aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Silam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Silam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Juli 2014

20 Perbedaan Syiah dengan Islam


Umat Islam Indonesia perlu waspada dan prihatin, karena kini bermunculan orang-orang yang tidak jelas aqidahnya. Dengan berdalih perdamaian ingin menyatukan Sunni dengan Syiah. Mereka bersuara tanpa dalil yang benar, bahkan bernada membela Syiah, aliran yang dibawa oleh Abdullah bin Saba, seorang Yahudi dari Yaman.

Kini banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Islam (Ahlussunnah Waljamaah) dengan Syiah (Imamiyah Itsna Asyariyah/Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Mazhab Syafi’i dengan Mazhab Maliki. Padahal ada sejumlah kesesatan dalam keyakinan batil Syiah yang belum mereka ketahui, bagaimanapun juga kesesatan tersebut tidak dapat dihubungkan dengan Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu‘alaihi wasallamdari Allah Ta’ala. Keyakinan-keyakinan batil yang sangat jauh dari Islam itu ada dalam kitab-kitab induk syi’ah. Sehingga sebenarnya mereka tidak dapat mengelak lagi, kecuali dengan taqiyyah (berdusta model Syiah).

Ketika ribut masalah Sunni dengan Syiah, orang awam berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Lalu mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan.

Berikut ini pokok-pokok kesesatan Syiah yang penting untuk dipahami. Semoga manfaat, hingga kita  mampu menjauhi agama sesat itu dan tidak membelanya lagi dengan dalih apapun. Dan kita sama sekali tidak pantas untuk meniru jejak oknum-oknum yang aqidahnya tidak jelas yang membela syiah.


1. Islam:
Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a) Syahadatain
b) As-Sholah
c) As-Shoum
d) Az-Zakah
e) Al-Haj
Syiah:
Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda: 
a) As-Sholah 
b) As-Shoum 
c) Az-Zakah 
d) Al-Haj 
e) Al-Wilayah

 
2. Islam:
Rukun Iman ada 6 (enam) :
a) Iman kepada Allah
b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c) Iman kepada Kitab-kitab Nya
d) Iman kepada Rasul Nya
e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Syiah:
Rukun Iman Syiah ada 5 (lima):
a) At-Tauhid
b) An-Nubuwwah
c) Al-Imamah 
d) Al-Adlu

e) Al-Ma’ad

3. Islam:
Dua kalimat syahadat
Syiah:
Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Islam:
Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Islam tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.
Syiah:
Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Islam:
Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :
a) Abu Bakar
b) Umar
c) Utsman
d) Ali Radhiallahu anhum
Syiah:
Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).
 
6. Islam:
Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.
Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.
Syiah:
Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi.

7. Islam:
Dilarang mencaci-maki para sahabat.
Syiah:
Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Islam:
Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.
Syiah:
Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

9. Islam:
Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Islam adalah Kutubussittah:
a) Bukhari
b) Muslim
c) Abu Daud
d) Turmudzi
e) Ibnu Majah
f) An Nasa’i
(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).
Syiah:
Kitab-kitab Syiah ada empat:
a) Al Kaafi
b) Al Istibshor
c) Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih
d) Att Tahdziib
(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).

10. Islam:
Al-Qur’an tetap orisinil
Syiah:Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

11. Islam:
Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Syiah:
Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Islam:
Aqidah Raj’ah tidak ada dalam ajaran Islam. Raj’ah adalah besok di akhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.
Syiah:
Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti di akhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.
Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
Keterangan:
Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Islam, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

13. Islam:
Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.
Syiah:
Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14. Islam:
Khamer/arak tidak suci.
Syiah:
Khamer/arak suci.

15. Islam:
Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.
Syiah:
Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16. Islam:
Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.
Syiah:
Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.

17. Islam:
Mengucapkan Amin di akhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.
Syiah:
Mengucapkan Amin di akhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/batal shalatnya.
(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

18. Islam:
Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.
Syiah:
Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

19. Islam:
Shalat Dhuha disunnahkan.
Syiah:
Shalat Dhuha tidak dibenarkan.
(Padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).

20. Islam:
Berdusta dilarang dan berdosa.
Syiah:
Berdusta dibolehkan dan tidak berdosa, keyakinan itu disebut dengan Taqiyyah.

Penganut Syiah tidak melaksanakan haji ke Baitullah sebagimana yang dilakukan kaum Muslimin, hajinya orang Syiah adalah mengunjungi kuburan para imam dan melaksanakan Ritual Al-Husainiyyah atau pesta duka di Karbala sebagai tanah suci mereka.

Semoga dapat dipahami benar-benar perbedaan tersebut. Selanjutnya silahkan ente ambil keputusan dan sikap. Walaupun Syiah dengan Muslimin berbeda terlampau sangat jauh, apakah masih ingin mempertahankan Syiah sebagai Muslimin dan Mukminin?
Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidah sesat lainnya. Amin. Source

Minggu, 22 Desember 2013

Perintah Belajar Sejarah Dalam Surat Al-Fatihah


Surat al-Fatihah, awal surat dalam al-Qur’an itu ternyata menyiratkan perintah untuk belajar sejarah. Mungkin banyak yang tidak sadar, walau setiap hari setiap muslim pasti mengucapkannya. Tidak sekali bahkan. Tetapi banyak yang tidak menyadari sebagaimana banyak yang tidak mempunyai kesadaran untuk membaca, mengkaji, mendalami sejarah Islam.

Bermula dari doa seorang muslim setiap harinya: 
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fatihah [1] : 6) 

Jalan lurus, yang oleh para mufassir ditafsirkan sebagai dienullah Islam itu, dengan gamblang digambarkan dengan ayat selanjutnya dalam al-Fatihah: 

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” 

Di sinilah perintah tersirat untuk belajar sejarah itu bisa kita dapatkan. Ada tiga kelompok yang disebutkan dalam ayat terakhir ini;  
1. Kelompok yang telah diberi nikmat oleh Allah
2. Kelompok yang dimurkai Allah
3. Kelompok yang sesat 

Ketiga kelompok ini adalah generasi yang telah berlalu. Generasi di masa lalu yang telah mendapatkan satu dari ketiga hal tersebut. 


