aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Rabu, 11 September 2013

Manusia Tempat Salah Dan Khilaf

Berhati-hatilah Dengan Hati 

“Manusia tidak luput dari salah, tidak ada manusia yang sempurna”, atau “manusia tempat salah dan khilaf”, 


Itulah kiranya dua ungkapan atau istilah yang sering terucap dalam menggambarkan betapa sosok manusia adalah sosok yang lemah, punya kecenderungan yang besar untuk berbuat salah dan khilaf.

Terkadang kelemahan manusia itu sendiri sering dijadikan sebuah pembenaran, sehingga tidak jarang seorang manusia seakan tidak mau belajar dari kesalahannya sendiri, tidak mau introspeksi. “Tidak ada manusia yang sempurna”, dalam kalimat itulah terkadang manusia berlindung dari kesalahan-kesalahannya.

Didalam kehidupan dunia, sudah ketentuan Allah SWT manusia dihadapkan pada dua pilihan, dua jalan atau dua bisikan, yakni jalan kebenaran dan jalan kesesatan. Semenjak Iblis tidak mau bersujud kepada Adam sesuai dengan perintah Allah SWT, dan menjadi makhluk terkutuk yang berjanji akan menyesatkan manusia hingga ingkar daripada jalan kebenaran, ingkar dari perintah dan larangan Allah SWT kemudian semenjak Adam dan Hawa diturunkan oleh Allah SWT dari Surga karena bujuk rayu Iblis, maka sampai hari kiamat pula iblis menjadi musuh yang nyata manusia, musuh yang selalu berkomitmen mengajak manusia kedalam kesesatan, membujuk dan merayu agar sama-sama satu barisan dalam menentang segala jalan kebenaran agama yang bersumber dari Allah SWT lewat Al-Quran, Hadist dan Sunnah.

Dalam rangka itu, iblis, setan dan bala tentaranya tidak lelah dan terus mencari titik kelemahan manusia yang mudah ditaklukan. Salah satu titik lemah manusia ada dalam hati, karena hati merupakan nahkoda atau setirnya jiwa dan raga, pengendali dari semua tindakan manusia. Untuk itulah dalam hati manusia selalu dua kekuatan yang saling berperang, kekuatan yang menyeru pada kebaikan dan kekuatan yang menyeru kepada keburukan dan kesesatan. Seruan kebaikan bersumber dari perintah dan larangan yang digariskan oleh Allah SWT lewat ajaran agama, dan seruan keburukan/kesetan bersumber dari iblis, setan dan bala tentaranya.

Dalam prosesnya, ada manusia yang bisa memerangi seruan iblis, setan dan bala tentaranya, ada manusia yang tidak bisa memeranginya, artinya manusia yang kalah dan menyerah pada seruan iblis, setan dan bala tentaranya sehingga hatinya selalu condong pada keburukan, kesesatan, dan itu semua dimanifestasikan lewat tindakan yang sifatnya mengingkari apa-apa yang diperintahkan dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT lewat ajaran agama. Iblis, setan dan bala tentaranya selalu bercokol dalam hati manusia, menyeru pada pemuasan hawa nafsu dan kebatilan. Inilah sumber dan sebab-musabab kenapa manusia punya kecenderungan untuk berbuat salah. Disamping sosok manusia yang diciptakan sesuai dengan ketentuan Allah SWT adalah sosok yang lemah dengan segala kekurangannya, ditambah pula dengan bujuk rayu iblis, setan dan bala tentaranya yang selalu bersemayam dalam hati manusia dalam menyeru kepada jalan yang sesat. Untuk itulah kenapa manusia dianjurkan untuk selalu mendekatkan diri kepada Rabb-nya, Allah SWT, meminta kekuatan dan petunjuk dari-Nya guna menangkal godaan-godaan iblis dan setan dalam hati manusia.

Niscaya, orang yang tidak mau mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, memohon kekuatan dan petunjuk dari-Nya, dia adalah orang yang menjadi sasaran empuk iblis, setan dan bala tentaranya sehingga dengan mudah hatinya dapat ditaklukan oleh seruan-seruan yang menyesatkan. Berbeda dengan orang yang selalu mendekatkan dirinya kepada Rabb-nya, meminta pertolongan, kekuatan dan petunjuk dari sang Khalik, maka hatinya akan memiliki tameng dalam menahan seruan kesesatan dari iblis dan setan, dan iblis, setan akan memerlukan tenaga ekstra untuk membujuk hatinya.

