aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Minggu, 14 Juli 2013

Ganjar Satrio Raih Emas di World Skill Competition 2013 dengan Ketelitian

Sorak sorai lagu Indonesia Raya nyaring terdengar di salah satu sudut terminal kedatangan luar negeri, Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, kemarin (9/7). Warna merah putih pun tampak mendominasi dari kejauhan, seiring dengan kedatangan rombongan yang juga memakai atribut merah putih. Rombongan itu adalah para siswa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang baru saja tiba dari Leipzig, Jerman, seusai mengikuti kompetisi internasional World Skill Championship (WSC). 

Dengan senyum mengembang, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (SesDitjen Dikmen Kemdikbud) Mustaghfirin Amin menghampiri ke-32 siswa SMK itu. Mustaghfirin mengalungkan sebuah karangan bunga kepada salah seorang siswa yang adalah peraih medali emas bidang Graphic Design Technology WSC. Dia adalah Ganjar Satrio. Kemudian, pengalungan bunga pun dilakukan kepada Andrie Safargi, peraih medali perak bidang Prototype Modeling. Diikuti, pengalungan bunga terhadap delapan siswa peraihMedalion for Excellence.

Ganjar Satrio merupakan siswa lulusan SMK Negeri 3 Kasian, Bantul. Pengenalannya terhadap dunia desain saat sekolah menengah pertama (SMP) membawa dia terhadap kecintaan dunia desain. Ketika diwawancarai, Ganjar dengan antusias menceritakan pengalamannya selama mengikuti kompetisi.

Anak kedua dari dua bersaudara ini menjelaskan terdapat empat modul yang harus dikerjakan selama empat hari. Cakupan modul adalahpackaging, majalah, editorial, dan advertising. Adapun waktu pengerjaan selama lima jam, untuk masing-masing modul tersebut.

Secara tersirat, Ganjar mengungkapkan pentingnya kesiapan mental yang dimiliki saat mengikuti kompetisi ini. Ganjar mengakui tidak memiliki bayangan apapun terhadap soal yang akan dikerjakan. “Saat mendapatkan modul, kita memang diberikan lima jam waktu pengerjaan, tapi hanya 10 menit untuk membaca soal, 15 menit untuk mendiskusikan bersama pembimbing,” jelasnya. Dia menambahkan, “Sisanya kita yang mengerjakan sendiri,” katanya.

Menurut Ganjar, indikator keberhasilan tiap peserta adalah adanya kesesuaian hasil pengerjaan modul peserta, dengan permintaan soal dalam modul. Dia mencontohkan, terdapat permintaan untuk mengerjakan kemasan teh dengan tema mediation, happiness, dan relaxation pada salah satu modul. Untuk modul tersebut, Ganjar memvisualisasikan dengan warna-warna tertentu. “Untuk mediation teapakai warna biru, kalau ga salah happiness itu kita pakai warna orange, dan relaxation pakai warna ungu,” ujarnya.

Pada saat pengerjaan modul majalah, Ganjar diminta untuk dapat memvisualisasikan cover majalah bisnis. “Disitu saya pakai desain dewasa, simple, yang mewujudkan bisnis,” ujarnya.

“Terus terang saya tidak yakin menang, karena saingannya semua berat, tapi yang saya lihat ketelitian sangat diperhatikan, mungkin itu keunggulan saya makanya mendapat emas,” beber Ganjar.

Ganjar sangat berharap dapat tetap berkarya di dunia desain grafis. "Saya mau ciptakan emas-emas lain bagi adik-adik selanjutnya, mau kuliah di luar biar ilmu di luar bisa dibagi disini," tutur Ganjar.

Munafik, Manusia Penuh Rekayasa

Tanda orang munafik ada tiga, apabila seseorang diberi amanat, ia khianat; apabila berbicara, ia dusta; apabila berjanji, ia tidak menepatinya; dan apabila berdebat, ia akan berbuat curang. (HR. Mutafaq’alaih)

Sesungguhnya orang munafik adalah orang yang penuh dengan kepalsuan, penuh dengan rekayasa dan lebih sibuk membangun topeng. Sedangkan seorang mukmin hidupnya asli, tidak ada rekayasa, karena semua kebohongan itu tidak diperlukan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Allah tidak memerlukan kepalsuan itu. Allah yang Maha Memiliki segalanya. Seorang mukmin seyogyanya bersih perbuatanya. Tidak terlalu banyak memikirkan pandangan orang lain, yang terpenting dalam pandangan Allah saja. Hidupnya apa adanya.

Orang munafik itu berbahaya, karena ia sesungguhnya orang musyrik hatinya, tapi lahiriahnya menampilkan orang beriman, seperti Abdullah bin Ubay. Orang munafik pun bisa dilihat dari perilakunya sehari-hari. Semua perbuatannya mencerminkan tidak ingin dekat dengan Allah, tidak memakai hati, melainkan agar dinilai orang lain. Sebisa mungkin orang munafik akan berusaha keras untuk benar-benar dengan akal-akalan melakukan apa pun di hadapan orang lain, seperti ingin berwibawa. Sehingga selama ia berbicara dan berbuat, fokusnya hanya untuk mengatur kewibawaannya, tidak melihat hati.

