aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Jumat, 14 Juni 2013

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN

Sebagai sebuah proses, pembelajaran dihadapkan pada beragam permasalahan, problematika. Problematika pembelajaran adalah berbagai permasalahan yang mengganggu, menghambat, mempersulit, atau bahkan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran.  




  
Problematika pembelajaran dapat ditelusuri dari jalannya proses dasar pembelajaran. Secara umum, proses pembelajaran dapat ditelusuri dari faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh 3 faktor, Bahan Baku (Raw Input), Instrumen, dan Lingkungan. Proses tersebut dapat digambarkan sebagaimana bagan berikut.

Pembelajaran pada dasarnya merupakan usaha mengubah atau meningkatkan potensi seseorang, calon siswa (raw input) menjadi pribadi baru (raw output) dengan kualitas tertentu. Pembelajaran mengubah sikap, prilaku dan kemampuan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu. Pembelajaran juga berarti meningkatkan potensi seseorang dari sedikit tahu menjadi lebih banyak tahu, bahkan dari kurang baik menjadi lebih baik melalui proses belajar yang dijalani. 

BAHAN BAKU (RAW INPUT)

Calon siswa merupakan bahan baku pembelajaran. Merekalah yang akan "diolah" melalui proses pembelajaran hingga mencapat kondisi tertentu. Melalui proses pembelajaran mereka diubah, dikembangkan atau ditingkatkan potensinya, sehingga mereka berubah dari kondisi sebelumnya. Mereka berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dewasa menjadi dewasa, dari tidak mampu menjadi mampu, dan sebagainya.

Siswa disebut bahan baku, bahan mentan, sebab sebelum diberikan pembelajaran, pada dasarnya mereka memiliki potensinya sendiri. Potensi itulah yang perlu dikembangkan hingga mencapai kondisi tertentu. Potensi tersebut juga mempengaruhi kualitas proses pembelajaran. Kualitas mental dan kecerdasan calon siswa dengan turut menentukan keberhasilan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran akan menghadapi masalah, bila kualitas mental dan kecerdasan calon siswa tidak menunjang kelancaran proses pembelajaran. Siswa dengan mentalitas yang tidak stabil dan impulsif, misalnya, akan menyulitkan kelangsungan proses pembelajaran.

INSTRUMEN PEMBELAJARAN

Instrumen pembelajaran adalah segala kelengkapan yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung dan mencapai tujuan yang ditetapkan. Instrumen pembelajaran terdiri dari guru, managemen sekolah, kurikulum, sarana dan prasarana. 


 

Bila proses belajar diibaratkan mengisi botol dengan air, maka sumber air merupakan bahan pembelajaran, gayung dan corong adalah sarana dan prasarana pembelajaran, dan menuangkan air ke dalam botol adalah metode dan strategi pembelajaran, dan guru adalah orang yang menuangkan air ke dalam botol tersebut. Gangguan terhadap salah satu instrumen akan menimbulkan masalah dalam menuangkan air ke dalam botol tersebut. 

Dalam konteks pembelajaran, problem pembelajaran akan mengemuka bilamana terdapat instrumen yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Guru tidak akan mampu membelajarkan siswa secara optimal bilamana managemen sekolah tidak memberikan dukungan memadai terhadap pelaksanaan tugasnya, kurikulum tidak siap, sarana dan prasarana tidak memadai, atau gurunya sendiri tidak piawai dalam membelajarkan siswa.

Bilamana keseluruhan instrumen baik berupa program kurikulum, managemen dan administrasi dan sarana dan prasarana telah memadai, maka kunci keberhasilan pembelajaran terletak pada kepiawaian guru. Bahkan khusus dalam hal pembelajaran, guru merupakan instrumen utamanya. Hal ini dikarenakan disain pembelajaran, termasuk dalam hal pemanfaatan sarana dan prasarana pembelajaran sangat tergantung pada kesiapan guru dan memanfaatkannya. 

LINGKUNGAN

Problem pembelajaran juga dapat muncul dari faktor lingkungan. Lingkungan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kondisi masyarakat sekitar sekolah yang mempengaruhi kelangsungan proses pembelajaran. Pengaruh tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: berpengaruh pada siswa dan pengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan atau sekolah.
Berpengaruh Langsung pada Siswa

Faktor-faktor yang berpegaruh langsung pada siswa terdiri-dari berbagai hal yang mempengaruhi kesiapan mental peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran. Di antara faktor-faktor dimaksud adalah kondisi keluarga, pola asuh orang tua, dan lingkungan pergaulan peserta didik. 

Berpengaruh pada Sekolah

Faktor yang berpengaruh pada sekolah di antaranya adalah adanya kebisingan, bau, dan suhu udara, seperti yang dialami oleh sekolah yang berada di lingkungan pabri yang bising, peternakan yang berbau menyengat, jalan raya dan pasar yang terlalu hiruk-pikuk. 

Faktor lingkungan juga dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu lingkungan yang dapat diubah dan tidak dapat diubah oleh sekolah. Lingkungan yang bisa diubah terdiri dari lingkungan yang dapat dijangkau dengan kebijakan sekolah, terutama yang ada di sekolah itu sendiri. Sedangkan lingkungan yang tidak dapat diubah adalah lingkungan yang tak terjangkau oleh kebijakan atau kekuasaan sekolah. 

Problematika pembelajaran akibat faktor lingkungan pada dasarnya tetap dapat diantisipasi dengan kebijakan sekolah, bila saja guru dan pengelola sekolah memiliki kemauan untuk mengatasinya. Sekolah-sekolah tertentu, terutama yang menerapkan layanan plus, biasanya sudah mengantisipasi faktor-faktor tersebut melalui berbagai kebijakan. Dampak lingkungan yang diidentifikasi dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran disikapi sedemikian rupa sehingga dapat dieliminir sekecil mungkin.

KUNCI KEBERHASILAN PEMBELAJARAN: PENGUASAAN MATERI

Di antara 3 faktor pembelajaraan (raw input, instrumen dan lingkungan), guru merupakan instrumen paling menentukan keberhasilan pembelajaran. Guru memang hanya salah satu instrumen pembelajaran, tetapi faktor guru jauh lebih menentukan dibanding faktor dan instrumen yang lain. 

Ibarat memasak, kualitas masakan sering ditentukan oleh juru masaknya, dibanding bahan dan alat memasaknya. Kepiawaian guru memungkinkan kualitas bahan dan sarana pembelajaran disiasati sedemikian rupa sehingga memungkinkan pembelajaran berlangsung efektif.

Kompetensi guru dalam pembelajaran ditentukan oleh berbagai kompetensi yang seharusnya dimiliki. Meski demikian, berdasarkan pengalaman kami, di antara kompetensi kepribadian, pedagogi, profesional dan sosial, kompetensi profesional khususnya penguasaan materi ajar merupakan kompetensi pertama dan paling menentukan keberhasilan pembelajaran.
Sedemikian menentukannya penguasaan materi terhadap keberhasilan mengajar menjadikan sebagian sekolah lebih menyukai lulusan bidang studi MIPA untuk mengajarkan mata pelajan MIPA sekalipun bukan dari jurusan keguruan atau non-FKIP. Sebagian sekolah juga lebih menyukai lulusan Syari'ah untuk mengajarkan mata pelajaran PAI dibanding lulusan Tarbiyah jurusan PAI. Sekalipun tidak memiliki basis pedagogik, mereka cenderung memiliki penguasaan materi yang lebih baik dan lebih mendalam dibandingkan lulusan jurusan kependidikan, FKIP atau Tarbiyah. Itu sebabnya banyak sarjana non-kependidikan yang mampu mengajar lebih baik dibanding sarjana pendidikan.

