aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Senin, 22 Juli 2013

CIRI WANITA DI AKHIR ZAMAN DAN PENGHUNI NERAKA

Dalam kitab At-Tadzkirah, Al Qurthubi memberikan komentar tentang sedikitnya wanita yang menjadi penghuni surga dan banyak menjadi penghuni neraka.

Dia berkata,” Sesungguhnya perempuan sedikit yangmasuk surga karena mereka kalah dengan hawa nafsu dan lebih cenderung pada gemerlapnya dunia, disebabkan kurangnya akal mereka untuk meberikan perhatian pada akhirat. Mereka tidak mampu melakukan amalan akhirat dan kecenderungan pada dunia dan berhias diri untuknya . Meskipun demikian mereka menjadi penyebab pokok berpalingnya para lelaki dari akhirat karena hawa nafsu dan kecenderungan kepada wanita. Kebanyakan wanita berpaling dari akhirat karena diri mereka sendiri yang mudah tertipu oleh bujuk rayu orang-orang yang berpaling dari agama serta sulit menerima seruan orang-orang yang bertakwa mengenai akhirat dan amalan-amalannya.”

Meskipun demikian, di antara mereka terdapat banyak wanita salehah yang melaksanakan ajaran Allah , agama serta taat kepada Allah dan RasulNya . Di antara mereka banyak yang masuk surga. Bahkan, banyak yang mendahului kaum laki-laki karena keimanan dan amal saleh yang mereka lakukan.

Orang-orang kafir , musyrik, munafik, baik laki-laki maupun perempuan semuanya masuk neraka. Sedangkan ahli Tauhid- dalam banyak hadis – mengisyaratkan bahwa banyak wanita di antara mereka yang menjadi penghuni neraka.

Dari Abu Said Khudri r.a. bahwa Nabi SAW bersabda,..” Wahai wanita sekalian bersedekahlah! Sesungguhnya aku melihat kalian, lebih banyak menjadi penghuni neraka.” Para wanita berkata, “Kenapa demikian, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Kalian banyak melaknat dan durhaka kepada suami . “ (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw. Dalam khotbah salat gerhana bersabda, “Aku melihat neraka dan aku melihat penghuninya kebanyakan dari kaum perempuan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Utsamah bin Zaid r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, “ Aku berdiri di pintu neraka, ternyata kebanyakan orang yang masuk ke dalamnya adalah perempuan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun penyebab banyak dari kalangan wanita yang tergelincir kedalam neraka, antara lain :

  1. Tabarruj : Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan “perhiasannya” dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki.
  2. Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal.
  3. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”
  4. KUFUR TERHADAP SUAMI DAN KEBAIKAN-KEBAIKANNYA yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.
  5. DURHAKA TERHADAP SUAMI, Tiga bentuk kedurhakaan wanita itu adalah : DURHAKA DENGAN UCAPAN. DURHAKA DENGAN PERBUATAN. DURHAKA DENGAN UCAPAN DAN PERBUATAN.
  6. Wanita YaNg Senang Begunjing/ Gosip
  7. WANITA YANG MENABUR FITNAH, “Aku tidak meninggalkan satupun fitnah sepeninggalku yang lebih membahayakan para lelaki kecuali para wanita.” (HR. Al-Bukhari) 
Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh dunia yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. 

Dan berapa banyak persaudaraan terputus hanya dikarenakan wanita ?.
Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita ?


Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita, wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan diri dihadapan kaum pria.

Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan, pemerkosaan terhadap kaum wanita, karena yang demikian itu adalah hasil dari perbuatan dari kaum mereka sendiri…

Orang-orang Asing yang Beruntung


"Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api." 
AKAN ada zaman ketika melaksanakan tuntunan menjadi tontonan. Akan ada masa tatkala menunaikan keta'atan kepada Allah 'Azza wa Jalla dianggap sebagai keanehan. Akan ada saat manakala bersungguh-sungguh dalam memenuhi kewajiban agama dipandang sebagai perilaku berlebihan dan bahkan melampaui batas. Akan datang suatu masa saat berpegang teguh kepada dienul Islam ini dianggap ketidakwarasan. Mereka asing di mata manusia, dan manusia pun mengasingkannya. Tetapi mereka adalah sebaik-baik manusia....

Teringatlah kita kepada sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
"Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang 'asing'." (HR Muslim).

Jika telah tiba masanya, yang bersungguh-sungguh melaksanakan agama ini dianggap aneh. Amalan mereka tampak asing. Mereka melaksanakan amal shalih dan 'ibadah berdasarkan tuntunan shahih dari Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, tapi manusia mengingkari. Orang-orang yang dianggap asing dan terasingkan itu sesungguhnya justru orang yang shalih di tengah-tengah kerusakan yang menimpa ummat. Tapi sebagian besar manusia mengingkari. Hanya sedikit sekali manusia yang mendengar kata-katanya dan mengikuti apa yang dinasehatkannya.

Inilah masa ketika petunjuk yang terang dari nash (Al-Qur'an & Sunnah) diabaikan. Nash diambil bukan untuk dalil, tapi untuk pembenaran. Inilah masa ketika orang banyak yang beramal berdasarkan perkataan-perkataan orang yang pandai bicara, meski nyata bertentangan dengan nash. Inilah masa ketika berpegang teguh pada sunnah justru dianggap meninggalkan sunnah. Mereka dicerca dan tersisih. Kebenaran bagai bara api.

Mari sejenak kita renungi nasehat Nabi Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
"Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api." (HR. Tirmidzi).

Agama ini terasing dari ummat Islam, di antaranya bersebab semakin sedikitnya orang yang memberi nasehat dan peringatan. Inilah masa ketika majelis agama tak lagi memberi ilmu, nasehat dan peringatan. Bahkan keluh lidah para penceramah dari memperingatkan.

Inilah masa ketika orang-orang yang dijadikan anutan tak lagi memiliki muru'ah(kehormatan, wibawa). 'Izzah (harga diri, kehormatan) dakwah runtuh. Keduanya ditukar dengan tana'um (bermewah-mewah sebagai gaya hidup). Inilah masa ketika wahn (cinta dunia takut mati) dan waham merasuk kuat, seakan muru'ah hanya tegak dengan kemewahan dan penampilan. Inilah masa ketika majelis agama berubah menjadi hiburan dan senda gurau; memberi kesenangan tanpa menumbuhkan ketaqwaan.

