aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2019

Hasil gambar untuk kaidah penyusunan soal hots smp
 Implementasi kurikulum 2013 (K13) mengisyaratkan bahwa dalam pembelajarannya berorintasi kepada peserta didik. Dengan demikian guru tidak lagi menjadi sosok yang paling dominan dalam kegiatan pembelajaran. Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang bertugas menjembatani peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan baru. Sehingga di dalam pembelajaran terjadi perubahan paradigma, dari peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu. Strategi pembelajarannyapun diarahkan agar peserta didik mencari dan menemukan pengetahuan baru. Pengetahuan yang mereka peroleh diharapkan berupa pengetahuan kontekstual yaitu pengetahuan yang sering mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian peserta didik mulai dilatih untuk menggunakan ranah berlikir tingkat tinggi yaitu pada level C4 sampai dengan C6. Beranjak dari proses pembelajaran tersebut maka penyusunan instrumen penilaian berupa tes diharapkan merujuk pada tingkat berpikir tinggi. Cara Menyusun Soal Tes dengan HOTS.



Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih melalui proses pembelajaran di dalam kelas. Agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.
Berawal dari pembelajaran di dalam kelas inilah peserta didik mulai mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS. Dengan demikian peserta didik akan terbiasa manakala harus menghadapi soal HOTS. Dalam penyusunan soalnya dapat menggunakan berbagai bentuk, misalnya pilihan ganda, uraian, benar-salah, melengkapi maupun jawaban singkat. Tentunya guru harus lebih kreatif dalam pemberian stimulusnya.
Di dalam dunia pendidikan penilaian hasil belajar peserta didik merupakan salah satu kegiatan rutin yang wajib dilakukan. Penilaian hasil belajar digunakan untuk mendiagnosa kekuatan dan kelemahan peserta didik dan memonitor perkembangan belajarnya. Selain itu digunakan untuk mengetahui ketercapaian kurikulum dan memberi nilai peserta didik serta menentukan efektivitas pembelajaran. Dalam rangka tujuan tersebut dapat menggunakan berbagai bentuk dan instrumen penilaian. Namun penilaian hasil belajar peserta didik dengan menggunakan instrumen tes tertulis lebih sering digunakan dibandingkan bentuk tes lainnya.

Cara Menyusun Soal Tes dengan HOTS

Secara umum bentuk tes tertulis terdiri atas, pertama, tes dengan pilihan jawaban (non-constructed response test). Pada bentuk tes ini peserta didik diberi kesempatan untuk memilih jawaban yang telah tersedia. Dan kedua, tes tanpa pilihan jawaban (constructed response test), di sini peserta didik diminta untuk mengkonstruksikan jawabannya sendiri.
Tes dengan pilihan jawaban sering dianggap tidak dapat mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill/HOTS). Sebetulnya hal ini tidaklah benar, soal tes dengan pilihan jawaban juga dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Namun dalam penyusunannya memang tidak mudah dan memerlukan kreativitas dari pendidik. Sebaliknya tes tanpa pilihan jawaban (constructed response test) dianggap dapat mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Akan tetapi apa bila soal tes tidak disusun dengan cermat, maka hanya akan mengukur berpikir tingkat rendah. Sehingga kedua bentuk tes tersebut potensial untuk mengukur berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi, tergantung kejelian guru dalam penulisan soal.

Ranah Kognitif Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom mengalami dua kali perubahan perubahan yaitu Taksonomi yang dikemukakan oleh Bloom sendiri. Dan yang telah direvisi oleh Andreson dan KartWohl. Pada dasarnya Bloom menyampaikan enam tingkatan dalam ranah kognitif/berpikir. Keenam tingkatan itu terdiri atas pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5) dan evaluasi (C6).
Keenam dimensi proses berpikir tersebut kemudian dibedakan menjadi tiga tingkatan. Pertama, Lower Order Tinking Skills (LOTS) terdiri atas C1. Kedua, Midle Order Thinking Skills (MOTS) terdiri atas C2 dan C3. Ketiga, Higher Order Thinking Skills (HOTS) meliputi C4, C5, dan C6.
Yang perlu diperhatikan dalam menyusun soal HOTS adalah penetapan kata kerja operasional (KKO). Kata kerja pada level kognitif analisis antara lain membandingkan, memeriksa, mengkritisi, dan menguji. Pada level sintesis terdiri atas evaluasi, menilai, menyanggah, memutuskan, memilih, mendukung. Sedangkan pada level evaluasi meliputi mengkonstruksi, desain, kreasi, mengembangkan, menulis, memformulasikan.

Higher Order Thinking Skills/HOTS

Kita sering menemukan soal yang diawali dengan prawacana, ilustrasi, gambar, tabel atau diagram inilah yang disebut dengan stimulus. Bentuk soal yang diawali dengan stimulus ini merupakan soal HOTS. Stimulus yang disajikan pada awal sebuah pertanyaan harus menarik, informatif dan kontekstual, karena stimulus menjadi dasar pembuatan soal. Kompetensi dan kreatifitas seorang guru akan menentukan kualitas stimulus dalam menyusun soal HOTS. Untuk penilaian yang dilakukan oleh sekolah bentuk soal HOTS yang disarankan cukup dua saja, yaitu bentuk pilihan ganda dan uraian. Karena kedua bentuk soal ini memungkinkan untuk dilakukan penskorang dengan cepat sehingga hasilnya dapat segera diumumkan.
Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur berbagai kemampuan. Petama, transfer satu konsep ke konsep lainnya. Kedua, memproses dan menerapkan informasi. Ketiga, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda. Keempat, menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah. Kelima, menelaah ide dan informasi secara kritis.
Pada saat menyusun soal HOTS harus berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari atau kontekstual. Sehingga peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah. Melalui soal HOTS, peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply) dan mengintegrasikan (integrate) ilmu pengetahuan.