PENINGKATAN PENGUASAAN MATERI 

Penguasaan materi memungkinkan guru mengidentifikasi dan memilahkan materi-materi pelajaran ke dalam bagian-bagian, dari yang termudah ke yang tersulit dengan beragam pilihan cara, media dan tahapan yang lebih baik. Guru yang gagal mengantarkan siswa mencapai KKM/SKM hampir selalu berawal dari kurang menguasai materi atau bahan ajar.

Penguasaan bahan materi ajar berarti pemahaman terhadap keseluruhan aspek dari materi atau bahan pembelajaran. Guru yang menguasai bahan ajar berarti paham benar terhadap struktur pengetahuan (body of knowledge) yang diajarkan; dapat memilahkan anatomi materi ajar, termasuk mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan, serta bagian-bagian termudah dan tersulit.

Penguasaan materi memungkinkan guru memilih materi mana yang harus didahulukan dan mana yang disampaikan belakangan. Guru tahu betul mana konsep prasyarat, inti dan yang hanya bersifat pengembangan. Guru dapat membedakan fakta, konsep dan generalisasi dari materi yang diajarkan. Penguasaan materi juga memungkinkan guru memilih metode, tahapan dan media yang tepat untuk mengajarkan bagian demi bagian materi pelajaran.
Ibarat menyuapkan makanan pada anak, guru dapat membedakan mana lauk, sayur, sambal, nasi dan piringnya. Guru yang kurang paham terhadap bagian-bagian makanan (materi ajar) yang disuapkan pada anak, sangat boleh jadi akan menyuapkan sambal terlebih dahulu. Akibatnya, guru bukan membuat anak makan dengan lahap sampai habis, tetapi malah enggan makan (belajar) sejak suapan pertama.

Bahkan tidak jarang ada guru yang tidak mampu membedakan antara piring (media) dan nasi (materi). Misalnya, guru mengajarkan materi tentang "peta" dengan media kertas strimin. Guru yang tidak menguasai materi kadang bukan mengantarkan anak pada bagaimana membaca peta, serta mengenali dan memanfaatkan unsur-unsur peta. Tidak jarang guru hanya membuat anak asyik menggambar, sementara materi pokoknya tidak dikuasai anak. Ini sama halnya anak didik bukan disuapi nasi, tetapi disuruh makan piringnya. 

Problematika semacam ini sering terjadi di sekolah, tanpa banyak disadari oleh pengelola sekolah dan guru. Kebanyakan pengelola sekolah percaya begitu saja pada guru hanya karena sudah sarjana, apalagi kalau lulusan dari jurusan/program studi keguruan. 

Padahal kesarjanaan seseorang sering kali tidak dapat dijadikan jaminan bahwa seorang guru benar-benar menguasai materi yang diajarkan. Apalagi materi pelajaran akhir-akhir ini mengalami peningkatan bobot materi yang lebih berat dari sebelumnya. 

Banyak materi pelajaran di tingkat dasar (SD/MI) misalnya, sebagian merupakan materi pelajaran yang pada beberapa tahun yang lalu baru diajarkan di tingkat sekolah lanjutan (SLTP). Banyak orang tua murid, yang sudah bergelar sarjana sekalipun kesulitan memahami pelajaran kelas IV atau V SD.

Itu sebabnya, penguasaan materi ajar oleh guru perlu selalu dijajagi kembali untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut. Setidaknya, sekolah perlu melakukan sharing penguasaan bahan ajar oleh setiap guru agar pembelajaran berlangsung efektif. Setiap guru perlu memaparkan peta konsep materi dan instrumen pembelajarannya di hadapan guru lain atau pakar tertentu untuk mendapatkan masukan. 

Selain berdasarkan pemaparan peta konsep, indikator sederhana yang dapat dipakai untuk mengetahui sejauh mana penguasaan guru terhadap materi yang diajarkan adalah kesesuaian metode dan media yang digunakan untuk mengajarkan suatu materi. Bilamana guru memilih metode dan media yang tidak relevan, dapat dipastikan bahwa dia perlu diragukan penguasaannya terhadap materi pelajaran.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 13 Juni 2013

TIPE-TIPE ANAK DIDIK

Anak didik merupakan “bahan baku” pendidikan. Dialah yang menjadi bahan mentah untuk dikembangkan kompetensi emosional, intelektual dan keahliannya. 

Menjadikan mereka anak-anak yang sukses dalam belajar dan kehidupan merupakan tugas mulia guru. Agar usaha mencapai hasil optimal, setiap guru perlu memahami potensi yang dimiliki oleh anak didik. 

Sebagai manusia, setiap anak memiliki potensi belajar beragam. Ada yang mudah dan ada pula yang perlu usaha ekstra. Oleh karena itu, tipe-tipe anak didik berdasarkan potensinya perlu dikenali dengan baik.

Secara sederhana, potensi anak didik dapat dicermati berdasarkan dua aspek. Aspek tersebut adalah kesiapan mental dan kecerdasannya. Kesiapan mental biasanya tampak pada kemandirian anak. Sementara kecerdasan umumnya tampak pada daya serap anak terhadap suatu kompetensi. 

Atas dasar itu, tipe-tipe anak didik dapat dipetakan sebagaimana berikut :

1. Tipe Cerdas

Ini adalah tipe siswa yang paling mudah diajar. Mereka memiliki tingkat kemandirian dan sekaligus daya serap tinggi. 

Mendidik anak tipe ini sangat mudah bagi guru. Kemandirian dan kecerdasannya bahkan menjadikan guru tidak perlu mengajar, karena anak memiliki minat dan kemampuan belajar secara mandiri.

Tipe seperti ini kadang ada karena faktor bawaan, tetapi tidak jarang sebagai hasil bentukan lingkungan baik karena pola asuh orang tua maupun pembelajaran kepribadian di sekolah.

2. Tipe Pintar

Ini adalah tipe anak didik pada umumnya. Meski bukan anak cerdas secara kognitif, tetapi dia memiliki kesiapan mental, berupa kemandirian, dan minat belajar tinggi. 

Tipe ini umumnya menjadi siswa yang berhasil dalam belajar maupun dalam hidupnya. Modalitas mental dan kemandirian yang memadai menjadikan anak mampu mengatasi berbagai masalah belajar.

Pada anak seperti ini, tugas guru adalah membelajarkan mengenai cara belajar efektif dan berbagai trik pembelajaran. Meski tidak secepat anak cerdas, anak pintar sering kali dapat sesukses anak cerdas.