Manusia berlomba memegah-megahkan masjid melebihi peruntukannya. Banyak yang ramai oleh manusia, tapi kosong dari hidayah. Yang seharusnya memberi nasehat dan peringatan tak memiliki 'izzah agama dalam dirinya, sehingga sibuk menampakkan diri menarik. Ia mengikuti mustami'in (audiens) dan tak berani menyampaikan perkara-perkara yang menyelisihi selera mustami'in. Hanya ada penuturan, tanpa peringatan. Banyak menahan nasehat bersebab senantiasa anggap ummat tidak siap, tapi tak pernah mempersiapkan mereka.

Adakah ini terjadi? Semoga belum. Ataukah ini masa yang disebutkan oleh Ibnu Mas'ud? Masa ketika orang bertekun mendalami agama untuk dunia. Mereka bersemangat mendalami agama bukan untuk kepentingan agama, tetapi untuk meraup dunia. Tak selalu berupa kekayaan, tetapi ketekunannya mendalami agama bukan untuk menegakkan agama ini.

Renungkanlah perkataan mulia 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sebagai diriwayatkan oleh Al-Hakim:

Diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa beliau menyebutkan sejumlah fitnah yang akan terjadi di akhir zaman. Kemudian ‘Umar bin Khaththabradhiyallahu anhu berkata kepadanya, "Kapankah itu terjadi, wahai ‘Ali?" 'Ali bin Abi Thalibradhiyallahu anhu menjawab:  "Fitnah-fitnah tersebut terjadi jika fiqih dikaji sungguh-sungguh bukan karena agama, ilmu agama dipelajari bukan untuk diamalkan, serta kehidupan dunia dicari bukan untuk kepentingan akhirat." (Riwayat Al-Hakim).

Perhatikanlah sejenak penjelasan menantu kesayangan Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam ini. Betapa berbedanya. Di masa shahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in, mereka mencari kehidupan dunia untuk akhirat. Sementara di zaman fitnah, kehidupan dunia dicari bukan kepentingan akhirat. Bahkan sebagaimana diperingatkan oleh Ibnu Mas'udradhiyallahu 'anhu, pada masa fitnah agama tersebut, manusia justru mengejar dunia dengan amal akhirat. Maka, kelak kita akan saksikan orang bersungguh-sungguh melaksanakan shalat Dhuha maupun sedekah karena ingin mengejar dunia. Seakan Allah Ta'ala tak akan melimpahkan harta kepada kita jika meminta sebelum melakukan keduanya.

Hari ini, ada di antara sebagian manusia yang tak putus mengerjakan shalat Dhuha, tapi shalat fardhunya diletakkan di belakang.

Maafkan saya. Yang bertutur ini masih jauh dari agama. Semoga ada yang dapat kita renungi. Semoga kita belajar memuliakan agama ini.

Pelajaran dari runtuhnya Andalusia: Bermewah-mewahan, sumber kehancuran!

Bagi kaum muslimin, negeri Andalusia adalah sepenggal kenangan yang selalu hinggap dalam ingatan. Kenangan tentang betapa kaum muslimin dan risalah Islam yang dibawanya, pernah menguasai sebuah wilayah di benua Eropa selama kurang lebih 800 tahun atau 8 abad lamanya. Sebuah rentang waktu yang cukup lama, dan meninggalkan kesan yang cukup mendalam.

Andalusia, negeri indah dan eksotis, tunduk dalam pemerintahan Islam dari tahun 92 H/711 M hingga tahun 797 H/1492 M. Kekhilafahan Islam dan dinasti-dinasti kaum muslimin, berhasil mengubah wilayah di daratan Eropa itu menjadi simbol kegemilangan peradaban dan kekuatan kaum muslimin. Umat Islam mengisinya dengan tinta emas kejayaan dan keunggulan peradabannya. Ketika wilayah Andalusia, yang saat ini terletak di Spanyol dan sebagian kecil Portugal berada di bawah kekuasaan kaum muslimin, jejak-jejak kecermelangan peradaban mereka menjadi rujukan bangsa-bangsa Eropa.

Bangunan-bangunan dengan estetika dan kemegahan tegak berdiri. Ilmu pengetahuan dan penelitian berkembang pesat. Para sejarawan yang meneliti negeri Andalusia banyak menceritakan bagaimana umat Islam yang bercokol di wilayah itu berhasil memberikan sumbangsih bagi peradaban dan ilmu pengetahuan ke segala penjuru Eropa.

Jika hari ini kita mengenal kota-kota indah seperti Barcelona, Madrid, Valencia, Sevilla, Granada, Malaga, Cordova, dan sebagainya yang hari ini tersohor di sebagai basis klub-klub sepak bola ternama serta menjadi tujuan wisata dunia, maka ketahuilah bahwa pada masa lalu kota-kota tersebut dihuni oleh kaum muslimin, dan berada di bawah pemerintahan Islam.

Namun kejayaan selama kurang lebih delapan abad lamanya, harus berakhir dengan kenangan yang memilukan, ketika Kerajaan Granada yang dipimpin oleh Abu Abdillah Muhammad Ash-Shagir dari Bani Al-Ahmar, berhasil ditaklukkan oleh aliansi kerajaan- Kristen di Andalusia. Granada jatuh ke tangan Kristen pada 1492 M, diirungi dengan derail airmata sang penguasa muslim.

Sambil memandang Istana Al-Hambra yang megah dari atas bukit, Abu Abdillah bin Muhammad sang penguasa Granada, berlinang air mata. Sang ibu, Aisyah Al-Hurrah, yang berdiri di sampingnya, mengatakan, “Kini kau menangis seperti seorang perempuan, padahal kau tak pernah melakukan perlawanan sebagaimana seorang lelaki sejati…”

Apa yang menjadi penyebab runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia?

Sejawaran Mesir Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya berjudul “Qishah Al-Andalus” (Kisah Andalusia) menjelaskan setidaknya ada tiga faktor penting yang menyebabkan kejayaan Islam di negeri Andalusia runtuh dan hanya menyisakan kenangan yang pahit dan kepedihan. Ketiga faktor tersebut adalah:

(1). Gaya hidup yang mewah dan glamour dari para pemimpin Islam. 
(2) Sibuk dengan urusan dunia dan meninggalkan semangat jihad. 
(3). Merebaknya berbagai kemaksiatan dan kemungkaran yang dibiarkan.