Kelompok Pertama, Generasi Yang Merasakan Nikmat Allah 

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir 1/140, al-Maktabah al-Syamilah) menjelaskan bahwa kelompok ini dijelaskan lebih detail dalam Surat an-Nisa: 69-70, 

“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an-Nisa [4] : 69-70) 

“Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” 

Ada kata penghubung yang sama antara ayat ini dengan ayat dalam al-Fatihah di atas. Yaitu kata (أنعم) yaitu mereka yang telah dianugerahi nikmat. Sehingga Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat dalam al-Fatihah tersebut dengan ayat ini. 

Mereka adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para shalihin. Kesemua yang hadir dalam dalam doa kita, adalah mereka yang telah meninggal. 

Ini adalah perintah tersirat pertama agar kita rajin melihat sejarah hidup mereka. Untuk tahu dan bisa meneladani mereka. Agar kita bisa mengetahui nikmat seperti apakah yang mereka rasakan sepanjang hidup. Agar kemudian kita bisa mengikuti jalan lurus yang pernah mereka tempuh sekaligus bisa merasakan nikmat yang telah mereka merasakan. 

Perjalanan hidup mereka tercatat rapi dalam sejarah. Ukiran sejarah abadi mengenang, agar menjadi pelajaran bagi setiap pembacanya. 

Kelompok Kedua, Mereka Yang Dimurkai Allah 

Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 1/141, al-Maktabah al-Syamilah) kembali menjelaskan bahwa mereka yang mendapat nikmat adalah mereka yang berhasil menggabungkan antara ilmu dan amal. Adapun kelompok yang dimurkai adalah kelompok yang mempunyai ilmu tetapi kehilangan amal. Sehingga mereka dimurkai. 

Kelompok ini diwakili oleh Yahudi. Sejarah memang mencatat bahwa mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sekalipun, sesungguhnya tahu dengan yakin bahwa Muhammad SAW adalah Nabi yang dijanjikan dalam kitab suci mereka akan hadir di akhir zaman. 

Sekali lagi, mereka bukanlah masyarakat yang tidak berilmu. Justru mereka telah mengantongi informasi ilmu yang bahkan belum terjadi dan dijamin valid. Informasi itu bersumber pada wahyu yang telah mereka ketahui dari para pemimpin agama mereka. 

“Demi Allah, sungguh telah jelas bagi kalian semua bahwa dia adalah Rasul yang diutus. Dan dialah yang sesungguhnya yang kalian jumpai dalam kitab kalian….” kalimat ini bukanlah kalimat seorang shahabat yang sedang berdakwah di hadapan Yahudi. Tetapi ini adalah pernyataan Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraidzah. Dia sedang membuka ruang dialog dengan masyarakatnya yang dikepung oleh 3.000 pasukan muslimin, untuk menentukan keputusan yang akan mereka ambil. 

Maka benar, bahwa Yahudi telah memiliki ilmu yang matang, tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Inilah yang disebut oleh Surat al-Fatihah sebagai masyarakat yang dimurkai. Para ulama menjelaskan bahwa tidaklah kaum Bani Israil itu diberi nama Yahudi dalam al-Qur’an kecuali dikarenakan setelah menjadi masyarakat yang rusak. 

Rangkaian doa kita setiap hari ini menyiratkan pentingnya belajar sejarah. Untuk bisa mengetahui detail bangsa dimurkai tersebut, bagaimana mereka, seperti apa kedurhakaan mereka, ilmu apa saja yang mereka ketahui dan mereka langgar sendiri, apa saja ulah mereka dalam menutup mata hati mereka sehingga mereka berbuat tidak sejalan dengan ilmu kebenaran yang ada dalam otak mereka. Sejarah mereka mengungkap semuanya. 

Kelompok Ketiga, Mereka Yang Sesat 

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bagian dari penafsirannya adalah masyarakat Nasrani. Masyarakat ini disebut sesat karena mereka memang tidak mempunyai ilmu. Persis seperti orang yang hendak berjalan menuju suatu tempat tetapi tidak mempunyai kejelasan ilmu tentang tempat yang dituju. Pasti dia akan tersesat jalan. Kelompok ketiga ini kehilangan ilmu walaupun mereka masih beramal. 

Masyarakat ini mengikuti para pemimpin agamanya tanpa ilmu. Menjadikan mereka perpanjangan lidah Tuhan. Sehingga para pemimpin agamanya bisa berbuat semaunya, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu. 

Sebagaimana yang jelas tercantum dalam ayat: 
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9] : 31)

Kisah’ Adi bin Hatim berikut ini menjelaskan dan menguatkan ayat di atas, 

Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu anhu berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan di leherku ada salib terbuat dari emas, aku kemudian mendengar beliau membaca ayat: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Aku menyatakan: Ya Rasulullah sebenarnya mereka tidak menyembah rahib-rahib itu. Nabi menjawab: Benar. Tetapi para rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka itulah peribadatan kepada para rahib itu. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dihasankan oleh Syekh al-Albani) 

Bagaimanakah mereka masyarakat Nasrani menjalani kehidupan beragama mereka? Bagaimanakah mereka menjadikan pemimpin agama mereka menjadi perwakilan Tuhan dalam arti boleh membuat syariat sendiri? Di manakah kesesatan mereka dan apa efeknya bagi umat Islam dan peradaban dunia? 

Semuanya Dicatat Oleh Sejarah 

Inilah doa yang selama ini kita mohonkan dalam jumlah yang paling sering dalam keseharian kita. Al-Fatihah yang merupakan surat pertama. Bahkan surat pertama yang biasanya dihapal terlebih dahulu oleh masyarakat ini. Surat utama yang paling sering kita baca. Surat yang mengandung doa yang paling sering kita panjatkan. 

Siratan perintah untuk belajar sejarah sangat kuat terlihat. Maka sangat penting bagi kita untuk memperhatikan kandungan surat yang paling akrab dengan kita ini. Agar terbukti dengan baik dan benar doa kita; 

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah [1] : 6-7).

