aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Jumat, 15 Maret 2013

Kejujuran Seorang Muslim

Kejujuran adalah mutiara dalam diri seorang muslim, banyak orang yang mengaku muslim namun mereka adalah pendusta, padahal pendusta tidak akan berhenti dari kedustaanya sehingga dia akan terus menerus menambah kedustaanya sampai dia mati. Dalam al-quran Allah memerintahkan kita senantiasa berbuat jujur dan menjadi golongan orang – orang yang jujur. 

Artinya : Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.


Orang – orang yang jujur akan mendapat pangkat ahli jujur dan ke dalam masuk surga.
Artinya : Dari Abdullah bin Umar, dari Nabi Muhammad SAW bersabda , Sesungguhnya kejujuran itu menunjukan pada kebaikan dan kebaikan akan menunjukan pada surga, dan niscahya seorang laki-laki yang jujur sehingga di tulis Ahli jujur. Dan sesungguhnya dusta menunjukan pada keji, dan keji akan menunjukan pada neraka dan niscahya seorang laki-laki yang dusta di sisi allah di tulis Ahli dusta.

Macam-macam Kejujuran

Membahas tentang kejujuran (dalam bahasa arab disebut sebagai Ash-Shidqun), ada 5 macam kejujuran, yaitu: 


1. Shidq Al-Qalbi (jujur dalam berniat). 

Hati adalah poros anggota badan. Hati adalah barometer kehidupan. Hati adalah sumber dari seluruh gerak langkah manusia. Jika hatinya bersih, maka seluruh perilakunya akan mendatangkan manfaat. Tapi jika hatinya keruh, maka seluruh perilakunya akan mendatangkan bencana. Rasulullah Saw. bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, akan baiklah seluruh tubuh. Dan bila ia rusak, rusaklah ia seluruhnya. Itulah qalbu (hati).” (H.R. Bukhari).

Itulah hati dan kejujuran yang tertanam dalam hati akan membuahkan ketentraman, sebagaimana firman-Nya, 
Artinya : (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.

2. Shidq Al-Hadits (jujur saat berucap).

Jujur saat berkata adalah harga yang begitu mahal untuk mencapai kepercayaan orang lain. Orang yang dalam hidupnya selalu berkata jujur, maka dirinya akan dipercaya seumur hidup. Tetapi sebaliknya, jika sekali dusta, maka tak akan ada orang yang percaya padanya. Orang yang selalu berkata jujur, bukan hanya akan dihormati oleh manusia, tetapi juga akan dihormati oleh Allah Swt. sebagaimana firman-Nya, 


Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. 


Hidup dalam naungan kejujuran akan terasa nikmat dibandingkan hidup penuh dengan dusta. Rasulullah Saw. bahkan mengkatagorikan munafik kepada orang-orang yang selalu berkata dusta, sebagaimana sabdanya, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; bila berucap dusta, kala berjanji ingkar dan saat dipercaya khianat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

3. Shidq Al-’Amal (jujur kala berbuat).

Amal adalah hal terpenting untuk meraih posisi yang paling mulia di surga. Oleh karena itu, kita harus selalu mengikhlaskan setiap amal yang kita lakukan. Dalam berdakwah pun, kita harus menyesuaikan antara ungkapan yang kita sampaikan kepada umat dengan amal yang kita perbuat. Jangan sampai yang kita sampaikan kepada umat tidak sesuai dengan amal yang kita lakukan sebab Allah Swt. sangat membenci orang-orang yang banyak berbicara tetapi sedikit beramal. 


Artinya : Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan

Jadi, yang harus kita lakukan adalah banyak bicara dan juga beramal agar kita bisa meraih kenikmatan surga. 


4. Shidq Al-Wa’d (jujur bila berjanji).

Janji membuat diri kita selalu berharap. Janji yang benar membuat kita bahagia. Janji palsu membuat kita selalu was-was. Maka janganlah memperbanyak janji (namun tidak ditepati) karena Allah Swt. sangat membenci orang-orang yang selalu mengingkari janji sebagaimana dalam firman-Nya, 


Artinya : Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

Kita pun harus selalu membatasi janji yang kita ucapkan, baik kepada Allah maupun kepada manusia karena setiap janji yang kita ucapkan akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah Swt.
Artinya : Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

5. Shidq Al-Haal (jujur dalam kenyataan).

Orang mukmin hidupnya selalu berada di atas kenyataan. Dia tidak akan menampilkan sesuatu yang bukan dirinya. Dia tidak pernah memaksa orang lain untuk masuk ke dalam jiwanya. Dengan kata lain, seorang mukmin tidak hidup berada di bawah bayang-bayang orang lain. Artinya, kita harus hidup sesuai dengan keadaan diri kita sendiri. Dengan bahasa yang sederhana, Rasulullah Saw. mengingatkan kita dengan ungkapan, “Orang yang merasa kenyang dengan apa yang tidak diterimanya sama seperti orang memakai dua pakaian palsu.” (H.R. Muslim). Dari ungkapan ini, Rasulullah Saw. menganjurkan kepada umatnya untuk selalu hidup di atas kenyataan dan bukan hidup dalam dunia yang semu.
Kejujuran Rasulullah

Dari buku sejarah kita membaca bahwa Nabi Muhammad di masa muda dan belum diutus menjadi Rasul dikenal sebagai sosok pemuda yang memiliki kredibilitas tinggi dankejujuran yang tak tertandingi.

Kejujuran beliau begitu terkenal di seantero Makkah waktu itu sehingga tak kala para kepala suku berselisih pendapat tentang siapa yang paling berhak meletakkan Hajar Aswad di tempat asalnya di salah satu sudut Ka’bah, mereka sepakat untuk menyerahkan permasalahan itu pada beliau. Mereka pasrah apapun keputusan Nabi akan mereka terima dengan sepenuh hati.

Nabi pun meletakkan Hajar Aswad pada sebuah selendang. Para kepala suku diminta untuk memegang ujung selendang dan membawa Hajar Aswad ke tempat asalnya secara bersama-sama. Setelah dekat, Nabi mengambil Hajar Aswad tersebut dan meletakkannya di tempat semula. Keputusan Nabi yang begitu tepat, cerdas dan bijaksana tersebut semakin melambungkan citra beliau dan dari peristiwa itu Nabi mendapat julukan baru “Al Amin”, yaitu pribadi yang dapat dipercaya.

Sedikitnya ada dua pelajaran yang dapat kita petik dari kisah tersebut:

Pertama, bahwa kejujuran sikap akan menuai kepercayaan dan penghargaan yang tinggi dari berbagai kalangan, tua dan muda, kaya dan miskin, muslim atau nonmuslim. Dengan kata lain, apapun tujuan hidup yang ingin dicapai, mulailah dengan kejujuran dan konsisten dengan kejujuran itu apapun resikonya.

Kedua, bahwa yang dimaksud dengan “jujur” hendaknya tidak hanya dimaknai secara sempit sebagai “keselarasan antara kata dan perbuatan, kesesuaian antara kata dan fakta.” Ia juga bermakna “adil dalam bertindak” dan bijaksana dalam mengambil sikap , sebagaimana dalam Al-Quran :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 


Adil dan bijaksana dalam bersikap identik dengan perilaku profesional dalam mengambil tindakan. Sikap profesional menuntut kita untuk bersikap jujur dan adil kepada siapapun, termasuk kepada diri sendiri, tanpa dipengaruhi oleh rasa suka atau benci, kawan atau lawan, kebenaran harus ditegakkan seperti dalam surat An-Nisa 135 : 


Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Apakah kejujuran ini masih ada pada generasi muda ?

KEWAJIBAN ORANGTUA TERHADAP ANAKNYA

Ayah, Ibu, Jangan Murtadkan Anakmu! 

