aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Kamis, 15 November 2012

Inilah 23 Kriteria Guru Idaman Pelajar

  
Bapak/ibu guru/dosen yang terhormat, selamat kepada anda yang sudah berhasil meraih sertifikat pendidik. Itu artinya anda sudah diakui secara formal oleh negara bahwa anda adalah tenaga pendidik professional. Juga berbahagialah anda karena dengan modal sertifikat pendidik itu anda berhak mendapat tunjangan profesi, yang lumayan besarnya, sehingga sempat membuat iri golongan perofesi lainnya.

Namun demikian, mengapa setelah lima tahun program sertifikasi ini berjalan dan mayoritas guru dan dosen telah tersertifikasi, suara-suara sumbang terhadap kualitas pendidikan masih tinggi? Apa sesungguhnya yang terjadi?

Tidak usahlah kita menunjuk komponen pendidikan lain (sarana dan prasarana misalnya) yang serba terbatas sebagai kambing hitam. Bila memang para guru/dosen sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar, jangankan pakar pendidikan, orang awampun percaya bahwa kualitas pendidikan pasti akan baik.

Pertanyaannya: sudahkah fungsi guru/dosen itu dijalankan dengan baik dan benar?

Mungkin, secara legal formal banyak yang bisa berkelit dan lolos dari pertanyaan ini. Sebab, secara legal formal untuk disebut berkinerja baik itu guru/dosen cukup melengkapi dokumen-dokumen formal saja (silabus, RPP, daftar hadir, berkas-berkas soal, piagam penghargaan, makalah atau diktat yang pernah ditulis).

Tetapi dapatkah anda atau kita semua (termasuk pengamat/kritikus pendidikan) layak disebut pendidik professional jika yang mengukurnya adalah para pelajar menggunakan kriteria pada tabel berikut ini?

Variabel dan indikator kualitas guru yang baik : 
1 Ramah dan Riang

  • Murah senyum, menyapa, memulai pembicaraan, memancing pertanyaan, tanggap dengan penuh perhatian dan hormat terhadap komentar siswa.
  • Menceritakan leucon, tertawa bersama siswa  
2 Penuh Keakraban  
  • Pandai membuat lelucon, mendorong dan memulai diskusi, hafal nama-nama siswa, berinteraksi dengan siswa sebelum dan setelah pembelajaran berlangsung 
3 Berwibawa dan Percaya Diri  
  • Menerapkan tata tertib belajar yang jelas, menjaga ketertiban kelas, berbicara dengan suara lantang dan jelas.
  • Berbicara jelas, menatap (kontak) mata siswa, menjawab pertanyaan dengan benar. 
4 Rendah hati dan peduli  
  • Mengakui kesalahan, tidak sombong, tidak mendompleng sukses orang lain, dan tidak merendahkan perestasi/sukses orang.lain
  • Menghargai karya siswa yang baik,. membantu siswa yang membutuhkan bantuan, hafal nama-nama siswa, menawarkan bonus atau nilai tambahan terhadap prestasi siswa yang tinggi. 
5 Hormat/Menghargai     
  • Tidak melecehkan dan mempermalukan siswa di kelas, ramah pada siswa, mengucapkan kata minta tolong dan terima kasih terima kasih atas tindakan siswa yang diminta, tidak memotong pembicaraan siswa, tidak mebentak atau mengeluarkan kata-kata kasar pada siswa. 
6 Pendengar yang Baik  
  • Tidak memotong pembicaraan siswa, selalu mengadakan kontak mata, menanyakan inti pertanyaan yang diajukan siswa. 
7 Profesional dalam Penampilan  
  • Berpakaian rapih, bersih, tidak kusut dan kotor 
8 Antusias dalam Mengajar  
  • Murah senyum saat mengajar, menyajikan kegiatan belajar yang menarik, menampilkan ekspresi gerak dan mimik untuk pernyataan atau hal-hal penting, datang tepat waktu. 
9 Mengelola Waktu Pembelajaran dengan Baik  
  • Tiba tepat waktu atau lebih awal, mengakhiri pembelajarn tepat waktu, menyajikan bahan ajar yang relevan, memberikan kesempatan (waktu) untuk pertanyaan, menepati janji, mengembalikan pekerjaan siswa tepat waktu 
10 Kreatif dan Menarik
  • Melakukan eksperimen metode mengajar, menggunakan produk teknologi untuk mendukung dan meningkatkan kualitas pengajaran, menggunakan contoh yang relevan, menarik, tidak monoton 
11 Komunikator Efektif  
  • Berbicara lantang dan jelas, menggunakan kata/istilah baku, memberikan contoh yang jelas dan relevan. 
12 Menetapkan Sasaran Belajar Harian
  • Menyiapkan dan mengikuti silabus dan RPP setiap kali melakukan pengajaran dan pembelajaran. 
13 Melek dan Terampil Tteknologi
  • Mampu menggunakan komputer, mampu melakukan surat-menyurat melalui e-mail, mampu menggunakan alat tayang seperti OHP, LCD, dll. 
14 Menguasai Materi Ajar    
  • Mampu menjawab dengan mudah pertanyaan siswa, tidak membaca langsung dari buku atau catatan, dan memberikan contoh yang jelas dan mudah dimengerti. 
15 Menyajikan Informasi Terkini  
  • Mengaitkan topik pembelajaran dengan situasi nyata terkini, menggunakan rujukan (buku, majalah, video dll) mutakhir  
16 Selalu Siap
  • Membawa benda/bahan yang diperlukan dalam pembelajaran, tidak pernah terlambat datang ke kelas, memberikan kerangka kegiatan belajar (diskusi dsb). 
17 Merangsang Diskusi
  • Mengajukan pertanyaan menantang dan kontroversial saat pembelajaran, mengarahkan siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran 
18 Merangsang Tumbuhnya Pikiran Kritis/Rangsangan Intelektual
  • Mengajukan pertanyaan cerdas/mendalam/bijak, menggunakan soal essay dalam kuis atau ujian, memberikan tugas rumah, mendorong diskusi/kerja kelompok
19 Memberikan Umpan Balik Konstruktif
  • Memberi komentar pada kertas kerja siswa, menjawab pertanyaan siswa, memberi saran
20 Menerapkan Ujian yang Berkeadilan
  • Memberikan garis-garis besar bahan yang akan diujikan, soal ujiam relevan, tidak membebani siswa dengan bahan bacaan, memberikan materi ajar yang sesuai dengan tingkatan mayoritas siswa, 
21 Peka dan Teguh Hati
  • Meyakinkan diri bahwa siswa telah menguasai materi ajar sebelum berpindah ke materi baru, memberikan pelajaran tambahan, mengulangi penjelasan bila perlu, menggunakan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman siswa.
22 Berusaha Menjadi Guru yang Lebih Baik
  • Meminta umpan balik atas kinerjanya dari siswa, selalu belajar (mengikuti seminar, pelatihan dll), menggunakan metode mengajar tebaru 
23 Kesaling-mengertian
  • Mau menerima alasan yang sah siswa yang ingin meniggalkan pelajaran, tidak kehilangan kendali diri (marah) terhadap siswa, menyediakan waktu tambahan untuk mendiskusikan materimateri yang sulit.

