aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Selasa, 02 Juli 2013

Motivasi, Komitmen dan Konsistensi

Setiap orang dalam hidupnya memiliki jatah waktu yang sama. 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Tidak ada orang yang memiliki waktu lebih dari itu. Yang membedakan adalah umur, yang telah digariskan oleh Sang Penciptanya.

Walaupun memiliki waktu yang sama, tidak semuanya bisa memanfaatkan waktu tersebut dengan maksimal. Ada yang berhasil memanfaatkan waktu untuk menghasilkan karya terbaik, tetapi ada juga yang sama sekali belum bisa menghasilkan karya terbaik. Apa yang membedakannya?

Yang pertama adalah motivasi untuk menghasilkan karya terbaik itu berbeda bagi setiap orang. Tidak semua orang memiliki motivasi untuk mebuat karya terbaik dan berhasil. Padahal motivasi adalah awal dari segala keberhasilan yang bisa kita capai. Orang dengan motivasi yang tinggi, berarti pantang menyerah, tidak kenal lelah. Orang seperti ini cenderung bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan efisien. Dalam 1 hari, bisa membagi waktu untuk mengerjakan karya terbaik. Tidak harus 24 jam untuk bekerja, tetapi membagi dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga dan masyarakat sekitar. Dengan itu semua niscaya karya terbaik bisa dengan mudah didapatkan.

Orang dengan motivasi ala kadarnya cenderung malas ketika mengerjakan sesuatu. Mereka cukup puas dengan hasil ala ladarnya. Bahkan sering menunda pekerjaan untuk sesuatu yang tidak penting. Tidak ada keseimbangan antara bekerja, bermain, maupun keluarga dan masyarakat. Hasilnya karya yang dihasilkan pun ala kadarnya saja.

Yang kedua adalah komitmen. Komitmen berasal dari motivasi yang terus menerus dijaga dilevel tertinggi. Komitmen berbanding lurus dengan efektivitas waktu yang kita miliki. Ketika kita berkomitmen untuk menghasilkan karya terbaik, efektivitas waktu adalah syaratnya. Tidak ada kata malas, tidak ada kata tidak memiliki waktu. Komitmen untuk mengatur waktu membuat kita bisa memilih apa yang harus dikerjakan saat ini dan mana yang bisa diundur untuk sementara. Supaya karya terbaik bisa kita hasilkan.

Yang ketiga atau terakhir adalah konsistensi. Motivasi dan komitmen harus terus dipupuk dan dijaga supaya tetap bisa maksimal. Konsisten berarti disiplin terhadap waktu yang telah ditetapkan dari awal. Tidak berarti harus selalu melakukan sesuatu sesuai rencana walau apapun yang terjadi, tetapi lebih ke fokus ke tujuan semula. Tidak masalah berbeda dari rencana awal, asalkan hasil yang diraih lebih maksimal. Terkadang harus mundur 1 langkah supaya bisa maju 3 langkah.

Motivasi, komitmen dan konsistensi, tiga hal yang membedakan keberhasilan seseorang. Tentu saja keberhasilan tidak hanya sekedar menjadi kaya dan banyak materi. Karya terbaik bukan yang menghasilkan banyak uang atau banyaknya orang yang kagum terhadapnya. Tetapi juga hal hal kecil yang membuat kita lebih berkembang menjadi lebih baik adalah salah satu bentuk keberhasilan juga. Karya terbaik dihasilkan ketika motivasi, komitmen dan konsistensi bergabung menjadi satu kesatuan.

Orang-orang dengan motivasi dan komitmen tinggi dan konsisten bisa membagi waktu dengan baik. Seimbang antara pekerjaan dan keluarga serta masyarakat. Orang-orang dengan motivasi rendah, komitmen yang lemah dan tidak konsisten tidak bisa membagi waktu dengan baik.

Itulah yang membedakan kondisi seseorang dengan dan tanpa karya terbaik. Buat kita semua yang masih belum bisa menghasilkan karya terbaik, silahkan teliti ulang motivasi, komitmen dan konsistensi kita dalam kehidupan. Mungkin kita perlu mereset kembali sebelum beraktivitas sehari hari. Karena kita punya waktu yang sama dengan orang lain. Jika mereka bisa, kita juga pasti bisa. Kuncinya ada di Motivasi, komitmen dan konsistensi.

Guru Empati Siswa Simpati

Salah satu elemen terpenting dari sebuah penemuan sebagai cikal bakal terbentuknya ilmu pengetahuan jika seseorang memiliki keberanian untuk bertanya ,seperti apa ini,mengapa begitu ,bagaimana caranya dsb. Demikian juga pembelajaran yang efektif jika dapat merangsang rasa ingin tahu sisa untuk mengksplorasi,menggalai lebih dalam serta tercapainya tingkat ketahanan mlalui aktivitas bertanya para peserta didik .namun tidak jarang sisa tidak memiliki kebaranian bertanya...?