Untuk itulah kenapa Nabi Muhammad SAW bersabda,

“ sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumbal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baik pula tubuh manusia itu, tapi bila segumpal daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia itu, segumpal daging itu adalah Qalbu (hati)” (HR. Bukhari Muslim). 

Inilah hati manusia, bila diibaratkan, hati merupakan benteng pertahanan manusia, bila benteng itu roboh oleh musuh maka musuh dapat dengan mudah menguasai isinya, tapi bila benteng itu kokoh maka musuh akan sulit menguasai isinya, yakni imannya manusia. Dalam sebuah hadits marfu' dari Anas disebutkan,

"Tidak lurus keimanan seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak lurus hati seseorang sebelum lurus lisannya." (HR. Ahmad). 
Wallahualam bishawab.

Sabtu, 07 September 2013

Mall Atau Toko yang Menjual Istri

Yuk kita simak sedikit pencerahan... dan refreshing... 

Mall / Toko yang menjual istri, baru saja dibuka di sebuah kota . Di sana , laki-laki dapat bebas memilih istri. Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.

“Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI” 

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok istri. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai wanita tersebut.

Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih wanita di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko. 


Lalu, seorang laki-laki pun pergi ke toko “istri” tersebut untuk mencari istri …  
Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 1 : wanita di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada ALLAH. laki2 itu tersenyum,kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 2 : wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, dan senang anak kecil. Kembali laki2 itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 3 : wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil dan cantik banget. ” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah laki2 itu di lantai 4 dan terdapat tulisan Lantai 4 : wanita di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil, cantik banget dan suka membantu pekerjaan rumah. ”Ya ampun !” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya”

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini : Lantai 5 : wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada ALLAH, senang anak kecil,cantik banget, suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini : Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012.000. Tidak ada wanita di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk Anda yang tidak pernah puas. Terima kasih telah berbelanja di toko “istri”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat Anda.

Pesan moral ini bukan cuma untuk pria tapi juga wanita:

“Tetaplah selalu merasa puas akan pasangan yang sudah ALLAH sediakan. Jangan terus mencari yang terbaik tapi jadikanlah yang baik yang ada dari yang sudah ALLAH sediakan, itulah pasangan yang terbaik bagi kamu seumur hidupmu hingga maut memisahkan.”

Jumat, 06 September 2013

Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.

1. Memperbanyak Sholawat Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya,“Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah

“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat

Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

8. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.

(Disarikan dari majalah Al Furqon edisi 8 tahun II oleh Abu Abdirrohman Bambang Wahono)

Inilah 4 Alasan Hari Jumat Begitu Penting Bagi Seorang Muslim

Hari Jum'at mempunyai kedudukan tersendiri di dalam Islam, baik dari sisi keutamaan, sejarahnya dan juga disyariatkan amal-amalan sunnah yang berlipat ganda pahalanya. Karenanya, sangat wajar jika kita menyambutnya sepenuh hati dan suka cita, bahkan Rasulullah SAW juga menyebutnya sebagai hari raya. Jumat memang hari raya pekanan, yang kadang sering terlupakan.

Agar kita bertambah semangat dalam menyambut hari Jumat, dan mengisinya dengan sekian amal unggulan, maka perlu kita sedikit melihat apa sesungguhnya keistimewaan hari Jumat. Berikut alasan kita bergembira di hari Jumat, sesuai dengan pengabaran hadits dan riwayat shahih diantaranya sebagai berikut :

Pertama : Karena Hari Jumat sebagai hari terbaik dan bersejarah Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: Hari terbaik terbitnya matahari adalah pada hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu tersebut dia dikeluarkan dari surga” (HR. Muslim) Sebagai hari terbaik, maka layaklah kiranya kita menyambut dengan segenap kebaikan dalam semangat dan niatan beribadah. Harus ada yang berbeda pada hari jumat, sebagaimana sejarah dan syariat kita telah mencontohkannya.