3. Tipe Aktif

Ini adalah tipe anak didik yang relatif membutuhkan keahlian dan tenaga ekstra dari guru. Anak seperti ini pada dasarnya cerdas, tetapi kurang memiliki kesiapan mental (kecerdasan emosi).

Anak tipe ini biasanya banyak ulah, banyak kemauan, dan agak egois. Ini terjadi karena ketidakseimbangan kecerdasan pikir dan emosinya, sehingga tersublimasikan ke dalam sikap dan perilaku aktif, atraktif dan semau gue.

Banyak guru dan orang tua salah mempersepsikan mereka sebagai anak nakal. Padahal sangat boleh jadi sebenarnya mereka anak yang terlalu cerdas daya pikirnya. Bahkan tokoh-tokoh besar yang terlahir dengan kondisi seperti mereka.

Anak seperti ini membutuhkan guru yang memiliki kecerdasan emosi tinggi dan memiliki keahlian bidang pembinaan kecerdasan emosi. Keberhasilan membentuk kembali emosi anak merupakan kunci keberhasilan belajar.

4. Tipe Sulit

Ini adalah tipe anak didik yang membutuhkan guru berkeahlian ganda. Ini dikarenakan problem belajar anak terletak pada dua aspek fundamental, yakni kesiapan mental dan kecerdasan sekaligus.

Untungnya, anak tipe ini semakin jarang ditemukan saat ini. Kualitas gizi yang dikonsumsi orang tua saat hamil dan anak semasa kecil makin baik, hingga jumlah anak seperti ini semakin sedikit.

Guru berkeahlian khusus diperlukan agar minat anak terbangun seperti anak tipe pintar. Bila hasil pembelajaran kognitifnya tidak sebaik anak yang lain, maka peluang untuk membuatnya sukses harus digali dari potensi-potensinya yang lain.

Setiap anak memiliki potensi kecerdasannya sendiri. Anak pasti memiliki kelebihan (kecerdasan) di bidang tertentu. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara guru dan wali murid agar potensi anak dapat digali dan dikembangkan lebih optimal.

Dengan Keterbatasan Fisik Mampu Meraih Sukses, Usaha dan Restu Sang Ibu Kuncinya

usaha sabarKeterbatasan fisik bukan penghalang meraih kesuksesan. Paling tidak itulah yang tercermin pada Sugimun, pemilik tiga unit toko elektronik “Cahaya Baru”

Suatu ketika Sugimun pergi ke solo untuk membeli mobil. Ketika akan masuk ke sebuah show room mobil, seorang karyawan menghampirinya dan mengulurkan uang recehan kepadanya. Diperlakukan seperti itu Sugimun segera menukas, “Oh, saya bukan pengemis, Mas. Saya cari mobil.”

Tentu saja si karyawan tersebut kaget dan cepat-cepat masuk ke dalam sambil menanggung malu.

Menurut Sugimun, si karyawan mengira dirinya seorang pengemis karena menggunakan kursi roda, “Waktu itu sopir saya sudah duluan masuk show room,” kenang Sugimun tersenyum.

Lelaki yang lahir tahu 1970, di dusun Mojopuro, Magetan, Jawa Timur ini adalah pemilik toko elektronik “Cahaya Baru” di kota trenggalek dan Magetan, Jawa Timur.

Bagi orang Trenggalek , Magetan dan sekitarnya, nama toko itu sudah tidak asing lagi. “Cahaya Baru” dikenal sebagai toko elektronik yang cukup besar. Omzetnya sudah mencapai 150 juta per bulan.

Sugimun memberi nama tokonya dengan “Cahaya Baru”, dengan dimaksudkan untuk mewakili sebuah harapan baru bagi diri dan keluarganya,

Keberhasilan Sugimun seperti sekarang tidak lepas dari usaha dan doa ibunya. Maklum, selain sejak kecil cacat, Sugimun juga lahir dari keluarga miskin. Saking miskin nya, ia tidak sempat mengenyam pendidikan formal. “Sekolah TK saja enggak pernah,” kenang nya.

Perubahan kehidupan Sugimun berawal pada usia 19 tahun. Ketika itu, seorang aparat desa beberapa orang dari Dinas Sosial datang ke rumahnya. Mereka mengajak Sugimun mengikuti program penyantunan dan rehabilitasi sosial dan penyandang cacat di Panti Sosial Bina Daksa (PSDB) “Suryatama” di kota Bangil, Jawa Timur. Ditempat tersebut Sugimun mengikuti bimbingan fisik, mental, serta pendidikan kejar Paket A.

“Pada awalnya, saya merasa rendah diri karena semua teman saya penyandang cacat memiliki pendidikan formal mulai dari SD, SMP bahkan ada yang lulusan SMA,” kenang nya. Sedangkan dirinya belum mengenal baca tulis.

Namun karena tekadnya untuk bangkit dan tidak ingin bergantung pada orang lain, rasa rendah diri itu dibuangnya jauh-jauh. Di Suryatama, ia belajar keterampilan elektronik seperti radio, sound system, kipas angin, televise, dan lain sebagainya..

Setelah dua tahun mengikuti program pelatihan, Sugimun kembali pulang kampung. Namun ia tidak punya aktivitas di desanya. Akhirnya ia mencoba mencari kerja di tempat usaha servis elektronik. Sayangnya, kebanyakan berujung pada penolakan. “Mungkin mereka menilai saya tidak cukup mampu bekerja dengan baik karena kondisi fisik seperti ini,” kenang nya,

Yang menyedihkan, seringkali ia disangka pengemis saat melamar pekerjaan. Ia baru bisa bekerja tatkala seorang teman di Kediri menerimanya sebagai karyawan sebuah bengkel elektronik. Namun karena suatu alasan, tidak sampai satu tahun, ia memutuskan untuk pulang kampung.

Ia pun mencoba melamar pekerjaan di kota kelahirannya. Lagi-lagi ia kembali mendapatkan penolakan, “Hal ini membawa saya pada kesimpulan bahwa saya harus membuka lapangan pekerjaan untuk bisa bekerja,” katanya.

Berbekal Restu sang Ibu

Dengan kondisi ekonomi yang serba sulit serta pengalaman yang ditolak berkali-kali membuat Sugimun nekad berusaha sendiri. Berbekal restu sang ibu, tahun 1992 ia menjual perhiasan emas milik ibunya senilai Rp. 15.000,-. Uang tersebut sebagian ia pakai untuk menyewa bidak emperan pasar sayur Magetan. Di tempat yang kecil itu, ia membuka usaha jasa servis elektronik dan menjual isi korek api. Dengan perlengkapan seadanya, setiap hari ia melayani pelanggan nya.

Untuk menjalankan usahanya, Sugimun harus berjuang keras. Betapa tidak, jarak perjalanan dari rumah ke tempat usahanya sangatlah jauh. Dari desanya yang terpencil, ia harus berjuang menempuh jarak satu kilometer untuk menuju ke tempat mangkal angkutan umum yang akan membawanya ke kios nya. Belum lagi jarak menuju pasar sayur. Ditambah lagi naik-turun angkutan umum. Bagi orang fisiknya normal, hal itu bukan masalah. Namun bagi Sugimun yang kakinya layuh (lumpuh) akibat polio, terasa berat.

