aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Selasa, 20 Agustus 2013

Abdullah bin Amr, Ahli Ibadah yang Rajin Tobat

Abdullah bin Amr lebih dulu masuk Islam ketimbang bapaknya, Amr bin Ash. Dan semenjak ia dibaiat dengan menaruh telapak tangan kanannya di telapak tangan kanan Rasulullah SAW, hatinya tak ubahnya seperti cahaya Subuh yang cemerlang diterangi nur Ilahi dan cahaya ketaatan. 

Sejak awal Abdullah memusatkan perhatiannya terhadap Al-Qur'an. Setiap turun ayat, maka dihapalkan dan diusahakan untuk memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna, ia pun telah hapal seluruhnya.

Abdullah telah ditakdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadah. Tak satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghalangi terbentuknya bakat yang suci ini dan tertanamnya nur Ilahi yang telah ditakdirkan bagi dirinya.

Apabila tentara Islam maju ke medan laga untuk menghadapi orang-orang musyrik yang melancarkan peperangan dan permusuhan, maka ia akan dijumpai berada di barisan terdepan.

Ketika perang telah usai, ia akan ditemui di mana lagi, kalau tidak masjid atau mushola rumahnya. Ia berpuasa di waktu siang dan mendirikan shalat di waktu malam. Lidahnya tak kenal akan percapakan soal dunia, walaupun yang tidak terlarang. Sebaliknya, lidahnya tiada henti berdzikir kepada Allah, bertasbih dan memuji-Nya.

Untuk mengetahui betapa jauhnya Abdullah terlibat dalam ibadah, cukuplah kita perhatikan Rasulullah yang sengaja datang menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah, terpaksa campur tangan agar ia tidak sampai keterlaluan dan berlebihan. Demikianlah salah satu pelajaran yang dapat ditarik dari kehidupan Abdullah bin Amr.

Suatu hari Rasulullah memanggilnya, dan menasihatinya agar tidak berlebihan dalam beribadah. Rasulullah SAW bertanya, "Kabarnya engkau selalu puasa di siang hari tak pernah berbuka, dan shalat di malam hari tak pernah tidur? Cukuplah puasa tiga hari setiap bulan!"

Abdullah berkata, "Saya sanggup lebih banyak dari itu."

"Kalau begitu, cukup dua hari dalam seminggu."

"Aku sanggup lebih banyak lagi."

"Jika demikian, baiklah kamu lakukan puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud, puasa sehari lalu berbuka sehari!"

Dan benarlah ketika Abdullah bin Amr dikarunia usia lanjut, tulang-belulangnya menjadi lemah. Ia selalu ingat nasihat Rasulullah dulu. "Wahai malang nasibku, kenapa dulu tidak melaksanakan keringanan dari Rasulullah."

Pada saat terakhir, Rasulullah menasihatinya agar tidak berlebih-lebihan dalam beribadah sambil membatasi waktu-waktunya. Amr bin Ash, bapaknya, kebetulan hadir. Rasulullah mengambil tangan Abdullah dan meletakkannya di tangan bapaknya. "Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah bapakmu!" pesan Rasulullah SAW.

Dan sepanjang usianya, sesaat pun Abdullah tidak lupa akan kalimat pendek itu, "Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah bapakmu!"

Dan ketika terjadi Perang Shiffin (perang antara Ali dan Muawiyah), Amr bin Ash berpihak kepada Muawiyah. Dia pun mengajak anaknya, Abdullah bin Amr, untuk turut serta bersamanya membela Muawiyah.

Demikianlah, Abdullah berangkat demi ketaatannya terhadap sang ayah. Namun ia berjanji takkan pernah memanggul senjata dan tidak akan berperang dengan seorang Muslim pun.

Pada suatu hari, ketika ia sedang duduk-duduk dengan beberapa sahabatnya di Masjid Rasul, lewatlah Husein bin Ali bin Abi Thalib. Mereka pun bertukar salam. Tatkala Husein berlalu, berkatalah Abdullah kepada orang-orang di sekelilingnya, "Sukakah kalian aku tunjukkan penduduk bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit? Dialah yang baru saja lewat di hadapan kita tadi, Husein bin Ali. Semenjak Perang Shiffin, ia tak pernah berbicara denganku. Sungguh ridhanya terhadap diriku, lebih kusukai dari barang berharga apa pun juga."

