aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Kamis, 25 April 2013

Bahayanya Kezhaliman

Kezhaliman adalah lawan dari keadilan, ada beberapa hadits yang dapat menjadi perenungan kita agar kita tetap berlaku adil dan tidak zhalim :
  1. “Jauhilah kezaliman, sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu, mereka saling membunuh dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.” (HR. Bukhari)
  2. “Barangsiapa berjalan bersama seorang yang zalim untuk membantunya dan dia mengetahui bahwa orang itu zalim maka dia telah ke luar dari agama Islam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
  3. “Do’anya seorang yang dizalimi terkabul meskipun dia orang jahat dan kejahatannya menimpa dirinya sendiri.” (HR. Ahmad)
  4. “Waspadalah terhadap do’a orang yang dizalimi. Sesungguhnya antara dia dengan Allah tidak ada tabir penyekat.” (HR. Mashabih Assunnah)
  5. “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menangguhkan azabnya terhadap orang zalim dan bila mengazabnya tidak akan luput. Kemudian Rasulullah membacakan doa dalam surat Hud ayat 102: “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (HR. Muslim)
  6. “Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Dengan keperkasaan dan keagunganKu, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (HR. Ahmad)
  7. “Kebaikan yang paling cepat mendapat ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan.” (HR. Ibnu Majah)
  8. “Bila orang-orang melihat seorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua.” (HR. Abu Dawud)
  9. “Barangsiapa menzalimi orang lain terhadap sejengkal lahan maka kelak dia akan dililit dengan tujuh bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Source  

Senin, 22 April 2013

Hukum Aksi Reaksi dan Kecurangan UN

Di pelajaran Fisika, kita mengenal hukum Newton III, yang disebut Hukum Aksi Reaksi. Hukum Aksi Reaksi Berbunyi "Apabila sebuah benda memberikan gaya kepada benda lain, maka benda kedua memberikan gaya kepada benda yang pertama. Kedua gaya tersebut memiliki besar yang sama tetapi berlawanan arah."

Lalu apa hubungan Hukum Aksi Reaksi dengan kecurangan UN yang setiap tahun terjadi dan modusnya semakin canggih. Pada awal UN digelar, soal hanya terdiri 1 paket, kemudian 2 paket, berlanjut menjadi 5 paket, dan UN tahun ini 2013 terdiri dari 30 paket (30 variasi soal) ditambah dengan barcode. Penambahan jumlah paket tentu ada alasannya, yaitu untuk mengurangi kecurangan yang setiap tahun terjadi. Entah berkurang apa tidak, yang jelas kecurangan selalu saja terjadi.

Peningkatan jumlah paket tiap tahun ditingkatkan. Namun seiring dengan itu modus (cara atau tehnik) untuk melakukan kecurangan juga meningkat, dengan kata lain berbanding lurus, bukan berbanding terbalik. Oleh karena itulah kecurangan UN itu mirip sekali dengan Hukum Aksi Reaksi.

Lalu mengapa kecenderungan kecurangan UN tetap saja ada bahkan dengan modus yang selalu meningkat? Saya mempunyai analisa yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut, yang tentu ini hanya opini saya yang boleh Anda setuju atau tidak.

Siswa sudah menempuh proses pembelajaran yang cukup lama, yaitu 3 tahun, tentu semua siswa ingin lulus. Mereka tidak ingin dengan belajar 3 tahun gagal hanya dengan beberapa hari . Walaupun sebenarnya kriteria kelulusan siswa dari satuan pendidikan tidak semata lulus UN saja. Lulus UN itu adalah salah satu syarat saja. Syarat-syarat kelulusan siswa dari satuan pendidikan ada 4. Tapi faktanya hanya Lulus UN saja yang jadi pusat perhatian. Jadi boleh dikatakan bahwa LULUS UN PASTI LULUS DARI SATUAN PENDIDIKAN.

Karena tidak ingin menjadi “korban” maka sebagian (entah sedikit atau banyak) menempuh segala cara, yang penting LULUS UN, termasuk mencontek saat UN, memburu bocoran soal UN, dan lain sebagainya. Ketika “kekekatan” pelaksanaan UN ditingkatkan, tentu kekhawatiran TIDAK LULUS juga meningkat. Jadi sebelum UN digelar siswa sudah khawatir terlebih dahulu. Hal ini dapat kita saksikan berita di TV, siswa menempuh cara yang aneh-aneh agar tidak menjadi “korban” (tidak lulus UN), misal melakukan ritual “dilangkahi oleh ibu”, pensil diberi mantra, bahkan ada yang ke kuburan. Ini menunjukkan bahwa siswa khawatir tidak lulus. Semakin ditingkatkan “keketatan UN” maka kekhawatiran tidak lulus juga meningkat, akibatnya keinginan berbuat curang juga semakin besar (tidak semua sih). Itulah makanya saya mengibaratkan Kecurangan UN itu mirip dengan Hukum Aksi Reaksi. Jadi peningkatan “keketatan UN” yang salah satunya dengan meningkatkan jumlah paket UN tidak akan mengurangi “keinginan” untuk berbuat curang bahkan modusnya pun semakin meningkat.

Walaupun sebenarnya lulus UN itu mudah, tetapi tetap saja siswa (bahkan guru) khawatir tidak lulus UN. Sudah waktunya pelaksanaan UN dievaluasi.

Ujian Akhir Nasional Tidak Cocok untuk Indonesia

Ujian Akhir Nasional (UAN) setiap tahun menjadi momok yang menakutkan bagi semua orang, bukan hanya siswa namun orang tua murid, saudara, keluarga. Meski sebenarnya UAN bukanlah sesuatu yang seharusnya ditakuti namun yang patut menjadi perhatian ialah kekacauan penyelenggaraan UAN setiap tahunnya. Bukankah bukan pertama kalinya Indonesia melaksanakan UAN, tapi tetap saja terjadi kekacauan setiap tahunnya. Entah itu masalah teknis ataupun terkait pro dan kontra adanya UAN. Apa yang salah sebenarnya?  

Disini bukan salah siapa atau siapa yang patut dijadikan kambing hitam. Bukan pula menyalahkan Menteri Pendidikan. Kekacauan teknis seperti pendistribuan soal, kertas tipis, pelaksanaan UAN yang tak serentak nasional, tidak bisa kesalahan tersebut dilimpahkan pada Menteri Pendidikan kita, Muh. Nuh. Bukan salah beliau.

Ketika Pemerintah tetap teguh dengan pendiriannya perlunya UAN, sebetulnya ada banyak hal yang patutnya dikaji apakah UAN masih cocok diterapkaan di Indonesia. Ada banyak alasan UAN tidak lagi cocok dilaksanakan di Indonesia.

1. Alasan letak geografis Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.000 pulau tersebar diseluruh nusantara menjadi kendala tersendiri, terutama terkait pendidtribusian soal yang ramai dibicarakan pada kekacauan UAN tahun ini. Indonesia yang begitu luas, dimana setiap pulau terpisah oleh lautan mempersulit distribusi soal UAN, perlu perencanaan detail, tidak bisa sembarangan dan asal-asalan.

