aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Selasa, 27 Agustus 2013

Dahsyatnya Bekerja dengan Cinta


Bekerja dengan cinta. Contoh yang paling mudah dicermati adalah para atlet dan seniman. Mereka mempertemukan dorongan cinta, hobi, skill, dan agenda mencari uang yang kesemuanya menjadi satu paket dan tarikan nafas.

Mereka bekerja dengan gembira dan penuh antusiasme karena dorongan cinta terhadap apa yang mereka lakukan. Coba saja amati suasana kerja dalam lingkungan terdekat, entah kantor, keluarga, pabrik, proyek bangunan, dan seterusnya. Siapa yang melakukannya dengan cinta, energinya takakan habis-habis. Mereka bekerja dengan antusias bahkan sering melebihi waktu yang dijadwalkan.

Waktu terasa berjalan cepat. Perasaan yang sama juga dirasakan mereka yang menjalani hidup dengan gembira, antusias, dan produktif sehingga hari, bulan,dan tahun dirasakan berlangsung cepat dan tahu-tahu jatah umur sudah habis. Di lingkungan perkantoran ataupun pabrik, berbahagialah kalau mayoritas karyawan-karyawatinya memiliki kesesuaian antara minat, bakat, dan jabatan sehingga mereka bekerja dengan cinta. Seorang yang bekerja dengan cinta akan selalu berusaha menghasilkan yang terbaik.

Khususnya mereka yang bekerja sebagai guru, mencintai profesi dan murid-muridnya merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Para siswa akan tahu dan merasakan siapa guru yang mengajar dengan cinta dan siapa yang sekadar bekerja mengejar gaji. Seorang koki profesional misalnya akan bahagia ketika berhasil menyajikan masakan istimewa dan membuat pelanggannya puas.

Begitupun sopir yang mencintai pekerjaannya dan senang mesin pasti akan selalu merawat mobilnya dengan hati. Yang kemudian menjadi pertanyaan, bagaimana menghadapi karyawan-karyawati yang tidak menyenangi tugasnya, namun mereka mesti bekerja demi mendapatkan uang dan memenuhi kewajiban kantor. Dalam lingkungan kantor atau perusahaan selalu ditemukan empat kategori karyawan.

Pertama, yang paling ideal adalah mereka yang memiliki skill dan semangat kerja tinggi. Dalam diri mereka bertemu keahlian, loyalitas, dan semangat berprestasi. Semakin besar kelompok ini akan semakin maju sebuah institusi. Pimpinan mesti sering-sering memberi apresiasi. 


Kedua, ada sekelompok karyawan atau pegawai yang sesungguhnya memiliki skill tinggi, tetapi motivasi kerjanya rendah. Terhadap mereka mesti dipelajari dan diajak bicara dari hati ke hati agar ketemu masalahnya dan tumbuh motivasi kerja. Dengan kata lain, mereka perlu diberi konseling.

Ketiga, ada sekelompok pegawai yang semangat kerjanya tinggi, tetapi skill rendah. Cara termudah tentu diberi pelatihan untuk meningkatkan keahlian. Keempat, kelompok yang membuat perusahaan atau negara rugi adalah mereka yang skill dan motivasinya rendah, namun selalu menuntut fasilitas serta gaji. Kelompok ini yang paling logis diberhentikan atau pensiun dini. Suasana kerja di lingkungan departemen pemerintah umumnya tidak produktif karena sangat bisa jadi kelompok keempat tadi cukup besar.

Kesalahan sudah terjadi sejak awal mula seleksi penerimaan pegawai yang penuh dengan praktik koncoisme dan suap. Akibatnya, anggaran negara habis,namun kinerja pegawai tidak produktif karena memang rendah skill dan motivasinya. Kalau ini terjadi di lingkungan swasta, akan lebih mudah mengatasinya.Tetapi tidak demikian halnya bagi pegawai negeri sipil. "Working with heart and passion" mestilah ditumbuhkan di mana saja.

Dengan demikian, salah satu tugas jajaran pimpinan adalah memberikan program-program strategis bagaimana menciptakan suasana kerja yang penuh antusiasme dan produktif. Mengenai antusiasme sesungguhnya cukup terlihat di lingkungan LSM atau parpol. Namun, tanpa program yang jelas, dukungan SDM yang terampil, berintegritas, dan visioner, yang kemudian menonjol hanyalah hiruk-pikuk seminar, kongres, rapat akbar, dan semacamnya.

Ibarat pemain bola yang semangat lari ke sana ke mari mengejar bola, namun tanpa skill dan memahami strategi permainan dalam sebuah tim pasti hanya akan membuang energi dan waktu,namun tidak memberi sumbangan apa-apa pada pertandingan. Mestinya cukup menjadi suporter, bukan pemain. Dalam jajaran birokrasi pemerintahan, perusahaan, dan perwakilan rakyat, rasanya banyak yang pantasnya cukup sebagai suporter tepuk tangan dan teriak-teriak di pinggir lapangan, tidak usah ikut bermain di lapangan.Tetapi karena sejak proses awal rekrutmen sudah terjadi kesalahan, semakin tidak tercipta apa yang kita maksudkan working with passion, bekerja penuh antusiasme, produktif, dan bermakna.