Terkait dengan sikap hidup bermewah-mewahan dan godaan duniawi pada masa kekuasaan Islam di Andalusia itu, Dr. Raghib As-Sirjani mengatakan,”Ini merupakan faktor yang amat penting, yakni godaan duniawi terhadap pemeritahan Muwahidun dengan banyaknya harta yang mereka miliki. Inilah yang kemudian mendorong mereka bergaya hidup mewah, berfoya-foya, dan saling berseteru memperebutkan kekuasaan..”

Dr.Raghib As-Sirjani melanjutkan,”Tenggelam dalam kemewahan, cenderung pada kesenangan nafsu duniawi, dan bergelimang dalam kenikmatan-kenikmatan sementara. Inilah faktor utama yang mengantarkan kekuasaan Islam pada akhir yang sangat menyakitkan. Masa-masa keterpurukan dan kejatuhan sering terkait dengan banyaknya harta, tenggelam dalam kesenangan-kesenangan, rusaknya generasi muda, dan peyimpangan besar pada tujuan…”

Mereka yang bergelimang dalam kehidupan yang gemerlap dan terjerembab dengan gaya hidup yang mewah, hatinya akan mudah dilalaikan dari mengingat Allah, semangat juangnya akan semakin melemah, dan jiwanya menjadi pengecut. Karena itu, ahli hikmah mengatakan, “Keberanian tidak akan didapati pada orang yang mencintai dunia!”

Dunia memang melalaikan dan membuat para pemujanya menjadi alpa. Harga diri dan gengsi diukur dengan penampilan yang parlente dan dandy, banyaknya uang, barang-barang yang mewah, dan harta yang berharga. Sehingga jika semua itu tak ada, maka orang yang mencintai dunia merasa hidupnya tak berharga dan bergengsi. Harga dirinya tak melambung tinggi, dan lobi-lobi kekuasaanya tak dihargai. Identitas Islam yang seharunya menjadi ‘pakaian’ yang menutup rapat tubuhnya berganti menjadi benda-benda yang melambangkan kemewahan. Penyakit al-wahn; Cinta dunia dan benci mati (hubbud dunya wa karahiyatul maut) menjadi penyakit ganas yang bisa melumpuhkan kekuatan umat Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam berbagai firman-Nya,

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Israa”: 16)

“Dan janganlah kamu tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan di dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.” (Al-Kahfi: 28)

“Mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini dan berkata, “Kami akan diberi ampun.” (Al-A’raf: 169)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun telah mengingatkan, bahwa bergelimangnya harta dan bermewah-mewahan dalam hidup adalah sumber bagi kelalaian. Beliau yang mulia, sosok yang hidup dalam kesederhanaan dan kebersahajaan mengatakan,

“Maka demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Tetapi yang aku takutkan adalah jika dunia dibentangkan untuk kalian, sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun berlomba-lomba mengejarnya, sebagaimana orang-orang sebelum kalian mengejarnya. Hingga akhirnya, (harta itu) membinasakan kalian seperti ia telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).


“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah , dan kalian telah mulai mengambil ekor-ekor sapi (kiasan bagi mereka yang sibuk dengan urusan dunia), lalu kalian telah ridha dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian yang tidak akan dicabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, 2462. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan pada kalian sepeninggalku adalah apa yang akan dibukakan untuk kalian dari keindahan dan perhiasan dunia.” (HR. Al-Bukhari).

Demikianlah, kemewahan dunia bisa membuai dan menjerumuskan manusia pada kelalaian, kelemahan dan kehancuran. Bahkan para sahabat pun pernah diuji dengan gelimangnya harta saat terjadi Perang Uhud, dimana pasukan pemanah yang harusnya bertahan, turun ke bawah memperebutkan harta ghanimah. Ketika mereka sibuk dengan harta tersebut, pasukan musuh menghabisi mereka secara membabi buta. Allah mengingatkan peristiwa ini dalam firman-Nya, “Diantara kalian ada yang menginginkan dunia, dan diantara kalian ada yang menginginkan akhirat…” (Ali Imran:152)

Runtuhnya Andalusia menjadi pelajaran penting, bahwa kekuasaan sehebat apapun, jika ia terjerumus dalam gemerlap kemewahan dunia yang melalaikan, akan berakhir dengan keruntuhan. Jika 800 tahun lamanya kekuasaan Islam di Andalusia bisa runtuh dan beralih menjadi imperium Kristen, maka bagaimana dengan Indonesia? Berhati-hatilah…!  
“Waspada dirimu dari kemewahan, kerena sesungguhnya para hamba Allah bukanlah orang-orang yang mewah.” (HR. Ahmad)
Source

KEMULIAAN ANAK YATIM

Allah telah menakdirkan di antara hambanya terlahir dalam keadaan yatim. Anak-anak yatim hadir di tengah-tengah kita agar menjadi bagian dari tanggung jawab kita sekalipun tidak ada pertalian darah dengan kita. Sebab, anak yang kehilangan orang tuanya seakan-akan seperti sudah kehilangan segalanya. Saat itu, terputuslah kehangatan kasih sayang orang tua.

Allah menakdirkan demikian pastilah ada hikmah yang dapat dipetik. Di balik itu, Allah mengaruniakan keutamaan bagi mereka yang sabar atas kondisi tersebut sekaligus sebagai kebun pahala bagi yang menyantuni mereka.

Islam Memuliakan Anak Yatim

Sebenarnya, bagaimana kedudukan anak yatim di dalam Islam? Sebelumnya kita lihat dahulu pengertiannya. Istilah yatim berasal dari bahasa Arab; yatama, yaitamu, dan yatmu yang berarti sedih atau bermakna sendiri. Adapun secara syar’i ialah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum dia baligh (dewasa). Adapun setelah baligh, tidak lagi disebut yatim. Ibnu Abbas pernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan umur status anak yatim, Ibnu Abbas menjawab bahwa sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah baligh dan menjadi dewasa.

Sedangkan kata piatu bukanlah dari bahasa Arab, kata ini dalam bahasa Indonesia dinisbatkan kepada anak yang ditinggal mati oleh Ibunya, sehingga anak yatim-piatu adalah anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.