Ketidak beranian bertanya sisa bisa disebabkan macam macam diantaranya disebabkan dari dalam diri seperti tidak terbiasa bertanya,takut salah ,takut ditertawakan,takut dianggap bodoh dsb .Sedangkan yang disebabkan oleh luar dirinya adalah perilaku pendidik seperti pernyataan berikut ini:

· Bukankah pertanyaanmu itu tadi sudah ditanyakan oleh temanmu..?
· Pertanyaanmu tidak bermutu..?
· Pertanyaanmu sudah terjawab melalui pertanyaan mu tadi..?
· Sudah nggak usah tanya macam macam ...?dsb 


Pernyataan seperti ini membuat siswa enggan untuk bertanya atau bahkan memilih diam daripada kena damprat walaupun sebenarnya dirinya tidak mengerti sama sekali dengan mata pelajaran yang sedang dan sudah dijelaskan.

“ if your student are afraid to disgree with you ,you lose out on their knowledge and creativity “.  

Seorang pendidik harus berusaha agar sisa tetap memiliki rasa percaya diri saat mengikuti kegiatan pembelajaran ,bahkan semestinya dapat menghargai setiap keunikan anak didik termasuk dalam hak untuk bertanya dari seorang siswa,agar terjadi suasana bertanya dari peserta didik ,mulailah dengan sedikit menceritakan atau memutarkan sebuah video pembelajaran yang relevan dengan materi yang akan dibahas ( maksimal 7menit ) ,kemudian amati ketertarikan dan minat sisa selanjutnya berikan pertanyaan kepada mereka “Seperti apa pendapatmu tentang tayangan tadi...?”

Sebagai guru harus dapat menyesuaikan diri dengan perilaku belajar siswa termasuk jangan memberondong siswa dengan aneka ceramah tentang pengetahuan sebagai guru atas materi yang anda anggap sebagai satu satunya sumber belajar ,padahal saat ini sumber belajar sisa sangat beragam dari berbagai media.

Jika mendaptkan perbedaan pendapat dengan sisa tetaplah hargai pribadi sisa dengan mengucapkan “pendapat kamu baik ,saya sendiri baru tahu tentang pertanyatanmu tadi ,terima kasih,kira kira bisakah kamu bantu dari mana sumber pengetahuan itu kamu dapat...?

Pengalaman yang menyenangkan pada diri siswa itu cenderung mendorong siswa untuk membantu anda dalam mendapatkan jawaban bagi peserta didik yang lain,sekaligus sisa akan merasa percaya diri untuk mengajukan pernyataan maupun pertanyaan sebagai bagian dari kegiatan belajarnya.Disamping bagi siswa lain setiap kata dan tindakan anda akan mendtangkan rasa hormat dan minat yang tinggi terhadapkegiatan pembalajaran yang anda selenggarakan.

Nabi SAW bersabda ; “ tiga perkara yang dapat mensucikan kecintaan teman anda kepada anda yaitu; anda memberi salam lebih dahulu jika bertemu dengannya,anda lapangkan tempat duduknya dan anda panggil dengan nama kesukaannya”

Strategi Pembelajaran Yang Lebih Bermakna (Kurikulum 2013)

  Seorang guru saat ini tidak hanya dituntut bisa berceramah didepan kelas dan mencapai “target” kurikulum saja tetapi juga harus memahami makna membelajarkan serta mendidik siswa.. Makna membelajarkan dan mendidik siswa harus diwujudkan dalam perencanaan,tujuan dan strategi pencapaian kegiatan belajar mengajar.

Ibarat semua pohon pembelajaran adalah proses membangkitkan potensi tumbuh kembang peserta didik...! 

Perencanaan bukan sekedar penyusunan rencana pembelajaran yang bersifat administrasi melainkan semuah imajinasi guru yang diwujudkan dalam perencanaan untuk menentukan materi apa yang akan diajarkan kepada siswa sesuai “kebutuhannya”. 


Tujuan pembelajaran bukan sekedar menghabiskan materi pelajaran yang terdapat dalam buku paket ,melainkan mulai mengukur seberapa besar pencapaian daya serap siswa dalam menyerap materi yang diajarkan.

Sedangkan strategi pembelajaran meliputi kepekaan guru dalam menggunakan metode yang tepat agar efektif sesuai dengan perilaku dan gaya belajar siswa.Perencanaan pembelajaran adalah merupakan kewajiban guru .Tujuan pembelajaran diperuntukkan kepentingan terbaik siswa ,sedangkan Strategi Pembelajaran merupakan kompetensi seorang professional dan kompetensi pedagogic seorang guru.