Jika belum, apa alasan anda? Jangan katakan: “Itu kan kriteria guru ideal yang setara malaikat” atau “Tidak semua orang (guru) memiliki karakter ideal seperti itu?


Jika itu jawaban anda. Maka segera kita usulkan pada pemerintah untuk menutup seluruh fakultas, sekolah tinggi, atau institut ilmu pendidikan dan keguruan di republik ini. Mengapa?

Sebab jika kriteria guru ideal itu tidak dapat diadopsi oleh orang yang sudah lulus ilmu pendidikan dan keguruan (terlebih guru yang sudah certified) maka itu artinya ilmu pendidikan tidak applicable. Jika demikian, buat apa diajarkan? Buat apa pula dipelajari?Semoga bermanfaat.  
Reff : Opini edukasi.kompasiana.com

Surat Terbuka Untuk Guru Terbaikku


Assalamualaikum Wr. Wb,

Saya tulis surat ini, untuk seorang guru terbaik yang pernah saya temui dalam perjalanan saya menuntut ilmu. Dalam perjalanan menuntut ilmu, yang meninggalkan sepotong episode masa lalu dan kenangan. Guru terbaik, yang selalu berhasil menjadi motivator yang hebat untuk murid-muridnya. Walaupun semua orang juga tahu, guru SD adalah profesi guru yang berat karena harus mengajarkan banyak mata pelajaran.

Tetapi guruku selalu berusaha menyajikan yang terbaik semua ilmu-ilmu tersebut kepadaku. Bapak Niti Asmono, engkau telah mengajarkan Matematika kepadaku memang sudah 32 tahun yang lalu, tetapi sampai sekarang cara-cara yang engkau ajarkan masih begitu kuat melekat di otakku, sampai sekarang saya masih mampu berhitung dengan cepat karena ajaranmu.

Beliau tidak pernah menyerah untuk berusaha mengembangkan bidang ilmu tersebut di sekolah saya, merelakan segenap waktu nya untuk memberikan kemampuanterbaik kepada murid-murid nya. Sikap beliau yang selalu ramah, dan memperlakukan murid-muridnya seperti teman, sahabat, bahkan terkadang seperti partner kerja, yang harus saling menghormati dan memecahkan masalah bersama. Bila melakukan kesalahan, beliau tidak pernah sungkan untuk meminta maaf. 

Masih teringat betul tawaranmu ditengah minimnya gajimu, karena begitu sayangnya kamu dengan muridmu engkau tawarkan kambing untuk saya pelihara, dan hasilnya dibagi bersama.

Masih begitu kuat kurasakan, betapa usapan tangan berwibawamu begitu menyejukkan isi dadaku. Menghilangkan segala kegalauan jiwaku, membangkitkan semangat hidupku yang selalu dikurung dalam kemiskinan sebagai anak yang lahir didesa,dengan gaji ayah saya yang begitu kecil dengan jumlah saudara yang begitu besar.