Padahal di situlah seseorang akan mendapatkan kepuasan batin,harga diri dan posisi yang jelas dalam jejaring kehidupan yang semakin kompleks ini. Lebih dari itu, kerja produktif yang didasari semangat cinta pasti akan menimbulkan vibrasi positif bagi lingkungannya dan bermanfaat bagi siapa pun yang menggunakan hasil karyanya.
Reff

Mengenali Guru Tipe Mediocre

“Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak menemukan guru yang tepat untuk mengembangkan potensinya”. Kira-kira begitulah ucapkan Yohanes Surya. Beliau telah berhasil mengantarkan siswa-siswa beprestasi secara internasional. 

Begitu pula ucapan Ibrahim Bafadal, “ tidak ada siswa yang tidak bisa dididik, yang ada hanya guru yang tidak bisa mendidik. Tidak ada guru yang tidak bisa mendidik, yang ada hanya kepala sekolah yang tidak memimpin”. Saya tulis kembali ungkapan tersebut karena saya menpunyai pemahaman bahwa urusan pokok dari pendidikan adalah profesionalitas guru.

Tentunya, secara konseptual guru profesionalitas menpunyai banyak karakteristik. Bagi orang tua siswa rasanya cukup untuk mengetahui fenomenanya. Pada tulisan sebelumnya, saya telah mengutip hasil survey litbang kompas mendapat gambaran mengenai guru bertipe mediocre dengan kemampuan pas-pasan yang cenderung satu arah dan belum kreatif ”menerjemahkan” KTSP (Kompas.com, 7 Mei 2013). Pada tulisan itu juga, saya menyebutnya sebagai burnout sebuah keadaan kelelahan mental dengan ciri kedap (inersia) terhadap perubahan atau sebutlah guru “gosong”. Fenomena mediocre atau guru dengan kemampuan biasa biasa saja itu dapat dipaparkan seperti dibawah ini. Fenomena ini, saya batasi dalam hal kemampuan interaksi pedagogis.

Hasil ulangan, diperiksa seadanya. 

Siswa membutuhkan umpan balik mengenai kemampuan belajarnya, yang salah satu dengan cara memberikan koreksi berupa komentar kelemahan dan kelebihannya dalam pencapaian setiap kompetensi. Pengalaman saya berinteraksi dengan guru menunjukkan mereka hanya memberikan nilai kuantitatif berupa angka-angka, tidak memberikan informasi yang bersifat diagnostik sehingga siswa tidak tahu secara detil kompetensi yang harus diperbaikinya.

Memberikan umpan balik dengan membuat strereotipe. 

Menilai berdasarkan persepsi kategorisasi siswa. Banyak ditemukan guru memberikan label siswa pintar dan bodoh. Semisal, seorang siswa yang tidak mampu menyelesaikan soal matematika dianggap siswa yang bodoh. Padahal mungkin siswa tersebut lambat menguasainya disebakan masih bingung menemukan cara penyelesaikannya. Jadi persoalannya bukan bodoh, tetapi belum menemukan perancah (scaffolding) untuk menyelesaikan soal tersebut. Karena itu guru bertugas membimbing siswa menguasai perancah untuk menyelesaikannya. Jika kata-kata “bodoh” sering diucapkan pada siswa, saya khawatir siswa tersebut benar-benar menjadi bodoh.

Banyak alasan (excuse) dan menyalahkan orang lain (blame). 

Untuk fenomenablame , saya pernah bertanya kepada beberapa guru tentang kemengapaan siswa prestasi belajarnya rendah. Jawabannya senatiasa disebabkan oleh fakfor di luar dirinya, seperti orang tua kurang perhatian, kurang fasilitas belajar di sekolah dan sebagainya. Jawabannya ini tidak salah, tetapi faktor penyebab yang berasal dari kemampuan dirinya tidak diungkapkan, padahal itu mungkin akar penyebabnya. Hampir mirip dengan blame, excuse merupakan perilaku tidak professional. Karena mereka senantiasa mecari alasan untuk membenarkan tindakan salahnya. Fenomena ini semacan rasionalisasi yang berusaha menutupi kesalahannya. Kata-kata “maaf” sering dilontarkan seperti maaf saya terlambat, maaf saya tidak sempat membuat rencana pembelajaran, maaf saya … dan sebagainya

Last but not least, banyak siswa diminta mendengar daripada berbuat. 