Abdullah berunding dengan Abu Said Al-Khudri untuk berkunjung kepada Husein. Demikianlah, akhirnya kedua orang mulia itu bertemu di muka rumah Husein. Abdullah bin Amr terlebih dahulu membuka percakapan, hingga menjurus ke Perang Shiffin.

Husein mengalihkan pembicaraan ini sambil bertanya, "Apa yang membawamu hingga kau ikut berperang di pihak Muawiyah?"

Abdullah menjawab, "Pada suatu hari, aku diadukan bapakku Amr bin Ash menghadap Rasulullah SAW. Kata bapakku, 'Abdullah ini puasa setiap hari dan beribadah setiap malam.' Rasulullah berpesan kepadaku, 'Hai Abdullah, shalat dan tidurlah, serta berpuasa dan berbukalah, dan taatilah bapakmu!' Maka sewaktu Perang Shiffin itu, bapakku mendesakku dengan keras agar ikut bersamanya. Aku pun pergi, tetapi demi Allah aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah!"

Tatkala usianya mencapai 72 tahun, ia sedang berada di musholanya, beribadah dan bermunajat. Tiba-tiba ada suara memanggil untuk melakukan perjanalan jauh, yaitu perjalanan abadi yang takkan pernah kembali. Abdullah bin Amr wafat dan menyusul mereka yang telah mendahuluinya menghadap Ilahi.
Reff

Salman Al-Farisi, Sang Pencari Kebenaran

Ia datang dari tanah Persia, tempat di mana Islam dianut oleh orang-orang Mukmin yang tidak sedikit jumlahnya sepeninggalnya. Dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang ilmu pengetahuan keagamaan, maupun keduniaan.

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan.

Salman RA sendiri turut menyaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi waktu Perang Khandaq, yaitu pada tahun ke-5 Hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Makkah.

Mereka bertujuan menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Mereka juga berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut urat akar agama baru ini.

Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghatafan akan menyerang Kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidzah (Yahudi) akan menyerangnya dari dalam, yaitu dari belakang barisan kaum Muslimim. Sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari, kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati Kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu.

Sebanyak 24.000 orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hisyam menghampiri Kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Nabi Muhammad SAW serta para sahabatnya.

Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah SAW pun mengumpulkan para sahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?

Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah SAW. Itulah dia Salman Al-Farisi RA. Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah.

Dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu dilingkupi gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubahnya benteng juga. Hanya saja, di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang. Hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negeri Persi, Salman RA telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya.

Maka tampillah ia mengajukan usul kepada Rasulullah SAW, yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini.

Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atau usul Salman tersebut.

Begitu Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapan, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu. Hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.

Pada suatu malam, Allah SWT mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit.

Sewaktu menggali parit, Salman tidak ketinggalan bekerja bersama kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah SAW ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.

Salman, seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.

Salman pergi mendapatkan Rasulullah SAW dan minta izin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah pun pergi bersama Salman untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi.

Setelah menyaksikannya, Rasulullah SAW meminta sebuah tembilang dan menyuruh para sahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti. Rasulullah lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi.

Salman sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang berdaun rimbun, di muka rumahnya di Kota Madain, sedang menceriterakan kepada sahabat-sahabatnya perjuangan berat yang dialaminya demi mencari kebenaran.

Ia mengisahkan kepada mereka bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Parsi masuk ke dalam agama Nasrani dan dari sana pindah ke dalam agama Islam.

Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan pikiran dan jiwanya.

Betapa ia dijual di pasar budak dalam mencari kebenaran itu, bagaimana ia berjumpa dengan Rasulullah SAW dan iman kepadanya. Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceriterakannya.

“Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama “Ji”. Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluk Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama Majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.

Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruh­nya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nasrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.

Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati, ‘Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!’ Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang. Hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nasrani dari mana asal-usul agama mereka. ‘Dari Syria,’ ujar Mereka.

Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya, ‘Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita.’ Aku pun berdiskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku.

Kepada orang-orang Nasrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Via, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana.

Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai, lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria (Suriah).”

“Lalu tatkala ia wafat, aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceriterakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.

Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang saleh yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceriterakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula.

Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi.

Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.

Tak lama kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakannya. Katanya, ‘Anakku, tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya.

Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. Ia nanti akan hijrah he suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu kitam.

Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan sedekah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya.’

Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka kataku kepada mereka, ‘Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?’

‘Baiklah,’ ujar Mereka.

Demikianlah, mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang Yahudi.

Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.

Mulai saat itu, aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang Yahudi Bani Quraizhah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawanya ke Madinah. Dan demi Allah, baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.

Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah SAW yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani Amr bin Auf di Quba.”

“Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah SAW yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani Amr bin Auf di Quba.

Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku sedang duduk dibawahnya, tiba-tiba datang seorang Yahudi seudara sepupunya yang mengatakan kepadanya, ‘Bani Qilah celaka!’

Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Makkah dan mengaku sebagai Nabi. Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku.

Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi, ‘Apa kata Anda? Ada berita apakah?’

Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya, ‘Apa urusanmu dengan ini, ayo kembali ke pekerjaanmu!’ Maka aku pun kembalilah bekerja.

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah SAW di Quba. Aku mendatanginya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan.

Kukatakan kepadanya, ‘Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedekah. Dan setelah mendengar keadaan Tuan-tuan, maka menurut hematku, Tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini.’ Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.

‘Makanlah dengan nama Allah!’ sabda Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. ‘Nah, demi Allah!’kataku dalam hati, ‘Inilah satu dari tanda-tandanya, bahwa ia tak mau memakan harta sedekah.’

Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah SAW sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya, ‘Kulihat Tuan tidak ingin makan sedekah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada Tuan sebagai hadiah.’

Lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada sahabatnya, ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah!’ Dan beliau pun turut makan bersama mereka. ‘Demi Allah, kataku dalam hati, inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah.’

Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian kupergi mencari Rasulullah SAW dan kutemui beliau di Baqi sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh sahabat- sahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.

Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap kenabian sebagai disebutkan oleh pendeta dulu.

Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceriterakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceriterakan tadi.

Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai Perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku, ‘Mintalah pada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan.’

Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para sahabat untuk membantuku dalam soal keuangan. Demikianlah, aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam Perang Khandaq dan peperangan lainnya."

Sungguh, keislaman Salman Al-Farisi RA adalah keislaman orang-orang utama dan takwa. Dan dalam kecerdasan, kesahajaan dan kebebasan dari pengaruh dunia, maka keadaannya mirip sekali dengan Umar bin Khathab.

Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya. Sedang kebiasaan Abu Darda beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang. Salman melarangnya berlebih-lebihan dalam beribadah seperti itu.

Pada suatu hari, Salman bermaksud hendak mematahkan niat Abu Darda untuk shaum sunah esok hari. Dia menyalahkannya, “Apakah engkau hendak melarangku shaum dan shalat karena Allah?” kata Abu Darda.

Salman menjawab, “Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Di samping engkau shaum, berbukalah dan di samping melakukan shalat, tidurlah!”

Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sungguh Salman telah dipenuhi dengan ilmu.”

Rasulullah SAW sendiri sering memuji kecerdasan Salman serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji agama dan budi pekertinya yang luhur. Di waktu Perang Khandaq, kaum Anshar sama-sama berdiri dan berkata, “Salman dari golongan kami.”

Bangkitlah pula kaum Muhajirin, kata mereka, “Tidak, ia dari golongan kami!”

Mereka pun dipanggil oleh Rasulullah SAW, dan sabdanya, “Salman adalah golongan kami, Ahlul Bait.”

Dan memang selayaknyalah jika Salman RA mendapat kehormatan seperti itu. Ali bin Abi Thalib RA menggelari Salman dengan “Luqmanul Hakim”. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya, “Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami, Ahlul Bait.”

“Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering,” lanjut Ali.

