aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2013

Kita Belajar Dari ...

Dari Tetesan Air Mata kita
Belajar Mengerti..
Dari Perselisihan kita Belajar
Memahami..
Dari Pengkhianatan kita Belajar Kesetiaan..

Dari Rasa Khawatir kita belajar Percaya..
Dari Rasa Kehilangan kita Belajar Menghargai..
Dari Rasa Bersalah kita Belajar Memaafkan..
Dari Sebuah Harapan kita Belajar Berjuang..
Dari Sebuah Perjuangan kita Belajar Berkorban..
Dari Sebuah Pengorbanan kita Belajar Ketulusan..

Manakala kita Renungkan semua Peristiwa baik yang
Menyenangkan atau yang menyedihkan, akan Membawa
Hikmah Bagi Hati yang Mau Terbuka untuk Memahami dan
Menggali serta Memetik Hikmah.
Sungguh Beruntung orang-orang yang Beriman,segala yang
dialami Tak ada yang sia-sia ... SubhanAllah.

Dakwah adalah Cinta

Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu,
isi mimpimu pun tentang dakwah.
Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu.
Dakwah menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu.
Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. ..
Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah.
Beliau memang akan tua juga.
Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz.
Dia memimpin hanya sebentar.
Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.
Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah.
Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.
Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok.
Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.
Toh memang itu yang diharapkannya;
mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak,
mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik.
Kepalanya sampai botak.
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana.
Kurang heroik?
Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah;
luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih,
yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan.
Bukannya tidak membosankan.
Dakwah bukannya tidak menyakitkan.
Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan.
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya setiap hari.
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan,
Selalu menemani…
Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai kemanapun mereka pergi…
Akhirnya menjadi adaptasi.
Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur,
pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman.
Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit.
Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda
Dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar, Saat Rasulullah wafat, ia histeris.
Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk.
Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” ,
hal itu sudah menjadi kewajaran.
Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu.
Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore.
Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu.
Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah.
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan,
sekalinya hal itu mereka rasakan,
mereka merasa menjadi orang besar.
Dan mereka justru menjadi lelucon dan target doa para mujahid sejati,
“Ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak.
Jasadnya dikoyak beban dakwah.
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…
Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu LELAH mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu BOSAN mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu LETIH bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu FUTUR menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu LESU menemanimu.”
Kalau iman dan syetan terus bertempur. ..
Pada akhirnya salah satunya harus mengalah 


(KH. Rahmat Abdullah)

Minggu, 05 Mei 2013

Kado di Hari Ibu

Nak,
Jika saat ini engkau pandai berbicara
Mempengaruhi orang lain
Mengajak massa
Itu berawal dari satu dua kata
Yang diajarkan oleh ibumu, dahulu

Nak,
Jika saat ini engkau pandai menghitung
Mengkalkulasi untung rugi niagamu
Memperhitungkan kepentingan
Itu bermula dari satu dua bilangan
Yang dituturkan oleh ibumu, dahulu

Dahulu...
Kau hanya bisa menangis, berteriak.
Suaramu melengking
Tapi ibumu, tak pernah sakit telinganya
Yang dia dengar, katanya, adalah nyayian merdu
Jantung hati yang amat dicintai

Nak,
Jika saat ini engkau pandai melangkahkan kaki
Berjalan menyusuri bumi
Berlari mengejar kehidupan
Itu beranjak dari satu dua langkah
Yang dibimbing oleh ibumu

Nak,
Jika saat ini engkau pandai menggerakkan tangan
Bekerja untuk kehidupanmu
Berkarya mendharmabaktikan kemampuanmu
Itu berasal dari satu dua gerakan
Yang dituntun oleh ibumu

Dahulu...
Kau hanya bisa berbaring,
Merangkak,
Tapi ibumu tak pernah lelah tubuhnya
Yang dia rasa, katanya, adalah kebahagiaan hati
Kasih sayang yang tak berujung

