anggara“ karya Arswendo Atmowiloto, novel biografis “Pangeran dari Seberang“ karya N.H.Dini tentang Amir Hamzah, novel “Dari Hari ke Hari“ Mahbub Junaidi, “ Guruku Orang Pesantren “ Syaifuddin Zuhri merupakan sekadar contoh sastra realis ini. Ia berusaha berjujur terhadap kenyataan, tetapi hal-hal yang peka, diungkapkan dengan cukup etis dan sublim.

M.H. Abrams dalam kamusnya “ Glossary of Literary Terms “ menyebutkan bahwa realisme digunakan dalam 2 pengertian :
  • Untuk mengidentifikasi gerakan sastra pada abad XIX, khususnya prosa fiksi. 
  • Menunjukkan cara penggambaran kehidupan di dalam sastra. Fiksi realistik sering dioposisikan dengan fiksi romantik. Di dalam romantik disajikan kehidupan yang lebih indah, lebih berani mengambil resiko, dan lebih heroik, dari pada yang nyata.
SURREALISME

Aliran yang terlalu mengagungkan kebebasan kreatif dan berimajinasi sehingga hasil yang dicapai menjadi antilogika dan antirealitas. Bisa jadi apa yang terungkap itu pada mulanya berangkat dari kenyataan sekitar, tetapi karena desain imajinasinya itu sudah demikian sarat, kuat dan jauh, ia terasa ekstrim dan radikal. Ada semacam keadaan trans (hanyut/kesurupan) di sana, sesuatu yang tidak kita temukan dalam realisme maupun naturalisme.

Surrealisme lebih dekat terhadap absurdisme daripada terhadap realisme. Dari sisi tertentu sanjak-sanjak Rendra “ Khotbah “, “ Nyanyian Angsa “, “ Mencari Bapa “, cerpen-cerpen Danarto “ Godlob “, “ Kecubung Pengasihan “, “ Rintrik “, “ Sanu, Infinita Kembar “ Motenggo Boesye bisa ditunjuk sebagai contoh surrealisme.

Surrealisme merupakan gerakan di kalangan pengarang dan pelukis di Perancis, yang dimulai sekitar tahun 1920 an. Gerakan ini menghendaki adanya kebebasan dalam kreativitas artistik, mengungkapkan bawah sadar dengan imaji-imaji tanpa adanya urutan atau koherensi (seperti di dalam mimpi), membebaskan diri dari alasan yang logis, standar moralitas, konvensi dan norma-norma sosial dan artistik.

Surrealisme dapat diartikan sebagai melebihi realisme, karena surrealisme juga mengagung-agungkan asosiasi yang bebas serta penulisan secara otomatis, fantasi yang tak terkendali serta asosiasi yang bebas mewakili suatu dunia yang lebih realistis daripada kenyataan yang riil. Surrealisme mencoba mengeksploatasi materi-materi di dalam mimpi, keadaan jiwa antara tidur dan jaga, dan menyerahkan penafsirannya kepada pembaca.

H.B. Jassin menyatakan bahwa “Surrealisme menghendaki keseluruhan dan kesewaktuan…Sebab itu hasil kesusastraan surrealisme jadi sukar untuk menurutkannya, logika hilang, alam benda dan alam pikiran dan angan-angan bercampur baur dalam keseluruhan dan kesewaktuan.

ABSURDISME

Aliran dalam kesusastraan yang menonjolkan hal-hal yang di luar jalur logika, satu kehidupan dan bentang peristiwa imajinatif, dari alam bawah sadar, suasan trans. Pengarang aliran ini punya kesan mengada-ada, sengaja menyimpang dari konvensi kehidupan dan pola penulisan, tetapi pada super starnya, nampak kuat kebaruan dan kesegaran kreativitas mereka, bahkan kegeniusan mereka. Umumnya, mereka ini pernah pula sukses sebagai pengarang konvensional, sebagaimana para pelukis abstrak yang sempat meroket dan malang melintang di langit dunia mereka, bukan sunyi dari penciptaan lukisan-lukisan naturalis. Dramawan kontemporer/absurd yang tersohor, misalnya Putu Wijaya, N. Riantiarno dan Arifin C. Noer, juga punya seabrek karya konvensional.

Di langit sastra Indonesia, absurdisme sudah memancar dan mendarah daging pada karya-karya Iwan Simatupang di dasawarsa 60 an, baik dalam dramanya “ Petang di Sebuah Taman “, dan “ RT 0 RW 0 “, cerpen-cerpennya yang terakit dalam “ Tegak Lurus dengan Langit “, maupun dalam empat novel monumentalnya : “ Kering “, “ Merahnya Merah “, “ Ziarah “, “ Koooong “. Ternyata, kehidupan yang serba mungkin dan dirias renda-renda absurditas ini banyak mengilhami lahirnya sastra absurd, sebagai bisa diciptakan oleh penyair Sutarji Calzoum Bachri dalam “ O Amuk Kapak “, “ Yudhistira Ardi Noegraha dalam “ Omong Kosong “, dan “ Sajak Sikat Gigi “, serta oleh Ibrahim Sattah dan Sides Sudiarto Ds. dalam sanjak-sanjak mereka, oleh pengarang Budi Darma dalam kumcerpen “ Orang-orang Bloomington” “, oleh Putu Wijaya dalam karya-karya sastranya “ Telegram “, “ Stasiun “, “ Lho “, “ Keok “, “ Sobat “, “ Gres “, di samping drama-dramanya “ Anu “, “ Dag Dig Dug “, “ Aduh “, “ Zat “, oleh Arifin C. Noer dalam “ Kapai-kapai “, “ Mega-mega “, “ Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi “, oleh N. Riantarno dalam “ Bom Waktu “, “ Opera Kecoak “ dan naskah saduran “ Perempuan-perempuan Parlemen “.

PSIKOLOGISME

Aliran yang mengutamakan pembahasan masalah kejiwaan dalam kaitannya dengan berbagai peristiwa dalam cerita. Dalam novel, suasana jiwa dan konflik batin para pelaku disoroti dengan tajam, detail dan mendalam. “ Belenggu” Armijn Pane, “ Atheis “ Achdiat Kartamiharja, “ Royan Revolusi “ dan “ Kemelut hidup “ Ramadhan K.H., “ Damai dalam Badai “ dan “ Cintaku Selalu Padamu “ Motenggo Boesye, “ Bila Malam Bertambah Malam “ Putu Wijaya, novel-novel N.H. Dini, Titie Said, La Rose, Ike Supomo, Marga T., Ashadi Siregar, Ahmad Tohari, bisa disebut sebagai novel psikologi.

ALIRAN ROMANTIK

Sastra romantik ditandai dengan ciri-ciri : keinginan untuk kembali ke tengah alam, kembali kepada sifat-sifat yang asli, alam yang belum tersentuh dan terjamah tangan-tangan manusia. Istilah ini juga mencakup ciri-ciri adanya : keterpencilan, kesedihan, kemurungan, dan kegelisahan yang hebat. Kecuali itu romantik juga cenderung untuk kembali kepada zaman yang sudah menjadi sejarah, masa lampau yang terkadang melahirkan manusia-manusia besar. Pengungkapan yang romantis sering dikaitkan dengan percintaan yang asyik dunia muda-mudi yang masih hijau dan belum banyak pengalaman. Tokoh-tokoh dalam fiksi romantik sering digambarkan dengan sangat dikuasai oleh perasaannya dalam merumuskan segala persoalan. Dikisahkan juga tokoh-tokoh yang tak tahan menghadapi hidup yang keras dan kejam. Mereka itu kemudian ada yang lari kegunung atau tempat terpencil lainnya yang dirasakannya jauh dari kekerasan hidup.

Aoh K. Hadimadja menyatakan bahwa salah satu ciri alam romantik tokoh-tokohnya suka membunuh diri, karena terlalu kuat dihinggapi perasaan.

Romantisme, aliran yang mementingkan curahan perasaan yang indah dan menggetarkan yang diungkapkan dalam estetika diksi dan gaya bahasa yang mendayu-dayu membuai sukma. Contoh : puisi-puisi Amir Hamzah “ Buah Rindu“, “ Karena Kasihmu “, “ Memuji Dikau “, “ Mengawan “, “ Do’a “, karya-karya Hamka “ Tenggelamnya Kapal Van der Wijk “, “ Di Bawah Lindungan Ka’bah “, “ Di dalam Lembah Kehidupan “, roman “ Upacara “ dan kumpulan sanjak “ Nyanyian Ibadah “ nya Korrie Layun Rampan, kumpulan sanjak “ Romance Perjalanan “ Kirjomulyo, “ Buku Puisi “ nya Hartoyo Andangjaya.

EKSISTENSIALISME

Liaw Yock Fang dalam bukunya “Ikhtisar Kritik Sastra” menyatakan bahwa “Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang kemudian menjadi landasan suatu aliran sastra.”

Ajaran yang pokok dari eksistensialisme ialah bahwa manusia adalah apa yang diciptakannya sendiri. Manusia tidak ditakdirkan oleh Tuhan. Jika ia menolak memilih atau membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kekuatan luar, itu adalah kesalahannya sendiri. Karena itu, karya sastra eksistensialisme sangat mementingkan perbuatan –termasuk perbuatan kemauan- sebagai unsur-unsur yang menentukan. Unsur-unsur dasar dari manusia seperti irrasionalitas, ketidak sadaran dan kebawahsadaran juga dipentingkan. Kehidupan dipandang sebagai sesuatu yang dinamis, yang terus mengalir sedangkan kehidupan manusia adalah rentetan saat-saat yang berurutan”.

Fuad Hasan dalam bukunya “Berkenalan dengan Eksistensialisme” mencoba memprkenalkan suatu alam pikiran yang dewasa ini dikenal dengan nama eksistensialisme, dengan membutiri pendapat filsuf eksistensialis melalui hasil-hasil karya sastranya. Beberapa pikiran tokoh eksistensialisme itu dikutipkan berikut ini :

Manusia adalah pengambil keputusan dalam eksistensinya. Apapun keputusan yang diambilnya tak pernah ia mantap sempurna (Kiergaard).

Manusia akan terus menerus dihadapkan pada pilihan-pilihan (Kiergaard).

Dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, maka kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan, apa yang baik, harus kuat ; sebaliknya segala yang lemah adalah buruk dan salah (Niezseche).

Dalam pergaulan antara manusia maka yang harus ditumbuhkan dalam manusia-manusia agung yaitu manusia yang oleh kekuatan tak bisa mengatasi kumpulan manusia-manusia dalam massa (Nietzseche).