Rabu, 11 September 2013

Melongok Bekas Istana Qarun

Qasru el-Qarun atau dikenali sebagai istana Qarun terletak di pinggir Tasik Qarun dan hampir 40 kilometer dari bandar Fayyoum. Istana ini sisa sebagiannya masih kokoh hingga kini dan tidak ditenggelamkan oleh Allah hingga saat ini sebagai pengiktibaran untuk umat manusia. Dipercayai terdapat 360 buah bilik di dalam istana ini yang menyamai 360 hari dalam setahun. Terdapat tiga tingkat yang menempatkan kaum kerabat dan tempat menyimpan harta Qarun tidak termasuk beberapa lapisan di bawah istana tersebut.

Al-Quran menerangkan tentang penampilan Qarun suka mempamerkan kebesaran dan kekayaannya. Kebiasaannya ia dilakukan tiada motif tertentu kecuali ia merupakan strategi menarik perhatian ramai agar ia dikagumi sebagai idola. Dengan mempamerkan kekayaannya juga bermaksud memberikan pesan bahawa ia mampu melakukan segala-gala, mengupah, membeli dan membiayai apa saja dan berapa saja.Dalam penceritaan selanjutnya al-Quran menyebut tentang adanya kelompok yang memang mengagumi Qarun, iaitu golongan material yang terlalu ghairah untuk menjadi kaya dengan cara apa saja. Mereka ingin menjadi Qarun, kerana ia adalah lambang kejayaan seorang usahawan, kejayaan yang hanya diukur dari jumlah yang tertimbun, tanpa mengambil kira dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Kerana itu Qarun mengakhiri hayatnya dengan nasib yang sangat tragik, hancur luluh ditelah bumi.al-Quran memberikan gambaran, bagaimana Qarun terbenam ke dalam bumi bersama rumah dan isinya sekalian .
Reff

Jumat, 30 Agustus 2013

SURABAYA KOTA PAHLAWAN

KOTA PAHLAWAN adalah julukan utama Kota Surabaya. Julukan ini paling istimewa. Sebab, tidak ada kota di Indonesia yang berjuluk “Kota Pahlawan”, kecuali Kota Surabaya. Padahal hampir seluruh kota di Indonesia mempunyai semangat heroik dan perjuangan kepahlawanan.

Untuk itulah, seyogyanya masyarakat warga Kota Pahlawan ini benar-benar menghayati arti dari julukan itu. Pengertian kepahlawanan di Kota Pahlawan Surabaya seharusnya tercermin dalam berbagai hal. Baik ciri, penampilan yang khas, serta watak dan wujud nyata dari kota ini. Artinya, saat memasuki Kota Surabaya, kesan pertama bagi orang yang belum pernah ke Surabaya, adalah adanya nuansa kepahlawanan itu.

Tetapi, melihat kenyataan yang ada sekarang ini, memang perlu dipertanyakan, “sudahkah penataan kota Surabaya ini sesuai dengan makna Kota Pahlawan?” Layak dipertanyakan “Kota Pahlawan-kah Surabaya”. Kalau memang demikian, mari kita wujudkan Surabaya benar-benar sebagai “Kota Pahlawan” yang bertaraf nasional dan internasional.  


 
Perlu digarisbawahi dan dicamkan, kalau dilihat secara kasat mata, ciri khas kepahlawanan yang ada di Surabaya “belum” terlihat nyata. Baru bisa dirasakan dan dihayati, tetapi belum menjadi cermin yang nyata dalam pandangan masyarakat kepariwisataan. Seharusnya kekhasan itu bisa dilihat dengan banyaknya monumen kepahlawanan, nama-nama jalan, nama-nama taman, cagar budaya, gedung-gedung dan kawasan permukiman yang menggunakan nama pahlawan.

Sekarang coba lihat wajah kota Surabaya, coreng-moreng akibat pembiaran oleh keinginan para pengusaha yang abai terhadap arti dan makna kepahlawanan itu. Mereka tidak peduli terhadap predikat Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Kawasan permukiman, gedung-gedung, nama jalan, nama taman dan pertokoan diberi nama seenaknya sesuai selera mereka. Hampir seluruhnya kawasan permukiman baru di Surabaya, mengambil nama perusahaan pengembang. Boleh dikatakan tidak ada yang bermakna kepahlawanan.  


 
Pada hal perlu diingat, predikat Kota Pahlawan dianugerahkan kepada Surabaya, untuk mengabadikan “Semangat Juang Arek-Arek Suroboyo”. Tidak hanya berawal dari peristiwa heroik sekitar 10 November 1945 saja, tetapi dikaitkan dengan sejarah terbentuknya ranah perkampungan Surabaya. Itupun berlanjut hingga masa perjuangan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia itu sendiri. Artinya, semangat juang Arek Suroboyo itu sejak dari zaman Majapahit, saat kelahiran Surabaya, dipertahankan sepanjang masa. Semangat juang dan kepahlawanan itu melekat sebagai jatidiri Surabaya dari dulu, hingga kini dan sampai nanti.

Sebenarnya itulah hakekat yang diinginkan oleh Dwitunggal Proklamator Kemerdekaan Republik Indo-nesia, Soekarno-Hatta. Mereka berdua, sebagai saksi sejarah tentang semangat kepahlawanan Arek-arek Suroboyo (Putra-Putra Surabaya) dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

Bung Karno juga terkesan dengan peristiwa perobekan bendera di Hotel Orange atau Hotel Yamato di Jalan Tunjungan yang dikenal dengan “insiden bendera” tanggal 19 September 1945. Apalagi sejak saat itu, kegiatan perlawanan masyarakat Surabaya terhadap penjajah dan kaum kolonial semakin hebat dan gigih, maka tak pelak lagi Bung Karno dan Bung Hatta, langsung datang ke Surabaya. Hingga terjadi puncak perjuangan Arek Suroboyo, tanggal 10 November 1945.  


 
Lima tahun kemudian, kesan Bung Karno terhadap Surabaya semakin mendalam. Ide pembangunan Tugu Pahlawan di Kota Surabaya, langsung mendapat perhatian Bung Karno. Untuk pertama kali di tahun 1950, Bung Karno menetapkan tanggal 10 November sebagai “Hari Pahlawan”. Sekaligus, Surabaya mendapat predikat “Kota Pahlawan”.