Beliau termasuk tipe Guru yang tidak pernah mengenal waktu untuk memberikan pelayanan pada murid-murid nya. Sosok pekerja keras yang tak pernah pantang menyerah, itulah yang menjadi inspirasi untuk hidup saya. Dengan cara mengajar yang seringkali menggunakan cara yang unik, tak heran membuat beliau menjadi guru favorit untuk semua murid di sekolah saya. Semua murid berlomba-lomba untuk menjadi “sahabat” dekat beliau. Saya termasuk anak yang cukup beruntung, bisa dekat dengan beliau. 

Dalam mengajar engkau tak lupa berikan nasehat-nasehat kehidupan yang sangat berguna untuk membentuk kepribadian yang kuat, yang selalu tegar untuk menjalani kehidupanku kelak.

Selama beberapa tahun dekat dengan beliau, banyak perubahan yang beliau “tularkan” kepada saya. Cara pandang saya mengenai hidup, menjadi lebih bermakna, dan tidak memandang dari satu sisi saja. Saya bisa menjadi seperti sekarang, merupakan salah satu hasil didikan beliau. Hingga saat ini pun, saya masih terus menjalin silaturahmi dengan beliau.

Bercermin dari hal tersebut, saya menarik kesimpulan Seorang guru adalah saksi terasing, namun setelah mendidik murid-muridnya, ia tetap tidak akan melupakan mereka, dan tidak akan melepaskan cintanya dari mereka. 

Sekarang saya juga menjadi seorang guru, maka saya berusaha warisi karaktermu guru terbaikku. Saya akan selalu berusaha menjadi guru terbaik dikelas, sahabat terbaik diluar kelas bagi siswa-siswa saya. Sayapun akan selalu kobarkan semangat pantang menyerah kepada murid-muridku,sayapun akan selalu berusaha menjadi inspirasi bagi murid-murid saya, agar mereka sadar guru ditengah keterbatasannya masih ada yang begitu peduli, masih mau mengajar dengan hati untuk siswa-siswanya.

Ya Alloh, catatlah segala amal baiknya sewaktu menjadi guru sebagai ibadah yang datangkan surga disisiMu.

Sekian surat dari saya, seorang murid yang sedang ditempa untuk menjadi guru yang akan melanjutkan jejak perjuangan dan pengabdianmu. Menjadi guru yang tepat untuk siswa-siswa saya, mampu menjadi guru yang bisa jadi orang tua, kakak dan sahabat bagi murid-murid saya. Dan jadi guru yang baik dan benar juga tentunya. Guru yang mampu menjadi inspirasi bagi murid-muridnya agar menjadi insan-insan hebat yang akan warisi negeri ini. Amin

Wassalamualaikum Wr. Wb,
Agus Purnomo
NIP. 19680627 199601 1 001

Profesi Guru Menurutku

 

Banyak pakar pendidikan yang mendefinisikan guru sebagai tenaga pengajar, pendidik, pembina dan pembimbing. Memang faktanya demikian. Ketika guru diposisikan sebagai tenaga pendidik, pengajar, pembina dan pembimbing, maka ada sisi lain yang harus dimiliki oleh guru, ialah moralitas (kepribadian). 

Ketika memutuskan untuk menjadi seorang guru, secara tak langsung tanggung jawab besar yang dipikul oleh seorang guru telah menanti di depan mata. Guru adalah profesi yang sangat mulia, seorang guru merupakan “penjaga” norma dan pencetak generasi bangsa, yang nantinya akan dituntut untuk memperbaiki bangsa agar tidak hancur ditelan zaman. 

Fakta menunjukan bahwa lembaga pendidikan pada saat ini, hanya mengacu pada kesuksesan di bidang kognitif saja. Seringkali lembaga pendidikan hanya memfokuskan indikator penilaian pada aspek sejauh mana anak didik itu mendapatkan nilai yang memuaskan pada ujian akhir, atau pada ujian nasional. Tanpa melihat apakah anak didik tersebut berkelakuan baik, ataukah tidak, tidak mengherankan apabila banyak terjadi kekerasan bahkan tindakan asusila yang dilakukan oleh anak didik. 

Gambaran seperti itu yang seharusnya menjadi bahan refleksi untuk para pendidik, khususnya guru, sebagai hasil dari pola pengajaran yang selama ini diterapkan oleh para pendidik. Hasil dari pola pengajaran seorang guru yang hanya mentranfer ilmunya kepada anak didiknya. Bahkan dalam mentransfer ilmunya banyak guru yang tidak mempedulikan apakah anak didiknya telah menerima ilmunya dengan baik, atau bahkan masa bodoh, sehingga menjadi peserta didik yang pasif, yaitu peserta didik yang hanya hadir di kelas, karena memenuhi tuntutan orang tua, atau gengsi dengan teman lainnya jika tidak sekolah. 

