aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Kamis, 29 Agustus 2013

Pertempuran Surabaya, 10 November 1945

“Tidak ada pertempuran yang dilancarkan Republik yang dapat disebandingkan dengan pertempuran Surabaya itu, baik dalam keberanian maupun kegigihannya” (David Welch dalam Birth of Indonesia, hal. 67) 

23 September 1945 

Kapten Huijer dari Angkatan Laut Belanda adalah wakil sekutu pertama yang menjejakan kakinya di Surabaya untuk melakukan pemeriksaan pendahuluan dan ini mengindikasikan bahwa Belanda-lah yang akan mempelopori pengambil-alihan Surabaya dari Jepang setelah ‘kesalahan-kesalahan’ pasukan Inggris ketika mengambil alih Semarang.

28 September 1945 


Huijer mendatangi markas Laksamana Madya Yaichiro Shibata, pimpinan tertinggi pasukan Jepang di Surabaya, agar melimpahkan seluruh kekuasaannya termasuk senjata yang berada di bawah komando dirinya kepada Huijer. Namun demikian sebagaimana sikap kaigun yang lain (seperti Laksamana Maeda di Jakarta), Shibata sangat simpati dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia oleh karena itu ia menyerahkan senjata kepada Komite Nasional Indonesia Surabaya (KNI-Surabaya) yang dipimpin oleh Soedirman dan Doel Arnowo. KNI-Surabaya sendiri berjanji akan menyerahkannya kepada sekutu pada waktunya.

Tetapi KNI-Surabaya tidak memiliki kemampuan untuk mengelola persenjataan bekas tentara angkatan laut Jepang sehingga mereka menyerahkannya ke Badan Keamanan Rakyat (BKR), kelompok-kelompok pemuda, pasukan-pasukan polisi dan bahkan milisi/laskar yang masih belum terorganisir dengan baik.

1 Oktober 1945 

Terjadi perkelahian diantara pemuda-pemuda Indonesia dan Belanda yang dengan cepat berubah menjadi aksi massa di seluruh kota. Mereka menyerang lapangan udara Morokrembangan dan kamp interniran yang terletak di daerah pemukiman Darmo. Sementara itu markas Kempetai dan Angkatan Darat Jepang dikepung oleh sejumlah laskar yang bersenjatakan apa adanya, dari bambu runcing hingga ke senapan mesin.

4 Oktober 1945 

Surabaya telah menjadi kamp bersenjata yang seluruhnya dalam tangan Indonesia. Semua penjara dibuka dan penghuni-penghuninya, apakah mereka ditahan atas tuduhan politik atau pidana telah bergabung ke dalam massa yang berkerumun di dalam kota itu. Pada hari itu juga Shibata memberitahukan kepada bawahannya bahwa Huijer-lah yang bertanggung jawab atas keamanan kota tersebut.

8 Oktober 1945 

Gubernur, TKR dan polisi berangsur-angsur kehilangan kekuasaannya, yang kemudian seluruhnya terseret menjadi ‘anarki’. Rasa permusuhan terhadap Jepang dan Belanda yang begitu mendalam di kalangan pemuda, menyebabkan mereka melaksanakan pengadilan rakyat yang membabi-buta yaitu dengan menghukum mati para tawanan (Jepang, khususnya) dengan melakukan hukuman mati dengan cara pemenggalan leher.

Kapten Huijer pun menjadi tahanan TKR demi keselamatan dirinya.

12 Oktober 1945 

Tiba seorang pemuda dari Jakarta yang bernama Soetomo atau yang kemudian dikenal dengan nama Bung Tomo, seorang wartawan yang bekerja di kantor berita Domei. Ia membawa gagasan mendirikan pemancar radio, yang kemudian diberi nama “Radio Pemberontakan” sebagai sarana untuk menciptakan solidaritas massa dan memperbesar semangat perjuangan pemuda.

13 Oktober 1945 

Bung Tomo membentuk Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (BPRI), sebagai suatu organisasi yang terpisah dari PRI yang dipimpin oleh Soemarsono. Dan siaran-siaran radio yang dilakukan oleh Bung Tomo tidak hanya berhasil mempengaruhi masyarakat santri yang memang menjadi mayoritas di Jawa Timur dan Madura, namun juga pemimpin-pemimpin “merah” terutama yang berada di dalam PRI.

22 Oktober 1945 

Nahdhatul Ulama dari seluruh Jawa dan Madura melangsungkan rapat raksasa di Surabaya yang mana mereka menuntut, “Memohon dengan sangat kepada pemerintah Republik Indonesia soepaja menentukan soeatoe sikap dan tindakan jang njata terhadap tiap2 oesaha jang membahajakan agama dan negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangannja” (Antara, 25 Oktober 1945)

25 Oktober 1945 

Inggris mendarat di Tanjung Perak Surabya dengan dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mallaby yang juga merupakan Panglima Brigade ke-49 dengan tugas utama mengungsikan pasukan Jepang dan para interniran. Brigade ini berjumlah kurang lebih enam ribu pasukan dengan membawa juga pasukan elit Gurkha.