Kamus Kepahlawanan

Julukan sebagai Kota Pahlawan, juga dikaitkan dengan sejarah Surabaya. Sewaktu tahun 1293, lebih 718 tahun atau tujuh abad yang silam, Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit berjuang mengusir Tentara Tartar yang dipimpin Khu Bilai Khan, tidak lepas dari peranserta rakyat Surabaya yang waktu itu masih bernama Hujunggaluh atau Junggaluh.

Nah, karena semangat kepahlawanan sudah menjadi ciri Kota Surabaya, perlu dilakukan koreksi total, sehingga julukan Kota Pahlawan bagi Surabaya tidak ditelan oleh kehidupan masyarakat modern. Peninggalan sejarah tentang kepahlawanan Arek Suroboyo ini patut dilestarikan.

Untuk itulah, layak pula Kota Surabaya dijadikan “Kamus Kepahlawanan”. Dengan berjuluk Kota Pahlawan, maka dunia dapat merujuk arti dan makna kepahlawanan dari Surabaya secara utuh. Misalnya, jika kita ingin mengetahui siapa-siapa saja Pahlawan Nasional, bahkan “pahlawan dunia”, maupun pahlawan lokal dan orang-orang yang berjasa, serta tokoh terkenal, maka nama itu ada dan diabadikan di Surabaya. 


Museum pahlawan yang terdapat di Taman Tugu Pahlawan, maupun Museum Mpu Tantular di Surabaya yang sekarang dipindahkan ke Sidoarjo belum banyak berbicara tentang sejarah kepahlawanan Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Untuk itu, perlu disempurnakan dan lebih dilengkapi dengan berbagai koleksi sejarah. 

Tidak ada salahnya, Kota pahlawan Surabaya ini membudayakan “Wisata Pahlawan”, ke Taman Makam Pahlawan (TMP) dalam bentuk ziarah (wisata reliji), sebagaimana juga kita melakukan ziarah ke makam Sunan Ampel dan makam para leluhur.

Jejak 5 Pahlawan Surabaya

Semangat juang dan kepahlawanan mereka melekat sebagai jatidiri Surabaya dari dulu, hingga kini dan sampai nanti.

Kota Surabaya mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan. Menjadi istimewa, karena hanya Surabaya saja yang mendapatkannya. Banyak kota lain di negeri ini yang memiliki sejarah kepahlawanan tak kalah hebat dari Surabaya. Namun julukan sebagai Kota Pahlawan hanya untuk Surabaya.

Beberapa nama dan peninggalannya yang masih bisa ditemukan oleh Surabaya City Guide, di antaranya sejarah rumah WR. Soepratman, rumah lahir Bung Karno, Grdung Nasional Indonesia (GNI) simbol dari Bapak Pergerakan Indonesia, Dr. Raden Soetomo, rumah HOS Cokroaminoto. Dan sebuah kampung bersejarah bernama Kalimas Udik, di sini tinggal KH. Mas Mansur, seorang tokoh islam dan pahlawan nasional Indonesia.

Sejarah Pergerakan di Bubutan

Perjuangan putra bangsa bisa dikenang mulai dari Bubutan. Menerawang sejarah dari bangunan yang tersisa. Gedung Nasional Indonesia (GNI) Surabaya masih berdiri tegar di jalan Bubutan. Tak jauh dari Tugu Pahlawan dan Jembatan Merah, yang juga merupakan simbol perjuangan. Bangunan GNI ini juga menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa ini. Berdiri di jantung kota, menjadi sentra pergerakan pemuda di masa perjuangan. Pemerintah Kota Surabaya meresmikan gedung ini sebagai Cagar Budaya kota.

Dalam komplek gedung terdapat makam Bapak Pergerakan Nasional Indonesia, Dr. Raden Soetomo, yang hidup sepanjang 1888-1938.

Sekilas sejarah tentang perjuangan dan peran gedung yang berada di jalan Bubutan ini. Pada tahun 1938, gerakan perjuangan rakyat terpelajar di Surabaya berpusat di GNI ini. Selain Soetomo, tokoh yang populer saat itu adalah RPSoenario Gondokoesoemo, RMH Soejono, R. Soendjoto, dan Achmad Djais. Sebagai pusat perjuangan, GNI yang dikomandoi Soetomo kerap berkomunikasi dengan Soekarno di Bandung dan Husni Thamrin di Jakarta. Tiga tokoh ini kemudian populer dengan sebutan Tri Tunggal.

Selain pendapa, di komplek GNI juga berdiri gedung, yang pada jaman dahulu dijadikan sebagai barak BKR (Badan Ketahanan Rakyat), kini berfungsi sebagai kantor PMI Cabang Bubutan. Dan rumah-rumah yang kini masih berdiri di jalan Bubutan Kulon, konon dikgunakan Soetomo untuk menampung warga yang tidak mampu pada tahun 1930 –an.

Jejak Soekarno di Surabaya

 
Nama Soekarno sebagai Bapak Bangsa, sudah jamak dikenal. Dalam catatan sejarah, Soekarno pun meninggalkan jejak perjuangannya di Surabaya. Beliau sempat menetap di Surabaya, indekos atau lebih dikenal dengan istilah mondok di rumah milik HOS. Cokroaminoto. Rumah tersebut hingga kini masih berdiri, tepatnya di Jalan Peneleh VII/29-31.

Pada bangunan yang resmi dijadikan sebagai bangunan cagar budaya itu, sangat kental aksen bangunan peninggalam masa lalu. Dinding tebal, kusen pintu dan jendela yang terkesan kokoh, belum lagi bila melongok ke ruangan luas berlantai kayu yang berada di lantai dua yang konon kerap digunakan Soekarno dalam menimba ilmu dari HOS Cokroaminoto.

Dalam kaitan Soekarno dan Surabaya, ada yang menyebutkan Pemimpin Revolusi itu lahir di Kota Surabaya. Diyakini rumah di Jalan Pandean Gang 4 no. 40 adalah rumah lahir Soekarno. Walau untuk membuktikan kebenarannya masih butuh waktu.

Rumah Sejarah HOS Cokroaminoto

 
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau HOS Cokroaminoto dikenal sebagai tokoh nasional dan populer sebagai Pemimpin Sarekat Islam yaitu organisasi politik pertama di negeri ini. Secara pribadi peran Cokroaminoto bagi berdirinya negeri ini, sangat berpengaruh. Beliau adalah guru dari beberapa tokoh pergerakan di negeri ini. Sebut saja, Soekarno, Kartosuwirjo, Semaoen, Muso, Alimin, dan banyak lagi.

