aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Selasa, 02 April 2013

Tanggisan Nabi Muhammad SAW Menggetarkan Arsy

gambar langit biru gambar langit indah gambar gambar langit gambar langit
“Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah SAW sedang asyik bertawaf di Ka ’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”  Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka ’bah, dan berzikir lagi: “ Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” 

Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, kerana aku ini adalah orang Arab Baduwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah. ” 

Mendengar kata-kata orang Baduwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab ?” “Belum,”jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya ?” “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya, ” kata orang Arab Baduwi itu pula. 

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat !” Melihat Nabi dihadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya. “Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah SAW. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w.menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: “Wahai orang Arab!  
Janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.” 

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda:
“ Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar !” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. 

Maka orang Arab itu pula berkata:
“ Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya !”kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan ?” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa – dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya, ’ jawab orang itu. ‘ Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawananNya! ’ 

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata: “ Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda:
“Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya kerana tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahawa Allah tidak akan menghisab dirinya,juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti !” 

Betapa sukanya orang Arab Baduwi itu, apabila mendengar berita tersebut. la lalu menangis kerana tidak berdaya menahan keharuan dirinya.
Sumber Sirah Nabawiy

Senin, 01 April 2013

Dia Yang Datang Tak Diundang

Berita kematian berada dimana-mana, hampir tiap detik ada kematian, di segala penjuru dunia, kematian begitu tergambar jelas dan nyata, di TV, di Internet, di koran dan majalah erita kematian demi kematian. Di Irak, kejahatan penjajah Pemerintah Amerika membuat kematian semakin dekat. Di Irak, kematian dengan berbagai bentuknya,gerilyawan Irak… terus menerus menjemput maut. Darah berceceran di mana-mana,tangis, air mata dan darah, mengabarkan kematian demi kematian.

Di Palestina darah para mujahidin terus membasahi bumi, tak kenal menyerah dan bom bunuh diri menjemput maut dengan caranya sendiri, melawan penjajah Israel tak kenal henti,terkutuklah para penjajah dimana pun kau berada.

Bertahun yang lalu, Tsunami menghantam Aceh 26 Desember 2004 memberitakan kematian dan maut, tak kurang 150.000 jiwa melayang, syahid bagi yang beriman. Tsunami meluluhlantakan Aceh dan sekitarnya, dalam hitungan kilat, ratusan ribu orang nyawanya melayang, memberitakan duka dan gempa bumi di Jogyakarta dan sekitarnya 27 Mei 2006 meluluhlantakan kehidupan, jeritan kematian kembali menggema,tak kurang dari 5000 jiwa melayang,tewas dalam hitungan menit!

Gempa di Haiti telah menghancurkan kehidupan, tak kurang dari 100.000 orang tewas, Malaikat maut memberitakan kehadiranya, peringatan bagi yang masih hidup bahwa kematian datang dengan tiba-tiba, tak di duga. Yang diantisipasi bahaya letusan GunungMerapi, berminggu-minggu penduduk mengungsi, yang ditakuti letusan Gunung Merapi, tapi gempa bumi yang terjadi,tanpa bisa diprediksi, ribuan orang mati.

Malaikat maut bertanya, tak cukupkah berita kematian yang kukirimkan kepadamu? Tak cukupkah kau baca berita kematian yang tiap saat? Tak cukupkah kau melihat di TV berbagai jenis kematian? Tak cukupkah kamu melihat disekelilingmu bahwa kamatian sudah hadir dihadapanmu? Masihkah kau tak mau bertobat? Masihkah kau bangga dengan dosa-dosa?
Masihkah kau tunda untuk beribadah kepadaNya? Masihkah kau terus berpoya-berpoya bergelimang dosa dan noda? Atau kematian datang padamu dan kamu baru bertobat?
Terlambat!

Tanyakan kemana orang tuamu sekarang? Dimana sekarang mereka berada? Tanyakan di mana sebagian saudara, teman dan sahabatmu sekarang? Dimana sekarang mereka berada? Mereka sudah diambil yang punya, mereka sudah kembali kepada pemiliknya, mereka sudah dijemput maut, dengan caranya masing-masing

Malaikat maut bertanya, tidak cukupkan berita kematian yang ku kabarkan setiap hari padamu? Berita kematian sudah ku sampaikan lewat TV, Internet, Cerita, SMS, koran, majalah dan lain sebaginya, masih kau sangsi bahwa aku akan datang padamu? Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tanpa kau duga, tanpa bisa kau prediksi, tiba-tiba, kau mati! 

“Bila aku datang”, kata Malaikat maut Putuslah semua yang kau banggakan Putuslah semua harapanmu Putuslah semua cita-citamu Putuslah semua yang kau cintai dan mencintaimu Putuslah semuanya, kecuali amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh Putuslah kamu dengan segala harta benda yang kamu milikiLalu apa yang kamu cari, jika semua akan kau tinggalkan?
Wahai …. pecinta dunia, tak cukupkah kau melihat kematian menari-nari dimatamu? Tak cukupkah kau melihat maut dihadapanmu? Tak cukupkah kau sadari bahwa kematian semakin dekat, bukan semakin jauh? Tidakah kau merasakan bahwa malaikat maut sedang tersenyum padamu? Tidakah merasakan bahwa detak jantungmu bisa tiba-tiba berhenti? Tidakah kau sadari bahwa napasmu bisa tiba-tiba berhenti? Tidakah kau sadari bahwa nyawamu bisa melayang dengan tiba-tiba? Dan tiba-tiba saja rohmu kembali kepadaNya dan kau mati Kapan? Hanya masalah waktu.

Kematian adalah tema yang paling ditakuti, terutama bagi pendosa atau justru tema paling dilupakan dan dijauhkan, mereka takut bila kematian menjelang, kok kematian melulu yang dibicarakan, kan kita masih hidup? Mereka yang lupa akan kematian, akan terus bergelimang dosa, apalagi merasa masih muda. Mereka yang lupa kematian, padahal sudah tua akan terus terus bergelimang dosa, kematian baginya hanya sebatas kata, mati,iItu saja. Ya mati, lalu, kenapa kalau aku mati ? “Itu urusanku”, katanya.

Berita kematian bagi orang-orang seperti itu, hanya sebatas kata-kata, tak merubah apapun, tak ada kata tobat baginya, tak ada kata sadar baginya, tak ada kata ibadah baginya, mari minum, minuman keras, mari bernyanyi, nyanyian keras, mari mabuk, semabuk-mabuknya, lupakan kematian, buat apa ingat kematian? Mari terus pesta, sampai ajal tiba. 

Malaikat Maut tetap tersenyum Melihat orang-orang tak juga sadar Melihat orang-orang tak juga tobat Melihat orang-orang yang bangga dengan dosa-dosa Melihat orang-orang yang tak juga mau sholat 
Malaikat hanya tersenyum, sambil menunggu perintahNya, Malaikat Izroil hanya petugas dan hanya menjalankan tugasNya, bila tak ada perintahNya, malaikat maut hanya diam menunggu, saat Malaikat maut menunggu perintahNya, saat itu nyawamu masih ada, saat itu kesempatan hidup masih ada, saat itu pintu tobat masih terbuka, saat itu bonus Allah masih diberikan padamu, maka pergunakanlah kesempatan emas ini, jangan sia-siakan, pergunakanlah untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya, jadikan ladang amal, tebarkanlah benih-benih kebaikan,
carilah ridhoNya.

Saat Malaikat maut menunggu perintahNya, seakan dia berkata: 

Ayo segera tobat Ayo segera kembali kepadaNya Ayo segera sholat Ayo segera berbuat kebaikan Ayo segera beramal sebanyak-banyaknya dan berdoalah Ya Allah … hidup dan kematian keduanya berasal dariMu Engkaulah yang menghidupkan dan Engkaulah yang mematikan Maka hidupkanlah hamba dalam kebaikan Dan matikan hamba juga dalam kebaikan, amin.
Reff : eramuslim.com

Enam Prinsip Pendidikan Karakter Islami

Pendidikan Karakter adalah sesuatu yang baik. Dalam Islam, karakter identik dengan akhlaq, yaitu kecenderungan jiwa untuk bersikap/bertindak secara otomatis. Akhlaq yang sesuai ajaran Islam disebut dengan akhlaqul karimah atau akhlaq mulia (Mohamed Ahmed Sherif, Ghazali’s Theory of Virtue, 1975), yang dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, bawaan lahir, sebagai karunia dari Allah. Contohnya adalah akhlaq para nabi. Kedua, hasil usaha melalui pendidikan dan penggemblengan jiwa (SM Ziauddin Alavi, Muslim Educational Thought in The Middle Ages, 1988).