Hampir seluruh waktu di kelas digunakan hanya untuk berceramah. Seolah-olah yakin bahwa siswa akan mendengarkan semua kata yang diucapkannya. Saya jadi ingat Covey, Stephen R (1989) bahwa tidak semua orang dapat mendengar secara atentif, pasti di kelas terdapat siswa mendengar tentang apa yang ingin didengarnya (menyeleksi informasi sesuai dengan keinginannya) atau mendengar melalui telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan.Dalam kurikulum 2013 pembelajaran dilakukan dengan pendekatan saintifik, aktivitas mendengar siswa porsinya sedikit dibanding dengan mengamati dan melakukan.

Mudah-mudah fenomena dalam interaksi pedagogis antara guru dan siswa hanya empat di atas, tidak bertambah. Solusi untuk memecahkan masalah tersebut telah banyak tersedia, tetapi menurut saya yang lebih penting adalah guru harus senantiasa melakukan repleksi atas pekerjaannya. Atas dasar repleksi tersebut maka setiap kelemahan selalu diperbaiki. Atau dengan kata lain, guru harus belajar secara terus menerus. Karena itu, perlu internalisasi budaya mutu ke dalam sistem sosial sekolah. Ini merupakan tugas kepala sekolah sebagai leader. Sebagai leader yang berorientasi untuk mengubah, terutama mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk.

Syirik dan Durhaka kepada Orang Tua

“Maukah kamu aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? Beliau mengulangi tiga kali. Kami menjawab, “Mau wahai Rasulullah,” beliau bersabda, “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan Rasulullah Saw dalam hadis ini begitu menggetarkan jiwa, beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Sebuah penegasan tentang kepastian apa yang diberitakan. Bahwa dosa yang paling besar yang sangat dimurkai Allah SWT adalah menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.

Rasulullah Saw mewanti-wanti umatnya agar tidak terjerumus kepada dosa ini. Bahkan beliau menuntun kita supaya menghindarkan diri dari syirik kecil yaitu riya. Supaya tidak terjebak kepada syirik besar.

Dosa besar kedua adalah durhaka kepada kedua orang tua. Dosa ini bersumber dari hati yang tidak mau bersyukur, tidak berterimakasih, tidak mempunyai kasih sayang. Orang tua seharusnya mendapatkan tempat yang layak, penghormatan dan rasa cinta dari sang anak.

Mereka berdua telah mengantarkan anak menuju masa depannya dengan berbagai macam onak dan duri yang ditemui dalam perjalanannya. Sepenuh cinta dan kasih saying dalam merawatnya sampai besar. Ketika anak dewasa membalas dengan kedurhakaan kepada keduanya, maka murka Allah yang akan didapatkan sang anak. Ingatlah ridha Allah ada bersama keridhaan orang tua, seperti halnya murka Allah ada bersama murka orang tua.

Segeralah bertaubat wahai mereka yang masih melakukan perbuatan syirik. Dan mereka yang durhaka kepada orang tua, berhentilah, minta maaf kepada keduanya, bahagiakan mereka berdua, senangkan hatinya sebelum semuanya terlambat!
Reff

Pemakaman Jannatul Baqi (Madinah)

Baqi’ adalah pemakaman kuno yang sudah ada pada jaman Rasulullah. Baqi` memiliki arti tanah subur (gembur) yang tidak terdapat batu-batuan. Tanah jenis ini biasanya diperuntukkan buat daerah pemakaman. Rasulullah SAW. sering menziarahi kuburan Baqi` Al Gharqad pada malam hari dan berdoa untuk penghuninya.

Disebutkan dalam hadis bahwa Rasulullah Bersabda : “Aku adalah orang pertama yang akan dikeluarkan dari bumi pada hari kiamat, dan aku adalah orang pertama yang akan dibangkitkan. Aku, Abu Bakar ra. dan Umar ra. keluar menuju pemakaman Baqi`, kemudian mereka semua dibangkitkan, lalu penduduk Mekah. Kemudian semuanya berkumpul memenuhi antara Dua Tanah Haram Madinah dan Mekah).”

Dikuburkan di sana sekitar 10.000 (sepuluh ribu) sahabat, keluarga nabi & sebagian ulama islam, termasuk para jamaah haji dahulu pada saat maninggal mereka dimakamkan di Baqi’.

Doa Ketika Menziarahi Kuburan Baqi`
Menurut riwayat doa-doa ziarah makam Baqi` serta makam-makam yang lain adalah sebagai berikut:

Salam sejahtera buat kamu wahai tempat tinggal orang-orang beriman, sesungguhnya kami dengan izin Allah akan menyusul kamu. Ya Allah! Ampunilah penghuni baqi Al Gharqad.
Salam sejahtera buat kamu wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kamu. Kamu pendahulu kami dan kami mengikut kamu.