FILSAFATISME

Aliran yang mengedapankan hadirnya nilai-nilai filsafati, suatu pemikiran mendalam makna hidup, yang biasanya berangkat dari penghayatan personal. Para pengarang dan penyair yang karya-karyanya kental berkadar filsafat disebut pujangga. Tidak sedikit di antara mereka sekaligus filsuf.

Dari R.A. Kartini, R. Ng. Ronggowarsito, Muhammad Iqbal, Kahlil Gibran, Frans Kafka, Iwan Simatupang, Subagio Sastrowardoyo, Putu Wijaya, Emha Ainun Najib, banyak terlahir sastra filosofis.

Sastra filosofis ada yang berkadar humanis, adapula yang religius. Di sisi lain kita temukan spiritualisme, aliran yang mementingkan nilai-nilai ruhani, kehidupan batiniah, yang menuju kebajikan dan kesempurnaan. Spiritualisme berbeda dengan psikologisme, karena spiritualisme sudah mengacu ke moral luhur, sedang psikologisme membahas kehidupan dari segi jiwanya, lepas dari masalah atau tanpa keharusan penyampaian-penyampaian nilai-nilai dan akhlak mulia.

Sanjak-sanjak ruhani bisa merupakan bagian dari filsafatisme, di samping ia sendiri merupakan perwujudan spiritualisme. Filsafatisme bisa berangkat dari pikiran, bisa pula diilhami wahyu atau mewujudkan renungan hati nurani. Contoh-contoh di bawah ini bisa dimasukkan ke dalam filsafatisme, tetapi juga benar untuk dimasukkan ke dalam spritualisme.

EKSPRESIONISME DAN IMPRESIONISME

M.H. Abrams menyatakan bahwa ekspresionisme adalah gerakan dalam sastra dan seni di Jerman yang mencapai puncaknya pada periode 1910 – 1952. Para pelopornya seniman dan pengarang yang dengan bermacam cara menyimpang dari penggambaran yang realistik tentang kehidupan dan dunia. Mereka mengekspresikan pandangan seni mereka atau emosi secara kuat. Ekspresionisme tidak pernah merupakan suatu gerakan yang dirancang secara baik. Dapat dikatakan bahwa ciri utama ekspresionisme adalah pemberontakan melawan tradisi realisme dalam bidang sastra dan seni, baik dalam hal pokok persoalannya (subyect matter) maupun gayanya (style).

A.F. Scott dalam kamusnya Current Literary Terms A Concis Dictionary menyatakan bahwa impresionisme merupakan cara menulis karangan yang tidak memperlakukan realitas secara obyektif, tetapi menyajikan kesan-kesan (impressions) dari pengarangnya. Istilah impressionisme ini berasal dari dunia seni lukis pad paruh pertama abad ke 19 di Perancis.

Sementara itu H.B. Jassin menyebutkan bahwa “ suatu lukisan yang impresiomistis kelihatannya seperti belum selesai. Baru hanya skets. Segala sesuatu tidak dilukiskan pikiran-pikiran yang sudah masak dipikirkannya,…..dia hanya mau melukiskan kesannya sepintas lalu, kesan pertama yang segar “.

MELANKHOLISME

Aliran dengan karya-karya penuh warna muram, sendu, kehidupan yang getir dan tragis, sarat ratapan dan rintihan. Kisah cinta klasik, drama-drama dalam film India, cerita-cerita dengan tema kemiskinan, kemalangan hidup dan penderitaan termasuk melankholisme. “ Di dalam Lembah Kehidupan “, “ Tenggelamnya Kapal Van der Wijk “, “ Di bawah Lindungan Ka’bah “ karya Hamka, “ Buku Harian Seorang Penganggur “ dan cerpen-cerpen serta drama-drama Muhammad Ali, puisi-puisi Amir Hamzah dalam “ Buah Rindu “, kebanyakan sanjak-sanjak Leon Agusta, merupakan sastra melankholik. Lagu-lagu Rinto Harahap, Charles Hutagalung, Benny Panjaitan, A. Riyanto bisa dimasukkan ke sini. 

IRONISME

Aliran yang mementingkan nada mengejek, kadang terus terang, kadang melalui sindiran-sindiran. Bisa juga, karya itu sebenarnya merupakan kritik tajam terhadap kondisi sosial atau perilaku tokoh tertentu. “ Melaut Benciku “ Amal Hamzah, “ Kisah Sebuah Celana Pendek “ Idrus, beberapa cerpen Hamsad Rangkuti dan “ Sumpah WTS “ dan “ Catatan Harian Seorang Koruptor “ F. Rahardi merupakan contoh ironisme. 

NIHILISME

Aliran yang mengekspos peristiwa atau pemikiran-pemikiran, bisa saja sampai tingkat filsafat, tanpa landasan moral kemanusiaan, apalagi Keilahian. Cerita-cerita yang ateistik, komunistik, sekuleristik, chauvinistik bisa dimasukkan ke dalam fiksi nihilis. Ada memang, cerita yang menghadirkan paham-paham penafian Tuhan, pemasabodohan agama dan penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan, misalnya “ Atheis “ nya Achdiat Kartamihardja, tetapi karena tenden pengarang tidak ke sana sebagai justru terlihat dalam sikap Achdiat yang mengkritik tokoh-tokoh ceritanya itu, maka karangan tersebut tidak bisa digolongkan ke dalam nihilisme. 

NATURALISME

Aliran yang mementingkan pengungkapan secara terus-terang, tanpa mempedulikan baik buruk dan akibat negatif. Pengarang naturalis dengan tenangnya menulis tentang skandal para penguasa atau siapapun, dengan bahasa yang bebas dan tajam. Pornografi, karya mereka jatuh menjadi picisan, bukan tabu bagi mereka. Biasanya, hal ini benar-benar mereka sadari, bahkan mereka pun sempat membanggakan naturalisme ini sebagai gaya mereka. Kumpulan sanjak F. Rahardi, “ Catatan Harian Sang Koruptor “ dan “ Sumpah WTS “, beberapa sanjak Rendra “ Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta “, “ Rick dari Corona “, “ Sajak Gadis dan Majikan “, Sajak SLA “ bisa ditunjuk sebagai contoh pengibar aliran ini. Dari khazanah lama “ Surabaya “ nya Idrus bisa digunakan sebagai contoh meskipun tidak seseru punya F. Rahardi dan Rendra. 

DETERMINISME

Istilah determinisme berasal dari doktrin filsafat yang menyatakan bahwa setiap kejadian atau peristiwa itu ada penyebabnya. Dalam sastra, determinisme mencoba menggambarkan tokoh-tokoh cerita dikuasai oleh nasibnya, sehingga tokoh tersebut tidak sanggup dan tidak mampu lagi ke luar dari takdir yang telah jatuh pada dirinya.

Takdir yang dimaksudkan di sini bukanlah takdir dari Tuhan sesuai dengan konsepsi yang berlaku pada agama langit, melainkan takdir yang lebih tepat dikatakan sebagai akibat yang tak dapat dielakkan karena peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya, berupa faktor-faktor biologis, lingkungan dan sosial.

H.B. Jassin menyatakan bahwa nasib itu “ ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitar, kemiskinan, penyakit, darah keturunan, dalam hubungan sebab akibat. Menurut ilmu keturunan, ayah atau ibu yang jahat akan menurunkan sifat-sifat jahatnya pada anaknya atau cucu-cucunya, biarpun keturunannya itu bermaksud baik, mau memperbaiki dirinya……….Apabila si orang tua jahat, maka itu bukan pula karena sudah ditakdirkan Tuhan demikian, tetapi karena keadaan masyarakat yang serba bobrok, orang hidup dalam kemiskinan yang sangat, pembagian harta kekayaan antara manusia tidak adil “.

(contoh novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” oleh Hamka)

Determinisme berpendapat bahwa tragedi hidup manusia sudah tercetak dalam kemutlakan, merupakan paksaan nasib yang tak bisa ditembus oleh segenap daya dan ikhtiar sang pelaku. Orang sadar dengan kodratnya, sebagai wong cilik, sebagai hamba sahaya, sebagai sang kurban, sehingga tidak akan banyak menuntut. Ia legawa-legalila nrima ing pandum menerima suratan nasib, seperti yang terjadi pada Maria Magdalena Pariyem dalam liris prosanya Linus Suryadi Ag. . Atau, seperti skenario semula, memang tragis penuh tangis. Determinisme bisa dijumpai dalam “ Trilogi Oedipus “ nya Sophokles, “ Tragedi Sangkuriang “, “ Pengakuan Pariyem “ nya Linus Suryadi AG, novel “ Kuterima Penderitaan Ini, Ibu “ Motenggo Boesye, tokoh-tokoh cerita Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Arifin C yang papa. (baca “Merahnya Merah” dan “Kering” karya Iwan, “Pol” dan “Stasiun” karya Putu, “Mega-mega”, “Kapai-kapai”, “Umang-umang” klarya Arifin. 

SIMBOLISME

Pengungkapan simbolis tidak secara harfiah, melainkan dengan simbol-simbol. Sebuah simbol berarti sesuatu yang bermakna sesuatu yang lain. Bunga mawar sebagai simbol dari kecantikan.

Simbolisme merupakan aliran dalam sastra yang mencoba mengungkapkan ide-ide dan emosi lebih dengan sugesti-sugesti daripada menggunakan ekspresi langsung, melalui objek-objek, kata-kata dan bunyi. Aliran ini merupakan reaksi terhadap realisme dan naturalisme yang hanya berpijak pada kenyataan semata. Sastra simbolik banyak menggunakan simbol atau lambang dalam mengungkapkan pemikiran, emosi, secara samar-samar dan misterius.

Karya simbolik terkadang sukar dipahami dan hanya secara samar-samar ditangkap maknanya.

Penyair simbolik bahkan menyukai yang samar-samar itu, oleh karena bagi mereka puisi harus merupakan teka-teki bagi orang biasa, tetapi sebenarnya merupakan musik yang indah bagi yang dapat menghayati dan menikmatinya. Puisi simbolik mencapai keindahannya dengan mengungkapkan objek secara tidak langsung, secara sugestif, dan dengan memperhitungkan efek musiknya yang mengandung makna.