Orang munafik ketika berkata seringkali ditambah-tambah dengan kebohongan. Tidak sesuai antara keterangan dan kenyataannya. Bahkan beda antara mulut dan hatinya. Ia tidak bisa dipegang pembicaraannya. Dia berjanji bukan berniat akan ditepati, melainkan untuk keinginan sesuatu dari orang lain. Bagi yang berniat menepati janji, ketika berjanji berarti ia mengunci untuk ditagih yang membuatnya, sedangkan bagi orang munafik, janjinya untuk sekadar agar orang lain percaya atau senang padanya. Makanya ia mudah mengeluarkan janji-janjinya. Dalam hal amanah ia tidak mempedulikan amanah dari Allah, melainkan lebih mengutamakan gayanya daripada hakikat dari amanah yang dipikulnya.

Dalam aspek ibadah pun seorang munafik bisa terdeteksi. Dalam berdoa misalnya, mulut berdoa tapi hati tidak. Benarkah hatinya ingin mendekat kepada Allah? Allah mengetahui semua kebohongan itu, Allah tidak bisa di bohongi. Karena Allah mengetahui lubuk hati terdalam. Apakah ingin diketahui, dilihat, ataukah diperlakukan spesial.

Keinginan-keinginan tersebut semestinya lepas dari makhluk, barulah akan tenang hati ini. Kita tidak memerlukan pengakuan orang, yang penting Allah saja. Jangan sampai kita menggunakan nama Allah untuk komoditas agar terlihat shaleh. Sekilas mungkin orang akan terkecoh oleh kepalsuan, sedangkan Allah tidak bisa dikelabui, tetapi Allah Maha Mengetahui.

Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. (QS Al-Anbiya:110)

Sesungguhnya segala perbuatan yang kita lakukan akan dihisab semuanya. Berbahagialah bagi siapa pun yang terbebas dari kemusyrikan dan kemunafikan. Sehalus apa pun bersih hidupnya. Maka dibuat nyaman hatinya oleh Allah. Lepasnya hati dari selain Allah. Lillaahi ta’ala.

Apa yang menyebabkan orang cenderung munafik? Karena hati kita cenderung musyrik, menganggap ada sesuatu selain Allah SWT yang bisa memberi manfaat dan mudharat. Yang bersih hatinya ia akan terbebas dari sifat kemunafikan. Akhlak jelek karena hatinya busuk, dan hati busuk karena tauhidnya buruk. Akhlak jadi bagus, tauhidnya pun harus bagus.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS An-Nisaa : 142)


Allah tidak bisa dibohongi dengan cara apa pun, karena Dia mengetahui lubuk hati yang dalam. Hati ini harus lepas dari makhluk.

Dengan demikian, dari paparan di atas, orang munafik itu paling dibenci Allah SWT. Apalagi bila ilmu agamanya makin banyak sedangkan ia masih munafik, tentu kebencian Allah juga akan lebih daripada yang lainnya.

Pejuang-Pejuang Al-Haq yang Berakhir Tragis

Sejarah yang terus berulang. Pergumulan antara Al-Haq dan Al-Bathil, tak pernah berhenti dan tak berganti. Yang berubah hanya pelaku. Substansi sama. Dan terus menerus akan berlangsung dimuka bumi ini.
Tak satu pun pemimpin Muslim yang berhasil menjadi top leader di suatu negara, lalu ia berusaha melakukan reformasi sejati dan perbaikan substansial, melainkan ia akan dihadapkan pada Kudeta-Penjara-hingga pembunuhan.
Sejarah telah mencatat nama-nama yang hingga kini melegenda:
1. Sultan Abdul Hamid II.
Ketika ia berusaha tegar menolak rayuan dan iming-iming harta dari Zionis Yahudi, agar menyediakan tanah Palestina bagi entitas Yahudi. Ketika ia berusaha mendirikan Liga Islami dan melakukan perbaikan-perbaikan untuk melawan ekspansi pasukan Salib terhadap dunia Islam, ia dihadapkan dengan konspirasi dan pengkhianatan tingkat tinggi dari seorang Yahudi Dunama yang bernama Mustafa Kemal At-Taturk dibantu oleh beberapa negara yang tak ingin Islam kembali jaya.
Nasib yang dialami Sultan Abdul Hamid II sangat tragis. Ia hidup dalam kurungan rumah. Diperlakukan penuh hina dina. Bahkan media massa saat itu, menjadi corong pembusukan karakter sang Sultan. Hingga rakyat yang cinta menjadi benci, malah melaknat Sultan.
2. PM Turki Manderes.
Menang dalam pemilu dengan suara mayoritas. Ia putuskan untuk mengembalikan Turki ke pangkuan Islam. Adzan dikembalikan ke dalam B. Arab. Ia pun mengunjungi negara-negara Teluk. Kemudian secara sembunyi-sembunyi menunaikan ibadah haji. Tak lama kemudian, ia dikudeta dan dihukum gantung sebagai syahid.
3. Raja Faishal bin Abdul Aziz.
Sejarah telah mencatatnya dengan tinta emas. Beliau memerangi Isral dan Barat. Bahkan impian pertama beliau adalah, hilangnya Israel dari dunia. Cita-cita dan tindakan inilah yang membuat AS geram. Hingga AS memanfaatkan anggota kerajaan Saudi yang tinggal di AS, untuk menjadi eksekutor pengeboman terhadap Raja Faishal.
4. PM Turki Ir. Necmettin Erbakan.
Ia terang-terangan menunjukkan jati diri sebagai muslim dan Kepala Pemerintahan Islam. Ia aktif mempelopori pendirian D-8, yaitu Asosiasi Negara-negara Islam dalam rangka mendongkrak kemajuan eknomi di dunia islam. Tak lama berselang, militer yang setia kepada paham sekuler, langsung mengkudetanya untuk kemudian memenjarakan seumur hidup.
5. DR. Muhammad Moursi, Al-Hafizh.
Ia bekerja siang malam agar Mesir menjadi negara maju, tanpa menyingkirkan citra Islamnya. Mesir yang independen secara militer, industri, pangan, bahkan kebutuhan kendaraan. Nasibnya pun tak lebih baik. Hanya 1 tahun berkuasa, ia disingkirkan militer atas restu AS.
Mereka telah mencatatkan diri dalam sejarah Islam. Perjuangan menegakkan Islam dan syariatnya, jika serius dan nyata, pasti akan dihadapkan pada kudeta-penjara-bahkan kematian. Namun jika hanya sebatas mengibar-ngibarkan bendera, atau teriak-teriak, AS-Barat-Israel akan membiarkan bahkan jika perlu memberikan fasilitas. Reff  

