aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Selasa, 06 Agustus 2013

Peradaban Dunia Berpadu di Marmara

“If the world were a single state, Istanbul would have been its capital”. Sepatah kalimat dari Napoleon Bonaparte ini telah cukup untuk menggambarkan betapa menarik dan penting Kota Istanbul.

Kota di Turki ini memang sarat nilai sejarah, budaya, hingga peradaban. Bukan hanya satu bangsa, melainkan beragam bangsa pernah menorehkan peradaban di sana.

Bagi Muslimin yang pernah melancong ke Istanbul, pasti mengakui keindahan kota di negara Turki tersebut. Bangunan artistik sarat nilai sejarah banyak berdiri di kota yang menghubungkan Eropa dan Asia tersebut. Perpaduan seni antara Eropa, Timur Tengah, dan Asia membuat Istanbul memiliki keindahan yang unik.

Kota Istanbul terletak di wilayah Marmara, termasuk bagian Benua Eropa, tepatnya di perbatasan antara Eropa dan Asia. Posisi ini menjadikan Istanbul sebagai pintu gerbang Asia menuju Eropa atau sebaliknya.

Selain itu, kota itu berada di antara Selat Bosporus, Laut Marmara, dan Tanjung Emas (Golden Horn), tiga perairan yang membuat kota ini begitu hidup dan indah.

Istanbul dahulu bernama Konstantinopel (Constantinople) yang dibangun oleh suku bangsa Negaria pada 650 SM. Pada 330 M Kaisar Konstantin I mengganti namanya menjadi Roma Nova.

Kemudian diganti lagi menjadi Konstantinopel. Pada 1922, yakni ketika dihapusnya kesultanan Turki Usmani, nama Konstantinopel diganti dengan Istanbul.

Pembukaan Konstantinopel atau Istanbul oleh Muslimin mengalami proses yang panjang dan berat. Namun, pembukaan kota tersebut tak sia-sia adanya.

Kegemilangan Turki dimulai pascapembukaan Konstantinopel. Beragam ilmu pengetahuan, seni, dan kebudayaan dikembangkan. Maka, lahirlah budaya Islam dengan gaya baru, yakni akulturasi dari beragam bangsa.

Bangsa Turki yang mengambil alih kekuasaan Islam dari tangan bangsa Arab, kemudian meneruskan catatan sejarah perjuangan dan kepemimpinan Islam.

Budaya pun semakin berwarna dengan datangnya bangsa dari Asia Tengah tersebut. Budaya Turki ikut andil dalam perkembangan arsitektur Islam.

Pada masa Turki Usmani arsitektur pun berkembang pesat. Pertumbuhan arsitektur Islam yang dimulai sejak masa Bani Umayyah mulai maju pesat pada masa Turki Usmani.

Dengan dibukanya Konstantinopel, perkembangan arsitektur dipengaruhi masa kekuasaan sebelumya, yakni Romawi Timur (Bizantium). Gaya arsitektur Bizantium inilah yang memiliki andil besar dalam perkembangan arsitektur masa itu.

Karya arsitektur pertama yang mendasari berkembangnya gaya arsitektur Bizantium ke dalam arsitektur Islam ialah Aya Sofya (Hagia Sophia).

Aya Sofya dibangun pada masa Bizantium dengan gaya kental arsitektur mereka. Ketika pembukaan Islam oleh Sultan Turki Usmani, Muhammad Al Fatih, gereja ini pun diubahnya menjadi sebuah masjid.

Sejak saat itu, arsitektur yang dibangun di Turki mengikuti gaya Aya Sofyayang saat ini berfungsi sebagai museum.

Selain Aya Sofya, banyak bangunan berasitektur indah lain yang berdiri megah di sana. Monumen di Istanbul yang paling megah dikelompokkan di semenanjung bersejarah, bagian tringular daratan yang dikelilingi Laut Marmara di barat dan selatan, Golden Horn di utara, dan tembok kota ke timur.

Di tempat inilah Megarian menetap dan Septimus Severus yang sebagian besar bertanggung jawab atas penyelesaian pra-Bizantium memberi perhatian khusus terhadap area ini.

Adapun pusat tanah yang merupakan inti dari Istanbul adalah daerah yang kita ketahui hari ini sebagai Sultanahmet Square.

Arsitektur Bizantium dan Turki Usmani yang paling menonjol dapat dilihat dari tempat tersebut. Beberapa bangunan tersebut, yakni Masjid Sultan Mehmet, Masjid Sulayman, Topkapi Place, Aya Sofya, dan sebagainya. Perpaduan kebudayaan dapat dilihat dari bangunan-bangunan indah yang saat ini masih dilestarikan tersebut.

Turki modern

Setiap kerajaan yang pernah tumbuh dan berkembang, terdapat suatu masa pada puncak kejayaan dan terdapat pula masa pada jurang kemunduran.

Menurut Norton JD dalam The Turks and Islam, antara 1451 dan 1566 Kekaisaran Turki Usmani mencapai kegemilangan terbesar di bawah tiga sultan berurutan: Muhammad II, Salim I, dan Sülayman I (di Barat dikenal sebagai Süleyman the Magnificent).

Pascaberakhirnya pemerintahan Sultan Sülayman I, Turki Usmani telah menandakan masa kemunduran.


Pascakekalahan pada Perang Dunia I tahun 1918, sekutu menguasai Turki dan membagi-bagi wilayah kekuasaannya.

Turki Usmani diambang keruntuhan, pihak Inggris merajalela, Sultan pun tidak lagi berfungsi. Hal ini menumbuhkan tekad Turki Muda utuk menyelamatkan negara. Maka, dibentuklah suatu gerakan nasionalis yang dipimpin Mustafa Kemal Atatürk. Revolusi Turki pun dimulai.

Selain itu, Mahayudin Yahya dan Ahmad Jelani Halimi dalam Sejarah Islam menyebutkan, akibat terpicu setelah penolakan perjanjian Sevres yang menyatakan wilayah Turki diserahkan kepada Yunani, gerakan Turki Muda ialah mengadakan Majelis Kebangsaan di Ankara pada 23 April 1920.

Mustafa Kemal dilantik menjadi presiden dan ketua Majelis Kebangsaan dan Majelis Menteri-Menteri. Seterusnya, mereka mendirikan negara sendiri yang berpusat di Ankara. Tentara Mustafa pun berhasil menghalau serangan Yunani.

Pada 24 Juli 1923 dibuat perjanjian di Lausanne yang memutuskan Yunani untuk mengembalikan wilayah Asia Kecil dan Istanbul serta kawasan timur Thracia.

Maka, pada 29 Oktober 1923 Majelis Kebangsaan Turki segera memproklamasikan sebuah negara republik dan melantik Mustafa Kemal Atatürk sebagai presiden pertama. Sistem kekhalifahan resmi dihapus pada 13 Mei 1924.

Sang bapak Turki, Atatürk, pun menyulap negara Islam itu menjadi negara republik. Islam tak lagi menjadi landasan negara dan ia menggantinya dengan paham sekuler. Bahasa Arab tak lagi menjadi bahasa resmi.

Atatürk menciptakan bahasa baru yang digunakan secara nasional, bahasa Turki. Ia melakukan reformasi agama dan modernisasi Turki dengan lebih dekat pada budaya Eropa. Setiap sendi kehidupan publik diatur untuk lepas dari agama. Sistem inilah yang terus dianut negara Turki hingga kini.

12 KEUTAMAAN KOTA SUCI MAKKAH AL MUKARROMAH


1. Kota Makkah dan Madinah adalah Dua Kota yang Tidak Akan Dimasuki Dajjal.
Sebagaimana disebutkan dalam Hadits: “Tidak ada satu negeri pun yang akan dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Dia tidak mendapati celah/jalan masuk, kecuali padanya ada malaikat yang berbaris menjaganya.”(HR Bukhari)

2. Amal Baik dan Buruk Dilipat-gandakan di Kota Makkah

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir, dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. al-Hajj [22]: 25). 