Simbolisme, banyak menggunakan kata-kata kias, lambang-lambang, kata-kata yang bermakna simbolik untuk melukiskan sesuatu. Sesungguhnya, semua fabel (misalnya “Serial Kancil”, “Hikayat Kalilah dan Daminah”) adalah contoh tepat simbolisme ini. “ Dengar Keluhan Pohon Mangga “, karya Maria Amin, “ Musyawarah Burung “ karya Fariduddin Attar, “ Kucing “ sanjak Sutardji Q.B., “ Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa “ karya Y.B. Mangunwijaya, “Ular dan Kabut“ sanjak Ayip Rosidi, “Sebuah Lok Hitam“ puisi Hartoyo Andangjaya, hanya sekadar contoh sastra simbolik ini. 

IDEALISME

Aliran dalam kesusastraan yang mengungkapkan hal-hal yang ideal, pengarangnya penuh perasaan dan cita-cita. Mereka berpendapat, sastra punya peran untuk suatu perubahan sosial ke arah yang positif. Sastra bertenden, sebutan untuk karya-karya pengarang idealis, diharapkan mampu mengubah sikap hidup masyarakat atau pembaca dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang statis menjadi dinamis, dari yang malas menjadi rajin, dan seterusnya.

Contoh :
  •  “Habis Gelap Terbitlah Terang“ karya R.A. Kartini;
  • “Layar Terkembang“ karya Sutan Takdir Alisjahbana
  • “Kemarau“ karya A.A. Navis, cerpen “Kadis“ karya Muhammad Diponegoro.
  • Cerpen “Sisifus” karya Muhammad Fudoli Zaini  

HEROISME


Aliran yang mencuatkan nilai-nilai kepahlawanan, kecintaan terhadap tanah air dan figur teladan bangsa, serta semangat membela tanah air. “Bende Mataram“ karya Muhammad Yamin, “Diponegoro“ karya Chairil Anwar, “Monginsidi“ karya Subagio Sastrowadojo, “Tanah Tumpah Darah“ karya Sitor Situmorang, “Stasiun Tugu“ karya Taufik Ismail, “Ode bagi Proklamator“ karya Leon Agusta, dan tentu saja lagu kebangsaan “Indonesia Raya“ dan lagu-lagu nasional “Ibu Kita Kartini“, “Satu Nusa Bangsa“, “Padamu Negeri“, “Rayuan Pulau Kelapa“, juga lagu-lagu “Sepasang Mata Bola“, “Melati Tapal Batas“, “Pantang Mundur“, merupakan contoh-contoh heroisme ini. “Percikan Revolusi“ dan “Cerita-cerita dari Blora“ karya Pramudya serta cerpen-cerpen revolusi Trisno Yuwono “Di Medan Perang“ dan “Laki-laki dan Mesiu“ bisa dimasukkan ke sini. Heroisme pun kita temukan pada lagu-lagu tertentu ciptaan Leo Kristi dan Gombloh almarhum. 

RELIGIUSISME

Religiusme, aliran yang mementingkan nilai-nilai keagamaan atau renungan tentang Tuhan dan manusia di hadapan-Nya. Sastra religius dimiliki oleh setiap agama, juga oleh sastrawan yang punya penghayatan personal terhadap Tuhan. “Gitanyali“ karya Rabindranath Tagore, “Rindu Dendam“ karya Y.E. Tatengkeng, “Kata Hati“ karya Samadi, beberapa sanjak Rendra dalam “Sajak-sajak Sepatu Tua“, “Balai-balai“, “Sajadah Panjang“, “Aisyah Adinda Kita“ karya Taufik Ismail, “99 untuk Tuhanku“ karya Emha Ainun Najib, “Nyanyian Ibadah” karya Korrie Layun Rampan, cerpen “Di dalam Kereta Api Perjalanan Hidup“ karya Riyono Pratikto, novel “Rindu Ibu adalah Rinduku“ dan “Perempuan-perempuan Impian“ karya Motenggo Boesye, “Wirid“ karya Ikranegara, novel “Ibuku Sayang“ karya Teguh Esha adalah sekadar contoh sastra religius yang bisa dijumpai. 

TRANSENDENTALISME

Aliran yang mengetengahkan nilai-nilai transendental, renungan-renungan hidup yang mendalam, yang metafisis (di atas hal-hal yang fisik/nampak). Kalau sastra sufi merupakan katarsisme, maka sastra aliran ini kebanyakan bersifat kontemplatif. Sanjak-sanjak Afrizal Malna dalam “Abad yang Berlari”,

“Isyarat“ dan “Suluk Awang-uwung“ karya Kuntowijoyo, cerpen-cerpen Danarto dan Hamid Jabbar, serta Ahmad Tohari, sanjak-sanjak Umbu Langgu Peranggi dan Goenawan Mohamad, juga “Sejuta Milyar Satu“ karya Eka Budianta, merupakan contoh Transendentalisme. 

KOMEDIALISME

Penuh suasana ceria, kocak, menganggap hidup penuh optimisme dan rasa humor, berbeda dengan determinisme dan melankolisme yang pessimistis. Tetapi ia tidak identik dengan lawak. Gaya bahasa Mahbub Junaidi dan Slamet Suseno, bahkan Y.B. Mangunwijaya dalam “Puntung-puntung Rara Mendut“ mengacu ke sini. Drama “Tuan Kondektur“, “Pinangan“, “Orang-orang Kasar“ karya Anton Chekov, “Kejarlah Daku kau Kutangkap“ karya Asrul Sani, novel “Dari Hari ke Hari“ karya Mahbub Junaidi, “Arjuna Mencari Cinta“ dan “Yudhistira Duda“ oleh Yudhistira Ardi Noegraha merupakan sebagian contoh komedialisme.
Reff : danririsbastind.wordpress.com

KARYA SASTRA INDONESIA TERPENTING PADA TIAP PERIODE

 

Dalam sejarah sastra Indonesia, karya sastra bisa dibagi berdasarkan periodisasinya. Periodisasi adalah pembagian kronologi perjalanan sastra atas masanya, biasanya berupa dekade-dekade. Pada dekade-dekade tertentu dikenall angkatan-angkatan kesusastraan, misalnya Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan ‘66 dan Angkatan 2000.
Kedua istilah itu (dekade dan angkatan) bisa digunakan secara bersamaan, bahkan adakalanya angkatan kesusastraan tertentu diberi nama dekade tertentu.
Dimulai dari masa Balai Pustaka, sejarah kesusastraan Indonesia bisa dirinci atau dilakukan periodisasi berikut ini:
  1. Angkatan Balai Pustaka (Dekade 20-an)
  2. Angkatan Pujangga Baru (Dekade 30-an)
  3. Kesusastraan Masa Jepang
  4. Angkatan ‘45
  5. Sastra Dekade 50-an
  6. Sastra Angkatan ’66 (Generasi Manifes Kebudayaan)
  7. Sastra Dekade 70-an s.d. 80-an /Angkatan 80-an
  8. Sastra Mutakhir/Terkini
(Dekade 1990-an dan Angkatan 2000).
Dalam setiap angkatan/periodenya, kesusastraan tentu memiliki tokoh-tokoh sastrawan-sastrawati baik pengarang yang mencipta bentuk-bentuk prosa maupun penyair yang mengarang bentuk-bentuk puisi. Kadang-kadang sang pengarang juga sekaligus penyair karena ia mencipta dua bentuk sekaligus, yakni puisi dan prosa fiksi, misalnya Muhammad Yamin, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Ayip Rosidi, Motenggo Boesye, Rendra, Kuntowijoyo, Emha Ainun Najib, Afrizal Malna, Abidah Al Khalieqy, Helvy Tiana Rosa, dan Iain-lain.  

Karya Sastra Terpenting dan Ciri-ciri pada Tiap-tiap Periode
Di atas telah disampaikan periodisasi kesusastraan Indonesia diawali dari Angkatan Balai Pustaka yang mulai berkiprah pada era 20-an sampai Angkatan 2000 sekarang ini. Pada masing-masing angkatan/periode muncul hasil-hasil karya sastra yang penting dan monumental yang dikarang oleh sastrawan-sastrawati terkenal, baik berbentuk prosa fiksi, puisi maupun naskah drama. Karya sastra pada masing-masing angkatan/periode memiliki ciri-ciri tertentu. 

Angkatan Balai Pustaka/Dekade 20-antokoh-tokohnya:
a. Marah Rusli dengan karyanya roman “Siti Nurbaya”.
b. Muhammad Yamin dengan karyanya kumpulan puisi “Tanah Air”,e. Abdul Muis dengan karyanya roman “Salah Asuhan”.
d. Rustam Efendi dengan karyanya kumpulan puisi “Percikan Permenungan”.
e. Nur Sutan Iskandar dengan karyanya roman “Katak Hendak Jadi Lembu”. 

Angkatan Pujangga Baru/Dekade 30-an dengan tokoh-tokohnya:
a. Sutan Takdir Alisyahbana dengan karyanya roman “Layar Terkembang” dankumpulan puisi “Tebaran Mega”.
b. Amir Hamzah dengan karyanya kumpulan puisi “Buah Rindu” dan “Nyanyi Sunyi”.e. Armijn Pane dengan karyanya roman “Belenggu”.
d. Sanusi Pane dengan kumpulan puisinya “Madah Kelana” dan drama “ManusiaBaru”
e. Y.E. Tatengkeng dengan kumpulan puisinya “Rindu Dendam”.
f. HAMKA dengan romannya “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. 

Kesusastraan Masa Jepang dan Angkatan ‘45 dengan tokoh-tokohnya:
a. Chairil Anwar dengan kumpulan puisinya “Deru Campur Debu”.
b. Usmar Ismail dengan dramanya “Citra”
e. El Hakim dengan dramanya “Taufan di Atas Asia”.
d. Achdiat Kartamihardja dengan romannya “Atheis”.
e. Pramudya Ananta Toer dengan romannya “Percikan Revolusi”
Di era sekarang Pramudya terkenal dengan caturlogi roman Pulau Buru. 

Dekade 50-an dengan tokoh-tokohnya antara lain:
  1. Ayip Rosidi dengan novelnya “Sebuah Rumah Buat Hari Tua”.
  2. Motinggo Boesye dengan dramanya “Malam Jahannam”.
  3. Nh. Dini dengah novelnya “Hati yang Damai”.
  4. Rendra dengan kumpulan puisinya “Balada Orang-orang Tercinta”.
    Penyair ini masih kreatif sampai sekarang.
   5. Mochtar Lubis dengan novelnya “Jalan Tak Ada Ujung”. 