Kedua : Karena inilah hari raya kita Di antara keutamaan hari Jumat adalah Allah subhanahu wata’ala menjadikan hari tersebut sebagai hari raya pekanan bagi kaum muslimin. Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya hari ini adalah hari raya, Allah menjadikannya istimewa bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang akan mendatangi shalat jum’at maka hendaklah dia mandi”. (Ibnu Majah) Setiap hari raya memunculkan keceriaan dan kebahagiaan, maka mari jadikan hari Jumat ini sebagai berbagi kebahagiaan, baik kepada orang lain maupun keluarga. Pastikan sedekah tertunaikan, dan pastikan menu hari penuh kenangan.

Ketiga : Karena pada hari Jumat doa kita lebih Mustajabah Kita berbahagia karena inilah hari terbuka peluang doa kita. Mari mengisinya dengan bermunajat kebaikan sembari melantunkan doa-doa penuh harapan, khususnya pada waktu-waktu yang mustajab sebagaimana diisyaratkan Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahu a’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya pada hari jum’at terdapat satu saat tidaklah seorang muslim mendapatkannya dan dia dalam keadaan berdiri shalat dia meminta kepada Allah suatu kebaikan kecuali Allah memberikannya, dan dia menunjukkan dengan tangannya bahwa saat tersebut sangat sedikit. ( HR. Muslim no: 852 dan Al-Bukhari no: 5294)

Keempat : Karena dosa-dosa kecil kita diampuni pada hari Jumat Siapa yang tidak punya dosa dalam menjalani hari-harinya ? Sungguh kita bukanlah malaikat yang bebas dari segala dosa. Setiap hari ada saja maksiat yang tanpa sengaja maupun sengaja kita jalani. Maka setiap jumat tiba, berharaplah ini menjadi momentum penggugur dosa. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Sholat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan Romadhon ke Romadhon, adalah penghapus dosa antara satu dan lainnya selama dijauhi dosa-dosa besar. (HR Muslim dan lainnya)

Selamat mengisi hari Jumat dengan amal penuh semangat.

Kamis, 05 September 2013

1000 Kebaikan Dalam Sehari

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu, ia berkata," Kami pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah itu beliau bertanya, 'Apakah mampu salah seorang dari kalian memperoleh 1000 kebaikan dalam sehari?' Lalu salah seorang dari para sahabat bertanya, " Ya Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang akan mampu meraih 1000 kebaikan dalam sehari ?" Rasulullah berkata, " Ketahuilah bahwa orang yang bertasbih 100 kali akan di catat 1000 kebaikan untuknya dan dihapus 1000 kesalahan darinya." (HR. Muslim).

TASBIH = SUBHANALLAH...
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan mengamalkannya.
Aamiin.

Mari bersama, kita Amalkan !

Manusia Tidak Luput Dari Kesalahan

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan, dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Jika memang demikian, alangkah pentingnya amalan yang bernama taubat ini. Bertaubat kepada Allah, setidaknya harus melakukan tiga hal, yakni menyesali perbuatannya, menjauhi dosa yang telah dilakukannya, dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Lalu, bagaimanakah jika kesalahan yang telanjur terjadi berkaitan dengan hak sesama manusia? Ada lagi tambahan satu syarat, yakni membebaskan diri dari hak sesama manusia tersebut.

Misalnya, ia perlu meminta maaf kepada orang yang telah ia sakiti, atau mengembalikan harta atau uang bila itu berkaitan dengan harta atau uang yang telah ia tipu, rampas, curi, atau korupsi.

Sungguh, memohon ampunan dan bertaubat kepada SWT di samping untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, amalan ini juga bermanfaat bagi keberkahan hidup kita di dunia ini. Dalam hal ini, marilah kita perhatikan firman Allah SWT sebagai berikut:

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh [71] : 10-12). 

Dengan memohon ampun kepada-Nya, maka Allah akan mengirimkan hujan yang lebat, membanyakkan harta dan anak-anak, dan mengadakan kebun-kebun serta sungai-sungai. Semua itu adalah gambaran anugerah dari Allah SWT untuk hamba-Nya yang mau memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya.