3. Rumah Pertama yang Dibangun di Bumi
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS Ali-Imran [3]: 96).

Wahai Rasulullah, masjid apakah yang paling pertama kali dibangun di bumi?” Beliau menjawab, ”Al-Masjid al-Haram.” Saya bertanya lagi, ”Kemudian apa?” beliau menjawab, ”Al-Masjid al-Aqsha.” Saya bertanya, ”Berapa lama selang waktu di antara keduanya?” beliau menjawab, ”40 tahun. Dimana saja shalat menjumpai kamu maka shalatlah karena itu adalah masjid.” (HR Bukhari)

4. Shalat di Masjidil Haram Lebih Utama 100 Ribu Kali 
“Shalat di Masjidil Haram lebih utama 100 ribu kali shalat yang dilakukan di masjid-masjid lainnya.” (HR Ibnu Majah)

5. Tempat yang Lebih Utama Dikunjungi 

“Janganlah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidil Haram, Masjid al-Aqsha, dan masjidku (Masjid Nabawi).” (HR Bukhari)

Hadits Nabi di atas, menyatakan keutamaan dan nilai lebih ketiga masjid tersebut daripada masjid yang lain. Hal tersebut dikarenakan, ketiganya merupakan masjid para nabi ‘alaihimus salam. Masjidil Haram merupakan kiblat kaum muslimin dan tujuan berhaji, sedangkan Masjidil Aqsha adalah kiblat kaum terdahulu, adapun Masjid Nabawi merupakan masjid yang terbangun di atas pondasi ketakwaan (QS al-Fath: 3/64).

Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan untuk melakukan safar menuju ketiga tempat tersebut dan mereka dilarang untuk melakukan safar ke tempat lain dalam rangka melakukan peribadatan, meskipun tempat itu adalah masjid.

6. Kota yang Disumpahi Allah Swt 

“Demi buah tin dan zaitun dan demi bukit Sinai dan demi kota (Makkah) ini yang aman.” (QS at-Tin [95]: 1-2). 

7. Kota yang Menjadi Saksi Dimulainya Peristiwa Isra’ Mi’raj

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al- Isra [17]: 1). 

8. Pernyataan Rasulullah dalam sebuah Hadits tentang Kekhususan kota Makkah
“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah Swt, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan karena dipaksa keluar, maka aku tidak akan meninggalkan engkau.” (HR At Tirmidzi). 

9. Kota yang Didoakan Nabi Ibrahim As, Seperti Termaktub dalam Alquran dan Al-Hadits
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah –mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 35-37).


Dalam hadits disebutkan:
“Sesungguhnya Ibrahim meng-Haram-kan kota Makkah dan mendoakan untuk penghuninya. Dan aku mengHarāmkan kota Madinah sebagaimana Ibrahim meng-Haram-kan kota Makkah, dan aku mendoakan untuk sha’ dan mud-nya seperti yang didoakan Ibrahim untuk penghuni Makkah.” (HR Muslim) 

10. Kota yang Damai, Dilarang Berperang dan Membawa Masuk Senjata ke Kota Makkah
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Harām, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).

Rasulullah Saw menjelaskan dilarang membawa senjata ke kota Makkah, seperti sabdanya: “Tidak halal bagi kalian untuk mengangkat senjata di Makkah.” (HR Muslim).

11. Kota yang Dilindungi Allah dari Kerusakan dan Kepunahan Populasinya

Sebagaimana disabdakan Rasulullah tentang Harāmnya berburu saat berihram:

“Sesungguhnya tanah ini telah di-Haram-kan oleh Allah, maka tidak boleh ditebang tumbuhannya, tidak boleh diburu hewan buruannya, dan tidak boleh dipungut satupun barang yang hilang padanya, kecuali orang yang mencari pemiliknya.” (HR Bukhari).

Ketika Allah menundukkan kota Makkah untuk Rasulullah Saw, beliau berdiri di tengah orang-orang, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melindungi kota Makkah dari pasukan gajah dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kota ini tidak halal bagi seorang pun sebelumku, ia hanya dihalalkan bagiku sebentar pada waktu siang, dan tidak dihalalkan bagi seorang pun setelahku. Oleh karena itu, binatang buruan yang ada di dalamnya tidak boleh dikejar, duri pohon yang tumbuh di dalamnya tidak boleh dipatahkan, benda-benda yang jatuh tidak boleh diambil, kecuali bagi orang yang mengumumkannya; dan barangsiapa terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua perkara (denda atau qishash).” Lalu Abbas berkata: kecuali tumbuhan idkhir, wahai Rasulullah. Sebab kami menggunakannya di kuburan dan rumah kami. Beliau bersabda: “Kecuali tumbuhan idkhir. (HR Bukhari).

12. Bumi Allah yang Paling Allah Sayangi
“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah Swt, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan karena dipaksa keluar, maka aku tidak akan meninggalkan engkau.” ( HR At Tirmidzi)
Reff 

Aleksandria Permata Mediterania

Kota itu merupakan salah satu dari tujuh keajaiban kuno. Aleksander Agung dari Makedonia mendirikan kota ini pada 331 SM di sebelah barat Delta Sungai Nil. Dia menjadikan kota tersebut menyandang nama kaisar penakluk Persia dan penjelajah Asia, Aleksandria.

Kota pelabuhan yang terletak di utara Benua Afrika ini pernah memiliki perpustakaan terkenal yang dibangun tiga abad terakhir SM. Diodorus Siculus pada abad pertama SM menggambarkan Aleksandria sebagai “kota pertama di dunia yang beradab”.

Dengan kekayaan khazanahnya, Aleksandria turut membesarkan para filsuf Yunani, seperti Euklides, Ptolemeus, dan Eratosthenes. Setiap yang hidup di kota ini, seperti Mark Anthoni, Cleopatra, Julius Caesar, ahli matematika Hypatia, memberi kontribusi terhadap pembangunan Aleksandria menjadi sebuah kota metropolis lengkap dengan istana megah, kuil, dan bangunan publik yang dihiasi dengan paduan kemewahan Eropa, Afrika, dan Timur. Walau didirikan di Mesir, Aleksandria merupakan kota kosmopolitan yang membawa kultur Yunani-Romawi.

Ahli geografi Yunani Strabo mengunjungi Aleksandria sekitar tahun 20 SM. Dia menyebut, Aleksandria sebagai kota yang penuh dengan gedung-gedung megah dan sakral. Strabo menambahkan, Aleksandria adalah kota terbesar dan satu-satunya kota di Mesir yang ramai dengan perdagangan lautnya karena kondisi pelabuhan yang dikelola dengan baik. “Tidak hanya itu, di kota ini perdagangan lewat darat pun juga berjalan lancar karena Sungai Nil yang mengalir menjadi penghubung,” tulisnya.

Akhirnya, Aleksandria ditaklukkan oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Amr Ibn al-Ash pada 641 M yang mengakhiri era Greco-Roman. Tidak hanya menguasai Aleksandria, Islam juga menguasai kota-kota pelabuhan lainnya di Mediterania. Dalam waktu 80 tahun sejak kematian Nabi Muhammad, tulisan sejarawan Belgia abad pertengahan, Henri Pirenne, Islam mulai merambah Turkistan hingga Samudera Atlantik dan kemudian menggantikan Kristen yang pernah menguasai pantai Mediterania. “Tiga perempat dari pesisir laut Aleksandria yang merupakan pusat dari budaya Romawi sekarang menjadi milik Islam,” tulisnya.

Karena posisinya yang rentan terhadap serangan armada Bizantium, khalifah Umar bin Khattab memerintahkan Amr agar memindahkan pusat kekuasaan dari Aleksandria ke daerah yang lebih terlindungi. Fustat yang terletak sekitar 225 kilometer sebelah tenggara pusat kekuasaan Mesir dipilih sebagai ibu kota baru.

Berdampingan dengan aliran Sungai Nil, Fustat berkembang menjadi pusat perdagangan baru dan Aleksandria berubah menjadi kota pesisir pedalaman di Mediterania. Dalam beberapa ratus tahun kemudian, Fustat menjadi kota terkaya di dunia. Ini ditulis ahli geografi Persia al-Qazwini. Komoditas perdagangan yang melewati Laut Merah dan Samudera Hindia pasti melewati kota ini.

Di bawah Dinasti Fatimiyah (969 M-1171 M), pasar di Kota Fustat penuh dengan barang-barang dari Jeddah dan Hijaz, Sana’a, Aden, Muskat, India, dan Cina. Barang-barang yang diperjualbelikan, di antaranya rempah-rempah, mutiara, batu mulia, sutra, porselen, kayu jati, kain, kertas, parfum yang belum ada di Eropa ketika itu.