” Salam sejahtera buat kamu wahai penghuni Baqi`, dari kaum yang beriman dan kaum muslimin. Sesungguhnya kami dengan izin Allah akan menyusul kamu. Semoga Allah mengasihi orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang terkemudian. Kami mohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian. Wahai Allah, jangan Engkau halangi pahala mereka, dan jangan Engkau timpakan fitnah sepeninggal mereka, dan berilah ampunan bagi kami dan bagi meraka “.
Reff 

Senin, 26 Agustus 2013

Jihad Melawan Munafik

Allah SWT berfirman, “Dan apabila kamu memandang mereka, fisik mereka menjadikan kamu kagum. Dan, jika mereka berkata, kamu (akan tertarik) mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS al-Munafiquun [63]: 4).

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan sebagian sifat dan karakter orang-orang munafik. Dari segi penampilan fisiknya sangat baik sehingga membuat kita terkagum dan jika mereka berkata maka semua orang akan mendengar perkataannya karena bagusnya retorika mereka serta fasihnya perkataan mereka.

Namun, semua itu tidak ada manfaatnya dan mereka itu lemah serta pengecut sehingga setiap ada suara keras atau teriakan, mereka mengira itu ditujukan kepada mereka.

Dan, Allah menegaskan, mereka inilah musuh yang sebenarnya bagi umat Islam karena musuh yang jelas dan nyata itu lebih mudah untuk dihadapi daripada musuh yang tidak kita sadari, licik, dan penuh tipu daya.

Kita mengira ia adalah kawan, padahal ia adalah musuh yang nyata. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasul-Nya dan orang beriman berhati-hati terhadap kaum munafik ini.

Banyak ayat dalam Alquran yang menjelaskan karakter dan sifat orang munafik agar umat Islam dapat mengenali mereka serta berhati-hati terhadap mereka.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan, tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.” (QS an-Nisa’ [4]: 142).

Dalam ayat ini, Allah menegaskan, orang munafik itu juga melaksanakan shalat seperti umat Islam lainnya. Namun, mereka melakukannya dengan perasaan malas dan hanya bertujuan dilihat orang lain dan dalam shalatnya itu ia sedikit sekali mengingat Allah.

Karena itu, Allah memerintahkan jihad melawan orang-orang munafik ini dan bersikap keras terhadap mereka. “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahanam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS at-Taubah [9]: 73).
Maksud jihad melawan kaum munafik ini tidaklah sama dengan jihad melawan kaum kafir yang jelas menunjukkan sikap permusuhannya terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Sebagian ahli tafsir menjelaskan, jihad melawan kaum kafir yang memerangi umat Islam itu dengan pedang, sedangkan jihad melawan kaum munafik dengan lisan.

Jihad melawan kaum munafik adalah dengan menjelaskan kesesatan mereka di hadapan mereka. Lalu, menjelaskan kesesatan mereka kepada umat Islam, membongkar siapa mereka, bagaimana mereka menghancurkan Islam dari dalam dan memberikan argumen jelas untuk membuktikan kesesatan mereka, serta mengingatkan umat Islam akan bahaya mereka. Wallahu a’lam bish shawab.

Mereka yang Dibanggakan Allah SWT

Adakah di antara kita yang bercita-cita menjadi pribadi yang memalukan? Semua tentu ingin tampil sebagai pribadi yang membanggakan. Membanggakan di mata sesama manusia, terlebih di mata Allah. Hadis berikut dapat memandu kita agar menjadi pribadi yang membanggakan, khususnya di hadapan Allah.

Dari Abu Darda’ RA bahwa Nabi SAW bersabda, "Ada tiga golongan yang kelak dicintai Allah, dan Allah tertawa kepada mereka sambil memberikan kabar gembira. Yaitu orang yang apabila melihat perang berkecamuk, dia segera ikut berperang di belakang orang-orang karena Allah. Dia tidak peduli apakah nanti terbunuh atau diselamatkan Allah. Yang demikian itu cukup baginya, dan Allah berkata kepada para malaikat, ‘Lihatlah hambaku ini bagaimana dia begitu sabar demi Aku’. Kemudian orang yang memiliki istri cantik dan kasur yang empuk dan bagus, tetapi dia bangun malam hari. Maka Allah berkata, ‘Dia mengabaikan syahwatnya demi mengingat Aku. Padahal kalau mau, dia bisa saja tidur’. Kemudian, orang yang dalam bepergian bersama rombongan, semua orang bangun lalu kembali tidur, maka dia tetap terjaga pada waktu sahur dalam keadaan lelah atau santai." (HR Hakim dan Thabrani).

Pertama, berjihad tanpa dengan segala daya dan kemampuan. Melakukan jihad sungguh tidak mudah. Jihad, apapun bentuknya, tentu akan mendapat perlawanan dari nafsu. Bisikan nafsu akan selalu berusaha menjauhkan kita dari jihad. Karena itu, ketika manusia mampu berjihad, berarti ia telah mampu menundukkan nafsunya. Ia tidak lagi mempedulikan kepentingan dirinya. Dalam hati dan pikiran orang yang benar-benar tulus berjihad hanya ada Allah. Jangankan kehilangan harta, waktu, dan tenaga, pelaku jihad bahkan tidak mau tahu dengan keselamatan nyawanya sendiri.