Sekilas tetang bangunan bersejarah peninggalan Cokroaminoto, setelah beberapa kali berganti kepemilikan, akhirnya rumah di jalan Peneleh Gang III itu menjadi miliknya. Rumah ini tak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, namun oleh Cokroaminoto dan istri dijadikan rumah indekos bagi para pelajar Hogere Burgerlijks School (HBS). Dalam perjalanannya rumah ini juga berfungsi menjadi pondok pesantren kecil. Dan mereka tidak sekedar belajar ilmu agama, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpolitik.

Di rumah ini juga tersimpan berbagai koleksi barang-barang antik peninggalan Cokroaminoto. Beberapa masih utuh, beberapa lainnya sudah diduplikasi, karena lapuk dimakan jaman.

Kenangan WR. Supratman

 
Sebuah rumah yang berdiri di Jalan Mangga No. 21, Kelurahan Tambaksari, satu di antaranya. Di sinilah seorang Wage Rudolf Supratman pernah tinggal. Rumah yang kini difungsikan sebagai museum mini oleh para ahli warisnya, kini dikelola oleh Lembaga Pengkajian "Kota Pahlawan." Di rumah ini pula, konon Supratman menjadi lebih produktif dalam mencipta lagu-lagu. Walaupun penciptaannya kala itu masih berdasar pesanan dari beberapa rekan seperjuangan, seperti Dr. Soetomo dan Pak. Doho.

Kabarnya, di rumah ini pula menjadi saksi dari aksi akhir proses penciptaan lagu terakhirnya yang baru tergores sebagai syair yang berjudul 'Selamat Tinggal'. Lembaran kertas itu menjadi sisa sejarah yang masih tersimpan rapi. Sayang, Biola kebanggaan Supratman tidak bisa dijumpai di sini, konon disimpan di Museum Sumpah Pemuda, di Jakarta.

Peran WR. Supratman dalam perjuangan kebangsaan Indonesia Raya mencapai kemerdekaan, semua orang tahu. bukan sekedar pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebagai tokoh pemuda pergerakan Supratman sangat aktif terlibat pada fase perjuangan pergerakan, terutama ketika dia pindah ke Batavia, sekarang Jakarta.

Tokoh Islam KH. Mas Mansyur

 
Mungkin belum banyak yang tahu, tentang peninggalan kediaman KH. Mas Mansyur. Seorang tokoh Islam, pahlawan nasional, dan mantan ketua pengurus besar Muhammadiyah. Kampung Kalimas Udik, adalah kawasan yang sangat kental dengan suasana religi Islami. Pengakuan Suciati, sumber Majalah SCG, menyebutkan bahwa bangunan rumah di depan kediamannya itu adalah rumah tinggal KH. Mas Mansyur. Barang-barang peninggalan Mas Mansyur, seperti buku, foto-foto, dan lainnya, sayangnya sudah tidak diketahui.

Adanya pondok pesantren dan kedua rumah kuno itu merupakan bukti cukup sebagai jejak kehidupan Mas Mansyur di Surabaya. Konon, Soekarno sering mendatangi rumah beliau, untuk kemudian berziarah bersama ke makam Sunan Ampel. Mas Mansyur mengenal Soekarno muda saat bersama-sama mengikuti tabligh di daerah Peneleh oleh KH. Ahmad Dahlan.
Mas Mansyur adalah satu dari empat orang tokoh nasional yang diperhitungkan, yang terkenal dengan sebutan Empat Serangkai. Yaitu; Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansyur.
Source

Monumen Ronggolawe Surabaya

Monumen Ronggolawe berupa patung kuda dibangun sebagai peringatan bahwa Surabaya memiliki sosok yang berani dan berjiwa kepahlawanan yang tinggi. Monumen ini berada dalam satu Taman Ronggolawe.

Disekitar monumen terlihat cantik, asri nan sejuk dengan adanya taman dengan bermacam-macam warna bunga disana. Fasilitas lainnya terdapat area bermain untuk anak-anak sekolah, serta pengunjung. Tak jarang juga sering digunakan anak-anak muda untuk area bermain sepak bola karena memang taman ini dilengkapi dengan lapangan futsal.

Pada bagian bawah patung kuda ini terdapat tulisan yang berisi “Persada nusantara diwarnai kebesaran persada nusantara diwarnai perjoangan pernah terukir indah sekelumit. Dari perjoangan yang besar dimasa menegakkan panji-paji Majapahit ronggolawe tampil bersama laskar kudanya derap tapak kuda menggema bersatu bersama divisi ronggolawe. Derap tapak kuda menggema bersama ronggolaweku di seluruh persada nusantara”.

Lokasinya terletak di jalan Gunungsari atau lebih tepatnya dibelakang Terminal Joyoboyo Surabaya. Disekitar lokasi Anda bisa berkunjung di Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Monumen Kapal Selam (MONKASEL) Surabaya

Monumen Kapal Selam, atau disingkat Monkasel, adalah sebuah museum kapal selam yang terdapat di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Terletak di pusat kota, monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalamPertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda.

Kapal Selam ini kemudian dibawa ke darat dan dijadikan monumen untuk memperingati keberanian pahlawan Indonesia. Monumen ini berada di Jalan Pemuda, tepat di sebelahPlasa Surabaya. Selain itu di tempat ini juga terdapat sebuah pemutaran film, dimana di tampilkan proses peperangan yang terjadi di Laut Aru. Jika anda ingin mengunjungi tempat wisata ini anda juga akan ditemani oleh seorang pemandu lokal yang terdapat di sana.