Mulai dari perencanaan tujuan dan strategi pembelajaran semestinya dapat mempengaruhi ranah kognitif ,afektif ,psikomotor dan spiritulitas peserta didik.Mempengaruhi kogintif siswa artinya bersifat memperkuat pemahaman atas ilmu yang dipelajarinya secara realistis dan logis,mempengaruhi ranah afektif artinya dapat mengasah sisi emosi dan empati siswa sekaligus membuat siswa menjadi senang dan bersemangat dalam belajar, mempengaruhi secara psikomotor artinya siswa memiliki ketrampilan dalam menjalani hidup sesuai dengan perkembangan nya, mempengaruhi secara sipiritulitas artinya membuat siswa semakin meyakini kebesaran Tuhan lantaran ilmu yang dipelajarinya.

Jika perencanaan pembelajaran cuma untuk membuat siswa hafal atau mendapatkan nilai bagus anda hanya baru menyentuh kognisi siswa ,anda adalah guru yang sekedar mengajar. Tetapi kalau anda sebagai guru dapat menyentuh sisi empati dan meningkatkan keterampilan siswa maka anda guru yang sudah menjadi inspirasi siswa .Namun apabila anda dapat meningkatkan akhlak dan keimanan siswa anda adalah guru yang memberi teladan spiritulitas kepada siswa.

Tujuan pembelajaran anda bukan sekedar membuat siswa hafal materi yang diajarkan namun terlebih dari itu membuat siswa memahami dan selanjutnya dapat meningkatkan rasa ingin tahu nya untuk belajar lebih luas dan lebih dalam secara berkesinambungan sehingga dapat meraih prestasi dan daya saing.Karena itu tujuan pembelajaran harus anda desain agar siswa memiliki keterampilan diri dalam disiplin belajar sekaligus memiliki motivasi belajar yang tinggi secara berkesinambungan.

Strategi pembelajaran semestinya menjadi “kepribadian” anda dalam melakukan kegiatan belajar belajar. sehingga.Pada ranah kognitif siswa ingin menjadi lebih baik dalam penguasaan materi pelajaran ,nilai angka akademik dan berprestasi.Pada sisi afeksi dan pikomotor siswa dapat membuat siswa menjadi suka bangga dan bermakna saat belajar bersama anda sehingga siswa memiliki rasa percaya diri karena dapat mengenali potensi “keberbakatannya”.

Pada akhirnya sebagai guru yang dapat membangun ranah spiritulitasnya dapat diwujudkan dengan membuat siwa berupaya agar dapat memberikan manfaat kepada lingkungan dan orang lain. Sehingga menghasilkan budaya meneliti dan kreatif produktif menyelesaikan persoalan dan memberikan solusi dari persoalan hidup disekitarnya.

Bagaimana agar siswa merasa bermakna dalam kegiatan pembelajarannya tergantuung bagaimana anda sebagai guru mengahayati makna mendidik dan membelajarkan siswa…?

Jumat, 21 Juni 2013

Nasehat Untuk Putriku

Wahai putriku, aku masih teringat masa kecilmu, tampak kepolosanmu tanpa dosa. Terlintas dibenakku sebuah makna tanggung jawab. Dirimu pun akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Dan tanpa terasa engkau telah di ambang kedewasaan. Tergugah kesadaranku bahwa tiba-tba dirimu dalam suasana yang amat menghawatirkan. Engkau berada pada zaman kejayayan iblis dan bagundal-bagundalnya dari bangsa manusia yang setiap saat siap hancurkanmu dengan segala yang dimilikinya. Zaman dengan budayanya dan zaman dengan pelaku-pelakunya.

Maafkan aku dan mohonkan aku ampun kepada Allah jika ternyata aku pun kurang serius memperhatikanmu. Aku telah lalai membekalimu hal-hal yang amat kau butuhkan kelak di akhirat. Aku jarang memperkenalkanmu kepada Allah dan Rasulullah SAW. Sekolah yang aku pilihkan untukmu hanya sekolah yang menghantarmu berbangga dengan dunia tanpa aku imbangi dengan pendidikan agama, yang sebenarnya lebih engkau butuhkan. Bahkan, Aku sering sodorkan padamu hal-hal yang membahayakanmu. Aku telah memasukkan pesan dan bisikan musuh-musuhmu ke rumahmu. Aku telah hadirkan dalam kehidupanmu potret moral yang busuk melalui layar televisi yang kau nikmati setiap saat. Aku pun telah membakalimu dengan handphone kontrol iblis yang senantiasa menyertaimu yang sebenarnya justru menyulitkanku untuk mengawasimu. Bahkan aku pun sering tidak peduli dengan perkembangan akhlakmu setiap saat. Aku hanya memikirkan kebutuhan lahirmu, makan, minum, baju dan tempat tinggal. Sementara kebutuhan hati dan jiwamu yang menghantarmu ke dalam kebahagiaan dalam keabadian di akhirat tidak pernah aku pikirkan. Bahkan kadang baju yang kubelikan pun baju yang mengundang nafsu pengikut iblis. Aku sering menjadi orang dungu yang hanya bisa bengong melihat dirimu berdandan untuk membangkitkan hawa nafsu budak iblis. Kecemburuanku kadang hilang dan menjadikan diriku kurang berarti bagimu. 