Meski Fustat tumbuh menjadi kota yang gemerlap, mengalahkan Aleksandria, kota pelabuhan itu tidak lantas menjadi terpencil. Kota ini tetap mempertahankan dirinya sebagai pelabuhan Mediterania yang cukup penting dan makmur yang menghubungkan antara Timur dan Barat, Muslim, Kristen, dan Yahudi. “Tanpa Kota Aleksandria, seluruh Mesir tidak bisa bertahan hidup,” tulis seorang pengamat Venesia abad pertengahan.

Selama beberapa abad pertama pemerintahan Muslim terjadi perubahan di Aleksandria. Sistem administrasi yang sebelumnya menggunakan sistem pemerintahan Bizantium tetap dilanjutkan dengan perubahan kecil. Namun, perpustakaan Aleksandria yang sebelumnya menjadi pusat pembelajaran Helenistik mulai menghilang pada abad kelima. Para pejabat pemerintahan Islam yang menguasai Aleksandria tetap mengagumi jalan-jalan lebar di kota itu, yang di kiri kanannya dipenuhi maha karya arsitektur, berupa bangunan-banunan berpilar marmer yang indah dan rumit, sumur air, istana, kuil yang mewah.

Ahli geografi abad ke-10 M Ibnu Hawkal menyebut, Aleksandria sebagai salah satu kota yang terkenal dengan barang antik yang luar biasa. Memang, di Aleksandria banyak terdapat barang antik dan monumen otentik warisan mengesankan kerajaan dan kekuasaan yang pernah singgah di kota tersebut. Abad ke-12 M, ahli geografi Andalusia Ibn Jubair menulis mercusuar Aleksandria terkenal yang selama berabad-abad telah memandu kapal dari seluruh dunia. Cahayanya bagai kilauan permata di Mediterania.

Aleksandria tetap menjadi pusat persaingan antardinasti Islam dan juga menjadi sasaran invasi tentara Salib dari Eropa. Salah satu serangan yang paling terkenal terjadi pada 1365 M. Namun, serangan pasukan Salib tak menghambat hubungan perdagangan antara pedagang Arab dan pedagang Eropa. Memang, perdagangan merupakan kegiatan penting yang dihargai di negeri-negeri Muslim. Hal tersebut tidak terlepas dari Kota Makkah yang terkenal sebagai kota perdagangan dan Nabi Muhammad yang juga seorang pedagang.

Aleksandria sejak abad ke-10 M merupakan kota tertutup. Namun, pesonanya sebagai kota pelabuhan membuat negara seberang Mediterania, terutama Italia, tertarik untuk menguasai kota ini. Walau pusat operasinya di Levant atau wilayah timur Mediterania, para pedagang dari Pisa, Genoa, Marseille, dan Barcelona tetap merasa perlu untuk berlabuh di Aleksandria.

Alasannya, di pelabuhan Aleksandria datanglah beragam komoditas perdagangan barang mewah ketika itu, seperti sutra cerah dari Spanyol dan Sisilia, rempah-rempah, seperti lada, jahe, kayu manis, dan cengkeh dari Timur, budak dari Rusia selatan, karang dari Mediterania, minyak zaitun, kayu, aromatik, parfum, dan logam, termasuk besi, tembaga, dan timah.

Sedangkan, dari bumi Mesir menghasilkan jeruk lemon, gula, kismis yang bertumpuk di dermaga dan siap dikirim ke pasar Eropa. Flax, bubuk yang terbuat dari tanah mumi Mesir dan diyakini dapat menyembuhkan menjadi obat yang banyak dicari di Eropa, juga menumpuk di Aleksandria untuk diekspor. Salah satu saudagar Inggris pernah meminta agar dikirimkan sebanyak 600 pon bubuk flax ke tanah airnya.

Perdagangan yang ramai di Aleksandria bukanlah alasan satu-satunya para pendatang asing ke kota pelabuhan ini. Pada abad ketujuh hingga abad ke-16 M, Aleksandria menjadi pelabuhan penting jika ingin mengunjungi tempat-tempat suci di kawasan itu, yaitu Mesir, Makkah, atau Yerusalem.

Minat para peziarah menuju kota suci tersebut karena terdapat beberapa gereja dan biara-biara di sekitar Aleksandria serta lokasi Lembah Nil yang diyakini sebagai tempat pengungsian Yesus dan keluarganya selama di Mesir. Posisi Aleksandria sebagai tempat transit untuk perjalanan wisatawan ke Makkah dan Madinah membuat kota ini menerima pengunjung dan peziarah dari Afrika Utara dan Andalusia. Salah satunya adalah Ibnu Battuta, penulis sejarah terkenal abad 14 asal Maroko yang mengunjungi kota tersebut sebanyak dua kali selama hidupnya.

Namun, ketika Portugis menemukan rute laut menuju India dengan cara memutari Benua Afrika di Tanjung Harapan pada 1498 M, akhirnya membuat Aleksandria menjadi sepi. Ditambah lagi, pada saat itu kanal yang menghubungkan Aleksandria ke Kairo melalui Sungai Nil tertimbun lumpur sehingga membuat para pedagang asing berusaha mencari pelabuhan alternatif.

Selain itu, wabah peyakit pernah menyerang kota ini. Antara 1347 M hingga 1459 M, tidak kurang dari sembilan gelombang wabah menewaskan 200 jiwa per hari. Sekretaris Duta Besar Venesia pada April 1512 M menceritakan, wabah itu membuat para pedagang mencari rute perdagangan baru di tempat lain. Kini, Aleksandria lebih banyak didominasi oleh bangunan tinggi blok apartemen beton dan lalu lintas jalanan. Aleksandria mungkin tak sepenuhnya memancarkan kembali kilau tuanya. Namun, perannya sebagai titik pertemuan bagi berbagai ragam budaya dan kepercayaan tak akan terlupakan.

Rumah peristirahatan khusus yang disebut funduq dibangun untuk para pedagang yang singgah di kota pelabuhan Aleksandria, terutama mereka yang datang dari Eropa. Sementara, para pedagang Muslim bebas untuk menentukan tempat bermukim di mana pun di Aleksandria. Funduq dibangun di sekitar halaman tengah gudang agar mempermudah transaksi bisnis dan pemindahan barang dagangan.

Beberapa negara yang berdagang mendapatkan hak istimewa atas funduq. Venesia, misalnya, pada funduqnya terdapat sebuah gereja, pemandian, dan diperbolehkan membawa roti, keju, dan barang-barang lainnya bebas pajak. Salah seorang pedagang Venesia Benjamin dari Tudela Spanyol mengungkapkan, pedagang dari 28 negara Eropa pernah singgah di Aleksandria pada 1170 M, termasuk negara yang berada di luar Mediterania, seperti Denmark, Irlandia, Norwegia, Skotlandia, dan Inggris.

Aleksandria pada abad pertengahan menjadi titik pertemuan antara kepercayaan, budaya, dan perdagangan. Pendeta abad ke-12 M Guillaume dan sejarawan Tirus menulis, orang-orang dari Timur dan orang-orang dari Barat bertemu di kota ini. “Aleksandria seperti pasar besar dari dua dunia,” tulis mereka.

Namun, Perang Salib tidak hanya menghancurkan hubungan antaragama. Akibat perang tersebut, Paus memberlakukan embargo total perdagangan dengan Muslim. Akibatnya, pengunjung asing yang pergi ke Kota Aleksandria di bawah pengawasan ketat. Non-Muslim dilarang untuk memasuki pelabuhan barat dan beberapa pasar di Kota Aleksandria yang membatasi kewarganegaraan atau etnis para pedagang. Pada saat Perang Salib, Sultan Salahuddin al-Ayyubi melarang pedagang non-Muslim memasuki Mesir, begitu juga sebaliknya.
Reff

Damaskus, Kota Ilmu dan Peradaban

Suatu hari, penjelajah kondang asal Maroko, Ibnu Battuta (1304-1368 M) menginjakkan kakinya di Damaskus. Ia begitu kagum melihat kehidupan sosial masyarakatnya yang dermawan dan pemurah.

Ketika itu, sederet lembaga amal berdiri untuk meringankan beban bagi orang-orang yang tak berpunya dan membutuhkan bantuan. “Semangat sosial masyarakat Damaskus begitu tinggi,'' kisah Ibnu Battuta dalam catatan perjalanannya.

Saking banyaknya lembaga amal yang berdiri di kota itu, sampai-sampai Ibnu Battuta merasa sulit untuk menghitungnya. Saat itu, orang yang tak mampu menunaikan ibadah haji ke Makkah akan dibiayai lembaga amal yang ada.