Ada cerita unik dibalik hadirnya monumen Kapal Selam ini. Pada suatu malam Pak Drajat Budiyanto yang merupakan mantan KKM KRI Pasopati 410 (buatan Rusia) ini dan juga mantan KKM KRI Cakra 401 (buatan Jerman Barat), bermimpi diperintahkan oleh KSAL pada waktu itu untuk membawa kapal selam ini melayari Kali Mas. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Beliau ditugaskan untuk memajang kapal selam di samping Surabaya Plaza. Caranya dengan memotong kapal selam ini menjadi beberapa bagian, kemudian diangkut ke darat, dan dirangkai dan disambung kembali menjadi kapal selam yang utuh.
Reff 

Monumen Polisi Istimewa Surabaya

Andil Polisi Istimewa dalam mempertahankan kedaulatan negara adalah sangat besar. Pada jaman pendudukan Jepang, kesatuan ini disebut ‘Tokubetsu Keisatsu Tai’, sebuah pasukan yang terlatih dengan kemampuan tempur yang tinggi.

Selain Tokubetsu Keisatsu Tai, pihak militer Jepang juga membentuk pasukan yang terdiri dari orang-orang pribumi yaitu Heiho dan pasukan yang terpisah dari kesatuan tentara Jepang yaitu PETA ( Pembela Tanah Air). 

Setelah proklamasi dikumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, penduduk Surabaya tidak dapat langsung mendengar berita tersebut. Jepang dengan liciknya membubarkan Daidan PETA di Gunungsari Surabaya dan Heiho tanpa memberikan informasi tentang kekalahan Jepang di perang Asia Timur Raya. Baru pada tanggal 19 Agustus 1945 penduduk Surabaya mengetahui proklamasi kemerdekaan dari surat kabar Soeara Asia.


Satu-satunya pasukan yang berdaya tempur tinggi dan masih memiliki senjata di wilayah Surabaya adalah Polisi Istimewa di bawah pimpinan Moh. Jasin. Meskipun demikian masih ada kemungkinan Jepang akan melucuti persenjataan Polisi Istimewa ini. Mantan Daidancho Gresik, drg. Moestopo segera megutus mantan Shodancho Abdurahman untuk menemui kepala polisi Moh.Jasin agar tidak tertipu oleh siasat Jepang untuk melucuti pasukannya.

Pada hari Selasa, 21 Agustus 1945, pukul 07.00. Semua anggota kesatuan Polisi Istimewa, sekitar 250 orang, berkumpul untuk mengikuti apel di halaman depan markas Polisi Istimewa, Jalan Coen Boelevard, Surabaya –kini Jalan Polisi Istimewa. Setelah pengibaran bendera Merah-Putih, Inspektur I Moehammad Jasin membacakan proklamasi:

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Republik Indonesia.”

Usai membacakan proklamasi, Jasin meminta semua anggota polisi melakukan pawai siaga untuk menunjukkan kekuatan dan kesiapan tempur, menghadapi reaksi pihak Jepang. Menggunakan kendaraan lapis baja dan truk yang telah dipasangi bendera Merah-Putih, bergerak menuju Jalan Tunjungan, Surabaya.

Proklamasi itu diketik kemudian disebar dan ditempel di tepi jalan besar. Proklamasi itu mendorong bekas pasukan bersenjata Heiho dan Pembela Tanah Air (PETA) yang telah dibubarkan untuk mengambil-alih atau melucuti senjata Jepang.


PRI terlibat dalam upaya penyerangan dan perampasan senjata-senjata Jepang. Dalam penyerbuan ke gedungKempetai, yang merupakan benteng pertahanan Jepang, Jasin berunding dengan komandan Kempetai. BilaKempetai menyerah dia akan menjamin keselamatan mereka. Para pejuang pun mengambil senjata-senjata Jepang yang tersimpan di gudang-gudang persenjataan mereka. PRI juga menyerbu persenjataan Angkatan Laut Jepang di Embong Wungu, Gubeng, yang berakhir dengan penyerahan persenjataan yang ditandatangani Jasin, sebagai wakil dari Indonesia. Penyerahan senjata itu kemudian diikuti kesatuan militer Jepang lainnya. termasuk penyerahan senjata di gedung Don Bosco, Jalan Tidar, gudang arsenal tentara Jepang terbesar di Asia Tenggara, di mana Jasin dibantu oleh Bung Tomo. Kota Surabaya sepenuhnya berada di bawah pengawasan kekuatan perjuangan PRI.

Dengan senjata itu, Moehammad Jasin memimpin langsung pasukan PRI untuk menghadapi pasukan Inggris dan Belanda, yang mendarat di Tanjung Perak Surabaya, 25 Oktober 1945. PRI terlibat dalam Insiden Bendera di Hotel Yamato tanggal 19 September 1945 dan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pasukan PRI menunjukkan kepemimpinan dan kepeloporannya, yang pantang mundur. Jasin mendorong pasukannya agar melancarkan serangan dan melindungi pasukan organisasi perjuangan lain yang bergerak mundur ke pinggiran kota. Dia menggunakan strategi perang gerilya.

“Pembela Tanah Air (PETA) yang diharapkan memberi dukungan pada perjuangan rakyat telah dilucuti senjatanya oleh tentara Jepang. Untung ketika itu M. Jasin tampil memimpin Pasukan Polisi Istimewa yang berbobot tempur militer untuk mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya,” ujar Bung Tomo, pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Pada 14 November 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir mengganti Polisi Istimewa menjadi Mobile Brigade (Mobrig) –kemudian disesuaikan namanya dengan tata bahasa Indonesia menjadi Brigade Mobil (Brimob), pada 1961. Tanggal itu ditetapkan sebagai hari jadi Korps Baret Biru, nama lain Brimob. Moehammad Jasin, kelahiran Bau-bau, Buton, Sulawesi Selatan tanggal 9 Juni 1920, berperan dalam pembentukannya, tugas yang diberikan Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodimodjo. Saat itu dia menjabat Kepala Kepolisian di Karesidenan Malang. Tak salah jika Moehammad Jasin diangkat sebagai Bapak Brimob Kepolisian RI. Kesatuan ini sejak awal terlibat dalam menghadapi berbagai gejolak di tanah air.

Monumen Jenderal Soedirman Surabaya

Monumen Jenderal Sudirman terletak di Jalan Yos Sudarso, Surabaya. Jalan satu arah ini adalah jalan utama yang selalu sibuk setiap hari. Di jalan ini, ada banyak bangunan penting seperti Gedung Balai Kota, Hotel New Garden Palace, pintu masuk ke Balai Pemuda, Gedung Parlemen Surabaya, dan Mess lapangan Angkatan Laut Yos Sudarso.