Usahanya itu juga terkadang ramai, terkadang sepi. “Namun, saya tetap yakin Allah Maha Adil, Pengasih dan Pemurah,” katanya.

Dengan penuhketekunan dan kesungguhan, Sugimun berusaha meraih kepercayaan para pelanggan, terutama dalam menepati janji. Ia berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Ia juga tidak pelit menjelaskan kepada pelanggan nya tentang kerusakan dan onderdil yang harus dibutuhkan, termasuk harga dan kualitas onderdil yang bervariasi. “Ternyata dengan cara seperti itu kepercayaan bisa didapatkan,” katanya.

Kiosn ya semakin sering dikunjungi orang. Berarti, kebutuhan akan onderdil elektronik juga meningkat.

Peluang inilah yang ia baca. Ia mulai menyisihkan uangnya untuk modal pembelian onderdil. sedikit demi sedikit ia juga melengkapi kios nya dengan barang elektronik. Karena semakin lama barangnya kian banyak, akhirnya ia memberanikan diri membeli toko. “Alhamdulillah ramai,” jelasnya. Kini ia telah memiliki tiga unit toko.

Meski kini menjadi orang sukses, Sugimun tidak lupa terhadap keluarganya. Sebagai anak tertua dari delapan saudara, ia merasa bertanggung jawab atas kkeberlangsungan pendidikan adik-adik nya. Oleh karenanya, sebagian rezkinya ia gunakan untuk membantu biaya pendidikan tiga orang adik nya, ia mengajak mereka untuk membantu menjalankan toko elektronik nya. Ia berharap agar kelak, saudara-saudaranya yang lain mampu mandiri. “Saya bahagia bisa menyekolahkan ketiga adik saya hingga tamat SMU,” katanya.

Kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia menemukan jodoh nya bernama Nursiam. Perempuan yang ia nikahi itu kini memberinya tiga orang anak.

Selain itu, Sugimun juga membantu orang-orang di daerah sekitarnya. Ia tidak membantu dalam bentuk uang, melainkan berupa pemberian kesempatan pendidikan dan keterampilan. Ia membina beberapa yatim dan anak cacat agar memiliki berbagai keterampilan yang berguna bagi masa depan mereka kelak.

“Pengalaman masa lalu membuat saya sadar, bahwa pendidikan dan keterampilan sangat berguna bagi orang-orang seperti saya,” katanya sambil tersenyum. Ada tiga anak yatim cacat yang kini ia asuh. Tidak banyak memang, tetapi paling tidak, ia telah berbuat sesuatu untuk sesamanya.

Satu hal yang ia syukuri, ia hanya cacat fisik, bukan cacat rohani. Cacat fisik yang ia alami tidak membuatnya jatuh terpuruk mengharap belas kasih orang lain, melainkan sebagai pelecut semangat untuk menggapai cita-cita mandiri. Kini, meski ia secara fisik tidak sempurna, tetapi ia mampu berbuat lebih. Melebihi dari apa yang bisa dilakukan oleh orang normal. “Ini semua rahasia Allah, bahwa orang cacat seperti saya, diberi kemampuan untuk membantu orang lain,” katanya.
Sumber

Rabu, 12 Juni 2013

TIPE-TIPE GURU

Guru adalah instrumen utama sekolah. Kualitas pembelajaran serta profesional tidaknya layanan pendidikan ditentukan oleh kualitas guru.

Perlu disadari bahwa tidak semua guru memiliki kualitas sebagai guru. Faktanya, ada orang yang menjadi guru karena memang memiliki mentalitas guru, tapi ada juga yang hanya karena “nasib” saja yang membuatnya menjadi guru. Kualitas guru dapat ditelusuri berdasarkan:

  • Kompetensinya, yakni keahliannya mengelola pembelajaran, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.
  • Orientasinya pada kepuasan kerja, yakni kemauan dan rasa tanggung jawab untuk membuat siswa berhasil. 
Secara sederhana, tipe guru dapat dipetakan ke dalam bagan berikut. 



1. Tipe Profesional

Ini adalah tipe guru terbaik yang diharapkan ada pada tiap sekolah. Guru ideal dituntut memiliki keahlian (kompetensi) mengajar tinggi, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.

Guru tersebut juga memiliki sikap mental dan moralitas yang penuh tanggung jawab. Dia memiliki hasrat kuat dan rasa tanggung jawab tinggi untuk membuat anak didik berhasil. Di antara ciri-ciri guru tipe ini adalah:

  • Biasa mempersiapkan disain, berbagai instrumen dan bahan pembelajaran tanpa diminta, karena menganggapnya sebagai kebutuhan.
  • Aktif mencari dan mengembang-kan bahan-bahan pembelajaran sendiri.
  • Aktif mencari cara agar seluruh anak didiknya berhasil.
  • Sering menjadikan masalah pembelajaran dan siswa sebagai topik pembicaraan.
  • Aktif mengevaluasi kinerjanya sendiri agar kualitas pembela-jarannya meningkat.
  • Berusaha menjadi contoh dan pembimbing terbaik bagi siswa.
  • Keberhasilan mengajar tinggi. 
  1. Dia malu/tidak puas bila anak didiknya belum berhasil.
  2. Dia terus berusaha mencari cara agar siswanya berhasil mencapai kompetensi. 
  • Lebih suka berkumpul dengan siswa dibanding guru sehingga: 
  1. Mempunyai kedekatan dan pengaruh kuat pada siswa.
  2. Sering menjadi idola siswa. 
2. Tipe Potensial/Pembelajar

Ini tipe guru minimal yang diharapkan setiap sekolah. Mereka guru baru atau lama yang memiliki kemauan dan tanggung jawab tinggi untuk membuat siswanya berhasil, meski kompetensinya belum optimal. Guru tipe ini dicirikan dengan:
  • Menyadari fungsi perencanaan, instrumen dan bahan ajar, tetapi masih kesulitan menyusun dan mengembangkannya.
  • Belum benar-benar percaya diri, tetapi tak segan bertanya/belajar pada sejawat atau atasan bila ada masalah yang belum dia kuasai.
  • Tidak segan bertanya/belajar agar seluruh anak didiknya berhasil.
  • Banyak membahas masalah pembelajaran dan siswa sebagai topik pembicaraan.
  • Suka mengevaluasi kinerja sendiri, dan terbuka pada kritik, saran dan masukan orang lain.
  • Berusaha menjadi contoh dan pembimbing terbaik bagi siswa.
  • Keberhasilan mengajar tinggi. 
  1. Dia malu atau takut bila anak didiknya belum berhasil.
  2. Dia terus berusaha dan tidak berhenti mencari cara agar siswanya berhasil mencapai kompetensi. 
Meski demikian, kadang dia masih gugup bila menghadapi komplain oleh wali murid.
  • Selama jam sekolah lebih suka berkumpul dengan siswa dibanding guru sehingga:
  1. Mempunyai kedekatan dan pengaruh kuat pada siswa.
  2. Potensial jadi idola siswa. 
3. Tipe Sinis

Ini adalah tipe guru yang buruk, tetapi banyak dijumpai di sekolah. Tipe ini memiliki cukup kepercayaan diri karena cukup lama mengajar.