Mengikis Korupsi Dalam Islam

Korupsi, adalah masalah yang tidak asing bagi bangsa Indonesia. Karena hampir setiap hari berita-berita menayangkan tindak pidana ini. Pada dasarnya korupsi, di samping dilarang negara, juga dilarang oleh agama. Maka, orang yang melakukan korupsi, berarti melanggar ajaran agama sekaligus melanggar tatanan kehidupan bernegara. Apa penyebab dan pemicu terjadinya korupsi ini ?

Pertama, karena ada kesempatan. Karena ada kesempatan inilah kemudian si koruptor bisa merekayasa, memanipulasi data, mencari celah untuk menyelewengkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya.

Kedua, tekanan. Baik tekanan dari diri sendiri, ambisi untuk memiliki harta yang banyak. Tekanan dari keluarga yang ingin memiliki harta benda banyak, agar keluarganya terpandang, bergengsi. Bisa juga tekanan itu berasal dari jenjang struktural di atasnya. Karena ditekan oleh atasannya yang tanpa mampu dia hindarkan, maka dapat pula terjadinya korupsi.

Ketiga, rasionalisism (kebiasaan). Kita ketahui, bahwa tidak hanya satu instansi saja yang korupsi, tetapi sudah marak di instansi manapun terjadi kosupsi di negeri ini. Seolah sudah menjadi kewajaran, seolah sudah menjadi kebiasaan. Akibatnya, orang yang korupsi sudah tidak malu lagi, sehingga mengakibatkan korupsi merajalela karena dianggap wajar, dianggap biasa.

Terkait kondisi yang sedemikian parahnya itu, mungkin perlu kita renungkan sabda Rasulullah SAW : “Tidak akan mencuri ketika dia beriman, dan di saat dia mencuri imannya lepas. Dan tidak pula orang itu yang berzina ketika dia beriman, dan di saat berzina imannya lepas." 


Karena itulah Islam tidak menghendaki korupsi. Islam hadir untuk menjadikan hamba Allah yang bersih baik lahir maupun batin, bersih fikiran maupun bersih pekerjaan dari hal-hal yang negatif. Islam mempunyai konsep, agar umat Islam terhindar dan tidak terjebak dalam lingkaran korupsi. Islam mengajarkan untuk mencari harta dengan cara halal dan baik. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah 168, yang maknanya : 

"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu."

Pertama, Islam mengajarkan untuk memulai sesuatu dengan niat yang tulus, ikhlas karena Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surah al Bayyinah :5 yang maknanya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. 

Allah berfirman pula al-Haj: 37: maknanya : Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. 

Rasulullah SAW bersabda :"Sesungguhnya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu." 

Kedua, diajarkan bagi umat Islam untuk memiliki sifat ridha (menerima apapun ketentuan Allah). Karena Allah Maha Adil, Maha Kasih Sayang, Maha Pemurah, tidak satu makhluk pun yang di dholimiNya. Semua diberi perangkat oleh Allah SWT dengan sempurna, diberi akal, diberi perasaan, diberi kemauan, dan diberi himmah-himmah yang lain. Yang semua itu bertujuan untuk manusia menjalani hidup di dunia, dengan catatan sesuai dengan tuntunan dan ajaran yang diridhohi Allah SWT. Allah SWT menciptakan manusia dengan strata kehidupan yang berbeda-beda, ada yang kaya, ada pula yang miskin, ada pejabat ada bawahan. Di mana keduanya bisa saling mengisi dan saling membutuhkan. Karena itu, ketika kita menempati di manapun, harus kita sadari bahwa semua itu merupakan karunia dari Allah SWT. Kita harus ridha atas qadar dan qadha’nya Allah SWT. Karena dalam memberikan apapun kepada hambaNya, Allah SWT mendahulukan kasih sayangNya, daripada murkaNya. Jika apapun yang kita terima kita sukuri, maka dampaknya kita akan merasa senang, dan bahagia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Ketiga, mengendalikan hawa nafsu terhadap harta. Menuruti hawa nafsu tidak ada puasnya. Allah SWT berfirman dalam surah Yusuf : 53 maknanya : Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. 