Dalam kalbu para sahabat umumnya, pribadi Salman Al-Farisi telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Di masa pemerintahan Khalifah Umar RA, ia datang berkunjung ke Madinah. Maka Umar melakukan penyambutan yang setahu kita belum pernah dilakukannya kepada siapa pun juga.

Dikumpulkannya para sahabat dan mengajak mereka, “Marilah kita pergi menyambut Salman!” Lalu Umar keluar bersama mereka menuju pinggiran Kota Madinah untuk menyambutnya.

Semenjak bertemu dengan Rasulullah dan beriman kepadanya, Salman Al-Farisi RA hidup sebagai seorang Muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti.

Ia pun mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar RA, kemudian di masa Amirul Mukminin Umar RA, lalu dimasa Khalifah Utsman RA, waktu di mana ia kembali kehadhirat Tuhannya.

Di tahun-tahun kejayaan umat Islam, panji-panji Islam telah berkibar diseluruh penjuru, harta benda yang tak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat pemerintahan, baik sebagai upeti ataupun pajak untuk kemudian diatur pembagiannya menurut ketentuan Islam. Sehingga negara mampu memberikan gaji dan tunjangan tetap.

Maka dalam gundukan harta negara yang berlimpah ruah itu, di manakah kita dapat menemukan Salman? Di manakah kita dapat menjumpainya di saat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran itu?

Bukalah mata anda dengan baik, tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk di sana di bawah naungan pohon, sedang asyik memanfaatkan sisa waktunya—di samping berbakti untuk negara—menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang.

Nah, itulah dia Salman RA. Perhatikanlah lagi dengan cermat, lihatlah kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya. Padahal, ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tidak berkekurangan.

Tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara 4.000-6.000 dirham setahun. Tapi semua itu habis disumbangkannya. Satu dirham pun tak diambil untuk dirinya. Katanya, “Untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kubuat dan kujual tiga dirham.”

“Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku, sedang satu dirham sisanya untuk sedekah. Seandainya Umar bin Khathab melarangku berbuat demikian, sekali-kali tiadalah akan kuhentikan!”

Mengapa ia sekarang menolak harta, kekayaan dan kesenangan, bertahan dengan kehidupan bersahaja, tiada lebih dari satu dirham tiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri? Kenapa ia menolak pangkat dan jabatan?

Katanya, “Seandainya kamu masih mampu makan tanah asal tak membawahi dua orang manusia, maka lakukanlah!”

Ketika Salman RA berada di atas pembaringan menjelang ajalnya, Sa’ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya. Lalu Salman menangis.

“Apa yang Anda tangiskan, Wahai Abu Abdillah?” tanya Sa’ad. “Padahal, Rasulullah SAW wafat dalam keadaan ridha kepada anda?”

"Demi Allah, aku menangis bukanlah karena takut mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita. Beliau bersabda, ‘Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara.’ Padahal, harta milikku begini banyaknya,” ujar Salman.

“Saya perhatikan tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan sebuah baskom,” kata Sa’ad.

Lalu kata Sa’ad lagi, "Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu pesan yang akan kami ingat selalu darimu!”

“Wahai Sa’ad, ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau menderita. Dan pada putusanmu jika kamu menghukumi. Dan pada saat tanganmu melakukan pembagian.”

Rupanya inilah yang telah mengisi kalbu Salman mengenai kekayaan dan kepuasan. Ia telah memenuhinya dengan zuhud terhadap dunia dan segala harta, pangkat dengan pengaruhnya, yaitu pesan Rasulullah SAW kepadanya dan kepada semua sahabatnya, agar mereka tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil bagian daripadanya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara.

Salman telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh berderai ketika rohnya telah siap untuk berangkat, khawatir kalau-kalau ia telah melampaui batas yang ditetapkan. Tak terdapat di ruangannya kecuali sebuah piring wadah makannya dan sebuah baskom untuk tempat minum dan wudhu, tetapi walau demikian ia menganggap dirinya telah berlaku boros.

Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman sedikit pun, kecuali suatu barang yang memang amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada istrinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman.