Mallaby sendiri dan wakilnya, Kolonel Pugh, pertama-tama disambut oleh Mustopo, kepala TKR-Surabaya, dan Atmadji, bekas aktivis Gerindo, yang mewakili TKR Angkatan Laut. Setelah mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Mustopo, Mallaby menegaskan bahwa sekutu tidak akan menyelundupkan di tengah-tengah mereka pasukan Belanda dan NICA (Netherland Indies Civil Administrastion).

26 Oktober 1945 

Tanpa data intelejen yang komprehensif tentang kondisi Surabaya dan masyarakatnya yang sedang bergolak, Mallaby mengirim 1 peleton pasukan yang dipimpin oleh Kapten Shaw untuk menyelamatkan Kapten Huijer. Masyarakat Surabaya mulai kehilangan kepercayaan terhadap Mallaby dan pasukannya.

Kondisi diperparah dengan selebaran yang disebarkan melalui udara ke seluruh kota di Surabaya atas perintah Mayor Jenderal Hawthorn, panglima sekutu di Jakarta. Selebaran itu intinya berisi bahwa pihak Indonesia harus menyerahkan seluruh senjata mereka dalam waktu 48 jam. Tuntutan seperti ini akhirnya membatalkan perjanjian yang telah dilakukan oleh Mallaby dan Moestopo.

27 Oktober 1945 

Sekutu mulai melakukan agresinya. Pada dasarnya komandan-komandan sekutu masih memandang rendah terhadap kemampuan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Apalagi mereka begitu membanggakan brigade 49-nya dengan mendapatkan julukan “The Fighting Cock” selama bertempur melawan Jepang di hutan-hutan Burma.

28 Oktober 1945 

Pasukan sekutu mengambil alih lapangan udara Morokrembangan dan beberapa gedung penting seperti kantor jawatan kereta api, pusat telephon dan telegraf, rumah sakit Darmo dna lainnya.

Pertempuran besar pun tak terelakan antara 6000 pasukan Inggris dengan 120.000 tentara dan pemuda Indonesia. Akibat kalah jumlah, Mallaby meminta bantuan Hawthorn agar pihak Indonesia menghetikan pertempuran. Hawthorn pun meminta Soekarno agar mau membujuk panglima-panglimanya di Surabaya menghentikan pertempuran.

Begitu terjepitnya hingga dalam buku Donnison “The Fighting Cock” ditulis “Narrowly escape complete destraction” alias hampir musnah seluruhnya.

29 Oktober 1945 

Soekarno, Hatta dan Amir Sjarifoedddin datang ke Surabaya untuk menghentikan pertempuran.

Kemudian setelah membujuk agar tentara dan pemuda menghentikan pertempuran, mereka bertiga ditambah tokoh-tokoh Surabaya seperti Soedirman, Soengkono, Soerjo dan Bung Tomo melakukan perundingan dengan Mallaby dan Hawthorn. Hasil perundingannya adalah tentara sekutu sepakat untuk mundur dari Tanjung Perak dan Darmo, sementara Indonesia setuju mengizinkan interniran lewat secara bebas diantara kedua sektor itu.

Setelah melakukan perundingan, Soekarno, Hatta dan Amir Sjarifoeddin kembali ke Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang dan menganggap kekerasan sudah berakhir.

30 Oktober 1945 

Sewaktu melakukan patroli, mobil Buick yang sedang ditumpangi Brigjen Mallaby dicegat oleh sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Karena terjadi salah paham, maka terjadilah tembak menembak yang akhirnya membuat mobil jenderal Inggris itu meledak terkena tembakan. Mobil itu pun hangus.

Kematian Jenderal Inggris itu menjadi titik tolak untuk peristiwa-peristiwa yang lebih dasyat berikutnya. Letnan Jenderal Christinson, komandan Pasukan Sekutu di Hindia Belanda (AFNEI) memberikan peringatan keras terhadap Indonesia. Ia kemudian mengirimkan seluruh Divisi Infanteri ke-5 lengkap dengan peralatan tank ke Surabaya dibawah pimpinan Mayor Jenderal Mansergh. Kekuatannya berjumlah sekitar 15.000 pasukan.

1 November 1945

Kapal perang HMS Sussex muncul di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Selama minggu berikutnya sekitar 8000 interniran berhasil dipindahkan ke kapal perang.