Allah SWT menganugerahkan nafsu sebagai modal kehidupan, dan harus kita kendalikan, kita arahkan agar tidak keluar dari jalur keridhaan Allah SWT. Semoga kita bisa mendapat bimbingan Allah SWT mampu mengendalikan nafsu, sehingga terhidar dari korupsi dengan bermacam-macam bentuknya. 

Hati-hati Dalam Berteman

Teman yang selalu memberikan motivasi, ikhlas memberikan nasehat, mengajak berbuat baik, melarang berbuat maksiat, suka berbagi ilmu, menjaga rahasia, menutupi aib, menginginkan kebaikan untuk kita seperti menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri.

Abul Qa’qa’ mengatakan; “Seseorang harus mencari kawan yang shalih, rajin dan suka menasehati, agar (ia) selalu bisa bersamanya pada sebagian besar waktunya, saling memotivasi dalam belajar dan saling menguatkan semangat sesamanya, mengingatkannyabila ia salah, dan mendukungnya bila ia benar dan mengevaluasi apa yang telah ia hafal, baca, diskusikan, dan kaji tentang sebuah permasalahan dengan selalu bersama-sama."

Seseorang bertanya: “kepada siapa kami harus bergaul, wahai Syaikh?” Sufyan Ats Tsauri menjawab: “Dengan orang-orang yang senantiasa mengingatkanmu untuk berdzikir kepada Allah, dengan orang-orang yang membuatmu gemar beramal untuk akhirat. Dan, dengan orang-orang yang akan menambah ilmumu ketika kamu berbicara kepadanya.”

Bergaul dengan orang saleh merupakan keutamaan, sedangkan mengikuti jejak langkah mereka adalah suatu kewajiban. (Khalifah Ustman).

Janganlah engkau melibatkan diri dalam hal yang tidak bermanfaat bagimu. Hindarilah musuhmu dan hati-hatilah dalam berteman kecuali dengan orang yang terpercaya. Tidak ada orang yang terpercaya kecuali orang yang takut kepada Allah. Janganlah berteman dengan orang jahat karena engkau akan terpengaruh menjadi jahat. Dan musyawarahkan urusanmu hnya dgn orang-orang yang takut kepada Allah. (Umar bin Khotob)

Sebaik-baik teman adalah yang berkata pada temannya: AYO KITA PUASA SEBELUM KITA MATI. Dan seburuk-buruk teman adalah yang berkata pada temannya: AYO KITA MAKAN DAN MINUM SEBELUM KITA MATI. (hilyatul auliya)

Waspadalah dari kawan yang buruk, yaitu kawan yang jika engkau ingin dekat dengan Allah maka dia tak dapat membantumu, dan jika engkau melupakan Allah maka dia tak mau mengingatkanmu.

Banyak bergaul dengan orang-orang sholeh adalah obat bagi penyakit hati. Sedangkan banyak bergaul dgn orang-orang rusak adalah sumber penyakit hati. Maka berhati-hatilah dalam memilih teman dekat, dan selektiflah dalam bergaul. Menyendiri lebih baik daripada bergaul dengan orang-orang yang buruk/jahat, dan bergaul dengan orang-orang baik lebih baik daripada menyendiri. Rasulullah berkata: Seseorang akan mengikuti agama teman dekatya. (HR ABU DAWUD)

“Sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang jika dilihat (menjadi perhatian) disebutlah nama Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang berjalan dengan mengadu domba, memecah belah antara orang-orang yang saling cinta, dan senang untuk membuat susah orang-orang yang baik.” (HR. Ahmad 4/227, periksa juga kitab “Hashaid al-Alsun” hal. 68)

Sahabatmu yang menasehatimu adalah sahabat yang sayang padamu sehingga ingin kebaikan bagimu, adapun sahabat yang membiarkanmu dalam kesalahan tanpa menasehatimu adalah sahabat yang telah menipumu.

Imam Ibn Qudamah menjelaskan dalam kitab Mukhtasar Minhajul Qashidin, bahwa ada empat kriteria yang patut menjadi pedoman dalam memilih teman.

  1. Aqidahnya benar.
  2. Akhlaqnya baik.
  3. Bukan dengan orang yang tolol atau bodoh dalam hal berprilaku. Karena dapat menimbulkan mudharat.
  4. Bukan dengan orang yang ambisius terhadap dunia atau bukan orang yang materialistis. 
Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka.

Dunia akan terasa lebih indah apabila kita mempunyai teman yang berhati mulia, bening laksana mutiara...

Hati Tempat Rebutan Antara Malaikat Dan Syaitan

Susahnya menjaga hati. Sedangkan ia adalah tempat pandangan Allah. Ia merupakan wadah rebutan di antara malaikat dan syaitan. Masing-masing ingin mengisi. Malaikat dengan hidayah, syaithan dengan kekufuran. Bila tiada hidayah, ada ilmu pun tidak menjamin dapat selamat, sekalipun ilmu diperlukan.

Susahnya menjaga hati. Bila dipuji, ia berbunga. Terasa luar biasa. Bila dicaci, aduh sakitnya. Pencaci dibenci. Bahkan berdendam sampai mati. Bila berilmu atau kaya, sombong mengisi dada. Jika miskin atau kurang ilmu. Rendah diri pula dengan manusia. Adakalanya kecewa. Kemuncaknya putus asa. Pada takdir yang menimpa, kita susah untuk redha. Ujian yang datang, sabar tiada. Jiwa menderita.