Berdasarkan pengkajian penulis terhadap konsep akhlak Islam yang berlandaskan nash al-Quran dan hadits Nabi serta konsep karakter dalam tradisi empiris-rasional Barat, program pendidikan karakter yang baik seyogyanya memenuhi enam prinsip pendidikan akhlaq, yaitu:

1. Menjadikan Allah Sebagai Tujuan

Perbedaan mendasar antara masyarakat sekular dengan Islam terletak pada cara memandang Tuhan. Masyarakat sekular hanya mengimani “ide ketuhanan” karena ide ini berpengaruh baik bagi perilaku manusia. Mereka tidak ambil pusing apakah yang diimani benar-benar wujud atau sekedar khayalan (Muhammad Ismail, Bunga Rampai Pemikiran Islam, 1993). Sebuah penelitian menunjukkan, 80% responden menyatakan bahwa mencuri tetap salah sekalipun diperintahkan Tuhan (Larry Nucci, Handbook of Moral and Character Education, 2008). Kaum secular mengurung agama dalam interpretasi kemanusiaan. Agama versi sekular tidak dapat menjelaskan keajaiban yang dialami Nabi Ibrahim tatkala menerima wahyu untuk menyembelih putranya.

Islam mengimani Allah sebagai Tuhan yang wujud sehingga ketaatan kepadaNya menjadi mutlak. Islam bukanlah agama sekular yang memasung agama dalam dinding kehidupan privat. Agama tidak diakui sekedar diambil manfaatnya. Agama merupakan penuntun kehidupan dunia menuju keridhaan Allah. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” [QS. al-Dzaariyaat 56]

Keridhaan Allah merupakan kunci sukses kehidupan. Ilmu, kecerdasan, maupun rizki hanya mungkin dicapai apabila Allah menganugerahkannya kepada manusia (Zibakalam-Mofrad, 1999; Alavi, 1975). Untuk menggapai keridhaan Allah inilah, manusia wajib menghiasi diri dengan akhlaq mulia (Sherif, 1975).

2. Memperhatikan Perkembangan Akal Rasional

Perilaku manusia dipengaruhi oleh pengetahuan dan pemahamannya tentang hidup (an-Nabhani, 2002). Pendidikan karakter tidak akan membawa kesuksesan apabila murid tidak memahami makna-makna perilaku dalam kehidupannya. Untuk itu, Islam sangat menekankan pendidikan akal. Allah Swt menyebutkan keutamaan orang-orang yang berpikir dan mempunyai ilmu dalam berbagai ayat, salah satunya adalah QS. at-Thariq [86] ayat 5 (yang artinya): Maka hendaklah manusia memperhatikan (sehingga memikirkan konsekuensinya) dari apakah dia diciptakan?

Akal adalah alat utama untuk mencapai keimanan. Akal harus diasah dengan baik sehingga manusia memahami alasan perilaku baiknya. Pada tahap awal pendidikan, anak-anak memerlukan doktrinasi. Orang tua tidak boleh membiarkan mereka memukul teman atau bermain api walaupun mereka belum memahami alasan pelarangan itu. Namun, sejalan dengan usia, akal manusia mulai mempertanyakan alasan rasional. Keingintahuan ini tidak boleh diabaikan. Salah satu cara untuk mengasah akal adalah dengan perumpamaan dan dialog (Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, 1995). 


Rasulullah Saw sering melakukan dialog dengan para sahabatnya dalam rangka mengasah kemampuan akal mereka. Salah satunya tergambar dalam hadist berikut: “Apakah pendapat kalian, jika sebuah sungai berada di depan pintu salah satu dari kalian, sehingga ia mandi darinya sehari lima kali; apakah akan tersisa kotoran pada badannya?” Para sahabat menyahut, “Tidak sedikit pun kotoran tersisa pada badannya.” Nabi melanjutkan, “Demikianlah seperti shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” [HR. Muslim]

Dialog antara pendidik dan anak didik harus selalu dipelihara. Pendidik harus cerdas sehingga mampu mengimbangi pertanyaan-pertanyaan dari anak didik. Pendidik memberikan kesempatan kepada anak didik untuk memikirkan persoalan yang dihadapi dan mengarahkannya pada solusi Islam.

3. Memperhatikan Perkembangan Kecerdasan Emosi

Perilaku manusia banyak terpengaruh oleh kecenderungan emosinya (Elias dkk, 2008; Narvaez, 2008). Pendidikan karakter yang baik memperhatikan pendidikan emosi, yaitu bagaimana melatih emosi anak agar dapat berperilaku baik. Penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan karakter yang efektif harus disertai dengan pendidikan emosi (Elias dkk, 2008; Kessler & Fink, 2008).

Ketika seorang pemuda datang meminta ijin berzina, Rasulullah Saw tidak menghardik pemuda ini atas kegagalannya memahami larangan zina secara kognitif. Nabi Saw menyentuh faktor emosinya dengan mengatakan, “Sukakah dirimu jika seseorang menzinai ibumu?” Sang pemuda menjawab, tidak. Maka Nabi mengatakan, “Sama, orang lain juga tidak suka ibunya kamu zinai. Sukakah dirimu jika seseorang menzinai putrimu?” Sang pemuda terkejut dan secara tegas menolaknya. Nabi Saw melanjutkan, “Sama, orang lain juga tidak suka jika putrinya kamu zinai.” Nabi Saw memahami gejolak sang pemuda dan memilih menyentuh faktor emosinya. Sang pemuda diarahkan untuk merasakan bahwa apa yang hendak dilakukannya akan menyakiti orang lain.

Pembangunan kecerdasan emosi juga Rasulullah Saw lakukan melalui upaya meningkatkan kedekatan hamba kepada Allah Swt. Disebutkan dalam sebuah hadits qudsi: “Jika seorang hamba bertaqarrub kepadaKu sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Jika ia mendekatiKu sehasta, Aku medekatinya sedepa. Jika ia mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku mendekatinya dengan berlari.” (Shahih Bukhari)

Kecerdasan emosi anak didik harus mendapatkan perhatian. Emosi anak yang ditekan dapat menjadikan anak tumbuh sebagai individu yang masa bodoh (al-Naqib, 1993). Kehebatan akal yang tidak didukung dengan kecerdasan emosi menyebabkan manusia melakukan tindakan spontan yang bertentangan dengan rasional dan nilai-nilai akhlaq.

4. Praktik Melalui Keteladanan dan Pembiasaan

Lingkungan masyarakat yang mempraktikkan akhlaqul karimah merupakan bentuk keteladanan dan pembiasaan terbaik. Penelitian menyebutkan bahwa perilaku anak lebih ditentukan oleh lingkungannya daripada kondisi internal si anak (Leming, 2008). Keteladanan dan pembiasaan merupakan faktor utama dalam mengasah kecerdasan emosi (Narvaez, 2008).

Dalam mendidik karakter umat Islam, Rasulullah Saw menjadikan dirinya suri teladan terlebih dahulu sebelum menuntut umatnya mempraktikkannya. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh para pendidik. Bahkan, para teladan harus menunjukkan kebaikan yang lebih besar dari apa yang dituntut atas anak-anak sehingga anak-anak menjadi lebih termotivasi dalam menjalankan kebaikan.