Angkatan ‘66 dengan tokoh-tokohnya antara lain:
  1. Taufiq Ismail dengan kumpulan puisinya “Tirani” dan “Benteng”.
  2. Sapardi Joko Damono dengan kumpulan puisinya “Duka-Mu Abadi”.
  3. Hartoyo Andangjaya dengan kumpulan puisinya “Buku Puisi”.
  4. Bur Rasuanto dengan kumpulan puisinya “Mereka Telah Bangkit”.
  5. Ramadhan KH dengan novelnya “Royan Revolusi” dan kumpulan puisi “Priangan
    Si Jelita”.     

Angkatan 70-an – 80-an dengan tokoh-tokohnya antara lain:
  1. Sutardji Calzoum Bachri dengan kumpulan puisinya ”O Amuk Kapak”.
  2. Iwan Simatupang dengan novelnya “Ziarah”.
  3. Danarto dengan kumpulan cerpennya “Godlob”.
  4. Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya “Burung-burung Manyar”.
  5. Putu Wijaya dengan novelnya ”Telegram”, dan drama “Dag Dig Dug”.
  6. Kuntowijoyo dengan novelnya “Khotbah di Atas Bukit”
  7. Yudhistira Ardi Noegraha dengan novelnya “Mencoba Tidak Menyerah”.
  8. Arifin C. Noer dengan dramanya “Mega-Mega”.
  9. Umar Kayam dengan novelnya “Para Priyayi”.
  10. Ahmad Tohari dengan trilogi novel “Ronggeng Dukuh Paruk”.    

Sastra Mutakhir (Dekade 90-an dan Angkatan 2000) dengan tokohnya antara lain:
  1. Emha Ainun Najib dengan kumpulan puisinya “Sesobek Buku Harian Indonesia”dan drama “Lautan Jilbab”.
  2. Seno Gumira Ajidarma dengan kumpulan cerpennya “Iblis Tidak Pernah Mati”.
  3. Ayu Utami dengan novelnya “Saman” dan “Larung”
  4. Jenar Mahesa Ayu dengan kumpulan cerpennya “Mereka Bilang Saya Monyet”.
  5. N. Riantiarno dengan dramanya “Opera Kecoa” dan “Republik Bagong”:.
  6. Yanusa Nugraha dengan kumpulan cerpennya “Segulung Cerita Tua” .
  7. Afrizal Malna dengan kumpulan puisinya “Abad yang Berlari”.
  8. Ahmadun Y. Herfanda dengan kumpulan puisinya “Sembahyang Rumputan”.
  9. D. Zawawi Imron dengan kumpulan puisinya “Bantalku Ombak, Selimutku Angin”.
  10. K.H. Ahmad Mustofa Bisri dengan kumpulan puisinya “Ohoi Puisi-puisi Balsem” dan “Gandrung”.

Senin, 10 Desember 2012

FAKTA MENARIK SEPUTAR BAHASA INDONESIA


Dijadikan Bahasa Resmi Ke-2 di Vietnam

Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, Vietnam, mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kata seorang diplomat Indonesia. “Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Inggris, Prancis dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan,” kata Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad di Jakarta pada Jumat.

Guna mengembangkan dan memperlancar studi Bahasa Indonesia, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia di kota itu membantu berbagai sarana yang diperlukan beberapa universitas, kata Irdamis. Sarana yang dibantu antara lain peralatan komputer, alat peraga, bantuan dosen dan bantuan keuangan bagi setiap kegiatan yang berkaitan dengan upaya promosi Bahasa Indonesia di wilayah kerja universitas masing-masing.

Perguruan tinggi itu juga mengadakan lomba pidato dalam Bahasa Indonesia, lomba esei tentang Indonesia dan pameran kebudayaan. Universitas Hong Bang, Universitas Nasional HCMC dan Universitas Sosial dan Humaniora membuka studi Bahasa Indonesia. “Jumlah mahasiswa yang terdaftar sampai Nopember 2008 sebanyak 63 orang dan menurut universitas-universitas itu, minat untuk mempelajari Bahasa Indonesia cenderung meningkat,” kata Irdamis. Ia berpendapat sebagian pemuda Vietnam melihat adanya keperluan untuk mempelajari Bahasa Indonesia, mengingat kemungkinan meningkatnya hubungan bilateral kedua negara yang berpenduduk terbesar di ASEAN di masa depan.

Bahasa Indonesia dipelajari lebih dari 45 Negara di dunia

Walaupun yang paling efektif merubah citra adalah merubah realitas, namun peran budaya dan bahasa Indonesia dalam diplomasi sangat krusial. Tingginya minat orang asing belajar bahasa dan budaya Indonesia harus disambut positif. Kalau perlu Indonesia menambah Pusat Kebudayaan Indonesia di sejumlah negara, guna membangun saling pengertian dan perbaiki citra .

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Andri Hadi mengemukakan hal itu ketika tampil pada pleno Kongres IX Bahasa Indonesia, yang membahas Bahasa Indonesia sebagai Media Diplomasi dalam Membangun Citra Indonesia di Dunia Internasional, Rabu (29/10) di Jakarta. “Saat ini ada 45 negara yang ada mengajarkan bahasa Indonesia, seperti Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan banyak negara lainnya,” katanya. Mengambil contoh Australia, Andri Hadi menjelaskan, di Australia bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat. Ada sekitar 500 sekolah mengajarkan bahasa Indonesia. Bahkan, anak-anak kelas 6 sekolah dasar ada yang bisa berbahasa Indonesia.

Untuk kepentingan diplomasi dan menambah pengetahuan orang asing tentang bahasa Indonesia, menurut Dirjen Informasi dan Diplomasi Deplu ini, modul-modul bahasa Indonesia di internet perlu diadakan, sehingga orang bisa mengakses di mana saja dan kapan saja. Di samping itu, keberadaan Pusat Kebudayaan Indonesia di sejumlah negara sangat membantu dan penting. Negara-negara asing gencar membangun pusat kebudayaannya, seperti China yang dalam tempo 2 tahun membangun lebih 100 pusat kebudayaan. Sedangkan bagi Indonesia untuk menambah dan membangun Pusat Kebudayaan terkendala anggaran dan sumber daya manusia yang andal.

Dalam sesi pleno sebelumnya, Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Dendy Sugono yang berbicara tentang Politik Kebahasaan di Indonesia untuk Membentuk Insan Indonesia yang Cerdas Kompetitif di atas Fondasi Peradaban Bangsa, mengatakan, tuntutan dunia kerja masa depan memerlukan insan yang cerdas, kreatif/inovatif, dan berdaya saing, baik lokal, nasional, maupun global.

Untuk memenuhi keperluan itu, sangat diperlukan keseimbangan penguasaan bahasa ibu (bahasa daerah), bahasa Indonesia, dan bahasa asing untuk mereka yang berdaya saing global, tandasnya. Dendy Sugono melukiskan, kebutuhan insan Indonesia cerdas kompetitif itu, untuk lo kal meliputi kecerdasan spiritual, keterampilan, dan bahasa daerah . Untuk kebutuhan nasional meliputi kecerdasan emosional, kecakapan, dan bahasa Indonesia. Sedangkan untuk global dibutuhkan kecerdasan intelektual, keunggulan, dan bahasa asing.

Wikipedia bahasa Indonesia yang menduduki peringkat ke 26 di dunia dan Terbesar Ketiga di Asia

Menulis ensiklopedia bebas di internet semakin digemari masyarakat Indonesia. Bahkan ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Wikipedia Indonesia, telah menjadi ensiklopedia elektronik terbesar ketiga setelah Wikipedia berbahasa Jepang dan Mandarin. “Wikipedia Indonesia kini berada di peringkat 26 dari 250 Wikipedia berbahasa asing di dunia. Sedangkan di tingkat Asia kita berada di peringkat tiga, setelah Jepang dan Mandarin,” ujar Ivan Lanin, penggiat jumlah bertambahnya jumlah, di Jakarta, Selasa.

Menurut Ivan, yang sehari-hari bekerja sebagai dosen Information Communication Technology (ICT), Wikipedia Indonesia terus tumbuh pesat. “Kontributor semakin bertambah, demikian juga dengan artikelnya. Isinya juga semakin variatif,” katanya. Tingginya gairah penggiat ensiklopedia bebas itu juga tercermin dalam lokakarya “Menulis di Wikipedia Indonesia” yang digelar dalam rangkaian acara Indonesia Information Communication Technology (Indonesia ICT Awards) 2007 di Balai Sidang Jakarta.

“Tingginya peminat lokakarya ini, membuktikan semakin banyak orang yang tertarik untuk membagi pengetahuannya di Wikipedia,” ujar salah satu pengurus “Wikipedia Indonesia”, Revo A.G Soekatno di Jakarta, Selasa. Pria yang aktif di Wikipedia Indonesia sejak 2003 ini mengungkapkan pada hari pertama jumlah peserta mencapai lebih dari 40 orang sementara jumlah komputer yang disediakan untuk pelatihan sangat terbatas. Setiap orang berhak menjadi peserta tanpa dipungut biaya dan mendapatkan suvenir dari panitia. “Jumlah yang mendaftar jauh lebih banyak lagi, tapi karena keterbatasan tempat dan perangkat komputer untuk pelatihan, maka pesertanya kami batasi. Bahkan ada banyak peserta yang tidak mendapat komputer pelatihan tetap menyatakan ikut serta,” ujar pria yang kini tengah menyelesaikan studi S-3 di Belanda ini. Dalam pelatihan itu peserta belajar bagaimana menulis, menyunting, atau menambahkan informasi. Revo mengatakan ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia kini memiliki 69 ribu artikel dengan kontributor aktif sebanyak 30 orang. Termasuk di dalamnya adalah jajaran para pengurus sebanyak 14 orang. Meski mengalami perkembangan yang cukup pesat, ensiklopedia bebas ini beberapa kali bermasalah dalam hal informasi yang dituliskan kontributor. Yakni data dan fakta yang kurang akurat dan adanya konflik antarkontributor karena adanya pebedaan data dna pengertian. Isu tentang politik, agama, dan ekonomi adalah yang seringkali bermasalah dalam hal akurasi informasi. “Tantangan Wikipedia Indonesia kedepan adalah bagaimana meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan publik sebab informasi di Wikipedia Indonesia terus diperbarui setiap saat,” ujar Revo.

Bahasa Indonesia bahasa ketiga yang paling banyak digunakan pada wordpress

Fakta bahwa setelah Spanyol, Bahasa Indonesia adalah Bahasa yang menempati urutan ketiga yang paling banyak digunakan dalam posting-posting WordPress. Indonesia pun adalah negara kedua terbesar di dunia yang pertumbuhannya paling cepat dalam penggunaan engine blog itu. Dalam 6 bulan terakhir tercatat 143.108 pengguna baru WordPress dari Indonesia dan telah ada 117.601.633 kunjungan melalui 40 kota di Indonesia.