Melihat kelebihan orang lain, hati tersiksa. Kesusahan orang lain, hati menghina. Bahkan terhibur pula. Suka menegur orang, tapi bila ditegur hati luka. Aduh susahnya menjaga hati. Patutlah ia dikatakan raja diri. Bukankah sifat sombong pakaian Raja?!

Bukan mudah menahan marah apabila orang marah kepada kita atau orang membuat kesalahan kepada kita. Bukan mudah tidak membalas terhadap orang yang menganiaya dan memfitnah kita. Sedangkan mereka menyusahkan kita, dan kita pun menderita dibuatnya.

Tidak mudah menahan perasaan hati agar tidak berbunga ketika ada orang memuji kita. Apakah kita boleh menolak pujian itu dengan rasa hati bahwa kita tidak layak menerimanya? Tidak mudah, biasanya hati sedap dan berbunga rasanya.

Apabila kita berhadapan dengan orang serba istimewa, ada yang kaya, berjabatan tinggi, tinggi ilmunya sedangkan kita orang biasa saja, biasanya kita inferiority complex dibuatnya, malu pun timbul. Dapatkah kita merasa biasa saja, tidak terasa apa-apa?

Yang penting kita dengan Tuhan ada hubungan senantiasa, takut dan cinta. Terasa bahagia dengan Tuhan, rasa senang dengan-Nya yang lain tidak ada arti apa-apa. Apakah mudah hati kita menahan derita bila mendapat bala bencana? Tidak mudah, biasanya hati kita derita dibuatnya. Kita rasa kecewa, kita rasa orang yang malang hidup di dunia. Kita tidak dapat hubungkaitkan dengan hikmah dan didikan Tuhan kepada kita. Bahkan biasanya selalu saja buruk sangka dengan Tuhan yang melakukannya. Hati kita rasa bahwa tidak semestinya Tuhan menyusahkan kita.

Begitu jugalah kalau kita orang istimewa, berilmu, berjabatan tinggi, kaya! Biasanya rasa megah datang tiba-tiba, sombong pun berbunga, mulailah kita menghina. Hidup kita pun mulailah berubah, sebelumnya beragama lupa agama. Kalau dahulu dapat bergaul dengan orang biasa, sekarang kawan kita golongan atas saja. Hendak bergaul dengan orang biasa seperti dahulu rasa jatuh wibawa.

Begitulah hati manusia sentiasa berubah-ubah apabila berubah keadaan. Karena itulah kita disuruh berdoa: “Ya Allah tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan mentaati-Mu.”

Definisi Tawakkal

Tawakal atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah SWT tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram".

Menurut Abu Zakaria Ansari, tawakkal ialah "keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain". Sifat yang demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang diserahi urusan tadi. Artinya, ia betul-betul mempunyai sifat amanah (tepercaya) terhadap apa yang diamanatkan dan ia dapat memberikan rasa aman terhadap orang yang memberikan amanat tersebut.

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan tawakkal. Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. Orang semacam ini mempunyai pemikiran, tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki pandai tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Allah menghendaki menjadi orang kaya tentulah kaya, dan seterusnya.

Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar perutnya, seklipun ada berbagai makanan, tetapi ia berpikir bahwa jika Allah menghendaki ia kenyang, tentulah kenyang. Jika pendapat ini dpegang teguh pasti akan menyengsarakan diri sendiri.

Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya menurut ajaran Islam ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.

Misalnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal.


Pada zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, "Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah". Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, "Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal."
Reff 

Jumat, 12 Juli 2013

Faktor Ambisi Menjadi Pemimpin

Memang tidak diragukan lagi, salah satu penyakit bagi seorang muslim dan penyebab terganggunya perjuangan islam adalah penyakit ambisi menjadi pemimpin, atau berusaha untuk diangkat jadi pemimpin, terinspirasi dari obrolan di warung kopi tersebut, maka kali ini aku mencoba membahas tentang bagaimana ambisi menjadi pemimpin dilihat dari kaca mata Islam.  

Tidak dipungkiri keinginan untuk jadi pemimpin dalam pandangan Islam adalah adalah sesuatu yang tercela dan dilarang, bahkan pelakunya mendapat ancaman yang cukup berat. Banyak dalil-dalil yang menggambarkan tercelanya meminta dijadikan pemimpin. 

Rasulullah Bersabda: "Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta untuk diangkat dan tidak pula pada orang yang berharap-harap untuk diangkat" (HR. Bukhari & Muslim)


Rasulullah juga bersabda kepada Abdurahman bin Samurah ra.
"Wahai Abdurrahman, jangan engkau meminta diangkat menjadi pemimpin karena permintaanmu sendiri, tanggung-jawabnya akan besar sekali, dan jika engkau diangkat bukan karena permintaanmu sendiri, engkau akan mendapat pertolongan dalam melaksanakannya" (HR. Bukhari & Muslim) 


Mungkin akan muncul pertanyaan bagaimana dengan yang dlakukan Nabi Yusuf as yang meminta jabatannya? 