Di dalam ajaran Islam, mereka semua mendapat perhatian khusus melebihi anak-anak yang masih memiliki kedua orang tua. Islam memerintahkan kaum muslim untuk senantiasa memperhatikan nasib mereka, berbuat baik kepada mereka, mengurus dan mengasuh mereka sampai dewasa. Islam juga memberi nilai yang sangat istimewa bagi orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah ini.

Kehilangan orang tua dapat menggoncang jiwa seorang yang telah dewasa, apalagi bagi seorang anak, tentunya akan terasa lebih berat. Orang yang selama ini menyayanginya, memperhatikannya, menghibur dan menasehatinya telah tiada. Betapa ajaran Islam menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi, Islam mengajarkan untuk mengasihi mereka dan melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. 

Dalam sebuah hadits disebutkan:
Abu Umamah menuturkan bahwa Nabi n berkata, “Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu terdapat banyak kebaikan, dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia di surga seperti ini, beliau menyejajarkan dua jari-nya.

Ibnu Abbas menuturkan, “Ketika Allah Azza wa jalla menurunkan ayat "janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang hak" dan "sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan zalim" ayat ini berangkat dari keadaan orang-orang yang mengasuh anak yatim, di mana mereka memisahkan makanan mereka dan makanan anak itu, minuman mereka dan minuman anak itu, mereka mengutamakan makanan anak itu dari pada diri mereka, makanan anak itu diasingkan di suatu tempat sampai dimakannya atau menjadi basi, hal itu sangat berat bagi mereka kemudian mereka mengadu kepada Rasulullah n Lalu Allah menurunkan ayat, "Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anak yatim. katakanlah berbuat baik kepada mereka adalah lebih baik, dan jika kalian bercampur dengan mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu." Kemudian orang-orang itu menyatukan makanan mereka dengan anak yatim.

Islam memandang tinggi kedudukan anak yatim di dalam masyarakat. Sampai Allah sendiri menyebutkan tentang mereka di dalam ayat-ayat-Nya yang mulia untuk mengingatkan kepada kita akan kedudukan mereka itu. Bahkan diulang-ulang di dalam Al-Qur’an sehingga umat muslim dapat merenungi dan mengamalkannya.

Minggu, 21 Juli 2013

KETIKA HATI SUDAH MATI

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan sang kekasih, tapi sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil Kita disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Kita dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah Kita yang pandai berbicara tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiyam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah Kita dengan licin lidah bertutur, sementara dalam hati kita tak ada apa-apa. Kita kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa Kita adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Bagaimana Abu Bakar As-Shidiq r.a. selalu gemetar saat dipuji orang. Beliau selalu berdo’a"Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah diriku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.

Dimana kita letakkan diri kita sendiri? Saat kecil, Kita begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap Kita bergetar dan takut.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, Kitapun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari Kita hidup dalam lumpur yang membunuh hati kita sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodanya dan Kita meni'matinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kita kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH-pun tiada, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin Kita mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila Kita laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan ckita jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"?

Saat kau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan " Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?" 

Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara Kita dengan diri kita sendiri, tak ada ALLAH disana? Sekarang kau telah jadi kader hebat, tidak lagi malu-malu tampil.

Justru Kita akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tangan kita dari jabatan tangan lembut lawan jenis yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.

Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah Kita, jika bidikan kita ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua" Akankah Kita juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kita fikir sesudah semua kedangkalan ini kita masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kita andalkan penghormatan masyarakat awam karena status kita lalu kita serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorika yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa Kita ini? Pernah anda lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.

Lihatlah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Kita akan menjadi fasih dalam berdebat dan tangguh saat Kita tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku".

Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah Kita punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Kini datang "pemimpin" ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, "toko emas berjalan" dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang Kita ikut mabuk disana. "Kita adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku"

Inilah kematian hati, kematian yang tak pernah kita pikirkan, kematian nilai dan norma. Akankah kita terus berada dalam kematian yang berkepanjangan, kematian yang menguras energi kita tanpa kita menyadarinya dengan segala keindahan semu? Ataukah kita akan berada dalam kebahagiaan yang menyiksa hawa nafsu namun menentramkan dan menghidupkan HATI kita?

Hidup ini adalah pilihan, maka bijaklah dalam memilih kehidupan ini. Diantara dua jalan yang kita lalui jalan manakah yang akan kita pilih.
Wallahu’alam

Makna Lima Jari Tangan

Analogi jari tangan menggambarkan hubungan yang harus terjalin dalam kehidupan ini menuju menusia yang sukses dan kabahagiayaan yang sejati. Semuanya tidak berurusan dengan materi melulu. Kelima hubungan ini harus ada dan tidak bisa dipisahkan, namun sulit untuk diberi nomor urutan karena setiap fungsi dari jari memiliki kelebihan.

1. JARI JEMPOL 

Jari jempol menggambarkan dengan diri sendiri. Ketika seorang mengaku diri maka kata penunjuk yang dipakai adalah menggunakan jari jempol. Hubungan yang harus dilakukan adalah kesadaran diri serta membangun potensi yang ada sehingga tercipta keharmonisan antara tubuh, jiwa, dan roh.

Membina hubungan dengan diri sendiri memiliki konsep yang kompleks, yang harus disiapkan dengan serius, karena dengan persiapan yang matang dan secara dewasa akan membawa dampak ke dalam kehidupan yang sukses dan menuju bahagia.

Memulai hubungan diri sendiri yang diibaratkan dengan jari jempol, hendaknya dipergunakan dengan bijaksan dan dewasa, sehingga unsur jempol tidak menunjukkan “keakuan” yang berlebihan yang dapat menimbulkan rasa kesombongan yang mendalam.