2. Pelajar itu subjek pendidikan bukan objek pendidikan

Keberadaan UAN justru menjadi alat coba-coba untuk pelajar. Setiap tahun aturan UAN terus berubah, mulai dari standar nilai, perubahan kurikulum, dan paket soal. Sistem yang tidak jelas seolah menjadi ajang coba-coba pemerintah untuk menerapkan suatu kebijakan. Padahal anak bukan ajang percobaan, mereka adalah anak yang seharusnya mendapatkan pelayanan pendidikan yang selayaknya. Mereka adalah subjek, pelaku pendidikan yang memiliki hak dasar mendapat pendidikan, bukan objek penelitian dan carut-marut kebijakan.

3. Kualitas pendidikan yang tidak merata

Kualitas pendidikan Indonesia yang tidak merata menyebabkan ketimpangan hasil UAN antara daerah kota dengan pendidikan maju dibanding daerah pinggiran dengan failitas pendidikan terbatas. Jika pada kenyataannya kulitas pendidikan di Indonesia belum merata, saya rasa UAN tidak layak dijadikan standarisasi penilaian nasional. Apalagi dijadikan syarat kelulusan, meski sekarang ini prosentasenya 60% dan 40% dari sekolah. Tapi tetap saja UAN masih menjadi standar. Standar nilai kelulusan UAN 5,5 sangat lah ringan untuk sekolah-sekolah maju dikota, tapi tidak untuk sekolah pinggriran. Membaca saja masih menjadi persoalan di pelosok-pelosok negeri ini.

4. Soal UAN tidak adil

Pembuatan soal UAN yang distandarkan untuk nasional menimbulkan ketidakadilan. Ketika pihak pembuat soal mempertimbangkan bahwa soal diperuntukkan bagi seluruh siswa di Indonesia, baik di daerah maupun kota, tentu pihak pembuat soal harus memperhitungkan apakah soal-soal tersebut memenuhi standar kelulusan untuk semua sekolah. Padahal kualitas sekolah sekali lagi berbeda. Bagi sekolah maju mungkin soal-soal UAN tidak sulit dibandingkan standar pendidikan disekolah mereka bahkan terlalu mudah. Tapi bagaimana dengan sekolah pinggiran, apakah soal-soal tersebut sesuai dengan starandar mereka? Terlalu sulit bisa jadi.

5. Setiap daerah memiliki kebutuhan dan standar pendidikan tersendiri

Negara kita hampir mirip dengan Amerika yang multikultural, bedanya setiap pulau di Indonesia terpisah oleh lautan sedangkan Amerika hanya dibatasi daratan. Namun apa yang sama bahwa Amerika juga memiliki masyarakat yang beragam, bangsa imigran. Setiap daerah memiliki kebudayaan, kebutuhan, dan standar pendidikan tersendiri. Amerika dikenal dengan sistem pendidikannya yang maju dan dipandang di dunia. Dalam sistem pendidikan di negri Paman Sam tidak ada Ujian Nasional karena setiap negara bagian memiliki kebutuhan berbeda akan pendidikan. Mereka menyelenggarakan Ujian per negara bagian, soal yang dibuat dari negara bagian, bahkan jika memang tidak berkenan dengan soal-soal dari negara bagian mereka berhak menolak dan menyelenggarakan ujian mandiri. Tidak ada penyetandaran secara nasional. Lalu bagaimana mengukur kemmapuan siswa untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi? Kualitas individu menjadi faktor penentu, tidak menjadi soal ia berasal dari pinggiran maupun kota asalkan ia bisa bersaing untuk meneruskan pendidikan dan mengenyam pendidikan yang lebih baik.

6. UAN bukan penjamin kualitas pendidikan baik secara individu maupun nasional

Berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson, sistem pendidikan Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil. Peringkat disusun berdasarkan keberhasilan negara-negara memberikan status tinggi pada guru dan memiliki “budaya” pendidikan. Lima negara maju tidak menyelenggarakan UAN dengan sistempendidikan terbaik di dunia:

a. Finlandia

Finlandia sebagai negara dengan system pendidikan termaju di dunia tidak mengenal yang namanya Ujian Nasional. Evaluasi mutu pendidikan sepenuhnya dipercayakan kepada para guru sehingga negara berkewajiban melatih dan mendidik guru-guru agar bisa melaksanakan evaluasi yang berkualitas. Setiap akhir semester siswa menerima laporan pendidikan berdasarkan evaluasi yang sifatnya personal dengan tidak membandingkan atau melabel para siswa dengan peringkat juara seperti yang telah menjadi tradisi pendidikan kita. Mereka sangat meyakini bahwa setiap individu adalah unik dan memiliki kemampuan yang berbeda beda. Di Finlandia profesi guru adalah profesi yang paling terhormat. Dokter justru berada dibawah peringkat guru.

b. Amerika Serikat (USA)

Amerika yang terdiri dari banyak negara bagian ternyata tidak pernah menyelenggarakan UN atau ujian negara secara nasional. Walaupun ada ujian yang diselenggarakan oleh masing-masing state (negara bagian), namun tidak semua sekolah diwajibkan mengikuti ujian negara bagian. Tiap negara bagian juga mempunyai materi ujian masing-masing. Sekolah-sekolah tetap boleh menyelenggarakan ujian sendiri dan menentukan kelulusannya sendiri.

Semua lulusan, baik lulusan yang disenggarakan oleh sekolahnya sendiri atau lulus ujian yang diselenggarakan negara bagian, tetap boleh mengikuti ujian mauk ke college ataupun universitas asal memenuhi persyaratan dan lulus tes masuk. Logika pendidikan yang digunakan yaitu: Kualitas pendidikan ditentukan oleh individu masing-masing kelulusan. Walaupun Si A lulusan dari SMA pinggiran yang tidak terkenal, kalau dia lulus tes masuk ke Universitas Harvard, maka diapun akan diterima di universitas tersebut. Jadi masalah kualitas ditentukan oleh individu (individual quality). Pakar pendidikan dari Columbia University, Linda Hammond (1994) Berpendapat bahwa nasionalisasi ujian sekolah tidak bisa memberi kreativitas guru. Sekolah tidak bisa menciptakan strategi belajar sesuai dengan perbedaan kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta kemajuan teknologi. Sistem pendidikan top down oriented, tak bisa menjawab masalah yang ada di daerah-daerah berbeda.

c. Jerman

Jerman tidak mengenal ujian nasional. Kebijaksanaan yang diutamakan adalah membantu setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal, yaitu dengan menyediakan guru yang profesional, yang seluruh waktunya dicurahkan untuk menjadi pendidik, menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan penuh kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang bermain yang memadai dan ruang kerja guru, menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik dapat secara terus-menerus belajar melalui membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan, (termasuk novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan yang memungkinkan peserta didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar, Evaluasi yang terus-menerus, komprehensif dan obyektif.