Wahai putriku bantulah aku untuk mengembalikan kemuliaan pada dirimu. Maafkan aku jika saat ini aku berbeda dengan hari yang lalu. Kemarin aku lemah dan dungu yang amat membahayakanmu. Dan hari ini aku telah menyadari bahwa aku harus meninggalkan kedunguan dan kelemahanku demi kemulyaan dan kejayaanmu kelak diakhirat.

Aku tidak ingin disebut tolol dan dungu dengan pendidikanmu yang tidak membawa keselamatanmu di akhirat. Aku tidak mau di bilang bodoh melihat pakainnmu yang separoh hati kau kenakan, sebagian badanmu tertutup dan sebagian lagi terbuka. Aku tidak ingin kau dihinakan oleh mata jalang hamba hawa nafsu. Maka perhatiakan bahwa dirimu harus kau mulyakan. Berdandanlah dengan dandanan yang berwibawa dihadapan perampok-peramopok kehormatan. Jadikanlah mereka takut mendekatimu dan jera jika mereka berusaha menjailimu. Jangan kau rendahkan dirimu dengan kau umbar tubuhmu disana sini. Sebab jika dirimu tidak bisa menghargai dirimu sendiri maka orang lainpun tidak menghargaimu.

Kemulyaanmu wahai putriku pada kepribadianmu. Jika engkau berwibawa dan mulya maka lelaki jalang hamba hawa nafsupun akan enggan mendekatimu. Senyummu amat mahal jangan kau berikan kepada semua orang sebab tidak semua orang tahu nilai senyummu. Suaramu pun adalah nilai dirimu. Jangan bersuara yang mengundang nafsu di hadapan bagundal iblis sehingga mereka meremehkanmu. Telah banyak gadis-gadis seumurmu telah direndahkan oleh mereka. Lihatlah di sekitarmu, anak gadis sebaya denganmu telah tenggelam dalam kenistaan. Harga dirinya telah digadaikan dengan karir dan ketenaran..

Putriku, Sungguh itulah bahasa cinta dan kasihku yang engkau butuhkan saat ini.Aku sadar bahwa engkau saat ini sudah tidak butuh orang tua yang hanya bisa memanjamu. Akan tetapi saat ini engkau butuh orang tua yang mendidikmu dan menuntunmu kepada kemulyaan.

Jangan heran jika aku kadang cerewet wahai putriku dan songsonglah masa depanmu dengan kemulyaan. Wallahu a’lam bishshowab ...

Janganlah Kita Menjadi Utusan Setan

Maula (mantan budak) Al-FadhL berkata: “Aku pernah duduk bersama Wahb bin Munabbih (seorang ulama tabi’in) rahimahullah, lalu ada seorang laki-laki yang mendatanginya dan mengatakan kepadanya; “Sesungguhnya aku pernah bertemu si Fulan. Ia mencaci-makimu.” Maka Wahb bin Munabbih rahimahullah marah kepada orang yang membawa berita buruk itu seraya berkata; “Apakah setan sudah tidak mendapatkan seorang utusan pun selainmu?”

Maula Al-FadhL berkata: “Tatkala aku masih duduk di majlis Wahb bin Munabbih rahimahullah, tiba-tiba orang yang mencaci makinya datang menemuinya, lalu ia mengucapkan salam kepada Wahb bin Munabbih. Maka Wahb pun menjawab salamnya, lalu beliau menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengannya, dan menyuruhnya agar duduk di sampingnya.” (Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Al-Hafizh Ibnu Katsir IX/276).

Subhanallah, betapa mulia dan bijaknya Wahb bin Munabbih rahimahullahtersebut , ia tetap bersikap tenang, sabar dan berlapang dada, dan tidak mudah percaya dan esmosi karena terpengaruh dengan berita buruk yang disampaikan seseorang kepada dirinya.