Betapa pentingnya amalan ini. Maka, bila kita perhatikan buku-buku atau kitab yang mengupas tentang ilmu tasawuf atau ilmu akhlak, biasanya pembahasan tentang memohon ampunan dan taubat ini didahulukan atau diletakkan pada bab awal. Hal ini sama dengan buku-buku atau kitab yang mengupas tentang ilmu fiqh, biasanya pembahasan yang didahulukan adalah tentang thaharah atau bersuci. Sebagaimana betapa pentingnya thaharah atau bersuci agar ibadah kita menjadi sah, maka memohon ampunan dan bertaubat juga sebagai langkah pertama agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Untuk itu, baik pada waktu siang maupun malam, hendaknya kita menyukai amalan mulia ini, yakni memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Di samping memang sangat bermanfaat untuk kehidupan kita, baik di dunia dan akhirat, sesungguhnya siapakah yang mempunyai alasan untuk tidak melakukan amalan ini. Karena, sebagaimana hadits Nabi SAW tersebut, setiap anak Adam mempunyai kesalahan.

Kecerdasan Spiritual: Kecerdasan Tertinggi


Menurut para ahli, ada banyak kecerdasan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Thorndike membagi kecerdasan itu ada tiga macam, yakni kecerdasan abstrak (kemampuan dalam memahami simbol matematis dan bahasa), keceradasan konkret (kemampuan dalam memahami objek yang nyata), dan kecerdasan sosial (kemampuan dalam memahami dan mengelola sebuah hubungan sosial).

Charles Handy membagi kecerdasanmanusia menjadi tujuh macam, yakni kecerdasan logika (kemampuan dalam menalar dan menghitung), kecerdasan verbal (kemampuan dalam berkomunikasi), kecerdasan praktik (kemampuan dalam mempraktikkan ide yang ada dalam pikiran), kecerdasan musikal (kemampuan dalam merasakan/membuat nada dan irama), kecerdasan intrapersonal (kemampuan dalam memahami diri sendiri), kecerdasan interpersonal (kemampuan dalam memahami dan menjalin hubungan dengan orang lain), dan kecerdasan spasial (kemampuan dalam mengenali ruang atau dimensi).

Howard Gardner setidaknya membagi kecerdasan menjadi delapan macam, yakni kecerdasan linguistik (kemampuan dalam berbahasa), kecerdasan matematis-logis (kemampuan dalam berhitung dan menalar), kecerdasan visual-spasial (kemampuan dalam mengenali ruang), kecerdasan musikal (kemampuan dalam nada dan irama), kecerdasan natural (kemampuan dalam mengenali alam), kecerdasan interpersonal (kemampuan dalam bergaul), kecerdasan intrapersonal (kemampuan dalam mengenali diri), dan kecerdasan kinestetik (kemampuan dalam mengelola gerak tubuh).

Secara garis besar, setidaknya dikenal ada tiga macam jenis kecerdasan. 
Yakni,pertama, kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotient (IQ). Kecerdasan ini adalah kemampuan potensial seseorang untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan alat-alat berpikir. Kecerdasan ini bisa diukur dari sisi kekuatan verbal dan logika seseorang. Secara teknis, kecerdasan intelektual ini pertama kali digagas dan ditemukan oleh Alfred Binet.

Kedua, kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ). Kecerdasan ini setidaknya terdiri dari lima komponen pokok, yakni kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi, empati, dan mengatur sebuah hubungan sosial. Kecerdasan emosional ini, secara teknis, pertama kali digagas dan ditemukan oleh Daniel Goleman.

Ketiga, kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik sebuah kenyataan atau kejadian tertentu. Secara teknis, kecerdasan spiritual yang sangat terkait dengan persoalan makna dan nilai ini pertama kali digagas dan ditemukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall.

Danah Zohar, dalam bukunya yang berjudul SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, menilai bahwa kecerdasan spiritual merupakan bentuk kecerdasan tertinggi yang memadukan kedua bentuk kecerdasan sebelumnya, yakni kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang tertinggi karena erat kaitannya dengan kesadaran seseorang untuk bisa memaknai segala sesuatu dan merupakan jalan untuk bisa merasakan sebuah kebahagiaan.