Melalui model pembelajaran yang seperti inilah, yaitu peserta didik setiap saat dinilai tingkah lakunya, kesungguhan belajarnya, hasil belajarnya, kemampuan intelektual, partisipasinya dalam belajar yang menjadikan sekolah di Jerman mampu menghasilkan rakyat yang beretos kerja tinggi, peduli mutu, dan gemar belajar. Mereka setiap hari belajar selalu mendapat tugas dari semua mata pelajaran yang proses maupun hasilnya dinilai dan nilai-nilai ini memengaruhi nilai akhir semester dan seterusnya.

d. Kanada

Di Kanada tidak ada Ujian Nasional karena dianggap tak bermanfaat untuk kemajuan pendidikan di negara itu. Untuk kontrol kualitas di Kanada terdapat penjaminan mutu pendidikan yang kontrolnya sangat kuat. Lembaga penjamin mutu ini benar-benar bekerja secara ketat dari pendidikan dasar hingga menengah. Sehinga murid yang akan masuk ke perguruan tinggi cukup dengan rapor terakhir. Di Kanada, perguruan tinggi tidak sulit lagi untuk menerima murid darimana pun sekolahnya. Karena standar sekolah di sana sudah sesuai dengan standar perguruan tinggi yang akan dimasuki setiap lulusan sekolah.

Kebalikan dengan di Indonesia, perguruan tinggi banyak yang tidak percaya dengan lulusan sekolah menengah. Saling tidak percaya standar ini yang menyebabkan pemborosan keuangan negara karena harus menyelenggarakan UN dan ujian mandiri.

e. Australia

Di Negara Australia ini, ujian nasional tidak dilaksanakan bahkan tidak dikenal sama sekali, melainkan ujian state. Ujian ini tidak menentukan lulus tidaknya para peserta didik, namun untuk menentukan kemana siswa tersebut akan melanjutkan pendidikan. Berapapun nilai yang didapatkan oleh siswa dari ujian tersebut tetap dinyatakan lulus. Nilai nol pun tetap dinyatakan lulus, namun kelulusan tersebut tidak ada gunanya. Berarti siswa tersebut akan sangat sulit untuk melanjutkan pendidikannya. (sumber: www.unikbaca.com)

7. UAN hanya mengukur kemampuuan kognitifi siswa

Dalam dunia pendidikan, ranah kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa ada tiga yaitu kognitif, psikomotorik, afektif. Sedangkan UAN hanya mengukur kemampuan kognitif siswa, dimana afektif dan psikomotoriknya? Non sen, tidak ada!

Bukankah yang terpenting dari belajar ialah proses, jika UAN menjadi penentu kelulusan maka untuk apa belajar 6 tahun di Sd, 3 tahun di SMP dan SMA. Serasa perjuangan bertahun-tahun akan mati begitu saja jika 3 hari UAN itu gagal. Ketika M. Nuh menghadiri seminar UAN di sebuah SMA di Palangkaraya bersama Wakil Presiden, Budiono, seorang siswa kelas XI bertanya pada M. Nuh tentang kebijakan UAN yang menentukan kelulusan, bahwa proses belajar 3 tahun hanya ditentukan 3 hari UAN. Jawaban beliau sederhana, “UAN sama saaj dengan ulangan. Jika saya tanya kalian apakah mau ada ulangan atau tidak pasti jawabannya tidak”. Itu baru pendapat pribadi lho pak, apakah bapak sudah melakukan survey? Belum kan! Saya rasa jawabannya berbeda ketika konteks yang ditanyakan ulangan dan UAN. Karena 2 hal tersebut memang berbeda. Ulangan bukan UAN yang menentukan kelulusan belajar selama 3 tahun, tapi bagian dari proses belajar selama 3 tahun itu sendiri.
Source

UJIAN NASIONAL: ANTARA MANFAAT DAN MUDARATNYA

 Pelaksanaan ujian nasional tingkat SMA/SMK tahun ini mendadak menjadi topik pembicaraan yang luar biasa ramainya.   

Hal itu berawal dari tertundanya pelaksanaan UN di 11 provinsi karena keterlambatan naskah soal, sementara keluhan bermunculan di sekolah-sekolah yang telah melaksanakan UN sejak tanggal 15 April 2013. Keluhan itu antara lain menyangkut rendahnya kualitas lembar jawaban UN (kertas terlalu tipis sehingga mudah robek), tertukarnya paket-paket soal, kurangnya naskah soal dan lembar jawaban UN, hingga indikasi kecurangan yang terjadi di lapangan.

Awalnya berbagai permasalahan diatas dianggap hanya sebagai masalah teknis sehingga pihak percetakan yang terlambat mendistribusikan soal-soal ujian sudah dipastikan akan menjadi kambing hitam. Namun apakah betul carut marutnya pelaksanaan UN ini hanya seputar masalah teknis belaka? Banyak kalangan, sejak praktisi pendidikan hingga orang tua murid menuding bahwa UN tidak lagi layak untuk dibiarkan tetap dijalankan karena merupakan pemborosan biaya besar setiap tahunnya tanpa manfaat signifikan bagi peningkatan mutu pendidikan di negeri tercinta ini.

Seorang guru besar pendidikan mengharapkan agar pemerintah melalui Mendikbud lebih baik mengalihkan biaya penyelenggaraan UN yang tahun ini mencapai Rp 600 miliar, memperbaiki sekolah yang rusak, laboratorium sekolah, perpustakaan sekolah, untuk pelatihan guru dan pembenahan sarana dan prasarana pendidikan lainnya. Belum lagi biaya-biaya terkait UN yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dan orangtua murid.

Komentar yang lebih fundamental mengenai ujian nasional ini dikemukakan oleh pakar pendidikan Henry Alexis Rudolf Tilaar yang menyebut bahwa pemerintah saat ini tidak memiliki komitmen untuk memperbaiki mutu pendidikan. Bahkan mereka dinilai tidak memiliki konsep jelas dan menyeluruh soal pendidikan Indonesia ke depan. Lebih jauh Henry mempersoalkan, apa sebetulnya tujuan dari ujian nasional. Apakah menghakimi anak atau meningkatkan mutu pendidikan nasional. 

Beberapa tahun lalu hal ini menjadi polemik di surat kabar. Ujian nasional yang dikatakan dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional justru memunculkan nilai-nilai negatif dalam pelaksanaan.

Ada banyak fenomena yang membuat miris terjadi di lapangan. Ada kasus dimana guru mau jujur dalam pelaksanaan ujian nasional malah dipecat. Di tahun lalu, ada anak mengajak temannya jujur malah dipermasalahkan sampai ibunya dikucilkan dari kampung. Inilah ekses-ekses ujian nasional menghakimi anak yang ingin jujur.