9 November 1945 

Dengan semua para interniran (sandera) berhasil dibawa pulang, Inggris mulai melakukan aksi balas dendamnya atas kematian Mallaby. Seperti yang diceritakan Idrus,

“Sedjak beberapa hari sekoetoe mendaratkan serdadoe2 lebih banyak dan tank-tank raksasa. Tank-tank itu toeroen dari kapal seperti malaikal maut toeroen dari langit; diam2 dan dirahasiakan oleh orang jang menoeroenkannja” (Soerabaja, hal. 137)

Mansergh mengeluarkan ultimatum agar seluruh senjata di Surabaya diserahkan sebelum jam 06.00 keesokan harinya dan supaya orang-orang Indonesia yang bertanggung jawab atas tewasnya Mallaby diserahkan. Ultimatum itu disebarkan melalui udara ke seluruh kota.

Selain itu Mansergh secara eksplisit memperingatkan bahwa semua anak-anak dan wanita harus sudah meninggalkan kota sebelum pukul 19.00 malam itu dan memberikan ancaman hukuman mati bagi setiap orang Indonesia yang membawa senjata sesudah pukul 06.00 pada tanggal 10 November 1945.

Mendengar ultimatum itu para pemimpin Surabaya menelpon Jakarta untuk memperoleh keputusan tingkat nasional mengenai jawaban apa yang harus diberikan terhadap ultimatum Mansergh. Akan tetapi, baik Soekarno maupun Soebardjo (Menteri Luar Negeri) menyerahkan keputusan itu terhadap masyarakat Surabaya.

Jam 6 sore, elemen TKR dan pemuda menandatangani “Soempah Kebulatan Tekad” yang isinya,

Bismillah Hirochmanirrachim

SOEMPAH KEBOELATAN TEKAD

Tetap Merdeka !

Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia dilaporkan pada tanggal 17 Agustus 1945 akan kami pertahankan dengan soenggoeh-soenggoeh, penoeh tanggoeng djawab, ikhlas berkorban dengan tekad MERDEKA atau MATI !!!

Sekali merdeka tetap merdeka !

Soerabaja, 9 November 1945

Ttd
(1) TKR Kota
(2) PRI
(3) BPRI
(4) TKR Sidoardjo
(5) BBI
(6) TKR Laut
(7) TKR Peladjar
(8) P.I.
(9) BBM (Barisan Berani Mati)
(10) TKR Modjokerto
(11) TKR Djombang
(12) dll

Dan setelah melakukan diskusi yang cukup panjang dengan seluruh elemen yang ada di Surabaya, pada jam 23.00 malam Gubernur Soerjo mengumumkan melalui radio keputusannya bahwa Surabaya akan melawan sampai titik darah penghabisan.

10 November 1945 

Pada pukul 06.00 Inggris memulai serangannya, sementara itu Bung Tomo memanggil seluruh rakyat melawan penyerbu-penyerbu itu. Pemboman besar-besaran dari laut dan udara membinasakan sebagian besar Surabaya. Menjelang senja, Inggris telah menguasai sepertiga kota.

Surat kabar Times di London mengabarkan bahwa kekuatan Inggris terdiri dari 25 ponders, 37 howitser, HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, 12 kapal terbang jenis Mosquito, 15.000 personel dari divisi 5 dan 6000 personel dari brigade 49 The Fighting Cock.

David Welch menggambarkan pertempuran tersebut dalam bukunya, Birth of Indonesia (hal. 66),

“Di pusat kota pertempuran adalah lebih dasyat, jalan-jalan diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimangan di selokan-selokan. Gelas-gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong.

Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang”

Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Pada akhir bulan November 1945 seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu. Para pejuang Indonesia yang masih hidup mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat hingga ke arah Sidoarjo di Timur.

Menurut Ricklefs (2008) sedikitnya ada 6000 rakyat Indonesia yang gugur. Meski pihak republik kehilangan banyak tentara dan pemuda, tetapi perlawanan mereka yang bersifat pengorbanan tersebut telah menciptakan lambang dan pekik persatuan demi revolusi.

Sejarah Perang Puputan Margarana

Latar belakang munculnya puputan Margarana sendiri bermula dari Perundingan Linggarjati. Pada tanggal 10 November 1946, Belanda melakukan perundingan linggarjati dengan pemerintah Indonesia. Salah satu isi dari perundingan Linggajati adalah Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Selanjutnya Belanda diharuskan sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.

Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali yang diikuti oleh tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Tujuan dari pendaratan Belanda ke Bali sendiri adalah untuk menegakkan berdirinya Negara Indonesia Timur. Pada waktu itu Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang menjabat sebagai Komandan Resiman Nusa Tenggara sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI, sehingga dia tidak mengetahui tentang pendaratan Belanda tersebut.

Di saat pasukan Belanda sudah berhasil mendarat di Bali, perkembangan politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkan akibat perundingan Linggajati, di mana pulau Bali tidak diakui sebagai bagian wilayah Republik Indonesia. Pada umumnya Rakyat Bali sendiri merasa kecewa terhadap isi perundingan tersebut karena mereka merasa berhak masuk menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terlebih lagi ketika Belanda berusaha membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai untuk diajak membentuk Negara Indonesia Timur. Untung saja ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I Gusti Ngurah Rai, bahkan dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18 November 1946. Pada saat itu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya Ciung Wanara Berhasil memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan.