Meski begitu, kualitas pembelajaran-nya tidak cukup baik, karena tipe ini kurang fokus pada keberhasilan siswa. Dia kurang memiliki rasa tanggung jawab, hingga kurang peduli apakah siswanya berhasil atau tidak. Di antara karakteristik guru tipe ini:
  • Meski mampu, dia enggan mempersiapkan instrumen dan bahan pembelajaran, karena menganggap itu sebagai beban.
  • Kompetensinya tidak berkem-bang, karena enggan mencari dan mengembangkan diri.
  • Enggan berusaha agar siswa berhasil, tidak berorientasi pada kepuasan kerja, dan perhitungan. 
  1. Biasa bilang Dibayar berapa? atau Ada tambahan berapa?
  2. Menyikapi tugas sebagai beban kwajiban dan suka menghindari tugas sekolah.
  3. Suka beralasan repot bila imbalan tidak memadai.
  4. Kaya alasan untuk membe-narkan diri sendiri. 
  • Jarang membicarakan masalah pembelajaran dan siswa sebagai topik pembicaraan. 
  1. Fokus perhatiannya bukan pada kualitas kerja.
  2. Akrab dengan pembicaraan negatif, kasak-kusuk dan tidak jarang yang berbau sinisme dan permusuhan. 
  • Tidak peduli pada kinerja sendiri. 
  1. Malas bekerja bila tidak ada atasan atau tidak dimandori.
  2. Hanya aktif bila ada maunya, seperti kalau ada promosi atau takut kena sanksi. 
  • Tidak peduli apakah sikap dan perilakunya layak menjadi contoh bagi siswa atau tidak.
  • Keberhasilan mengajar rendah. 
  1. Keberhasilan siswa/kepuasan wali murid bukan tujuan.
  2. Tidak malu dan tidak peduli meski ada anak didiknya yang belum berhasil.
  3. Hanya bekerja keras bila ada imbalan materi yang sepadan.
  4. Tidak disiplin, tidak sungguh-sungguh dan lebih suka santai dalam mengajar. 
  • Lebih suka berkumpul dengan guru dibanding siswa, sehingga: 
  1. Kalau bukan guru galak pasti nyantai dan cuek pada siswa.
  2. Berusaha dekat dengan siswa bila perlu pengakuan.
  3. Karakter anak didik tidak konstruktif.
  4. Biang gosip di sekolah. 
4. Tipe Drop-Out

Ini adalah tipe guru terburuk, tetapi kadang ada juga sekolah bernasib apes karena punya guru semacam ini. Guru tipe ini tidak punya kemampuan pembelajaran memadai. Dia juga tidak peduli apakah hasil pembelaja-rannya baik atau tidak.

Lebih tragis lagi, dia juga sulit belajar (dhêdêl), sehingga sulit dikembangkan kemampuannya. Singkatnya, tipe ini adalah guru bodoh dan bermental buruk, yang di antara ciri-cirinya:
  • Mengeluh bila diminta menyusun disain dan instrumen pembela-jaran, karena dia tidak menyadari itu sebagai kebutuhan guru.
  • Kompetensi tidak berkembang: 
  1. Keahlian keguruan rendah.
  2. Sulit memahami dan mudah bingung bila dihadapkan pada konsep baru. 
  • Tidak berusaha keras agar siswa berhasil. Selain tidak berorientasi pada kepuasan kerja, dia tidak menyadari kekurangan.
  • Jarang membicarakan pembela-jaran dan siswa sebagai topik pembicaraan, karena: 
  1. Visi pendidikannya lemah.
  2. Tidak berpendirian, mudah terpengaruh orang lain.
  3. Emosional dan kemampuan berfikir rasionalnya rendah.
  4. Kadang mudah tersinggung. 
  • Tidak peduli pada kinerja sendiri. 
  1. Kurang mampu mengajar.
  2. Tidak disiplin.
  3. Kadang perhitungan, tanpa menyadari bahwa itu artinya dia minta agar orang lain menghargai kebodohannya. 
  • Tidak tahu sikap dan perilakunya layak jadi contoh siswa atau tidak.
  • Hasil pembelajaran rendah, tetapi bersikap santai seolah tidak ada masalah, karena: 
  1. Keberhasilan siswa dan kepu-asan wali murid bukan tujuan.
  2. Tidak malu dan tidak peduli meski ada anak didiknya yang belum berhasil.
  3. Hanya bekerja keras bila ada imbalan materi yang sepadan. 
  • Suka berkumpul baik dengan guru maupun siswa pada jam sekolah. 
  1. Lebih mudah akrab dengan guru sinis dari pada guru potensial atau profesional.
  2. Mudah terpengaruh dan menjadi pengukut setia guru tipe sinis.
  3. Perilaku anak didik tidak konstruktif, karena tidak punya pretensi mendidik.  
Tipe manakah Anda?

BAHASA GURU DALAM PENGUASAAN KELAS

Penguasaan kelas yang baik merupakan kebutuhan pokok dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan penguasaan kelas merupakan modal dasar dalam mewujudkan pembelajaran efektif. Guru juga akan lebih mudah melaksanakan tugasnya bila berhasil menguasai kelas dengan baik.

Kunci utama penguasaan kelas yang baik adalah komunikasi efektif, yaitu kemampuan guru dalam mempengaruhi siswa melalui sikap dan ucapan yang mampu mensugesti siswa dan membuatnya bersikap dan melakukan sesuatu sesuai instruksi guru. Kemampuan komunikasi efektif bukan hanya berarti kepiawaian merangkai kata-kata atau ucapan (bahasa verbal), melainkan juga mencakup sikap dan tindak-tanduk guru (bahasa non-verbal).

Oleh karena itu penguasaan kelas yang baik membutuhkan kemampuan berkomunikasi efektif, baik berupa komunikasi verbal maupun non-verbal. Komunikasi verbal berarti rangkaian kata-kata yang secara efektif dapat dipahami dan diikuti oleh siswa, sedangkan komunikasi non-verbal merupakan serangkaian sikap yang membuat orang lain percaya, menghormati dan bersedia mendengar dan mengikuti.

SIKAP GURU

Penerapan komunikasi efektif dalam rangka penguasaan kelas dapat dilakukan dengan mengedepankan sikap atau bahasa non-verbal berikut.

1. Wibawa
Kewibawaan merupakan sifat pembawaan pada sebagian orang, tetapi dapat berkembang seiring pengalaman, kematangan mental dan kesediaan untuk belajar. Kewibawaan dapat dibangun dengan mengembangkan sikap percaya diri, penggunaan suara bertekanan dan pandangan mata yang berwibawa.

a. Percaya diri
Kepercayaan diri membuat seseorang mampu memancarkan kekuatan mental sehingga dapat mempengaruhi orang lain. Kepercayaan diri terbangun oleh kekuatan pikiran berupa keyakinan pada diri sendiri, pada kemampuan yang dimiliki, serta kemampuan untuk melakukan sesuatu.