Itulah yang membuat Allah ‘terharu’ sehingga menyanjung hamba-hamba yang begitu tabah dan sabar itu di hadapan para malaikat.

Kedua, bangun malam untuk beribadah. Tidak banyak orang yang mau bangun di waktu malam untuk menghadap Allah. Kenikmatan istirahat berupa tidur sangat berat ditinggalkan. Terlebih pada waktu sepertiga malam yang terkahir. Saat itu adalah pulas-pulasnya tidur, meskipun saat itulah Allah turun ke langit dunia, mengabulkan doa setiap hamba-Nya yang sedang bersimpuh luruh mengagungkan nama-Nya.

Allah sangat bangga terhadap hamba-hamba yang rela meninggalkan peraduannya demi menghadap Tuhannya. Dia tidak terpedaya oleh kenikmatan duniawi berupa kamar yang indah dan istri yang cantik. Padahal semua itu halal baginya. Dia lebih memilih memuji kebesaran Allah melalui rangkaian ibadah pada saat selainnya sedang tidur.

Ketiga, beribadah dalam keadaan letih. Rajin beribadah dalam keadaan longgar adalah hal biasa. Sebab tidak ada sesuatu yang memang harus dilakukan. Tetapi beribadah dalam keadaan sibuk dan letih itu luar biasa. Hanya orang-orang dengan keimanan prima yang sanggup melakukannya.

Allah memuji orang-orang yang demikian. Dalam perjalanan hanya sekadar contoh kesibukan dan keletihan. Tetapi, sesungguhnya kesibukan bukan hanya dalam kondisi musafir. Di zaman modern seperti sekarang, banyak orang menjadi sibuk meskipun tidak sedang dalam perjalanan. Pekerjaan yang menumpuk akibat dikejar target oleh perusahaan juga salah satu bentuk kesibukan. Seharian bekerja di kantor juga merupakan sebuah keletihan.

Ketika dalam kondisi demikian, malamnya kita masih bisa bangun malam guna melakukan tahajud, zikir, dan tadarus Alqur’an, maka itulah kemuliaan. Allah akan melihat kita dengan bangga. Kita juga akan disediakan kedudukan yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Semoga kita semua dapat menjadi pribadi-pribadi pilihan, manusia-manusia yang membanggakan di dunia dan akhirat. Hadis ini dapat kita jadikan sebagai panduan. Amin!

Minggu, 25 Agustus 2013

Di Telaga itu, Rasul Menanti

“Sesungguhnya aku menunggu (kedatangan) kamu sekalian di telaga. Barangsiapa melewati, dia pasti minum. Dan barangsiapa minum, maka dia tidak akan dahaga selamanya.” (HR.Bukhari).  
Manusia agung itu memang telah tiada. Setelah dua puluh tiga tahun menebar cahaya Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk menyelamatkan kita, manusia, beliau pergi menemui Rabbnya. Kepergiannya membuat seisi dunia menangis. Bukan hanya para sahabat yang begitu sangat mencintainya, tapi mimbar dan tongkat yang selalu menemaninya saat berkhutbah, pun ikut berguncang hebat tanda keduanya sedang berduka.

Meskipun telah tiada, namun kecintaan sang Nabi kepada kita umatnya tiada pernah henti. Walau terkadang yang dicinta tak pandai membalas cinta, juga tak sadar kalau selalu didoakan keselamatan dan ditangisi kesulitan yang menimpanya. Kecintaannya terbawa mati. Bahkan tidak berujung. Cinta itu selalu hadir kapan dan bagaimanapun situasinya. Tak kenal suka maupun duka. Tak terbatas dunia dan akhirat. Tak terbedakan di saat aman atau sedang huru-hara. Di saat seorang ibu dan seorang anak tidak saling mengenal, sekalipun.

Di sana, di padang mahsyar, ketika segenap kita disibukkan oleh urusan kita masing-masing. Ketika kita digiring secara kasar menuju pengadilan Tuhan Yang Mahabijaksana. Ketika kita dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki. Ketika matahari dengan sinarnya yang membakar hanya berjarak satu hasta dari atas kepala. Ketika rasa haus mencekik tenggorokan. Ketika ini dan itu terjadi, cinta itu kembali hadir. Ya, hadir dalam sebuah telaga yang indah nan menyegarkan. Yang semua orang pasti berharap dapat meneguk airnya di tengah berbagai kesulitan yang mendera.

Telaga itu benar-benar ada, luas dan indah. Dan sungguh sangat indah. Ia hadir dengan nama yang indah pula, Al Kautsar; nikmat yang banyak. Demikian Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi saw menuturkan.