Keteladanan Rasululullah Saw ditegaskan Allah Swt dalam firmanNya di Surat al-Ahzab ayat 21: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah Saw selalu berpegang teguh kepada perilaku terpuji sesuai ajaran Islam, sehingga Aisyah ra. menyatakan: “Akhlaq Rasulullah Saw adalah (sesuai) al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Selain memberikan keteladanan, Rasulullah Saw menyuruh para orang tua untuk membiasakan anak-anak menjalankan perintah agama sejak kecil, walaupun mereka baru terkena beban agama setelah baligh. Dalam sebuah hadist Nabi Saw bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud & al-Hakim)

Rasulullah Saw memberikan keteladanan sekaligus membiasakan perbuatan baik melalui penerapan Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Larangan zina, misalnya, didukung dengan langkah-langkah untuk menjauhkan manusia dari berzina, seperti larangan untuk berdua-duaan, kewajiban untuk menutup aurat, serta pelaksanaan hukuman bagi pelaku zina.

5. Memperhatikan Pemenuhan Kebutuhan Hidup

Karakter tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Seseorang yang beristri lebih mudah untuk menghalau keinginan berzina daripada mereka yang membujang. Seseorang yang kenyang akan terhindar dari mencuri makanan. Tindakan kriminalitas sering terjadi akibat tekanan kebutuhan.

Islam memerintahkan negara untuk menjamin kebutuhan pokok masyarakat. Apabila seseorang tidak mampu mendapatkan pekerjaan sendiri, maka negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan untuknya. Apabila seseorang tidak mampu bekerja (cacat, tua, gila, dsb) maka Islam mewajibkan keluarganya untuk menanggung hidupnya. Apabila keluarganya tidak mampu atau tidak memiliki keluarga, maka Islam mewajibkan negara untuk mengurusi segala keperluannya (Abdul Aziz Al-Badri, Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam, 1995). Rasulullah Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa mati meninggalkan harta, maka itu hak ahli warisnya. Dan barangsiapa mati meninggalkan keluarga yang memerlukan santunan, maka akulah penanggungnya.” (HR. Muslim)

Jaminan atas kebutuhan dasar hidup memberikan rasa aman bagi tiap-tiap individu dalam masyarakat. Masyarakat tidak lagi perlu khawatir biaya sekolah anak cucunya sehingga menumpuk harta melebihi kebutuhannya, bahkan dengan cara-cara tidak halal. Masyarakat lebih rela mengantri apabila ada jaminan bahwa mereka yang mengantri tidak akan kehabisan sembako, tiket, atau kursi. Penumpang pesawat terbang bersedia mengantri dengan tertib karena jatah kursinya sudah terjamin. Penumpang kereta ekonomi tidak mau mengantri karena mereka harus berebut kursi.

6. Menempatkan Nilai Sesuai Prioritas

Pendidikan karakter seringkali tidak efektif karena ada perbedaan prioritas dalam memandang nilai. Ada seorang siswa laki-laki sekolah menengah trauma ke sekolah akibat digundul secara paksa oleh gurunya. Perbedaan persepsi rambut panjang bahkan pernah berujung menjadi tawuran antara orang tua murid dengan guru

Islam memiliki konsep prioritas perbuatan, yang terbagi dalam 5 (lima) kategori, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Penilaian moralitas tidak terlepas dari kelima tingkatan prioritas ini. Islam tidak melarang laki-laki berambut panjang, namun mewajibkan merapikan dan menjaga kebersihannya (Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah Jilid 1, 2011). Dalilnya adalah kisah Abu Qatadah ra. yang memiliki rambut panjang dan menanyakan kebolehannya kepada Nabi. Beliau Saw menyuruhnya untuk merapikan dan menyisirnya setiap hari.

Pendidik wajib mengetahui kedudukan tiap-tiap perbuatan sebelum mengambilnya sebagai aturan kedisiplinan. Dalam wilayah yang sunnah, mubah, dan makruh, apabila ada hal yang ingin dijadikan aturan kedisiplinan, maka pendidik harus mengkomunikasikan dan mengikutsertakan anak-anak dalam membuat keputusan sehingga mereka memaklumi manfaat aturan tersebut bagi kelangsungan komunitas dan menjalankannya secara bersungguh-sungguh.

Demikianlah enam prinsip pendidikan karakter. Keenam prinsip ini harus dipenuhi agar pendidikan karakter dapat mencapai kesuksesan.

Ketika Jibril Menjadi Guru

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk-duduk bersama para sahabat-sahabatnya. Namun, saat itu para sahabat dikejutkan dengan kedatangan seorang lelaki secara tiba-tiba yang memakai pakaian putih, berambut yang sangat hitam legam, tidak nampak padanya tanda-tanda perjalanan dan tak ada seorang pun diantara para sahabat yang mengenalnya hingga ia duduk di hadapan Rasulullah. Lalu dia merapatkan lututnya ke lutut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seraya bertanya tentang islam, iman, ikhsan, dan hari kiamat.

Setelah menanyakan hal tersebut kemudian orang tadi pergi, para sahabat terdiam dalam waktu yang lama. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya: ”Wahai Umar, tahukah engkau siapa bertanya tadi?" Sahabat menjawab: ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, yang artinya tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: ”Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” Jadi, dialah Jibril yang berperan sebagai guru bagi Rasulullah.

Dalam kisah ini sering disebut ”Hadits Jibril” yang terdapat di dalam Hadits Arba’in yang sering dihafal oleh banyak umat islam. Saat itu, Jibril menyerupai manusia laki-laki dan mengajarkan hal-hal pokok tentang agama islam. Ada satu benang merah yang menarik untuk dijadikan hikmah dalam dunia pendidikan yaitu kesan pertama yang membuat para sahabat berkonsentrasi untuk memusatkan perhatiannya melihat setiap gerakan dan perkataan Jibril selaku sang guru.

Inilah salah satu modal awal pendidik sebagai seorang guru, yakni berusaha membuat siswa-siswinya antusias dan keingintahuan yang tinggi dalam menerima apa yang akan sang guru berikan secara tatap muka ketika berada di dalam kelas. Seperti datangnya Jibril dengan penampilan yang eye catching ketika bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.

Penampilan seorang guru dalam proses belajar-mengajar memang bukanlah hal yang paling utama. Akan tetapi sebagai orang yang akan menjadi pusat perhatian di kelas sangat penting untuk menyiapkan diri agar setiap gerak-gerik kita menjadi daya tarik dan motivasi siswa untuk merasa nyaman dan konsentrasi dalam proses pembelajaran.

Pada kenyataannya, masih saja ada guru yang kurang memperhatikan aspek penampilan baik kerapian dan kebersihan sehingga kadang kala siswa menjadi underestimate terhadap guru tersebut. Baju yang lecek, robek bahkan sampai pakaian berubah warna atau ”bule” masih saja sering kita jumpai di lingkungan pendidikan. Padahal, jika kita sadari bahwa guru adalah teladan dan contoh bagi siswa dalam berbagai aktifitas di dalam maupun di luar kelas, maka guru yang “Good Looking” atau enak dipandang akan membuat siswa nyaman dan semangat untuk belajar.

Sehingga, seorang guru diharapkan bisa berpenampilan yang menarik seperti Jibril saat mengajar dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Karena penting sekali bagi seorang guru untuk menjaga penampilan. Seperti merawat kebersihan badan dan pakaian, kerapian dalam berbusana dan memiliki aroma wangi atau tidak bau badan. Selain itu, guru pun diharuskan menjaga kelembutan dalam bertutur kata. Ini akan menjadi modal awal dalam berinteraksi dengan siswa, sehingga dapat membantu kesiapan anak dalam menerima materi pelajaran yang diberikan. Allahu a’lam

Pelukan Inspirasi

Alkisah, ada seorang siswa yang berpenampilan berbeda dengan teman-teman di kelasnya. Baju seragamnya lusuh dan kusam. Seringkali dia menjadi bahan ejekan teman-temannya. Rasa percaya dirinya terkikis sedikit demi sedikit. 