"Aku ingin anakku nantinya bisa jadi penyanyi terkenal," ujar seorang ibu muda kepada rekan pembicaraannya. "Kalo' aku sih, anakku ingin aku masukkan ke sekolah modelling biar bisa jadi peragawati terkenal," timpal ibu lainnya tak kalah sengit. "Kalo saya, ingin anak saya yang cantik menjadi bintang filmm atau arts sinetron yang bergaji tinggi." Obrolan seperti ini, sering kita dengarkan manakala ibu-ibu membicarakan obsesinya terhadap buah hatinya.

Obsesi orangtua terhadap anak, memang tak dilarang dalam Islam. Selama obsesi itu merupakan wujud kasih sayang orangtua terhadap anak-anak mereka. Agar anak-anak mereka menjadi orang yang berhasil dalam karir, mandiri (baik secara materi maupun sikap mental), mendapat pendamping hidup yang baik, terpandang di masyarakatnya, serta tetap berbakti pada orangtua. Bagaimana soal berbakti kepada Tuhan? Ini juga hal yang sering tak dilupakan sebagai bagian obsesi para ortu terhadap anak-anak mereka. Biasanya satu paket, agar anak berbakti kepada orangtua dan agamanya.

Namun sayangnya unsur terakhir ini, kerap cuma sebagai embel-embel formalitas dari bangunan obsesi para ortu yang diangankan pada anak-anak mereka. Tindak lanjut dari obsesi terakhir ini, sayangnya macet cuma sampai pada tataran angan-angan. Dalam bentuk implementasi, bak "jauh panggang dari api" alias berbanding terbalik.

Ilustrasi di awal tulisan ini, mungkin bisa jadi contoh. Bagaimana tergiurnya seorang ibu pada predikat sukses duniawi yang kelak bisa disandang anak, tanpa mempedulikan apakah itu selaras dengan harapan Tuhan? Padahal hakikatnya, kita bukanlah the real owner dari anak-anak yang kita miliki. Kita hanya ditugasi Allah 'Azza wa Jalla, Pemilik Sesungguhnya Seluruh Anak-Anak Manusia, cuma sebagai fasilitator yang harus bisa mengantarkan anak-anak kita kembali kepada Pemiliknya dalam keadaan orisinal (asli) sebagaimana dulu dia dilahirkan. Dalam bahasa imannya, anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci), karena itu ia harus kita kembalikan pada Pemiliknya juga dalam kondisi fitrah.

Al Qur'an menegaskan hal itu. "Dan (ingatlah) ketika Robb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa-jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab; "Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap kesaksian ini." (Surat Al A'raf 172).

Setiap anak Adam yang terdiri dari beragam warna, beragam bahasa, beragam kultur, dan akhirnya berhimpun dalam berbagai suku bangsa di dunia itu, hakikatnya lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid kepada Allah 'Azza wa Jalla). Ini merupakan warisan Robbani sekaligus modal dasar yang paling kokoh yang akan menentukan eksistensi kemanusiaan setiap insan. Bagaimana nilai-nilai keyakinan yang diajarkan anak, miliu tempatnya hidup, serta sistem pembinaan karakter yang diterapkan terhadap dirinya, kelak yang akan menentukan akan menjadi seperti apa anak di kemudian hari. Apakah anak tetap dalam fitrahnya, atau apakah bahkan ia kelak menjadi penentang fitrah yang dimilikinya?

Karena itu Nabi mulia saw menegaskan, "Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitah. Maka orangtuanyalah yang kemudian berperan dalam merubah fitrahnya, apakah ia kelak menjadi Yahudi, menjadi Majusi, atau menjadi Nasrani." (hadits shahih).

Hadits di atas tidak menyebutkan, si anak bisa berubah menjadi Islam. Karena Islam (fitrah) itu sesungguhnya telah menyatu (inherent) dalam diri setiap anak yang lahir. Maka tugas para orangtua yang diamanati anak-anak yang fitrah itu oleh Allah swt, sesungguhnya adalah tetap mengasuh mereka dalam sistem dan pola yang fitrah. Dengan kata lain, anak-anak itu sebetulnya telah disediakan oleh Penciptanya suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka. Sehingga hanya dengan sistem itu anak-anak dijamin tak akan berubah fitrahnya hingga ia menghadap Tuhannya. Kita -para orangtua- yang seharusnya berperan mengarahkan, menempatkan, dan menjaga si anak agar tetap berada pada koridor sistem fitrah itu, yang tak lain adalah dienul Islam.

Hanya sistem (dien) Islam yang bisa mengakomadasi, menumbuhkan, mengembangkan, serta mengokohkan potensi fitrah setiap manusia. Karena Islam adalah agama yang diciptakan oleh Pencipta sekaligus Pemilik manusia itu sendiri. Perintah itu dengan gamblang dituangkan dalam firmanNya yang agung; "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia manusia tidak mengetahuinya." (Ar Ruum : 30) .

Lantaran itulah para orangtua berperan mengenalkan, menggiring, dan menempatkan anak-anak agar dia hidup dalam habitat sistem fitrah itu (dienul Islam) secara permanen. Anak tak boleh sedikitpun disusupkan nilai-nilai asing pada aspek manapun, yang dapat merusak potensi fitrahnya. Sebaliknya orangtua berkewajiban menempa kepribadian anak berdasarkan petunjuk sistem fitrah itu, agar potensi fitrah anak menjadi sesuatu yang dominan muncul ke permukaan kepribadiannya. Sebab hanya manusia yang memiliki kepribadian fitrah yang akan bisa memelihara eksistensi kehormatan dirinya.

Tentu saja keliru asumsi yang mengatakan, mengajarkan Islam pada anak, cuma urusan sholat, puasa, dan bersedekah. Namun dia tidak mendidiknya agar anak berpakaian sopan dan menutup aurat (bagi anak-anak perempuan). Dia tidak menciptakan atmosfer Islami di dalam rumah tangganya. Atau bahkan dia membiarkan anak-anaknya bebas mengikuti trend budaya Barat, baik dari segi pergaulan, selera hiburan, selera berpakaian, dan lain sebagainya. Atau juga dia membebaskan anaknya memilih jalan hidup yang bertentangan dengan Islam.

Akan lebih keliru lagi misalnya, jika ada orangtua menginginkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihat, tapi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah Kristen misalnya. Atau anak-anak kita biarkan bergaul dalam lingkungan komunitas atheistik/materialistik yang menganut paham pergaulan bebas. Komunitas yang menganggap semua agama sama, semua agama baik, surga tidak bisa diklaim hanya sebagai milik orang-orang Islam belaka. Jelas ini tidak kondusif bagi perkembangan fitrah anak. Bahkan sangat membahayakan fitrahnya.

Jika kita tidak asuh anak-anak kita dalam asuhan sistem dan nilai-nilai yang Islami, jangan salahkan jika mereka kelak di kemudian hari menjadi orang-orang nyeleneh. Orang-orang yang tidak tau malu mempertontonkan aurat, Orang-orang yang menjadi pemuja ideologi Barat. Orang-orang yang sesungguhnya telah menjadi murtad (keluar dari Islam), na'udzubillah min dzalik.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar suara fitrah anak-anak kita. Agar kita tidak memaksakan kehendak dan obsesi kita yang barangkali justru akan memurtadkan mereka. Coba dengar baik-baik suara fitrah mereka: "Ayah, ibu, jangan murtadkan anakmu!" Wallahu a'lam.