Nak,
Ciumlah wajah ibumu
Karena di raut muka itulah
kau bisa membaca kedalaman cintanya kepadamu
Ciumlah tangan ibumu
Karena di guratan tangannyalah
kau dapati riwayat kemanusiaanmu
Ciumlah kaki ibumu
Karena di telapak kakinyalah
Kau temukan surgamu

Nak,
Ciumlah nama Ibumu

Jumat, 26 April 2013

Arti Sebuah Ketulusan

Ketulusan adalah bahasa hati……
Maka ia hanya dapat dirasa oleh hati………
Untuk mengetahui seseorang itu tulus atau tidak kepada dirimu….
rasakanlah dengan hatimu………
karena apa yang berasal dari hati akan sampai kehati…………..

Ia ibarat Seberkas cahaya yang memancar dalam jiwa…..
Bukan banyak berkata-kata tapi ia adalah kerja nyata…
Lebih banyak membuktikan ketimbang janji-janji semata…..

Ia dihidupi oleh minyak keikhlasan………….
lenteranya adalah kebeningan jiwa
Jika Berbuat tanpa pamrih……
Tak suka pilih kasih…..

Ia ibarat orang buta yang memuji keelokan wajahmu……
Ibarat orang bisu yang mengungkapkan kata sayang kepadamu……
Tak melihat tapi bisa merasakan…..
Tak bisa mengungkapkan namun cukup dengan tindakan…..

Ia ibarat mentari yang terus-menerus memancarkan sinarnya walaupun tak ada yang menghargai dan menyadari……..
Ibarat bayangan yang selalu setia menemani walau tak dipedulikan……
Tetap memberi walau tak ada yang menghargai…
Tetap setia menemani ketika yang lain berpaling….
Tetap mengasihi walau tak dikasihi…….
Tetap memberi maaf walau berulang kali disakiti….
Selalu memberi cinta dengan sepenuh jiwa walau kadang tak dicinta…

Ahmad Bin Ismail Khan

Minggu, 21 April 2013

Sajak Ujian Nasional

Sajak Ujian Nasional I 

Bila harinya tiba
Tiba-tiba kita baru sadar bahwa inilah harinya
Belajar 9 cawu atau 6 semester
Hanya ditentukan ketuntasannya dalam 6 hari dalam seminggu

Kalau gagal, bisa fatal
Mengulang, menanggung malu
Meninggalkan, sama saja membuang masa depan
Sedangkan kita punya mimpi-mimpi yang terlanjur ditargetkan

Lalu kita ikuti aneka wacana
Bahwa ujian nasional bukanlah penilaian bijaksana
Ini salah pemerintah
Ini salah menteri
Ini salah presiden
Ini salah bapak ibu mengapa menyekolahkan

Kita tidak merasa salah
Dengan dalil kenakalan remaja memang harus dialami ketika remaja
Kalau ketika dewasa itu disebut kenakalan dewasa
Oom atau tante nakal misalnya

Karena berpusing dengan aneka pikiran
Malam tak bisa membawa kantuk
Esok pagi datang ke sekolah
Dengan tangan berisi pensil 2B
Tapi pikiran kosong
Ketika melihat soal ujian
Pusing tiba-tiba menyerang

Untung akal muslihat masih terang
Lebih baik menjatuhkan badan di ruang ujian
Dan teriak-teriak meniru suara harimau atau kadal
Yang penting judulnya kesurupan

Esoknya kita melihat akting kita di layar kaca
Jadi berita

Bukankah belajar itu tidak gampang?
Tentu, bagi orang yang tak perlu ilmu
Tapi menceburkan diri ke bangku sekolahan

Norman Adi Satria


Sajak Ujian Nasional II

bisakah kualitas diukur dengan angka-angka,
atau sebaliknya,
mampukah angka-angka mengukur kualitas?

angka enam tak lebih buruk dari sembilan
meski bentuk kepalanya berubah jadi perut.
beda lagi jika kau mengukurnya dalam kuantitas
tentu enam lebih sedikit ketimbang sembilan,
dan sebaliknya.

pemimpin negeri ngotot:
kualitas anak bangsa
harus dihitung dengan angka.