Bahasa dan Musik Indonesia dikirim ke luar angkasa

Satelit Voyager adalah sebuah wahana luar angkasa tanpa awak yang diluncurkan amerika serikat tahun 1977 dengan beberapa tujuan yaitu :

1. Meneliti luar angkasa lebih dalam dan luar angkasa yang tidak dapat dilihat oleh mata.

2. Mencari keberadaan planet yang dapat dihuni.

3. Mencari planet yang berpenghuni.

Digerakkan dengan tenaga nuklir, voyager diharapkan mampu mengirim data ke bumi sampai tahun 2025 ( 48 tahun setelah diluncurkan) sebelum pasokan listriknya habis. Jika listriknya habis dan voyager tidak lagi beroperasi, maka misinya dikurangi menjadi 1 yaitu : Memberi tahu keberadaan bumi pada alien yang memiliki teknologi lebih tinggi daripada kita.

Isi dari piringan emas ini dipilih untuk NASA oleh sebuah tim yang diketuai oleh Carl Sagan dari Universitas Cornell. Dr. Sagan dan timnya mengumpulkan 115 gambar berikut sebuah rekaman suara-suara alam, seperti suara ombak, angin, petir, serta suara-suara binatang, termasuk kicauan burung dan suara dari ikan paus. Selain itu, piringan ini juga diisi dengan musik dari berbagai budaya dan era yang berbeda, serta ucapan salam dalam 55 bahasa termasuk diantaranya bahasa Indonesia. Piringan emas ini juga menyertakan pesan tercetak dari Presiden Jimmy Carter dan Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Kurt Waldheim.

Keunikan Angka dalam Bahasa Indonesia


Fakta unik ternyata ditemukan dalam pola sederetan angka. setiap negara, bangsa, dan daerah pasti memiliki penyebutan sendiri untuk angka-angka dari satu, dua sampai dengan sepuluh.

Misalnya angka tiga kita menyebutnya di Indonesia, tapi di negara lain ada yang menyebutnya tri, three, san, tolu dan lain sebagainya.

Bahkan bila ada yang masih ingat angka-angka tersebut dalam bahasa daerah, maka terkadang ada angka yang penyebutannya sama dan ada pula yang berbeda dengan Bahasa Indonesia.

1= Satu
2 = Dua
3 = Tiga
4 = Empat
5 = Lima
6 = Enam
7 = Tujuh
8 = Delapan
9 = Sembilan


Ternyata setiap bilangan mempunyai saudara ditandai dengan huruf awal yang sama. Bila kedua saudara ini dijumlahkan angkanya, maka hasilnya pasti sepuluh. Contohnya Satu dan Sembilan mempunyai huruf awal, yaitu S, dan bila dijumlahkan satu dan sembilan hasilnya adalah sepuluh.

Begitu juga dengan Dua dan Delapan, Tiga dan Tujuh kemudian Empat dan Enam. Berturut-turut sampai dengan angka Lima. Lima dijumlahkan dengan dirinya sendiri juga hasilnya sepuluh.

Tidak sampai disitu, ternyata huruf awalnya juga punya peranan penting terbentuknya bilangan itu. Misalnya Satu dan Sembilan sama-sama huruf awalnya adalah S yang secara kebetulan berada pada urutan 19 dalam alpabet. Bila angka satu dan sembilan dijumlahkan kemudian dibagi dua untuk mencari rata-ratanya maka hasilnya adalah 5. Bentuk angka 5 sangat identik dengan huruf S.

Kemudian Dua dan Delapan. Huruf awalnya adalah D yang urutan keempat. Bila delapan dibagi dua maka hasilnya adalah empat (pembenaran).

Selanjutnya Empat dan Enam. Huruf awalnya adalah E yang urutan kelima. Lima berada di antara Empat dan Enam (pembenaran lagi).

Sedangkan angka Lima, huruf awalnya adalah L. Dimana L digunakan untuk simbol angka lima puluh dalam perhitungan Romawi (pembenaran yang masih nyambung).

Lalu bagaimana dengan Tiga dan Tujuh? Ternyata susah cari pembenarannya. Ditambah, dikurang, dibagi dan dikali ternyata belum juga ketemu. Tiga dikali tujuh hasilnya 21, kurang satu angka dengan huruf T yang urutan ke 20. Tapi simbol V digunakan untuk menunjukkan angka tujuh dalam perhitungan Arabic. Dan V diurutan ke-22.

Rahasianya, tidak pake matematika. Cukup ditulis saja di kertas kosong, kemudian pasti bisa ketemu hubungannya. Coba tulis huruf T kecil (t) di sebuah kertas. Kemudian putar kertasnya 180 derajat, maka Anda bisa lihat angka tujuh dengan jelas. Lalu bagaimana dengan angka tiga? Juga sama.

Tulis huruf T besar di kertas pake font Times New Roman kemudian putar 90 derajat ke kanan searah jarum jam. Anda pasti bisa melihat angka tiga dengan jelas. Tapi sedikit mancung (pembenaran yang juga dipakasakan sekali).

Pola unik ini mungkin hanya bisa ditemukan di Indonesia. Jadi sekali lagi pola ini hanya milik Indonesia.
Reff : pusatbahasaalazhar.wordpress.com 

Rabu, 05 Desember 2012

PERIODE ANGKATAN 45

 
A. Latar Belakang
Periode Angkatan 45 dimulai tahun 1942, tidak lama sesudah masuknya Jepang ke Indonesia. Periode ini merupakan pengalaman dan saat yang penting dalam sejarah bangsa dan juga sastra Indonesia. Pada masa ini, Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan diganti dengan bahasa Melayu. Hal ini memberi dampak pada intesifikasi pada penggunaan bahasa Melayu (Indonesia) dan, tentu saja, mengintensifkan perkembangan kesusastraan Indonesia.
Secara politik, Jepang mengumpulkan para seniman di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho). Awalnya, banyak seniman yang dengan penuh semangat menerima panyatuan di bawah satu organisasi. Namun, bersama lalunya waktu, para seniman tersebut sadar bahwa mereka diperalat untuk kepantingan propaganda Jepang yang sedang berusaha menguasai seluruh Asia. Kesadaran tersebut muncul setelah mengetahui janji-janji kosong, kekejaman, dan penindasan yang dilakukan oleh Jepang. 

Dalam bidang seni, kekecewaan itu merupakan dampak dari kebijakan Jepang
yang membatasi kreativitas para seniman. Kebijakan tersebut antara lain sebagi berikut.
  • Segala macam surat kabar dan majalah dilarang terbit kecuali terbitan yang berada di bawah pengawasan Jawa Shimbun Kai.
  • Pendirian Kantor Pusat Kebudayaan yang pada dasarnya digunakan untuk menindas kebudayaan Indonesia dan sebagai alat propaganda Jepang.

B. 45 sebagai Nama Angkatan
Penamaan angkatan ini dengan nama Angkatan 45 didasarkan pada peristiwa politik, yaitu kemerdekaan Indonesia. Selain nama tersebut ada beberapa nama yang digunakan dengan maksud yang sama. Nama-nama tersebut antara lain Angkatan Kemerdekaan, Angkatan Pembebasan, Angkatan Perang, Angkatan Sesudah Perang, Angkatan Sesudah Pujangga Baru, Angkatan Chairil Anwar, dan Anggkatan Gelanggang. 

Sebagai sebuah angkatan, Angkatan 45 adalah sebuah rentang waktu dalam kesusastraan Indonesia. Rentang waktu angkatan ini adalah antara 1942-1953. Periode ini dibagi menjadi dua, yaitu masa penjajahan Jepang dan masa sesudah penjajahan Jepang. Masa penjajahan Jepang antara 1942-1945 dan masa sesudah penjajahan Jepang antaara 1945-1953.


C. Karakteristik Angkatan 45
Jika dibandingkan dengan Angkatan sebelumnya (Angkatan Balai Pustaka dan Angkatan Pujangga Baru), Angkatan 45 memiliki persamaan dan perbedaan. Untuk memperjelas karakteristik Angkatan 45, pembahasan dilakukan dengan menggunakan sudut-pandang tertentu.

1. Karakteristik Struktur
a. Puisi
  1. Puisi bebas, tak terikat pembagian bait, jumlah baris, dan persajakan.
  2. Gayanya ekspresionisme.
  3. Aliran dan gayanya realisme.
  4. Diksi mencerminkan pengalaman batin yang dalam dan untuk intensitas arti mempergunakan kosa kata bahasa sehari-hari sesuai dengan aliran realisme.
  5. Bahasa kiasan yang dominan metafora dan simbolik; kata-kata, frasa, dan kalimat-kalimat ambigu menyebabkan arti ganda dan banyak tafsir.
  6. Gaya sajaknya prismatis dengan kata-kata yang ambigu dan simbolik, hubungan baris-baris dan kalimat-kalimatnya implisit.
  7. Gaya pernyataan pikiran berkembang (nantinya gaya ini berkembang menjadi gaya sloganis).
  8. Gaya ironi dan sinisme menonjol

b. Prosa
  1. Alur sorot balik lebih banyak dari periode sebelumnya.
  2. Alur padat dan digresi tidak digunakan lagi.
  3. Dalam menggambarkan perwatakan/penokohan, analisis fisik tidak dipentingkan, yang ditonjolkan analisis kejiwaan, tetapi tidak dengan analisis langsung, melainkan dengan cara dramatik: dengan arus kesadaran dan cakapan antar tokoh.
  4. Seperti juga dalam puisi, gaya ironi dan sinisme banyak digunakan.
  5. Gaya realisme dan dan naturalisme: penggambaran kehidupan sewajarnya.

2. Karakteristik Pandangan Hidup
1) Pandangan hidup angkatan 45 adalah humanisme universal. Hal ini, secara implisit, ditunjukkan pada studi-studi mereka terhadap sastra dunia antara lain Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika. Secara eksplisit pandangan hidup ini diungkapkan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang.


SURAT KEPERCAYAAN GELANGGANG

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang-banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan. 

Ke-Indonesia-an kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kami tidak akan memberikan suatu kata-ikatan untuk kebudayaan Indonesia. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia yang kemudian dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha-usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran-nilai. 

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikianlah kami berpendapat bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.  

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu aseli; yang pokok ditemui itu ialah manusia. Dalam cara mencari, membahas dan menelaah kami membawa sifat sendiri. 

Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.
Jakarta, 18 Februari 1950


2) Individualisme menonjol dalam genre puisi; kesadaran akan eksistensi diri terpancar kuat dalam sajak-sajak periode ini.
3) Dalam filsafat, periode ini banyak mengindikasikan adaya pengaruh eksistensialisme.


3. Tema
  1. Dalam puisi, periode ini menghadirkan karya yang berbicara tentang kehidupan batin/jiwa manusia melalui peneropongan diri sendiri.
  2. Menggambarkan masalah kemasyarakatan, di antaranya ketimpangan sosial dalam masyarakat, kemiskinan, dsb.
  3. Pemecahan masalah dengan menyajikan pandangan hidup dan pemikiran pribadi.
  4. Zaman peperangan merupakan tema utama dalam kebanyakan prosa terutama peranga kemerdekaan melawan Belanda dan Jepang

D. Sastrawan-Sastrawan Angkatan 45
Sastrawan Angkatan 45, tidak seperti angkatan sebelumnya, telahberkembang jumlahnya. Dengan demikian, dalam tulisan ini disampaikan yang tercatat dalam beberapa referensi dan akan dikembangkan pada saat yang lain ketika ada referensi baru yang dapat dijangkau. 

Berikut sastrawan-sastrawan Angkatan 45 yang tersusun alfabetis. 1. A. S. Dharta (Lekra)
2. Achdiat K. Mihardja
3. Amal Hamzah
4. Anas Ma’ruf
5. Anggraito
6. Aoh Kartahadimadja
7. Ashar Munir Samsul
8. Asrul Sani
9. Bachtiar Siagian (Lekra)
10. Bahrum Rangkuti
11. Bakri Siregar (Lekra)
12. Bandaharo Harahap (Lekra)
13. Buyung Saleh Puradisastra (Lekra)
14. Chairil Anwar
15. Darmawijaya
16. Dodong Jiwapraja
17. H. B. Jassin
18. Ida Nasution
19. Idrus
20. Joebaar Ajoeb
21. Katili AG Abdullah
22. Kirjamulya
23. Laurens Koster Bohang
24. M. A. Juhana
25. Mahatmanto
26. Maria Amin
27. Marlupi
28. Matumona
29. Mochtar Lubis
30. Nugroho
31. Nursyamsu
32. Purwa Atmaja
33. Pramoedya Ananta Toer
34. Rivai Apin
35. Rosihan Anwar
36. Rukiah (Lekra)
37. Rusman Sutiasumarga
38. Rustandi Kartakusuma
39. Sitor Situmorang
40. St. Nuraini
41. Subardjo
42. Suwandi Tjitrowarsito
43. Taslim Ali
44. Toto Sudarto Bachtiar
45. Trisno Sumardjo
46. Usmar Ismail
47. W.S. Rendra
48. Waluyati
49. Wiratmo Sukito

DAFTAR PUSTAKA
  1. Hendy, Zaidan.1988. Pelajaran Sastra 1. Jakarta: Gramedia
  2. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, Dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  3. Rosidi, Ajip. 1968. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta
  4. Soetarno. 1983. Peristiwa Sastra Indonesia. Surakarta: Widya Duta

KESUSASTRAAN ZAMAN BALAI PUSTAKA

 
1. Latar Belakang
Latar belakang berdirinya Balai Pustaka di Indonesia erat hubungannya dengan kebijaksanaan pemerintah Belanda jauh sebelumnya. Kaum Liberal yang berkuasa di Negeri Belanda memandang perlu untuk meningkatkan taraf hidup rakyat bumiputera (rakyat Indonesia dahulu). Lahirlah politik Etis (yang bertalian dengan moral) pada tahun 1870. Politik Etis ini meliputi edukasi (pendidikan), transmigrasi, dan irigasi (pengairan). 


Di bidang pendidikan, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah seperlunya, terutama di pulau Jawa. Tujuannya adalah untuk meningkatkan taraf berpikir segelintir rakyat Indonesia, di samping untuk menjadikan mereka sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda yang dapat digaji lebih murah daripada mengangkat pegawai dari negeri Belanda atau Eropa lainnya. 

Karena pendidikan ini, sebagian kecil rakyat bisa baca-tulis. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda kalau-kalau kepandaian rakyat ini melunturkan kepercayaan dan kesetiaan kepada pemerintah. Lebih-lebih bila mereka ini mendapatkan bacaan dari luar yang isinya menghasut. Untuk itu perlu diatasi dengan mengadakan buku bacaan yang digemari rakyat, setelah disensor terlebih dahulu.
Pada tanggal 14 September 1908 dengan surat keputusan pemerintah no. 12 berdirilah sebuah komisi yang bernama Commissie voor de Inlandsche School (Komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat). Komisi ini beranggotakan 6 orang yang dikepalai oleh Dr. G.A.J. Hazeu. Komisi ini berkewajiban pula member pertimbangan kepada Directuuur Onderwijs (Bagian Pengajaran) untuk memilih buku-buku yang baik bagi murid-murid di sekolah.


2. Berdirinya Balai Pustaka
Makin banyak rakyat ingin membaca, makin banyak buku yang dibutuhkan. Tugas komisi makin banyak dan makin sibuk. Maka pada tanggal 22 September 1917 komisi tersebut menjadi Kantoor voor de Volkslectuur(Kantor Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan Balai Pustaka. Balai artinya bangunan atau tempat yang luas untuk melakukan kegiatan dan Pustaka artinya buku-buku. Balai Pustaka ini beralamat di jalan Dr. Wahidin, Jakarta Pusat. Tugas Balai Pustaka berkenaan dengan karang-mengarang dan pencetakan buku bacaan dan buku-buku lain. Usaha Balai Pustaka dalam memajukan kesusastraan antara lain:

  1. Mengumpulkan atau menghimpun cerita-cerita (dongeng) daerah dan mengalihkannya ke dalam bahasa Melayu.
  2. Menerjemahkan cerita-cerita Eropa atau cerita asing lainnya ke dalam bahasa Melayu.
  3. Menerbitkan majalah dalam bahasa daerah yaitu: Panji Pustaka (Melayu),Parahiayangan (Sunda), dan Kejawen (Jawa).
  4. Menerbitkan buku Almanak Rakyat yang berisi ilmu pengetahuan praktis untuk kehidupan rakyat sehari-hari dengan harga murah.
  5. Membuka perpustakaan rakyat melalui sekolah-sekolah di pelosok tanah air.

3. Dampak Berdirinya Balai Pustaka
Pada waktu itu, bahasa yang dipakai sebagai bahasa karangan di Balai Pustaka adalah bahasa Melayu. Karena itu pengarang-pengarang Balai Pustaka kebanyakan orang Melayu. Hanya beberapa pengarang yang bukan dari Melayu yang menjadi penulis dalam Balai Pustaka. Karena Balai Pustaka merupakan lembaga yang mendukung pendidikan, Balai Pustaka sangat berperan dalam perkembangan sejarah Indonesia sebelum kemerdekaan. Jasa-jasa Balai Pustaka antara lain:
  1. Mempercepat pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan Indonesia.
  2. Perkembangan dan kemajuan sastra menjadi pesat karena naskah karangan yang disusun pengarang dapat terbit dengan biaya Balai Pustaka.
  3. Pertumbuhan dan perkembangan bahasa lebih terpelihara karena hanya naskah cerita yang bahasanya baik yang dapat diterbitkan.
  4. Membangkitkan semangat pengarang-pengarang muda dan mengembangkan bakat mereka.
  5. Sampai sekarang merupakan gelanggang karang-mengarang dan cetak mencetak buku.
Karena berdiri dibawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, ada dampak-dampak yang merugikan bagi karangan yang akan diterbitkan. Hal ini terjadi karena naskah-naskah yang masuk bisa dicetak hanya jika memenuhi kriteria tulisan yang diperkenankan pemerintah Hindia Belanda. Hal-hal yang berdampak buruk tersebut antara lain:
  1. Pengarang tidak bebas mengemukakan pikiran dan perasaan karena harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan pemerintah Hindia Belanda, misalnya naskah tidak boleh berbau politik, harus netral dan tidak boleh menyinggung suatu golongan.
  2. Staf redaksi sebagai pengemban kemauan pemerinth Hindia Belanda sangat menentukan nasib sebuah naskah. Tidak jarang naskah yang terbit itu sudah berbeda jauh dari aslinya karena disesuaikan dengan selera staf redaksi.

4. Balai Pustaka Sebagai Nama Angkatan

Angkatan Balai Pustaka diambil dari nama penerbit ini karena sebagian besar pengarang pada periode ini berkumpul pada lembaga penerbitan ini. Sebelum dicetak Balai Pustaka berhak memperbaiki baik isi maupun bahasanya. Karena perana Balai Pustaka terhadap karya periode ini, angkatan tersebut disebut Angkatan Balai Pustaka. 

Selain Balai Pustaka, nama lain yang digunakan untuk menyebut angkatan ini adalah Angkatan Dua Puluhan karena angkatan ini lahir pada rentang waktu tahun dua puluhan. Angkatan ini dimulai dari terbitnya buku Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang terbit tahun 1920 yang memiliki corak yang sama dengan karya-karya berikutnya. Kesamaan corak pada rentang waktu tersebut mendasari penamaan angkatan tersebut menjadi angkatan Dua Puluhan.

Selain dua nama tersebut angkatan ini juga disebut Angkatan Siti Nurbaya. Penamaan ini diambil dari judul sebuah roman karangan Marah Rusli yang berjudul Siti Nurbaya. Hal ini sebagai akibat dari kepopuleran tema roman tersebut pada waktu itu.


5. Pembaharuan Yang Dilakukan oleh Balai Pustaka
Pada periode ini terjadi perkembangan sastra yang berbeda dari sastra sebelumnya, yaitu sastra Melayu lama. Perkembangan ini terjadi pada setiap genre sastra yang dikenal dalam sastra Melayu, yaitu prosa, puisi, dan drama. 

Dalam prosa, angkatan Balai Pustaka telah bergerak jauh berbeda dari sastra Melayu lama. Dari segi isi, prosa periode ini mengambil bahan cerita dari Minangkabau. Hal ini berbeda dengan prosa lama yang kebanyakan mengambil setting istana dangan tempat negeri “antah berantah” yang tidak bisa ditelusuri tempat sebenarnya. 