Karena geram, kemudian Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya di Bali dan Lombok untuk menghadapi perlawanan I Gusti Ngurah Rai dan Rakyat Bali. Selain merasa geram terhadap kekalahan pada pertempuran pertama, ternyata pasukan Belanda juga kesal karena adanya konsolidasi dan pemusatan pasukan Ngurah Rai yang ditempatkan di Desa Adeng, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Setelah berhasil mengumpulkan pasukannya dari Bali dan Lombok, kemudian Belanda berusaha mencari pusat kedudukan pasukan Ciung Wanara.

Puncak Peristiwa

Pada tanggal 20 November 1946 I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya (Ciung Wanara), melakukan longmarch ke Gunung Agung, ujung timur Pulau Bali. Tetapi tiba-tiba di tengah perjalanan, pasukan ini dicegat oleh serdadu Belanda di Desa Marga, Tabanan, Bali.

Tak pelak, pertempuran sengit pun tidak dapat diindahkan. Sehingga sontak daerah Marga yang saat itu masih dikelilingi ladang jagung yang tenang, berubah menjadi pertempuran yang menggemparkan dan mendebarkan bagi warga sekitar. Bunyi letupan senjata tiba-tiba serentak mengepung ladang jagung di daerah perbukitan yang terletak sekitar 40 kilometer dari Denpasar itu.

Pasukan pemuda Ciung Wanara yang saat itu masih belum siap dengan persenjataannya, tidak terlalu terburu-buru menyerang serdadu Belanda. Mereka masih berfokus dengan pertahanannya dan menunggu komando dari I Gusti Ngoerah Rai untuk membalas serangan. Begitu tembakan tanda menyerang diletuskan, puluhan pemuda menyeruak dari ladang jagung dan membalas sergapan tentara Indische Civil Administration (NICA) bentukan Belanda. Dengan senjata rampasan, akhirnya Ciung Wanara berhasil memukul mundur serdadu Belanda.

Namun ternyata pertempuran belum usai. Kali ini serdadu Belanda yang sudah terpancing emosi berubah menjadi semakin brutal. Kali ini, bukan hanya letupan senjata yang terdengar, namun NICA menggempur pasukan muda I Gusti Ngoerah Rai ini dengan bom dari pesawat udara. Hamparan sawah dan ladang jagung yang subur itu kini menjadi ladang pembantaian penuh asap dan darah.

Perang sampai habis atau puputan inilah yang kemudian mengakhiri hidup I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa inilah yang kemudian dicatat sebagai peristiwa Puputan Margarana. Malam itu pada 20 November 1946 di Marga adalah sejarah penting tonggak perjuangan rakyat di Indonesia melawan kolonial Belanda demi Nusa dan Bangsa.

Pertempuran Ambarawa

Awal Pertempuran Ambarawa

Perjuangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin Jenderal Soedirman pada pertengahan Desember 1945 membuat tentara sekutu terjepit dan akhirnya mundur dari Ambarawa menuju Semarang. Walaupun dihadang dengan seluruh kekuatan persenjataan modern serta kemampuan taktik dan strategi sekutu, para pejuang RI tak pernah gentar sedikit pun. Mereka melancarkan serangan dengan gigih seraya melakukan pengepungan ketat di semua penjuru kota Ambarawa. Dengan gerakan pengepungan rangkap ini sekutu benar-benar terkurung.

Jenderal Soedirman sebagai pemimpin pasukan menegaskan perlunya mengusir tentara sekutu dari Ambarawa secepat mungkin. Sebab sekutu akan menjadikan Ambarawa sebagai basis kekuatan untuk merebut Jawa Tengah. Dengan emboyan ”Rawe-rawe rantas malang-malang putung, patah tumbuh hilang berganti”, pasukan TKR memiliki tekad bulat membebaskan Ambarawa atau dengan pilihan lain gugur di pangkuan ibu pertiwi


Peristiwa Pertempuran Ambarawa

Serangan pembebasan Ambarawa yang berlangsung selama empat hari empat malam dilancarkan dengan penuh semangat pantang mundur. Dari tanggal 12 Desember hingga 15 Desember 1945, para pejuang tidak menghiraukan desingan-desingan peluru maut lawan.

Letusan tembakan sebagai isyarat dimulainya serangan umum pembebasan Ambarawa terdengar tepat pukul 4.30 WIB pada tanggal 12 Desember 1945. Pejuang yang telah bersiap-siap di seluruh penjuru Ambarawa mulai merayap mendekati sasaran yang telah ditentukan, dengan siasat penyerangan mendadak secara serentak di segala sektor.

Seketika, dari segala penjuru Ambarawa penuh suara riuh desingan peluru, dentuman meriam, dan ledakan granat. Serangan dadakan tersebut diikuti serangan balasan musuh yang kalang kabut.