Maka guru dalam pandangan konvensional hanya menyampaikan ilmu yang bersifat kognitif saja kepada peserta didiknya sesuai dengan kompetensi-komptensi yang telah di tentukan dalam kurikulum. Hanya dengan mempertimbangkan indikator, apakah peserta didik mengerti atau tidak, terhadap materi yang disampaikan, tanpa mempertimbangkan hal lain seperti ideologi, hukum, ataupun moral yang menjadi esensi dari kompetensi materi yang disampaikan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan guru itu memiliki pekerjaan sebagai pendidik, pengajar, Pembina dan pembimbing. Maka output yang dihasilkan itu haruslah manusia yang memiliki pendidikan, pengajaran, pembinaan dan bimbingan menuju “kesempurnaan” manusia (sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia). Dan manusia yang “sempurna” itu adalah sosok manusia yang memiliki ideology yang jelas, dan memiliki kepribadian yang kokoh, yang mampu membangun karakter dalam dirinya. 

Jika seorang guru melaksanakan tugasnya sebagai guru yang melaksanakan pendidikan, pengajaran, pembinaan dan bimbingan, namun tidak menghasilkan manusia sempurna, maka guru itu tersebut dinyatakan gagal dalam melaksanakan tugasnya.

Untuk mencapai tujuan yang begitu berat tersebut, seorang guru harus mampu menjadi pengajar profesional di dalam kelas, motivator yang selalu membnagkitkan semangat siswa-siswanya, fasilitator yang memberikan kemudahan siswa menggapai mimpi-mimpinya, moderator yang membimbimg siswa menjalalani kehidupan ilmiahnya, inspirator yang menjadikan panutan untuk kehidupan siswa-siswanya.  
  • Guru yang mengajar baik di kelas adalah Guru Biasa!
  • Guru yang bisa menjadi Inspirasi siswa-siswanya adalah Guru Luar Biasa!

Mengapa mutu pendidikan Finlandia terbaik di dunia?

  
Sistem pendidikan Finlandia adalah yang terbaik di dunia. Rekor prestasi belajar siswa yang terbaik di negara-negara OECD dan di dunia dalam membaca, matematika, dan sains dicapai para siswa Finlandia dalam tes PISA. Amerika Serikat dan Eropa, seluruh dunia gempar.

Untuk tiap bayi yang lahir kepada keluarganya diberi maternity package yang berisi 3 buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri. Alasannya, PAUD adalah tahap belajar pertama dan paling kritis dalam belajar sepanjang hayat. Sebesar 90% pertumbuhan otak terjadi pada usia balita dan 85% brain paths berkembang sebelum anak masuk SD (7 tahun).

Kegemaran membaca aktif didorong. Finlandia menerbitkan lebih banyak buku anak-anak daripada negeri mana pun di dunia. Guru diberi kebebasan melaksanakan kurikulum pemerintah, bebas memilih metode dan buku teks. Stasiun TV menyiarkan program berbahasa asing dengan teks terjemahan dalam bahasa Finish sehingga anak-anak bahkan membaca waktu nonton TV.

Pendidikan di sekolah berlangsung rileks dan masuk kelas siswa harus melepas sepatu, hanya berkaus kaki. Belajar aktif diterapkan guru yang semuanya tamatan S2 dan dipilih dari the best tenlulusan universitas. Orang merasa lebih terhormat jadi guru daripada jadi dokter atau insinyur. Frekuensi tes benar-benar dikurangi. Ujian nasional hanyalah Matriculation Examination untuk masuk PT. Sekolah swasta mendapatkan dana sama besar dengan dana untuk sekolah negeri.

Sebesar 25% kenaikan pendapatan nasional Finlandia disumbangkan oleh meningkatnya mutu pendidikan. Dari negeri agraris yang tak terkenal kini Finlandia maju di bidang teknologi. Produk HP Nokia misalnya merajai pasar HP dunia. Itulah keajaiban pendidikan Finlandia.


Kemajuan sebuah bangsa lebih ditentukan oleh karakter penduduknya dan karakter penduduk dibina lewat pendidikan yang bermutu dan relevan.

Bagaimana Indonesia?

Ada yang berpendapat, keunggulan mutu pendidikan Finlandia itu tidak mengherankan karena negeri ini amat kecil dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa, penduduknya homogen, dan negaranya sudah eksis sekian ratus tahun. Sebaliknya, penduduk Indonesia lebih dari 220 juta jiwa, amat majemuk terdiri dari beragam suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial. Indonesia baru merdeka 66 tahun.

Pendapat senada dikemukakan oleh tokoh-tokoh dan pemerhati pendidikan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang, dan negara-negara lain dibandingkan dengan negaranya. Yang paling malu AS karena unit cost anggaran pendidikannya jauh melebihi Finlandia tapi siswanya mencapai ranking 17 dan 24 dalam tes PISA, sedangkan siswa Shanghai China ranking 1, Finlandia 2, dan Korea Selatan 3. Soal siswa di Shanghai China juara masih diragukan karena belum menggambarkan keadaan mutu seluruh pendidikan China. Kalau Finlandia sebagai negara kecil bisa juara mengapa negara kecil yang sudah established seperti Islandia, Norwegia, New Zealand tak bisa?