Oleh karenanya, kita pun sebagai seorang muslim dan muslimah yang mendambakan persatuan, perdamaian dan keselamatan di dunia dan akhirat, hendaknya bersikap seperti Wahb bin Munabbih ketika mendengar berita-berita buruk, berupa fitnah, tuduhan dusta, cacian, dan semisalnya yang ditujukan kepada diri kita maupun kepada saudara kita yang disampaikan oleh seseorang. Karena bisa jadi motiv dari penyampain berita buruk itu karena ingin mengadu domba diantara kita, atau karena adanya kedengkian atas suatu nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita berupa ilmu, harta, kesuksesan, kedudukan yang tinggi, dan sebagainya. Apalagi jika suadara kita yang digunjing dan difitnah tersebut dikenal baik kwalitas agama dan akhlaknya, maka janganlah kita mudah terpancing untuk marah dan membalasnya dengan keburukan karena percaya dan terpengaruh oleh penyampai berita tersebut. Tetapi hendaknya kita bersikap tenang, sabar, lapang dada, tabayyun (meneliti n mencari kejelasan atau bukti kebenaran berita tersebut).

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasiq dengan membawa suatu berita, maka ambillah sikap tabayyun (mencari kejelasan dan bukti kebenaran berita tersebut) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Sikap mulia, hati-hati, sabar dan lapang dada sebagaimana yang dilakukan Wahb bin Munabbih rahimahullah ini bisa menutup rapat pintu-pintu perpecahan dan permusuhan diantara kaum muslimin, serta dapat memadamkan api kebencian dan kedengkian di dalam hati manusia. Karena setan terlaknat tiada henti-hentinya dalam berupaya menyebarkan benih-benih kedengkian, perpecahan dan permusuhan diantara umat manusia secara umum, dan diantara kaum muslimin secara khusus.

Orang yang hobinya suka mendengarkan berita-berita buruk tentang seseorang lalu dia menyampaikannya kepada saudaranya yang digunjing tersebut, maka dia adalah salah satu UTUSAN SETAN yang diutus untuk mengadu domba dan menimbulkan perpecahan dan permusuhan diantara manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Wahb bin Munabbih rahimahullah.

Jika Kejujuran Tidak Lagi Menjadi Panglima

Menanamkan Sifat Jujur 

Salah satu ajaran penting dalam Islam tentang hidup adalah tentang kejujuran. Jujur adalah suatu sikap yang harus ada pada setiap orang yang beriman. Al-Qur’an mengatakan: 


Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (Q, s. al-Taubah / 9:119) 

Jujur terdapat dalam ucapan dan dalam perbuatan. Jujur dalam ucapan adalah Anda mengatakan sesuatu sesuai dengan apa yang terbetik dalam benak Anda. Atau Anda mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Orang yang jujur dalam perkataannya maka ia akan berpikir dan menimbangnya sebelum mengatakannya, apakah sesuai atau tidak. Ia tidak akan mengatakan sesuatu tanpa dasar ilmu dan informasi yang akurat. Jika ia mengatakan tentang sesuatu yang telah lalu, ia akan mengatakannya dengan benar, dan jika ia ingin mengatakan apa yang diniatkan oleh hatinya, ia akan mengatakannya sesuai niatnya itu. Jika berjanji maka janji itu disertai dengan niat dan usaha untuk menepatinya. Ia juga tidak akan menanyakan sesuatu yang ia sendiri sebetulnya sudah mengetahuinya.

Jujur dalam perbuatan adalah Anda melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dalam hati dan niat Anda. Orang yang jujur dalam berbuat adalah orang yang ikhlas, yaitu yang perbuatannya semata-mata untuk mencari ridha Allah dan untuk tujuan kemaslahatan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Jujur dalam perbuatan artinya Anda tidak bersikap munafik dan riya’. Orang munafik dan orang riya’ adalah yang perbuatannya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya.

Misalnya, seorang staff mengunjungi atasannya atau membesuknya ketika sakit, tetapi tujuannya untuk mencari muka di mata atasannya, maka ia tidak jujur. Seorang mahasiswa yang menghormati dosennya dengan niat supaya mendapat nilai yang baik, juga bukan tindakan yang jujur. Karena menghormati guru adalah perbuatan yang semestinya dilakukan oleh seorang murid. Seorang calon bupati atau gubernur, bahkan presiden sekalipun yang membagikan uang untuk menarik simpati rakyat, maka itu bukan sebuah kejujuran. Simpati rakyat tidak diperoleh dengan uang, melainkan dengan komitmen, ketulusan, dedikasi, kepemimpinan dan al-akhlāk al-karīmah. Jujur adalah satunya kata dan perbuatan. Orang yang antara kata dan perbuatannya tidak sama, disebut orang munafik, yang akan menanggung dosa besar di mata Allah. 


Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. (Q, s. as-Shaff / 61:2-3)  


Sikap jujur menyebabkan hati menjadi tenang, karena sebuah kejujuran tidak akan menanggung beban. Sekali orang berbohong maka selamanya ia harus menutupi kebohongannya itu. Orang jahat, maka ia akan disibukkan oleh kejahatannya sendiri, karena setiap saat ia harus menyembunyikan kejahatannya itu agar tidak diketahui orang lain. Kata Nabi: 


Tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu, dan beralihlah kepada sesuatu yang tidak membuatmu ragu. Sesungguhnya kejujuran itu (membuatmu) tenang, dan kebohongan itu (membuatmu) ragu-ragu. (HR. Tirmidzi)

Sebuah kejujuran mahal harganya, lebih mahal daripada ilmu. Jika kebetulan Anda berkedudukan sebagai manajer sebuah perusahaan, mana yang akan Anda utamakan: karyawan yang jujur atau karyawan yang profesional? (umumnya jawabannya adalah yang jujur dan profesional). Jika Anda diharuskan untuk memilih diantara dua orang untuk dijadikan teman hidup, maka siapakah yang akan Anda pilih: yang jujur atau yang pandai? Maka, ada sebuah ungkapan yang mengatakan:  

“Lebih baik seorang yang jujur meskipun bodoh daripada seorang yang jahat meskipun berilmu”. Atau “Lebih baik seorang yang bodoh tapi jujur daripada seorang pandai tapi jahat”. 
Di dalam sebuah perusahaan karyawan yang tidak jujur akan merusak sistem internal dan menjadi pangkal dari kebangkrutan perusahaan tersebut. Perahu Republik Indonesia –kata orang hampir tenggelam bukan disebabkan kekurangan orang-orang yang cerdik-pandai, melainkan disebabkan karena kejujuran tidak lagi menjadi panglima bagi para pengelola negeri ini.

Itulah hakekat sebuah kejujuran. Jujur adalah suatu sikap yang akan mengantarkan pelakunya kepada kebaikan.

Hendaknya kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan kalian kepada kebajikan. Dan kebajikan itu menunjukkan kalian jalan ke surga. (HR. Muslim)  

Bagi orang mukmin, rasa-rasanya tidak sulit menjadi orang jujur !

Kamis, 20 Juni 2013

Daftar Harga Buku Murah Kurikulum 2013 Versi Mendikbud M Nuh

Kurikulum 2013 sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, karena anggarannya sempat naik turun sebelum disahkan Rabu 29 Mei lalu. Tidak hanya finansial, penolakan juga datang dari segi isi di mana guru kesulitan menerapkan kurikulum baru itu.

Sementara itu, berkaca pada kejadian diundurnya jadwal Ujian Nasional di 11 daerah, membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh tidak ingin kecolongan lagi. Nuh pun menegaskan sudah mempersiapkan segalanya dengan baik.

Salah satu yang sudah dipersiapkan adalah tender percetakan buku. Tidak main-main, Nuh mengatakan sudah melakukan survei harga pasar buku-buku pendidikan.

"Saya sudah survei, dan ini salah satu alasan ada kelompok tertentu yang menolak kurikulum baru," ujar Nuh di ruangannya beberapa waktu lalu kepada Liputan6.com.

Menurut Nuh, kelompok yang menolak karena mereka tidak setuju dengan kebijakan kurikulum baru yang memberikan buku-buku pelajaran secara gratis. "Buku hasil survei pasar itu harganya bisa 2 atau 3 kali lipat (lebih mahal) dari harga buku yang kami cetak," katanya.

"Saya sudah sampaikan laporan ini ke Pak Presiden," tambah Nuh.

Berikut perbandingan harga buku kurikulum 2013 dan harga survei pasar:

1. Buku Tematik Diriku (Kelas 1)
Kurikulum 2013: Rp 7.392 (112 halaman)
Survei pasar: Rp 32.000 (111 halaman)

2. Tematik Keluargaku (Kelas 1)
Kurikulum 2013: Rp 7.392 (112 halaman)
Survei pasar: Rp 32.000 (111 halaman)

3. Matematika (Kelas VII)
Kurikulum 2013: Rp 24.288 (368 halaman)
Survei pasar: Rp 52.000 (247 halaman)

4. Bahasa Indonesia (Kelas VII)
Kurikulum 2013: Rp 15.840 (240 halaman)
Survei pasar: Rp 68.000 (245 halaman)

5. Agama Islam (Kelas VII)
Kurikulum 2013: Rp 11.616 (176 halaman)
Survei pasar: Rp 48.000 (193 halaman)

6. Bahasa Inggris (Kelas VII)
Kurikulum 2013: Rp 12.672 (192 halaman)
Survei pasar: Rp 52.000 (202 halaman)

7. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (Kelas VII)
Kurikulum 2013: Rp 11.616 (256 halaman)
Survei pasar: Rp 38.000 (210 halaman)

8.Seni Budaya (Kelas VII)
Kurikulum 2013: Rp 11.616 (176 halaman)
Survei pasar: Rp 53.000 (166 halaman)

9. PPKN (Kelas VII)
Kurikulum 2013: Rp 9.504 (144 halaman)
Survei pasar: Rp 42.000 (330 halaman)

10. Matematika (Kelas X)
Kurikulum 2013: Rp 26.400 (400 halaman)
Survei pasar: Rp 131.000 (355 halaman)

11. Bahasa Indonesia (Kelas X)
Kurikulum 2013: Rp 16.896 (256 halaman)
Survei pasar: Rp 44.000 (143 halaman)

Akses Buku Pegangan Kurikulum 2013

Dalam implementasi Kurikulum 2013 ini pemerintah akan mencetak buku dan membagikan secara gratis, sebanyak jumlah peserta didik sasaran implementasi. Buku pegangan terdiri dari buku peganganuntuk siswa dan buku pegangan guru dan naskah buku-buku tersebut telah selesai.