Suatu ketika, tanpa diduga sebelumnya. Hari itu wali kelasnya mengumumkan jika esok beliau akan pindah mengajar ke kota lain. Keesokan harinya, sebelum sang guru benar-benar pindah meninggalkan sekolah tersebut, murid-muridnya satu persatu memberikan hadiah sebagai kenang-kenangan. Hampir semua memberikan hadiah yang bernilai mahal secara harga. Satu persatu siswanya maju ke depan, memberikan hadiah kepada gurunya dengan perasaan bangga. 

Sampai kemudian tinggal satu siswa yang malu-malu maju ke depan. Teman-temannya, seperti biasa, mengejeknya. Tapi siswa tadi mencoba kuat melangkah ke depan. Dikeluarkannya beberapa barang dari kantong bajunya. Botol minyak wangi yang hanya tinggal sisa sedikit dan sebuah kalung yang sudah lusuh. Dengan perasaan amat cemas diulurkan barang-barang tersebut pada gurunya. Subhanallah. Hanya dalam hitungan detik, sang guru tertegun dan memeluk siswanya tersebut. Tentu saja siswa tadi terperanjat, kaget dan sangat terharu. Dia sangat tidak menyangka. Pemberiaannya yang amat sederhana tersebut diterima sang guru dengan ekspresi kehangatan dan kecintaan yang luar biasa. 

Beberapa tahun kemudian. Ada sepucuk surat diterima seorang guru di kota yang berbeda. Bertanya-tanya guru tersebut, siapa pengirimnya ? Tak sabar, dibukalah amplop surat tersebut dan dibacalah segera. Air mata haru dan bahagia mengalir di kedua pipi sang guru. Ingatannya melayang pada episode kepindahannya ke kota ini beberapa tahun yang lalu. Ternyata keikhlasan dan ekspresi kehangatan menerima hadiah sederhana dari siswanya tadi telah membuat rasa percaya diri pada seorang anak kecil yang selama ini jadi bahan ejekan teman-temannya kembali bangkit. 

Sejak ibu menerima hadiah sederhana tersebut, saya menjadi percaya diri. Bahwa berharganya seseorang bukan karena kemewahan hartanya. Minyak wangi dan kalung itu adalah pemberian terakhir ibu saya sesaat sebelum beliau meninggal. Barang yang sangat saya sayangi. Sejak itu saya belajar dengan giat tanpa memperdulikan ejekan teman. Dan sekarang, alhamdullah saya telah menjadi seorang sarjana. 

Itu adalah sepenggal kisah guru, yang tidak sekedar mengajar. Tapi memberi inspirasi yang luar biasa untuk muridnya. Kalau mau dikategorikan, ada beberapa tipe guru.

Yang pertama, tipe guru baik. Guru yang hanya sekedar mengajar. Guru tipe ini sudah cukup puas jika siswanya yang asalnya tidak mengerti menjadi mengerti. 

Tipe yang kedua adalah tipe guru lebih baik. Guru ini memberi contoh dan keteladanan kepada siswanya. 

Dan tipe guru yang ketiga adalah tipe guru terbaik. Guru tipe ini yang memberi inspirasi dan kekuatan baru untuk siswanya. 

Seperti kisah di atas. Pertanyaannya sekarang adalah, dari ketiga tipe guru tadi, kita para guru termasuk pada katagori tipe yang mana ? Tipe pertama, kedua atau ketiga ? Atau malah tidak masuk dalam 3 katagori tersebut ? Atau hanya sebagai guru yang hanya datang dan memberikan tugas. Datang dan marah-marah. Datang dan mencemooh serta menghukum siswa ? Datang dan membanding bandingkan siswa-siswanya ? Ketika sekarang tren digaungkannya pendidikan berkarakter. 

Sebelum siswanya punya karakter baik tentu para guru harus bisa memberikan keteladanan dan inspirasi kepada siswanya. Tak mungkin siswa dapat berkarakter baik jika para gurunya jauh dari katagori tersebut. Sudah saatnya, kita para guru, menata hati, menata kata, menata sikap dan perilaku agar murid-murid bangga dengan gurunya. Agar bangsa ini segera keluar dari keterpurukannya. 

Mari kita lakukan, sekarang !!. Mohon dinyanyikan seperti lagu  Halo-halo Bandung!
� Halo-halo guru, bangunlah kau guru semua 
� Halo-halo guru, kenapa kau diam saja 
� Sudah lama kita tidak berjumpa denganmu 
� Sekarang, tiba saatnya bangkit dan sadar, 
� Bangunlah guru semua

Kisah Inspiratif Bu Guru Thomson

Kisah berikut ini mudah-mudahan memberikan kita semangat bagaimana untuk menjadi guru yang profesional, guru yang tidak Mengajar “Membaca, menulis dan menghafal dan matematika.” Tetapi Mengajarkan Pendidikan kepada para muridnya. Saksikan kisahnya :

Bertahun-tahun yang lalu, Bu Thomson berdiri didepan siswa kelas V mengucapkan sebuah kata bohong kepada para siswanya dia mengatakan akan mencintai setiap muridnya. Tetapi hal tersebut sebetulnya tak sepenuhnya jujur, karena Teddy yang duduk dibarisan depan adalah seorang anak yang tidak konsentrasi belajar dan kotor. Sebenarnya Bu Thomson sangat ingin dengan pena merahnya menulis diatas rapor Teddy nilai “E”.

Pada suatu hari ketika Bu Thomson sedang memeriksa catatan di rapor para muridnya. Dia sangat terkejut membaca komentar para mantan guru Teddy.

  • Guru di kelas I menulis, “Teddy adalah seorang murid yang cerdas, selalu tersenyum, pekerjaan rumahnya dan catatannya selalu rapi, sangat menghormati orang lain, membuat orang disekelilingnya berbahagia!.”
  • Guru kelas II menulis, “Teddy adalah seorang pelajar yang sempurna, semua teman-teman menyukainya, tetapi ibunya menderita penyakit kanker, kehidupan dirumahnya pasti sangat susah!”
  • Guru kelas III menulis, “Kematian ibunya menimbulkan pukulan berat baginya. Dia sangat rajin belajar, tetapi ayahnya tidak peduli terhadapnya, jika tidak segera diambil tindakan maka kehidupan keluarganya akan segera mempengaruhi pelajarannya. “
  • Guru kelas IV menulis, “Pelajaran Teddy mulai mundur, dia tidak tertarik kepada pelajaran lagi, dia tidak ada teman lagi, terkadang tertidur di ruang kelas.”
Setelah membaca catatan tersebut, Bu Thomson baru menyadari masalah yang sebenarnya. Dia merasa malu dan sangat sedih. Pada saat natal, semua muridnya memberi dia hadiah yang dibungkus dengan kertas kado yang cantik, sedangkan Teddy membungkus hadiahnya dengan kertas koran.

Bu Thomson membuka hadiah Teddy, didepan kelas, hadiahnya adalah sebuah gelang berlian palsu dan sebotol parfum yang tersisa ¼ , murid-murid yang lain mulai menertawakan hadiah dari Teddy, tetapi guru Bu Thomson segera mengambil gelang tersebut dipakai ditangannya dan berkata sangat indah dia menyukai hadiah tersebut, lalu menyemprotkan parfum tersebut ke tangannya.

Hari itu setelah lonceng pulang berbunyi, Teddy tinggal dikelas dan berkata kepada guru Bu Thomson, “Guru, hari ini engkau wangi seperti ibuku!.” Setelah Teddy pulang, guru Bu Thomson menangis dengan sedih selama satu jam. Setelah hari itu guru Bu Thomson tidak mengajar “Membaca, menulis dan menghafal dan matematika lagi.” Tetapi dia mengajarkan pendidikan kepada para muridnya.

Mulai hari itu dia memberi perhatian khusus kepada Teddy, mencurahkan kasih sayang seperti seorang ibu kandung, Teddy juga mulai hidup kembali, guru Bu Thomson selalu memberi semangat kepadanya, dia semakin tangkas. Di akhir tahun Teddy menjadi murid yang terpintar dikelasnya. Walaupun guru Bu Thomson mengatakan akan mencintai setiap muridnya tetapi Teddy adalah siswa favoritnya.