Akhirnya semua mengakui bahwa sistem pendidikan Finlandia yang terbaik di dunia karena kebijakan-kebijakan pendidikan konsisten selama lebih dari 40 tahun walau partai yang memerintah berganti. Secara umum kebijakan-kebijakan pendidikan China dan Korea Selatan (dan Singapura) juga konsisten dan hasilnya terlihat sekarang.

Kebijakan-kebijakan pendidikan Indonesia cenderung tentatif, suka coba-coba, dan sering berganti.

Lalu bagaimana dengan kebijakan pendidikan Indonesia jika dibandingkan dengan Finlandia?

1. Kita masih asyik memborbardir siswa dengan sekian banyak tes (ulangan harian, ulangan blok, ulangan mid-semester, ulangan umum / kenaikan kelas, dan ujian nasional). Finlandia menganut kebijakan mengurangi tes jadi sesedikit mungkin. Tak ada ujian nasional sampai siswa yang menyelesaikan pendidikan SMA mengikuti matriculation examination untuk masuk PT.

2. Kita masih getol menerapkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sehingga siswa yang gagal tes harus mengikuti tes remidial dan masih ada tinggal kelas. Sebaliknya, Finlandia menganut kebijakanautomatic promotion, naik kelas otomatis. Guru siap membantu siswa yang tertinggal sehingga semua naik kelas.

3. Kita masih berpikir bahwa PR amat penting untuk membiasakan siswa disiplin belajar. Bahkan, di sekolah tertentu, tiada hari tanpa PR. Sebaliknya, di Finlandia PR masih bisa ditolerir tapi maksimum hanya menyita waktu setengah jam waktu anak belajar di rumah.


4. Kita masih pusing meningkatkan kualifikasi guru SD agar setara dengan S1, di Finlandia semua guru harus tamatan S2.

5. Kita masih menerima calon guru yang lulus dengan nilai pas-pasan, sedangkan di Finlandia the best ten lulusan universitas yang diterima menjadi guru.

6. Kita masih sibuk memaksa guru membuat silabus dan RPP mengikuti model dari Pusat dan memaksa guru memakai buku pelajaran BSE (Buku Sekolah Elektronik), di Finlandia para guru bebas memilih bentuk atau model persiapan mengajar dan memilih metode serta buku pelajaran sesuai dengan pertimbangannya.

7. Hanya segelintir guru di tanah air yang membuat proses belajar-mengajar itu menyenangkan (learning is fun) melalui penerapan belajar aktif. Terbanyak guru masih getol mengajar satu arah dengan metode ceramah amat dominan. Sedangkan, di Finlandia terbanyak guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui implementasi belajar aktif dan para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Motivasi intrinsik siswa adalah kata kunci keberhasilan dalam belajar.

 
Apakah benda ini melayang, terapung atau tenggelam?

8. Di tanah air kita terseret arus mengkotak-kotakkan siswa dalam kelas reguler dan kelas anak pintar, kelas anak lamban berbahasa Indonesia dan kelas bilingual (bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar) dan membuat pengkastaan sekolah (sekolah berstandar nasional, sekolah nasional plus, sekolah berstandar internasional, sekolah negeri yang dianakemaskan dan sekolah swasta yang dianaktirikan). Sebaliknya di Finlandia, tidak ada pengkotakan siswa dan pengkastaan sekolah. Sekolah swasta mendapatkan besaran dana yang sama dengan sekolah negeri.

9. Di Indonesia bahasa Inggris wajib diajarkan sejak kelas I SMP, di Finlandia bahasa Inggris mulai diajarkan dari kelas III SD. Alasan kebijakan ini adalah memenangkan persaingan ekonomi di Eropa, membuka kesempatan kerja lebih luas bagi lulusan, mengembangkan wawasan menghargai keanekaragaman kultural.

10. Di Indonesia siswa-siswa kita ke sekolah sebanyak 220 hari dalam setahun (termasuk negara yang menerapkan jumlah hari belajar efektif dalam setahun yang tertinggi di dunia). Sebaliknya, siswa-siswa Finlandia ke sekolah hanya sebanyak 190 hari dalam satu tahun. Jumlah hari liburnya 30 hari lebih banyak daripada di Indonesia. Kita masih menganut pandangan bahwa semakin sering ke sekolah anak makin pintar, mereka malah berpandangan semakin banyak hari libur anak makin pintar. 
Reff : sbelen.wordpress.com 

Menjadi Guru Ideal yang Inovatif


Lembaga pendidikan adalah salah satu harapan bessar bagi negeri ini, agar bisa bangkit dari keterprukan dalam semua aspek kehidupan. Bangsa indonesia yang dilanda krisis sejak 1997 dan sampai sekarang belum mampu keluar dari krisis multidimensional ini membutuhkan lahirnya kader-kader muda andal yang melek ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Dipundak merekalah, kejayaan bangsa ini dipertaruhkan. Namun, kelahiran mereka tidak cukup hanya dinanti, ditunggu dan dibayangkan. Kader-kader muda masa depan tersebut harus direncanakan, diupayakan, dimunculkan dan diperjuangkan dengan usaha maksimal, sistematis, dan terstruktur. Itulah yang selama ini kita kenal secara populer dengan nama sekolah dan pondok pesantren. Kedua lembaga pendidikan ini menjadi tumpuan besar lahirnya kader-kader potensial dimasa depan.