Kisah yang diceritakan dalam prosa-prosa Balai Pustaka mengangkat tema perjuangan kaum muda dalam menanggapi kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam masyarakat. Kejanggalan-kejanggalan itu membentuk pertentangan-pertentangan antara kaum muda yang berpikiran maju dengan kaum tua yang berpikiran kolot. Secara lebih khusus tema-tema yang menjadi latar pertentangan antara kaum tua dan kaum muda mengenai adat, kawin paksa, kebangsawanan, poligami, gaya hidup barat dan sebagainya.


6. Karakteristik Balai Pustaka
Dalam menunjukkan karakteristik periode angkatan Balai Pustaka Pradopo (2007: 23-4) membagi menjadi dua, yaitu berdasarkan ciri-ciri struktur estetik dan ciri-ciri ekstra estetik. Struktur estetik lebihdekat dengan istilah unsur intrinsik dan ekstra estetik dengan unsur ekstrinsik

a. Ciri-ciri struktur estetik

  1. Gaya bahasanya menggunakan perumpamaan klise, pepatah-pepatah, dan peribahasa, namun menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang lain dari bahasa hikayat sastra lama.
  2. Alur roman sebagian besar alur lurus. Ada juga yang menggunakan alur sorot balik tapi sedikit, misalnya pada Azab dan Sengsara dan Di Bawah Lindungan Kaabah.
  3. Teknik penokohan dan perwatakannya banyak mempergunakan analisis langsung (direct author analysis) dan deskripsi fisik. Tokoh-tokohnya berwatak datar (flat character)
  4. Setting berlatar kedaerahan. Selain itu setting yang digunakan adalah saat ini dan pada sebuah tempat tertentu di masa kini, bukan dahulu kala di negeri antah-berantah
  5. Pusat pengisahan pada umumnya mempergunakan metode orang ketiga atau diaan. Ada juga yang menggunakan orang pertama atau akuan misalnyaKehilangan Mestika dan Di Bawah Lindungan Kaabah.
  6. Banyak terdapat digresi, yaitu sisipan yang tidak secara langsung berkaitan dengan cerita, misalnya uraian adat, dongeng-dongeng, syair, pantun, dsb.Digresi tersebut terdapat, misalnya, dalam kutipan-kutipan berikut.
Pantun
Demikian sekalian perempuan itu tertawa-tertawa pula, sehingga malu Asri tadi itu terlipur sudah. Apabila karena Asnah pun ikut tertawa jua. Akan tetapi tertawanya itu sebagai bunyi pantun:
Maninjau berpadi masak,
batang kapas bertimbal jalan.
Hati risau dibawa gelak,
bak panas mengandung hujan. (Iskandar, 1990: 82-3)


Syair 
Maka Nurbaya berseri, ketika melihat surat itu, karena besar hatinya, dan pada bibirnya kelihatan gelak senyum, yang mencekungkan kedua pipinya, menambah manis rupanya. Bertambah-tambah besar hatinya menerima surat, karena telah dua Jumat ia tiada mendapat kabar dari samsu 

    7. Bersifat didaktis.
    8. Bercorak romantis sentimental


b. Ciri-ciri ekstra estetik

  1. Pertentangan paham antara golongan tua dan golongan muda soal adat lama dan kemodernan
  2. Tidak mempermasalahkan nasionalisme dan rasa kebangsaan

7. Pengarang-Pengarang Angkatan Balai Pustaka
Pengarang-pengarang Balai Pustaka seperti telah disebutkan di muka kebanyakan berasal dari Sumatera hanya sebagian kecil yang bukan berasal dari Sumatera. Dalam tulisan ini akan dibagi 2, yaitu pengarang yang berasal dari Sumatera dan bukan Sumatera. 

a. Berasal dari Sumatera
1) Abdul Muis
2) Adinegoro (Djamaluddin)
Karyanya:

  • Asmara Jaya. Roman ini terbit tahun 1927.
  • Darah Muda. Roman ini terbit tahun 1928.
  • Melawat ke Barat. Prosa ini berbentuk kisah perjalanan.
  • Falsafah Ratu Dunia. Buku ini berisi surat-surat dan pandangan.
  • Revolusi dan Kebudayaan. Karya ini berupa essay yang terbitkan Balai Pustaka pada tahun 1954.
3) Aman Datuk Madjoindo
4) Hamidah
5) Hamka
6) Marah Rusli
Karyanya:
  • SitiNurbaya. Roman ini diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1922.
  • Anak dan Kemenakan. Diterbitakan Balai Pustaka pada 1956.
  • La Hami. Roman ini berlatar sejarah pulau Sumba.
7) Merari Siregar
Karyanya:
  • Azab dan Sengsara.Roman ini diterbitkan 1920 oleh Balai Pustaka.
  • Si Jamin dan Si Johan. Cerita ini merupakan cerita saduran dari Oliver Twist karya Charles Dickens menurut A.A. Teeuw menurut Armyn Pane cerita ini saduran dari Uit hek wolk karya Justus van Maurik.
  • Binasa karena Gadis Priyangan. Roman ini diterbilkan Balai Pustaka tahun 1931
  • Cinta dan hawa Nafsu.
  • Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Bertawi. Roman ini diterbtkan Balai Pustaka tahun 1924
8) Moh. Yamin
9) Muhammad Kasim
10) Sa’adah Alim
11) Nurani
12) Nur Sutan Iskandar
Sastrawan ini adalah salah satu penulis yang aktif dengan karya yang relatif banyak. Karya-karya tersebut berupa terjemahan, saduran, dan karangan sendiri.
Terjemahan:
  • Bertanam Kacang.
  • Permainan Kasti.
  • Abunawas
  • Iman dan Pengasihan. Karya ini merupakan terjemahan dari Quo Vadis
Saduran:
  • Pelik-pelik pendidikan.
  • Si Bachil. Karya ini merupakan saduran dari drama L’avare karya Moliere.
  • Dewi Rimba.
13) Rustam Effendi
14) Selasih
15) Suman Hs.
16) Tulis Sutan Sati
Karyanya:
  • Siti Marhumah yang Saleh. Syair ini merupakan saduran dari cerita lamaHasanah yang Saleh.
  • Syair Rosina. Saduran tentang kejadian yang sebenarnya terjadi di Betawi.
  • Sabai nan Aluih. Saduran dari kaba dengan judul yang sama.
  • Sengsara Membawa Nikmat. Roman ini terbit tahun 1928.
  • Tidak Tahu Membalas Guna. Roman ini terbit pada tahun 1932.
  • Tak Disangka. Roman ini terbit pada tahun 1932.
  • Memutuskan Pertalian. Roman ini terbit pada 1932.

b. Berasal dari daerah lain
17) H.S.D. Muntu (Sulawesi)
18) I Gusti Nyoman Panji Tisna (Bali)
19) Marius Ramis Dayoh (Sulawesi)
20) L. Wairata (Pulau Seram)
21) Paulus Supit (Sulawesi)
22) Sutomo Djauhar Arifin (Jawa)

PUJANGGA BARU

 
A. Awal Kelahiran Pujangga Baru
Pujangga Baru dilatarbelakangi semangat persatuan yang hidup dalam msyarakat Indonesia. Semangat ini dipelopori oleh kaum muda yang pada tanggal 28 Oktober 1928 telah mencetuskan Sumpah Pemuda. Sumpah sakti ini berbunyi sebagai berikut:
Sumpah Pemuda
1. Kami putra dan putri Indonesia bertumpah darah satu Tanah Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia berbangsa satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia. 

Ikrar sumpah pemuda ini mempengaruhi banyak bidang pergerakan. Gerakan tersebut dilaksanakan dalam berbagai bidang, misalnya sosial, pendidikan, budaya, dsb.
Pujangga Baru adalah salah satu gerakan dalam bidang kebudayaan yang di dalamnya mencakup sastra. Selain Pujangga Baru banyak media-media yang dimanfaatkan oleh para sastrawan untuk mengekspresikan idennya. Media-media tersebut antara lain Timbul dan Panji Pustaka. Keduanya memiliki rubrik khusus sastra. Pujangga Baru adalah satu-satunya majalah yang memuat karya sastra secara khusus pada waktu itu. 

Majalah Pujangga Baru ini bertujuan untuk membawa atau menyebarkan semangat baru dalam lapangan kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan sosial yang tujuan akhirnya adalah terbentuknya persatuan bangsa. Hal ini nampak pada semboyan Pujangga Baru yang beberapa kali mengalami perubahan. Semboyan-semboyan tersebut antara lain:
  • Menuju dan berjuang untuk memajukan kesusastraan baru (mulai tahun 1933)
  • Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan dan soal masyarakat umum (mulai tahun 1935)
  • Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia (mulai tahun 1936)
Mulai tahun 1933-1935 Pujangga Baru dipimpin oleh Armyn Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, dan Mr. Sumanang. Mulai tahun 1935-1938 Pujangga Baru dipimpin oleh Sugiarti, Mr. Amis Syarifuddin, Mr. S. Moh. Syah, Mr Sumanang, Dr. Ng. Purbacaraka, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Sekretaris redaksi dipegang oleh Mr. S. Moh. Syah (1936-1937), Armyn Pane (1937-1938), dan W.J.S. Purwodarminto (akhir tahun 1938-pertangahan 1940). Selain tokoh-tokoh di atas, ada banyak tokoh lain yang membantu majalah ini. Toko-tokoh tersebut tersebar di seluruh Indonesia.


B. Pujangga Baru sebagai Nama Angkatan
Pujangga Baru dengan latar belakangnya tidak diragukan memiliki karakteristik yang khusus. Karakter khusus ini berbeda dari angkatan Balai Pustaka yang merupaka angkatan pendahulunya. Karena karakteristik ini Pujangga Baru dapat dimasukkan dalam periode tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Karena laihir pada tahun tiga puluhan, angkatan ini juga disebut angkatan tiga puluhan.  

1. Pengaruh Pengaruh yang Terdapat dalam Angkatan Pujangga Baru
Sebagai sebuah gerakan baru pada waktu itu, perbedaan karakteristik Pujangga Baru pasti dilatarbelakangi oleh sejarah sebelumnya. Jika dirunut kebelakang, Pujangga Baru dipengaruhi setidak-tidaknya empat negeri, yaitu Belanda, India, Parsi, dan Jawa. 

a. Pengaruh dari Belanda
Pujangga Baru dipengaruhi angkatan 1880 dari negeri Belanda, yaituDe Tachtigers. Angkatan ini mengadakan revolusi besar di bidang kesusastraan Belanda. Hal itu sebagai reaksi atas “kesusastraan pendeta” dan kesenian sebelumnya yang bersifat lambat dan dikemudikan oleh pikiran yang berhati-hati. 