Setahun kemudian, guru Bu Thomson menemukan secarik kertas yang ditempel dipintu rumahnya, itu adalah tulisan Teddy yang mengatakan “guru Bu Thomson adalah guru yang paling baik yang dijumpai seumur hidupnya!” Setelah 6 tahun berlalu guru Bu Thomson menerima sepucuk surat dari Teddy yang mengatakan dia sudah tamat SMA, dia mendapat juara 3, dia mengatakan guru Bu Thomson tetap adalah guru yang paling baik seumur hidupnya dan guru favoritnya!

Empat tahun kemudian, Teddy menulis bahwa dia telah tamat S1 dan akan melanjutkan ke S2 dia mengatakan guru Bu Thomson tetap guru favorit dan guru yang terbaik selama hidupnya, dan guru Bu Thomson melihat ada tambahan gelar dokter ditanda tangannya.

Cerita ini belum berakhir, pada musim semi tahun ini, Teddy menulis surat lagi, menceritakan bahwa ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dia sudah menemukan seorang gadis dan akan menikah dengannya, dia meminta guru Bu Thomson sebagai walinya akan disediakan tempat duduk di posisi orang tuanya. Guru Bu Thomson memenuhi permintaan Teddy, pada hari pernikahan dia memakai gelang berlian palsu pemberian Teddy dan menyemprotkan parfum pemberian Teddy, Teddy teringat itu terakhir kalinya dia bersama ibunya merayakan natal dan ibunya memakai parfum ini.

Ketika mereka merangkul satu sama lain, Prof. Teddy dengan berbisik ditelinga Bu Thomson mengatakan, “Terima kasih guru Bu Thomson engkau telah mempercayai saya, terima kasih karena engkau membuat saya menjadi orang penting, sehingga saya mempunyai kepercayaan diri untuk berubah!” 


Airmata guru Thomsom mengalir dengan deras, dengan lembut dia berkata, “Teddy, kamu salah! kamu yang mengajari saya, sehingga saya mempunyai kepercayaan diri untuk berubah, setelah bertemu denganmu, saya baru tahu bagaimana mengajar!”

Minggu, 31 Maret 2013

Kata-kata Inspirasi untuk Guru/Pendidik

Educating our children is not just about imposing a body of knowledge on them. Rather, it involves preparing children from the early years for the world in which they will come of age. It means instilling a love for lifelong learning, creativity, self-expression and an appreciation for diversity. 


Mendidik anak-anak kita bukan berarti mengajarkan kepada mereka sekumpulan ilmu pengetahuan semata. Lebih penting lagi, mendidik berarti mengajarkan kepada anak-anak kita sejak usia dini, kemampuan untuk siap dan mampu menghadapi tantangan dunia masa depan yang akan menjadi ajang hidup mereka nantinya. Dan ini berarti menanamkan keingintahuan dan rasa cinta belajar seumur hidup, kreativitas, keberanian mengemukakan pendapat dan berekspresi, serta penghargaan akan segala bentuk perbedaan (antar manusia). ~ Her Majesty Queen Rania Al Abdullah of Jordan ~ 

If kids come to us from strong, healthy functioning families, it makes our job easier. If they do not come to us from strong, healthy, functioning families, it makes our job more important. 

Sebagai seorang guru (pendidik), bila murid-murid kita berasal dari keluarga yang harmonis dan bahagia, maka tugas kita akan semakin mudah. Tetapi bila murid kita TIDAK berasal dari keluarga yang harmonis dan bahagia, maka tugas kita menjadi semakin PENTING. (Walau lebih mudah mendidik anak-anak yang "sudah baik", tetapi tugas pendidik yang sejati adalah mendidik mereka yang masih "mencari jalannya" ini. ~ Barbara Colorose ~ 

Teachers affect eternity; no one can tell where their influence stops. 

Guru atau pendidik memiliki pengaruh yang luar biasa, tidak ada batasnya. Tidak ada yang bisa mengatakan di mana pengaruh seorang yang mendidik dengan baik (atau tidak baik) ini berhenti. (Semua yang dilakukan manusia bisa jadi merupakan hasil dari pengaruh atau didikan orang yang mendidiknya dulu, sedikit atau banyak.) ~ H enry Brooks Adams ~

Teaching is not a lost art, but the regard for it is a lost tradition. 

Mendidik bukanlah sebuah seni atau ketrampilan yang semakin menghilang, masih banyak orang yang mampu melakukannya sampai sekarang. Cuma masalahnya, semakin banyak orang yang kehilangan penghargaan akan peran sangat penting yang satu ini. ~ Jacques Barzun ~

The man (or woman) who can make hard things easy is the educator. 

Orang yang bisa membuat semua hal yang sulit menjadi mudah dipahami, yang rumit menjadi mudah dimengerti, atau atau yang sukar menjadi mudah dilakukan, itulah pendidik yang sejati. ~ Ralph Waldo Emerson ~ 

Students don't care how much you know until they know how much you care. 

Siswa tidak peduli betapa pintarnya seorang guru, yang mereka pedulikan adalah apakah guru tersebut juga peduli terhadap dirinya. ~ Anonymous ~ 

Children are like wet cement, whatever falls on them makes an impression. 

Anak-anak itu mirip adonan semen basah. Apapun yang jatuh ke atasnya, meninggalkan bekas, yang kalau tidak segera dihaluskan kembali, bekas tersebut akan mengeras selamanya. ~ Haim Ginott ~ 

The test of a good teacher is not how many questions he can ask his pupils that they will answer readily, but how many questions he inspires them to ask him which he finds it hard to answer. 

Indikasi bahwa seseorang bisa disebut guru (pendidik) yang hebat bukanlah pada kemampuannya mengajarkan murid untuk pintar menjawab semua jenis pertanyaan, tetapi pada kemampuannya menginspirasi murid agar mengajukan pertanyaan yang dia sendirinya kesulitan untuk menjawabnya. (Dengan kata lain, bila guru mengajar agar murid bisa sama pintarnya dengan dia, itu biasa saja. Guru yang bagus adalah yang bisa mendidik muridnya agar jauh lebih pintar dan lebih kritis daripada dirinya sendiri.) ~ Alice Wellington Rollins 
(1910-1997) ~ 

Teaching kids to count is fine, but teaching them what counts is best. 

Mengajarkan murid agar bisa berhitung itu bagus, tetapi yang terbaik dan paling penting adalah mengajarkan mereka tentang hal-hal yang tidak bisa dihitung nilainya (sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini, seperti prinsip dan kode etik hidup, kebaikan, nilai moral, pengabdian, dsb.). ~ Bob Talbert ~ 

 The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires. 

Guru yang biasa-biasa saja memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang bagus menunjukkan bagaimana caranya. Tetapi guru yang luar biasa menginspirasi murid-muridnya. ~ William A. Ward ~ 

Education is not the filling of a pail, but the lighting of a fire. 

Pendidikan bukanlah seperti mengisi ember yang kosong. Kepala murid-murid kita bukanlah seperti ember kosong yang boleh seenaknya kita isi apa saja. Pendidikan adalah seperti menyalakan api yang telah atau hampir padam. (Dengan kata lain, ketika kita mendidik seorang anak, kita harus menyadari bahwa si anak sudah membawa "bekal" mereka masing-masing di dalam pikiran mereka. Mereka sudah memiliki pandangan dan latar belakang pengetahuan dari pengalaman hidup mereka sebelumnya, dan ini harus dihargai guru. Tidak boleh sembarangan mengisi kepala si anak. Pendidikan yang benar adalah yang bisa memanfaatkan "bekal" si anak ini dengan baik sehingga semakin berkembang maksimal, seperti api yang dinyalakan kembali.) ~ William Butler Yeats ~ 

If we teach today's students as we taught yesterday's, we rob them of tomorrow.

Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut. Artinya, ilmu pengetahuan dan kemampuan hidup berkembang terus. Jika fakta ini tidak kita pahami dan lalu ajarkan pada murid kita, maka kita tidak mempersiapkan mereka dengan baik untuk menghadapi tantangan masa depan yang jelas berbeda dari masa sekarang. ~ John Dewey ~ 

Teaching is the one profession that creates all other professions. 