Kamis, 14 Maret 2013

Fisika Lebih Menyenangkan Dengan Imajinasi

Imajinasi lebih utama daripada pengetahuan. Pengetahuan bersifat terbatas. Imajinasi melingkupi dunia. -Albert Einstein

Itulah sepatah kata yang pernah dikatakan oleh Einstein. Berbicara tentang fisika dapat menimbulkan tanggapan yang beragam. Bukan gosip lagi kalau fisika merupakan salah satu "hantu" yang ditakuti oleh banyak pelajar, baik itu di tingkat menengah, umum, dan bahkan di perguruan tinggi. Sebagian orang menghafalkan rumus-rumus fisika layaknya buku sejarah tanpa menyadari maknanya. Ada juga yang pasrah karena menganggap fisika hanyalah milik orang-orang yang serius, cerdas, gila matematika, dan pada umumnya "kurang gaul". Bahkan, tidak sedikit yang beranggapan bahwa menjadikan fisika sebagai karir hidup adalah pilihan yang salah karena "masuknya" mudah tapi "keluarnya" susah. Dengan kata lain, menjadi mahasiswa fisika tidaklah sulit tapi lulusnya setengah mati dan kerjanya paling-paling menjadi guru atau kalau beruntung bisa menjadi dosen.

Beberapa pelajar mengagumi fisika karena membaca berita mengenai keberhasilan tim olimpiade fisika atau membaca buku tentang kehidupan para ilmuwan besar. Sayang, banyak juga yang hanya sebatas mengagumi tidak sampai menghayati atau mendalami fisika. Seringkali orang yang menguasai fisika dianggap sebagai orang "keren" sekaligus "aneh" karena mau belajar sesuatu yang sulit, padahal kalau jadi pengusaha bisa kaya-raya. Persepsi-persepsi demikian mengakibatkan masyarakat umum cenderung menggemari ilmu lain seperti metafisika. Disaat negara-negara lain berusaha untuk menyadarkan masyarakatnya agar tidak "gatek" alias gagap iptek negara kita melalui beberapa media massa tampaknya bekerja keras meyakinkan masyarakat agar tidak "gagib" atau gagap gaib. Padahal, penyampaian informasi ini menggunakan aplikasi fisika dan elektronika. Singkatnya, menemukan orang yang menyukai fisika bagaikan mencari jarum pentul didalam tumpukan jerami.

Banyak sekali pelajar atau mahasiswa yang sabar menunggu penayangan rumus-rumus fisika di papan tulis, kemudian mengerjakan soal-soal fisika. Dari pengalaman, soal-soal tersebut diselesaikan dengan cara "gotong-royong" karena hanya sedikit orang yang bisa atau mau mengerjakannya. Keberhasilan pengajaran tidak jarang didasarkan atas kemampuan mengerjakan soal-soal ujian akhir, bukan pada penguasaan makna fisis dari rumus tersebut.

Sebagai contoh, hampir semua orang di kelas tahu hukum kedua Newton, F = m.a, tetapi mungkin tak pernah terbayangkan bahwa rumus tersebut dapat menceritakan mengapa orang-orang gendut lebih suka main tarik tambang daripada lari 100 meter. Kemudian, siapa yang tak mengenal persamaan terkenal Einstein E = mc2 ? Sayang, sedikit sekali orang yang mengetahui bahwa massa sebuah buku fisika dasar mengandung energi yang dapat membawa suatu wahana antariksa ke bulan!

Salah satu penyebab persepsi negatif tentang fisika adalah bahwa ilmu tersebut seringkali diajarkan tanpa penghayatan sehingga terasa menyebalkan. Padahal, melalui fisika kita dapat mengetahui banyak hal. Seorang pelajar yang mulai mempelajari ilmu ini tidak perlu jauh-jauh mengunjungi laboratorium untuk melihat fenomena fisika. Kapanpun dan dimanapun ia dapat berimajinasi (menghayal) tentang lingkungan sekitarnya. Keindahan warna bunga yang tampak oleh mata, musik yang terdengar nyaman di telinga, air terjun yang memikat, aliran angin yang sejuk, adalah sedikit contoh dari fenomena fisika sehari-hari. Penjelasan bahwa setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda dan bahwa benda-benda menyerap serta meradiasikan panjang gelombang tertentu sehingga sampai ke mata kita, dapat dibaca dalam buku fisika. Akan tetapi seringkali orang tidak peduli dengan penjelasan itu karena tidak berimajinasi sehingga ia lupa akan keindahan alam dan tidak memiliki rasa ingin tahu.

Imajinasi lahir dari lingkungan yang mendukung seseorang agar memikirkan berbagai fenomena disekitarnya. Jika masyarakat sekitar atau keluarga di rumah tidak menghargai kebebasan berpikir maka daya imajinasi sulit untuk berkembang. Hampir semua fisikawan terkenal adalah orang-orang yang suka berimajinasi dan seringkali dikatakan sebagai pemikir "radikal" karena dianggap aneh oleh lingkungan yang seringkali bersifat dogmatis. Einstein adalah contoh populer dari orang yang suka berimajinasi dan mengembangkannya. Ia membayangkan bagaimana seandainya ia dapat bergerak dengan kecepatan cahaya. Pemikiran aneh ini menghasilkan teori relativitas khusus yang sampai kini masih digunakan. Hal yang sama dilakukan oleh Newton. Kalau saja ia tidak suka melamun dibawah pohon apel mungkin hukum gravitasi universalnya tidak ditemukan sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.

Melalui imajinasi, kesadaran untuk mengamati fenomena alam dan membaca buku-buku fisika akan muncul dengan sendirinya. Sebagai contoh, molekul air (H2O) terdiri atas dua buah atom hidrogen dan sebuah atom oksigen. Kita tentu tidak mungkin melihat molekul air dengan mata telanjang. Akan tetapi, kita bisa berimajinasi bahwa molekul-molekul tersebut berukuran kecil sekali sehingga tak tampak. Oleh karenanya, jumlah molekul yang menyusun suatu benda haruslah sangat banyak. Melalui imajinasi kita tergerak untuk mempelajari bahwa satu mol molekul air (yang beratnya sekitar 18 gram) mengandung sekitar 6 x 1023 molekul. Jadi, satu sendok air ternyata terdiri atas sekitar 1022 molekul. Jumlah itu sangatlah besar. Jika seluruh penduduk indonesia diberi tugas untuk menghitung satu per satu molekul berbeda tiap 5 detik maka itu membutuhkan waktu bermiliar-miliar tahun!

Fisikawan tidak membuat rumus-rumus untuk dihafalkan atau ditulis pada telapak tangan. Rumus-rumus dibuat untuk memahami fenomena-fenomena alam dalam bentuk yang ringkas, indah, universal, dan berguna untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut fenomena tersebut. Memang, fisika tidak mungkin terlepas dari matematika. Tanpa definisi matematis, fisika sangat sulit dikembangkan dan dimanfanfaatkan sebagai teknologi. Meskipun demikian, untuk mempelajari dasar-dasar fisika seseorang tidak perlu menjadi "gila" matematika ataupun menjadi serius dan takut tak dapat pacar karena "kurang gaul". Belajar fisika memang tidak mudah, tapi dengan melepaskan diri dari pemikiran yang dogmatis dan keinginan untuk berpikir bebas, imajinasi akan muncul dan bisa menjadi petualangan yang menyenangkan bagi siapapun.
Sumber: fisik@net

Alphabet Dalam Fisika

Fisika menciptakan berbagai macam besaran dan satuan untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa alam (juga yang buatan) yang terjadi. Untuk menuliskannya, diciptakanlah simbol yang berhubungan dengan penyebutannya, yang berasal dari beberapa sumber. Beberapa besaran dan satuan dinamai dengan nama penemunya, sedangkan lainnya dinamai dalam bahasa Inggris. Lainnya bahkan lebih ajaib lagi. Semua simbol tersebut tentu perlu dipersingkat penulisannya, sering kali menjadi satu huruf saja.

Huruf apa saja yang dipakai oleh para ahli fisika? Berikut ini contohnya. 