Apa yang disampaikan oleh Danah Zohar sebagaimana tersebut sebenarnya tidak berlebihan. Bila ditinjau dari segi kebutuhan manusia, Abraham Maslow juga menggolongkan kebutuhan spiritual sebagai kebutuhan tertinggi dalam kehidupan manusia. Selengkapnya, urutan kebutuhan manusia menurut Maslow adalah (1) kebutuhan fisiologis, meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan, maupun kebutuhan biologis; (2) kebutuhan keamanan, meliputi bebas dari rasa takut dan merasa aman di mana pun berada; (3) kebutuhan rasa memiliki sosial dan kasih sayang, meliputi kebutuhan berkeluarga, persahabatan, dan menjalin interaksi serta berkasih sayang; (4) kebutuhan akan penghargaan, meliputi kebutuhan akan kehormatan, status, harga diri, maupun mendapatkan perhatian dari orang lain; (5) kebutuhan aktualisasi diri, meliputi kebutuhan untuk eksistensi diri dalam kehidupan. Kebutuhan aktualisasi diri ini adalah kebutuhan yang berkaitan erat dengan kejiwaan dan merupakan kebutuhan spiritual seorang manusia.

Meskipun kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang paling tinggi, ternyata ia juga dibangun dari dua kecerdasan sebelumnya, yakni kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Menurut penulis, memang ketiga jenis kecerdasan tersebut jangan sampai kita abaikan salah satunya karena kita lebih memilih kecerdasan yang lainnya.

Peran Orangtua

Kecerdasan intelektual anak-anak kita sudah dikembangkan sedemikian rupa dalam lembaga pendidikan formal atau reguler di negeri tercinta ini, maka tugas orangtua hanya tinggal membantu dan mendampingi sang anak ketika belajar di rumah. Selanjutnya, orangtua berupaya untuk mempunyai perhatian yang besar dalam mengembangkan kecerdasan emosional, lebih khusus kecerdasan sosialnya.

Selanjutnya, kecerdasan yang harus mendapatkan perhatian dari orangtua adalah mengembangkan kecerdasan spiritual pada anak-anak kita. Mengingat betapa penting kecerdasan spiritual anak kita untuk dikembangkan karena hal ini berkaitan dengan kemampuan dalam memahami makna hidup dan kebahagiaan.

Sebagian besar orangtua tidak segan bekerja siang dan malam agar kebutuhan anak-anaknya terpenuhi. Tidak sedikit orangtua yang berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya dapat belajar di sekolah yang terbaik; meskipun untuk urusan ini kemungkinan besar membutuhkan biaya yang mahal. Orangtua juga berusaha bagaimana bisa menemani anak-anaknya ketika belajar di rumah. Ketika orangtua tidak mampu terhadap pelajaran tertentu, tak segan pula memanggilkan guru privat untuk anak-anaknya. Itu semua dilakukan orangtua agar anak-anaknya pandai dan mendapatkan nilai yang baik. Inilah bentuk kepedulian orangtua dalam mengembangkan kecerdasan intelektual anak-anaknya.

Tidak hanya pandai, orangtua juga menginginkan agar anak-anaknya dapat mencapai kesuksesan, baik itu dalam karier maupun dalam hidup bermasyarakat. Untuk harapan yang baik dan mulia ini orangtua dapat mengembangkan kecerdasan emosional, atau lebih khusus lagi juga kecerdasan sosial dari anak-anaknya.

Namun, kepandaian dan kesuksesan yang dapat diraih oleh seseorang seakan menjadi tidak berarti bila seseorang dalam hidupnya tak juga bisa merasakan kebahagiaan. Di sinilah sesungguhnya posisi kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang paling tinggi bila dibandingkan dengan kecerdasan yang lainnya karena terkait erat dengan kemampuan memaknai segala sesuatu dan kebahagiaan.

Apakah gunanya kepandaian dan kesuksesan apabila seseorang tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya? Barangkali pertanyaan demikian yang membuat kita lebih serius dan memperbesar perhatian terhadap pentingnya untuk mengembangkan kecerdasan spiritual pada anak-anak kita. Apalagi, roda zaman terus berputar sehingga persoalan kehidupan di masa mendatang akan semakin kompleks. Tidak ada alasan bagi orangtua untuk tidak memerhatikan masalah kecerdasan spiritual ini. Dengan demikian, semoga anak-anak kita kelak dapat menjadi orang yang dapat menghadapi tantangan kehidupan dengan baik dan dapat meraih kebahagiaan.
Source

Selasa, 03 September 2013

Ilmu Melebihi Kekuasaan

Suatu hari Khalifah Abbasiyah Harun Ar Rasyid pergi haji kemudian berziarah ke Masjid Nabawi dan sangat ingin bertemu serta belajar kepada Imam Malik bin Anas, imam mazhab terkemuka. 