yang goblok bukan berarti tak mampu dapat sepuluh,
yang pintar bisa saja dapat dua setengah,
lalu yang goblok dianggap pintar
yang pintar dianggap goblok.

lagi pula pintar dan goblok tak hanya bisa diukur melalui sebidang hafalan,
bisa jadi yang nilainya besar itu hanya lihai dalam bidang menghafal,
namun nol dalam penerapan ilmu:
pendidikan budi pekerti dapat nilai
sempurna,
dalam praktek jadi pelaku asusila,
matematika dapat sempurna,
sehari-hari jadi bandar judi bola.

sudahlah,
simpan angka-angka itu untuk mengukur:
berapa pajak yang diberi oleh rakyat
dari mulai beli kolor sampai motor,
dari mulai penjulan lanting sampai buang kencing,
dari mulai produksi bubur hingga masuk liang kubur;
rakyat kenyang bayar segala pajak,
namun masih ada yang tak mampu beli ketoprak.

lalu pikirkan kembali:
takaran apa yang bisa mengukur kualitas,
misalnya dengan suatu fakta kegagalan dalam melaksanakan tugas.
contoh konkretnya:
kegagalan dalam menyelenggarakan ujian nasional,
yang dapat mengukur kualitas sistem penyelenggaraan pendidikan negeri kita.
Norman Adi Satria

Kamis, 24 Januari 2013

Puisi Fisika Tentang Ibu

ELEMEN PENGGELEGAR CINTA IBU

Ibu termulia...
Jiwamu bagaikan akumulator dalam hidupku...
Kau tanggung gerak – gerak yang kadang menerjang saat mengandung ku...
Dua puluh tahun lamanya kau tumbuhkan elemen kesetimbangan dalam jiwaku... 

Ibu...
Kau bagaikan magnet cinta dalam hidupku...
Menyayangiku bagaikan air yang mengalir di fluida kehidupan...
Genggam mu kurasakan hangat nya bagaikan kalor yang keluar dari besi saat dipanaskan....
Efek Fotolistrik kuhayalkan dalam getaran fisika modern di kalbuku..... 

Ibu....
Kau kokoh kan tulang ku dengan energi ketabahan...
Kau alirkan darahku dengan fluida kegigihan...
Kau hidupkan harapan ku dengan dinamika keimanan...
Kau bangun masa depan ku dengan hantaran doa mu.... 

Ibu....
Sedihku sering membuat elastisitas dalam hidupku....
Ingin ku persembahkan air mataku pada mu...
Getaran harmonik yang menggelegar dalam jiwaku...
Akan ku tumpahkan semuanya dibawah tapak kaki mu... 

Ibu...
Akan ku berikan usaha dan energi ku untuk berbakti padamu...
Semua itu takkan mampu membayar setetes suplemen kebahagiaan yang kau berikan padaku....
Aku cinta ibu…..

Puisi Pendidikan

 Pahlawan Kehidupan

Ku lihat kau berbuat
Ku dengar kau berbicara
Ku rasakan kau merasakan
              Mata binar tak khayal menjadi panutan
              Sejuk terasa haluan kata – katamu
              Menjadi sugesti pada diri kami
              Hingga jiwa ini tak sanggup berlari
              Menjauhi jalan hakiki
Lelah dirimu tak kau risaukan
Hiruk pikuk kehidupan mengharu biru
Itu jasa tentang pengabdian
Bukan jasa tentang perekonomian
Semangatmu menjadi penghidupan
Untuk kami menjalani kehidupan
              Jangan pernah kau bosan
              Jadi haluan panutan
              Meski pertiwi dalam kesengsaraan
              Kaulah pelita cahaya kehidupan
Terima kasih untukmu
Sang pahlawan kehidupan