Cara Menyusun Soal Tes dengan HOTS

Soal HOTS mengukur dimensi metakognitif yaitu kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving). Mampu memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat. Soal HOTS berbeda dengan soal yang memiliki tingkat kesukaran yang tinggi.
Ciri-ciri penilaian kontekstual berbasis pada asesmen autentik. Pertama, peserta didik mengonstruksi responnya sendiri, bukan sekadar memilih jawaban yang tersedia. Kedua, tugas-tugas merupakan tantangan yang dihadapkan dalam dunia nyata. Ketiga, tugas yang diberikan tidak hanya memiliki satu jawaban  yang benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban benar atau semua jawaban benar.
Terkadang terjadi perbedaan penafsiran ranah kata kerja operasional yang dilakukan oleh guru dalam penulisan soal. Untuk meminimalisir perbedaan penafsiran KKO, maka Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) mengklaisifikasikan level kognitif menjadi tiga. Pertama, pengetahuan dan pemahaman (level 1). Kedua, aplikasi (level 2). Ketiga, penalaran (level 3). Pada level pertama, mengukur pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural. Contoh KKO yang sering digunakan antara lain menyebutkan, menjelaskan, membedakan, menghitung, mendaftar, dan menyatakan. Soal yang termasuk kategori sukar pada level ini tidak termasuk sola HOTS karena hanya mengukur pengetahuan.
Adapun ciri soal pada level kedua mengukur kemampuan dalam menggunakan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural. Selain itu juga mengukur kemampuan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural tertentu untuk menyelesaikan masalah kontekstual. KKO yang sering digunakan pada level kedua antara lain menerapkan, menggunakan, menentukan, menghitung, dan membuktikan.
Sedangkan pada level ketiga peserta didik harus mampu mengingat, memahami, dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, serta memiliki logika dan penalaran. Dengan demikian peserta didik akan terbiasa untuk memecahkan masalah-masalah kontekstual (situasi nyata).

Langkah-langkah yang harus diperhatikan pendidik dalam Cara Menyusun Soal Tes dengan HOTS.

Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Analisis terhadap KD perlu dilakukan karena tidak semua Kompetensi dasar (KD) dapat dibuat model soal HOTS. Dalam menganalisis KD dapat dilakukan secara mandiri oleh guru mata pelajaran maupun melalui forum KKG atau MGMP.
Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-kisi soal ditulis dengan tujuan untuk membantu para pendidik dalam menulis butir soal HOTS. OLeh karena itu kisi-kisi dijakdikan sebagai panduan dalam memilih KD yang dapat dibuat soal HOTS dengan menentukan level kognitif.
Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus yang menarik umumnya peristiwa-peristiwa baru atau aktual. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan guru dalam menemukan stimulus yang menarik dan kontekstual merupakan indikator yang bermutu.
Menulis butir soal sesuai dengan kisi-kisi
Butir-butir soal yang disusun berdasarkan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya hanya terletak pada aspek materi.
Membuat pedoman penskoran atau kunci jawaban
Pedoman penskoran dan kunci jawaban disusun untuk mempermudah dalam pengkoreksian.
Demikianlah Cara Menyusun Soal Tes dengan HOTS, semoga bermanfaat.

Minggu, 14 Februari 2016

Kurikulum Nasional Bernama Kurikulum 2013

Revisi terhadap Kurikulum 2013 masih terus berlangsung sesuai dengan rencana penerapan Kurikulum 2013, di tahun pelajaran yang baru ini. Dan dalam revisi tersebut, ada tambahan 19 persen sekolah yang secara bertahap akan melaksanakan kurikulum tersebut. Demikian rencana penerapan revisi kurikulum 2013 yang terungkap dalam evaluasi Kurikulum 2013 pada Rapat Kerja Bersama Komisi X DPR RI, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan pada hari Senin tanggal 1 Februari 2016 di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Gedung Nusantara I, Jakarta.


Mendikbud sendiri proses tersebut akan segera diterapkan terhadap 60 % sekaolah pada tahun 2017, hingga pada tahun 2018, penerapan hasil revisi tersebut akan sepenuhnya berjalan di Indonesia Penerapan kurikulum secara bertahap ini, kemajuan pergerakannya juga dapat mendampingi proses berlangsungnya pelatihan kepada para guru, yang menurut Mendikbud memerlukan waktu yang lebih panjang. Dalam evaluasi itu juga terungkap bahwa sebelum proses revisi pada dokumen Kurikulum 2013 ini, sejumlah permasalahan timbul seperti adanya ketidakselarasan antara Kompetensi Inti atau KI dan kompetensi dasar atau KD.

Ketidak selarasan KI dan KD yang dimaksud adalah ketidak selarasan dengan silabus, pedoman mata pelajaran, dan buku. Sedangkan masalah lain yang juga muncul adalah banyaknya pembelajaran dan penilaian pada aspek spiritual dan sikap sosial, serta pembatasan kemampuan siswa lewat pemenggalan sebaran taksonomi antar-jenjang. Kompleksitas penilaian ini, menurut Menteri Baswedan, sering dikeluhkan guru-guru karena perlu waktu yang sangat panjang. "Untuk itulah penilaian dibuat lebih sederhana dan lebih mudah digunakan oleh guru,” begitu ungkap menteri. Dalam evaluasi tersebut, Menteri Baswedan mengungkapkan beberapa masalah pada KI dan KD sebelum dilakukan revisi.