  • A: Ampere, satuan arus listrik; a untuk akselerasi atau percepatan.
  • B: Medan induksi magnet. Mungkin berasal dari Biot-Savart.
  • C: Coulomb, satuan muatan listrik; c untuk kecepatan cahaya.
  • D: Medan listrik pergeseran (displacement); d sering dipakai untuk jarak (distance)
  • E: Energi; medan listrik (electric field). e untuk muatan listrik elektron.
  • F: Gaya (force); f untuk frekuensi.
  • G: konstanta gravitasi Newton; g dipakai untuk percepatan gravitasi.
  • H: Medan magnet akibat arus listrik. Juga H untuk Henry, satuan induktansi. h untuk konstanta Planck.
  • I: Arus listrik.
  • J: Joule, satuan energi. Juga untuk rapat arus listrik.
  • K: Biasa dipakai sebagai konstanta (misal: F = k q1 q2 / r2 ). k untuk konstanta Boltzmann.
  • L: Liter; momentum sudut; bilangan kuantum orbital. Juga biasa dipakai untuk panjang (length).
  • M: Massa, magnetisasi, meter.
  • N: Newton, satuan gaya. Juga bilangan kuantum utama dan jumlah partikel (number) dalam mol.
  • O: Baiklah, huruf ini tidak dipakai karena bentuknya mirip angka nol. Kalau saja bentuknya lain, mungkin akan dipakai sebagai satuan resistansi, Ohm.
  • P: Daya (power); tekanan (pressure); polarisasi listrik; p untuk momen dipol listrik dan momentum linear.
  • Q: Sering dipakai dalam termodinamika untuk usaha. q untuk muatan listrik.
  • R: biasa dipakai untuk jari-jari lingkaran (radius) dan jarak (range).
  • S: Entropi. s untuk detik (second) dan spin dalam fisika kuantum.
  • T: Waktu; periode; temperatur. Juga T untuk Tesla, satuan untuk medan induksi magnet.
  • U: Energi dalam. Kadang-kadang dipakai untuk menyatakan kecepatan, jika huruf v sudah dipakai.
  • V: Kecepatan, dari velocity. Juga besaran dan satuan tegangan listrik (Voltase dan Volt) dan potensial pada umumnya.
  • W: Usaha (Work). Watt adalah satuan daya.
  • X,Y,Z dipakai sebagai koordinat. Y untuk modulus Young; dalam fisika nuklir, Z menyatakan jumlah proton dalam inti. 

  • Bahkan setelah menghabiskan (hampir) semua huruf dalam alfabet Latin, para fisikawan masih merasa belum cukup. Mereka mengeluarkan persediaan huruf Yunani: 
  • α (alfa): Percepatan sudut.
  • β (beta), γ (gamma): Jenis radiasi nuklir, bersama-sama dengan α. Dalam relativitas khusus, γ berarti faktor Lorentz.
  • δ (delta): Fungsi delta Dirac.
  • ε (epsilon): konstanta permitivitas listrik.
  • η (eta): Dalam beberapa kesempatan, berarti efisiensi.
  • θ (theta): Sudut.
  • κ (kappa): Modulus Bulk.
  • λ (lambda): Panjang gelombang; rapat muatan listrik per satuan panjang.
  • μ (mu): Momen magnetik. Juga dipakai untuk menyatakan permeabilitas magnetik.
  • ν (nu): Frekuensi.
  • ξ (xi): Satu jenis baryon dinamai dengan huruf besarnya (Ξ)
  • π (pi): Selain untuk bilangan 3,1415926535… juga untuk parity yang berhubungan dengan simetri.
  • ρ (rho): Rapat massa atau muatan listrik per satuan volum, juga resistivitas listrik (hambat jenis).
  • σ (sigma): Konduktivitas listrik; rapat muatan listrik per satuan luas. Juga untuk konstanta Stevan-Boltzmann.
  • τ (tau): Torsi.
  • φ (phi): Dalam huruf besarnya (Φ) berarti fluks magnet.
  • χ (chi): Suseptibilitas. χm untuk magnet dan χe untuk listrik.
  • ψ (psi): Dalam fisika kuantum, digunakan untuk menyatakan fungsi gelombang, yang menyatakan keadaan.
  • ω (omega): Kecepatan sudut. Huruf besarnya, Ω, untuk Ohm. 
Peranan beberapa angka dalam fisika: 
  • 1 teori tentang segalanya yang dicari-cari para fisikawan.
  • 2 sifat yaitu partikel dan gelombang, yang sepertinya dimiliki oleh segala benda.
  • 3 dimensi ruang tempat kita hidup.
  • 4 macam gaya dasar yaitu nuklir kuat, nuklir lemah, elektromagnet, dan gravitasi.
  • 5 buah titik Lagrangian pada sebuah planet yang mengorbit matahari.
  • 6 macam quark yaitu up, down, strange, charm, top, bottom.
  • 7 besaran pokok yaitu panjang, waktu, massa, temperatur, arus listrik, intensitas cahaya, dan jumlah partikel.
  • 8 partikel dalam kelompok meson dan baryon ringan.
  • 9 planet dalam tata surya sebelum Pluto dicoret.
  • 10 juta kronor Swedia, hadiah untuk pemenang Nobel, diberikan tanggal 10 Desember.Jadi huruf mana yang tidak dipakai oleh fisika?
Source

Rabu, 13 Maret 2013

Profesi Guru dalam Pandangan Islam

Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih pekerjaan mana yang disukai dan paling cocok bagi dirinya. Allah tidak pernah melarang manusia untuk mengerjakan apa saja, sepanjang pekerjaan tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama, dan syukur apabila pekerjaan tersebut mendatangkan manfaat bagi sesama. 

Satu hal yang diperintahkan Allah kepada manusia adalah bekerja dengan keras, karena Allah sendiri yang akan memeriksa amal manusia. Hal tersebut tersurat dalam Q.S. At-Taubah ayat 105 yang berbunyi:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”

Diantara berbagai pekerjaan yang ada di muka bumi ini, guru adalah salah satu pekerjaan yang sangat mulia. Pekerjaan yang akan membawa diri seseorang menikmati sadaqah jariyah (melalui ilmu) yang tidak berkeputusan, bahkan hingga kelak orang (guru) tersebut meninggalkan dunia yang fana ini.

Menjadi guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, karena guru adalah pewaris pekerjaan Rasulullah SAW. Hal ini disebutkan dalam salah satu hadist Nabi: “Sesungguhnya saya diutus ke dunia ini untuk mengajar.”. Karena itulah para ulama’, para Kyai senantiasa menyempatkan diri untuk mengajar dan mendidik para santrinya. Hal itu karena adanya dorongan untuk mengikuti jejak Rasulullah, dan jauga meneruskan apa yang menjadi cita-cita Rasulullah SAW, yakni: Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”

Guru menjadi pekerjaan yang sangat mulia, karena apa yang dikerjakan guru memiliki nilai sosial yang tinggi dalam membentuk masyarakat, dengan memberikan sumbangan ilmu melalui generasi penerus bangsa. Itu sebabnya ustad ditempatkan pada porsi yang luar biasa, guru dalam pandangan orang Jawa dipandang sebagai sosok yang bisa digugu dan ditiru bahkan sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa”, disematkan kepada diri para guru. Begitu mulianya pekerjaan seorang guru, hingga Sayyidina Ali r.a. menyampaikan pesan: “Hormatilah gurumu walau ia hanya mengajarimu satu ayat.”

Kemuliaan profesi sebagai guru dalam pandangan Islam juga tidak terlepas dari keberadaan Islam sebagai agama yang menjadikan menuntut ilmu dan mengajarkan sebagai suatu kewajiban. Maka orang yang sengaja tidak menuntut ilmu atau mengajarkannya akan diancam syara’ dengan siksaan, dan yang menyembunyikan ilmu yang bermanfaat akan dikekang pada hari kiamat dengan kekang yang terbuat dari api neraka. Dengan begitu Islam telah membebani kepada para guru dan orangtua dengan tanggungjawab yang besar dalam pengajaran. Hal ini tersurat dalam beberapa ayat-ayat Allah di dalam Al-Qur’anul Karim.