Aku

Aku berdiri ditengah penjuru
Aku besar dengan nama itu
Aku bukan manusia
Aku hanya sebuah kata
              Namaku lambang kecerdasan
              Namaku membunuh kebodohan
              Betapa hebatnya aku ?
              Tak ada yang menandingiku
Sampai ini ku tak merasa hebat
Ini kali ku menangis
Bukan yang pertama
Bukan yang kedua
              Tiada pemakai namaku
              Yang menjadikanku hebat
              Disana – sini kebodohan
              Belum terbunuh olehku
              Tangisan ini penuh pilu
              Belum banyak kecerdasan
              Yang bertaburan
Jadilah pahlawanku anak negeri
Hentikan pilu tangisku
Buatlah aku tersenyum
Merasa bangga akan namaku


Lilin Kegelapan
Titik air menitik
Berbaris jarum jam berdetik
Tak henti dalam putaran waktu
Menembus masuk roda itu
              Menjadi pilar generasi penerus
              Bermuara menjelma sebagai arus
              Berbaris ditengah tangisan pertiwi
              Tak buat henti langkahkan kaki
              Baktiku hanya tuk negeri ini
              Ku akan jadi lilin ditengah kegelapan
              Melawan segala kemunafikan
              Semangatku bagai pejuang 45’
              Penerus cita – cita pahlawan kita
Wahai sang guruku
Tuntunlah aku menjadi aku
Jasamu tak tampak mata
Berwujud dalam hati sanubari
              Titik air menitik
              Ilmu mu kan ku petik
              Bukan buat negara munafik


Baca Tulis

Senja meradang kerinduan
Goresan pena menyayat kalbu
Tangisanku tak membuat pilu
Hei .. wahai pemimpinku
Pandanglah aku yang kusut ini
Duduk di sekolah ku tak bisa
Bagaimana ku tak bisa bodoh ?
Hiduppun beralas tanah
Tidurpun beratap langit
Ahhh,....
Bosan ku tak dapat membaca
Bingung ku tak dapat menulis
Seandainya ada pemimpin menangis
Pasti ku dapat baca tulis


Do’a dan Harapku

Fajar pagi tampak layuh
Sinarnya tak tampak
Jangan kau melihat itu
Bagiku itu palsu
Ku hanya ingin semangatmu
Bukan ingin egomu
Langkahkan kakimu anak didikku
Cepat dan semakin cepat
Sekali jangan buat lambat
Beribu – ribu kata akan tersendat
Besar sungguh harapku
Pada anak berpacu dengan waktu
Do’a ku selalu iringi langkahmu

Taman Ilmu

Musim kemarau panas berkepanjangan
Musim penghujan hujan berdatangan
Itulah hebatnya dirimu
Panas hujan tetap buat kau berdiri
Kau hanya tumpukan bata merah
Tulang mu hanya dari besi
              Seindah dirimu namamu sama
              Seburuk bentukmu tak kurangi gunamu
              Kaulah taman kehidupan
              Tempat tertanam berjuta ilmu
              Bunga merekah terlahir darimu
              Hiruk pikuk pendidikan tertelan olehmu
              Tanpamu semua tampak bodoh
Alangkah indahnya .....
Jika dirimu berdiri dimana – mana
Tanpa ada beda di desa dan kota
Sayangnya kau bukan manusia
Kakimu tertanam di bumi
Tak dapat jalan kemana – mana

Semua Puisi Karya : Nur Wachid 

Senin, 31 Desember 2012

PUISI BJ HABIBIE UNTUK SANG ISTRI

 
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim …

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu …

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya …

Dan kematian adalah sesuatu yang pasti …
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu …

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat …

Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi …

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang …

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang …

Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada …

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini …

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang …
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik …

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini …

Selamat jalan …
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya …

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada …

selamat jalan sayang …
cahaya mataku, penyejuk jiwaku …

selamat jalan …
calon bidadari surgaku …
Reff : kisahislami.com

Jumat, 14 Desember 2012

Puisi Dari Guru untuk Siswanya

 