Ungkapan senada disampaikan oleh Praktisi Pendidikan dari Universitas Paramadina, Abduh Zein, yang mengatakan bahwa kebijakan UN yang diambil pemerintah ini justru membuat anak-anak belajar untuk menjadi pribadi yang manipulatif dan destruktif karena dihantui ketakutan tidak lulus ujian. Menurutnya, “Kebijakan UN ini tidak tepat karena destruktif dan menanamkan untuk manipulasi.” 

Tidak hanya sekadar itu, UN yang awalnya didesain untuk meningkatkan semangat belajar justru malah memunculkan semangat yang berkebalikan karena anak-anak menjadi berlomba untuk mencari bocoran jawaban agar UN yang dikerjakannya berjalan lancar.

“Sekarang dapat dilihat apakah semangat belajar meningkat karena UN? Tidak, karena yang ada justru sebaliknya anak-anak mencari jalan pintas untuk lulus UN,” ungkap Abduh.

“Akhirnya anak yang pintar jadi hilang semangat belajar karena tahu ada jalan pintas itu,” tandasnya. 

Apa yang dikemukakan masih belum cukup, ada ekses lain yang merembet ke sektor lain.
Karena tingkat kelulusan anak didik dipakai menjadi ukuran kesuksesan sekolah dan institusi pendidikan daerah, bahkan hingga ke tingkat Bupati.

Lho kok? Alasannya sangat logis. Sang Bupati bilang kalau tingkat kelulusan di wilayahnya rendah, maka ia akan dipindahkan. Maka Kepala Dinas yang berada dibawah jajaran Bupati akan menginstruksikan Kepala Sekolah untuk meluluskan seratus persen. Jadi ada target disitu. Dalam pembicaraan per telepon dengan seorang kerabat di Sumatera Utara beberapa hari yang lalu, ia mengatakan bahwa pelaksanaan UN tingkat SMA di daerahnya yang agak terpencil berjalan dengan ”aman terkendali.” Yang ia maksud, pelaksanaannya dijalankan dengan kolaborasi penuh dari kepala daerah, polisi yang bertugas hingga pengawas ujian. Tujuannya, anak didik harus lulus sebanyak mungkin. Alamak!

Mengapa Pemerintah Masih Mempertahankan UN?

Walaupun kritikan terhadap ujian nasional terus dilayangkan sejak beberapa tahun terakhir, dan Mahkamah Agung telah memenangi gugatan masyarakat lewat gugatan citizen lawsuit soal penyelenggaraan ujian nasional pada 2009, pemerintah tetap melaksanakan ujian nasional dengan alasan kebutuhan standardisasi. 

Secara legal, keputusan MA masih memberikan ruang bagi pemerintah untuk tetap menyelenggarakan ujian nasional dengan catatan pemerintah telah meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia, serta mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi gangguan psikologi dan mental peserta didik akibat penyelenggaraan ujian nasional.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh mengatakan tak mungkin menghapuskan Ujian Nasional (UN). Hal ini disampaikan Nuh menanggapi pernyataan anggota Komisi X DPR yang meminta Mendikbud untuk tidak memaksakan pelaksanaan UN ke depannya menyusul amburadulnya produksi dan distribusi naskah soal dan lembar jawaban yang berujung pada penundaan UN di 11 provinsi di Indonesia. Namun, menurut Menteri, UN merupakan penentu kelulusan para siswa dari sekolah.

“(Kalau tidak dilanjutkan) terus anak-anak mau ujian pakai apa? Kalau enggak ujian susulan, mereka mau lulus pakai apa?” tanya Nuh ketika diwawancara hari Kamis, 18 April 2013.
“Harus ujian, kalau enggak gimana? Ujian dong, ini diusahakan secepatnya,” lanjut M Nuh.

Apakah UN Merupakan Alat Ukur Kelulusan Yang Terbaik?

Elin Driana, Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka dalam tulisannya di kolom Opini harian Kompas beberapa hari lalu menyampaikan laporan tahunan terbaru (2012) dari Center on Education Policy — sebuah lembaga nirlaba yang didirikan di George Washington University, yang meneliti ujian kelulusan di sejumlah negara bagian di Amerika Serikat sejak tahun 2002. Lembaga ini menyimpulkan bahwa hingga saat ini keterkaitan antara ujian kelulusan dan peningkatan prestasi belajar siswa masih belum terbukti. Laporan tersebut juga merujuk pada beberapa penelitian lain, misalnya yang dilakukan Grodsky dkk (2009), Reardon dkk (2009), dan Holme dkk (2010), yang belum menemukan keterkaitan antara pelaksanaan ujian kelulusan dan peningkatan prestasi belajar siswa.

Menurut Elin, untuk menilai efektivitas pelaksanaan UN kita memang membutuhkan indikator. Salah satu indikator yang saat ini tersedia dan dapat digunakan adalah hasil-hasil survei internasional dalam TIMSS (untuk matematika), PIRLS (untuk kemampuan membaca), dan PISA (matematika, sanis, dan membaca). 

Indonesia secara periodik telah mengikuti asesmen internasional tersebut dengan hasil yang memprihatinkan. Siswa Indonesia berada di peringkat bawah dalam ketiga asesmen tersebut. Bukan hanya peringkat yang mencemaskan, melainkan mayoritas siswa Indonesia ternyata baru mencapai level penalaran yang rendah. Bukankah ini sudah merupakan indikator kegagalan UN dalam meningkatkan prestasi belajar siswa?

Elin juga menambahkan sejumlah dampak negatif dari ujian kelulusan yang diambil dari penelitian lain seperti: (1) kesenjangan prestasi akademis berdasarkan status sosial ekonomi keluarga; (2) meningkatnya risiko putus sekolah bagi siswa tak mampu dan siswa dari kelompok minoritas; (3) penyempitan kurikulum, yaitu terfokusnya pembelajaran pada mata pelajaran yang diujikan sehingga yang tak diujikan terabaikan; (4) proses belajar yang berupaya menggali aspek kreativitas dan berpusat pada siswa cenderung terpinggirkan karena lebih memfokuskan pada latihan-latihan soal; (5) tekanan berlebihan yang dirasakan siswa; tekanan berlebihan yang dirasakan guru; dan (6) berbagai modus kecurangan.

Usulan kepada Pemerintah

Masukan ini bukan ibarat mengajar ikan berenang, sama sekali bukan untuk menggurui Pemerintah, khususnya Mendikbud, namun lebih merupakan himbauan sebagai masukan dalam membahas aspek standar kelulusan anak didik di Indonesia. 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hendaklah mencarikan solusi terbaik dalam persoalan standarisasi pendidikan khususnya SD hingga SMA. Jangan sampai solusi yang diterapkan dikorbankan demi kepentingan pribadi atau kelompok. 

Dalam mencari solusi yang ideal bagi negeri ini, sangat penting untuk juga mempertimbangkan faktor geografis negeri ini yang terdiri dari banyak kepulauan, ketimpangan kualitas guru antara daerah satu dengan lainnya dan fasilitas sekolah yang tidak merata. 