Di telaga itu Rasulullah saw menanti umatnya, dengan luapan cinta dan kasih sayangnya, menyambut mereka yang kehausan. Beliau sangat mengenali umatnya, karena memang mereka memiliki tanda-tanda yang tidak dipunyai oleh siapapun oleh umat lain. “Kalian akan datang kepadaku dengan muka, lengan dan betis yang berkilauan karena bekas air wudlu,” tegas beliau dalam sabdanya.

Memang, telaga dan semua kenikmatannya itu bukan akhir dari segalanya. Perjalanan kita menuju persinggahan terakhir; surga atau neraka, masih sangat panjang. Setelahnya kita akan menghadapi perhitungan amal yang tidak kalah menegangkan. Lalu amal-amal itu akan ditimbang untuk diberikan balasan. Selanjutnya, kita akan menuju ke shirat dengan terlebih dahulu melewati tujuh jembatan, dimana di masing-masing jembatan itu akan ditanyakan keimanan, shalat, puasa Ramadhan, zakat, haji dan umrah, mandi wajib dan wudlu, dan kezhaliman-kezhaliman yang pernah kita lakukan kepada sesama manusia. Kata sebagian ulama, kita tidak akan melangkah ke jembatan berikutnya jika pada jembatan sebelumnya kita gagal.

Perjalanan setelah telaga sungguh masih sangat panjang dan berat. Begitupun, bisa mampir dan minum di telaga Rasul itu sungguh sebuah karunia besar. Perjalanan memang belum lagi selesai. Tapi mendapatkan minum dari telaga yang sesudahnya tidak lagi ada haus sungguh sangat didambakan. Itu akan sangat meringankan, di hari ketika segalanya berubah begitu mengerikan, panas, haus dan mencekam.

Hari ini, entah di ujung pelarian mana kita menuju. Tapak demi tapak adalah keniscayaan menuju kematian. Di telaga itu, kelak, Rasul setia menanti. Dengan cinta dan kasih sayangnya. Tak ada yang patut dilakukan, kecuali senantiasa memohon, agar bila tiba saatnya, kita bisa bertemu Rasul di telaga itu, lalu minum dengan sepuas hati.

Cinta Nabi untuk Aisyah

Aisyah binti Abu Bakar Asshiddiq dikenal sebagai periwayat hadits terbesar pada masanya. Dia juga merupakan seorang yang cerdas, fasih, dan mempunyai ilmu bahasa yang tinggi.

Sejarah mencatat, Aisyah menjadi salah seorang terpenting yang mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran ajaran-ajaran Islam. Dia dilahirkan di Makkah kira-kira pada tahun kedelapan sebelum Hijriah.

Ketika Khadijah meninggal dunia, Rasulullah merasa amat sedih hingga dirinya merasa khawatir. Kemudian, saat tekanan kesedihan mereda beliau berusaha mengalihkan perhatian dengan mengunjungi rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, “Wahai Ummu Ruman, jagalah Aisyah anak perempuanmu itu dengan baik, dan peliharalah dia!”

Oleh karena ucapan Rasulullah ini, Aisyah mempunyai kedudukan istimewa dalam keluarganya. Sejak Abu Bakar masuk Islam hingga masa hijrah, Rasulullah tak pernah lupa mengunjungi rumah Abu Bakar dan keluarganya.

Rasulullah menikahi Aisyah dan memberinya 400 dirham. Hal tersebut terjadi di Makkah pada bulan Syawal tiga tahun sebelum Hijrah. Pada saat itu Aisyah masih berumur tujuh tahun.

Rasulullah baru membangun bahtera rumah tangga dengan Aisyah ketika dia sudah berumur sembilan tahun di Madinah, pada bulan Syawal tahun pertama Hijrah. Aisyah adalah seorang wanita yang paling beruntung yang dipunyainya, dan paling dicintainya diantara istri-istri Rasul yang lain.

Bahkan saking cintanya Rasulullah saw pada Aisyah, beliau mendoakannya dengan doa, “Ya Allah, ampunilah Aisyah dari dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan yang terlihat.”

Aisyah juga amat mencintai Rasulullah SAW. Pada suatu ketika, Nabi saw datang padanya dan berkata, “Aku akan menawarkan padamu suatu perkara, kau tidak perlu terburu-buru untuk memutuskannya hingga kau berdiskusi dengan kedua orang tuamu.”

Aisyah bertanya, “Tentang apa ini, ya Rasulullah?” Kemudian Nabi SAW membacakan, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab: 28-29)

Aisyah berkata, “Lalu untuk apa kau menyuruhku berunding dengan kedua orang tuaku, padahal aku telah tahu. Demi Allah, kedua orang tuaku tidak akan menyuruhku untuk berpisah darimu. Bahkan aku telah memutuskan untuk memilih Allah, Rasul-Nya dan Akhirat.” Nabi merasa gembira dengan ucapan Aisyah itu dan merasa takjub.