Majulah Terus Siswa Indonesia
Dengar, dengar, dengarlah isi tulisan ini
Hanya kepadamu harapan ku sandangkan
Hanya kepadamu cita- cita dipertaruhkan
Tak ada sesuatu yang tak mungkin bagimu
Bangkitlah melawan arus yang terus mendera
Kuasailah dirimu dengan sikap optimis
Paculah laju kudamu sekencang-kencangnya
Lawanlah bebatuan terjal yang mengusik di jalanan
Ingat, Engkau adalah harapan, engkau adalah masa depan
Masa depan ada di tanganmu
Harapan terpendam ada di pundakmu
Nasib bangsa engkau yang menentukan 


Do'a Sang Guru
Tuhan, Bantulah aku
Kuatkan suara, tubuh dan pikiran mereka
Berikanlah ekspresi pada perasaan mereka
dan kendalikan tingkah laku mereka
Tapi yang terpenting
"Bantulah aku untuk mencintai siapa mereka"  
NB : "mereka" adalah siswa-siswaku


Dari Guru Untuk Siswanya
Kamu ingatkanku pada diriku
Ketika aku sangat muda dahulu
Penuh semangat melompat-lompat
Tak kenal lelah tak jengah-jengah

Kamu tersenyum selalu
Seperti waktu aku muda dulu
Penuh harap kerjakan semua
Tak habis asa entah apa menerpa

Kamu hebat, anakku
Tak jauh beda dengan diriku
Tiada halangan kan hentikan
Tiada rintangan kan lemahkan

Jadilah hebat, melebihiku
Tapi ingat ini, anakku
Lepaskanlah, segala beban yang tak berguna
Melangkahlah, bukan untuk masa remaja saja
Jadilah manusia yang seutuhnya
Belajar sepanjang masa


Aku Seorang Guru 
Lihatlah … seharian,
aku telah diminta menjadi seorang aktor,
teman, penemu barang hilang, psikologi,
pengganti orang tua, penasihat,
hakim, pengarah, motivator,
dan pembimbing ruhani murid-muridku..

Meski tersedia peta,
grafik, formula, kata kerja, cerita dan buku.

Aku sebenarnya tidak punya apa-apa untuk diajarkan,
karena murid-muridku sebenarnya hanya mempunyai diri mereka sendiri untuk belajar.


DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA 
Apakah yang ku punya, anak-anakku
Selain buku-buku dan sedikit ilmu
Sumber pengabdianku kepadamu
Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku
Aku takut, anak-anakku
Kursi-kursi tua yang di sana
Dan meja tulis sederhana
Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
Semua padamu akan bercerita
Tentang hidupku di rumah tangga
Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
Depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
"horison yang selalu biru bagiku"
Karena ku tahu, anak-anakku
Engkau terlalu muda
Engkau terlalu bersih dari dosa
Untuk mengenal ini semua

Kepada Muridku 
Ayuh!
Bangkitlah wahai muridku,
Buangkan selimut mimpi,
Ketika fajar mengetuk pintu hari,
Mulakan langkah berani,
Membawa Watikah Amanah dan Janji!

Muridku,
Tahukah kau?
Bahwa setiap waktu,
Betapa lebatnya dedaunan ilmu,
Secepat musim berlalu,

TETAPI..,
Manakan mampu meneduhkan hidupmu,
Jika usahamu kian pantas dihambat jemu,

Muridku,
Coba kau helakan nafas kentalmu,
Pada Ayah, pada Bunda, jua pada Gurumu,
Bahwa gunung harapan bisa kau daki,
Puncak menara bisa kau jejaki,

Dan ketahuilah!
Ketika bibir suria menguntum senyum,
Lalu menghulurkan jemari halusnya,
Serta melambai ucapan ‘SOBAHUL KHAIR’
Dan ‘AHLAN WASAHALAN’ buatmu tamu terhormatnya…

Maka mengertilah! Bahwa indah cahayanya,
Akan menemani tiap jejak sepatu putihmu,
Menuju teratak ilmu itu..
Yakinlah bahwa kesuksesanmu adalah kebanggaanku,
Muridku,
Biarpun Hari Depanmu,
Masih dalam dua kemungkinan,
Namun biarlah – ‘UTARA’ dan ‘SELATAN’
Menjadi tawanan!