"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS.Yusuf : 55) 

Juga bagaimana seorang muslim yang memohon kepada Allah menjadi terhormat dan menjadi cendekiawan terkenal atau menjadi imam bagi musllim lainnya, seperti Firman Allah:

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Al Furqan : 77) 

Sekilas ada kontradiksi antara hadist Rasulullah dengan Firman Allah diatas, padahal jika dikaji lebih mendalam tidak ada kontradiksi sama sekali. Nabi Yusuf as. meminta dan menonjolkan dirinya untuk suatu jabatan karena beliau melihat tidak ada orang yang mau berkomitment memperjuangkan kebenaran dan mengajak umat pada kebenaran, karena beliau merasa mampu tapi belum dikenal masyarakat, maka perlu beliau meminta untuk menonjolkan dirinya. Jadi bila dalam keadaan darurah, karena orang tidak ada lagi yang berkomitment tentang kebenaran, bila diantara kita punya kemampuan lebih dalam suatu bidang, maka diperbolehkan untuk mengajukan diri untuk menjadi pemimpin, dengan catatan memang benar dalam keadaan darurah, artinya apabila dibiarkan akan berdampak yang lebih buruk, dan meminta menjadi pemimpin bisa mendatangkan manfaat dibanding mudharatnya, maka insya Allah diperbolehkan, tentunya dengan diniatkan semata-mata untuk Allah Ta'ala serta bersungguh-sungguh untuk menegakkan kebenaran dan menjaga amanah.

Demikian pula dengan permohonan si Muslim meminta untuk diangkat menjadi imam (pemimpin) bagi umat muslim yang lain (QS. Al Furqan : 77), ayat tersebut hakekatnya tidak bertentangan dengan sabda Rasul diatas, karena permohonan muslim untuk menjadi pemimpin merupakan permohonan sang hamba kepada Allah bukan kepada sesama manusia, sedangkan kita boleh memohon apapun kepada-Nya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat, jadi sebab-sebab antara hadist dengan Firman Allah, sangat berbeda dan tidak bisa dibenturkan. Sedangkan kontek asbab dari sabda Rasulullah kepada Abdurrahman bin Samurah adalah jika kita meminta untuk menjadi pemimpin, dengan cara tersamar maupun terus terang kepada orang lain, apalagi dengan niat untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun golongan, maka yang demikian dilarang keras oleh Islam.

Beberapa Faktor yang mendorong seseorang berambisi menjadi pemimpin.

1. Suka menguasai dan mengendalikan orang lain karena keegoannya, tidak mau di perintah dan patuh kepada orang lain, maka seseorang berambisi menjadi pemimpin agar orang mengagungkan dan memandang sebagai yang terhebat

2. Menginginkan materi duniawi, sebagian manusia ingin mendapatkan materi dengan mudah tanpa memperhatikan masalah halal dan haram, maka dengan menjadi pemimpin, akan menganggap setiap orang bersedia untuk membantu mendapatkan materi.

3. Tidak sadar akan resiko sebagai pemimpin, sesungguhnya resiko seorang pemimpin harus siap menanggung kesulitan rakyatnya disaat genting dan mementingkan kepentingan rakyat atas dirinya sendiri disaat normal, seperti yang disampaikan sahabat Ali bin Abi Thalib

"Apabila keadaan genting dan terjadi peperangan, maka kami berlindung kepada Rasulullah, tidak ada seorangpun diantara kami yang lebih dekat dengan musuh, dibanding Beliau" (HR Ahmad)

4. Tidak sadar akan konsekwensi kelengahan seorang pemimpin, kelengahan seorang pemimpin bisa membuka jalan kepada kebathilan, serta menjadikan pendukungnya sebagai alat untuk menebark`n kerusakan di muka bumi, maka pemimpin seperti itu diakhirat nanti akan diikat dengan rantai dan dilemparkan ke neraka.

"Seorang hamba yang dipercaya Allah untuk menjadi pemimpin rakyatnya, tetapi ia menipu rakyatnya, maka jika ia mati Allah mengharamkan surga baginya" (HR Bukhari dan Muslim)


5. Suka Merendahkan orang lain,
sebagian manusia ada yang menerima doktrin-doktrin dalam pendidikannya serta menanamkan dalam jiwanya kecintaan terhadap penguasaan dan merendahkan terhadap orang lain dan ia melihat dengan cara menjadi pemimpinlah ia bisa memenuhi ambisinya dan dapat terpuaskan nafsu-nafsu ambisinya.

Mungkin yang aku sebutkan diatas hanyalah sebagian kecil dari faktor pendorong seseorang berambisi menjadi pemimpin, jika diuraikan masih banyak lagi dan tidak akan ada habisnya, semoga tulisan ini sebagai pengingat untuk kita semua terutama diriku sendiri, agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak khususnya tentang sikap ambisius kita untuk menjadi pemimpin.  