Akhir Pertempuran

Sekira pukul 16.00 WIB, Jalan Raya Ambarawa – Semarang berhasil dikuasai TKR dan pengepungan musuh dalam kota Ambarawa berjalan dengan sempurna. Terjadilah pertempuran jarak dekat. Musuh mulai mundur pada tanggal 14 Desember 1945. Persediaan logistik maupun amunisi musuh sudah jauh berkurang. Akhirnya, pasukan sekutu mundur dari Ambarawa sambil melancarkan aksi bumi hangus pada tanggal 15 Desember 1945, pukul 17.30 WIB.

Pertempuran berakhir dengan kemenangan gemilang dari TKR. Benteng pertahanan sekutu yang tangguh berhasil direbut pasukan TKR. Kemenangan pertempuran Ambarawa pada tanggal 15 Desember 1945 dan keberhasilan Panglima Besar Jenderal Soedirman ini kemudian diabadikan dalam bentuk monumen Palagan Ambarawa. TNI AD memperingati tanggal tersebut setiap tahun sebagai Hari Infanteri.

Berdasar Keputusan Presiden RI No. 163/1999, Hari Infanteri kemudian diganti dengan nama Hari Juang Kartika.

Rabu, 28 Agustus 2013

10 Karakter Positif yang Disukai

Sahabat, dalam hidup ini kita tidak akan terlepas dari 2 karakter hidup yang akan saling berseberangan. Karakter tersebut adalah karakter positif dan karakter negatif. Kedua karakter ini akan saling mengalahkan, tergantung mana yang lebih banyak diberikan pupuk?, Jika karakter positif yang banyak diberikan pupuk, maka dia akan menjadi pribadi yang berkepribadian positif; sebaliknya jika karakter negatif yang banyak diberikan vitamin, maka pribadinya pun akan menjadi negatif.

Berikut ini adalah 10 karakter positif yang disukai, yang akan melahirkan pribadi berkepribadian yang disenangi banyak orang.

1. Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Kerendahan Hati

Kerendahan hati sangat berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan

Belakangan ini kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Positive Thinking

Karakter berikutnya adalah positive thinking, orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

5. Keceriaan

Keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung Jawab

Orang yang mempunyai karakter bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Percaya Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Berjiwa Besar

Berjiwa besar dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.
Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empati

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Semoga kita bisa memupuk 10 karakter positif yang disukai ini agar menjadi pribadi yang disukai sesama.
Source

Kita Belajar Dari ...

Dari Tetesan Air Mata kita
Belajar Mengerti..
Dari Perselisihan kita Belajar
Memahami..
Dari Pengkhianatan kita Belajar Kesetiaan..

Dari Rasa Khawatir kita belajar Percaya..
Dari Rasa Kehilangan kita Belajar Menghargai..
Dari Rasa Bersalah kita Belajar Memaafkan..
Dari Sebuah Harapan kita Belajar Berjuang..
Dari Sebuah Perjuangan kita Belajar Berkorban..
Dari Sebuah Pengorbanan kita Belajar Ketulusan..

Manakala kita Renungkan semua Peristiwa baik yang
Menyenangkan atau yang menyedihkan, akan Membawa
Hikmah Bagi Hati yang Mau Terbuka untuk Memahami dan
Menggali serta Memetik Hikmah.
Sungguh Beruntung orang-orang yang Beriman,segala yang
dialami Tak ada yang sia-sia ... SubhanAllah.

Dakwah adalah Cinta

Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu,
isi mimpimu pun tentang dakwah.
Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu.
Dakwah menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu.
Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. ..
Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah.
Beliau memang akan tua juga.
Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz.
Dia memimpin hanya sebentar.
Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.
Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah.
Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.
Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok.
Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.
Toh memang itu yang diharapkannya;
mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak,
mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik.
Kepalanya sampai botak.
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana.
Kurang heroik?
Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah;
luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih,
yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan.
Bukannya tidak membosankan.
Dakwah bukannya tidak menyakitkan.
Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan.
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya setiap hari.
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan,
Selalu menemani…
Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai kemanapun mereka pergi…
Akhirnya menjadi adaptasi.
Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur,
pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman.
Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit.
Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda
Dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar, Saat Rasulullah wafat, ia histeris.
Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk.
Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” ,
hal itu sudah menjadi kewajaran.
Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu.
Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore.
Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu.
Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah.
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan,
sekalinya hal itu mereka rasakan,
mereka merasa menjadi orang besar.
Dan mereka justru menjadi lelucon dan target doa para mujahid sejati,
“Ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak.
Jasadnya dikoyak beban dakwah.
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…
Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu LELAH mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu BOSAN mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu LETIH bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu FUTUR menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu LESU menemanimu.”
Kalau iman dan syetan terus bertempur. ..
Pada akhirnya salah satunya harus mengalah 


(KH. Rahmat Abdullah)

Selasa, 27 Agustus 2013

Dahsyatnya Bekerja dengan Cinta


Bekerja dengan cinta. Contoh yang paling mudah dicermati adalah para atlet dan seniman. Mereka mempertemukan dorongan cinta, hobi, skill, dan agenda mencari uang yang kesemuanya menjadi satu paket dan tarikan nafas.