Di Antara Dua
Di antara dua, aku harus memilih
Entah satu baik atau buruk
Aku tak bisa berdiri di antara keduanya
Dan aku menentukannya

Di antara dua, aku harus masuk
Entah satu mudah atau sulit
Aku tak bisa bergelut di antara keduanya
Dan aku meratapinya

Di antara dua,aku harus berjuang
Entah satu manis atau pahit
Aku tak berhenti meraih satunya
Dan aku tak ingin kalah


Perpisahan Dengan Kamu Muridku
Tangan ini saya tahan

Tangan ini saya memegang aku menyentuhnya sekarang
Untuk selama-lamanya,
Dan pengetahuan yang saya bagikan
Aku memberikan dari saya untuk kalian.

Dengan harapan bahwa semua yang 
kalian lakukan dan katakan
Mencerminkan pembelajaran,
Dan semua penghargaan yang 
kalian terima
Apakah orang yang 
kalian telah diterima.

Saya guru 
kalian saat ini
Dan teman sejati 
kalian,
Tapi ketika tahun berakhir
Pikiranku dari 
kalian tidak akan berakhir.

Untuk dalam memori tersayang
Selamanya 
kalian akan,
Dan ketika kau pergi, aku berharap bahwa 
kalian
Akan mengambil bagian dari diriku.

Tangan ini saya memegang aku menyentuhnya sekarang
Untuk selama-lamanya,
Dan pengetahuan yang saya bagikan
Aku memberikan dari saya untuk 
kalian

Berikut ini adalah gambar bahwa 
kalian dapat harta karun.
Pengajaran 
kalian telah menyenangkan!
Tahun sekarang berakhir
Ketahuilah 
kalian berada di hatiku!
Selamanya

Mengapa Tuhan Menciptakan Guru  
Saat Tuhan menciptakan "Guru"
Dia memberi kita sahabat khusus
Untuk membantu kita memahami dunia-Nya
dan untuk benar-benar memahami keindahan 
dan keelokan semua yang kita lihat
dan untuk membuat kita menjadi orang yang lebih baik 

Saat Tuhan menciptakan "Guru"
Dia memberi kita petunjuk khusus
Untuk menunjukkan kita cara menjadi dewasa
Sehingga kita semua bisa memutuskan
Cara hidup dan bekerja
Menunjukkan apa yang benar dan yang salah
Membawa kita menjadi pemimpin
dan mempelajari bagaimana menjadi kuat 

Mengapa Tuhan menciptakan guru
dengan Kasih dan Sayang-Nya
adalah "agar membantu kita mempelajari 
bagaimana membuat dunia kita menjadi lebih baik
Tempat yang lebih bijaksana...  

Reff: berbagai sumber

Rabu, 12 Desember 2012

Puisi Untuk Alumnus Spentita Angkatan 2011 - 2012


Nak ...
Disini ... saat ini,
Sepiku mengingatkanku kembali pada satu kenangan
Tentang indahnya kebersamaan,
Tentang sedihnya perpisahan.


Nak ...
Tak terasa kini kita tlah jauh...

Rasanya baru kemarin kita berbagi ilmu, canda dan tawa
Tapi kini?
Hanya berupa segenggam debu penuh makna.
Ku rindu dengan senyummu nak,
Tawa tawa riangmu, tatapan mata polosmu

Nak ...
Ku rindu dengan keakraban saat kita bersama...
Maafkan aku yang kiranya tak sengaja tlah menyayat hatimu,
Memberikan pendidikan sedikit keras kepadamu
Namun semua kulakukan demi kebaikanmu.
Dan sekarang?
Kalian tersenyumlah seindah senyum yang pernah kau tebarkan,
Seindah kebersamaan kita.