Hadits riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu: Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda:Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin
Dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin.Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin
Dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.
Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya
dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka.Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminyaDan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya,dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya.Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpinDan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawabanatas apa yang dipimpinnya 

Nabi Muhammad Dibenci Karena Aqidahnya

Setiap muslim meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan sosok manusia paripurna. Beliau memiliki akhlak agung yang tiada tandingannya. Karena akhlaknya, Nabishollallahu ’alaih wa sallam dicintai dan dihormati segenap kalangan. Tua-muda, laki-perempuan semua sangat terkesan dengan pribadi agungnya. Kemuliaan kepribadian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bukan baru hadir setelah beliau diangkat Allah menjadi Nabi. Bahkan sejak masa jahiliyah masyarakat musyrik Quraisy Mekkah menjuluki beliau dengan ”Al-Amin” (laki-laki terpercaya). Hal ini bahkan diabadikan di dalam firman Allah:

’Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qolam ayat 4)

Namun siapapun yang mengenal sejarah hidup Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pasti tahu bahwa dalam hidupnya beliau juga memiliki musuh. Dan tidak sedikit di antaranya yang sedemikian benci kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sehingga berniat membunuh manusia mulia ini. Sehingga muncullah suatu pertanyaan di dalam benak fikiran kita. Jika akhlak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diakui sedemikian mulia, lalu mengapa beliau masih mempunyai musuh? Mengapa masih ada manusia yang berniat membunuhnya jika semua orang sepakat bahwa akhlak beliau sedemikian mengagumkan?

Saudaraku, hal ini hanya menggambarkan kepada kita bahwa sesungguhnya ada hal lain yang jauh lebih utama daripada perkara akhlak yang menyebabkan manusia menjadi siap bermusuhan dengan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Hal itulah yang dinamakan dengan ”Al-Aqidah” atau keimanan. Siapapun orang yang memusuhi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pastilah orang yang tidak suka dengan ajaran aqidah atau keimanan yang dibawakannya.

Mereka tidak bisa memungkiri kemuliaan akhlak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, namun mereka sangat tidak suka dengan ajaran aqidah Tauhid yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam da’wahkan kesana-kemari. Sebab menurut mereka, ajaran Tauhid mengancam eksistensi ajaran mereka.

Ajaran mereka, yaitu kemusyrikan, menyuarakan eksistensi banyak ilah (tuhan), sedangkan ajaran aqidah Tauhid menegaskan hanya ada satu ilah di muka bumi yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Lalu seseorang yang berikrar syahadat Tauhid diharuskan mengingkari eksistensi berbagai ilah lainnya untuk hanya menerima dan mengakui Satu ilah saja.

Sehingga dalam catatan Siroh Nabawiyyah (sejarah perjuangan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam) kita sempat menemukan bagaimana paman Nabi, yakni Abu Tholib, diminta oleh para pemuka Musyrik Quraisy untuk melobi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar mau menghentikan seruan da’wah Tauhid-nya dengan imbalan apapun yang diinginkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Tetapi apa jawaban Nabishollallahu ’alaih wa sallam terhadap permintaan mereka?

”Demi Allah, hai Pamanku…! Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku meninggalkan urusan ini, maka saya tidak akan melakukannya, sampai Allah memenangkannya atau aku hancur dalam melaksanankannya…!”

Pada dasarnya seruan Tauhid inilah seruan abadi para Nabi dan Rasul utusan Allah. Umat manusia sepanjang zaman didatangi oleh para Nabi dan Rasul secara bergantian dengan membawa misi mengajak manusia agar menghamba semata kepada Allah dan menjauhi Thoghut.

’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS An-Nahl ayat 36)


Sebelum para Nabi dan Rasul mengajarkan apapun, mereka senantiasa mendahulukan pengajaran akan hakikat fundamental pengesaan Allah. Tiada gunanya segenap amal-sholeh dan amal-ibadah diajarkan kepada manusia jika tidak dilandasi sebuah pemahaman sekaligus keyakinan mendasar akan keesaan Allah. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan bahwa hakikat kebencian kaum kafir hingga tega menyiksa sesama manusia lainnya ialah dikarenakan manusia lain itu memiliki keimanan akan keesaan Allah semata.

”Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS Al-Buruuj ayat 8-9)


Inilah hakikat permusuhan dan konfrontasi di dunia. Permusuhan yang sesungguhnya ialah permusuhan karena pertentangan aqidah bukan yang lainnya. Seorang mu’min sepatutnya menyadari bahwa Nabi kita yang mulia akhlaknya itu tidak pernah dibenci lantaran akhlaknya. Namun setiap bentuk kebencian dan permusuhan yang diarahkan kepada beliau senantiasa bertolak dari ketidak-relaan manusia untuk menerima sekurang-kurangnya mentolerir keberadaan aqidah Tauhid yang diajarkan Nabi Muhammadshollallahu ’alaih wa sallam.

Maka sudah sepantasnya kita selalu introspeksi dan evaluasi diri. Jika dalam kehidupan ini kita ternyata dimusuhi manusia, maka jangan bersedih dulu. Sebab Nabipun pernah dimusuhi. Namun selanjutnya kita perlu lihat, apakah manusia memusuhi kita lantaran akhlak kita atau aqidah kita. Jika ternyata kita dibenci lantaran akhlak kita, maka sudah sepatutnya kita ber-istighfar dan memperbaiki diri. Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah dibenci manusia lantaran akhlaknya. Namun jika kita dibenci lantaran aqidah kita, maka sepatutnya kita bersyukur dan bersabar. Sebab Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabatnya-pun dibenci karena aqidahnya. Itupun dengan satu catatan, yaitu kita selama ini memang sudahterus-menerus berusaha meluruskan dan mengokohkan aqidah Tauhid kita setiap hari. Semoga saudaraku…


”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 139) 
Reff

Menyesal Tidak Menjadi Muslim

Kaum kafir alias non-muslim ketika sudah memasuki kehidupan di akhirat akan menyesal mengapa mereka tidak menjadi muslim sewaktu masih hidup di dunia. Suatu penyesalan yang tentunya tiada berguna. Ketika di dunia, mereka mengira bahwa menjadi muslim berarti harus menjadi terhina sebagaimana banyak dialami bangsa muslim dewasa ini. Mereka sangat bangga menjadi orang kafir sebab mereka melihat bahwa kebanyakan negeri-negeri maju dewasa ini justru dipimpin dan didominasi oleh kaum non-muslim alias kafir. Mereka sangat tersilaukan oleh berbagai kemajuan material yang diraih oleh negeri-negeri seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jepang, Jerman bahkan Israel.