Dari tempat menginap, Ia mengirim utusan untuk menyampaikan keinginannya untuk belajar dan memohon agar Imam Malik berkenan menemuinya. Namun Imam Malik bin Anas tidak mau memenuhinya.

Imam Malik menyampaikan pesan agar Amirul Mu’minin sebagai penuntut ilmu yang datang ke majelisnya. Khalifah menuruti permintaan untuk berkunjung ke tempat Imam Malik bin Anas mengajar, namun memohon agar majelis ilmunya kosong dari orang lain.

Imam Malik menolak permintaan itu seraya berkata, “Jika ilmu tidak diberikan kepada orang umum, maka tak berguna ilmu bagi orang khusus!”

Ada dua hikmah dari penolakan Imam Malik bin Anas terhadap permintaan Khalifah.

Pertama, mengingatkan bahwa meskipun seorang Khalifah mendapat mandat kekuasaan yang besar--atas nama Allah pula--namun kekuasaan itu tak dapat menundukkan ketinggian ilmu. Malaikat bersujud kepada Adam setelah mengetahui ilmu Adam lebih tinggi daripada pengetahuan Malaikat.

Demikian juga kekuasaan Jin terkalahkan oleh Asyif Barchoya ahli Ilmu Nabi Sulaeman yang mampu lebih cepat memindahkan singgasana. Kekuasaaan Namrud ditundukkan oleh ilmu dan argumentasi Ibrahim tentang berhala besar yang menghancurkan berhala-berhala kecil. Semuanya itu merupakan bukti akan ketinggian ilmu.

Kedua, dapat saja Khalifah belajar secara private, namun pilihan Imam Malik adalah Majelis yakni belajar bersama sama dengan yang lain. Di samping status penuntut ilmu itu sama, juga “majelis ilmu” jauh lebih bermashlahat. Berjamaah lebih berkah daripada munfarid.

Secara interelasi, belajar bersama akan menumbuhkan sikap saling memotivasi dan mengoreksi. Sementara secara transendental belajar bersama-sama itu digaransi untuk mendapat bantuan do’a dari Malaikat.

Kekuasaan yang di dalamnya ada unsur pengaruh, tekanan, atau pula uang, sering digunakan untuk menggiring kaum berilmu tunduk dan patuh pada kemauan kekuasaan tersebut. Karenanya tak jarang kaum intelektual ataupun ulama suka merendahkan dirinya untuk mendatangi atau mendekat-dekatkan diri dengan para penguasa.

Dalam bahasa umum sering disebut dengan pelacur intelektual atau dalam bahasa Nabi disebut lisun (pencuri). Mereka membungkuk-bungkuk dan selalu siap untuk memberi stempel kepada setiap kemauan pejabat negara.

Kisah lainnya, Khalifah Adhudiddaulah mengutus Qadhi Abubakar Al Baqilani untuk menyampaikan surat kepada Kaisar Romawi. Ketika tiba di ibukota, Kaisar mengetahui utusan ini adalah ulama dengan ilmu dan martabat yang tinggi.

Kaisar berfikir tentang penyambutan. Tak mungkin ia memandang Qadhi Abubakar Al Baqilani seperti rakyat biasa yang harus mencium tanah jika menghadap Kaisar sebagai penghormatan. Akan tetapi di sisi lain dia tidak ingin siapapun yang menghadap kepadanya tidak menunjukkan kerendahan dirinya dihadapan Kaisar.

Maka solusi ditemukan. Dipindahkannya tempat duduk yang biasa digunakan untuk menyambut tamu di belakang pintu. Dirancang sedemikian rupa agar tamunya Qadhi Al Baqilani ketika memasuki ruangan terpaksa harus membungkuk berjalan menuju Kaisar.