Nak ...
Bila rasa rindu hadir menyergapmu
Kenang lagi saat-saat kita bersama dalam majelis ilmu,
Karena disana selaksa kisah tlah kita ukir bersama,
Berbagi bersama dalam kebahagiaan bertabur ketulusan
Karena rasa itu kan selalu ada
Tertancap dalam, dihening jiwa kita


Nak ... 
Kamu tetaplah buah hatiku, pelita jiwaku
Semoga karakter yang kusemaikan dulu
Semakin mekar seiring waktu,
Temani ayunan langkah-langkah kecilmu
Menembus dinding-dinding terjal kehidupanmu 

Nak ...
Selamat menggapai  masa depanmu
Ayunkan langkah-langkah pasti raih mimpi mimpi indahmu
Semoga kelak tercapai cita cintamu
Hanya Doa tulusku yang mampu iringimu
Meski kadang airmata menemaniku
Selamat berjuang nak, genggam asamu!


Taman, 12 Desember 2012 
Dari Gurumu,
Teriring Doa Slalu!

Minggu, 09 Desember 2012

Puisi Kerinduanku Untuk Kelas 9F Tahun Pelajaran 2011 - 2012

  

Nak ...
Disini ... saat ini,
Sepiku mengingatkanku kembali pada 1 kenangan.
Tentang indahnya kebersamaan,
Tentang sedihnya perpisahan.


Nak ...
Tak terasa kini kita tlah jauh..!

Rasanya baru kemarin kita berbagi ilmu, canda dan tawa
Tapi kini?
Hanya berupa segenggam debu penuh makna.
Ku rindu dengan senyummu nak,
Tawa tawa riangmu, tatapan mata polosmu

Nak ...
Ku rindu dengan keakraban saat kita bersama..
Maafkan aku yang kiranya tak sengaja tlah menyayat hatimu.
Memberikan pendidikan sedikit keras kepadamu
Namun semua kulakukan demi kebaikanmu
Dan sekarang?
Kalian tersenyumlah seindah senyum yang pernah kau tebarkan.
Seindah kebersamaan kita

Nak ...
Bila rasa rindu hadir menyergapmu
Kenang lagi saat-saat kita bersama dalam majelis ilmu
Karena disana selaksa kisah tlah kita ukir bersama
Berbagi bersama dalam kebahagiaan bertabur ketulusan
Karena rasa itu kan selalu ada
Tertancap dalam dihening jiwa kita

Nak ... 
Kamu tetaplah buah hatiku, pelita jiwaku
Semoga karakter yang kusemaikan dulu
Semakin mekar seiring waktu 
Temani ayunan langkah-langkah kecilmu
Menembus dinding-dinding terjal kehidupanmu

Nak ...
Selamat menggapai  masa depanmu
Ayunkan langkah-langkah pasti raih mimpi mimpi indahmu
Semoga kelak tercapai cita cintamu
Hanya Doa tulusku yang mampu iringimu
Meski kadang airmata menemaniku
Selamat berjuang nak, genggam asamu!



Kenanglah aku, Walikelasmu 9F  
Yang selalu menyayangimu!
Agus Purnomo

Minggu, 25 November 2012

Kumpulan Puisi Taufiq Ismail

 
Taufiq Ismail gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935; umur 77 tahun), ialah seorang penyair dan sastrawan Indonesia.

Latar Belakang

Taufiq Ismail lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agamdan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat.[1] Ayahnya adalah seorang ulama dan pendiri PERMI. Ia menghabiskan masa SD di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan. Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Kegiatan

Semasa kuliah aktif sebagai Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962).

Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.

Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan '66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng,Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.

Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah baca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia,Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town (1993), saat apartheid baru dibongkar. Pada Agustus 1994 membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia (Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.)

Penghargaan

Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa,Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).

Download : Kumpulan Puisi Taufiq Ismail di 4shared atau Mediafire

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

 
Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan olehH.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Kehidupan

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupatiInderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.[1] Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya.[2] Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya.

Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS),sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah.[3] Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.[4]

Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dimana ia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya.[5] Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.[6] Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia.
[sunting]Penyair

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun.[6] Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian.[6] Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangatKawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.[6][7] Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948.
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April1949; penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.[8]Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuwmenyebutkan bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyarah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".[3]

Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949,[4] sedangkan karyanya yang paling terkenal berjudul Aku danKrawang Bekasi.[5] Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudulDeru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin). 