Jika Pemerintah tetap ngotot ingin menjalankan ujian nasional yang tersentralisasi, wajib hukumnya untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan teknologi distribusi. Keterlambatan distribusi soal ujian yang terjadi beberapa hari lalu bisa menjadi tertawaan dunia. Di era informasi ini kita lihat betapa surat kabar telah memanfaatkan teknologi remote digital printing yang “secure” sehingga tidak lagi punya ketergantungan dengan transportasi fisik. Pendekatan ini jauh lebih praktis dan aman dibandingkan dengan pencetakan soal secara sentralisasi. Dan mengenai teknis pendistribusian soal ujian, mengapa pemerintah tidak mau belajar dari pihak swasta semisal Unilever atau Indofood yang mampu menyalurkan produk-produknya ke pelosok daerah secara cepat dengan harga yang sama? 

Namun andaikata Pemerintah legowo untuk meninjau ulang konsep “Ujian Nasional” yang diterapkan selama ini, mungkin mayoritas pakar pendidikan di negeri ini akan mendukung upaya ini. Dengan mengacu kepada poin nomor 2 diatas, tampaknya solusi yang ideal bagi bangsa ini adalah meniadakan UN untuk tingkat SD hingga SMA. Biarkanlah masing-masing provinsi untuk melaksanakan ujian lokal di daerah mereka. Ujian berskala nasional jika masih ingin dijalankan, cukup di tingkat universitas negeri (ujian saringan masuk perguruan tinggi).

Dengan dihapuskannya ujian nasional, pemborosan uang sebesar Rp 600 miliar yang disebut diatas bisa dialokasikan untuk hal yang jauh lebih bermanfaat seperti perbaikan sarana pendidikan (sekolah, laboratorium, perpustakaan) dan peningkatan kualitas guru.
Semoga menjadi bahan pemikiran bagi kita bersama.
Source 

Minggu, 21 April 2013

Pendidikan Sains Masih Sebatas Teori

Minimnya alat peraga membuat pengajaran sains di sekolah masih bertumpu pada teori. Siswa dituntut menghafal dan membayangkan materi pelajaran yang diberikan.

Keterbatasan jumlah alat peraga membuat sains sulit dicerna. ”Alat peraga tak digunakan karena guru tak pernah dilatih cara menggunakannya,” kata salah satu guru sekolah dasar yang enggan disebut namanya, peserta Ekspedisi Transit Venus 2012 di Atambua, Nusa Tenggara Timur, Selasa (5/6). Pelatihan astronomi itu diselenggarakan Universe Awareness (Unawe) Indonesia.

Kesulitan alat peraga pada pengajaran sains sebenarnya persoalan umum di Indonesia. Bukan hanya untuk ilmu astronomi yang jadi fokus kegiatan Unawe Indonesia, melainkan juga untuk semua bidang ilmu.

Karena hanya teori, siswa dituntut menghafal. ”Sistem hafalan pada pendidikan Indonesia tak membangun rasionalitas siswa,” kata peneliti Planetarium dan Observatorium Jakarta, Widya Sawitar.

Pada pendidikan, rasionalitas penting untuk menjelaskan banyak hal, termasuk memahami sains. Fenomena alam tak hanya dipahami sebagai mitos, tetapi juga peristiwa alam yang mengandung penjelasan rasional.

Menurut Direktur Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung Mahasena Putra, pendidikan sains yang baik adalah yang tak hanya mengembangkan kemampuan kognitif. Harus memberdayakan seluruh indera: mata, telinga, dan tangan.

Sasaran kompetensi siswa pada kurikulum sains, siswa diharapkan memahami hal yang ada. Namun, cara mencapainya diserahkan kepada guru. Ini menjadikan guru berperan penting dalam proses pengajaran dan mendorong siswa mampu belajar mandiri secara berkelanjutan.

Sayangnya, tak semua guru bisa melakukannya. Beban kurikulum, kesejahteraan, dan tekanan politik membuat guru tak fokus mendidik.

Ketua Dewan Penasihat Unawe Indonesia Premana W Premadi mengatakan, Unawe menawarkan pendidikan sains, khususnya astronomi, kepada guru dan anak-anak dengan menyenangkan. Belajar sains tak harus membuat guru dan siswa tertekan.
Sumber : Kompas 

Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni


"Penemuan planet-planet berbatu di zona layak huni itu membawa kita sedikit lebih dekat untuk menemukan tempat seperti rumah. Ini hanya masalah waktu sebelum kita mengetahui apakah galaksi adalah rumah bagi banyak planet seperti Bumi, ataukah kita memang langka."
Misi Kepler NASA telah menemukan dua sistem planet yang menjadi tempat bagi tiga planet berukuran super-Bumi dalam “zona layak huni”, zona di mana kisaran jaraknya dari bintang memungkinkan planet yang mengorbit berpeluang menyimpan zat cair.

Sistem Kepler-62 terdiri dari lima planet, yakni 62b, 62c, 62d, 62e dan 62f. Sedangkan sistem Kepler-69 hanya terdiri dari dua planet: 69b dan 69c. Tiga di antaranya, kepler-62e, 62f dan 69c, merupakan planet berukuran super-Bumi.

Dua planet super-Bumi ditemukan di seputar bintang yang lebih kecil dan lebih dingin dari matahari. Kepler-62f hanya berukuran 40 persen lebih besar dari Bumi, menjadikannya sebagai planet ekstrasurya yang ukurannya paling dekat dengan planet kita dalam zona layak huni bintang lain. Kepler-62f cenderung memiliki komposisi yang berbatu. Kepler-62e, yang mengorbit di tepi bagian dalam zona layak huni, berukuran sekitar 60 persen lebih besar dari Bumi.  

 

Ukuran relatif semua planet zona layak huni yang baru ditemukan dengan didampingkan dengan Bumi. Dari kiri ke kanan: Kepler-22b, Kepler-69c, Kepler-62e, Kepler-62f dan Bumi (kecuali Bumi, gambar ini didasarkan ilustrasi artistik). (Kredit: Ames/JPL-Caltech NASA)

Planet ketiga, Kepler-69c, berukuran 70 persen lebih besar dari Bumi, mengorbit dalam zona layak huni di seputar bintang yang mirip dengan matahari kita. Para astronom tidak terlalu yakin mengenai komposisi Kepler-69c, namun dari orbitnya yang memakan waktu 242 hari, planet itu serupa dengan planet tetangga kita, Venus.

Para ilmuwan belum mengetahui apakah ada kehidupan di planet-planet yang baru ditemukan itu, namun temuan mereka ini memberi sinyal bahwa kita sudah selangkah lebih dekat dalam menemukan dunia yang mirip dengan Bumi di seputar bintang seperti matahari kita.

“Pesawat ruang angkasa Kepler sudah pasti berubah menjadi bintang rock-nya dunia sains,” ujar John Grunsfeld, administrator Science Mission Directorate di Markas NASA di Washington, “Penemuan planet-planet berbatu di zona layak huni itu membawa kita sedikit lebih dekat untuk menemukan tempat seperti rumah. Ini hanya masalah waktu sebelum kita mengetahui apakah galaksi adalah rumah bagi banyak planet seperti Bumi, ataukah kita memang langka.”  