Disamping itu, pendidikan informal dalam keluarga juga berperan penting dalam mendukung keberhasilan lembaga formal dan non formal, khusunya dalam internalisasi iman, takwa dan nilai-nilai moral yang luhur.

Dalam hal ini, guru adalah aktor utama disamping orang tua dan elemen lainnya-kesuksesan pendidikan yang dicanangkan.

Tanpa keterlibatan aktif guru, pendidikan kosong dari materi, esensi dan subtansi. Secanggih apapun kurikulum, visi-misi dan kekuatan finansial, sepanjang gurunya pasif dan stagnan, maka kualitas lembaga pendidikan akan merosot tajam. Sebaliknya, selemah dan sejenak apapun sebuah kurikulum, visi-misi dan kekuatan finansial, jika gurunya inovatif, progresif dan produktif, maka kualitas lembaga pendidikan akan maju pesat. Lebih-lebih jika sistem yang baik ditunjang dengan kualitas guru yang inovatif, maka kualitas lembaga pendidikan semakin dahsyat.

Disinilah letak strategi guru dalam dunia pendidikan. Karena itu, tidak ada pilihan lain guru-guru yang ada harus mampu memosisikan dirinya sebagai guru yang ideal dan inovatif, yakni guru-guru yang mampu menyesuaikan diri denagn tuntunan zaman yang kian maju dan konpetitif, mempunyai kekuatan spritual, intelektual, emosional dan sosial yang tinggi serta kreatif melakukan terobosan dan pembaharuan yang kontinyu dan konsisten.

Fakta yang ada menunjukkan banyak guru dinegeri ini tidak sesuai harapan. Mereka belum mencerminkan diri sebagai guru ideal dan inovatif yang siap mendidik siswa dengan n profesionalisme dan optimisme. Kapasitas intelektual yang rendah, kedisiplinan yang lemah, semangat belajar yang hampir hilang, integritas moral yang menyeleweng dan dedikasi sosial yang rendah adalah sebagai potret buram guru. Hal ini membuat lembaga pendidikan berjalanan stagnan, bahkan terkesan mundur. Terbukti banyak mahasiswa negara lain yang dulu belajar dinegeri ini seperti Malaysia sekarang berbalik. Mahasiswa negara ini justru yang harus belajar dari bekas muridnya. Bukannya negatif, tapi ini menunjukkan bahwa pendidikan di negeri ini mengalami kemunduran dan keterbelakangan, kurang mampu mengantisipasi tantangan masa depan secara akurat, efektif, dan miskin kreatifitas dan inovasi.

Pemerintah sudah berupaya dengan maksimal meningkatkan kompotensi dan kapabilitas intelektual, emosional dan sosial guru dengan program sertifikasi dan stratafikasi S-1 dan D-4, namun hasilnya masih jauh dari harapan. Alih-alih bisa memajukan kualitas para guru, kebijakan ini justru banyak disalahgunakan oleh guru sebagai ajang pembohongan massal yang mencederai integritas moralnya demi mengejar kompensasi materi yang dijanjikan pemerintah. Komersialisasi dan industrialisasi pendidikan marak dimana-mana, asalkan ada uang ijazah dapat dengan muda diperoleh, tidak persoalan apakah ia mengikuti proses pendidikan dan mempunyai kompetensi dalam bidangnya atau tidak. Yang penting gelar,gelar dan gelar, dengan adanya gelar nama menjadi mentereng, harga jual naik drastis dan kompensasi materinya lebih tinggi.

Materi telah membutakan mata hati banyak guru dinegeri ini, sehingga mereka tega menodai esensi pendidikan yang menitikberatkan parameter moral yang agung. Mereka lupa bahwa guru tidak hanya mengajar tapisrkaligus mendidik, mengajar hanya sebatas memeberikan ilmu namun mendidik adalah mentransformasikan pengetahuan sekaligus nilai-niali moral pada anak didik. Proses ini merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan keteladanan prima dalam bertutur sapa, sikap, bergaul, belajar dan beraktualisasi di tengah pluralitas dan heterognitas masyarakat.

Dalam konteks ini, tidak ada yang bisa menggugah para guru yang mulia dan agung kecuali diri mereka sendiri. Sebaik apapun sistem, mekanisme, kepemimpinan, sarana prasarana dan fasilitas kalau spirit keilmuan dan kompetensi guru lemah maka tidak akan banyakbermanfaat. Akibatnya agenda melahirkan kader masa depan yang cerdas semakin susah.