Perbaiki hal-hal yang ada di dalam diri sendiri dahulu sebelum mengoreksi pribadi orang lain, melalui proses pendewasaan, antara lain :

  • Tubuh. Bagaimana menjaga tubuh yang diberikan Allah SWT dengan gratis ini, diperlukan dengan istimewa namun tidak berlebihan. Tubuh dengan model apa saja dan dalam keadaan apa saja, mampu menampilkan pribadi yang sukses dan bahagia.
  • Pikiran. Mengelola pikiran yang bijaksana. Apa yan Anda pikirkan itulah yang Anda capai. Isilah ember pikiran dengan hal-hal yang positif, membanngun dan berdaya guna, filter dengan ketat, hal-hal yang membuat pikiran terkontaminasi hal-hal buruk.
  • Sikap. Sikap sangat menentukan hasil akhir. Kejadian apa pun kalau disikapi dengan bijaksana akan menghasilkan hasil yang bagus.
  • Anda adalah pemimpin. Sadarilah bahwa Anda adalah seorang pemimpimn, minimal untuk memimpin diri sendiri. Dalam skala yang lebih luas, Anda memimpin keluarga, Anda memimpin organisasi skala kecil bahkan sanggup memimpin dalam skala besar.
  • Berprestasilah. Hidup yang berprestasi adalah hidup yang diimpikan oleh Sang Pencipta, sehingga Dia yang telah menciptakan kita, tidak merasa kecewa. Buatlah prestasi dalam bidang apa pun dan suatu saat Anda akan menikmatinya.
  • Pendidikan. Gunakan dengan tepat jalur pendidikan yang telah Anda tempuh dan berusahalah mencapai cita-cita sesuai dengan jalur pendidikan Anda. Jangan pernah menyerah dan teruslah menjadi manusia pembelajar di masa usia belajar tidak hanya dibatasi sampai umur tertentu saja, namun dunia belajar bisa diraih sampai tutup usia.
2. JARI TELUNJUK 

Jari telunjuk menggambarkan hubungan dengan pekerjaan karena hampir sepertiga roda kehidupan manusia dipergunakan untuk bekerja. Bekerja merupakan sarana untuk menuju sukses yang kebanyakan manusia cari yaitu materi, jabatan, kepopuleran, dan fasilitas. Jari telunjuk banyak dgunakan memberi perintah kerja, sehingga diperlukan kebijakan yang bijaksana dalam mengelola jari telunjuk agar tidak terjadi konflik.

BEKERJA ADALAH BAGIAN DARI IMAN.

Orang bijak mengatakan: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segala hatimu seperti untuk Allah SWT dan bukan untuk manusia.” untuk apa manusia bekerja?

Ada bervariasi jawaban mengapa manusia perlu bekerja, antara lain:
  • Mendapatkan uang. Mendapatkan uang untuk mencukupi kebuAllah SWT hidup. Hal ini merupakan alas an paling mendasar mengapa manusia perlu bekerja.
  • Keperluan tanggung jawab. Poin bekerja untuk keluarga masih dipandang lebih layak disbanding bekeja karena mengisi waktu.
  • Alasan cinta. Pekerjaan yang dilandasi dengan rasa cinta terhadap pekerjaan akan berdampak pada hasil. Semakin tinggi seseorang cinta terhadap pekerjaan, semakin tinggi pula rasa kepemilikannya dan begitu juga sebaliknya.
  • Alasan bagian dari ibadah. Memang benar bahwa pekerjaan merupakan bagian dari ibadah. Ibadah yang sejati bukan hanya ibadah setiap hari tertentu, berkumpul dan berdoa kepada Allah SWT, namun lebih dititikberatkan pada pelksanaan Firman yang didengar lewat panggilan pekerjaan pada masing-masing bidang. 
3. JARI TENGAH 

Jari tengah menggambarkan hubungan dengan Allah SWT, jari tengah yang memiliki ukuran yang lebih tinggi dibanding keempat jari lainnya. Ketika manusia jenuh dan capek dalam proses mengejar cita-cita, ambisi, dan tujuan hidup, banyak yang disadarkan kembali akan pentingnya rasa keAllah SWTan yang hakiki. Semua kembali ke fitrahnya, membangun keimanan yang benar di mata Allah SWT.

Hubugan dengan Allah SWT, diibaratkan jari tengah dengan posisi paling tinggi dari semua jari yang ada. Hal ini menandakan bahwa hubungan dengan Allah SWT memiliki tertinggi dari apa pun juga dalam kehidupan ini.

Kehidupan manusia yang ingin menuju kesuksesan dan kebahagiaan, banyak bermuara pada hubungan spiritual yang terjadi dengan sang Pencipta. Uang bukan lagi barometer kesuksesan atau kebahagiaan seseorang, namun lebih menitiberatkan pada hubungan terindah manusia dengan Allah SWT.

Melalui pendewasaan pola pikir, dan kesadaran yang mendalam tentang arti keAllah SWTan, merupakan wujud nyata menjadikan manusia yang beradap serta beriman dan bertaqwa. Wujud nyata iman dan takwa, dapat dilihat dari perilaku kehidupan yang menunjukkan tanda-tanda perubahan yang positif dan mampu menjadi berkat bagi dirinya sendiri dan berkat untuk orang lain.

Pendewasaan ini antara lain:
  • Pendewasaan dalam membina hubungan dengan Allah SWT melalui doa yang benar di mata Allah SWT dan bukan benar di mata manusia.
  • Memandang kesuksesan secara spiritual merupakan pencarian tertinggi umat manusia.
  • Bertindakkalah dalam dunia kenyataan atau dalam bahasa rohaninya adalah menjadi pelaku Firman.
  • Mengucap syukur dalam segala hal, karena itulah pintu menuju pinti kebahagiaan yang sejati.
4. JARI MANIS 

Jari manis menggambarkan hubungan dengan keluarga. Ketika pasangan muda yang memutuskan menikah dan menyematkan cincin pernikahan pada jari manis, maka terbentukklah lembaga terkecil. Hidup manusia yang tidak terlepas dari unsur keluarga, membutuhkan jalinan yang dibangun dengan benar sebagai landasan berpijak.

Kesuksesan dalam pekerjaan, didasari pada perilaku hubungan dengan keluarga. Di dalam keberhasilan suami, disitulah terletak doa-doa istri. Di dalam keberhasilan anak, di situlah terdapat doa dan peran orang tua.

Keluarga yang terdiri atas suami, istri, dan anak merupakan lembaga terkecil yang ada di dunia ini, sehingga dunia ini ada dan terus bergerak perputarannya.

5. JARI KLINGKING 

Jari klingking menggambarkan hubungan dengan sosial, karena sejatinya manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT dengan karakter sosial yang tidak bisa hidup sendirian.

Hubungan dengan sosial yang diibaratkan dengan jari kelingking yang kecil. Walaupun ukurannya kecil, namun tidak bisa dibuang begitu saja. Jari kelingking sebagai penguat kepalan tangan. Ketika keempat hubungan bertemu dalam sebuah genggaman, fungsi jari kelingking inilah sebagai penguatnya.