Masyarakat Damaskus pun berlomba-lomba mewakafkan tanahnya untuk sekolah, rumah sakit serta masjid. Damaskus tak hanya dikenal sejarah sebagai kota yang dermawan karena kemakmurannya, namun juga pemurah karena sifatnya.

Bianquis mencatat, begitu terbukanya Damaskus bagi para pengungsi asal Andalusia yang terusir dari negeri Spanyol, ketika Kristen menguasai tanah itu pada abad ke 12 M.

Seabad kemudian, Damaskus menjadi tempat berlabuh warga Iran dan Irak ketika bangsa Mongol menghancurkan tanah kelahiran mereka. Pada abad ke-16, lagi-lagi Damaskus menjadi tempat berlindung pengungsi dari Spanyol, baik Muslim maupun Yahudi.

Tiga abad berselang, kota ini kembali menjadi tanah harapan bagi warga Kaukasus, Kurdi, dan Turki dari ancaman tentara Rusia.

Selain dikenal sebagai kota yang pemurah dan dermawan, Damaskus juga kesohor sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban Islam. Pada masa kekuasaan Khalifah Nur A-Din Zanki berkuasa, di Damaskus dibangun sekolah. Khalifah juga mewariskan begitu banyak buku untuk perpustakaan yang ada di kota itu.

Catatan tentang pesatnya perkembangan ilmu di Damaskus juga digambarkan seorang penjelajah Muslim lainnya, Ibnu Jubair.

Saat bertandang ke kota itu pada tahun 1184, dia menyaksikan begitu banyak fasilitas bagi pelajar asing dan pengunjung di Masjid Umayyah. Tak heran, bila Ibnu Jubair mendorong para pelajar dan mahasiswa dari Spanyol untuk pergi menimba ilmu ke Timur.

“Setiap orang di Barat yang ingin meraih sukses datang ke kota ini (Damaskus) untuk belajar. Sebab, fasilitas dan bantuan di sini begitu melimpah. Para pelajar yang menimba ilmu di sini tak pernah khawatir kekurangan makanan dan tempat bernaung,” papar Ibnu Jubair dalam catatan perjalanannya.

Pelopor universitas modern pertama di Damaskus dibangun penguasa Seljuk, Nizam Al-Mulk. Sepeninggal Nizam, bermunculan madrasah atau universitas di seantero kota itu pada abad pertengahan.

Menurut Tawtah, ketika itu di Damaskus berdiri 73 perguruan tinggi, 41 universitas di Yerusalem, 40 universitas di Baghdad, 14 perguruan tinggi di Aleppo, 13 universitas di Tripoli, serta 74 perguruan tinggi di Kairo.

Namun, ada pula yang menyebutkan jumlah perguruan tinggi di Damaskus pada era kejayaan Islam mencapai 150 buah. Menurut Ibnu Jubair, madrasah yang paling favorit serta terbaik di dunia saat itu adalah Al-Nuriyyah Al-Kubra berada di Damaskus. Perguruan tinggi itu didirikan Khalifah Nur Al-Din.

Selain itu, Ibnu Jubair juga mencatat di kota itu berdiri sebuah rumah sakit tua dan sebuah rumah sakit baru. Rumah sakit yang dibangun umat Islam pertama adalah RS Al-Nuri yang dibangun pada tahun 706 M oleh Khalifah Al-Walid Ibn Abd Al-Malik dari Dinasti Ummayah.

RS itu dilengkapi dengan peralatan paling modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Pada era itu, Damaskus tumbuh pesat sebagai salah kota penting yang dikuasai umat Islam.

Secara geografis, Damaskus terletak di sebelah Barat Daya Suriah. Ibu kota Republik Arab Suriah itu berada di oasis suatu dataran separuh gersang.

Damaskus juga berbatasan dengan Pegunungan Anti-Lebanon di sebelah Timur. Di sebelah Tenggara, kota ini berdekatan dengan Beirut, Lebanon. Damaskus juga dilalui Sungai Barada yang telah mengalirkan air selama ribuan tahun.

Kota itu termasuk salah satu kota tertua yang dihuni manusia. Damaskus dibangun sekitar 3.000 tahun SM. Berganti zaman, berganti pula penguasa Damaskus. Secara bergantian, kerjaan Assyria, Yunani, Romawi dan Bizantium menguasai wilayah itu.

Islam mulai menginjakkan pengaruhnya di kota itu pada era kekuasaan Khalifah Umar bin Khathab. Panglima perang seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abu Sufyan berhasil menunaikan tugasnya untuk menaklukan Suriah dan Palestina dari kekuasaan Romawi.

Secara resmi, Damaskus berada dalam kekuasaan Islam pada September 635 M. Proses Islamisasi berlangsung damai dan lancar. Penguasa Islam tetap menghormati kebebasan beragama.

Sejak itulah, Suriah menjadi salah satu provinsi pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Madinah. Gubernur pertama Suriah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Pada era kepemimpinannya, Usman bin Affan kerap berkunjung ke provinsi itu.

Ketika konstelasi politik di dunia Islam berubah, pada tahun 661 M Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan Dinasti Umayyah dan mendapuk Damaskus sebagai ibukota pemerintahannya.

Salah satu agenda Dinasti Umayyah adalah perluasan wilayah penyebaran Islam hingga ke Afrika Utara, Spanyol, Asia Tengah, Persia, serta India. Sehingga wilayah kekuasaan Islam pada abad pertengahan semakin meluas. Sekitar tahun 750 M, Dinasti Umayyah digulingkan Dinasti Abbasiyah dan ibukota pemerintahan berpindah ke Baghdad.

Ketika kekuasaan Abbasiyah memudar, pada 875 M penguasa Mesir, Ahmad ibnu Tulun, mengambil alih kota itu. Pada 945 M, Dinasti Hamdanids mengambil alih Damaskus. Sekitar tahun 968 M dan 971 kota itu dikuasai Qaramita. Setelah itu, Dinasti Fatimiyyah di Kairo menguasai Damaskus. Sejak abad ke-11, Dinasti Seljuk menguasai kota itu.

Pada 1260 M bangsa Mongol menaklukkan Damaskus. Tiga abad berikutnya, Turki Usmani berkuasa di kota itu. Pada 1946 Suriah memproklamirkan kemerdekaannya. Hingga kini, Damaskus tetap menjadi ibu kotanya.

Benteng Aleppo, Saksi Kehebatan Arsitektur Islam

Benteng Allepo merupakan sebuah bangunan yang mengelilingi sebuah istana di kota tua Aleppo di bagian utara Suriah. Benteng ini merupakan kastil tertua dan terluas di dunia.

Kompleks megah itu berdiri di sebuah bukit tepat di pusat Kota Aleppo. Benteng ini pernah diduduki oleh beberapa penguasa, seperti dari Yunani, Bizantium, Ayyubiyah, dan Mamluk.

Mayoritas bangunan yang bertahan hingga hari ini diperkirakan berasal dari periode Ayyubiyah. Benteng yang melayang di atas kota dengan keunikannya itu menjadi saingan utama Benteng Kairo dan Benteng Damaskus.

Benteng Aleppo atau Citadel Aleppo itu berbentuk elips dengan panjang sekitar 450 meter dan lebar 325 meter dengan ketinggian 50 meter dari kaki bukit. Benteng yang mengelilingi bukit di tengah kota tua Aleppo itu dibangun dari blok besar batu gamping yang mengkilat. Dan, batu-batu itu menancap kuat di bukit tersebut.

Benteng tersebut juga dikelilingi oleh parit yang dialiri air untuk melindungi benteng dari penyelundup. Parit benteng itu memiliki kedalaman 22 meter dan lebar 30 meter.

Keberadaannya pasti menyulitkan penyelundup untuk masuk ke dalam benteng pemerintahan tersebut. Meskipun benteng itu merupakan peninggalan peradaban Islam, para arkeolog telah menemukan reruntuhan zaman Romawi dan Bizantium yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 SM.

Benteng itu awalnya dibangun oleh bangsa Neo-Het Acropolis di atas sebuah bukit. Benteng militer itu dibangun untuk menjaga dan melindungi daerah pertanian di sekitarnya.

Sultan Hamdanid, penguasa Aleppo pertama, Saif Ad-Dawlah (944-967) membangun benteng sebagai pusat kekuatan militer daerah kekuasaannya. Pemimpin Zangid, Nuruddin Mahmud (1147-1174), membangun dinding benteng dan menambahkan beberapa bangunan baru seperti masjid kecil di benteng tersebut.