Guru dapat menguasai kelas pertama-tama dengan membangun kepercayaan diri yang baik. Kepercayaan diri tersebut dibangun dengan cara:

  1. Menempatkan diri sebagai guru yang harus mampu mengatasi siswa,
  2. Meyakinkan diri sendiri dan menghilangkan keraguan bahwa dia mampu mengatasi keadaan yang dihadapi, mampu mengendalikan kelasnya dengan baik. 
b. Suara bertekanan
Setiap orang memiliki gaya berbeda-beda dalam bersuara. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar, karena suara sekaligus menjadi pembeda orang satu dari yang lain. Ada orang yang bersuara tenor yang menggema atau sopran yang terdengar melengking. Perbedaan tersebut tidak menjadikan suara satu lebih efektif dibanding yang lain, sebab efektivitas komuninasi dengan suara tipe apapun ditentukan oleh isi pembicaraan dan kadar tekanannya.

Lingkungan keluarga merupakan faktor umum yang menentukan gaya bicara seseorang. Orang dari keluarga yang kurang percaya diri biasanya berbicara dengan tekanan suara ringan, datar atau bahkan lemah. Sebaliknya, orang dari keluarga yang terlatih untuk lebih percaya diri akan berbicara dengan tekanan suara lebih berat.

Status guru seharusnya mengubah nada suara seseorang menjadi suara bertekanan, yaitu suara yang memiliki kesan kuat, lebih berat dan tegas sehingga memiliki nilai sugestif atau harus didengar. Suara bertekanan tidak selalu berarti keras, apalagi kasar, tetapi suara yang mencerminkan kehendak yang kuat dari seseorang. 

c. Pandangan mata
Banyak orang meyakini mata menunjukkan keadaan jiwa seseorang. Sedih, senang, bahagia, marah, suka, tidak suka, atau amarah selalu tercermin jelas pada mata. Demikian halnya dengan kepercayaan diri, ketegasan atau kelemahan jiwa seseorang juga tergambar pada bagaimana pandangan matanya.Mata juga merupakan alat komunikasi non verbal yang memungkinkan seseorang mengirimkan pesan tertentu pada orang lain.

Sikap guru dalam penguasaan kelas perlu ditunjang dengan ekspresi pandangan mata yang mencerminkan percaya diri dan terfokus pada seluruh siswa. Caranya, saat berbicara di depan kelas, guru melakukan kontak mata, yaitu mengarahkan focus padangan matanya pada mata siswa satu-persatu. Guru berkomunikasi tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan matanya.

Sekalipun tekniknya sederhana, tetapi ini bukan hal mudah untuk dilakukan dilakukan. Nada bicara mungkin bisa diubah keras, tetapi pandangan mata tidak mudah diubah kecuali seiring kondisi mental guru.

2. Simpatik
Simpati merupakan sikap yang menunjukkan adanya sambung rasa, ikatan batin, dan kepedulian pada orang lain. Sikap simpati ditandai dengan adanya empati, perhatian penuh, kepedulian, dan kesediaan untuk mendengarkan. Setiap anak pada dasarnya suka diperhatikan, karena perhatian merupakan satu bentuk penghargaan. Penguasaan kelas yang baik menuntut guru mampu bersikap yang membuat siswa berharga dan diperhatikan.

Sikap simpati dalam penguasaan kelas ditunjukkan dengan menyebut nama siswa dengan penuh respek, mengarahkan fokus perhatian pada siswa, dan penggunaan ungkapan-ungkapan yang bernada positif dan menghormati. Ungkapan-ungkapan bernada keras dan intimidasi sama sekali bertolakbelakang dengan sikap simpatik. 

3. Sugestif
Komunikasi dalam penguasaan kelas ditujukan dalam rangka mempengaruhi peserta didik. Bentuk komunikasi efektif yang dibutuhkan dalam hal ini adalah komunikasi yang sugestif, melalui ungkapan dan nada bicara yang mampu mempengaruhi siswa secara positif.
Ungkapan-ungkapan sugestif dapat dilakukan dalam bentuk sikap yang meyakinkan dan memberikan daya kejut yang baik. Di antara bentuknya adalah penggunaan yel-yel positif secara berulang-ulang, penekanan dan pengulangan kalimat dengan intonasi menarik.
Ungkapan dengan nada sugestif akan jauh lebih efektif bialamana dinyatakan dengan penuh percaya diri. Orang lain akan meyakini ucapan seseorang bilamana berbicara dinyatakan dengan penuh yakin dan percaya.

BAHASA GURU

Banyak guru mengumbar kata-kata untuk membuat anak didik mengikuti instruksi. Bahkan tidak jarang guru mengomel panjang lebar ketika instruksinya tidak didengar dan dipatuhi oleh siswa-siswanya. Cara itu tentu saja tidak efektif, di samping membuang energi. Siswa bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dikehendaki oleh gurunya.

Oleh karena itu, komunikasi efektif dalam rangka penguasaan kelas perlu dilengkapi dengan menggunakan pilihan kata atau bahasa verbal yang efektif. Pada prinsipnya bahasa yang perlu dipakai oleh guru dalam pengendalian kelas mirip dengan militer, yaitu singkat, jelas, dan instruktif.

1. Singkat dan jelas
Sebaiknya guru menggunakan ungkapan-ungkapan pendek yang mudah dimengerti oleh siswa dan mudah dilaksanakan. Semakin pendek dan jelas ungkapan yang digunakan akan semakin mudah siswa melaksanakan. Semakin panjang ungkapan digunakan, maka akan semakin kabur pesan yang diperoleh siswa.

2. Instruktif
Banyak guru yang masih suka menggunakan bahasa himbauan dalam pengelolaan kelas. Akibatnya, banyak anak didik yang tidak memperhatikan. Pelajaran bahasa Indonesia yang menekankan bahasa efektif sering kali terlupakan saat guru melaksanakan pembelajaran, padahal itulah salah satu gunanya pelajaran ini diberikan di sekolah.

Bahasa dalam penguasaan kelas harus bersifat instruktif. Bahasa instruktif adalah ungkapan atau pernyataan sederhana bernada perintah yang tegas, misalnya: “Semua berdiri dalam hitungan lima! Satu, dua, ….” Bilamana siswa belum memperhatikan, guru mengulanginya dengan perintah yang sama, yel, energizer atau instruksi apapun yang membuat siswa berbuat sesuai instruksi.

INDIKATOR PENGUASAAN KELAS

Penguasaan kelas adalah kemampuan guru untuk membuat sekelompok siswa mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti instruksinya. Ketrampilan ini memungkinkan guru mengarahkan, menggerakkan dan mengontrol siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pengertian kelas dalam hal ini tidak selalu berkonotasi ruang, tetapi sekelompok siswa dalam suatu kegiatan baik di dalam ruang maupun luar ruang kelas. 

Pembelajaran hanya akan berlangsung efektif bilamana guru menguasai ketrampilan penguasaan kelas. Penguasaan kelas yang baik memungkinkan guru menyampaikan materi atau membawa siswa mengikuti kegiatan pembelajaran atau kegiatan sekolah lainnya dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan. 