Untuk jenjang SD kelas 1 akan disiapkan sebanyak 10 buku untuk dua semester. Untuk kelas 1 ada sebanyak delapan buku tema ditambah dengan buku agama. Namun, buku yang dicetak saat ini baru untuk semester 1 sebanyak 5 buku masing-masing terdiri atas satu buku agama dan empat buku tema.

Adapun buku untuk jenjang SMP meliputi agama, PKN, bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya, prakarya, bahasa Inggris, serta pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan. 


Sementara untuk jenjang SMA ada sembilan mata pelajaran yang wajib, tetapi yang dicetak baru tiga mata pelajaran yaitu sejarah, bahasa Indonesia, dan matematika.

Mengenai Dokumen Kurikulum 2013, Kepala Unit Implementasi Kurikulum Pusat Kemdikbud mengatakan bahwa segera setelah ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dapat dipublikasikan ke masyarakat luas. Standar Isi sudah ditandatangani BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan), dokumen Kurikulum 2013 segera akan dipublikasikan setelah ditandatangani.

Beberapa sekolah sudah dipilih dan ditunjuk untuk melaksanakan dan menerapkan kurikulum 2013. Segala kelengkapan untuk implementasi kurikulum 2013 sudah dipersiapkan pemerintah termasuk Buku Pegangan Kurikulum 2013. Buku Pegangan Kurikulum 2013 ini nantinya buku kurikulum 2013 dapat juga diakses melalui laman Rumah Belajar dengan alamat http://belajar.kemdikbud.go.id.

Menurut Kemdikbud, naskah buku pegangan sudah siap, setelah nanti diserahkan ke percetakan, akan dipublikasikan juga di Rumah Belajar.

Demikian informasi perkembangan Implementasi Kurikulum 2013 tentang buku pegangan kurikulum 2013, kita tunggu saja sampai buku pelajaran kurikulum 2013 dapat diakses melalui Rumah Belajar, dan semoga Kurikulum 2013 dapat berjalan sesuai rencana.
Reff

Senin, 17 Juni 2013

Isra’ Mi’raj: Inspirasi Mengintegrasikan Sains dalam Aqidah dan Ibadah


Isra’ Mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian Isra’ Mi’raj. Namun, Isra’ Mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’ Mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah. 

Mari kita mendudukkan masalah Isra’ Mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan Isra’ Mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan Isra’ Mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.
Kisah dalam Al Qur’an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang Isra’: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang Mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18: “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul Muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana Sidratul Muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan Mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang shahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan Buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau.”
Dengan Buraq pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari Sidratul Muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu’min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa Isra’ Mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al Qur’an. Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al Qur’an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi ‘tujuh langit’ lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ Mi’raj? Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah Isra’ Mi’raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ Mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ Mi’raj adalah mu’jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu
Isra’ Mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, IPTEK tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ Mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “Buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak dibatas oleh ruang.
Rasulullah bersama jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks istra’ Mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.
Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra’ Mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa Isra’ Mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat Isra’ Mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ektra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ Mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikhotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain Isra’ Mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting Isra’ Mi’raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan Mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenonema cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua ummat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ Mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ada ketentraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fithri, shalat hari raya, shaum di bulan Syawal, shaum Arafah)
Isra’ Mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.
Prof. DR. Thomas Djamaluddin

5 Pilar Syukur

Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah syukur adalah terlihatnya tanda-tanda nikmat Allah pada lidah hamba-Nya dalam bentuk pujian, dalam hatinya dalam bentuk cinta kepada-Nya, dan pada organ tubuh dalam bentuk taat dan tunduk kepada-Nya. Dalam definisi syukur ini terkandung tiga unsur, yaitu: pujian lisan, cinta dalam hati dan ketaatan dalam perbuatan.

Syukur sejatinya tidak menambah apapun kepada pelakunya melainkan kenikmatan dan kebahagiaan. Dengan bersyukur, manusia menjadi lebih berbahagia dan menjadi lebih bertambah nikmatnya. Syukur dengan demikian, memiliki korelasi positif dengan kesuksesan.