Namun, pada masa pemerintahan Dinasti Ayyubiyah di bawah kekuasaan Sultan Al-Zahir Al-Ghazi (1186-1216) Benteng Aleppo mengalami rekonstruksi besar-besaran. Ketika itu, dibangun proyek pembangunan benteng secara menyeluruh dan terjadi penambahan beberapa bangunan yang menjadikan kompleks Benteng Aleppo seperti yang ada saat ini.

Selama awal abad ke-13 M, benteng ini berkembang menjadi sebuah kota mewah yang mencakup fungsi mulai dari perumahan (istana dan pemandian), keagamaan (masjid dan kuil-kuil), instalasi militer (persenjataan, menara tempat latihan pertahanan dan pintu masuk), dan elemen-elemen pendukung (air sumur dan lumbung).

Tambahan cukup signifikan yang terjadi pada masa pemerintahan Al-Ghazi adalah Masjid Agung Citadel. Masjid yang dibangun pada 1214 itu terletak di titik tertinggi benteng yang menaranya berdiri setinggi 21 meter.

Menara itu mampu memperluas jarak pandang dan pertahanan benteng tersebut. Menara masjid itu memiliki dua peran sekaligus, yakni agama dan militer. Dualitas ini menggabungkan kebijakan, kekuasaan, dan kesalehan dalam ikon kepercayaan Islam.

Renovasi paling menonjol pada Benteng Aleppo adalah pembangunan blok pintu oleh Al-Ghazi pada 1213. Sebanyak delapan lengkungan besar jembatan yang memandu orang untuk datang menuju benteng di seberang parit.

Di depan jembatan terdapat sebuah menara penjaga. Di akhir jembatan terdapat dua menara penjaga yang tidak pernah berhenti mengamati kondisi sekitar. Gerbang dan jembatan ini menjadi satu-satunya jalan masuk menuju Benteng Aleppo. Dua benteng pertahanan lain dibangun terpisah di kaki bukit.

Sebuah model pertahanan yang kompleks dikembangkan pada rangkaian jalan menuju benteng. Seseorang harus menembus tiga pintu besi dan mengubah arah sebanyak enam kali melalui rangkaian belokan 90 derajat, bisa menjadi sasaran siraman cairan panas yang disemburkan dari celah pada bagian langit-langit. Strategi pertahanan ini membuat Benteng Aleppo menjadi salah satu benteng yang sulit ditaklukkan musuh.

 
Pada 1415 M, Gubernur Mamluk di Aleppo, Pangeran Sayf Al-Din Jakam, mendapat wewenang untuk membangun kembali Citadel Aleppo setelah invasi Mongol pada 1410. Tambahan yang terpenting pada masanya adalah istana yang menjulang lebih tinggi dari dua menara pada gerbang utama.

Keberadaan Istana Ayyubiyah nyaris terlupakan selama periode ini. Periode Mamluk juga merestorasi benteng. Pemerintahan Sultan Qansuh Al-Ghawri sempat mengganti langit-langit datar istana menjadi melengkung indah dengan sembilan kubah.

Selama pemerintahan Turki Usmani, peran militer di Benteng Aleppo sebagai garis pertahanan perlahan berkurang ketika kota mulai berkembang ke luar dinding benteng.

Proyek restorasi besar-besaran dilakukan pada 1828 setelah benteng itu rusak berat akibat gempa bumi. Restorasi ini terus dilakukan pada abad berikutnya, hingga hari ini.

Ruang tahta mengalami restorasi besar dan dibangun kembali pada akhir 1970-an. Amfiteaternya dibangun kembali pada 1980-an dengan kursi batu yang baru menggantikan yang lama dan teknologi lampu dan suara modern dipasang untuk menyelenggarakan festival dan konser.

Wajah Benteng Aleppo 

 
Citadel Aleppo atau Benteng Aleppo sampai hari ini masih berdiri megah di kota tua Aleppo, Suriah. Benteng ini menjadi salah satu tujuan turis asing di Kota Aleppo. Amfiteaternya pun masih berfungsi untuk konser musikal atau kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan.

Sebuah proyek restorasi dilakukan terhadap benteng ini pada 2000. Proyek itu dilakukan oleh Program Kota Bersejarah yang merekonstruksi dinding menara dan mengganti batu-batu yang hilang pada dinding dan lengkungan jembatan.

Proyek ini juga termasuk penggalian bagian dalam istana benteng yang disinyalir menyimpan sisa periode kekuasaan Turki Usmani (Ottoman) di Aleppo.

Restorasi ini juga dilakukan di istana Ayyubiyah dan memperbaiki portal muqarnas dan lantai marmernya. Pekerjaan tambahan difokuskan pada relokasi koleksi museum Benteng Aleppo yang saat ini terletak di barak Kesultanan Ottoman.

Barak yang akan digunakan kembali sebagai fasilitas umum ini terletak di sudut tertinggi situs tersebut. Sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan yang menakjubkan ke arah kota.

Perbaikan tersebut juga meliputi erosi yang terjadi di lereng benteng dan perbaikan sistem drainase di parit yang memisahkan bukit kecil tempat benteng tersebut berdiri. Sebuah proyek skala perkotaan akan menguji kembali lalu lintas dan pergerakan pejalan kaki di sekeliling benteng.

Hal ini bertujuan untuk mengurangi kesibukan lalu lintas di sekeliling benteng, menyediakan fasilitas transportasi umum, lahan parkir, dan menambah zona pejalan kaki di sekitar parit benteng.

Upaya untuk menjaga Benteng Aleppo sebagai monumen selamat datang terhadap para pengunjung dan masyarakat lokal merupakan sebuah penghormatan kepada simbol Kota Aleppo. Simbol kekuatan ini menjadi saksi selama berabad-abad dan membentuk sejarah kota tua Aleppo.

Imperium Terbesar Itu Bernama Turki Usmani

Kepemimpinan Islam pascawafatnya Rasulullah SAW (632 M) diteruskan oleh Khulafa ar-Rasyidin, yakni Abu Bakr, Umar bin Khattab, Utsman bin 'Affan, dan Ali bin Abi Thalib (632-672 M).

Pascakeempat amirul mukminin terbaik tersebut,Bani Umayyah (661-750 M) dan Bani Abasiyyah (750-1858 M) melanjutkan estafet kepemimpinan dunia Islam.

Sejak generasi awal Islam, semua pemimpin berasal dari bangsa Arab. Hingga, kemudian keruntuhan Bani Abasiyyah mengakibatkan kesatuan Muslimin terpecah belah. Sejak itulah muncul kekuatan baru dari tanah Asia, yaitu Turki.

Turki Usmani (Ottoman) bukanlah Muslimin dari kalangan Arab, melainkan dari Asia Tengah. Meski demikian, merekalah yang berhasil meneruskan estafet kepemimpinan Islam dari tangan bangsa Arab dan mempersatukan kembali Muslimin di bawah satu panji kekhalifahan.

Menurut Mahayudin Yahya dan Ahmad Jaelani Halimi dalam Sejarah Islam, sekitar abad ke-13 Masehi muncul kekuatan baru dari barat daya Asia Kecil yang berbangsa Turki. Kemunculan ini menjadi pemimpin umat Islam dari abad 13 hingga 20 Masehi.

Menurut Philip K Hitti dalam History of the Arabs, Turki Usmani merupakan campuran suku-suku Iran di Asia Tengah yang bergerak dari Mongolia menuju Asia Kecil dan berangsur-angsur menggeser posisi Bani Seljuk, sepupu mereka.

Senada, Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam mengatakan, mereka merupakan bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina.

Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan, kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika menetap di Asia Tengah.

Di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 Masehi, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka, orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia Kecil.

Adapun kata Usmaniyah (uthmaniyah, uthamanli, Inggris; ottoman), menurut Mahayudin dan Halimi, diambil dari nama penggasas kerajaan, yaitu Usman bin Erthogrul (Erthogril) bin Sulaiman Shah dari suku Qayi (Qayigh).

Yakni, salah satu suku cabang dari keturunan Oghus Turki. Suku ini tinggal di perkampungan di Mahan, Asia Minor. Sulaiman Shah beserta pengikut seribu orang berangkat dari sana menuju Anatolia.

Sebelum tiba di Anatolia, Sulaiman Shah bertekad kembali ke Mahan. Tapi, di tengah perjalanan dia wafat. Kepemimpinan digantikan putranya Ertoghrul.