Menjadi pendidik, (atau guru, baik formal atau non-formal) adalah satu-satunya profesi yang menciptakan segala macam jenis profesi lainnya. ~ Unknown ~ 

 It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge. 

Adalah suatu kemampuan luar biasa dalam diri guru bila ia mampu menggugah rasa cinta anak didiknya akan daya cipta kreatif dan ilmu pengetahuan. ~ Albert Einstein ~ 

A child cannot be taught by anyone who despises him, and a child cannot afford to be fooled. 

Seorang anak tidak bisa dididik oleh orang yang membencinya dan dia juga tidak bisa dibohongi. Dengan kata lain, seseorang yang tidak dengan tulus peduli pada si anak tidak akan mungkin bisa mendidiknya meskipun di luarnya dia pura-pura peduli. Ketulusan mendidik dengan baik datang dari hati. ~ James Baldwin ~ 

Education is not to reform students or amuse them or to make them expert technicians. It is to unsettle their minds, widen their horizons, inflame their intellects, teach them to think straight, if possible. 

Pendidikan bukanlah untuk mengubah siswa, atau menghibur mereka dengan pelajaran yang menyenangkan. Juga bukan untuk menciptakan teknisi-teknisi yang ahli di bidangnya. Pendidikan adalah untuk menantang siswa agar selalu berpikir kritis dan ingin tahu. Pendidikan adalah juga untuk membuka wawasan, menumbuhkan rasa cinta belajar, serta mengajar anak didik untuk berpikir dengan benar, sebisa mungkin. ~ Robert M. Hutchins ~ 

If a child can't learn the way we teach, maybe we should teach the way they learn. 

Bila seorang anak tidak bisa belajar dari cara kita mengajarkan sesuatu kepadanya, mungkin kitalah yang harus mengubah cara mengajar kita agar sesuai dengan cara belajar mereka. ~   Ignacio 'Nacho' Estrada ~ 

We are what we repeatedly do. Excellence then, is not an act, but a habit. 

Yang membentuk kepribadian kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Karena itu, kesempurnaan tidaklah dicapai dengan sebuah tindakan sekali saja, tetapi oleh serangkaian kebiasaan baik yang kita lakukan berulang kali. ~ Aristotle ~ 

 As a general rule, teachers teach more by what they are than by what they say. 

Biasanya, guru/para pendidik lainnya, mendidik lebih banyak dengan contoh nyata yang mereka lakukan sendiri dari pada apa yang cuma mereka ceramahkan. Ini adalah fakta bahwa murid meneladani tindakan nyata bukan kata-kata. ~ Unknown ~ 

 Never do anything for a student that he is capable of doing for himself. If you do, you'll make him an educational cripple ... a pedagogical paraplegic. 

Jangan pernah lakukan untuk siswa/anak didik Anda apapun yang mereka mampu melakukannya sendiri. Karena kalau ini Anda lakukan, Anda akan menjadikan mereka orang-orang yang "lumpuh" dalam pendidikan. ~ Howard Hendricks ~ 

Demikian koleksi kata mutiara inspirasional yang dipersembahkan khusus untuk para pendidik di luar sana, para guru dan semua orang tua, untuk Anda semua. Ingatlah, dengan mendidik Anda menciptakan perbedaan dalam kehidupan seseorang. Sungguh mulia bila perbedaan yang tercipta berbentuk kesuksesan total dalam hidup mereka. Teruslah berjuang demi dunia yang lebih baik, demi generasi penerus yang lebih sukses. 

Source

Bung Hatta, Kisah Menabung untuk Sepatu Bally

Bila India memiliki Mahatma Gandhi sebagai bapak negarawan yang sederhana, santun, bersahaja bagi rakyatnya, maka Indonesia memiliki Bung Hatta. Sepanjang hidupnya, Bung Hatta berperilaku senantiasa menampilkan sikap yang santun terhadap siapa pun. Baik kawan maupun lawan. Terhadap Bung Karno yang pada masa sebelum kemerdekaan melakukan kerja sama cukup erat namun kemudian mereka tidak dapat bekerja sama secara politik, tetapi sebagai sesama manusia Bung Hatta masih menghormatinya. Ketika Bung Karno sakit, Bung Hatta menengoknya. Demikian pula sebaliknya. Kesantunan menjadi sikap dalam hidupnya untuk saling menghargai.

Banyak kisah tentang dia yang menyadarkan kita semua, bahwa Indonesia pernah memiliki seorang pemimpin dan negarawan yang teramat bersahaja. Dan, itu pula yang disampaikan Rachmawati Soekarnoputri dalam tulisannya yang dimuat di Harian Kompas, 9 Agustus 2002, Mengenang 100 Tahun Bung Hatta. Dalam tulisan tersebut, putri mendiang Bung Karno tersebut mengatakan, suri teladan yang perlu diteladani dari Bung Hatta adalah sifat dan perilakunya yang fair dan jujur. “Jujur di sini, tidak hanya terbatas pada tidak melakukan praktik KKN selama berkuasa atau menjabat. Namun, lebih dari itu, Bung Hatta jujur terhadap hati nuraninya,” kata Rachmawati.

Hal itu terlihat saat Bung Hatta mulai tidak sepaham dengan Bung Karno antara lain menganggap Bung Karno sudah ke-kiri-kirian, terlebih saat Bung Karno mencetuskan ide Nasakom, Bung Hatta yang sudah tidak sepaham lagi dengan Bung Karno memilih mengundurkan diri 1 Desember 1956.

Kejujuran yang diperlihatkan Bung Hatta dalam hal ini justru menunjukkan sikap ksatria seorang negarawan yang patut dihargai dan dicontoh. Kendati demikian, hubungan pertemanan antara Bung Hatta dan Bung Karno tidak lalu berubah menjadi permusuhan, malahan Bung Hatta melakukan kerja sama yang kritis terhadap Bung Karno (critical cooperation). Bahkan, adakalanya Bung Hatta memberikan masukan langsung datang ke Istana selain menulis surat atau menelepon. Dan, Bung Karno pun tetap menganggap Bung Hatta sebagai teman bukan musuh yang harus “dilumpuhkan”.

Rachmawati juga mengungkapkan bahwa sikap fair dan perilaku terasa ketika Bung Karno sakit setelah terjadinya G30S/PKI tahun 1965. Ketika Bung Karno mulai jatuh sakit, Bung Hatta tetap memberikan perhatian kepada Bung Karno. Bahkan, pada saat sakit yang diderita Bung Karno semakin parah pada tahun 1969 dan terpaksa harus dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Bung Hatta bersikeras menjenguk Bung Karno di mana tak satu pun pejabat atau tokoh lain mau menjenguk Bung Karno.

Salah satu kisah mengugah dari Bung Hatta yang dikenang masyakarat adalah kisah tentang sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta, ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, berniat membelinya. Untuk itulah, maka dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.

Setelah itu, dia pun berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Ini tak lain karena uangnya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Ball tersebut masih tersimpan dengan baik.

Andai saja Bung Hatta mau memanfaatkan posisinya saat itu, sebenarnya sangatlah mudah baginya untuk memperoleh sepatu Bally, misalnya dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalannya. Barangkali bukan hanya sepatu merek Bally yang mampu dibelinya. Bisa saja ia memiliki saham di pabrik sepatu dan berganti-ganti sepatu baru setiap hari. Tetapi, ia tidak melakukan semua itu. Ia hanya menyelipkan potongan iklan sepatu Bally yang tidak terbelinya hingga akhir hayat. Bila dilihat pada kondisi sekarang, seharusnya masa lalu juga demikian, tentu hal ini merupakan sebuah tragedi.

Seorang mantan wakil presiden, orang yang menandatangani proklamasi kemerdekaan, orang yang memimpin delegasi perundingan dengan Belanda –negara yang pernah menjajahnya—hingga Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak mampu hanya untuk sekadar membeli sepasang sepatu bermerek terkenal. Meski memiliki jasa besar bagi kemerdekaan negeri ini, Bung Hatta sama sekali tidak ingin meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain atau negara.