  

Diagram yang membandingkan planet-planet dalam tata surya kita dengan dua planet dalam sistem Kepler-69 yang berjarak sekitar 2.700 tahun cahaya dari Bumi. (Kredit: Ames/JPL-Caltech NASA)  

  

Diagram yang membandingkan planet-planet dalam tata surya kita dengan kelima planet dalam sistem Kepler-62 yang berjarak sekitar 1.200 tahun cahaya dari Bumi. (Kredit: Ames/JPL-Caltech NASA)


Teleskop ruang angkasa Kepler, yang secara simultan dan terus menerus mengukur kecerahan pada lebih dari 150.000 bintang, adalah misi dari NASA yang pertama kali mampu mendeteksi planet-planet seukuran Bumi di seputar bintang mirip matahari kita. Mengorbiti bintangnya setiap 122 hari, Kepler-62e menjadi planet zona layak huni pertama yang teridentifikasi. Kepler-62f, yang memiliki periode orbit selama 267 hari, selanjutnya ditemukan oleh Eric Agol, profesor astronomi di University of Washington, salah satu bagian yang terlibat dalam studi ini.

Ukuran planet Kepler-62f kini sudah berhasil ditemukan, namun massa dan komposisinya belum diketahui. Meski demikian, berdasarkan studi-studi sebelumnya yang menyoroti eksoplanet berukuran serupa, para ilmuwan dapat memperkirakan massanya dengan metode asosiasi.

“Deteksi dan konfirmasi planet sangat membutuhkan upaya kolaboratif bakat dan sumber daya, serta menuntut keahlian dari seluruh komunitas ilmiah untuk bisa mewujudkan hasil-hasil yang luar biasa ini,” tutur William Borucki, kepala peneliti Kepler di Ames Research Center NASA di Moffett Field, California, dan memimpin penulisan makalah untuk studi sistem Kepler-62, “Kepler telah membawa kebangkitan dalam penemuan astronomi dan kami membuat kemajuan yang sangat baik menuju ke arah penentuan apakah planet yang mirip planet kita ini adalah pengecualian ataukah mengikuti aturan.”  

  

Gambar Kepler-69c berdasarkan ilustrasi artistik, sebuah planet berukuran super-Bumi dalam zona layak huni di sebuah bintang yang mirip matahari kita. (Kredit: Ames/JPL-Caltech NASA)


Dua dunia zona layak huni di seputar Kepler-62 memiliki tiga planet pendamping lain yang berjarak lebih dekat dengan bintangnya; dua di antaranya berukuran lebih besar dari Bumi, sedangkan yang satunya seukuran Mars. Kepler-62b, Kepler-62c dan Kepler-62D, yang masing-masing mengorbit setiap lima, 12, dan 18 hari, membuat mereka menjadi sangat panas dan tidak ramah bagi kehidupan seperti yang kita kenal.

Lima planet dalam sistem Kepler-62 mengorbiti sebuah bintang yang diklasifikasikan sebagai kurcaci K2, berukuran hanya dua pertiga dari matahari dengan kecerahan yang hanya seperlima dari matahari. Di usia tujuh miliar tahun, bintang ini sedikit lebih tua dari matahari, berjarak sekitar 1.200 tahun cahaya dari Bumi dalam konstelasi Lyra.  

 

Gambar Kepler-62e berdasarkan ilustrasi artistik, sebuah planet berukuran super-Bumi dalam zona layak huni di seputar bintang yang berukuran lebih kecil dan lebih dingin dari matahari kita, berlokasi sekitar 1.200 tahun cahaya dari Bumi. (Kredit: Ames/JPL-Caltech NASA)

Pendamping untuk planet Kepler-69c, yang dikenal sebagai Kepler-69b, berukuran dua kali dari ukuran Bumi dan melintasi orbitnya setiap 13 hari. Bintang yang menjadi induk bagi planet-planet dalam sistem Kepler-69 dimasukkan ke dalam kelas yang sama dengan matahari kita, yaitu tipe-G. Berukuran 93 persen dari ukuran matahari dengan kecerahan sebesar 80 persen dari matahari, terletak sekitar 2.700 tahun cahaya dari Bumi dalam konstelasi Cygnus.

“Kita hanya mengetahui satu bintang yang menjadi induk bagi sebuah planet berisi kehidupan, yaitu matahari. Menemukan sebuah planet dalam zona layak huni di seputar bintang seperti matahari kita merupakan tonggak penting dalam menemukan planet yang benar-benar mirip Bumi,” ujar Thomas Barclay, ilmuwan Kepler di Bay Area Environmental Research Institute di Sonoma, California, serta mengisi posisi sebagai penulis utama dalam penemuan sistem Kepler-69 yang dipublikasikan dalam Jurnal Astrophysical.  

 

Gambar Kepler-62f berdasarkan ilustrasi artistik, sebuah planet berukuran super-Bumi dalam zona layak huni di seputar bintang induknya. (Kredit: Ames/JPL-Caltech NASA)

Ketika sebuah calon planet transit, atau melintas di depan bintang dari sudut pandang pesawat ruang angkasa, persentase cahaya dari bintang tersebut akan terhalang. Hasilnya adalah lengkung kecerahan cahaya bintang yang mengungkap ukuran planet transit, relatif terhadap bintangnya. Melalui metode transit ini, Kepler sudah berhasil mendeteksi 2.740 calon planet. Dengan mengerahkan berbagai teknik analisis, teleskop berbasis darat serta aset-aset ruang angkasa lainnya, 122 planet telah berhasil dikonfirmasi.

Di awal misi, teleskop Kepler menemukan planet-planet gas raksasa dalam orbit yang sangat dekat dengan bintang induknya. Dikenal sebagai “Jupiter-jupiter panas”, planet-planet tersebut lebih mudah dideteksi karena ukuran dan periode orbitnya yang sangat singkat. Bumi memakan waktu tiga tahun untuk menuntaskan tiga kali transit yang dibutuhkan agar bisa diakui sebagai calon planet. Dengan berlanjutnya pengamatan oleh Kepler, sinyal-sinyal transit dari planet zona layak huni seukuran Bumi yang mengorbiti bintang mirip matahari akan mulai muncul.

Untuk informasi lebih lanjut tentang misi Kepler, kunjungi: http://www.nasa.gov/kepler 

Teknik Ultra-Cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum


Molekul-molekul yang dihasilkan mampu menciptakan sifat-sifat penting dari molekul klorofil di dalam sistem fotosintesis, yang menyebabkan koherensi mampu bertahan selama puluhan femtosekon dalam suhu ruangan. 
Para peneliti dari University of Chicago telah berhasil menciptakan suatu senyawa sintetis yang meniru dinamika kuantum yang kompleks seperti yang bisa diamati dalam fotosintesis. Terobosan ini memungkinkan dibangunnya cara fundamental terbaru untuk menciptakan teknologi energi surya. Merekayasa efek kuantum untuk dijadikan sebagai perangkat pemanen-cahaya sintetik tidak saja bisa terwujud, namun, prosesnya pun ternyata lebih mudah dari yang diduga, lapor para peneliti dalam edisi 19 April jurnal Science.