Karya tulis yang diterbitkan

  1. Deru Campur Debu (1949)
  2. Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
  3. Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
  4. "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
  5. Derai-derai Cemara (1998)
  6. Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
  7. Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
Terjemahan ke bahasa asing
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
  1. "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
  2. "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  3. Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  4. "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  5. The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  6. The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  7. Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  8. The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Karya-karya tentang Chairil Anwar

  • Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
  • Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  • Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
  • S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York, 1976)
  • Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
  • Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
  • H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
  • Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
  • Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
  • Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
  • Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
  • Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
Download : Kumpulan Puisi Chairil Anwar di 4shared atau Mediafire

Kumpulan Puisi Mansur Samin


Mansur Samin (lahir di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 29 April 1930) adalah sastrawan Indonesia. Pendidikan terakhir: SMA Solo. Pernah menjadi guru, redaktur Siaran Sastra RRI Solo, redaktur mingguan Adil, (Solo), wartawan harian Merdeka(Jakarta), dan redaktur majalah Cerpen.

Sajaknya, "Raja Sisingamangaraja", mendapat Hadiah Kedua majalah Sastra tahun 1963. Karya lainnya:
  • Perlawanan (kumpulan sajak, 1966)
  • Kebinasaan Negeri Senja (drama, 1968)
  • Tanah Air (kumpulan sajak, 1969)
  • Dendang Kabut Senja (kumpulan sajak, 1969)
  • Sajak-Sajak Putih (1969)
  • Sontanglelo: Sajak-Sajak Cerita Rakyat (1996). 
Dia juga banyak menulis cerita anak-anak.

Download : Kumpulan Puisi Mansur Samin 4shared atau Mediafire

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

 
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 72 tahun) adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.

Riwayat hidup

Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadiguru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Karya-karya

Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Ia tidak saja menulis puisi, namun juga cerita pendek. Selain itu, ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo danTatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa
  1. "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
  2. "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
  3. "Mata Pisau" (1974)
  4. "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
  5. "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
  6. "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
  7. "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
  8. "Perahu Kertas" (1983)
  9. "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
  10. "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
  11. "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
  12. "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
  13. "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
  14. "Hujan Bulan Juni" (1994)
  15. "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
  16. "Arloji" (1998)
  17. "Ayat-ayat Api" (2000)
  18. "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
  19. "Mata Jendela" (2002)
  20. "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
  21. "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
  22. "Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
  23. "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
  24. "Before Dawn: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (2005; translated by J.H. McGlynn)
  25. "Kolam" (2009; kumpulan puisi)

Selain menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia, Sapardi juga menulis ulang beberapa teks klasik, seperti Babad Tanah Jawa dan manuskrip I La Galigo. kobe

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang olehDwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti" (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Beberapa tahun kemudian lahirlah album "Hujan Bulan Juni" (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Album "Hujan Dalam Komposisi" menyusul dirilis pada tahun 1996 dari komunitas yang sama.

Sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan, album "Gadis Kecil" (2006) diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana dirilis, dilanjutkan oleh album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD serta karya beberapa penyair lain.

Buku
  1. "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
  2. "Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan"
  3. "Dimensi Mistik dalam Islam" (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel "Mystical Dimension of Islam", salah seorang penulis.

Pustaka Firdaus
  1. "Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia" (2004), salah seorang penulis.
  2. "Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas" (1978).
  3. "Politik ideologi dan sastra hibrida" (1999).
  4. "Pegangan Penelitian Sastra Bandingan" (2005).
  5. "Babad Tanah Jawi" (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karyaYasadipura, Balai Pustaka 1939).
  6. [sunting]Pranala luar
  7. (Indonesia) Profil di TokohIndonesia.com
  8. (Inggris)S.E.A Write Award
  9. Peluncuran album "Becoming Dew"
  10. Artikel tentang acara Puisi Cinta Sapardi Djoko Damono dari Kompas Online, diakses 19 Februari 2008.
Download : Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono 4shared atau Mediafire