Menurut Jacob Utama, Pemimpin Umum Harian Kompas, segala yang dilakukan Bung Hatta sudah mencerminkan bahwa dia tidak hanya jujur, namun juga uncorruptable, tidak terkorupsikan. Kejujuran hatinya membuat dia tidak rela untuk menodainya dengan melakukan tindak korupsi. Mungkin banyak masyarakat berkomentar, “Iya, lha wong sepatu Bally harganya, kan, selangit.”

Namun lagi-lagi itulah, ternyata bukan hanya sepasang sepatu itu yang tidak mampu dibeli Hatta. Barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit yang juga sudah lama didambakan sang istri. Wah, mengapa bisa begitu? Ya, tak lain karena setelah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, 1 Desember 1956, uang pensiun yang diterimanya sangat kecil. Bahkan saking kecilnya, sampai-sampai hampir sama dengan Dali, sopirnya yang digaji pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis.

Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya, karena mencekik leher. Menghadapi keadaan itu, Bung Hatta tidak putus asa. Dia semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal. Itu sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Itu dilakukan, karena sepulang dari Swedia Bung Hatta mendapati bahwa uang tersebut masih bersisa, dan dia merasa itu bukan haknya.

Sungguh mengangumkan. Apa yang dilakukan Bung Hatta adalah karena dia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara. Dalam konteks itu pula, maka Bung Hatta pun tidak berusaha bekerja di berbagai perusahaan meski sebenarnya sangat memungkinkan. Dalam pandangannya, jika dia bekerja pada perusahaan, maka citra seorang mantan wakil presiden akan runtuh. Juga, jika dia menjadi seorang konsultan, maka sebenarnya dirinya sedang terjebak ke dalam bias persaingan usaha yang sarat dengan kepentingan.

Pemikiran yang luar biasa itulah yang dijalankan oleh Bung Hatta. Bung Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Bung Hatta begitu hati-hati menggunakan kekuasaan.

Semoga melalui artikel yang diangkat dari kisah nyata dari seorang pemimpin besar bangsa ini, seorang proklamator yang turut memperjuangkan NKRI dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa, memberi kebanggaan sekaligus teladan bagi rakyat Indonesia, terutama generasi muda. Semoga melalui artikel ini, hati para pemimpin dan wakil rakyat bangsa ini dapat terketuk.

SAAT PENJUAL DAN PEMBELI SAMA-SAMA BOHONG

Penjual yang Berbohong

Suatu hari seorang ibu berbelanja di sebuah toko swalayan. Setelah memilih-milih barang dan memasukkan ke keranjang belanja, si ibu menuju ke kasir untuk membayar semua barang yang akan dibelinya. Semua lancar dan baik-baik saja hingga saat dia melihat harga di komputer yang ternyata berbeda dengan harga yang tercantum di rak. Harga di komputer lebih mahal daripada bandrol yang ada di rek barang. Si ibupun protes. Namun menurut kasir, harga barang yang valid adalah yang dikomputer. Si ibupun kecewa karena merasa dibohongi. Entahlah, apakah dalam hal ini si penjual khilaf karena lalai menyesuaikan harga di rak dan di komputer. Atau memang mereka sengaja?

Kebohongan lain yang mungkin dilakukan oleh penjual adalah dengan memanipulasi timbangan atau takaran. Beberapa penjual yang tidak jujur, mengambil keuntungan lebih dengan membohongi pembelinya. Penjual tidak jujur biasa memodifikasi timbangan mereka agar dapat mencuri berat dari pembelian. Hal ini juga sering terjadi di SPBU. Meteran pompa bensin mereka dimodifikasi agar bisa mencuri, sehingga apa yang dibayarkan pembeli lebih banyak dari yang seharusnya.

Beberapa pedagang berbohong menutup-nutupi keburukan barangnya dengan mengatakan barangnya bagus. Bahkan beberapa pedagang mencampur antara barang kualitas buruk dengan yang bagus seperti pada pedagang buah yang mencampur buah dukuh yang manis dengan yang kecut. Pembeli kemudian kecewa berat saat ternyata barang yang mereka beli tidak sesuai dengan harapan dasar mereka.

Sementara pedagang lain membohongi pembelinya dengan mengatakan kalau harga penawaran calon pembelinya itu baru modalnya dengan mengatakan, “Wah ghak bisa Pak/Bu. Harga segitu baru modal saya” walau sebenarnya modalnya jauh di bawah harga yang ditawarka. Tujuannya agar si pembeli menaikkan harga penawarannya.

Saya cukup respek dengan sebuah super market yang mencantumkan pengumuman cukup besar, yang memberikan jaminan kepastian harga yang sesuai antara rak dengan di komputer. Bahkan super market tersebut memberikan janji, bila harga yang tertera di komputer lebih mahal daripada harga yang tercantum di rak, maka produknya akan DIGRATISKAN. Entahlah. Saya juga tidak pernah berharap mereka teledor dan menggratiskan barangnya untuk saya.

Pembeli yang Berbohong

Keinginan untuk mendapatkan harga barang semurah mungkin, wajar dimiliki oleh pembeli. Biasanya pembeli akan menanyakan harga barang kemudian memberikan harga penawaran kepada penjual. B ila dalam proses akhir negosiasi terjadi kesepakatan harga, maka si pembeli melanjutkan dengan proses transaksi jual-beli.

Sayangnya, pembeli juga ada yang berbohong. Seolah-olah, halal-halal saja berbohong untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga barang. Biasanya untuk menekan harga, si pembeli akan mengatakan kepada penjual, “Wah kok mahal Mbak kaosnya? Tadi saya di toko sebelumnya dapat harga 22 ribu per buah.” Tentu saja kebohongan pembeli model begini memaksa si penjual menurunkaan harganya lagi sampai pada level yang masih tetap menguntungkan. Mengapa harus berbohong untuk mendapatkan keuntungan yang bahkan mungkin tidak seberapa.

Penutup

Sebesar dan sekuat apapun keinginan Anda untuk mendapatkan keuntungan, tetap hindari untuk tidak berbohong. Keuntungan yang kita dapatkan dari berbohong, tidak sebanding dengan runtuhnya etika dan moral kita sebagai manusia.

Al-Quran menyebut mereka yang curang dalam berdagang atau jual-beli sebagai Al-Muthaffifiin, yaitu mereka adalah orang-orang yang jika menerima takaran mereka minta ditambah dan jika mereka menimbang atau menakar mereka mengurangi.

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS. Al-Muthaffifin: 1-3) 


Bagaimana dengan Anda yang berprofesi sebagai dosen atau guru yang mengurangi hak mahasiswa atau muridnya untuk mendapatkan ilmu? Bagaimana dengan Anda yang bekerja sebagai pegawai yang mengurangi waktu kerja dari yang telah ditentukan?

Mahasuci Allah. Wallahualam Bishawab… 

Mengenal Kesyirikan dan Bahayanya

Segala puji hanyalah bagi Allah, satu-satunya Rabb yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, yang senantiasa mengajak umatnya untuk selalu mengesakan Allah dan meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sesungguhnya kesyirikan adalah dosa dan kezhaliman yang paling besar.Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa yang levelnya di bawah syirik bagi orang yang Dia kehendaki” (QS. An Nisaa : 48)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan mengatakan, “Dari ayat ini jelaslah bahwa syirik adalah dosa yang paling besar karena Allah Ta’ala menerangkan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik jika pelakunya tidak bertaubat. Hal tersebut mewajibkan hamba untuk merasa sangat takut terhadap kesyirikan. Karena kesyirikan adalah sejelek-jeleknya kejelekan, sezhalim-zhalimnya kezhaliman, merendahkan Rabb semesta alam, dan berlawanan dengan tujuan penciptaan makhluk” (Fathul Majid, hal. 75 dengan diringkas)

Maka wajib bagi seorang muslim untuk merasa takut dari kesyirikan. Dan seorang muslim yang benar-benar takut terjatuh ke dalam kesyirikan adalah seorang muslim yang mau mempelajari apa itu hakikat kesyirikan agar ia tidak terjatuh ke dalamnya. Sebagaimana ungkapa seorang penyair :
Aku mengetahui keburukan bukan untuk melakukannya,
tapi untuk menjauhinya…

Siapa yang tidak mengetahui keburukan dari kebaikan, dia akan terjatuh ke dalamnya…

Memahami Hakikat Kesyirikan 


Syirik adalah menjadikan sekutu atau tandingan bagi Allah Ta’ala dalam salah satu hak khusus Allah.(Rāsaa-il fil ‘Aqidah, hal. 434). Hak khusus Allah meliputi sifat rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan nama dan sifat-Nya.