Para peneliti merekayasa molekul kecil yang mendukung koherensi kuantum agar tahan lama. Koherensi adalah perilaku superposisi kuantum yang secara makroskopik bisa diamati. Superposisi adalah konsep kuantum mekanik yang fundamental, dicontohkan dengan eksperimen klasik yang dikenal sebagai Cat Schrodinger, di mana partikel kuantum tunggal seperti elektron menempati lebih dari satu keadaan secara bersamaan.

Efek kuantum umumnya diabaikan dalam ketidakteraturan sistem yang besar dan panas. Namun demikian, eksperimen ultra-cepat spektroskopi yang baru-baru ini dikerjakan oleh Prof. Greg Engel dalam laboratorium kimia University of Chicago telah sukses menunjukkan bahwa superposisi kuantum mungkin berperan menghasilkan efisiensi kuantum yang nyaris sempurna dalam pemanenan cahaya fotosintesik, sekalipun dalam suhu fisiologis. 



   
Para peneliti dari University of Chicago berhasil menciptakan senyawa sintetis yang meniru dinamika kuantum yang kompleks seperti yang teramati dalam fotosintesis. Senyawa ini memungkinkan dibangunnya cara fundamental terbaru untuk mengembangkan teknologi pemanenan cahaya matahari. (Kredit: Graham Griffith)

Antena fotosintetik – protein yang mengatur klorofil dan molekul-molekul cahaya-serapan lainnya pada tanaman dan bakteri – mendukung superposisi untuk bertahan lama dalam tingkat anomali. Banyak peneliti yang mengusulkan bahwa organisme telah berevolusi dan mengembangkan sarana untuk melindungi superposisi tersebut. Hasilnya: terjadi peningkatan efisiensi dalam proses mentransfer energi dari sinar matahari yang terserap ke bagian-bagian sel yang mengubah energi matahari menjadi energi kimia. Hasil-hasil studi yang baru-baru ini dilaporkan ini telah menunjukkan bahwa manifestasi tertentu pada mekanika kuantum dapat direkayasa menjadi senyawa hasil buatan-manusia.

Para peneliti memodifikasi fluoresein – molekul serupa yang pernah digunakan untuk mewarnai Sungai Chicago menjadi hijau dalam rangka Hari St. Patrick – lalu menghubungkan pasangan-pasangan pewarna yang berbeda menjadi satu dengan menggunakan struktur penjembatan yang ketat. Molekul-molekul yang dihasilkan mampu menciptakan sifat-sifat penting dari molekul klorofil di dalam sistem fotosintesis, yang menyebabkan koherensi mampu bertahan selama puluhan femtosekon dalam suhu ruangan.

“Mungkin kedengarannya bukan waktu yang sangat lama – femtosekon setara dengan sepersejuta miliar detik,” kata rekan penulis studi Dugan Hayes, lulusan University of Chicago dalam bidang kimia, “Tapi pergerakan eksitasi melalui sistem juga terjadi pada skala waktu yang ultra-cepat ini, mengindikasikan bahwa superposisi kuantum dapat berperan penting dalam proses transfer energi.”  
 
Para peneliti University of Chicago yang terlibat dalam studi. Dari kiri ke kanan: sarjana pasca-doktoral Graham Griffin, profesor Greg Engel dan mahasiswa pascasarjana Dugan Hayes. (Kredit: Tom Jarvis)

Untuk mendeteksi bukti superposisi yang tahan lama, para peneliti memfilmkan aliran energi dalam molekul dengan menggunakan rekayasa laboratorium dan sistem laser tingkat tinggi dalam skala femtosekon. Tiga pulsa laser yang terkontrol secara tepat diarahkan ke dalam sampel, menghasilkan pancaran sinyal optik yang ditangkap dan diarahkan ke dalam kamera.

Dengan memindai jeda waktu di antara kedatangan pulsa-pulsa laser tersebut, para peneliti memfilmkan aliran energi di dalam sistem, menandainya sebagai rangkaian spektrum dua dimensi. Masing-masing spektrum dua-dimensi termuat dalam satu frame film, berisi informasi tentang keberadaan energi di dalam sistem sekaligus memberitahu jalur-jalur apa saja yang dilaluinya untuk mencapai ke sana.

Film ini mempertunjukkan relaksasi dari keadaan energi tingkat tinggi menuju ke keadaan energi tingkat yang lebih rendah dalam serangkaian waktu, serta memperlihatkan osilasi sinyal di area-area sinyal yang sangat spesifik, atau ketukan-ketukan kuantum. “Ketukan kuantum merupakan ciri dari koherensi kuantum, timbul dari interferensi antara keadaan-keadaan energik yang berbeda dalam superposisi, mirip dengan suara ketukan ketika dua instrumen musik yang tidak selaras mencoba memainkan nada yang sama,” ungkap Hayes.

Simulasi komputer menunjukkan bahwa koherensi kuantum bekerja dalam antena fotosintesis untuk menjaga eksitasi untuk tetap tidak terjebak dalam perjalanannya menuju pusat reaksi, yaitu tempat dimulainya konversi ke energi kimia. Dalam satu interpretasi, sebagaimana eksitasi berpindah melalui antena, keberlangsungannya tetap berada dalam superposisi dari semua jalur sekaligus, memaksa eksitasi berlanjut ke jalur yang semestinya. “Sebelum koherensi-koherensi ini berhasil teramati dalam sistem sintetis, ada keraguan bahwa fenomena yang kompleks mampu diciptakan di luar alam,” ujar Hayes.

Kredit: University of Chicago
Jurnal: D. Hayes, G. B. Griffin, G. S. Engel. Engineering Coherence Among Excited States in Synthetic Heterodimer Systems. Science, 2013; DOI: 10.1126/science.1233828 

Apakah Anda Belajar Untuk Lulus Atau Belajar Untuk Kehidupan?

Sahabat, sejak kecil kita dididik untuk mau belajar. Semakin rajin mengerjakan pe-er, rajin belajar dan mendapat nilai yang bagus saat ulangan, maka kita dinilai 'bagus'. Namun seringkali kita lupa pada hakekat 'belajar' itu sendiri. Itulah yang dirasakan oleh Erica.

Dalam pidatonya yang seharusnya menjadi momen membanggakan itu, Erica mengakui bahwa dirinya takut. Mengapa?

Erica memang adalah siswi terpandai di sekolahnya. Ia memang selalu mendapatkan nilai terbaik dan seharusnya bisa bangga dengan dirinya saat mengucapkan pidato tersebut. Namun setelah direnungkan, ia mengakui bahwa dirinya tidaklah lebih pintar dari teman-temannya.