Ketika tiba sang tamu, maka Qadhi Abubakar Al Baqilani ternyata memutar punggungnya dan membungkukkan tubuhnya lalu berjalan mundur dengan membelakangi arah tempat duduk Kaisar hingga sampai dihadapannya. Kemudian baru berdiri tegak dan berbalik kepadanya. Disampaikanlah maksud kedatangannya.

Kaisar Romawi mengagumi kecerdikan dan penghargaan diri terhadap status pemangku ilmu sang Qadhi.

Seperti dijanjikan dalam Alquran, Allah SWT akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Orang alim hanya takut kepada Allah. Karenanya sebagai pemangku ilmu Allah, ulama sudah seharusnya menjaga wibawa keilmuannya.

Dibalik Sebuah Prasangka

Di sebuah negeri zaman dulu kala, seorang pelayan raja tampak gelisah. Ia bingung kenapa raja tidak pernah adil terhadap dirinya. Hampir tiap hari, secara bergantian, pelayan-pelayan lain dapat hadiah. Mulai dari cincin, kalung, uang emas, hingga perabot antik. Sementara dirinya tidak.

Hanya dalam beberapa bulan, hampir semua pelayan berubah kaya. Ada yang mulai membiasakan diri berpakaian sutera. Ada yang memakai cincin di dua jari manis, kiri dan kanan. Dan, hampir tak seorang pun yang datang ke istana dengan berjalan kaki seperti dulu. Semuanya datang dengan kendaraan. Mulai dari berkuda, hingga dilengkapi dengan kereta dan kusirnya.

Ada perubahan lain. Para pelayan yang sebelumnya betah berlama-lama di istana, mulai pulang cepat. Begitu pun dengan kedatangan yang tidak sepagi dulu. Tampaknya, mereka mulai sibuk dengan urusan masing-masing.

Cuma satu pelayan yang masih miskin. Anehnya, tak ada penjelasan sedikit pun dari raja. Kenapa beliau begitu tega, justru kepada pelayannya yang paling setia. Kalau yang lain mulai enggan mencuci baju dalam raja, si pelayan miskin ini selalu bisa.

Hingga suatu hari, kegelisahannya tak lagi terbendung. “Rajaku yang terhormat!” ucapnya sambil bersimpuh. Sang raja pun mulai memperhatikan. “Saya mau undur diri dari pekerjaan ini,” sambungnya tanpa ragu. Tapi, ia tak berani menatap wajah sang raja. Ia mengira, sang raja akan mencacinya, memarahinya, bahkan menghukumnya. Lama ia tunggu.

“Kenapa kamu ingin undur diri, pelayanku?” ucap sang raja kemudian. Si pelayan miskin itu diam. Tapi, ia harus bertarung melawan takutnya. Kapan lagi ia bisa mengeluarkan isi hati yang sudah tak lagi terbendung. “Maafkan saya, raja. Menurut saya, raja sudah tidak adil!” jelas si pelayan, lepas. Dan ia pun pasrah menanti titah baginda raja. Ia yakin, raja akan membunuhnya.

Lama ia menunggu. Tapi, tak sepatah kata pun keluar dari mulut raja. Pelan, si pelayan miskin ini memberanikan diri untuk mendongak. Dan ia pun terkejut. Ternyata, sang raja menangis. Air matanya menitik.

Beberapa hari setelah itu, raja dikabarkan wafat. Seorang kurir istana menyampaikan sepucuk surat ke sang pelayan miskin. Dengan penasaran, ia mulai membaca, “Aku sayang kamu, pelayanku. Aku hanya ingin selalu dekat denganmu. Aku tak ingin ada penghalang antara kita. Tapi, kalau kau terjemahkan cintaku dalam bentuk benda, kuserahkan separuh istanaku untukmu. Ambillah. Itulah wujud sebagian kecil sayangku atas kesetiaan dan ketaatanmu.”


*******
Betapa hidup itu memberikan warna-warni yang beraneka ragam. Ada susah, ada senang. Ada tawa, ada tangis. Ada suasana mudah. Dan, tak jarang sulit.

Sayangnya, tak semua hamba-hamba Yang Maha Diraja bisa meluruskan sangka. Ada kegundahan di situ. Kenapa kesetiaan yang selama ini tercurah, siang dan malam; tak pernah membuahkan bahagia. Kenapa yang setia dan taat pada Raja, tak dapat apa pun. Sementara yang main-main bisa begitu kaya.