Mereka bekerja dengan gembira dan penuh antusiasme karena dorongan cinta terhadap apa yang mereka lakukan. Coba saja amati suasana kerja dalam lingkungan terdekat, entah kantor, keluarga, pabrik, proyek bangunan, dan seterusnya. Siapa yang melakukannya dengan cinta, energinya takakan habis-habis. Mereka bekerja dengan antusias bahkan sering melebihi waktu yang dijadwalkan.

Waktu terasa berjalan cepat. Perasaan yang sama juga dirasakan mereka yang menjalani hidup dengan gembira, antusias, dan produktif sehingga hari, bulan,dan tahun dirasakan berlangsung cepat dan tahu-tahu jatah umur sudah habis. Di lingkungan perkantoran ataupun pabrik, berbahagialah kalau mayoritas karyawan-karyawatinya memiliki kesesuaian antara minat, bakat, dan jabatan sehingga mereka bekerja dengan cinta. Seorang yang bekerja dengan cinta akan selalu berusaha menghasilkan yang terbaik.

Khususnya mereka yang bekerja sebagai guru, mencintai profesi dan murid-muridnya merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Para siswa akan tahu dan merasakan siapa guru yang mengajar dengan cinta dan siapa yang sekadar bekerja mengejar gaji. Seorang koki profesional misalnya akan bahagia ketika berhasil menyajikan masakan istimewa dan membuat pelanggannya puas.

Begitupun sopir yang mencintai pekerjaannya dan senang mesin pasti akan selalu merawat mobilnya dengan hati. Yang kemudian menjadi pertanyaan, bagaimana menghadapi karyawan-karyawati yang tidak menyenangi tugasnya, namun mereka mesti bekerja demi mendapatkan uang dan memenuhi kewajiban kantor. Dalam lingkungan kantor atau perusahaan selalu ditemukan empat kategori karyawan.

Pertama, yang paling ideal adalah mereka yang memiliki skill dan semangat kerja tinggi. Dalam diri mereka bertemu keahlian, loyalitas, dan semangat berprestasi. Semakin besar kelompok ini akan semakin maju sebuah institusi. Pimpinan mesti sering-sering memberi apresiasi. 


Kedua, ada sekelompok karyawan atau pegawai yang sesungguhnya memiliki skill tinggi, tetapi motivasi kerjanya rendah. Terhadap mereka mesti dipelajari dan diajak bicara dari hati ke hati agar ketemu masalahnya dan tumbuh motivasi kerja. Dengan kata lain, mereka perlu diberi konseling.

Ketiga, ada sekelompok pegawai yang semangat kerjanya tinggi, tetapi skill rendah. Cara termudah tentu diberi pelatihan untuk meningkatkan keahlian. Keempat, kelompok yang membuat perusahaan atau negara rugi adalah mereka yang skill dan motivasinya rendah, namun selalu menuntut fasilitas serta gaji. Kelompok ini yang paling logis diberhentikan atau pensiun dini. Suasana kerja di lingkungan departemen pemerintah umumnya tidak produktif karena sangat bisa jadi kelompok keempat tadi cukup besar.

Kesalahan sudah terjadi sejak awal mula seleksi penerimaan pegawai yang penuh dengan praktik koncoisme dan suap. Akibatnya, anggaran negara habis,namun kinerja pegawai tidak produktif karena memang rendah skill dan motivasinya. Kalau ini terjadi di lingkungan swasta, akan lebih mudah mengatasinya.Tetapi tidak demikian halnya bagi pegawai negeri sipil. "Working with heart and passion" mestilah ditumbuhkan di mana saja.

Dengan demikian, salah satu tugas jajaran pimpinan adalah memberikan program-program strategis bagaimana menciptakan suasana kerja yang penuh antusiasme dan produktif. Mengenai antusiasme sesungguhnya cukup terlihat di lingkungan LSM atau parpol. Namun, tanpa program yang jelas, dukungan SDM yang terampil, berintegritas, dan visioner, yang kemudian menonjol hanyalah hiruk-pikuk seminar, kongres, rapat akbar, dan semacamnya.

Ibarat pemain bola yang semangat lari ke sana ke mari mengejar bola, namun tanpa skill dan memahami strategi permainan dalam sebuah tim pasti hanya akan membuang energi dan waktu,namun tidak memberi sumbangan apa-apa pada pertandingan. Mestinya cukup menjadi suporter, bukan pemain. Dalam jajaran birokrasi pemerintahan, perusahaan, dan perwakilan rakyat, rasanya banyak yang pantasnya cukup sebagai suporter tepuk tangan dan teriak-teriak di pinggir lapangan, tidak usah ikut bermain di lapangan.Tetapi karena sejak proses awal rekrutmen sudah terjadi kesalahan, semakin tidak tercipta apa yang kita maksudkan working with passion, bekerja penuh antusiasme, produktif, dan bermakna.