Kehidupan sosial, yang terdiri atas teman, sahabat, kerabat kerja, tetangga, lingkuangan tempat tinggal, kehidupan sekota bahkan kehidupan berbangsa. Manusia yang seutuhnya adalah manusia yang bukam hidup secara individu namun lebih menitik beratkan pada keutuhan tim, teman, kerabat, grup yang ada di sekitar kehidupan manusia.

Diperlukan pendewasaan pola pikir dan perilaku dalam membina dengan sosial, agar tercipta rasa saling kekerabatan satu dengan lainnya. Pendewasaan itu antara lain:
  • Sikap mendengar.
  • Sikap berempati (kondisi mental yang membuat seseorang merasa dirinya dalam perasaan yang sama dengan orang lain).
  • Sikap berpendapat.
  • Sikap hidup dilingkungan.
Walahu a'lam

Terungkapnya Rahasia Iblis

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.

Nabi: “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.

Umar ingin mmbunuhnya.

Nabi: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.

Ibnu Abbas RA : pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Iblis: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin.

Rasulullah SAW: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?

Iblis: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.
“Siapa yang memaksamu?

Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri,beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”

“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.


Orang Yang Dibenci Iblis

Rasulullah: Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?
Iblis: Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.
Siapa selanjutnya?
Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.
lalu siapa lagi?
Orang Aliim dan wara’ (Loyal)
Lalu siapa lagi?
Orang yang selalu bersuci.
Siapa lagi?
Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.

Apa tanda kesabarannya?
Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.

Selanjutnya apa?
Orang kaya yang bersyukur.

Apa tanda kesyukurannya?
Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.

Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?
Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.
Umar bin Khattab?
Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.
Usman bin Affan?
Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.
Ali bin Abi Thalib?
Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?
Aku merasa panas dingin dan gemetar.
Kenapa?
Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.
Jika seorang umatku berpuasa?
Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.
Jika ia berhaji?
Aku seperti orang gila.
Jika ia membaca al-Quran?
Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.
Jika ia bersedekah?
Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.
Mengapa bisa begitu?
Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.
Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?
Suara kuda perang di jalan Allah.
Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?
Taubat orang yang bertaubat.
Apa yang dapat membakar hatimu?
Istighfar di waktu siang dan malam.
Apa yang dapat mencoreng wajahmu?
Sedekah yang diam diam.
Apa yang dapat menusuk matamu?
Shalat fajar.
Apa yang dapat memukul kepalamu?
Shalat berjamaah.
Apa yang paling mengganggumu?
Majelis para ulama.
Bagaimana cara makanmu?
Dengan tangan kiri dan jariku.
Dimanakah kau menaungi anak anakmu di musim panas?
Di bawah kuku manusia. 


Manusia Yang Menjadi Teman Iblis

Nabi: Siapa temanmu wahai Iblis?
Pemakan riba.
Siapa sahabatmu?
Pezina.
Siapa teman tidurmu?
Pemabuk.
Siapa tamumu?
Pencuri.
Siapa utusanmu?
Tukang sihir.
Apa yang membuatmu gembira?
Bersumpah dengan cerai.
Siapa kekasihmu?
Orang yang meninggalkan shalat jumaat
Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?
Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.

Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
Rasulullah SAW lalu bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.

Iblis segera menimpali:
Tidak,tidak.. tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.
Siapa orang yang ikhlas menurutmu?
Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. "
"Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. "
"Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.

Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak-Anaknya 

Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.
Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanta – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.

Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.

Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.

Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.
Syaithan juga berkata, “keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.
“Mereka, anak – anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.

Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.”

Cara Iblis Menggoda

“Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?

Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah kegemaranku.

Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba) kesenanganku.
Kesaksian palsu kegembiraanku.

Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ’shalatmu tidak sah’

Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.

Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalamdirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.Dan iapun semakin taat padaku.

Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’

Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?

10 Hal Permintaan Iblis kepada Allah SWT 

“Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?
“10 macam”
“Apa saja?”
Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan.
Allah berfirman,
“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)
“Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.

Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.

Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.

Allah berfirman,
Orang -orang boros adalah saudara saudara syaithan. (QS Al-Isra : 27).
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.
Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata : “Wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.
Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun
Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.
Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.

Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :
Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 - 119)
juga membaca,
Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)
Iblis lalu berkata:

Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong. 

Sabtu, 20 Juli 2013

Menjadi Pribadi Mulia dengan 7B

Menjadi seorang berkepribadian mulia tentunya menjadi dambaan banyak orang. Pribadi mulia dalam arti memiliki integritas diri, akhlak yang mulia, itu lebih berharga dari dunia ini, sehingga ketika orang-orang di sekitar kita mencintai kita, karena kemuliaan pribadi kita, bisa jadi adalah bukti cinta Allah SWT pada kita. Untuk memiliki pribadi mulia, berikut ini terdapat jalan yang bisa diraih dengan metode 7B:

B1 (Beribadah Benar dan Istiqamah)
Beribadah benar atau istiqamah, karena kalau ibadahnya benar akan menimbulkan hati tenang dan akan terpelihara dari perbuatan nista. Sebaliknya bila ibadahnya tidak benar, maka kehidupannya akan rapuh sehingga mudah terombang-ambing dalam kehidupan yang penuh tantangan ini.

B2 (Berakhlak Mulia)
Berakhlak terpuji yakni menyikapi kejadian dengan sikap terbaik dan apabila hal ini dilakukan oleh semua komponen masyarakat, termasuk pejabat pemerintah, niscaya akan tercipta lingkungan aman dan damai. Tidak pernah rugi seseorang yang memiliki akhlak baik, karena itu hendaknya akhlak baik ini ditunjukkan oleh pemimpin, sehingga masyarakat akan meneladani pemimpinnya dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah kebangkitan bangsa ini karena akhlak yang baik.

B3 (Belajar Berlatih Tiada Henti)
Belajar dan berlatih tiada henti adalah sikap yang patut dilakukan bagi hamba Allah SWT yang ingin menikmati setiap episode dalam hidup. Mengalami stres, gelisah, was-was, cemas, salah satu penyebabnya karena kurang ilmu dan juga kurang terampil.

Saat ada ular di rumah, bagi yang tidak mengetahui dan terampil mengatasinya, seisi rumah akan menjadi panik. Berbeda halnya dengan orang yang mengetahui dan terampil mengatasi ular. Dia bersikap tenang dan juga membuat tenang seisi rumah.