Program studi keguruan pada umumnya tidak menjadikan penguasaan kelas sebagai disiplin ilmu atau bidang studi tersendiri. Padahal penguasaan kelas merupakan ketrampilan pembelajaran paling dasar dan pertama-tama perlu dikuasai oleh setiap pengajar. Pendidikan keguruan pada umumnya hanya mengajarkan didaktik-metodik yang bersifat teknis dan prosedural, berupa pendekatan, strategi dan metode pembelajaran.

Ketrampilan penguasaan kelas dipandang melekat pada bidang-bidang studi tersebut, meski faktanya tidak selalu demikian. Pendekatan, strategi dan metode pembelajaran baru dapat diterapkan dalam situasi kelas yang terkendali, dikuasai oleh guru. Penerapan pendekatan, metode dan strategi pembelajaran justeru sering kali mengalami hambatan karena kegagalan guru dalam menguasai kelas.

Penguasaan kelas oleh guru dapat dicermati berdasarkan beberapa indikator. Di antara tanda-tanda penguasaan kelas yang baik oleh guru adalah:

1. Pembelajaran berlangsung efektif.
Ini merupakan pertanda utama penguasaan kelas. Keberhasilan pembelajaran dengan sendirinya menunjukkan penguasaan kelas yang baik di samping penguasaan bahan dan pendekatan pembelajaran. Guru tidak mungkin mampu membuat siswa berhasil dalam pembelajaran bilamana kurang menguasai kelas.

2. Siswa aktif.
Penguasaan kelas juga ditandai dengan sikap siswa terhadap kegiatan atau pembelajaran yang tengah dikendalikan oleh guru. Penguasaan kelas yang baik memungkinkan guru membawa siswa pada kondisi yang diinginkan.

3. Guru dihormati, menjadi panutan atau idola siswa.
Guru yang menguasai kelas dengan baik berarti mampu menempatkan dirinya sebagai sosok yang dihormati dan menjadi panutan siswa. Kemampuan mengendalikan kelas membuat guru sebagai orang terpercaya dan dihormati oleh siswanya. Kesediaan siswa mendengar, memperhatikan dan mengikuti instruksi guru bukan karena rasa takut.

Sebaliknya, kurangnya penguasaan kelas oleh guru dapat dicermati berdasarkan beberapa indicator, di antaranya:

1. Pembelajaran kurang efektif.
Ini merupakan salah satu pertanda awal penguasaan kelas yang rendah oleh guru. Efektivitas pembelajaran juga ditentukan oleh penguasaan materi dan pendekatan pembelajaran. Guru mungkin saja menguasai kelas dengan baik, tetapi tidak mampu menyampaikan materi pelajaran dengan baik.

2. Ungkapan atau alasan apologetik.
Tanda paling jelas dari rendahnya penguasaan kelas adalah munculnya ungkapan-ungkapan apologetik, yaitu ungkapan yang bernada “menyalahkan” siswa. Ketika pembelajaran kurang berhasil, banyak guru yang bilang, “Ini karena anak-anak kurang memperhatikan, tidak mau belajar, dan sebagainya”

Guru yang demikian menujukkan bahwa dia tidak menyadari bahwa kemampuannya dalam penguasaan kelas masih rendah. Guru yang memahami hakekat belajar tidak akan mengatakan hal-hal semacam itu, sebab guru merupakan kunci penentu keberhasilan pembelajaran. Profesionalitas guru ditandai dengan kemampuannya mengatasi keadaan siswa.

3. Guru ditakuti atau tidak dihargai oleh siswa.
Penguasaan kelas yang rendah ditandai dengan sikap siswa yang kurang memperhatikan instruksi guru, bahkan pada tingkat tertentu bersikap meremehkan. Siswa hanya mengikuti guru karena takut atau keterpaksaan. Pertanda paling jelasnya adalah siswa hanya diam bila guru sudah bernada keras. Ketundukan siswa yang terjadi karena takut hanya terjadi pada saat siswa merasa tertekan dan terancam oleh sikap dan ucapan guru.

Indikatornya sederhana, yaitu bila siswa baru diam setelah guru membentak atau bersuara tinggi. Itu merupakan pertanda bahwa siswa hanya takut, dan bukan hormat pada guru. Kesediaan siswa diam hanyalah kesadaran sementara, karena di bawah tekanan.
Oleh karena itu, selain berbekal ijasah dan kemampuan akademik seyogyanya setiap guru menyadari seberapa kemampuannya dalam menguasai kelas, bersedia dan membuka diri untuk selalu belajar meningkatkan kemampuannya.

POLA-POLA PENGUASAAN KELAS

 Kemampuan guru menguasai kelas berbeda-beda. Ada guru yang mampu mengendalikan siswa dalam kelompok kecil dan besar sekaligus. Ada yang hanya mampu mengendalikan kelompok kecil saja, tetapi tidak jarang yang sudah kesulitan mengendalikan kelompok kecil sekalipun. Hal ini dikarenakan ketrampilan ini lebih sering berkembang berdasarkan pembawaan kepribadian dan kebiasaan guru dalam kehidupan sehari-hari. 

Pembawaan kepribadian dan kebiasaan tersebut berupa kewibawaan yang bersifat bawaan, tensi emosional dan kemampuan berkomunikasi. Karena itu, pola-pola penguasaan kelas dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu berdasarkan kewibawaan, tensi emosional dan komunikasi efektif.

1. Mengandalkan Kewibawaan

Guru yang berpembawaan wibawa pada umumnya lebih mudah mengendalikan kelas, karena kehadirannya di tengah siswa sudah menjadi pusat perhatian, didengar, diperhatikan dan diikuti instruksinya. Guru yang kurang berwibawa memerlukan usaha ekstra agar siswa memberikan respon sebagaimana guru yang kurang berwibawa. Guru demikian membutuhkan waktu untuk belajar agar dihargai, diperhatikan dan diikuti instruksinya oleh siswa. 

2. Mengandalkan Tensi Emosional 

Pola ini banyak dilakukan oleh guru yang belum profesional dan paling umum menjadi andalan guru dalam menguasai kelas. Penguasaan kelas pola ini ditandai dengan munculnya ucapan, sikap dan kadang tindakan kekerasan, berupa bentakan, ancaman (intimidasi), ungkapan bernada tinggi, hardikan, dan sikap-sikap serta tindakan bernada emosional lainnya.
Profesionalitas guru dapat dilihat dari seberapa sering guru menggunakan kekerasan dalam mengendalikan kelas. Guru professional dengan sendirinya akan menghindari penggunaan kekerasan baik yang bersifat verbal maupun fisik. Sebaliknya, penggunaan kekerasan apapun bentuknya menunjukkan kemampuan yang belum memadai dalam berkomunikasi dan mengatasi persoalan.

3. Mengandalkan Komunikasi Efektif

Pola ini merupakan salah satu indikator guru profesional. Penguasaan kelas pola ini ditandai dengan mengemukanya ungkapan-ungkapan simpatik, sugestif dan menarik perhatian yang membuat siswa mendengar, memperhatikan dan mengikuti instruksi guru.