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Q.S. At Taubah:122)

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati. (Q.S. Al Baqarah:159)

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api], dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (Al Baqarah:174)

Menjadi guru dan telah mengajarkan sesuatu yang baik pun belum dapat dipastikan akan mendapat pahala di sisi Allah manakala orang yang bersangkutan hanya bisa menyampaikan dan tidak mau mengerjakan. Hal ini tersebut dalam ayat Allah:

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(Q.S. Ash Shaff:3).

Akan tetapi jika seorang guru benar-benar mengerjakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik dan benar, dan memberikan tauladan dari apa yang telah disampaikan kepada anak didik, maka Allah menjanjikan pahala bagi guru yang bersangkutan. Rasulullah SAW menyampaikan dalam salah satu Hadistnya:

“Sepatah perkataan yang baik yang didengar oleh seorang mukmin, lalu diajar dan diamalkannya, lebih baik daripada ibadah setahun”. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, isi langit dan bumi, hinggakan semut di dlm lubang dan ikan dalam laut, semuanya berdoa semuanya mendoakan kepada orang yang mengajar manusia” (H.R. At-Turmizi)

Kerja sebagai Ibadah 


Saat ini profesi guru semakin dihargai oleh pemerintah dengan dikeluarkannya Undang-Undang No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Melalui Undang-Undang tersebut tingkat kesejahteraan guru dapat lebih terjamin, karena dengan adanya sertifikasi dapat meningkatkan penghasilan guru dua kali lipat, bahkan lebih.

Akan tetapi jangan pernah menjadikan nilai gaji sebagai ukuran dalam bekerja. Niatkanlah setiap pekerjaan sebagai ibadah. Sebab dengan begitu apa yang kita kerjakan akan mendapat penilaian yang mulia di sisi Allah, dan akan dibalas dengan pahala yang setimpal.

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu, upahku tidak lain hanya dari Tuhan semesta alam.” (Q.S. Asy-Syu’araa: 109)

Jika dalam bekerja seorang guru diniati dengan ibadah, maka apa yang dia lakukan akan senantiasa dilandasi dengan keikhlasan, dan tidak akan menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain. Apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan dirinya, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya. Karena jika hal itu yang terjadi maka berarti orang tersebut sedang membangun penjara bagi diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.

Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan kecewa karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.

Seorang guru juga perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, menjadi orang besar. Para guru biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai guru murid yang sukses plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.

Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.

Bagi para guru saya juga berpesan agar senantiasa bekerja dengan professional, dan selalu menjaga mutu dari pekerjaanya. Contohlah perbuatan Rasulullah SAW yang selalu terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas namanya.

Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang tertinggi.

Tidak heran kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah ..."(QS. Al Ahzab [33] : 21)

Ingatlah bahwa "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ...!’ (QS. Ali Imran : 110). 


Oleh karena itu, bagi Anda yang dikaruniai kesempatan menjadi guru dan mengharapkan dicintai dan dihormati muridnya, jangan pernah membuat bosan murid ketika mengajar di kelas, Laksanakan pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan, dan selalu dilandasi dengan upaya untuk menciptakan murid-murid yang cerdas dan berpikiran maju. Contohlah Rasul dalam mengajar. Bagaimana cara Rasul mengajar? Ternyata Rasulullah mengajar dengan penuh kelembutan, kasih-sayang, dan sangat ingin para sahabatnya menjadi maju.

Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya Rasul Allah itu menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui Allah di hari kemudian dan yang mengingati Allah sebanyak-banyaknya." (Q.S. Al Ahzab: 21).