B4 (Bekerja Keras dan Cerdas)
Rangkaian ibadah dalam Islam sangat identik dengan kerja keras dan kerja cerdas. Kita lihat salat yang begitu dinamis, saum adalah kerja keras mengendalikan diri, zakat, kurban, sedekah merupakan kerja keras untuk bisa berbagi, haji, tawaf dengan bergerak, sa’i berlari kecil, ke tempat wukuf, adalah sebentuk perjalanan panjang penuh pengorbanan.

B5 (Bersahaja dalam Hidup)
Berawal dengan beribadah dengan benar istiqamah, buah dari ibadah adalah akhlak yang tertuntun Allah SWT, ditopang oleh semangat belajar dan berlatih terus menerus, kemudian diteruskan dengan kerja keras serta kerja cerdas, dan dalam kehidupan sehari-hari dia bersahaja. Sikap bersahaja ini ditunjukkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sebagai umat Rasul saw sudah seharusnya umat Islam meneladani sikap yang ditunjukkan Rasul saw itu.

B6 (Bantu Sesama)
Rasulullah saw bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas," yang artinya, "Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim).

Awal menghirup udara kehidupan disunahkan untuk akikah, saat muda diajarkan sedekah, bila sudah mampu diwajibkan zakat, kurban, menyantuni yang memerlukan, bekal kematian amal jariah. Kemuliaan hamba Allah SWT karena mampu menjadikan orang lain mampu.

B7 (Bersihkan Hati Selalu)
Balon terbang bukan karena warnanya, namun karena isinya (gas). Begitu juga dari rangkaian aktifitas seorang hamba Allah SWT justru yang terpenting adalah kebersihan hati, kerendahan hati, ketulusan, kesabaran, rasa syukur, jauh dari kesombongan, kedengkian, licik, dusta, khianat dan jahatnya hati.

Sifat ini juga disebutkan dalam hadis Nabi, dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada rupa-rupa dan harta benda kalian, akan tetapi melihat kepada qalbu dan amal kalian.” (Shahih, HR. Muslim).

Selamat melakukan perubahan ke arah yang labih baik dan lebih berkah!
Source

Puasa Mengendalikan Nafsu Materialisme Duniawi

Kata materialisme terdiri dari kata 'materi' dan 'isme'. Materi dapat dipahami sebagai bahan, benda, segala sesuatu yang tampak. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis. Orang-orang ini adalah para pengusung paham (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata (harta, uang, dsb). 

Oleh karena itu, paham meterialisme senantiasa mengantar penganutnya pada ateisme dan mengingkari adanya Tuhan sang pencipta alam materi ini. Menurut mereka, materi adalah sumber kesadaran dan pikiran bagi manusia.

Tradisi Islam tidak mengenal paham meterialisme dan filosof-filosuf materialis, bahkan bahasa arab tidak mengenal makna filosofis untuk istilah materi (maddah) dan juga tidak mengenal materialisme dalam tradisi klasik adan abad pertengahan. Istilah ini dengan pengertian ini baru dikenal dalam kamus-kamus yang mencatat peradaban Islam pada era modern. Ini sebagai akibat dari pengaruh filsafat barat yang datang bersamaan kontak kaum muslimin dengan barat pada masa penjajahan. Kata 'maddah' (materi) dalam istilah Bahasa Arab adalah tambahan yang bersambung dan segala sesuatu yang menjadi bantuan bagi yang lainnya.

Allah swt menggambarkan kehidupan orang-orang meterialis dalam Alquran, yang artinya:
“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al-A’la: 16-17).
Ungkapan mereka yang Allah abadikan di dalam Alquran,

“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (dahr) dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24).

Rasulullah SAW mengingatkan bahaya materialisme yang buahnya tidak lain adalah Hubbuddun'ya (cinta dunia) dalam sabdanya,

“Apabila umatku mengagungkan dunia, maka dicabutlah kehebatan Islam darinya. Dan apabila meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, maka terdindinglah keberkahan wahyu.” (HR At-Tirmidzi).

“Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.” Sahabat bertanya,"apakah lantaran waktu itu jumlah kami hanya sedikit ya Rasulullah?” Dijawab oleh beliau, “bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam wahn (kelemahan jiwa).” Sahabat bertanya, “apa yang dimaksud kelemahan jiwa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “cinta dunia dan takut mati”. (HR Abu Daud).

Budaya kita hari ini termasuk kategori motivasi rendah atau papan bawah, karena hampir semuanya berada dalam kebutuhan fisiologis, fisik dan kebendaan. Motivasi perilaku individu, elit, kelompok masih berkutat dan berorientasi pada pencapaian rezeki saja, identik dengan materialisme. Uang telah mengatur kehidupan manusia. Uang bukan lagi menjadi alat untuk kebahagiaan kehidupan kelompok, tapi sudah menjadi tujuan hidup individu danmasyarakat.

Orang-orang materialis beranggapan bahwa yang mempunyai nilai tertinggi dalam kehidupan ini adalah harta dan sejarah akan terus berulang, mereka akan menumpuk-numpuk harta tanpa akan peduli dengan norma, dan akan melihat tak bernilai mereka yang dan tak berharta kemudian dengan entengnya menyebar kezhaliman melalui lisan dan perbuatannya, Allah berfirman dalam surah Al-Humazah yang artinya:

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (Al-Humazah: 1-3).

Sayyid Qutb ketika mengomentari surah ini mengatakan, “surah ini merefleksikan salah satu gambaran da’wah di masa awal. Pada saat yang sama juga merupakan contoh yang selalu berulang dalam setiap lingkungan masyarakat. Yaitu gambaran seorang yang tercela dan kerdil jiwanya, yang diberi harta lalu harta itu menguasai dirinya, hingga ia tidak mampu melepaskan diri dari pengaruhnya. Ia merasa bahwa harta merupakan nilai tertinggi dalam kehidupan. Nilai yang membuat semua nilai dan kehormatan menjadi rendah di hadapannya. Baik kehormatan manusia, kehormatan makna ataupun kehormatan berbagai hakikat. Karena ia telah memeliki harta maka ia merasa telah memiliki kehormatan manusia dan harga diri mereka!

Sebagaimana ia mengira bahwa harta berkuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang tidak bisa dilakukan dengan harta! Bahkan mampu menolak kematian dan mengabadikan kehidupan. Atau mampu menolak qadha’ (ketetapan), hisab dan balasan Allah, jika ia masih menganggap ada hisab dan balasan.