Misalnya pada KI: memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru. Namun, setelah diturunkan dalam KD, akan didapati kerancuan, yang salah satunya; memiliki rasa percaya diri terhadap keberadaan tubuh melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah. Bukan hanya itu, menteri mengatakan bahwa terjemahan kalimat-kalimat itu jadi merepotkan. Sebab itu penyelarasan hal ini tentunya dibutuhkan agar tidak menimbulkan kebingungan-kebingungan.

Proses revisi tersebut akhirnya memperlihatkan bahwa sebagian penjabaran perilaku pada KI tersebut dapat dengan efektif terjadi dengan melalui proses pembiasaan dan keteladanan. Dengan demikian, menteri menekankan bahwa karakter yang ingin ditumbuhkan bukan selalu diajarkan melalui bacaan buku, tapi juga melalui pembiasaan. "Sopan santun, misalnya," Menteri Baswedan mencontohkan. "Tidak cukup dengan teori, tetapi harus dibiasakan," demikian tambahnya.

Pada kesempatan evaluasi di Rapat Kerja Bersama Komisi X DPR RI itu, Menteri Baswedan menjelaskan bahwa tidak benar bila Kurikulum 2013 sudah diganti dengan Kurikulum Nasional. “Saya sampaikan ini, karena sering salah kutip," demikian kata Menteri Baswedan. Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Pendidikan Nasional Indonesia itu bernama Kurikulum 2013. "Tidak ada nama yang berubah," begitu Mendikbud menjelaskan. "Kita tengah merevisi Kurikulum 2013, titik. Itu saja,” tambah Menteri Baswedan kepada 36 anggota Komisi X DPR RI yang hadir dalam rapat kerja tersebut. Source

Senin, 28 Desember 2015

Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik

 Sebuah materi presentasi tentang Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik yang diterapkan dalam kurikulum 2013. Penting sekali dipahami oleh para guru-guru dalam mengembangkan proses pembelajarannya. 

Materi Powerpoint ini terdiri dari 22 slide, dengan ukuran file sebesar 4,3 MB. Semoga bermanfaat ....

Silahkan klik judulnya untuk mendownloadnya!
Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik

Minggu, 27 Desember 2015

Perangkat Pembelajaran SMP IPA Kurikulum 2013 Kelas VII Semester Genap

Untuk rekan-rekan guru pengajar SMP terutama yang mengajar bidang study IPA kelas VII kurikulum 2013, disini saya sediakan perangkat mengajar selama satu tahun penuh yang semua filenya saya sediakan dalam format Word atau Excel sehingga dengan mudah bisa diedit sesuai kebutuhann.

File-file tersebut saya peroleh atas kemurahan hati Bu Sutinah sewaktu mengikuti pelatihan Implementasi kurikulum 2013 selama 5 hari yang melelahkan.

Sekali lagi saya ucapkan terimah kasih atas sharenya, semoga menjadi ibadah bagi kita semua. Semoga senantiasa sehat dan panjang umur dalam kehidupan yang penuh berkah. Amin ...

Klik saja judul yang tertera dibawah ini, yang saya simpan di 4shared. Semogabermamfaat.

Perangkat mengajar ini terdiri dari :

Perangkat Pembelajaran SMP IPA Kurikulum 2013 Kelas VII Semester Ganjil



Untuk rekan-rekan guru pengajar SMP terutama yang mengajar bidang study IPA kelas VII kurikulum 2013, disini saya sediakan perangkat mengajar selama satu tahun penuh yang semua filenya saya sediakan dalam format Word atau Excel sehingga dengan mudah bisa diedit sesuai kebutuhann.

File-file tersebut saya peroleh atas kemurahan hati Bu Sutinah sewaktu mengikuti pelatihan Implementasi kurikulum 2013 selama 5 hari yang melelahkan.

Sekali lagi saya ucapkan terimah kasih atas sharenya, semoga menjadi ibadah bagi kita semua. Semoga senantiasa sehat dan panjang umur dalam kehidupan yang penuh berkah. Amin ...

Klik saja judul yang tertera dibawah ini, yang saya simpan di 4shared. Semogabermamfaat.

Perangkat mengajar ini terdiri dari :  

Selasa, 15 Desember 2015

Perangkat Pembelajaran SMP IPA Kurikulum 2013 Kelas VIII Semester Ganjil


Untuk rekan-rekan guru pengajar SMP terutama yang mengajar bidang study IPA kelas VIII kurikulum 2013, disini saya sediakan perangkat mengajar selama satu tahun penuh yang semua filenya saya sediakan dalam format Word atau Excel sehingga dengan mudah bisa diedit sesuai kebutuhann.

File-file tersebut saya peroleh atas kemurahan hati Bu Sutinah sewaktu mengikuti pelatihan Implementasi kurikulum 2013 selama 5 hari yang melelahkan.

Sekali lagi saya ucapkan terimah kasih atas sharenya, semoga menjadi ibadah bagi kita semua. Semoga senantiasa sehat dan panjang umur dalam kehidupan yang penuh berkah. Amin ...

Klik saja judul yang tertera dibawah ini, yang saya simpan di 4shared. Semogabermamfaat.