Membangun Karakter Anak melalui Guru Berkarakter

Pendidikan berkarakter sekarang ini menjadi prioritas pendidikan di Indonesia. Bahkan pemerintah telah siap dengan kurikulum terbaru berbasis karakter (KBKK) untuk direalisasikan. Kurikulum yang didesain dengan tujuan mengembangkan karakter sejak dini melalui sekolah sebagai salah satu sarana pembentuk dan pengembang karakter anak, generasi muda negeri ini. Karena berbagai alasan dimana terjadi degradasi moral pada masyarakat bangsa ini. Pertanyaannya apakah perubahan kurikulum ini bisa menjamin terbentuknya karakter anak? Bagaimana cara membentuk karakter anak? Apakah tingkah laku anak dalam kelas atau disekolah bisa menjadi indikator bagaimana karakter seorang anak? Saya rasa tidak karena sejatinya tidak ada indikator yang jelas tentang karakter. Apakah anak yang mencontek dikelas mengindikasikan bahwa ia anak tidak jujur? Tidak kan! Picik sekali jika hanya melihat paradigma seperti itu. Bisa saja si anak belum belajar atau karena hal lain.   
Permasalahan pendidikan kita sebetulnya bukan pada kurikulumnya. Kurikulum sebelumnya KBK dan KTSP sebetulnya sudah baik, yang harus diperbaiki ialah sumber daya pendidik (guru). Jika dengan kurikulum sebelumnya guru-guru kita masih kesulitan mengikuti perubahan dan tuntutan kurikulum yang diterapkan, akankah kurikulum KBKK ini akan berhasil? Kurikulum terbaru bukan hanya membutuhkan profesionalitas guru namum kecakapan guru membangun karakter anak. Lalu bagaimana cara terbaik membangun karakter anak? Saya rasa kita sangat familiar dengan pepatah jawa “guru, digugu lan ditiru” (guru, dipercaya dan dicontoh), ya yang kita butuhkan adalah sosok seorang guru yang seperti itu. Teacher as model. Guru sebagai figur yang bisa dijadikan teladan, sikap dan tutur kata yang bisa memberi semangat. 
Sekarang ini, banyak guru-guru atau pendidik cerdas di negara  ini namun hanya segelintir dari mereka yang bisa membakar semangat siswanya untuk belajar, menaati norma, dll. Mereka cerdas, pengetahuannya luas tapi mengapa mereka tidak bisa membangun motivasi siswanya? Jawabannya bahwa mereka kebanyakan hanya bisa bicara tanpa mengalami pelajaran dan perjuangan  hidup itu sendiri. Ketika seseorang bicara panjang lebar, memberi motivasi A sampai Z tapi yang ia katakan hanya omong kosong atau ia hanya mendapatkannya dari literatur internet atau buku akan berbeda rasa dan imbasnya dihati ketika seseorang itu mengalami sendiri apa yang ia ucapkan. Lihat saja, motivator-motivator hebat negeri ini. Mereka bisa bicara panjang lebar, berjam-jam, dan apa yang kita rasakan ketika mengikuti training motivasi ialah kepuasan, kepercayaan, keinginan untuk maju, dan apa yang mereka katakan benar-benar merasuk kedalam sanubari. Ippho Santoso, interpreneur sekaligus motivator Internasional negeri ini, betapa kita tersentak untuk hidup lebih baik dengan mencoba jalan wirausaha ketika mengikuti seminar beliau. Kita percaya pada beliau karena beliau mengalami perjalanan panjang dalam hidupnya, dari nol beliau merintis usaha, anak pedalaman yang kini menjadi pengusaha sukses. 
Kembali pada sosok guru. Kampung Inggris (Pare, Kediri) saya rasa hampir semua orang mengetahuinya. Ya, kampung kecil yang penuh dengan pelajaran hidup dan mimpi orang-orang yang terus berjuang untuk menggapainya. Beberapa waktu yang lalu saya  belajar disana. Ada sebuah keajaiban luar biasa terjadi ketika saya bertemu dua orang guru terhebat, terbaik yang pernah saya temui dalam hidup saya. Mereka ialah Mr.Bob, pendiri Mr.Bob English study Club dan Mom Indah, pendiri The Daffodil. Dua diantara tempat kursus terbaik yang ada di kampung inggris. Ketika belajar dikedua tempat itu, yang saya dapatkan bukan sekedar ilmu tapi motivasi hidup. Cerita akan saya awali dengan kisah founder Mr.Bob English Study Club. Kisah beliau yang lulus 7 tahun dari bangku kuliah dan impiannya mendirikan sebuah kursus bahasa inggris padahal basic pendidikannya adalah pertanian. Banyak orang mencela beliau, menjatuhkan beliau bahwa tidak mungkin beliau bisa mendirikan tempat kursus di Pare, sudah terlalu banyak. Cerita beliau ketika ingin belajar ke pare namun tidak mendapat restu kedua orang tua dan akhirnya kabur. Tapi semua itu nyatanya kini berbuah manis. Kursus bahasa inggris Mr.Bob kini berkembang pesat. Semua itu karena kekuatan impian. Saya terus teringat motivasi beliau bagaimana beliau memimpikan segala impiannya, menulisnya dan kini semua menjadi kenyataan. Kegigihan, kekuatan mimpi dan kehendak Yang Kuasa telah membawanya pada kehidupan idela yang beliau cita-citakan.  Ketika mendengar kisah-kisah beliau, seluruh anak dalam kelas tersebut terkesiap, diam, merinding, ada kepercayaan bahwa semua memang benar dan apa yang kita dapat ialah kita pun bisa menggapai impian kita. Ada hal yang bisa diambil dari metode pembelajaran beliau bahwa bahasa inggris bukan sesuatu yang sulit dan bisa dipelajari dengan cara menyenangkan,  sehingga bahasa inggris bukan pelajaran yang sulit. Terutama sosok beliau yang begitu bersahaja dan kocak tentu menjadi aura tersendiri. Kebetulan beliau hanya memegang kelas zip2 yaitu kelas untuk belajar ngomong inggris dan listening, jadi bagi siapapun yang ingin bertemu beliau dan ingin belajar ke kampung inggris ambillah kelas zip2 di Mr. Bob. Hehe,,, 
Nothing is impossible because you’re possible. Kata-kata itu juga keluar dari Mom Indah, pendiri The Daffodil. Bagi saya sosok seperti beliaulah kartini masa kini, guru tauladan. Prestasi tentu beliau tidak ketinggalan, pernah menjadi english public speaker di level Asia bukan prestasi main-main. Karena takdir saya bertemu beliau di kelas speak second, jujur ketika mendaftar kelas tersebut saya tidak memiliki gambaran tentang ekspektasi dikelas tersebut. Ternyata speak second class berada dilevel ke 4 dari 6 level yang ada di Daffodil. Cukup terkejut karena ternyata saya masuk dalam level yang tidak main-main. Tapi karena semangat belajar, dukungan teman-teman, dan motivasi beliau saya bertahan disana sampai 2 minggu kelas berakhir. Ada beberapa teman yang menyerah sebelum berperang, karena nyali kerdil. Awalnya beliau memang agak menakutkan. “Are you in the right class?”, itu adalah kalimat yang cukup menakutkan dan memancing emosi. Awalnya saya tidak yakin tapi setelah mengikuti pelajaran beliau 2 kali pertemuan, saya yakin saya berada dikelas yang tepat, saya memiliki kemampuan. Ada banyak hal yang saya  ambil selama mengikuti kelas beliau terutama kegiatan belajar mengajar yang bisa diadaptasi. Bagaimana beliau membentuk kepercayaan diri siswanya dengan selalu melalukan impromtu session/speak sudden (bicara tiba-tiba/berimprovisasi didepan kelas). Beliau melakukan itu setiap hari dan semua siswa pasti mendapat giliran. Beliau mengajarkan sportivitas melalui game dalam belajar bahasa inggris. Beliau selalu meyelipkan kata-kata atau kalimat motivasi bahkan cerita hidup  yang mampu membakar semangat orang yang mendengarnya. Ada kalimat yang begitu berarti bagi saya “People don’t care how much you know but people just know how much you  give”, orang tidak peduli seberapa banyak kamu tahu tapi mereka hanya tahu seberapa banyak kamu memberi. Hidup pada dasarnya adalah memberi, saling berbagi karena kita adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri. Begitu banyak motivasi yang beliau beri. Merekalah guru sejati, cerdas secara intelektual dan emosional. 
Tentunya mereka bukan satu-satunya guru terbaik di negeri ini, masih banyak pendidik negeri ini yang setara bahkan lebih. Mereka hanya sample dari “keidealan” seorang pendidik, menurut saya. Yang ingin saya sampaikan kepada calon pendidik maupun pendidik negeri ini,  mari jadikan diri kita sosok pendidik yang  mampu memberi motivasi hidup untuk anak didik kita, bukan hanya cerita bualan kosong tapi sebuah realita hidup. Semua kalimat motivasi yang berasal dari pengalaman hidup akan lebih bermakna dan membekas di lubuk hati setiap orang yang mendengarnya. Guru dengan segudang pengalaman hidup, seluas samudra ilmu dan wawasannya, sebening air budi dan akal kita. Maka menamkan karakter pada anak tidak akan sulit, karena mereka melihat sosok kita benar seperti apa yang mereka pikirkan dan lihat didepan mata.  Sumber 

10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT


Dalam suatu kesempatan, seperti sering terjadi, Iblis datang menemui Rasulullah SAW. Setelah mengetahui kedatangannya, Rasulullah bertanya tentang permintaan Iblis pada Allah SWT:

“Berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?”

“10 macam.”

“Apa saja?”

1. Pertama, “Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba. Aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.”   

Tentang permintaan Iblis ini, Allah berfirman, “Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. Dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64).

2. Kedua, “Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung kepada Allah.”
Maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan mudah patuh kepada bisikan syaithan.

3. Ketiga, “Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.”

4. Keempat, “Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.”

5. Kelima, “Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai (masjid)ku.”

6. Keenam, “Aku minta agar Allah menjadikan syairmusik dan nyayian sebagai (Qur’an)ku.

7. Ketujuh, “Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.”

8. Kedelapan, “Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Dia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.” Allah berfirman, “Orang-orang yang boros adalah saudara-saudarasyaithan.” (QS Al-Isra : 27)

9. Kesembilan, “Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.”

10. Kesepuluh, “Aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. Allah menjawab, “silahkan”, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”
Iblis berkata: “Wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.”

Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara. Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.

Rasulullah SAW lalu membaca ayat: “mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119). Juga membaca, ” Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab: 38)

Iblis lalu berkata: ” Wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk-mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir. Ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu.

Muh Syaifudin
SocialWorker-Teacher at Daarul Fatihaa

PEMUDA ISLAM, GENERASI EMAS UMMAT

Sepanjang peradaban manusia, kita tahu bahwa pemuda adalah sosok pelopor dalam segala hal. Berbagai perubahan yang terjadi di setiap bangsa, pemuda adalah penggeraknya. Di balik setiap transformasi sosial, motor utamanya tak lain adalah pemuda. Ibarat sang surya, maka pemuda bagaikan sinar matahari yang berada pada tengah hari dengan terik panas yang menyengat.

Berbagai bakat, potensi, kecenderungan, baik mengarah kepada kebaikan maupun kepada kejahatan memiliki dorongan yang sama kuatnya ketika pada masa muda. Itulah sebabnya, kegagalan dan keberhasilan seseorang, kematangan kepribadian manusia pada masa tua ditentukan oleh masa mudanya. Jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam, maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda umat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat.