Di bawah patung itu telah dipahat beberapa kata dari Panglima Jenderal Soedirman yang menunjukan semangat untuk terus berjuang, mempertahankan tanah air, tidak pernah menyerah dan selalu berjuang bagi bangsa dan negara.



 

Monumen ini didedikasikan untuk semua masyarakat Jawa Timur yang di gagas oleh Letnan Jenderal M. Yasin sebagai Komandan VII Brawijaya pada saat itu. Monumen ini dihadapkan pada Monumen Bambu Runcing sebagai simbol kota pahlawan, gedung ini juga dekat dengan Gedung balai kota, yang merupakan Kantor Walikota Surabaya.

Kamis, 29 Agustus 2013

Monumen Jalesveva Jayamahe, Monjaya Surabaya

Sejarah Singkat Monumen Jalesveva Jayamahe

Lahir atas dasar gagasan bahwa bagaimanapun majunya suatu bangsa hendaknya harus tetap berpijak pada sejarah, dalam artian bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya dibangunlah Monumen Jalesveva Jayamahe.

Pembangunan Monjaya diharapkan dapat menjadi penghargaan dan kenang-kenangan dari generasi penerus yang masih hidup, disamping itu diharapkan juga dapat memberi dorongan untuk meneruskan perjuangan mereka menuju kejayaan Angkatan laut dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia.

Dengan pembangunan monumen ini generasi penerus mencoba merekam langkah-langkah heroik para pendiri dan sesepuh TNI Angkatan Laut dan sekaligus diharapkan dapat mengobarkan semangat perjuangan untuk mengisi kemerdekaan bagi generasi berikutnya.

Dipilihnya areal dermaga Ujung Surabaya sebagai tempat pendirian monumen ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan dermaga itu di Surabaya yang menjadi saksi sejarah atas peristiwa perebutan Kaigun SE 21/24 Butai pada tanggal 3 Oktober 1945 yang ditandai dengan sumpah para Bahariwan Penataran Angkatan Laut (PAL) yaitu “ Saya rela dan ikhlas mengorbankan harta, benda maupun jiwa raga untuk Nusa dan Bangsa “ 


Tahun 1990, setelah diproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia genap berusia 45 tahun. Tongkat estafet perjuangan sepenuhnya telah dialihkan kepada generasi pengisi dan penerus kemerdekaan. Karena itu tahun 1990 dapat dianggap sebagai tonggak dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Diarsiteki oleh Drs. Nyoman Nuarta yang tergabung dalam Nyoman Nuarta Group, pada tahun 1990 Monjaya mulai dibangun dan bertepatan dengan hari Armada RI tanggal 5 Desember 1996 Monjaya Surabaya diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Monumen Jalesveva Jayamahe menggambarkan seorang Perwira Menengah TNI AL berpakaian lengkap tenue PDU-I menatap ke arah laut sebagai wakil generasi penerus dengan penuh keyakinan dan kesungguhan siap menerjang ombak dan menempuh badai menuju arah cita-cita bangsa Indonesia.

Patung dengan tinggi 31 meter tersebut berdiri di atas bangunan setinggi 29 meter. Pada bagian dinding dibuat diorama sejarah kepahlawanan para pejuang bahari/TNI Angkatan laut sejak jaman sebelum revolusi fisik sampai dengan tahun 1990-an. Selain itu, Monjaya juga berfungsi sebagai mercusuar pemandu bagi kapal – kapal yang melintas di laut sekitarnya.

Tata Tertib Berkunjung Ke Monjaya

Karena letak Monjaya berada di basis Armada Timut TNI AL, setiap pengunjung akan melewati beberapa penjagaan TNI AL. Oleh karena itu, sobat harus mentatati tata tertib yang telah diberlakukan agar dalam berkunjung ke Monjaya sesuai dengan yang direncanakan. lihat disiniuntuk contoh surat izin dan tata tertib berkunjung ke Monjaya Surabaya.

Arti Jalesveva Jayamahe

Jalesveva Jayamahe atau yang seringkali diterjemahkan : "Di Lautan Kita Jaya" adalah Motto atau seruan TNI Angkatan Laut Indonesia.
Dalam Wikipedia bahasa Indonesia disebutkan, sebenarnya ungkapan ini berasal dari Bahasa Sanskerta; "Jales.eva Jayamahe" dan bisa dianalisa sebagai berikut:

jales.veva terdiri dari dua bagian: jales.u dan eva. Jales.u berasal dari kata dasar jala (maskulinum) yang berarti air dan jales.u adalah bentuk pluralis, lokativus dan secara harafiah bisa diterjemahkan sebagai: "di air-air".
eva adalah sebuah partikel emfatik dan bisa diterjemahkan dengan kata "-lah".
jayamahe, berasal dari kata kerja (verbum), ji, yang dikonjugasi menurut waktu presens, persona ketiga pluaralis dalam modus indikatif dan secara harafiah bisa diterjemahkan sebagai: "kita berjaya".

Jadi kalimat ini secara harfiah artinya adalah: "Di air-airlah kita berjaya!"

Itulah tadi posting singkat tentang Monjaya Surabaya. Semoga ada guna yang bisa diambil dan menjadi informasi yang bermanfaat.

Patung Sura dan Buaya Didepan Kebun Binatang Surabaya

Patung Sura dan Buaya (Jawa: Patung Suro lan Boyo) adalah sebuah patung yang merupakan lambang Kota Surabaya. Patung ini berada di depan Kebun Binatang Surabaya. Patung ini terdiri atas dua hewan ini yang menjadi inspirasi nama kota Surabaya: ikan suradan buaya.

Legenda Cerita Rakyat

Dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara ikan hiu Sura dengan Buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas, sama-sama cerdik, sama-sama ganas, dan sama-sama rakus. Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. Akhimya mereka mengadakan kesepakatan.

“Aku bosan terus-menerus berkelahi, Buaya,” kata ikan Sura.

“Aku juga, Sura. Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak lagi berkelahi?” tanya Buaya.

Ikan Hiu Sura yang sudah memiliki rertcana untuk menghentikan perkelahiannya dengan Buaya segera menerangkan.