Kesyirikan dalam Rububiyyah Allah 


Rububiyyah Allah adalah segala hal yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan Allah, semisal menghidupkan, mematikan, memberi rizki, dan mengatur alam semesta.Maka, meyakini adanya pemberi rizki dan pengatur alam semesta ini selain Allah merupakan bentuk kesyirikan dalam rububiyyah Allah.

Contohnya, meyakini adanya “dewi kesuburan” yang menjaminkesuburan tumbuh-tumbuhan ataupun adanya jin penguasa laut adalah bentuk kesyirikan dalam rububiyyah Allah karena keyakinan akan adanya pemberi rizki,pengatur, dan penguasa alam selain Allah.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kalian, memberi kalian rizki, mematikan kalian, lalu menghidupkan kalian.Apakah ada diantara mereka yang kalian jadikan sekutu bagi Allah itu mampu melakukan hal-hal tersebut?Maha suci dan maha tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS. Ar Ruum : 30)

Kesyirikan dalam Uluhiyyah Allah 


Uluhiyyah Allah adalah segala hal yang berkaitan dengan ibadah seorang hamba.Syirik dalam uluhiyyah Allah berarti mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Untuk memahami syirik jenis ini, tentu harus mengetahui apa yang dimaksud dengan ibadah itu sendiri. Telah diketahui bahwa ibadah adalah segala apa yang Allah cintai dan ridhoi baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik amalan anggota badan maupun amalan hati.

Bagaimanakah mengetahui bahwa Allah mencintai dan meridhoi suatu perbuatan?Jika Allah memerintahkan suatu perbuatan, atau menjanjikan pahala bagi yang mengerjakannya, atau memuji orang yang melakukannya, maka ini adalah tanda bahwa Allah mencintai perbuatan tersebut sehingga perbuatan tersebut termasuk ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah.

Maka, shalat, zakat, haji, berdo’a, istighotsah, rasa takut, rasa cinta, dan lainnya adalah diantara bentuk-bentuk ibadah, karena Allah memerintahkannya.Oleh karena itu, siapa yang shalat atau berdo’a kepada selain Allah, atau memiliki rasa takut dan cinta kepada seseorang sebagaimana takut dan cintanya kepada Allah, maka dia telah tergelincir dalam kesyirikan.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdo’a (beribadah) kepada apapun selain Allah disamping beribadah kepada-Nya“ (QS. Al Jin : 19). 


Kesyirikan dalam nama dan sifat Allah

Kesyirikan dalam nama dan sifat Allah 


Terjadi jika seseorang memberikan sifat kepada orang lain dengan sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah Ta’ala, seperti mensifati orang lain bahwa ia mengetahui ilmu ghaib. (Al Qaulul Mufiid fii Adillah At Tauhid, hal. 95) 

Pembagian syirik

Secara umum, syirik terbagi 2, yakni syirik besar dan syirik kecil.Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam. Syirik besar terjadi jika seseorang meyakini adanya pencipta, pengatur, dan pemberi rizki selain Allah, atau menujukan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah.Adapun syirik kecil adalah perbuatan yang ditegaskan oleh syari’at sebagai kesyirikan, atau perbuatan yang dapat menjadi perantara terjadinya syirik besar, tetapi tidak membuat pelakunya keluar dari Islam, semisal riya’, bersumpah dengan selain nama Allah, dan lainnya.

Baik yang besar maupun kecil, dosa syirik tetaplah tidak terampuni jika pelakunya belum bertaubat.Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa yang levelnya di bawah syirik bagi orang yang Dia kehendaki” (QS. An Nisa : 48). Hanya saja, pelaku syirik kecil tidak akan kekal di neraka, berbeda dengan syirik besar yang kekal di neraka.

Beberapa jenis kesyirikan 

1. Syirik dalam ucapan 


Syirik dalam ucapan adalah semua ucapan yang ditegaskan oleh syari’at Islam sebagai kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, ucapan : “seandainya bukan karena Allah dan karenamu, pastilah jadinya tidak seperti ini”, dan lainnya. Kata “dan” menunjukkan kesetaraan antara Allah dengan manusia dalam berkehendak.Maka ini tergolong syirik kecil berdasarkan dalil yang ada.Jika kalimat “seandainya bukan karena Allah dan dirimu” saja bermasalah, bagaimanakah lagi dengan kalimat “seandainya bukan karena dokter, anak saya bisa kenapa-kenapa” ?? 

2. Syirik dalam rasa cinta

Syirik dalam rasa cinta terjadi jika seseorang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana rasa cintanya kepada Allah, bahkan lebih dahsyat lagi.Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan diantara manusia ada yang menjadikan tandingan selain Allah, mereka mencintai sesembahan tersebut seperti mencintai Allah” (QS. Al Baqarah : 165)

3. Syirik dalam rasa takut 


Syirik dalam rasa takut terjadi jika seseorang takut terhadap sesuatu selain Allah –semisal jin, orang mati, atau yang lain- sebagaimana rasa takutnya kepada Allah, bahkan lebih dahsyat lagi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidakkah kamu melihat orang-orang yang dikatakan kepada mereka : ‘Tahanlah tangan-tangan kalian, dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat’. Maka ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (munafik) takut kepada manusia (musuh) sebagaimana takutnya mereka kepada Allah, bahkan lebih takut lagi” (QS. An Nisaa : 77)

4. Syirik dalam ketaatan 


Syirik dalam ketaatan terjadi jika seseorang mematuhi orang lain dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Mereka menjadikan ulama (yahudi) dan pendeta-pendetanya (nasrani) sebagai sesembahan selain Allah” (QS. At Taubah : 31). Yang dimaksud menjadikan sesembahan selain Allah pada ayat di atas adalah menaati orang lain dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan sebagaimana dalam sebuah hadits dari sahabat Adi bin Hatim Ath Thaa-i. (lihatAl Qaulul Mufiid fii Adillah At Tauhid, hal. 95-99 dengan perubahan)

Bahaya Kesyirikan 

Diantara bahaya kesyirikan adalah : 


1. Dosa syirik tidak diampuni dan pelakunya kekal di neraka jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat. 
Hal ini berdasarkan surat An Nisa : 48 yang sudah disebutkan sebelumnya. 

2. Surga diharamkan bagi orang musyrik. 
Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maa-idah : 72)

3. Kesyirikan menghapus semua amal shalih yang telah susah payah dilakukan.
Allah berfirman (yang artinya), “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (QS. Al An’am : 88) 

Penutup


Sesungguhnya mempelajari hakikat kesyirikan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari mempelajari tauhid.Dan kesyirikan ini banyak sekali jenisnya sehingga tidaklah mungkin dituangkan sepenuhnya dalam tulisan ringkas ini padahal bahayanya sangatlah besar.Maka seorang muslim hendaknya mengetahui bahaya kesyirikan ini dan mempelajari hakikat dan jenis-jenisnya agar tidak terjerumus ke dalamnya.

Syaikh Muhammad At Tamimi mengatakan, “Jika engkau sudah tahu bahwa kesyirikan jika mencampuriibadah, maka akan merusaknya, menghapus amal shalih, dan membuat orangyang melakukannya menjadi golongan orang-orang yang kekal di dalamneraka, maka engkau akan tahu bahwa yang paling penting bagimu adalah mengenalkesyirikan tersebut (agar terhindar darinya)” (lihat Al Qawa’id Al Arba’)

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari perangkap kesyirikan.Wallahu a’lam.