Ketika dalam sakit yang membawa ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya, dipanggillah sang istri untuk mengambil titipannya dahulu. Kiranya hanyalah seikat kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan Jalula dahulu. Barang itu sengaja disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya.

Kemudian sang istri disuruhnya mengambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi yang dikocok dengan tangannya, lalu kata Salman kepada istrinya, “Percikkanlah air ini ke sekelilingku. Sekarang telah hadir di hadapanku makhluk Allah yang tiada dapat makan, hanyalah gemar wangi-wangian.”

Setelah selesai, ia berkata kepada istrinya, “Tutupkanlah pintu dan turunlah!” Perintah itu pun diturut oleh istrinya.

Dan tak lama antaranya istrinya kembali masuk, didapatinya roh yang beroleh berkah telah meninggalkan dunia dan berpisah dari jasadnya. Ia telah mencapai alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan, rindu memenuhi janjinya untuk bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad SAW dan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar, dan para syuhada lainnya.
Reff 

Shuhaib bin Sinan, Pedagang yang Selalu Untung

Ia dilahirkan dalam lingkungan kesenangan dan kemewahan. Bapaknya menjadi Hakim dan Walikota Ubuilah. Pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi. Mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Irak, jauh sebelum datangnya agama Islam.

Istananya yang terletak di pinggir sungai Efrat ke arah hilir “Jazirah” dan "Mosul”, anak itu hidup dalam keadaan senang dan bahagia.

Pada suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk di antaranya Shuhaib bin Sinan. Ia diperjualbelikan oleh saudagar-saudagar budak.

Perkelanaannya yang panjang berakhir di Kota Makkah, yakni setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remajanya di negeri Romawi. Hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi.

Majikannya tertarik akan kecerdasan, kerajinan dan kejujurannya, hingga Shuhaib dibebaskan dan dimerdekakan dan diberi kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya.

Ammar bin Yasir mengisahkan peristiwa yang terjadi ketika ia bersama Shuhaib. "Pada hari itu aku berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Arqam, yakni ketika Rasulullah SAW sedang berada di dalamnya. Aku bertanya kepadanya, ‘Kamu hendak kemana?"

Shuhaib balik membalas, "Dan kamu, hendak ke mana?"

"Aku hendak menjumpai Muhammad SAW untuk mendengarkan ucapannya," jawab Yasir.

"Aku juga hendak menjumpainya,” ujar Shuhaib pula.

Demikianlah Yasir dan Shuhaib masuk ke dalam rumah Al-Arqam. Waktu itu Rasulullah menjelaskan tentang akidah agama Islam. Setelah meresapi apa yang dikemukakannya, para sahabat pun menjadi pemeluknya.

Yasir bercerita, "Kami tinggal di sana sampai petang hari. Lalu dengan sembunyi-sembunyi kami keluar meninggalkannya.”

Shuhaib sudah hafal jalan ke rumah Arqam. Artinya, ia telah mengetahui jalan menuju petunjuk dan cahaya, juga ke arah pengorbanan berat dan tebusan besar. Maka, melewati pintu kayu yang memisahkan bagian dalam rumah Arqam dari bagian luarnya, tidak hanya berarti melangkahi bandul pintu semata, tetapi hakikatnya adalah melangkahi batas-batas alam secara keseluruhan.

Alam lama dengan segala apa yang diwakilinya baik berupa keagamaan dan akhlak, maupun berupa peraturan yang harus dilangkahinya menuju alam baru dengan segala aspek dan persoalannya. Melangkahi bandul pintu rumah Arqam yang lebarnya tidak lebih dari satu kaki, pada hakikat dan kenyataannya adalah melangkahi bahaya besar yang luas dan lebar.

Apalagi bagi fakir miskin, budak belian dan orang perantau, memasuki rumah Arqam itu artinya tidak lain dari suatu pengorbanan yang melampaui kemampuan yang lazim dari manusia.

Shuhaib adalah seorang pendatang dan perantau. Sedang sahabat yang berjumpa dengannya di ambang pintu rumah itu adalah Ammar bin Yasir yang juga seorang miskin. Tetapi mengapa keduanya berani menghadapi bahaya?