Padahal di situlah seseorang akan mendapatkan kepuasan batin,harga diri dan posisi yang jelas dalam jejaring kehidupan yang semakin kompleks ini. Lebih dari itu, kerja produktif yang didasari semangat cinta pasti akan menimbulkan vibrasi positif bagi lingkungannya dan bermanfaat bagi siapa pun yang menggunakan hasil karyanya.
Reff

Mengenali Guru Tipe Mediocre

“Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak menemukan guru yang tepat untuk mengembangkan potensinya”. Kira-kira begitulah ucapkan Yohanes Surya. Beliau telah berhasil mengantarkan siswa-siswa beprestasi secara internasional. 

Begitu pula ucapan Ibrahim Bafadal, “ tidak ada siswa yang tidak bisa dididik, yang ada hanya guru yang tidak bisa mendidik. Tidak ada guru yang tidak bisa mendidik, yang ada hanya kepala sekolah yang tidak memimpin”. Saya tulis kembali ungkapan tersebut karena saya menpunyai pemahaman bahwa urusan pokok dari pendidikan adalah profesionalitas guru.

Tentunya, secara konseptual guru profesionalitas menpunyai banyak karakteristik. Bagi orang tua siswa rasanya cukup untuk mengetahui fenomenanya. Pada tulisan sebelumnya, saya telah mengutip hasil survey litbang kompas mendapat gambaran mengenai guru bertipe mediocre dengan kemampuan pas-pasan yang cenderung satu arah dan belum kreatif ”menerjemahkan” KTSP (Kompas.com, 7 Mei 2013). Pada tulisan itu juga, saya menyebutnya sebagai burnout sebuah keadaan kelelahan mental dengan ciri kedap (inersia) terhadap perubahan atau sebutlah guru “gosong”. Fenomena mediocre atau guru dengan kemampuan biasa biasa saja itu dapat dipaparkan seperti dibawah ini. Fenomena ini, saya batasi dalam hal kemampuan interaksi pedagogis.

Hasil ulangan, diperiksa seadanya. 

Siswa membutuhkan umpan balik mengenai kemampuan belajarnya, yang salah satu dengan cara memberikan koreksi berupa komentar kelemahan dan kelebihannya dalam pencapaian setiap kompetensi. Pengalaman saya berinteraksi dengan guru menunjukkan mereka hanya memberikan nilai kuantitatif berupa angka-angka, tidak memberikan informasi yang bersifat diagnostik sehingga siswa tidak tahu secara detil kompetensi yang harus diperbaikinya.

Memberikan umpan balik dengan membuat strereotipe. 

Menilai berdasarkan persepsi kategorisasi siswa. Banyak ditemukan guru memberikan label siswa pintar dan bodoh. Semisal, seorang siswa yang tidak mampu menyelesaikan soal matematika dianggap siswa yang bodoh. Padahal mungkin siswa tersebut lambat menguasainya disebakan masih bingung menemukan cara penyelesaikannya. Jadi persoalannya bukan bodoh, tetapi belum menemukan perancah (scaffolding) untuk menyelesaikan soal tersebut. Karena itu guru bertugas membimbing siswa menguasai perancah untuk menyelesaikannya. Jika kata-kata “bodoh” sering diucapkan pada siswa, saya khawatir siswa tersebut benar-benar menjadi bodoh.

Banyak alasan (excuse) dan menyalahkan orang lain (blame). 

Untuk fenomenablame , saya pernah bertanya kepada beberapa guru tentang kemengapaan siswa prestasi belajarnya rendah. Jawabannya senatiasa disebabkan oleh fakfor di luar dirinya, seperti orang tua kurang perhatian, kurang fasilitas belajar di sekolah dan sebagainya. Jawabannya ini tidak salah, tetapi faktor penyebab yang berasal dari kemampuan dirinya tidak diungkapkan, padahal itu mungkin akar penyebabnya. Hampir mirip dengan blame, excuse merupakan perilaku tidak professional. Karena mereka senantiasa mecari alasan untuk membenarkan tindakan salahnya. Fenomena ini semacan rasionalisasi yang berusaha menutupi kesalahannya. Kata-kata “maaf” sering dilontarkan seperti maaf saya terlambat, maaf saya tidak sempat membuat rencana pembelajaran, maaf saya … dan sebagainya

Last but not least, banyak siswa diminta mendengar daripada berbuat. 

Hampir seluruh waktu di kelas digunakan hanya untuk berceramah. Seolah-olah yakin bahwa siswa akan mendengarkan semua kata yang diucapkannya. Saya jadi ingat Covey, Stephen R (1989) bahwa tidak semua orang dapat mendengar secara atentif, pasti di kelas terdapat siswa mendengar tentang apa yang ingin didengarnya (menyeleksi informasi sesuai dengan keinginannya) atau mendengar melalui telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan.Dalam kurikulum 2013 pembelajaran dilakukan dengan pendekatan saintifik, aktivitas mendengar siswa porsinya sedikit dibanding dengan mengamati dan melakukan.