Oleh sebab itu, ia bertindak bodoh dengan harta tersebut; selalu menghitung-hitungnya dan merasa senang menghitung-hitungnya. Di dalam dirinya muncul rasa sombong yang merajalela yang mendorongnya untuk meremehkan kehormatan dan harga diri manusia. Mengumpat dan mencelanya. Mencelanya dengan lidah dan melecehkan dengan gerakan.”

Orang materialis akan lelap, lalai dan terbuai oleh gaya hidup bermegah-megahan sehingga tidak sadar bahwa ia berada di tubir jurang. Ia terlena, bermegah-megahan dengan harta dan kekayaan tanpa sadar ia akan berpisah dengannya, ia lupa dengan apa yang ada sesudah itu, lubang sempit yang di dalamnya tiada lagi saling bermegah-megahan dan saling membangga-banggakan.

Mari kita perhatikan firman Allah dalam Surah At-Takatsur;

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian (1), sampai kalian masuk kedalam kubur (2), janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat dari perbuatan kalian) (3), dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetehui. (4), janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin (5), niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahiim (6), dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (7), kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahan di dunia itu).(8)"

Oleh karenanya Rasulullah telah mewanti-wanti kita agar tidak tertipu dan tersilaukan oleh fatamorgana dunia, sahabat yang mulia Abu Sa’id al-Khudri mengatakan, Rasulullah bersabda:
“Sungguh dunia itu manis lagi hijau, dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana yang kalian amalkan (apa perbuatan kalian). Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah dari para wanita karena ujian pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanitanya.” (HR Muslim)

Pada sabdanya yang lain, Rasulullah saw juga mengingatkan: ”Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian. Nanti kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Pembicaraan materialisme tidak boleh melupakan pembahasan puasa Ramadan sebagai lambang pengendalian diri, karena tujuan puasa adalah untuk menundukkan hawa nafsu duniawi, melepaskan mereka dari jerat dan jebakan kenikmatan duniawi yang selama ini akrab dan lekat dalam kehidupan mereka, kemudian mengingatkan mereka akan kefanaan itu semua dan mengingatkan kepada mereka tentang akhirat yang kekal adanya, karena obat 'hubbuddun ya' (cinta dunia) adalah ingat akan fananya dunia dan kekalnya balasan akhirat.

Untuk itulah bulan Ramadan datang, dimana di dalamnya diselenggarakan training spiritual umat, layak dijadikan momentum perlawanan terhadap materialisme dan menjadi titik tolak perubahan.


Hubbud dunya yang berdampak pada degradasi keimanan dan kewibawaan umat ini harus segera diobati dengan cara membina diri menjadi orang-orang yang menegakan Alquran dan As-Sunnah.

Letakan dunia ditangan dan jangan disimpan dilalam hati, dan sebaik-baiknya duania yang berada di tangan orang – orang yang beriman yang menjadikan Akhirat sebagai tujuan dan cita-cita hidupnya. Renungkanlah sabda Rasulullah di bawah ini;

“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan Allah akan mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai, bersamaan dengan itu dunia datang kepadanya dalam keadaan hina dan rendah. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kefakirannya di hadapan kedua matanya, dan Allah l akan mencerai-beraikan urusannya yang semula terkumpul, sementara dunia tidak datang kepadanya selain sebatas apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR at-Tirmidzi, dihasankan dalam ash-Shahihah no 949).
Source

DOSA TERHAPUS KETIKA BERSUSAH PAYAH MENCARI NAFKAH

Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)

Rasulullah saw menegaskan: ”Ada sebagian dosa manusia yang tidak dapat diampuni dengan melakukan sholat, puasa, zakat, haji dan umrah. Tapi dosa tersebut terampuni lantaran prihatin memikirkan nafkah keluarga”. (HR Imam Muslim)


Keprihatinan dan kesulitan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Disamping termasuk bagian dari ibadah, juga dapat dijadikan sarana penebus dosa, yang dosa tersebut tidak dapat diampuni oleh Allah dengan melakukan ibadah fardhu maupun ibadah sunat.

Amal Istimewa
Bekerja keras dengan penuh tawakal sangat dianjurkan oleh Islam dan termasuk amal ibadah yang istimewa. Ketika Rasulullah saw ditanya tentang amal manakah yang istimewa? Jawab beliau adalah bekerja dengan ketrampilan tangan sendiri, Bahkan Rasulullah saw menegaskan: ”Bukanlah orang yang terbaik di antara kalian orang yang rajin beribadah mencari pahala akhirat dengan meninggalkan aktivitas bekerja untuk kepentingan kehidupan dunia, dan bukan pula orang yang terbaik di antara kalian orang yang rajin bekerja dengan meninggalkan aktivitas ibadah. Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang melaksanakan keduanya: rajin bekerja dan rajin pula beribadah. Sebab kekayaan dapat dijadikan sarana meraih kebahagiaan akhirat. Karenanya, janganlah kalian menjadi manusia pemalas.” (HR. Ibnu Asakir dari Anas).

Bagian dari Sedekah
Bekerja mencari nafkah yang halal adalah termasuk sedekah. Rasulullah saw menegaskan: “Apa saja yang engkau makan untuk dirimu sendiri adalah termasuk sedekah. Apa saja yang engkau berikan kepada anakmu adalah termasuk sedekah. Apa saja yang engkau berikan kepada istrimu adalah termasuk sedekah. Dan apa saja yang engkau berikan kepada pembantumu adalah termasuk sedekah bagi dirimu.” (HR Thabrani dari Miqdam bin Ma’dikariba). 


Di riwayat lain, Rasulullah saw telah menegaskan: ”Barangsiapa menginfakkan harta untuk diri sendiri dengan maksud untuk menjaga kehormatan diri, maka hal itu adalah termasuk amal sedekah. Dan barangsiapa menginfakkan hartanya untuk kepentingan anak, istri, dan keluarga yang menjadi tanggungannya, maka hal itu adalah termasuk amal sedekah.” (HR Ahmad dari Abu Umamah Al-Bahili).

Kelelahan dalam bekerja, dapat pula dijadikan tebusan dosa.Rasulullah saw menyatakan: “Barangsiapa di sore hari merasa kecapaian, karena seharian bekerja mencapai kecukupan keluarga, maka pada sore hari itu pula dia mendapatkan curahan ampunan dosa.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).