Perangkat mengajar ini terdiri dari :  

  1. COVER PERANGKAT PEMBELAJARAN SEMESTER GANJIL
  2. Kalender Pendidikan 2015-2016 JATIM
  3. RM EFEKTIF, PROGRAM TAHUNAN 8 SMT GANJIL
  4. PROGRAM SEMESTER GANJIL 8 2015
  5. SKL, Kompetensi Inti, KD IPA kelas VIII
  6. PEMETAAN KD DAN MATERI IPA Kelas VIII
  7. Silabus SMP VIII Kurikulum 2013
  8. RPP IPA KELAS 8 SEMESTER GANJIL KURIKULUM 2013

Perangkat Pembelajaran SMP IPA Kurikulum 2013 Kelas IX

Untuk rekan-rekan guru pengajar SMP terutama yang mengajar bidang study IPA kelas IX kurikulum 2013, disini saya sediakan perangkat mengajar selama satu tahun penuh yang semua filenya saya sediakan dalam format Word atau Excel sehingga dengan mudah bisa diedit sesuai kebutuhann.

File-file tersebut saya peroleh dari mengikuti Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 selama 5 hari di SMP Negeri 1 Sidoarjo yang melelahkan.

Klik saja judul yang tertera dibawah ini, yang saya simpan di 4shared. Semogabermamfaat.

Perangkat mengajar ini terdiri dari :

  1. COVER PERANGKAT PEMBELAJARAN KELAS IX
  2. JADWAL TATAP MUKA 2016
  3. KKM IPA KELAS IX 2015
  4. Kalender Pendidikan Tahun 2015 - 2016 JATIM
  5. Promes 2016
  6. PROTA IPA KELAS IX 2016
  7. SILABUS KURTIG SMP IPA Kelas IX
  8. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN SMP KURIKULUM 2013
  9. RPP BAB 1 Sistem Reproduksi pada Manusia
  10. RPP BAB 2 REPRODUKSI PADA TUMBUHAN DAN HEWAN
  11. RPP BAB 3 Kependudukan dan Lingkungan
  12. RPP BAB 4  Partikel Penyusun Benda Mati dan Makhluk Hidup
  13. RPP BAB 5 Kelistrikan dan Teknologi Listrik di Lingkungan
  14. RPP BAB 6 KEMAGNETAN
  15. RPP BAB 7 Pewarisan Sifat pada Makhluk Hidup SUB A
  16. RPP BAB 7 Pewarisan Sifat pada Makhluk Hidup SUB B
  17. RPP BAB 7 Pewarisan Sifat pada Makhluk Hidup SUB C
  18. RPP BAB 7 Pewarisan Sifat pada Makhluk Hidup SUB D
  19. RPP BAB 7 Pewarisan Sifat pada Makhluk Hidup SUB E
  20. RPP BAB 8 BIOTEKNOLOGI PANGAN
  21. RPP BAB 9 TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN
  22. RPP BAB 10 Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

Perangkat Pembelajaran SMP IPA Kurikulum 2013 Kelas VIII Semester Genap


Untuk rekan-rekan guru pengajar SMP terutama yang mengajar bidang study IPA kelas VIII kurikulum 2013, disini saya sediakan perangkat mengajar selama satu tahun penuh yang semua filenya saya sediakan dalam format Word atau Excel sehingga dengan mudah bisa diedit sesuai kebutuhann. 

File-file tersebut saya peroleh atas kemurahan hati Bu Sutinah sewaktu mengikuti pelatihan Implementasi kurikulum 2013 selama 5 hari yang melelahkan. 


Sekali lagi saya ucapkan terimah kasih atas sharenya, semoga menjadi ibadah bagi kita semua. Semoga senantiasa sehat dan panjang umur dalam kehidupan yang penuh berkah. Amin ...

Klik saja judul yang tertera dibawah ini, yang saya simpan di 4shared. Semoga bermamfaat.


Perangkat mengajar ini terdiri dari : 
  1. COVER PERANGKAT   PEMBELAJARAN
  2.  Kalender Pendidikan 2015-2016 JATIM
  3. RM EFEKTIF, PROGRAM TAHUNAN 8 SMT GENAP
  4.  PROGRAM SEMESTER GENAP 8 2015
  5. KL, Kompetensi Inti, KD IPA kelas VIII
  6. PEMETAAN KD DAN MATERI IPA Kelas VIII
  7. Silabus SMP VIII Kurikulum 2013
  8. RPP IPA KELAS 8 SEMESTER GENAP KURIKULUM 2013

Selasa, 28 Juli 2015

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KURIKULUM 2013 DENGAN KBK DAN KTSP

Dalam berbagai forum pelatihan Kurikulum 2013 (K13) selalu ditekankan bahwa kurikulum ini berbeda dari kurikulum sebelumnya. Para trainer yang mewakili pemerintah tersebut seakan menunjukkan bahkan K13 berbeda sama sekali dari KBK dan KTSP. Padahal dalam banyak, bahkan sangat banyak hal, ketiganya memiliki banyak kesamaan. Bahkan beberapa hal yang dinyatakan sebagai pembeda dari kurikulum sebelumnya sesungguhnya hanya penegasan saja.

1. Pendekatan Pembelajaran
Ditekankannya pendekatan scientific diklaim sebagai ciri khas K13, padahal perubahan sebenarnya hanya dari segi istilah dan langkah-langkah teknisnya saja. Hal ini dikarenakan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sejak awal menekankan pendekataninquiry, yang pada hakekatnya tidak berbeda secara signifikan dari pendekatan scientific. Melalui proses inquiry siswa melakukan proses pembelajaran berdasarkan pengamatan, pengalaman, diskusi, yang bermuara pada penyimpulan, yang tahapannya persis sama dengan pendekatan yang diistilahkan dengan pendekatan scientific. 