Kecintaan besar yang dinikmati Aisyah tentu saja merupakan faktor pemicu pada sebagian orang untuk merasa iri dan cemburu. Sehingga mereka melemparkan tuduhan pada wanita suci ini, kemudian Allah membebaskan dirinya dari segala tuduhan tersebut, dan kisah itu termaktub dalam Al-Quran.

Setelah kejadian itu, kedudukan Aisyah semakin bertambah mulia dan Rasulullah SAW semakin bertambah cinta padanya.

Mudahnya Wanita Masuk Surga

Suatu ketika, Rasulullah saw menyampaikan pernyataan yang agak mengejutkan para sahabat di Madinah, baik laki-laki maupun wanita. Pernyataan yang mengejutkan itu adalah diantara wanita yang akan menjadi penghuni surga adalah isterinya Al Hathab.

Mendengar pernyataan Rasulullah saw, seluruh penduduk Madinah saling bertanya-tanya satu diantara lainnya.

Mereka amat heran, mengapa Rasulullah menyebutkan istri Al Hathab itu, apa sebenarnya keistimewaannya dibanding wanita-wanita lain? Karena mendapat banyak pertanyaan, isteri Al Hathab akhirnya menanggapi berita tentang dirinya.

“Suamiku adalah pencari kayu bakar di bukit, ia menjualnya ke pasar dan ia kembali dari pasar dengan membawa sesuatu yang kami butuhkan sekeluarga. Ia pulang tentu dalam keadaan letih dan lelah serta haus di tenggorokan yang sangat.”

“Aku menyadari betapa payah suamiku itu dalam mencari nafkah. Saat ia pulang ke rumah, sudah kusiapkan air yang dingin sebagai penyejuk dan penghilang rasa haus, makanan untuk menghilangkan rasa lapar juga sudah kuhidangkan, kusambut suamiku itu dengan berdiri, memakai pakaian yang indah dan rapi, tidak hanya itu, ia kusambut dengan segenap kerinduan seolah-olah lama ia tidak pulang.”

“Kuserahkan diriku kepadanya, kalau ia ingin beristirahat dan bersenang-senang kubantu dia dan bila ia menginginkan diri saya, kurebahkan diriku antara dua lengannya bagai anak kecil yang bersuka ria dengan ayahnya.”

10 Ciri Aliran Sesat dan Penjelasannya

Bismillah, Sebagai lembaga yang berwenang memberi fatwa di indonesia, MUI mengeluarkan 10 pedoman untuk menentukan apakah sebuah aliran sesat atau tiidak. Pedoman ini bisa kita jadikan sebagai tameng bagi diri kita sendiri saat diajak untuk mengikuti pengajian, ikut organisasi dan sebagainya.  

Ingat, ketika kita melihat ada "Unsur" kesesatan pada sebuah kelompok, maka kita tidak serta merta menuduh mereka sesat, karena itu tugas ulama. Tugas kita adalah menjaga diri dan MELAPORKAN kelompok atau aliran yang kita curigai sesat berdasarkan point point yang akan kita bahas ke MUI. Nanti pihak MUI yang akan menentukan apakah aliran itu sesat atau tidak.

Berikut ini adalah 10 ciri aliran sesat dan penjelasannya: 

1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6. 
Jika ada sebuah kelompok yang tidak meyakini qodho dan qodhar, atau tidak meyakini salah satu rukun iman, maka kelompok ini perlu di hindari.

2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Al Quran dan Sunnah 
Jika ada sebuah kelompok hanya berdasarkan alquran saja, ini juga ciri sebuah kelompok sesat. Contoh lan adalah meyakini/menetapkan tentang sifat sifat Allah yang tidak pernah dijelaskan dalam alquran atau sunnah. bentuk lain dari penyimpangan aqidah adalah menyakini kalau imamnya atau tokohnya bisa mengetahui hal ghaib atau terbebas dari dosa. Ini juga tanda sebuah aliran adalah aliran sesat.

3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al Quran 
Termasuk dalam hal ini adalah meyakini ada nabi dan rosul baru setelah rosullah. Itu saja sudah menunjukan sebuah kelompok tersebut sesat, apalagi meyakin ada wahyu yang diturunkan setelah rosullah wafat. Sering dengar kan ada nabi nabi palsu yang bermunculan, bukan hanya di indonesia, tapi juga di dunia.

4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.
Jika ada kelompok yang mempertanyakan kebenaran alquran maka perlu dipertanyakan keislamannya. Tokoh tokoh ini biasanya cenderung menggunakan Akal sehingga menurut pandangna mereka,jika alquran tidak sesuai akal, maka mereka akan menolak ayat tersebut.