“Untuk mencegah perkelahian di antara kita, sebaiknya kita membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Aku berkuasa sepenuhnyadi dalam air dan harus mencari mangsa di dalam air, sedangkan kamu berkuasa di daratan dan mangsamu harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air, kita tentukan batasnya, yaitu tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu pasang surut!”

“Baik aku setujui gagasanmu itu!” kata Buaya.

Dengan adanya pembagian wilayah kekuasaan, maka tidak ada perkelahian lagi antara Sura dan Buaya. Keduanya telah sepakat untuk menghormati wilayah masing-masing.

Tetapi pada suatu hari, Ikan Hiu Sura mencari mangsa di sungai. Hal ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi agar Buaya tidak mengetahui. Mula-mula hal ini memarig tidak ketahuan. Tetapi pada suatu hari Buaya memergoki perbuatan Ikan Hiu Sura ini. Tentu saja Buaya sangat marah melihat Ikan Hiu Sura melanggar janjinya.

“Hai Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati berdua? Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan wilayah kekuasaanku?” tanya Buaya.

Ikan Hiu Sura yang tak merasa bersalah tenang-tenang saja. “Aku melanggar kesepakatan? Bukankah sungai ini berair.

Bukankah aku sudah bilang bahwa aku adalah penguasa di air? Nah, sungai ini ‘kan ada airnya, jadi juga termasuk daerah kekuasaanku,” kata Ikan Hiu Sura.

“Apa? Sungai itu ‘kari tempatnya di darat, sedangkan daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu adalah daerah kekuasaanku!” Buaya ngotot.

“Tidak bisa. Aku “kan tidak pernah bilang kalau di air hanya air laut, tetapi juga air sungai,” jawab Ikan Hiu Sura.

“Kau sengaja mencari gara-gara, Sura?”

“Tidak! Kukira alasanku cukup kuat dan aku memang di pihak yang benar!” kata Sura.

“Kau sengaja mengakaliku. Aku tidak sebodoh yang kau kira!” kata Buaya mulai marah.

“Aku tak peduli kau bodoh atau pintar, yang penting air sungai dan air laut adalah kekuasaanku!” Sura tetap tak mau kalah.

“Kalau begitu kamu memang bermaksud membohongiku ? Dengan demikian perjanjian kita batal! Siapa yang memiliki kekuatan yang paling hebat, dialah yang akan menjadi penguasa tunggal!” kata Buaya.

“Berkelahi lagi, siapa takuuut!” tantang Sura dengan pongahnya.

Pertarungan sengit antara Ikan Hiu Sura dan Buaya terjadi lagi. Pertarungan kali ini semakin seru dan dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam waktu sekejap, air di sekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar dari luka-luka kedua binatang itu. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa istirahat sama sekali.

Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan Ikan Hiu Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa selalu membelok ke kiri. Sementara ikan Sura juga tergigiut ekornya hingga hampir putus lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas telah dapat mempertahankan daerahnya.

Pertarungan antara Ikan Hiu yang bernama Sura dengan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu, nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peristiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Madya Surabaya yaitu gambar ikan sura dan buaya.

Namun adajugayang berpendapat Surabaya berasal dari Kata Sura dan Baya. Sura berarti Jaya atau selamat Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti selamat menghadapi bahaya. Bahaya yang dimaksud adalah serangah tentara Tar-tar yang hendak menghukum Raja Jawa.Seharusnya yang dihukum adalah Kertanegara, karena Kertanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara Tar-tar. Setelah mengalahkan Jayakatwang orang-orang Tar-Tar merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa ke Tiongkok. Raden Wijaya tidak terima diperlakukan sepereti ini. Dengan siasat yang jitu, Raden Wijaya menyerang tentara Tar-Tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok.

Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya.

Surabaya sepertinya sudah ditakdirkan untuk terus bergolak. Tanggal 10 Nopmber 1945 adalah bukti jati diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda.

Di jaman sekarang, pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat terus berlanjut. Di kala musim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai kota Surabaya. Di musim kemarau kadangkala tenpat-tempat genangan air menjadi daratan kering. Itulah Surabaya.

Tugu Pahlawan Surabaya

Sejarah Singkat Tugu Pahlawan

Tugu Pahlawan adalah sebuah monumen yang menjadi markah tanah* Kota Surabaya. Tinggi Tugu Pahlawan ada yang mengatakan 45 yard (41,13 meter) lalu 40,50 meter, beberapa orang juga menyebutkan 41,15 meter. Berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan yang terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945.

Fitur geografis yang digunakan oleh pengelana dan lainnya untuk menemukan jalan mereka kembali.

Tugu Pahlawan terletak persis di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektar, yang dulunya adalah Kantor Raad Van Justititie atau Gedung Pengadilan Tinggi pada masa penjajahan Belanda.

Tujuan pembangunan Tugu Pahlawan adalah tak lain untuk mengenang sejarah perjuangan Arek-arek Suroboyo sekaligus seluruh masayarakat Indonesia yang ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan dalam momen bersejarah 10 Nopember 1945 di Surabaya.


Pendiri Tugu Pahlawan

Dalam Wikipedia bahasa Indonesia disebutkan Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa, sekaligus arsitek monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Menurut Gatot Barnowo, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. Kemudian ia meminta Ir. Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud, untuk selanjutnya diajukan kepada Presiden Soekarno.

Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno sendiri. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Walikota Surabaya, Doel Arnowo. Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitektur lainnya dalam sayembara untuk pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.

Pada awalnya pekerjaan pembangunan Monumen Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang kemudian diteruskan oleh Pemborong Saroja. Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini, diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 November 1952.

Pintu gerbang menuju area Monumen Tugu Pahlawan dibangun Candi Bentar. Memasuki areal Monumen Tugu Pahlawan mulai tempat parkir hingga pintu masuk Monumen, kita bisa melihat delapan relief yang menggambarkan perkembangan kota Surabaya pada jaman dahulu hingga saat ini.

Untuk versi lebih lengkap dan runtut mengenai Sejarah, Pendiri, Spesifikasi, serta Biaya Pendirian Tugu Pahlawan bisa dilihat supartobrata.com.

Itulah tadi posting singkat tentang Wisata Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Semoga ada guna yang bisa diambil dan menjadi informasi yang bermanfaat.