2. Perubahan Paradigma
K13 menekankan perubahan paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa. Klaim ini dalam berbagai forum pelatihan merupakan salah satu bentuk manipulasi informasi, seakan-akan tidak ada dalam KBK dan KTSP. Padahal penekanan atas perlunya perubahan paradigma sejak awal merupakan aspek yang paling ditekankan dalam KBK dan KTSP. Perubahan paradigma seperti itu bahkan selalu menjadi materi pertama dalam pelatihan KBK dan KTSP. 

3. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran K13 dicontohkan seolah berbeda dari KBK dan KTSP, di mana proses pembelajaran tidak dilakukan dengan berbasis guru, melainkan melalui pendekatan yang disebut scientific tersebut. Padahal dalam praktiknya, seluruh metode pembelajaran yang selama ini dituntut digunakan dalam KBK dan KTSP tetap digunakan dalam K13. Metode pembelajaran K13 sama sekali tidak berbeda dari kurikulum sebelumnya.

4. Pembelajaran Tematik
Perbedaan paling jelas dari K13 dari KBK dan KTSP adalah pada digunakannya pendekatan tematik. Kalau ada bagian yang dipandang berbeda mungkin di sinilah letak perbedaan K13 dari KBK dan KTSP. Di jenjang sekolah dasar, pembelajaran tematik K13 diberlakukan pada seluruh tingkatan kelas, sementara sebelumnya hanya diterapkan di kelas bawah (kelas 1-3). Hanya saja, berdasarkan buku-buku yang diterbitkan oleh pemerintah, struktur materi pelajaran (sub tema) mulai kelas IV ke atas tidak lebih dari kliping materi pelajaran yang berlaku dalam KBK dan KTSP, sekedar untuk menyamarkan mata pelajaran ke dalam tema-tema yang telah ditentukan. Dengan kata lain, substansi pembelajaran pada K13 sebenarnya tidak berbeda dari sebelumnya, sebab yang berbeda hanya dalam penempatannya. 

5. Penilaian
Penilaian dalam pendekatan scientific yang sebelumnya menggunakan penilaian autentik diubah menjadi penilaian berdasarkan beberapa Kompetensi, yaitu K1, K2, K3 dan K4. Substansi penilaian tersebut pada prinsipnya tidak berbeda, alias sama dengan KBK dan KTSP. Penilaian dengan menggunakan rubrik penilaian sudah ditekankan dalam KBK dan KTSP, sekalipun karena berbagai kerumitan yang dihadapi dalam praktik, akhirnya disederhakan dengan berbagai varian. Penilaian dalam K13 justeru tidak konsisten, sebab setiap kompetensi (K1-K4) belum tentu relevan dengan semua tema yang dipelajari. 

6. Pengembangan Kompetensi
Perbedaan mendasar K13 dari KBK dan KTSP juga diklaim berdasarkan pengembangan kompetensi yang sebelumnya berbasis mata pelajaran menjadi didasarkan kada Kurikulum Inti (KI). Faktanya, buku-buku pelajaran K13 tidak demikian. KD pembelajaran masih berdasarkan mata pelajaran. Hal ini dapat dicermati dari sub tema yang dikembangkan dalam buku-buku K13 persis sama dengan mata pelajaran. Yang terjadi sebenarnya bahkan pemaksaan materi pelajaran (sub tema) dengan tema yang telah ditetapkan, padahal sub tema tersebut tidak jelas relevansinya dengan tema. Pada kelas 1, kompetensi yang dikembangkan dalam tema dan subtema mungkin masih relevan dalam banyak hal, tetapi tidak selalu demikian untuk kelas IV. Sebagai misal, materi Kenampakan Alam (IPS) disambungkan dengan Garis Bilangan (Matematika) yang berdasarkan buku terbitan pemerintah jelas tidak jelas relevansinya. Kalaupun relevan, belum tentu setiap guru mampu mengkaitkan keduanya. Reff

IPA TERPADU atau GURU TERPADU


Image result for ipa terpaduKonsep IPA Terpadu masih banyak di salah artikan oleh sebagian besar orang, bahkan guru yang sudah (merasa) menjalaninya. Para guru SMP mapel Fisika yang juga mengajar Biologi atau sebaliknya, merasa bahwa itulah yang dimaksud dengan pengajaran IPA TERPADU. Meski sebenarnya itu lebih pas jika dikatakan sebagai pengajaran GURU TERPADU.
Saya mencoba untuk membandingkan antara konsep IPA TERPADU dengan apa yang selama ini diterapkan, dan (maaf) saya katakan sebagai GURU TERPADU.

Tinjuan Aspek Guru


Selama ini obyek pelaksana adalah guru. Maksudnya si guru mapel Fisika sekaligus mengajar mapel Biologi atau sebaliknya. Bukankah itu yang dimaksud dengan GURU TERPADU. Satu orang guru mengajar beberapa mapel.

Proses pembelajaran di bagi berdasarkan jam. Misalnya jam 1,2 pelajaran biologi, lalu jam 3,4 tentang fisika. Atau berdasarkan hari, misanya, hari senin 2 jam digunakan untuk membahas fisika. Lalu pertemuan hari berikutnya 2 jam untuk membahas biologi. Sisanya 1 jam untuk kimia.