Ingat, menolak 1 ayat itu sama saja mengingkari kebenaran alquran. Ucapan "bahwa alquran tidak lagi sesuai sebagai tuntutan di era modern atau ucapan sejenis" juga merupakan bentuk /ciri penyimpangan yang mengarah ke kesesatan kelompok tersebut.

5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. 
Apa itu kaidah tafsir? ringkasnya adalah sebagai berikut: 

  1. Sebuah ayat, jika isinya susah dipahami, maka harus di cari penjelasannya di ayat yang lain 
  2. Sebuah ayat jika penjelasannya tidak ditemukan ditempat lain, maka dicari penjelasannya berdasarkan sunnah/hadist rosulullah
  3. Sebuah ayat jika penjelasannya tidak ditemukan dalam hadist, maka dicari penjelasannya dengan pendapat para sahabat rosulullah. Mengapa? karena merekalah yang tahu persis kenapa/kapan sebuah ayat diturunkan dan mereka paling pas dalam penerapannya. Disini sangat jelas bahwa AKAL ditempatkan untuk "memahami" alquran, bukan "Menghukumi" alquran.  
6. Mengingkari kedudukan Hadist/Sunnah Rasulullah
Ini sudah sangat jelas. Bahkan dibantah pakai Logika sederhana saja sudah tampak kesalahannya. Jika anda bertemu dengan orang yang menyatakan bahwa mereka hanya berpedoman pada Alquran, tanyakan bagaimana mereka sholat dan menunakan zakat? Alquran hanya memerintahkan dirikan sholat dan tunaikan zakat. bagaimana caranya dijelaskan di Hadist/Sunnah rosullulah.

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul
Bentuk penghinaannya bisa macm macam. Contoh sederhana, jika kita menghina ada teman yang punya janggut panjang dan kita bilang "Kambing" maka itu sama saja menghna rosulullah. Karena perintah memelihara janggut datang dari rosul. Contohyang lain menghina nabi Isa yang oleh kaum nasrani dianggap tuhan. Sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk bijak. Isa adalah Nabi dan Hamba Allah, Titik.

8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir. 
Ini juga sudah jelas dan masih berhubungan dengan point 3. Kelompok yang jelas jelas meyakini hal ini adalah kelompok Ahmadiyah.

9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak 5 waktu. 
Point 9 ini secara singkat disebut dengan bid'ah. Misalkan ada kelompok yang menambah rakaat sholat subuh menjadi 4 rakaat maka ini jelas kelompok sesat (ini contoh extremnya). Ada kelompok yang hajinya ke selain Mekkah, ini juga kelompok sesat. Ada lagi kelompok yang tidak meyakini kewajiban sholat 5 waktu, ini juga sudah jelas jelas sesat.

10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya. 
Nah, ini adalah kelompok yang biasanya menggunakan konsep imamah. Setiap yang tidak berbaiat pada imamnya di anggap kafir. hati hati dengan kelompok ini. Kelompok ini tampak dari masjidnya, kita tidak boleh sholat disitu. Mereka juga tidak memakan daging sembelihan selain kelompoknya karena dianggap tidak halal. Contoh lain, mereka tidak mau sholat jamaah di belakang imam selain dari kelompok mereka. Sebagian kelompok yang berkembang di indonesia ada yang masuk kedalam point ini. termasuk dalam hal ini para teroris terjatuh pada point 10 karena mereka mengkafirkanpemerintah termasuk para polisi. makanya kelompok teroris tidak segan segan membunuh polisi walaupun agama polisi itu islam sekalipun.

Bagaimana sikap yang benar? 


Sebagai seorang muslim, kita harus hati hati ketika diajak ikut ngaji atau masuk kedalam sebuah organisasi yang mengatasnamakan islam. cek dulu aqidah mereka, cara ibadah mereka, bagaiman mereka menyikapi kelompok yang lain dan sebagainya. Yang terpenting, laporkan ke MUI jika anda melihat ada kelompok islam menyimpang di lingkungan anda!

Ketika kita bertemu dengan orang/teman yang meyakini satu saja dari 10 point diatas, sampaikan kepadanya dengan cara yang halus, bukan malah ngsung menyesatkan. Misalkan anda bertemu dengan orang yang tidak meyakini sholat 5 waktu itu wajib. Jangan langsung sebut sesat atau kafir. tapi sampaikan dengan kalimat seperti ini, atau yang sejenis:
" hati hati dengan ucapan itu(meyakini sholat tidak wajib), karena hal itu bisa menyebabkan orang sesat atau bahkan kafir keluar dari islam".

Tahu bedanya kan? menghukumi kafir dengan menasehi kawan kita agar tidak terjatuh kepada kesesatan dan kekafiran. Namun, jika dalam sebuah kelompok, 10 point diatas kok masuk semua, sudah tidak diragukan lagi kesesatannya dan harus dibrantas sampai akar akarnya. Wallahua'alam bisaahab!