Berbeda dengan keputusan ayahnya untuk pulang, Erthogul justru melanjutkan perjalanan ke Anatolia. Saat itu, Anatolia dipimpin oleh Bani Seljuk yang juga dari kalangan Turki.

Maka, kedatangan Erthogul pun disambut baik. Hubungan pun semakin erat ketika Erthogul dan pengikutnya membantu tentara seljuk di bawah sultan Ala' al-Din.

  
Hingga, kemudian Mongol datang bermaksud menghancurkan Seljuk. Dinasti Seljuk mulai goyah, Turki Usmani mengambil kesempatan untuk mengambil alih kuasa di Anatolia. Dengan dukungan pengikutnya, Usman pun memproklamasikan berdirinya Turki Usmani.

Tamara Sonn dalam Islam: A Brief Historymenuturkan, perebutan kekuasaan antara Seljuk dan Mongol melemahkan Seljuk, sehingga memungkinkan Usmani membangun kekuasaan mereka di Anatolia pada abad ketiga belas.

“Nama Usmani datang untuk melambangkan harapan bersatunya kerajaan Islam; khalifah Abbasiyah (yang telah rontok) di Kairo lebih memilih memenuhi panggilan sultan Islam Turki Usmani daripada di bawah perlindungan Mamluk,” ujarnya.

Usman bin Erhogrul merupakan yang pertama diangkat untuk memimpin di tanah yang sebelumnya dijabat oleh sultan-sultan Seljuk.

Dalam beberapa tahun, wilayah Turki Usmani membentang dari Suriah ke Danube. Meski Turki Usmani didirikan oleh Usman, pemerintahan mulai berjalan sejak putranya, Urkhan, berkuasa.

Kerajaan Turki Usmani merupakan kerajaan Islam yang paling besar dan paling lama berkuasa. Kerajaan ini terkenal ahli berperang.

Mereka dapat mengembalikan kerajaan Arab yang terpecah belah menjadi satu komando kepemimpinannya serta dapat menaklukkan kerajaan Mamluk dan Kerajaan Romawi Timur (Byzantium).

Tujuh abad Turki Usmani memimpin Muslimin. Tentu, itu bukanlah waktu singkat untuk berdirinya sebuah imperium. Wilayah kekuasaanTurki begitu luas yang dengannya penyebaran agama Islam pun mendunia.

Dengan usia yang panjang, Turki Usmani telah berhasil menancapkan sejarah yang brilian dan peninggalan yang cemerlang.

Khalid bin Walid, Panglima yang Sempurna

Ketika Khalid bin Walid masuk Islam, Rasulullah sangat bahagia karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat membela panji-panji Islam.

Adanya Khalid di barisan Kaum Muslimin meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan Khalid diangkat menjadi panglima perang dan menunjukkan hasil kemenangan.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid ditunjuk menjadi panglima yang memimpin sebanyak 46.000 pasukan, Khalid tak gentar menghadapi tentara Byzantium dengan jumlah pasukan mencapai 240.000.

Uniknya, Khalid malah khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatannya dalam peperangan yang dikenal dengan Perang Yarmuk itu.

Dalam Perang Yarmuk, jumlah pasukan Islam yang dipimpin Khalid bukan saja tidak seimbang dengan musuh. Khalid memimpin pasukan tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih plus kualitas yang rendah.

Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjata lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Hanya, bukan Khalid namanya jika tidak mempunyai strategi perang.
Khalid membagi pasukan Islam menjadi 40 kontingen dari 46.000 pasukan Islam untuk memberi kesan seolah-olah pasukan Islam terkesan lebih besar dari musuh.

Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian; depan, belakang, kanan, kiri dan tengah.

Heraklius telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan.

Kegigihan Khalid dalam memimpin pasukannya membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

Perang yang dipimpin Khalid lainnya adalah perang Riddah (perang melawan orang-orang murtad). Perang ni terjadi karena suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Mereka menganggap, perjanjian yang dibuat dengan Rasulullah batal setelah Rasulullah wafat.

Mereka pun menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan. Maka Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menjadi jenderal pasukan perang Islam untuk melawan kaum murtad tersebut. Khalid berhasil memberikan kemenangan.

Masih pada pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hirah pada 634 M. kemudian Khalid bin Walid diperintahkan oleh Abu Bakar meninggalkan Irak untuk membantu pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid.

Diantara peperangan, terselip kisah menarik dari Khalid bin Walid. Meski dikenal sebagai ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya, Khalid bukan orang sombong. Dia pun berlapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Hal ini ditunjukkannya saat Khalifah Umar bin Khathab mencopot sementara waktu kepemimpinan Khalid bin Walid tanpa ada kesalahan apa pun. Menariknya, ia menuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan kepada penggantinya, Abu Ubaidah bin Jarrah.

Khalid tidak mempunyai obsesi dengan ketokohannya. Dia tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Itu dianggapnya sebagai sebuah perjuangan dan semata-mata mengharapkan ridha Sang Maha Pencipta. Itulah yang ia katakan menanggapi pergantiannya, "Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!"

Jadi, di mana pun posisinya, selama masih bisa ikut berperang, stamina Khalid tetap prima. Itulah nilai ikhlas yang ingin dipegang seorang sahabat Rasulullah seperti Khalid bin Walid.

Khalid bin Walid pun akhirnya dipanggil oleh Sang Khaliq. Umar bin Khathab menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid. Tapi ia sedih karena tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya "Si Pedang Allah" menempati posisi khusus di sisi Allah SWT.

Para Ahli Kimia Muslim adalah Pembuat Roket Bermesiu Pertama

Menguasai teknologi persenjataan merupakan salah satu faktor yang membuat Kekhalifahan Islam di masa kejayaan menjadi begitu tangguh. Selain mumpuni dalam seni pembuatan pedang, dunia Islam pun mampu menggenggam teknologi pembuatan bubuk mesiu – bahan peledak yang digunakan untuk meriam. Sesuatu yang baru diketahui peradaban Barat pada abad ke-14 M.

Meski sejumlah pakar bersepakat bahwa mesiu (gunpowder) pertama kali ditemukan peradaban Cina pada abad ke-9 M. Namun, fakta sejarah juga menyebutkan bahwa ahli kimia Muslim bernama Khalid bin Yazid (wafat tahun 709 M) sudah mengenal potassium nitrat (KNO3) bahan utama pembuat mesiu pada abad ke-7 M. Dua abad lebih cepat dari Cina.
”Rumus dan resepnya dapat ditemukan dalam karya-karya Jabir Ibnu Hayyan (wafat tahun 815 M), Abu Bakar Al-Razi (wafat tahun 932) dan ahli kimia Muslim lainnya,” papar Prof Al-Hassan. Dari abad ke abad, istilah potasium nitrat di dunia Islam selalu tampil dengan beragam nama seperti natrun, buraq, milh.


Al-ha’it, shabb Yamani, serta nama lainnya.

Salah satu kelebihan peradaban Islam dibandingkan Cina dalam penguasaan teknologi pembuatan mesium adalah proses pemurnian potasium nitrat.Sebelum bisa digunakan secara efektif sebagai bahan utama pembuatan mesiu, papar Al-Hassan, potasium nitrat harus dimurnikan terlebih dahulu.

Ada dua proses pemurnian potasium nitrat yang tercantum dalam naskah berbahasa Arab. Proses pemurnian yang pertama dicetuskan Ibnu Bakhtawaih pada awal abad ke-11 M. Dalam kitab yang ditulisnya berjudul Al-Muqaddimat yang disusun pada tahun 402 H/1029 M, Ibnu Bakhtawaih menjelaskan tentang pembekuan air dengan menggunakan potasium nitrat – yang disebut sebagai shabb Yamani.

Proses pemurnian potasium nitrat juga termaktub dalam buku berjudul Al-Furusiyyah wa Al-Manasib Al-Harbiyyah karya Hasan Al-Rammah – ilmuwan Muslim pada abad ke-13 M. Dalam karyanya itu, Al-Rammah menjelaskan proses pemurnian potasium nitrat secara komplet. “Prosesnya purifikasi yang disusun Al-Rammah menjadi standar baku yang dapat kita temuka dalam beragaman risalah kemiliteran,” imbuh Prof Al-Hassan.