Kalau untuk yang model begini, saya kira bukan yang dimaksud dengan keterpaduan IPA. Model yang begini tidak ada urgensinya guru satu mengajar tiga mapel, meskipun serumpun. Hal ini bisa diterapkan untuk mapel yang tidak serumpun sekalipun.

Teknik pengajaran model begini juga bukan terobosan baru dan inovatif. sebenarnya bukan persoalan yang sangat mendasar apabila seorang guru mengajar bukan mapel keahliannya. Meski itu juga sangat kurang tepat.

Praktik-praktik demikian sebenarnya sudah berlangsung lama. Tengok saja sekolah-sekolah pinggiran (apalagi sekolah swasta) yang memiliki jumlah guru dan pendanaan yang terbatas. Mau tidak mau para guru yang ada harus bisa mengajar mapel lain demi alasan penghematan dan keterbatasan jumlah guru. Praktik demikian juga terjadi di sekolah-sekolah negeri yang sudah maju sekalipun.

Meski demikian, pemerintah telah mencoba mengeremnya dengan aturan guru sertifikat. Saat ini, mana ada guru setifikat yang bersedia mengajar mapel lain? Maklum, berapa pun jumlah mengajar mapel lain, tak dihitung sebagai kewajiban jumlah jam mengajar.

Pada IPA TERPADU yang menjadi obyek pelaksana adalah materinya. Maksudnya salah satu materi dalam pelajaran fisika, misalnya optika, dikaji selain dari ilmu fisika, juga dari biologi dan kimia. Sang guru bukan hanya dituntut untuk menguasai mapel yang bukan keahliannya, tapi juga mengkaitkan mapel-mapel tersebut dalam menjelaskan satu hal. Tentu bukan pekerjaan yang mudah


Tinjuan Aspek Materi

Tidak semua materi bisa dipadukan. Misalnya dalam kajian Fisika SMP ada konsep tentang alat optik, yang salah satunya adalah mata. Memang berdasakan kajian biologi, mata bisa diuraikan lebih jauh tentang dimana posisinya, apa fungsinya, strukturnya bagaimana saja dll. Tetapi, jika dilihat dari jumlah jam yang biasanya tersedia, pada semester dua kelas delapan, maka pembahasan alat-alat optik, yang meliputi mata, kamera, teropong, mikroskop dll hanya tersedia selama 2 jam pelajaran (2×40 menit). Mana cukup untuk membahas tentang keterpaduan yang dimaksud.

Kita coba materi lain tentang tata surya. Apa keterpaduan planet Jupiter dalam kajian biologi? Kimia dll.

Pada dasarnya kelompok rumpun IPA (sains) bukan hanya terbagi dalam Fisika, Biologi dan Kimia saja. Juga ada Astronomi dan Geologi. Bagi sebagian lain, juga matematika termasuk kelompok sains. Menjelaskan keterpaduan sains tidak secara komprehensif, bukanlah bentuk keterpaduan yang setengah-setengah.

Sains sebenarnya meliputi empat unsur, yakni nilai (values), sikap dan perilaku (attitudes), proses (process) dan kandungan/ fakta ilmiah (contents). Silahkan baca lengkapnya di buku SAINS UNDERCOVER. Buku itu saya tulis setelah mempelajari berbagai literatur.

Seharusnya, keterpaduan IPA atau sains juga mengacu pada penerapan keempat unsur sains tersebut secara bersamaan. Bukan hanya mengenalkan fakta sains biologi, kimia dan fisika oleh satu orang guru.

Beberapa mapel yang sudah dilaksanakan terpadu, misal matematika dengan fisika. Matematika adalah sebagian dari bahasa yang berlaku di fisika. Contoh yang sudah diterapkan di level SMA misalnya, matematika diferensial dan intergral diterapkan untuk penyelesaian kasus persamaan gerak di fisika. Lah… mestinya yang namanya keterpaduan ilmu seperti itu. Dua atau lebih kajian ilmu diterapkan untuk menyelesaikan satu persoalan. Itu baru namanya cerdas

Tinjauan Aspek Siswa

Konsep IPA TERPADU masih kurang tepat diterapkan di tingkat SMP. Terlalu berat untuk usia yang seharusnya cukup mengenal konsep dasar saja. Setidaknya level SMA mungkin sudah mulai bisa memahaminya. Sangat disayangkan sebenarnya, tingkat SMP yang sedang mulai dikenalkan dengan konsep dasar sains, mulai dituntut juga untuk kemampuan analisa. Mungkin bagi siswa tertentu yang memiliki kemampuan khusus, itu menjadi hal yang tidak masalah. Tetapi anak bangsa ini di seluruh negeri sangat banyak dan beragam. Banyak pelajar di sekolah pinggiran yang untuk kemampuan mengenal, mengetahui dan menjabarkan saja masih kesulitan. Apalagi kalau harus menganalisis.

Tinjauan Aspek Pendukung

Buku-buku pegangan anak berupa buku paket yang diterbitkan oleh BSE dan penerbit besar lain, sebenarnya tidak jauh beda dengan model terbitan tahun-tahun sebelumnya, sebelum konsep IPA Terpadu itu diterapkan. Kebanyakan buku-buku tersebut hanya menggabungkan dalam satu jilidan materi bio, kim dan fis. Tidak ada bentuk keterpaduan uraian materi dan latihan soalnya. Lantas dimana keterpaduan IPA yang dimaksud?