Harapan besar masyarakat sangat bergantung kepada bapak/ibu guru yang mulia. Semangat mereka dalam mengejar ketertinggalan dengan meningkatkan intelektulitas, mengasah kapabilitas serta manajamkan kecerdasan emosional, spritual dan fungsi sosialnya yang dinanti oleh jutaan murid, orang tua dan bangsa ini secara keseluruhan. 

Kelebihan dan kekurangan guru adalah dua sisi mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan, kelebihan yang ada sangat baik untuk ditingkatkan sehingga menjadi guru yang ideal dan inovatif yang menjunjung tinggi nilai moral, spritual, intelektual, emosional dan sosial. Sementara kelamahan yang ada harus dikurangisedikit demi sedikit sehingga bisa menjadi teladan bagi murid-murid dan lingkungan sosial lainya. 

Menjadi guru ideal dan inovatif yang mengedepankan profesionalisme adalah harapan semua guru dinegeri tercinta ini. Guru yang mampu membimbing dan mendorong anak didiknya sehingga mampu mencapai kualitas bertaraf nasional dan internasional. Peningkatan kualitas dan kompetensi dalam penguasaan materi, metodologi pengajaran dan penguasaan informasi adalah syarat mutlak menggapai cita-cita besar.

Tidak semua guru dinegeri ini mampu melakukan hal ideal, ada banyak kendala, mulai dari ketiadaan biaya, usia yang sudah lanjut, kesibukan dengan alasan lain yang membuat guru tidak mampu memenuhi cita-cita besarnya. Apalagi harus memenuhi persyaratan yang diwajibkan negera dalam hal ini sertifikasi dan stratafikasi S1.

Namun guru-guru muda khususnya, tidak ada alasan yang membuat mereka mundur, melihat dan menuju kebelakang. Sebab masa depan, tantangan dan masa depan sudah ada didepan mata, kalau tidak berani menghadapi tantangan dan mengambil peluang didepan maka orang lain akan mengambilnya, hidup adalah kompotisi. Jadi, barang siapa tidak berani berkompetisi maka secara alamiah, ia akan tersisihkan dan termarginalkan dalam arus perubahan dahsyat diera produktifitas ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Dalam konteks ini, pengembangan kompetensi sesuai dengan bidang keahlian adalah keniscayaan. Satu tujuan banyak cara, artinya tujuan mengembangkan potensi dan kompetensi caranya bermacam-macam. Kalau biaya menjadi kendala sehingga tidak bisa kuliah, maka ada seribu cara lain yang bisa ditempuh untuk meningkatkan kompetensi. Misalnya dengan banyak membaca, menulis, aktif dalam seminar, diskusi, bedah buku, simposium, konferensi, organisasi dan kegiatan ilmiah lainnya.

Jangan mendewakan formalisme dan simbolisme, S1, S2, S3 dan Profesor adalah simbol formal, yang penting bukan simbolnya tapi kedalaman ilmu, luasnya wawasan, produktivitas karya dan hebatnya visi-misi hidup yang dibangun dan dijalaninya, sehingga menjadi inspirasi dan motivasi orang lain.

Semoga para guru dapat tergugah hatinya dalam mendidik murid-murid menjadi kader masa depan bangsa yang memiliki intergritas pribadi yang agung, kapasitas intelektual yang tinggi demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

8 Hal Aneh Yang Dilakukan Wanita Saat Jatuh Cinta


Soal cinta, wanita umumnya lebih dipengaruhi oleh sisi emosional ketimbang logika mereka. Maka tidak heran jika terkadang wanita bisa melakukan hal-hal aneh atau jauh dari kebiasaannya ketika sedang jatuh cinta.

Berikut ini delapan hal aneh dan konyol yang bisa dilakukan wanita saat sedang kasmaran, seperti dikutip dari All Women Stalk. Mungkin sebagian dari Anda pernah mengalaminya.

1. Punya Hobi Baru
Tidak sedikit wanita mempunyai hobi baru saat sedang jatuh cinta untuk menarik perhatian sang kekasih atau pria yang ditaksir. Sebagai contoh, si pria idaman sangat senang olahraga atau gym. Dia pun akan berusaha menyukai hobinya untuk membuat sang pria incaran senang. Entah ikut bergabung bersama dia atau hanya sekadar menonton. Bahkan, ada wanita yang mencoba mencintai olahraga yang tidak disukainya.

2. Berani Malu
Wanita bisa lebih percaya diri ketika sedang tergila-gila dengan seseorang. Mereka dapat melakukan apa pun agar pria yang dicintai tidak pergi meninggalkannya. Kepercayaan diri itu muncul saat wanita ingin tampil sempurna di hadapan pasangan atau si dia yang sedang memperhatikan Anda dengan penuh kasih.

3. Lebih Sensual

Saat wanita jatuh hati, dia bisa bersikap sedikit ‘nakal’ untuk menggoda pasangan. Hal ini menjadi ‘bumbu hangat’ dari sebuah hubungan asmara. Wanita ingin tampak sensual di hadapan kekasihnya. Ini merupakan salah satu perubahan wanita ketika sedang tergila-gila dengan seorang pria.