Al-Rammah menjelaskan secara rinci dan jelas tentang proses pemurnian potasium nitrat. Metode pembuatan potasium nitrat ini kerap diklaim peradaban Barat sebagai temuan Roger Bacon. Namun klaim itu dipatahkan sendiri oleh ilmuwan barat bernama Partington. “Proses pembuatan saltpetre – nama lain potasium nitrat – pertama kali diketahui dari Hasan Al-Rammah.

Prof Al-Hassan menemukan fakta bahwa potasium nitrat begitu banyak digunakan pada saat meletusnya Perang Salib. Pada tahun 1249 M, Raja Louis IX dari Prancis mengobarkan Perang Salib VII. Pasukan tentara Perang salib dari Prancis berniat menyerbu Mesir. Dalam Pertempuran Al-Mansurah yang meletus tahun 1250 M, pasukan tentara Salib dibuat kocar-kacir oleh pasukan Muslim.

Bahkan, Raja Louis IX pun takluk dan ditahan karena tak mampu menghadapi kehebatan mnocong meriam dan roket. Pada saat itu, pasukan Muslim sudah menggunakan bubuk mesiu sebagai bahan peledak meriam. Jean de Joinville, salah seorang perwira tentara Perang Salib, menjelaskan dengan betapa hebatnya dampak proyektil yang ditembakkan meriam tentara Muslim terhadap pasukan tentara Prancis.

Kalangan sejarawan menafsirkan kesaksian Joinville itu. Menurut para sejarawan, proyektil yang dijelaskan Joinville itu pastilah mengandung bubuk mesiu. Kehebatannya mampu membuat kocar-kacir pasukan tentara Salib.Lembaga Ruang Angkasa Amerika Serikat (NASA) dalam publikasinya mengenai sejarah roket juga mengakui teknologi militer dunia Islam di abad ke-13 M.

“Pasukan tentara Muslim melengkapi persenjataannya dengan roket yang ditemukannya sendiri. Saat Perang Salib VII mereka menggunakannya untuk melawan pasukan Prancis yang dipimpin Raja Louis IX.” Dua dasawarsa berikutnya Raja Louis mencoba kembali menyerang Tunisia.

Namun, dendamnya itu justru berakhir dengan kematian baginya. Pasukan Muslim dibawah kekuasaan Dinasti Mamluk dengan mesiu dan senjatanya kembali membuat kocar-kacir tentara Salib. Sejarawan Inggris, Steven Runciman dalam bukunya A History of the Crusades menuturkan bahwa mesiu digunakan secara besar-besaran pada 1291 M di akhir Perang Salib.
Sejak itu, persenjataan militer menggunakan mesiu secara besar-besaran Pada tahun 1453 M, Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki juga mampu menaklukkan kepongahan Konstantinopel dengan mesiu dan meriam raksasa.Dalam empat risalah berbahasa Arab disebutkan pada perang Ayn Jalut di Palestina pada tahun 1260 M antara tentara Islam sudah menggunakan meriam kecil yang bisa dijinjing saat bertempur melawan Mongol.

Meriam dan mesiu digunakan dalam peperang di abad pertengahan untuk menakuti kuda-kuda dan pasukan kavaleri musuh. Selain menggunakan mesiu untuk persenjataan, pada era itu juga digunakan untuk membuat mercon.Dinasti Mamluk dalam perayaan-perayaan di abad ke-14 M, dilaporkan biasa menampilkan atraksi petasan. Istilah petasan sudah disebutkan dalam harraqat al-naft or harraqat al-barud.

Seorang penjelajah asal Prancis bernama Bertrandon de la Brocquiere terperangah melihat pertunjukan petasan ketika tiba di Beirut pada tahun 1432 M. Saat itu, penduduk Beirut tengah bersuka cita merayakan hari Idul Fitri.Brocquiere mengaku baru pertama kali melihat pertunjukan mercon. Pada era itu bangsa Prancis belum mengenal dan melihat mercon.
Pada waktu itula, Brocquiere kemudian mencoba mempelajari rumus dan resep rahasia pembuatan mercon. Ia lalu membawa rumus-rumus yang diperolehnya ke Prancis. Sementara itu, untuk pertama kalinya mercon dikenal di Inggris pada tahun 1486 M ketika Henry VII menikah. Sejak era kekuasaan Ratu Elizabeth I, mercon dan kembang api mulai populer.

Sejak abad ke-13 M, peradaban Islam sudah mampu menyusun rumus dan komposisi mesiu serta bahan lainnya yang digunakan untuk membuat berbagai jenis bahan peledak. Peradaban Barat lalu meniru dan menggunakan teknologi yang dimiliki dan dikuasai umat Islam di era keemasan itu.

Meski berutang kepada peradaban Islam, pencapain sangat tinggi yang diraih umat Islam dalam teknologi pembuatan mesiu dan meriam kerap kali dihilangkan para sejarawan Barat. Sejarah Barat selalu menyebutkan sejarah mesiu dari Cina langsung ke Barat, tanpa menyebut pencapaian di dunia Islam.

Reff

Masjid Baiturrahman: Saksi Pergolakan Rakyat Aceh Mempertahankan Syariah

Masjid Baiturrahman telah menjadi simbol Aceh. Menelusuri sejarah masjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini ibarat melihat perjalanan bumi Serambi Makkah. Mulai dari masa Kesultanan, perlawanan terhadap penjajahan Belanda hingga bencana tsunami, rumah ibadah ini menyaksikan semuanya. 

Masjid ini sudah berada di tengah kota Banda Aceh sejak zaman Kesultanan. Masjid ini didirikan pada abad 17, yakni pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Nama Baiturrahman, menurut catatan sejarah, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu masjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh.


Selain sebagai tempat ibadah, pada masa penjajahan, Masjid Raya Baiturrahman berfungsi sebagai markas pertahanan terhadap serangan kompeni. Fungsi tersebut mulai terasa semasa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah (1870-1874). Di masjid ini, sering pula diadakan musyawarah besar untuk membicarakan strategi penyerangan dan kemungkinan serangan tentara Belanda terhadap Kesultanan Aceh.

Saat Pemerintah Hindia Belanda menancapkan kekuasaannya di Bumi Aceh pada 1873, Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Alaidin Mahmud Syah menolak mentah-mentah kedaulatan pemerintahan penjajah tersebut. Penolakan ini membuat pihak Belanda tersinggung dan murka. Buntutnya, Pemerintah Hindia Belanda memaklumatkan perang terhadap Kesultanan Aceh.

Karena posisinya yang sangat penting dan strategis, tidak pelak Masjid Raya Baiturrahman menjadi ajang perebutan. Tercatat dalam sejarah, dua kali masjid kebanggaan kaum Muslim di Tanah Rencong ini dibakar Belanda. 

Pertama: pada 10 April 1873, yaitu ketika pasukan Belanda melakukan serangan besar-besaran sebagai upaya balas dendam atas kekalahan mereka. Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler. Belanda langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman.Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira.

Dalam serangan besar itu, Masjid Raya Baiturrahman tidak saja berhasil direbut, bahkan kemudian dibakar sebagian. Pada saat itu terjadi pertempuran besar: tentara Aceh melawan tentara Belanda. Gugurlah perwira tinggi Belanda bernama Kohler. Pertempuran di masjid ini dikenang lewat pembangunan Prasasti Kohler pada halaman masjid. Letak prasasti ada di bawah pohon Geuleumpang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang masjid.

Kedua: pada 6 Januari 1874. Meskipun masjid ini dipertahankan mati-matian oleh seluruh rakyat Aceh, karena keterbatasan dan kesederhanaan persenjataan, akhirnya rakyat Aceh harus merelakan masjidnya jatuh ke tangan musuh. Tidak hanya direbut, kali ini pihak penjajah membakar habis bangunan Masjid Raya Baiturrahman. Saat bersamaan, Belanda juga mengumumkan bahwa Kesultanan Aceh sudah berhasil ditaklukkan dan berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

Namun, untuk mengambil hati rakyat Aceh, Pemerintah Hindia Belanda berjanji akan membangun kembali masjid yang telah hancur itu. Peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G. J. van der Heijden.

Belanda dalam upayanya ‘menundukkan dan meredam’ pergolakan perjuangan masyarakat Aceh menggunakan berbagai macam taktik. Salah satunya, taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz. Saat itu dibentuk pasukan maréchaussée yang dipimpin oleh Christoffel dengan pasukan Colone Macan. Pasukan ini telah mampu menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh.