Bagi sebagian besar orang, menerapkan komunikasi efektif bukan hal mudah, terutama karena faktor kebiasaan dan pengalaman belajar yang melekat di bawah sadarnya. Kemampuan komunikasi yang efektif sebagai wahana penguasaan kelas dapat dipelajari bila guru bersedia mengubah pola pikir, berlatih dan membiasakan diri dengan pendekatan baru dalam pengendalian kelas. 

15 Fakta Dari Nabi Kita Nabi MUHAMMAD S.A.W


Ternyata Rasul Muhammad SAW sebagai pemimpin kaum muslim, hidupnya begitu sederhana, padahal andai beliau mau kemewahan dunia, tentu tidak sulit baginya. Rasul, engkau memang Usawatun Hasanah bagi kami semua. Engkau teladan teramat agung bagi kehidupan kami, yang sering terlena dalam kelezatan dunia.

Berikut 15 Fakta Dari Nabi Kita Nabi MUHAMMAD S.A.W 
  1. Nabi SAW tidak melepaskan tangannya saat berjabat sebelum mitranya melepaskan terlebih dahulu.
  2. Nabi SAW tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan sahabat-sahabatnya.
  3. Nabi SAW menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya.
  4. Nabi SAW kalau berbicara sesekali menggigit bibir tanda berpikir, menepuk telapak kiri dengan jari telunjuk.
  5. Cetusan yang paling buruk dalam percakapan Nabi SAW; “Apa yang terjadi pada orang itu? Semoga dahinya berlumur lumpur.”
  6. Harta Nabi SAW yang paling mewah adalah sepasang alas kaki berwarna kuning, hadiah dari Negus, penguasa Abissinia.
  7. Nabi SAW tinggal di pondok kecil beratap jerami yang kamar-kamarnya dipisahkan oleh batang-batang pohon yang direkat dengan lumpur bercampur kapur.
  8. Nabi SAW sendiri yang menyalakan api, mengepel lantai, memerah susu dan menjahit alas kakinya yang putus.
  9. Santapan Nabi SAW yang paling mewah, meski jarang dinikmatinya, adalah madu, susu dan lengan kambing.
  10. Nabi SAW gagah berani, namun memiliki senyum yang sangat memikat dan malu mempermalukan orang.
  11. Nabi SAW menghimpun dalam dirinya 4 tipe manusia secara sempurna, pekerja, pemikir, pengabdi Allah dan seniman.
  12. Nabi SAW selalu memilih yang termudah, selama halal, bila berhadapan dengan pilihan.
  13. Senyumnya menyejukkan, dilukiskan sebagai butir salju di oase.
  14. Beliau tidak pernah sakit gigi. Beliau bersiwak tak kurang 10 kali sehari.
  15. Warna kulit beliau putih kemerah-merahan. Reff

Lima Sifat Menjadi Mukmin yang Sebenarnya

Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu yang istimewa, yaitu bulan suci Ramadhan. Untuk itu saya sampaikan lima sifat agar nanti kita mempunyai kemampuan menghadapi Ramadhan.Semuanya terdapat pada Al-Qur’an surah Al Anfaal : 2-4. 

Pertama, kalau diingatkan kepada Allah, bergetar hatinya. Imam Ibnu Katsir menjelaskan ; dzukirallah beda dengan dzakarallah. Dzakarallah (menyebut nama Allah), sedang dzukirallah (diingatkan kepada Allah), dengan kalimat Ittaqillah (bertakwalah kepada Allah). Jadi tanda seorang yang benar-benar beriman kalau diingatkan untuk bertaqwa kepada Allah, maka terasa kekurangannya, terasa kelemahannya, menyadari kebodohannya, merasa banyak dosanya, hingga bergetarlah hatinya. Tetapi kebanyakan manusia sekarang kalau diingatkan untuk bertaqwa kepada Allah malah bertanya ; salah saya apa? dosa saya apa?. Memangnya apa kalau bertaqwa itu harus salah?. Allah SWT mewasiatkan taqwa kepada para nabi, para Rasul dan semua manusia. Dan wasiyat ini lebih utama dan lebih mulia. Tidak ada yang lebih mulia daripada wasiat taqwa.

Kedua, saat membaca atau mendengar Al-Qur’an, maka bertambah imannya. Ini tanda kita istiqamah. Sebentar lagi masuk bulan puasa, maka inilah kesempatan kita mewujudkan bahwa kita benar-benar beriman. Membaca Al-Qur’an walaupun tidak mengerti artinya tetap mendapat pahala. Membaca Al-Qur’an masih terbata-bata, masih banyak salahnya, tetapi dia mau berusaha,insya Allah kesalahannya menjadi pahala, bukan dosa. Semoga masyarakat kita menjadi masyarakat yang gemar membaca Al-Qur’an.

Ketiga, tawakkal kepada Allah. Setiap akan keluar dari rumah jangan lupa berdoa : Bismillah tawakkaltu alallah laa haula walaa quwwata illa billah. Maka kita akan mendapat tiga kebaikan yakni Hudaiita (dapat petunjuk Allah), wa wuqiita (dijaga oleh Allah), wa kufiita (diberi kecukupan oleh Allah) dalam mencari nafkah dan rizki. Orang yang keluar dan membaca ini insyaa Allah tidak akan mendapat kecelakaan, tidak akan diganggu oleh siapapun, karena Allah yang menjaga. Kita berusaha mencari rizki dengan tenaga, tetapi kalbu kita tetap tertambat kepada Allah SWT.

Keempat, menegakkan shalat. Rasulullah SAW berwashiyat pada saat nafas terakhir dengan mengingatkan kepada umatnya ; ummatii ash shalaah, ash shalaah (umatku ingatlah shalat) sampai tiga kali hingga beliau wafat. Ini menunjukkan betapa shalat itu sangat penting. Tidak bisa ditinggalkan dengan alasan apapun, kecuali kalau murtad atau hilang ingatannya.

Kelima, infaq sebagian rizki di jalan Allah. Allah tidak memerintahkan menginfakkan semua rizki, tetapi hanya sebagian. Artinya jika kebutuhan pokok sudah terpenuhi, kemudian masih sisa, maka sedekahkanlah yang sebagian itu. Ada sebuah hadist shahih yang menerangkan bahwa sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, akan mencegah kita dari kematian buruk. Di riwayat yang lain, dapat mencegah dari kematian mendadak, menjauhkan dari bala’ dan penyakit yang parah. Diselamatkan oleh Allah dari siksaan kubur. Dimurahkan rizki dan dipanjangkan umurnya. Allah Maha Kaya, Dia tidak perlu dengan sedekah kita, tetapi Allah hanya ingin melihat hambaNya mau dan mampu menunjukkan ikhlasnya atau tidak.

Kalau sudah mampu melaksanakan lima sifat tersebut, maka ayat selanjutnya menyatakan bahwa mereka itulah mukmin yang sebenarnya. Sebaliknya jika seorang mukmin yang tidak mempunyai kelima sifat tersebut, maka mereka belum dikatakan mukmin yang sebenarnya. Mukmin yang sebenarnya akan mendapat derajat yang tinggi, diampuni segala kesalahannya, dan dilapangkan rizki dan tentu kan masuk ke surgaNya.