4. Bereksperimen
Wanita akan mudah bereksperimen bila sedang jatuh cinta. Eksperimen di sini adalah melakukan sesuatu yang jarang bahkan belum pernah dilakukannya. Wanita bisa lebih berfantasi ketika perasaannya sedang berbunga-bunga.

5. Suka Memberikan Kejutan
Wanita akan meluapkan ekspresinya ketika mereka mencintai seseorang, seperti datang tiba-tiba ke kantor pasangan untuk membawakannya makan siang atau bolos kerja demi menemani pacar ke suatu acara.

6. Mencoba Berbagai Hal Baru
Hampir sama dengan bereksperimen, wanita yang jatuh cinta biasanya berani mencoba berbagai hal baru bersama pasangannya. Selain hobi, aktivitas lain pun akan dilakukan agar bisa menyenangkan hati si dia. Oleh sebab itu, jangan heran kalau teman wanita Anda berubah karena seorang pria.

7. Lebih Lemah
Wanita yang terlalu tergila-gila dengan kekasihnya akan merasa lebih lemah. Dia bisa menjadi penurut dan takut jika menolak atau membantah perintah sang pujaan hati. Hal itu dilakukan demi kebahagiaan pasangannya. Bahkan, banyak wanita yang rela mengorbankan diri serta perasaannya karena sangat mencintai seseorang.

8. Jadi ‘Pejuang’
Wanita yang sedang mencintai akan mau berkorban demi pasangannya. Mereka mau berbagi kasih, kebahagiaan maupun duka bersama pria pujaannya. Dia pun rela berjuang demi hubungan mereka agar tidak kehilangan sang kekasih.
Reff : www.gaptekupdate.com

Rabu, 14 November 2012

Psikologi Remaja

 
Masa yang paling indah adalah masa remaja.
Masa yang paling menyedihkan adalah masa remaja.
Masa yang paling ingin dikenang adalah masa remaja.
Masa yang paling ingin dilupakan adalah masa remaja. 
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek. 

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. 

Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. 

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok. 
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.

Permasalahan Fisik dan Kesehatan

Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan
ketidak-puasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998).  

Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al). 

Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.

Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang

Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
  • Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
  • Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
  • Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
  • Cinta dan Hubungan Heteroseksual
  • Permasalahan Seksual
  • Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
  • Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama
Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja: 

Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya “jatuh cinta”. 

Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman. 

Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja. 

Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991). 

Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan. 

Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja. 

Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja. 

Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda. 

Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah. 

Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya. 

Berbagai Sumber

Selasa, 13 November 2012

KUMPULAN SOAL ULANGAN HARIAN MATEMATIKA SMP KELAS IX

Untuk rekan-rekan Guru Matematika pengajar SMP Kelas IX, dibawah ini saya sediakan kumpulan Soal-soal Tes Formatif sebagai alat uji untuk mengukur keberhasilan siswa-siswa Anda dalam setiap bab selama 1 tahun.

Untuk anak-anak SMP Kelas IX, soal-soal ini dapat dijadikan latihan untuk menguasai pokok bahasan yang sedang dibahas oleh guru kalian. Gunakan sebagai bahan latihan, agar kalian benar-benar memahami konsep yang sedang dipelajari. Semoga bermamfaat!

Jangan lupa, kritik dan sarannya, terima kasih!

Silakan unduh beberapa soal dibawah ini sebagai uji komptensi siswa, dalam menghadapi Ulangan Harian, Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester.

Contoh Soal UN BAHASA INGGRIS SMP dan Pembahasannya Secara Efektif


Untuk anak-anak SMP Kelas IX yang akan segera menghadapi UN, disini saya sediakan Contoh Soal UN BAHASA INGGRIS SMP dan Pembahasannya Secara Efektif,pelajari dengan seksama, sehingga kalian tidak akan terkejut lagi dengan tipe dan bobot soal UN Bahasa Inggris yang nantinya akan kalian hadapi. Semoga bermamfaat! 

Download :  4shared atau Mediafire

Tes Formatif "Kemagnetan"



Tes Formatif digunakan untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) dalam suatu Pokok Bahasan oleh Guru Pengajar. Untuk Siswa dapat djadikan acuan keberhasilan dalam mengusai konsep yang telah diajarkan berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Kepada rekan-rekan guru Fisika di SMP, ini saya berikan Soal Tes Formatif yang sudah saya susun sedemikian rupa sehingga cocok digunakan sebagai Soal Uji Kemampuan untuk anak-anak didik Anda, yang mungkin berguna untuk menguji keberhasilan siswa-siswa Anda. Silahkan download pada link yang saya sediakan dibawah ini. Semoga bermamfaat. Tolong berikan masukkan untuk perbaikan selanjutnya. Salam Fisika!

Soal Tes Formatif untuk anak SMP Kelas IX pada Semester GENAP.

Download :  4shared atau Mediafire