Taktik Belanda berikutnya adalah penculikan anggota keluarga gerilyawan Aceh. Misalnya, Christoffel menculik permaisuri Sultan dan Tengku Putroe (1902). Van der Maaten menawan putra Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Van der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali. Panglima Polim dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap putra Panglima Polim, Cut Po Radeu, saudara perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya.

Akibatnya, Panglima Polim meletakkan senjata dan menyerah ke Lhokseumawe pada Desember 1903. Setelah Panglima Polim menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polim. Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan di bawah pimpinan Gotfried Coenraad Ernst van Daalen yang menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) yang menewaskan 2.922 orang, terdiri dari 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan.

Taktik terakhir, menangkap Cut Nyak Dhien, istri Teuku Umar, yang masih melakukan perlawanan secara gerilya. Akhirnya, Cut Nya Dien dapat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur.

Selama Perang Aceh, Van Heutz telah menciptakan surat pendek (Korte Verklaring, Traktat Pendek) tentang penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan menyerah. Surat pendek penyerahan diri itu berisikan: Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda; Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri, berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. Perjanjian pendek ini menggantikan perjanjian-perjanjian terdahulu yang rumit dan panjang dengan para pemimpin setempat.

Kota Pertama dan Tertua di Dunia

Seluruh umat Islam di seluruh dunia, tentunya mengenal Makkah, yakni kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan di kota Makkah terdapat Ka’bah (Bayt Allah) yang menjadi kiblat shalat umat Islam. Setiap tahun, ketika musim haji tiba, jutaan umat manusia dari berbagai bangsa dan negara, hadir di kota ini untuk melaksanakan ibadah haji.

Makkah merupakan sebuah kota yang berusia sangat tua. Lebih tua dibandingkan kota lain seperti Mesir, Irak, Iran, Yaman, Madinah, dan lainnya. Kota ini, telah dikenal sebelum Islam, yakni sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS).

Namun demikian, menurut Junaidi Halim dalam bukunya Makkah-Madinah dan Sekitarnya, Kota Makkah adalah kota tertua di dunia. Bahkan, ia sudah ada sejak zaman Nabi Adam Alaihissalam. Konon, Nabi Adam dahulunya diturunkan ke bumi adalah di Makkah, sedangkan Siti Hawa di Jeddah. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Adam diturunkan di Irak, di Sri Lanka, India, dan lainnya.

Junaidi Halim menyatakan, batas Kota Makkah merupakan tempat berbarisnya para Malaikat, ketika Nabi Adam meminta perlindungan dari godaan Iblis, setelah diturunkan dari Surga. Batas-batas itu adalah sekitar 7 kilometer (km) Masjid al-Haram dari utara, 13 km ke arah selatan, 25 km dari arah barat dan 25 km dari arah timur.

Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts, dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Nabi Ibrahim diperkirakan hidup pada 1997-1822 Sebelum Masehi (SM). Dan, bila merujuk pada masa hidup Nabi Ibrahim itu, hingga kini Kota Makkah telah berusia sekitar 40 abad.

Sebagaimana dikisahkan, Nabi Ibrahim dan istrinya, Siti Hajar beserta putranya, Ismail AS pindah dari Palestina ke Makkah. Dan di kota Bakkah atau Makkah ini, Allah SWT memerintahkan Ibrahim dan Ismail AS untuk membangun ka’bah sebagai tempat ibadah.

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS Ali Imran [3]: 96).

Ayat ini menunjukkan bahwa Bakkah atau Makkah telah ada sejak dahulu. Hal ini juga diakui oleh Sayyid Muzaffaruddin Nadvi, dalam bukunya A Geographical History of the Qur’an (Sejarah Geografi Alquran). Nadvi menyebutkan, bangsa Arab adalah bangsa yang tua. Saking tuanya, tak banyak sejarah menuliskannya.

Namun demikian, bangsa Arab, khususnya Makkah, terdiri atas dua kelompok, yakni kelompok yang masih berdarah murni, dan yang sudah bercampur. Kelompok pertama adalah keturunan Joktan atau Qahtan, putra Eber. Sedangkan kelompok kedua adalah keturunan Ismail, putra Nabi Ibrahim AS dengan Siti Hajar. Namun, ada pula yang menyebutkan, sesungguhnya bangsa Arab, dan Makkah khususnya, adalah keturunan Nabi Ismail AS.

Ketika Ibrahim mengajak istrinya hijrah ke Makkah, Ismail yang ketika itu masih bayi juga diikutsertakan. Saat itu, kondisi Makkah masih berupa gurun sahara yang luas, berpasir, dan daerahnya dikelilingi oleh gunung-gunung atau bukit-bukit yang tandus.

Kondisi Makkah yang gersang dan tandus ini, terungkap dalam doa Nabi Ibrahim. “Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.” (QS Ibrahim [14]: 37).

Ibnu Katsir menyebutkan di dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah bahwa Ismail AS memperistri putri Madhadh bin ‘Amr al-Jurhumi dan memiliki 12 orang putra, yakni Naabit, Qaidaar, Adbaa’iil, Mabsyaam, Masymaa’ Dumaa, Misyaa, Hadad, Yatma, Yathur, dan Nafiis, serta Qaidamaan. Dari 12 putra ini, kata Ibnu Katsir, dua orang di antaranya, yakni Naabit dan Qaidzar yang menurunkan seluruh kabilah Arab Hijaz. Naabit adalah putra dari saudara perempuan kabilah-kabilah Jurhum. Jurhum mendominasi rumah tangga seluruhnya karena ketamakan terhadap kemenakan mereka. Mereka kemudian menguasai Mekkah dan sekitarnya menggantikan Bani Ismail dalam jangka waktu yang lama.

Karena itu, sebagian besar peneliti dan ahli tafsir meyakini, sesungguhnya suku-suku dan kabilah-kabilah Arab itu semuanya berasal dari keturunan Nabi Ismail. Dan Ismail diperkirakan hidup sekitar tahun 1940-1800 SM.

Bahkan, dalam kitab Perjanjian Lama dan karya-karya sastra klasik, bangsa Arab sudah ada sejak zaman dahulu (purba). Sejumlah penelitian arkeologi dan dalam karya sastra Eropa, telah disinggung hasil bumi dan pertanian bangsa Arab.

William Shakespeare (1564-1616 M), pujangga Inggris, dalam salah satu karyanya menyebutkan: “Segala wewangian Arab takkan mempermanis tangan kerdil ini.”

Hal yang sama juga diungkapkan Milton (1608-1674 M), seorang penyair Inggris. “… di laut lepas angin timur berhembus; Semerbak Saba dari pantai yang hangat; Dari Arab yang penuh rahmat.”

Ini menunjukkan, pada zaman dahulu, bangsa Arab dan Makkah khususnya, telah dikenal luas oleh masyarakat sebagai sebuah bangsa yang terkenal akan kejayaannya.

Memang, tak banyak sejarah yang mengungkapkan periodisasi Kota Makkah, setelah Nabi Ismail AS. Selang 25 abad kemudian atau sekitar abad ke-5 Masehi (420 M), keberadaan Kota Makkah mulai terkuak, yaitu pada masa Qushay bin Kilab, kakek kelima Nabi Muhammad SAW.

Qushay mempunyai beberapa anak, salah satunya Abdi Manaf bin Qushay. Abdi Manaf mempunyai beberapa anak, di antaranya Hasyim (Bani Hasyim). Dari bani Hasyim inilah yang menurunkan Abdul Muthalib dan menurunkan Abdullah, ayah Nabi Muhammad SAW.

Mengenai nasab Rasulullah SAW ini sebagaimana diterangkan dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan At-Tirmidzi. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari anak Ibrahim dan memilih Kinanah dari anak Ismail dan memilih Quraisy dari Bani Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilihku dari Bani Hasyim.”

Pada masa itu, Qushay dikenal sebagai salah satu pemimpin suku Quraisy. Suku Quraisy dinisbatkan pada keturunan bani Kinanah, yakni Quraisy bin Fihr bin Malik bin Nadhor bin Kinanah. Qushay mendapat tugas sebagai pemegang kunci sekaligus pemelihara Ka’bah. Dan dari Qushay ini kemudian pemeliharaan Ka’bah dilanjutkan oleh keturunannya, hingga Abdul Muthalib.

Dan pada abad ke-6 (571) Masehi, Kota Makkah makin terkenal ke seantero dunia. Karena pada saat itulah, penghulu para Nabi, yakni Muhammad SAW dilahirkan.