Selama ini Erica hanya menjalankan apa yang diperintahkan padanya. PR, ulangan, dan aturan sekolah. Ia hanya mengikuti aturan tersebut begitu saja agar ia terhindar dari hukuman, tidak lulus dan formalitas lainnya. Kenyataan ini mungkin menunjukkan betapa rajin dan tertibnya Erica. Setelah ini ia akan lulus, mendapatkan ijazah dan siap bekerja.

Namun Erica adalah seorang manusia yang berpikir dan mencari pengalaman hidup, bukan pekerja. Menurutnya pekerja adalah orang yang terjebak dalam rutinitas dan sistem yang mengatur serta membatasi mereka.

"Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat." ujar Erica.

Semua rutinitas pendidikan formal yang ia jalani membuatnya terbiasa untuk tekun, namun tidak terbiasa untuk menyadari 'pelajaran' yang sebenarnya. Hal inilah yang membuatnya takut untuk melangkah setelah kelulusan tiba.

Dalam pidatonya, ia nampak menyesali karena semasa sekolah ia seperti tidak 'hidup'. Saat temannya lupa mengerjakan PR karena sibuk mengerjakan hobi mereka, Erica memang sudah siap dengan PR yang tuntas dikerjakan. Saat teman-temannya membuat lirik lagu, Erica memang sudah memiliki catatan pelajaran atau bahkan mengambil ekstra SKS.

Karena sibuk belajar, Erica tak sempat memikirkan hobi dan hal apa yang diinginkannya. Ia pun belajar hanya demi lulus, bukan sebenar-benarnya belajar untuk mempersiapkan hidup di masa depan. Hal inilah yang menjadi pengakuan terpendam Erica, betapa rutinitas sekolah ternyata membuatnya kini terhenyak bahwa ia hanya belajar untuk lulus.

Pidato Erica ini memberikan pelajaran bagi kita yang belajar, kita yang akan membelajari dan kita yang akan memiliki anak-anak kita nantinya. Semua orang memang butuh berprestasi, butuh bekal teori, namun jangan lupa untuk memenuhi bekal hidup.

Masa muda adalah masa yang baik untuk memiliki impian, memiliki apa yang Anda inginkan dan berusaha mewujudkannya. Jangan terjebak dalam rutinitas sekolah yang memenjarakan, namun imbangi dengan kehidupan sosial dan kehidupan untuk Anda sendiri.

Hanya Soal Huruf

Melarat” dan “Meralat” toh beda-beda tipis,
cuma soal penempatan huruf.

Dosa” dan “Doa“,
cuma beda sehuruf.

Tuhan” dan “Hantu“,
hanya perkara bolak-balik huruf.

Kau” dan “Aku“,
ya lagi-lagi urusan huruf.

Kalau jadi kalimat ya tentu beda.
Bisa begini jadinya,

Tuhan, aku sadar, aku telah berdosa, karena menuruti hantu untuk tidak pernah berdoa, hingga kini aku jadi melarat begini. Sudilah Kau meralat nasibku ini. Amin.”

Mau jadi kalimat berbeda bisa,
atur saja.

Yang penting,
kita harus memahami juga bahwa dalam urusan huruf ini,
Sadar” berkerabat dengan “Dasar“,
dan “Amin” masih saudara dengan “Iman“.

Ini hanya soal huruf,
lambang bunyi yang menyimpan Pesan,
dan menjadi semesta bagi Makna. 
Norman Adi Satria

Sajak Ujian Nasional

Sajak Ujian Nasional I 

Bila harinya tiba
Tiba-tiba kita baru sadar bahwa inilah harinya
Belajar 9 cawu atau 6 semester
Hanya ditentukan ketuntasannya dalam 6 hari dalam seminggu

Kalau gagal, bisa fatal
Mengulang, menanggung malu
Meninggalkan, sama saja membuang masa depan
Sedangkan kita punya mimpi-mimpi yang terlanjur ditargetkan

Lalu kita ikuti aneka wacana
Bahwa ujian nasional bukanlah penilaian bijaksana
Ini salah pemerintah
Ini salah menteri
Ini salah presiden
Ini salah bapak ibu mengapa menyekolahkan

Kita tidak merasa salah
Dengan dalil kenakalan remaja memang harus dialami ketika remaja
Kalau ketika dewasa itu disebut kenakalan dewasa
Oom atau tante nakal misalnya

Karena berpusing dengan aneka pikiran
Malam tak bisa membawa kantuk
Esok pagi datang ke sekolah
Dengan tangan berisi pensil 2B
Tapi pikiran kosong
Ketika melihat soal ujian
Pusing tiba-tiba menyerang

Untung akal muslihat masih terang
Lebih baik menjatuhkan badan di ruang ujian
Dan teriak-teriak meniru suara harimau atau kadal
Yang penting judulnya kesurupan

Esoknya kita melihat akting kita di layar kaca
Jadi berita

Bukankah belajar itu tidak gampang?
Tentu, bagi orang yang tak perlu ilmu
Tapi menceburkan diri ke bangku sekolahan

Norman Adi Satria


Sajak Ujian Nasional II

bisakah kualitas diukur dengan angka-angka,
atau sebaliknya,
mampukah angka-angka mengukur kualitas?

angka enam tak lebih buruk dari sembilan
meski bentuk kepalanya berubah jadi perut.
beda lagi jika kau mengukurnya dalam kuantitas
tentu enam lebih sedikit ketimbang sembilan,
dan sebaliknya.

pemimpin negeri ngotot:
kualitas anak bangsa
harus dihitung dengan angka.

yang goblok bukan berarti tak mampu dapat sepuluh,
yang pintar bisa saja dapat dua setengah,
lalu yang goblok dianggap pintar
yang pintar dianggap goblok.

lagi pula pintar dan goblok tak hanya bisa diukur melalui sebidang hafalan,
bisa jadi yang nilainya besar itu hanya lihai dalam bidang menghafal,
namun nol dalam penerapan ilmu:
pendidikan budi pekerti dapat nilai
sempurna,
dalam praktek jadi pelaku asusila,
matematika dapat sempurna,
sehari-hari jadi bandar judi bola.

sudahlah,
simpan angka-angka itu untuk mengukur:
berapa pajak yang diberi oleh rakyat
dari mulai beli kolor sampai motor,
dari mulai penjulan lanting sampai buang kencing,
dari mulai produksi bubur hingga masuk liang kubur;
rakyat kenyang bayar segala pajak,
namun masih ada yang tak mampu beli ketoprak.

lalu pikirkan kembali:
takaran apa yang bisa mengukur kualitas,
misalnya dengan suatu fakta kegagalan dalam melaksanakan tugas.
contoh konkretnya:
kegagalan dalam menyelenggarakan ujian nasional,
yang dapat mengukur kualitas sistem penyelenggaraan pendidikan negeri kita.
Norman Adi Satria