Oleh karena itulah para Sahabat Nabi yang masih muda memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Dalam pentas sejarah Islam, dengan mudah kita mendapati pemuda-pemuda yang namanya terukir dengan tinta emas. Mereka layak menjadi uswah (teladan) bagi pemuda generasi sekarang. Panutan yang sangat riil di saat pemuda kini kehilangan figur yang bisa dicontoh.

Potret Pemuda Islam Terkini

Di zaman sekarang, pola hidup pemuda muslim sudah sangat memperihatinkan. Berapa banyak pemuda muslim yang mengunjungi masjid guna menunaikan sholat fardhu dan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya? Berapa banyak pemuda muslim yang mengkaji dan menghafalkan kitabullah? Berapa banyak pemuda muslim yang mengkaji ilmu agama? Mereka lebih senang menghabiskan waktu luang mereka dengan mengujungi tempat-tempat hiburan seperti Game Center, Rental PS, dkk.

Padahal jika dilihat dari sisi ekonomi, pergi ke tempat seperti itu mengeluarkan biaya dan tidak bermanfaat sedikitpun, bahkan malah membawa bencana. Sedangkan untuk pergi ke masjid, kita tidak usah mengeluarkan uang sepeserpun. Ditambah lagi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di masjid bermanfaat, dan berpahala.

Kalau kita tanya tentang agama banyak remaja yang mengaku Islam, tapi tidak tahu mengenai, Sirah Nabinya, Sahabatnya, bahkan dulu waktu saat sekolah sudah di ajarkan dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, tapi waktu kita tanya “Siapa sih Abu Bakar itu??” ada juga yang tidak tahu, belum yang lain ditanya.

Bahkan banyak remaja sekarang tiap pergatian tahun baru selalu mereka merayakan, bersukaria, meniup trompet, malah ada yang berkumpul-kumpul lomba balapan liar yang mengganggu ketentraman masyarakat. Tahun baru yang nyata-nyata merayakan itu bukanlah tahun Islam baik dari historis maupun dari pandangan umum, tapi coba lihat waktu tanggal 1 Muharram tahun Hijriyah apakah ada yang peduli terhadap tahun yang memiliki sejarah bagi orang yang beriman yang sangat berarti sekaligus sebuah sejarah perjuangan Nabi yang bukan hanya untuk diperingati namun juga sebagai sebuah ibrah yang harus kita amalkan pada setiap individu masing-masing maupun seluruhnya.

Coba tanya pada pemuda-pemuda yang mengaku Islam yang mondar mandir di jalanan, coba suruh menyebutkan 12 bulan dalam tahun Masehi, lalu coba suruh menyebutkan 12 bulan pula pada tahun Hijriyah!! Allahu Akbar, bagaimana tidak? Tahun Masehi (Nasrani) mereka hafal, namun tahun Hijriyah tahun agamanya sendiri tidak tahu. Jika bulan Hijriyah saja tidak hafal, lalu bagaimana sejarahnya?

Bagaimana pendapat anda mengenai ini?? Lalu apakah pemuda kita masih ada yang tidak tahu bulannya sendiri?? Budaya di luar Islam banyak merebak hingga mereka buta terhadap agamanya sendiri.

Keteladanan Pemuda Era Rasulullah

Perlu kita fahamkan, bahwa masa muda ialah waktu untuk berkarya, periode emas dimana para pemuda zaman Rasulullah saw. mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kemenangan Islam.

Adalah Az Zubair bin Awwam. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun. Sementara Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si Pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.

Juga Sa’ad bin Abi Waqash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.

Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.

Juga Usamah bin Zaid, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.

Lalu, jika mereka pada usia seperti itu saja telah berhasil mempersembahkan karya yang luar biasa, bahkan ada yang mempersembahkan nyawanya untuk membela Islam sehingga memperoleh syahid di jalan- Nya,, maka apa yang telah kita persembahkan?

Memang menjadi salah satu tugas kita juga untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa pemuda muslim yang diharapkan agama, bangsa dan negara adalah pemuda yang benar-benar ta’at pada Allah, yang Islamnya kaaffah (menyeluruh), tidak setengah-setengah. Karena bisa jadi, pandangan masyarakat (yang diawal telah disebutkan) terhadap para pemuda disebabkan tak munculnya sosok yang menjadi bukti bahwa pemuda muslim yang kaaffah-lah yang sebenarnya umat butuhkan.

Setiap tahun, masyarakat kita memperingati hari Sumpah Pemuda di negara ini. Sayang, peringatan itu hanya sebatas kegiatan seremonial semata, tetapi miskin subtansi. Dengan adanya karakteristik sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia dahulu, masa kini dan masa depan. Sadarilah, bahwa Islam menunggu peran para pemuda. Islam menunggu kita, kawan!!!

Pemuda yang senantiasa Belajar Agama, mendalaminya< mengamalkannya, lantang mendakwahkannya, digarda depan mereka pioner perubahan mengajak manusia kepada Agama Tauhid, karyanya menggemparkan dunia, bersemangat disetiap jalan kebenaran, merangkul dan mengajak masyarakat untuk taat kepada Allah dan RasulNya.

Inilah Pemuda harapan ummat masa ini, mereka tauladan sesamanya dan impian orangtua kepada setiap anak-anaknya. itukah kalian…!!!?

Mari kita buktikan bahwa di atas pundak kepribadian muslim yang sempurnalah umat Islam akan berdiri kokoh dan kuat. Mari saling mengingatkan untuk senantiasa bersemangat dalam menjalani masa muda sebagai persembahan kita untuk Allah ‘aza wa jalla. 

Selasa, 12 Maret 2013

Berbakti Kepada Orang Tua

Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian ini benar?” Maka jawab Rasulullah, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orang tuamu.” (HR. Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah). 

Begitulah, syari’at Islam menetapkan betapa besar hak-hak orang tua atas anaknya. Bukan saja ketika sang anak masih hidup dalam rengkuhan kedua orang tuanya, bahkan ketika ia sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Tentu saja hak-hak yang agung tersebut sebanding dengan besarnya jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan. Sehingga tak mengherankan jika perintah berbakti kepada orang tua menempati ranking ke dua setelah perintah beribadah kepada Allah dengan mengesakan-Nya. 

Allah berfirman (artinya), “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu.” (QS. An-Nisa:36)

Birrul Walidain, Bagaimana Caranya? 

Sebagai anak, sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengekspresikan rasa bakti dan hormat kita kepada kedua orang tua. Memandang dengan rasa kasih sayang dan bersikap lemah lembut kepada mereka pun termasuk birrul walidain. 

Allah berfirman (artinya), “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (QS. Al-Isra’:23). Dalam kitab Adabul Mufrad, Imam Bukhari mengetengahkan sebuah riwayat bersumber dari Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir melalui Urwah, yang menjelaskan mengenai firman Allah: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” Maka Urwah menerangkan bahwa kita seharusnya tunduk patuh di hadapan kedua orang tua sebagaimana seorang hamba sahaya tunduk patuh di hadapan majikan yang garang, bengis, lagi kasar. 

Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bersama seorang laki-laki lanjut usia. Rasulullah bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Maka jawab laki-laki itu, “Ini ayahku”. Rasulullah kemudian bersabda, “Janganlah kamu berjalan di depannya, janganlah kamu duduk sebelum dia duduk, dan janganlah kamu memanggil namanya dengan sembarangan serta janganlah kamu menjadi penyebab dia mendapat cacian dari orang lain.” (Imam Ath-Thabari dalam kitab Al-Ausath). 

Berbakti kepada orang tua tak terbatas ketika mereka masih hidup, tetapi bisa dilakukan setelah mereka wafat. Hal itu pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah menjawab, “Yakni dengan mengirim doa (mendo’akan) dan memohonkan ampunan. Menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan kedua orang tua, memelihara hubungan silaturahim sera memuliakan kawan dan kerabat orang taumu.” Demikian Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban meriwayatkannya bersumber dari Abu Asid Malik bin Rabi’ah Ash-Sha’idi. 