Pada tahun 1998, Profesor Emmons mulai mengkaji tentang syukur. Profesor Emmons melibatkan para mahasiswanya dalam penelitiannya tentang syukur. Saat itu, sang profesor menyuruh sebagian dari para mahasiswa tersebut untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka berkeluh kesah (galau).

Apa yang terjadi? Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.

Itulah fakta ilmiah yang mengungkap rahasia bersyukur. Bahwa diantara dampak bersyukur adalah meningkatnya kesehatan jiwa-raga dan membaiknya hubungan kemasyarakatan. Artinya, dengan bersyukur, bertambahlah nikmat. Dengan bersyukur, semakin dekatlah seseorang dengan kesuksesan. Penelitian ini sangat sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7).

Bagaimana memperkuat rasa syukur kepada Allah? Ada 5 pilar untuk memperkuat rasa syukur:

1. Sadar, Syukur, Cinta, Tunduk Sujud
Inspirasi: Wahyu pertama Al Qur’an : ..Bacalah..

Wahyu pertama Al Qur’an : “Iqra’” bacalah, menjadi inspirasi pilar pertama ini. Tidak ada agama lain yang wahyu pertamanya adalah Iqra’ – bacalah. Wahyu ini memberikan inspirasi kepada kita bahwa “Iqra” harus menjadi kerangka awal dalam kehidupan kita. Demikian pula, syukur itu dimulai dari membaca. Membaca, menyadari nikmat-nikmat Allah.

Dan lihatlah, surat Al-Alaq itu diakhiri dengan ayat “wasjud waqtarib.” Bahwa proses membaca, kesadaran, itu akan berujung kepada tunduk sujud dan semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.


2. Komitmen , membumikan dan membuka syukur
Inspirasi : Surat Pertama Al Qur’an : Al Fatihah ..Pembuka sukses

Jika orangtua ingin menekankan sesuatu pada anaknya dan supaya anaknya melakukan sesuatu itu, biasanya ia akan mengulang-ulangnya. “Nak, bergaul yang baik ya dengan teman-teman.” Besuknya lagi, sebelum anak berangkat sekolah orangtua juga berpesan: . “Nak, bergaul yang baik ya dengan teman-teman.” Itu pesan yang artinya sangat penting agar anak bergaul dengan temannya secara baik.

Surat Al Fatihah disebut sebagai sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) karena ia selalu kita baca dalam shalat, berulang-ulang. Setidaknya, 17 kali kita baca dalam 17 rakaat shalat lima waktu. Artinya apa? Allah berkeinginan kita berkomitmen menjalankan pesan Al Fatihah. Al Fatihah membuka jalan sukses dan Rumus Sukses, menjadi komitmen hidup.

Di dalam surat yang terdiri dari 7 ayat itu ada 7 rumus sukses, yakni visi, potensi, peluang, motivasi, misi, strategi, dan gerak. Insya Allah akan dipaparkan dalam artikel tersendiri.

3. Perilaku Syukur
Inspirasi : urutan 114 Surat Al Quran : Menang dalam perjalanan kehidupan

Urutan surat dalam Al Qur’an itu sungguh ajaib. Dan semestinya, seperti itulah kehidupan kita. Bahwa langkah awal menjalani perilaku hidup (Qur’an) dengan Taqwa, Kemenangan didapat karena pertolongan Allah (An Nasr), dalam keihklasan Surat Al ihklas.

4. Menjaga syukur (agar terus selamat dan sukses)
Inspirasi : Surat terakhir yaitu Al Falaq + An Nas : Penutup, berlindung

Agar syukur tetap dapat dipertahankan dan menjadi nilai hidup kita, dan dengan demikian kita mendapatkan kesuksesan, kita perlu berlindung kepada Allah. Menjaga syukur itu dengan perlindungan total kepada Allah.

Hal yang menarik dari surat Al Falaq dan An Nasa adalah, jika kita menghadapi bahaya/ancaman dari luar seperti kejahatan makhluk dan sihir, cukup digunakan satu ayat “Rabb”. Tetapi jika kita berlindung dari syetan, yang merupakan godaan yang mengincar kita kapan saja di mana saja dan tanpa bisa dibentengi, Allah menyebut tiga ayat: Rabb, Malik, dan Ilah dalam tiga ayat pertama berturut-turut.

5. Meningkatkan Syukur, kebaikan yang berkelanjutan
Inspirasi : Wahyu terakhir : Menyempurnakan sukses

Syukur harus tetap dijaga hingga titik akhir. Akhir kehidupan manusia harus ditutup dengan kebaikan. Wahyu mengajarkan, ayat yang terakhir turun adalah surat Al Maidah ayat 5 yang menunjukkan telah sempurnanya Islam. Demikian pula hidup kita, syukur harus dijaga hingga akhir, hidup harus ditutup dengan kesuksesan.
Source : www.bersamadakwah.com