Karena itu, kenapa tidak kita coba untuk sesekali menatap ‘wajah’Nya. Pandangi cinta-Nya dalam keharmonisan alam raya yang tak pernah jenuh melayani hidup manusia, menghantarkan si pelayan setia kepada hidup yang kelak lebih bahagia.

Pandanglah, insya Allah, kita akan mendapati jawaban kalau Sang Raja begitu sayang pada kita.

Kedudukan Sabar Dalam Islam

Sabar adalah separuh dari Dien (Agama). Sabar itu kedudukannya seperti kepala terhadap tubuh. Sebagaimana tidak ada jasad tanpa kepala, maka demikian juga tidak ada Dien tanpa sabar.

Sabar itu menurut ijma’ ulama hukumnya wajib. Kata “washbir” adalah fi’il amar (kata kerja perintah), dan perintah itu menunjukkan suatu kewajiban. Tidak mungkin dapat melewati shirath (titian menuju surga) kecuali orang-orang yang sabar. Dan seseorang tidak mungkin naik ke suatu tempat di sisi Rabbnya kecuali mereka yang sabar dan bersyukur.

Allah ‘Azza wa Jalla menyebut kata sabar di dalam Al Qur’an kurang lebih di sembilan puluh tempat. Allah menyebutnya dalam enam belas bentuk, setiap bentuk mempunyai suatu manfaat. Atau dengan kata lain, Allah menyebutkan enambelas manfaat sabar dalam kitab-Nya. Yang paling penting ialah :

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas”. (QS. Az Zumar : 10)

Dalam sebuah atsar disebutkan :

“Pada hari kiamat, orang-orang yang selalu mendapatkan bala’ dari Allah di dunia didatangkan, tidak diadakan persidangan bagi mereka dan tidak pula ditimbang amalannya bahkan mereka diberikan kebaikan yang melimpah. Maka dari itu orang-orang yang jarang mendapatkan bala’ dari Allah di dunia berangan-angan kalau sekiranya jasad mereka dipotong-potong dengan gunting, karena mereka iri melihat kebaikan, kesejahteraan dan kedudukan yang dianugerahkan Allah kepada orang yang selalu sabar menghadapi bala’”.
Juga sabar dan takwa, keduanya merupakan dua perisai yang kuat lagi kokoh dalam menolak tipu daya musuh-musuh Allah dan rencana-rencana jahat mereka.

“Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik”. (QS. Yusuf : 90)

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”. (QS. Ali Imran : 120)

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya”. (QS. Ali Imran : 120)


Demikian juga sabar khususnya dalam jihad, maka ia akan membuat malaikat penolong turun:

“Ketahuilah, bahwa di dalam kesabaran atas sesuatu yang kamu tidak suka itu terdapat kebaikan yang banyak, dan bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesusahanserta sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. (HR Tirmidzi)

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda”. (QS. Ali Imran : 125)

Lima ribu malaikat. Menurut Qurthubi dan Hasan Al Bashri serta yang lain, bahwa malaikat yang lima ribu jumlahnya itu disiapkan untuk setiap tentara muslim yang sabar dan mengharapkan balasan dari amal hanya kepada Allah. Jadi setiap tentara yang sabar dan mengharapkan pahala amalnya hanya kepada Allah maka malaikat akan turun kepadanya.

Sabar dan takwa mengangkat kedudukan seseorang di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu Allah Rabbul ‘Izzati berfirman melalui lesan Nabi Yusuf, yakni ketika para saudara bertanya kepadanya :

“Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. (QS. Yusuf : 90)

Mengapa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada Yusuf? Sesungguhnya dikarenakan ‘illat (sebab), yakni kata innahu sedangkan kata fa inna itu untuk penjelasan sebab. (Innahu man yattaqi wa yashbir, fa innallaha laa yudhii’u ajral muhsiniin)

Demikian juga, sabar itu dapat membuka jiwa untuk dapat menerima isyarat-isyarat dari alam semesta sehingga dia berfikir dan memperhatikan. Dan sabar juga membuat hati terbuka untuk menerima makna-makna Al Qur’an, sehingga dia dapat mengambil pelajaran dan melangkah di atas jalan kebenaran.

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”. (QS. Luqman : 31)