Bukan dalam Syirik dan Maksiat 

Meski kita diperintah untuk taat dan patuh kepada mereka, namun hal itu tak berlaku ketika keduanya memerintahkan kita untuk menyekutukan Allah dan bermaksiat kepada-Nya. Rasulullah bersabda,”Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiyat kepada Allah.” (HR. Ahmad). 

Kita tentu ingat kisah seorang sahabat, Sa’ad bin Waqash yang diberi dua buah opsi oleh ibunya yang masih musyrik: kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan dan minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, beliau berkata,”Wahai Ibu, seandainya Ibu memiliki 1000 jiwa kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan agama baruku (Islam). Karena itu, terserah ibu mau makan atau tidak.” Melihat sikap Sa’ad yang bersikeras itu maka ibunya pun menghentikan aksinya. 

Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman:15). Jadi, kalau orang tua mengajak ke arah kemusyrikan maka tidak wajib bagi kita menaati mereka. Hanya saja sebagai anak tetap berkewajiban bergaul dengan baik selama di dunia. Sikap santun harus senantiasa kita jaga. 

Awas: Durhaka! 

Durhaka kepada orang tua (‘uquuqul walidain) termasuk dalam kategori dosa besar. Bentuknya bisa berupa tidak mematuhi perintah, mengabaikan, menyakiti, meremehkan, memandang dengan marah, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan perasaan, sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan ‘ah’ kepada orang tua.” (QS. Al-Isra’ : 23). Jika berkata ‘ah/cis/huh’ saja tidak boleh, apalagi yang lebih kasar daripada itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat hati orang tua sedih, berarti dia telah durhaka kepadanya.” (HR. al Bukhari). Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda, “Termasuk perbuatan durhaka seseorang yang membelalakkan matanya karena marah.” (HR ath Thabrani). 

Orang tua kita, siapa pun orangnya, memang harus dihormati, apalagi jika beliau seorang muslim. Rasulullah pernah berpesan, “Seorang muslim yang mempunyai kedua orang tua yang muslim, kemudian ia senantiasa berlaku baik kepadanya, maka Allah berkenan membukakan dua pintu surga baginya. Kalau ia memiliki satu orang tua saja, maka ia akan mendapatkan satu pintu surga terbuka. Dan kalau ia membuat kemurkaan kedua orang tua maka Allah tidak ridha kepada-Nya.” Maka ada seorang bertanya, “Walaupun keduanya berlaku zhalim kepadanya?” Jawab Rasulullah, “Ya, sekalipun keduanya menzhaliminya.” (HR. al Bukhari). 

Berhubungan dengan orang tua memang harus hati-hati. Jangan sampai hanya karena emosi, kelalaian, ketidaksabaran plus rasa ego kita yang besar, kita terjerumus ke dalam ‘uququl walidain yang berarti kemurkaan Allah. Na’udzubillah. 

Bukankah dalam sebuah hadits Rasulullah pernah berpesan bahwa keridhaan Allah subhaana wa ta’ala berada dalam keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orang tua? Dus, selagi masih ada waktu dan kesempatan, tunjukkanlah cinta, sayang, hormat, dan bakti kita kepada keduanya, hanya untuk satu tujuan: meraih cinta, ampunan, pahala, dan ridha-Nya.

7 Characteristics of Great Teachers:


7 Characteristics of Great Teachers: 
  1. Great teachers set high expectations for all students. They expect that all students can and will achieve in their classroom, and they don't give up on underachievers. 
  2. Great teachers have clear, written-out objectives. Effective teachers have lesson plans that give students a clear idea of what they will be learning, what the assignments are and what the grading policy is. Assignments have learning goals and give students ample opportunity to practice new skills. The teacher is consistent in grading and returns work in a timely manner. 
  3. Great teachers are prepared and organized. They are in their classrooms early and ready to teach. They present lessons in a clear and structured way. Their classrooms are organized in such a way as to minimize distractions. 
  4. Great teachers engage students and get them to look at issues in a variety of ways. Effective teachers use facts as a starting point, not an end point; they ask "why" questions, look at all sides and encourage students to predict what will happen next. They ask questions frequently to make sure students are following along. They try to engage the whole class, and they don't allow a few students to dominate the class. They keep students motivated with varied, lively approaches. 
  5. Great teachers form strong relationships with their students and show that they care about them as people. Great teachers are warm, accessible, enthusiastic and caring. Teachers with these qualities are known to stay after school and make themselves available to students and parents who need them. They are involved in school-wide committees and activities, and they demonstrate a commitment to the school. 
  6. Great teachers are masters of their subject matter. They exhibit expertise in the subjects they are teaching and spend time continuing to gain new knowledge in their field. They present material in an enthusiastic manner and instill a hunger in their students to learn more on their own. 
  7. Great teachers communicate frequently with parents. They reach parents through conferences and frequent written reports home. They don't hesitate to pick up the telephone to call a parent if they are concerned about a student.
Translate : 

7 Karakteristik Guru Hebat :
  1. Guru hebat menetapkan harapan tinggi untuk semua siswa. Mereka berharap bahwa semua siswa dapat dan akan mencapai di kelas mereka, dan mereka tidak menyerah pada berprestasi.
  2. Guru yang hebat memiliki jelas, tertulis-out tujuan. Guru yang efektif memiliki rencana pelajaran yang memberikan siswa ide yang jelas tentang apa yang mereka akan belajar, apa tugas dan apa kebijakan grading. Tugas memiliki tujuan belajar dan memberikan siswa banyak kesempatan untuk berlatih keterampilan baru. Guru konsisten dalam grading dan bekerja kembali pada waktu yang tepat.
  3. Guru hebat disiapkan dan terorganisir. Mereka berada di kelas mereka awal dan siap untuk mengajar. Mereka menyajikan pelajaran dengan cara yang jelas dan terstruktur. Kelas mereka diatur sedemikian rupa untuk meminimalkan gangguan.
  4. Guru hebat melibatkan para siswa dan membuat mereka untuk melihat masalah dalam berbagai cara. Guru yang efektif menggunakan fakta-fakta sebagai titik awal, bukan titik akhir, mereka bertanya "mengapa" pertanyaan, melihat semua sisi dan mendorong siswa untuk memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka mengajukan pertanyaan yang sering untuk memastikan semua siswa mengikuti dari awal. Mereka mencoba untuk melibatkan seluruh kelas, dan mereka tidak mengizinkan beberapa siswa untuk mendominasi kelas. Mereka menjaga siswa termotivasi dengan bervariasi, pendekatan hidup.
  5. Guru hebat membentuk hubungan yang kuat dengan siswa mereka dan menunjukkan bahwa mereka peduli tentang mereka sebagai manusia. Guru besar yang hangat, dapat diakses, antusias dan peduli. Guru dengan kualitas ini diketahui tinggal setelah sekolah dan membuat diri mereka tersedia untuk siswa dan orang tua yang membutuhkannya. Mereka terlibat dalam sekolah-lebar dan kegiatan komite, dan mereka menunjukkan komitmen untuk sekolah.
  6. Guru hebat adalah ahli materi pelajaran. Mereka menunjukkan keahlian dalam mata pelajaran yang mereka ajarkan dan menghabiskan waktu terus mendapatkan pengetahuan baru di bidang mereka. Mereka menyajikan materi dengan cara yang antusias dan menanamkan rasa lapar pada siswa mereka untuk belajar lebih banyak tentang mereka sendiri.
  7. Guru hebat sering berkomunikasi dengan orang tua. Mereka mencapai orang tua melalui konferensi dan sering ditulis pulang laporan. Mereka tidak ragu untuk mengambil telepon untuk menghubungi orangtua jika mereka khawatir tentang seorang siswa.