Sebaliknya mereka sangat kecewa bahkan jijik melihat kaum muslimin di negeri-negeri terbelakang seperti Bangladesh, Afghanistan, Nigeria dan Indonesia. Mereka mengira bahwa status formal keagamaan bangsa-bangsa tersebut-lah yang menyebabkan mereka menjadi terbelakang dan terhina di dunia. Mereka kaitkan antara dominasi agama yang dianut bangsa tersebut dengan ketertinggalan yang mereka alami. Sehingga mereka segera menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang menyebabkan keterbelakangan dan kehinaan sedangkan agama-agama di luar Islam, entah itu Nasrani, Yahudi bahkan Shinto merupakan agama yang menyebabkan kemajuan dan kemuliaan manusia di dunia.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena kebanyakan manusia tidak mampu membedakan antara ajaran agama dengan penganut agama. Mereka terlalu mudah menilai dan memvonis suatu agama sebagai baik atau buruk hanya berdasarkan tampilan penganutnya. Jika penganutnya berpenampilan maju dan menarik (secara standar duniawi) mereka segera memvonis agama yang mereka anut itu pastilah baik, bahkan benar. Sementara bilamana penganutnya berpenampilan tertinggal dan lemah (secara standar duniawi) mereka segera memvonis bahwa agama yang mereka anut itu pastilah buruk, bahkan batil…!

Dan bukan rahasia lagi bahwa kebanyakan negeri berpenduduk muslim dewasa ini dalam keadaan tertinggal dan lemah secara standar dunia. Sebaliknya, sebagian besar negeri-negeri yang disebut sebagai negara-negara maju justru terdiri dari kebanyakan penganut agama di luar Islam. Sungguh, sangat wajar bilamana orang kafir pada umumnya tidak bisa menghargai ajaran Islam di zaman di mana umat Islam sedang babak belur seperti keadaannya dewasa ini.

Oleh karena itu, biasanya orang barat kafir yang akhirnya memperoleh hidayah Allah ta’aala dan memeluk agama Islam adalah mereka yang tidak terjebak pada stereotype negatif mengenai ajaran Islam. Mereka sanggup membedakan antara Islam sebagai ajaran yang datang dari Allah ta’aala Yang Maha Benar dengan umatnya yang seringkali tidak konsisten menjalankan ajaran mereka. Inilah orang yang potensial bersikap obyektif dan akhirnya menemukan hidayah kebenaran cahaya agama Allah ta’aala. Di antara mereka -misalnya- adalah mantan penyanyi terkenal Cat Stevens yang kemudian merubah namanya menjadi Yusuf Islam.

Pantas bilamana orang Barat yang akhirnya mendapat hidayah iman dan islam lewat mengkaji kitabullah Al-Qur’an sering berkata: ”Alhamdulillah saya berjumpa dengan Al-Qur’an sebelum berjumpa dengan ummat Islam. Andaikan saya berjumpa dengan ummat Islam sebelum membaca dan mempelajari Al-Qur’an barangkali saya tidak akan pernah tertarik akan ajaran Islam.”

Maka, saudaraku, marilah kita menjadi duta-duta agama Allah ta’aala yang mengkampanyekan kemuliaan dan kebenaran Al-Islam betapapun zaman yang sedang kita jalani dewasa ini tidak berfihak pada Islam dan ummat Islam. Marilah kita persiapkan alasan di hadapan Allah ta’aala kelak di hari berbangkit. Bila kita telah mengajak dengan gigih orang-orang kafir alias non-muslim untuk memeluk Islam, maka tentunya mereka tidak punya alasan untuk menyalahkan kita kelak di hadapan Allah ta’aala pada hari pengadilan. Seandainnya mereka mengetahui betapa besarnya ganjaran yang menunggu orang beriman di akhirat, niscaya mereka akan menyesal mengapa mereka tidak menjadi muslim sewaktu hidup di dunia.

“Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Qur’an yang memberi penjelasan. Orang-orang yang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS Al-Hijr ayat 1-3)

Saudaraku, marilah kita banyak berda’wah dan mengajak kaum kafir non-muslim untuk menjalani kehidupan Islami dan imani agar mereka selamat di dunia dan selamat pula di akhirat. Janganlah kita bersikap bakhil ingin masuk surga sendiri tanpa mengajak mereka berpeluang masuk surga bersama kita. Dan janganlah kita berlindung di balik alasan ”toleransi” padahal sejatinya kita tidak pernah peduli kemaslahatan mereka kelak dalam kehidupan hakiki di akhirat. Wallahu a’lam.