Mudah-mudah fenomena dalam interaksi pedagogis antara guru dan siswa hanya empat di atas, tidak bertambah. Solusi untuk memecahkan masalah tersebut telah banyak tersedia, tetapi menurut saya yang lebih penting adalah guru harus senantiasa melakukan repleksi atas pekerjaannya. Atas dasar repleksi tersebut maka setiap kelemahan selalu diperbaiki. Atau dengan kata lain, guru harus belajar secara terus menerus. Karena itu, perlu internalisasi budaya mutu ke dalam sistem sosial sekolah. Ini merupakan tugas kepala sekolah sebagai leader. Sebagai leader yang berorientasi untuk mengubah, terutama mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk.

Syirik dan Durhaka kepada Orang Tua

“Maukah kamu aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? Beliau mengulangi tiga kali. Kami menjawab, “Mau wahai Rasulullah,” beliau bersabda, “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan Rasulullah Saw dalam hadis ini begitu menggetarkan jiwa, beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Sebuah penegasan tentang kepastian apa yang diberitakan. Bahwa dosa yang paling besar yang sangat dimurkai Allah SWT adalah menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.

Rasulullah Saw mewanti-wanti umatnya agar tidak terjerumus kepada dosa ini. Bahkan beliau menuntun kita supaya menghindarkan diri dari syirik kecil yaitu riya. Supaya tidak terjebak kepada syirik besar.

Dosa besar kedua adalah durhaka kepada kedua orang tua. Dosa ini bersumber dari hati yang tidak mau bersyukur, tidak berterimakasih, tidak mempunyai kasih sayang. Orang tua seharusnya mendapatkan tempat yang layak, penghormatan dan rasa cinta dari sang anak.

Mereka berdua telah mengantarkan anak menuju masa depannya dengan berbagai macam onak dan duri yang ditemui dalam perjalanannya. Sepenuh cinta dan kasih saying dalam merawatnya sampai besar. Ketika anak dewasa membalas dengan kedurhakaan kepada keduanya, maka murka Allah yang akan didapatkan sang anak. Ingatlah ridha Allah ada bersama keridhaan orang tua, seperti halnya murka Allah ada bersama murka orang tua.

Segeralah bertaubat wahai mereka yang masih melakukan perbuatan syirik. Dan mereka yang durhaka kepada orang tua, berhentilah, minta maaf kepada keduanya, bahagiakan mereka berdua, senangkan hatinya sebelum semuanya terlambat!
Reff

Pemakaman Jannatul Baqi (Madinah)

Baqi’ adalah pemakaman kuno yang sudah ada pada jaman Rasulullah. Baqi` memiliki arti tanah subur (gembur) yang tidak terdapat batu-batuan. Tanah jenis ini biasanya diperuntukkan buat daerah pemakaman. Rasulullah SAW. sering menziarahi kuburan Baqi` Al Gharqad pada malam hari dan berdoa untuk penghuninya.

Disebutkan dalam hadis bahwa Rasulullah Bersabda : “Aku adalah orang pertama yang akan dikeluarkan dari bumi pada hari kiamat, dan aku adalah orang pertama yang akan dibangkitkan. Aku, Abu Bakar ra. dan Umar ra. keluar menuju pemakaman Baqi`, kemudian mereka semua dibangkitkan, lalu penduduk Mekah. Kemudian semuanya berkumpul memenuhi antara Dua Tanah Haram Madinah dan Mekah).”

Dikuburkan di sana sekitar 10.000 (sepuluh ribu) sahabat, keluarga nabi & sebagian ulama islam, termasuk para jamaah haji dahulu pada saat maninggal mereka dimakamkan di Baqi’.

Doa Ketika Menziarahi Kuburan Baqi`
Menurut riwayat doa-doa ziarah makam Baqi` serta makam-makam yang lain adalah sebagai berikut:

Salam sejahtera buat kamu wahai tempat tinggal orang-orang beriman, sesungguhnya kami dengan izin Allah akan menyusul kamu. Ya Allah! Ampunilah penghuni baqi Al Gharqad.
Salam sejahtera buat kamu wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kamu. Kamu pendahulu kami dan kami mengikut kamu.

” Salam sejahtera buat kamu wahai penghuni Baqi`, dari kaum yang beriman dan kaum muslimin. Sesungguhnya kami dengan izin Allah akan menyusul kamu. Semoga Allah mengasihi orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang terkemudian. Kami mohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian. Wahai Allah, jangan Engkau halangi pahala mereka, dan jangan Engkau timpakan fitnah sepeninggal mereka, dan berilah ampunan bagi kami dan bagi meraka “.
Reff