Pelopor-pelopor gerakan ini adalah Willem Kloos, Lodewijk van Dyseel, Frederik van Eeden, dan Albert Verwey. Mereka menerbitkan majalah De Nieuwe Gids (Pandu Baru) pada tahun 1885. Syair-syair angkatan ini bersifat lirik-romantik dan pada umumnya berbentuk soneta. Pengaruh-pengaruh tersebut tampak jelas pada karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana, Armyn Pane, dan J.E. Tatengkeng. 

b. Pengaruh India, Parsi, dan Jawa
Pengaruh ini nampak pada karya-karya Sanusi Pane dan Amir Hamzah. 

2. Angkatan Pujangga Baru dan Pelopornya
Sebuah angkatan sastra dilatarbelakangi ide yang merupakan antithesis dari ide sebelumnya. Sebuah ide merupakan motor penggerak sebuah pergerakan yang keluar dari manusia tertentu. Hal ini terjadi pula pada Pujangga Baru. 

Pujangga Baru dipelopori oleh empat orang tokoh, yaitu Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armyn Pane, dan Amir Hamzah. Corak dan aliran Pujangga Baru nampak pada corak dan aliran keempat tokoh ini. 

3. Konsepsi-Konsepsi Pujangga Baru dalam Beberapa Bidang
Meskipun berada dalam satu angkatan dan media yang sama, ide dasar dari keempat tokoh-tokoh Pujangga Baru tidaklah sama. Ide mereka tentang berbagai hal bahkan bertentangan. 

Hal ini terjadi pada hal-hal berikut:
a. Konsepsi Mengenai Semangat Masyarakat Baru  
  1. Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa agar bangsa Indonesia maju ke depan dan sederajat dengan bangsa-bangsa barat, masyarakat Indonesia yang statis itu harus diubah menjadi masyarakat yang dinamis seperti masyarakat barat. Dengan demikian faham-faham yang menyebabkan masyarakat barat maju seperti materialisme, intelektualisme, egoisme, dan individualisme harus juga dimiliki bangsa Indonesia. Sutan Takdir Alisyahbana juga berpendapat bahwa filsafat India yang cenderung mengajak untuk selaras dengan alam harus diganti dengan sikap menguasai alam. Hal ini bahkan tetap menjadi pandangan hidup dalam karya selanjutnya seperti pada sebuah kutipan keyakinan Hidayat dalam Kalah dan Menang. ... Kebudayaan yang aktif dan dinamis selalu akan menguasai kebudayaan yang lemah, yang sudah tua dan tiada sanggup memperbarui dirinya kembali. Dalam hubungan inilah ia sangat terpesona akan soal naik turunnya kebudayaan dan bagaimana kebudayaan-kebudayaan yang banyak itu pengaruh mempengaruhi sepanjang sejarah. 
  2. Sanusi Pane berpendapat bahwa hidup harus mementingkan rohani dan keselarasan jasmani dengan alam. Pandangan ini dipengaruhi ajaran mistik India. 

b. Konsepsi mengenai kebudayaan Indonesia baru
  1. Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia harus terlahir dari semangat keindonesiaan, bukan merupakan sambungan dari kebudayaan Jawa, Sunda, Melayu, dan kebudayaaan suku-suku lain di Indonesia.
  2. Sanusi Pane berpendapat kebudayaan harus bersendikan kebudayaan lama dari timur yang diramu dengan kebudayaan maju dari barat 

c. Konsepsi mengenai seni
  1. Sutan Takdir Alisyahbana dengan tegas bersemboyan seni untuk masyarakatdan menolak semboyan seni untuk seni.
  2. Sanusi Pane lebih cenderung pada seni untuk seni atau l’art pour l’art. Akan tetapi secara umum semboyan Pujangga Baru adalah seni untuk masyarakat. 

d. Konsepsi mengenai kesusastraan baru
Dalam hal ini semua tokoh dalam Pujangga Baru sependapat bahwa kesusastraan Indonesia baru harus memancarkan jiwa yang dinamis, individualisme, dan tidak menghiraukan tradisi yang menghambat kemajuan

4. Karakteristik Sastra Angkatan Pujangga Baru
Karya-karya angkatan Pujangga Baru meliputi berbagai genre sastra. Karya-karya tersebut dalam bentuk prosa, puisi, dan drama. Selain itu terdapat pula essay dan kritik. Namun, dua yang terakhir tidak akan dibahas pada bab ini.

a. Prosa
Prosa Pujangga Baru terdiri atas roman, novel, dan cerpen. Istilah roman pada masa itu cenderung dibedakan dengan novel. Akan tetapi, penulis lebih cenderung untuk menyamakannya dengan alasan bahwa roman sekalipun adalah novel berdasarkan definisinya. Dengan demikian karena karakaterisktik ketiganya hampir sama – dalam hal unsur intrinsic dan ekstrinsiknya – karakteristik ketiganya akan ditulis dalam satu kesatuan karakateristik prosa. 

Dari segi bahasa Pujangga Baru masih menggunakan gaya bahasa lama yang bersifat klise. Akan tetapi, di sisi lain Pujangga Baru banyak menggunakan gaya bahasa baru yang lebih hidup. 

Bahasa yang digunakan adalah bahasa dari pergaulan yang juga menyerap bahasa-bahasa daerah Nusantara. Pujangga Baru tidak menggunakan bahasa Melayu lama atau Melayu tinggi yang biasa digunakan di sekolah-sekolah. Selain itu, banyak istilah-istilah Belanda yang digunakan sehingga Pujangga Baru dikatakan kebelanda-belandaan. 

Pesan yang disampaikan bersifat implicit. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang menyampaikan secara eksplisit. Gerakan cerita wajar dan berjalan dengan sendirinya. Kesimpulan dan penilaian dikembalikan pada pembaca. 

Tokoh dalam Pujangga Baru lebih dinamis dan sudut penceritaan tidak terfokus pada satu tokoh saja. Selain itu, tokoh dalam Pujangga Baru dilukiskan terutama jalan pikiran dan kehidupan jiwa pelakunya. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang menceritakan keseluruhan gerak-gerik pelaku mulai awal sampai akhir. 

Tema yang diangkat dalam Pujangga Baru tidak hanya seputar pertentang tua muda, masalah adat, poligami, kawin paksa, kebangsawanan, gaya hidup kebelanda-belandaan yang dikecam orang-orang tua yang merupakan tema sentral dalam Balai Pustaka. Pujangga Baru memiliki tema sentral perjuangan menuju cita-cita dan semangat kebangsaan. Karya Pujangga Baru berbicara tentang paham-paham dan nilai-nilai, misalnya politik, ekonomi, budaya, agama, dan sebagainya. 

Jika dalam Balai Pustaka banyak berbicara tentang adat yang menunjukkan jiwa komunal masyarakat, Pujangga Baru lebih berbicara tentang individu yang bebas dalam menentukan hidupnya. Selain itu Pujangga Baru tidak lagi bersifat provinsialisme yang memecah-mecah berdasarkan suku dan wilayah. Hal ini ditunjukkan dengan perkawinan antar suku yang bersifat interinsular. Selain perkawinan tema juga menyangkut kehidupan kota dan desa.
Secara garis besar cerita prosa mengenai kehidupan real saat itu. Pujangga Baru tidak menulis tentang imajinasi fantastis seperti pada sastra lama yang masih juga ditemui pada Balai Pustaka. 

Aliran Pujangga Baru adalah romantis-idealis. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang beraliran romantis-sentimentil. Pujangga Baru lebih banyak berbicara tentang keindahan dan perjuangan untuk sebuah cita-cita.

b. Puisi
Puisi-puisi Pujangga Baru cenderung untuk meninggalkan puisi-puisi tradisional. Mereka membuat pembaruan-pembaruan dalam bidang ini. Akan tetapi, dalam beberapa hal puisi Pujangga Baru masih menggunakan gaya-gaya Balai Pustaka. 

Tema puisi Pujangga Baru merefleksikan adanya kesadaran nasional, perasaan kebangsaan, cinta tanah air, dan antikolonial. Pada umumnya puisi Pujangga Baru bersifat lirik-romantik.
Puisi-puisi Pujangga Baru masih terikat pada aturan-aturan yang sebagian sudah meninggalkan gaya puisi Balai Pustaka. Puisi Pujangga Baru masih terikat pada baris dalam setiap baitnya. Penyebutan jumlah bait ini berdasarkan istilah puisi barat. Penyebutan tersebut, misalnya, distichon untuk bait dwirangkai, terzina untuk bait trirangkai, kwatryn untuk bait catur rangkai, quin untuk bait panca rangkai, sextet untuk bait sad rangkai, septima untuk bait sapta rangkai, oktavo atau stanza untuk bait hasta rangkai, dan sebagainya. 

Pujangga Baru juga sangat gemar menulis puisi soneta. Soneta ini adalah sejenis puisi yang berasal dari Italia. Puisi ini memiliki kemiripan dengan pantun yang mementingkan rima akhir. Jumlah baris dalam soneta selalu 14 dengan jumlah baris dalam setiap baitnya bervariasi. Pada soneta Pujangga Baru sedikitnya ada lima bentuk, yaitu satu bait 16 baris, dua bait 8-6, empat bait 4-4-3-3, lima bait 4-4-2-2-2, dan tiga bait 4-4-6.
c. Drama
Drama Pujangga Baru tidak begitu dominan. Drama pada jaman ini bertema tentang kebesaran sejarah indonesia yang sesuai dengan gerakan Pujangga Baru yang memperjuangkan rasa kebangsaan Indonesia.

5. Tokoh-Tokoh Pujangga Baru
Dalam Pujangga Baru terdapat tokoh-tokoh yang sangat berperan. Tokoh-tokoh tersebut tersusun sebagai berikut.
1. A. Hasymi
2. A.M. Daeng Mijala
3. Amir Hamzah
4. Armiyn Pane
5. Asmara Hadi
6. Fatimah Hasan Delais
7. G. S. Lalanang
8. I Nyoman Panji Tisna
9. J.E. Tatengkeng
10. Jusuf Sou’yb
11. Laurens Koster Bohang
12. M. D. Yati
13. M. I. Nasution
14. M. Taslim Ali
15. Marius Ramis Dayoh
16. Mozasa
17. Muhammad Yamin
18. N. Adil
19. O.R. Mandank
20. R.D.
21. Rifai Ali
22. Rustam Efendi
23. S. Yudho
24. Samadi
25. Sanusi Pane
26. Suman Hs.
27. Sutan Takdir Alisyahbana
28. Sutomo Jauhar Arifin
29. Yogi (Abdul Rivai)