Belum lain bentuk soal-soal yang muncul dalam ujian semester bahkan ujian nasional. Keterpaduan yang dimaksud hanya berupa penggabungan soal fisika, bio dan kimia dalam satu paket soal. Tidak dalam satu keterpaduan yang utuh dan cerdas.

Model soal yang sudah menerapkan keterpaduan misalnya soal SNMPTN, tes seleksi CPNS dll.

Berbagai diklat dan workshop tingkat kabupaten hingga propinsi, selalu memisahkan kelas IPA menjadi kelompok bio dan fis. Baik itu dalam penyusunan lembar kerja dll. Padalah, pesertanya tentu saja guru-guru pilihan dan (merasa) sudah menerapkan IPA Terpadu di sekolahnya.

Faktanya, ketika sesi diskusi materi tentang bio, maka kebanyakan guru fis hanya terdiam dan akan menjadi lantang berdialog ketika sesi tentang fisika. Dan berlaku juga sebaliknya. Reff :

Kamis, 23 Juli 2015

9 Aplikasi Managemen Kelas Untuk Guru

Image result for guru modernUntuk guru, panggilan untuk membuat perbedaan dalam kehidupan siswa sangat kuat. Tapi bagi banyak orang, beban kerja dan beban menguasai kemampuan mereka untuk memberikan dampak yang kuat. Untungnya, ada beberapa teknologi pendidikan di sini untuk membantu.

Dalam posting ini kita akan melihat 9 aplikasi teknologi guru cerdas yang dapat digunakan untuk mengelola kelas mereka lebih baik. Aplikasi ini memberikan guru kaki sampai dalam membantu untuk melacak dan menyadari setiap kemajuan siswa mereka, untuk membantu mereka membuat siswa lebih aktif terlibat dalam kelas, rencana yang lebih baik dan menciptakan pelajaran mereka dan banyak lagi.

Sebagian besar (tidak semua) dari aplikasi ini tersedia secara gratis, dan sebagian besar (tidak semua) yang tersedia sebagai aplikasi mobile (untuk Android, iOS dan seterusnya).

1. Class DOJO

Class DOJO adalah alat yang sangat membantu bagi guru untuk mengumpulkan dan menghasilkan data tentang perilaku siswa. Informasi ini dibagi secara real time dengan administrasi dan orang tua untuk memperbarui mereka dengan cepat tentang kemajuan dan status mahasiswa di kelas.

Dengan menggunakan alat ini, guru memiliki sejumlah pilihan perilaku yang telah ditetapkan di bawah kategori perilaku positif dan negatif. Seorang guru juga dapat menambahkan opsi perilaku baru ke dalam daftar juga. Setiap kali seorang guru mengklik pilihan perilaku positif atau negatif dari mahasiswa, +1 atau -1 ditambahkan ke profil siswa di kelas itu.

Aplikasi ini juga menyediakan metode komunikasi yang aman bagi para guru untuk mengirim umpan balik tentang seorang mahasiswa kepada orang tua mereka, mirip dengan laporan kemajuan terus menerus tentang bagaimana anak-anak lakukan. Aplikasi ini gratis dan juga tersedia di Android dan iOS.

2. Google Classroom
Google Classroom bagi siapa pun dengan Google Apps untuk akun Pendidikan. Hal ini sangat mudah untuk ditata dan untuk menambah peserta. Dengan Google Kelas, siswa Anda tidak harus berada dalam kelas fisik untuk menerima assignements Anda; semua yang mereka butuhkan telepon mereka. Buat tugas paperless untuk kelas Anda untuk memecahkan, maka kelas pengajuan mereka pada aplikasi itu sendiri.

Siswa tidak hanya dapat menemukan semua pekerjaan rumah mereka di tempat yang sama, tetapi juga menjadi lebih terorganisir ketika memprioritaskan pekerjaan rumah mereka. Perubahan masih bisa dibuat untuk tugas sebelum batas waktu yang diberikan. Tugas Dinilai juga dapat membawa komentar oleh guru untuk membantu siswa meningkatkan.


Karena sifat dari medium, tugas dapat melibatkan berbagi link, media merekam, membuat video dan banyak lagi. Google Kelas tersedia secara gratis ke sekolah-sekolah. Ada aplikasi untuk Android dan iOS yang tersedia


3. Socrative
Socrative adalah sistem respon cepat bagi siswa. Guru dapat merancang kuis dan melepaskannya kepada siswa, dan siswa dapat menggunakan ponsel mereka untuk memasukkan jawaban mereka. Jawaban mereka akan ditampilkan kepada guru secara real-time, yang memungkinkan mereka untuk memiliki pemahaman mendalam tentang seberapa baik semua siswa di kelas yang menangkap konsep yang diuji.

Kuis dalam pertanyaan pilihan ganda, jawaban Benar atau Salah, atau pendek, jenis pertanyaan cepat satu dapat dengan mudah masuk melalui perangkat mobile. Hal ini membantu guru mengumpulkan umpan balik pada kuliah di kemudian akhir sesi, alias Keluar Tiket. Kuis juga dapat dibagi di antara para guru.

Aplikasi gratis ini tersedia dalam dua bentuk, satu aplikasi untuk guru, dan satu lagi untuk siswa. Kedua versi yang didukung pada berbagai platforms (iOS, Android, Windows Phone, Amazon, aplikasi Chrome). Pada bulan Juni 2014, Socrative diakuisisi oleh Mastery Connec (iOS, Android, Windows Phone, Amazon, Chrome app). In June 2014, Socrative was acquired by Mastery Connect.


4. Plickers
Jika Anda mengajar kelas siswa yang tidak memiliki perangkat mobile mereka sendiri, maka Plickers merupakan alternatif. Hal ini memungkinkan guru untuk melakukan penilaian formatif menggunakan kartu kode, hanya perangkat mobile dibutuhkan adalah smartphone guru sendiri atau tablet.

Aplikasi ini dapat digunakan untuk menghasilkan pertanyaan pilihan ganda sebelum kelas dimulai. Selama kelas, guru dapat mengajukan pertanyaan dan siswa diminta untuk menahan jawaban mereka. Dengan scan cepat dengan aplikasi dan kamera di telepon guru, ia bisa mendapatkan tabulasi instan jawaban semua orang di kelas.

Yang lebih mengesankan, aplikasi ini dapat tabulasi mana siswa memberikan yang jawabannya, sehingga guru dapat mengetahui apakah semua orang telah memahami topik hari. Semua orang jawaban kemudian akan digambarkan di papan tulis. Ini tersedia secara gratis, di Android atau iOS


5. Engrade
Engrade adalah toolset secara online didukung oleh McGrawHill Education. Alat ini dirancang untuk membantu guru merencanakan, mengajar, memperbaiki dan menilai pengelolaan kelas classes.For mereka, app membantu siswa melacak kehadiran, gradebook, kalender kelas, diskusi, turn-in, tempat duduk grafik dan banyak lagi.
Fitur terbaik dan paling kuat dari Engrade dengan berbagai pilihan yang kadar siswa sambil mengelola gradebook siswa secara efisien. Dengan menggunakan Engrade, Anda dapat menentukan skala penilaian (manual atau otomatis), mendefinisikan kategori tugas seperti kuis, ujian, proyek dan partisipasi kelas.

Anda kemudian dapat menentukan weightage dari masing-masing kategori tugas, metode pengurutan untuk tugas, atau bahkan pembulatan skema. Ada versi web gratis, dan tersedia di Android dan iOS. web version, and is available on Android and iOS.Ada juga versi pro yang merupakan solusi lengkap untuk administrasi tingkat sekolah.


6. Moodle
Moodle adalah sebuah aplikasi web berbasis PHP open source yang terutama digunakan untuk memproduksi kursus online berbasis internet yang dapat diakses oleh guru atau siswa di mana saja. Ada mode pembelajaran yang berbeda seperti yang dipimpin instruktur, serba diri, campuran keduanya, atau sepenuhnya online.
Moodle juga memungkinkan embedding tugas dan materi belajar dari situs-situs lain juga. Guru dapat menggunakan metode gradasi muka untuk mempertahankan gradebook untuk ujian dan dapat menggunakan spidol yang berbeda untuk menilai tugas. Hal ini dapat digunakan di tingkat universitas atau sekolah.

Moodle sekarang memiliki 66 mitra Moodle di 43 negara. Tersedia sebagai aplikasi Androiddan iOS . Silahkan mencoba demo Moodle disini.


7. LearnBoost
LearnBoost adalah efektif dan mudah untuk menggunakan alat yang dapat digunakan untuk mengelola ruang kelas. Terlepas dari fitur biasa di alat pengelolaan kelas seperti menjaga gradebook, menjaga kehadiran dan menghasilkan laporan kemajuan siswa, LearnBoost memungkinkan guru untuk membuat rencana pelajaran multimedia (teks, gambar dan video).

Seorang guru juga dapat melihat kehadiran siswa yang terdaftar di kelas baik dalam tampilan daftar tradisional atau visual yang melihat duduk grafik. LearnBoost menyediakan pilihan untuk mengaktifkan orang tua dan siswa rekening dengan tampilan disesuaikan. Integrasi dari LearnBoost dengan Google Apps membuatnya lebih mudah bagi guru untuk mengelola kelas. [Gratis]

8. Stick Pick
Pernah mengajukan pertanyaan dan tidak seorang mahasiswa tunggal mengangkat tangan mereka untuk mencoba jawaban? Stick pick membantu Anda memilih siswa untuk menjawab pertanyaan Anda. Hal ini mirip dengan teknik tongkat es loli, di mana sekelompok es loli tongkat, masing-masing membawa nama siswa, diambil satu per satu secara acak dari wadah. Nama memilih adalah "it".

Stick pick mengambil tingkat teknologi yang lebih tinggi dengan aplikasi ini. Setelah aplikasi terinstal, guru dapat membuat kelas dan menambahkan nama siswa dalam. Kocok atau sentuh layar untuk memilih nama siswa secara acak. Setiap siswa dapat dikategorikan berdasarkan tingkat kemampuan mereka.

Stick Pick dapat mencocokkan siswa untuk pertanyaan yang paling cocok baginya, dan guru tidak akan dipaksa untuk memanggil mahasiswa yang sama berulang-ulang. Pertanyaan dapat diurutkan berdasarkan Taksonomi Bloom, Revisi Taksonomi Bloom, atau mode ESL. Ini adalah aplikasi dibayar untuk Android ($2.99), iOS ($3.99) and Amazon ($2.99).


9. Kathy Schrock’s Bloomin
Kathy Schrock adalah teknolog educaitonal. Dia mengumpulkan koleksi aplikasi yang terorganisir berdasarkan Taksonomi Bloom (dan versi Revisi) untuk membantu guru lebih tepat menggunakan aplikasi ini untuk tujuan peningkatan keterampilan yang berbeda. Aplikasi dikategorikan untuk iPad, Android, Google dan Web 2.0
Sumber hongkiat.com