Itulah pengaruh kepribadian Muhammad SAW yang kesan-kesannya telah mengisi hati orang-orang baik dengan hidayah dan kasih sayang. Pesona dari barang baru yang bersinar cemerlang yang telah memukau akal fikiran yang muak melihat kebasian barang lama, bosan dengan kesesatan dan kepalsuannya.

Dan di atas semuanya, itulah rahmat dari Allah SWT yang dilimpahkan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Serta petunjuk-Nya yang diberikan kepada orang yang kembali dan menyerahkan diri kepada-Nya.

Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang-orang beriman. Bahkan ia telah membuat tempat yang luas dan tinggi dalam barisan orang-orang yang teraniaya dan tersiksa. Begitu pula dalam barisan para dermawan dan penanggung uang tebusan.

Pernah diceritakan keadaan sebenarnya yang membuktikan rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang Muslim yang telah baiat kepada Rasulullah dan bernaung di bawah panji-panji agama Islam,

Ia pernah berkata, "Tiada suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali pastilah aku menyertainya. Dan tiada suatu baiat yang dialaminya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tiada suatu pasukan bersenjata yang dikiriminya kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya. Tidak pernah beliau bertempur baik di masa-masa pertama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau sebelah kirinya."

Shuhaib juga menceritakan bahwa kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan kaum Muslimin di hadapan mereka pastilah ia akan menyerbu paling depan. Demikian pula jika ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti ia akan mundur ke belakang. “Aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah SAW berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah,” prinsipnya.

Suatu gambaran keimanan yang istimewa dan kecintaan yang luar biasa. Mulai saat itu hubungannya dengan dunia dan sesama manusia, bahkan dengan dirinya pribadi menda­patkan corak baru. Jiwanya telah tertempa menjadi keras dan ulet, zuhud tak kenal lelah.

Hari-hari perjuangan Shuhaib yang mulia dan cintanya yang luhur itu diawali pada saat hijrahnya.

Pada hari itu ditinggalkannya segala emas dan perak serta kekayaan yang diperolehnya sebagai hasil perniagaan selama berbilang tahun di Makkah. Semua kekayaan ini dilepaskan dalam sekejap tanpa berpikir panjang.

Ketika Rasulullah hendak pergi hijrah, Shuhaib mengetahuinya, dan menurut rencana ia akan menjadi orang ketiga dalam hijrah tersebut, di samping Rasulullah dan Abu Bakar. Tetapi orang-orang Quraisy telah mengatur persiapan di malam harinya untuk mencegah kepindahan Rasulullah.

Shuhaib terjebak dalam salah satu perangkap mereka. Hingga terhalang untuk hijrah untuk sementara waktu, sementara Rasulullah dengan sahabatnya berhasil meloloskan diri atas pertolongan Allah SWT.

Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan jalan bersilat lidah. Hingga ketika mereka lengah, ia naik ke punggung untanya. Ia memacu kudanya dengan sekencang-kencangnya menuju sahara luas.

Tetapi Quraisy mengirim pemburu-pemburu mereka untuk menyusulnya dan usaha itu hampir berhasil. Tapi ketika Shuhaib melihat dan berhadapan dengan mereka, ia berseru, “Hai orang-orang Quraisy, kalian tahu bahwa aku adalah ahli panah yang paling mahir. Demi Allah, kalian takkan berhasil mendekati diriku, sebelum aku lepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini. Dan setelah itu, akan menggunakan pedang untuk menebas kalian, sampai senjata di tanganku habis semua."

Shuhaib terus berseru, "Majulah ke sini kalau kalian berani! Atau jika kalian setuju, aku akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku, asal saja kalian membiarkanku pergi."

Mereka sama tertarik dengan tawaran terakhir itu, dan setuju menerima hartanya sebagai imbalan dirinya. "Memang, dahulu waktu kamu datang kepada kami, kamu adalah seorang miskin lagi papa. Sekarang hartamu menjadi banyak di tengah-tengah kami hingga melimpah ruah. Lalu kamu hendak membawa pergi bersamamu semua harta kekayaan itu?”

Shuhaib menunjukkan tempat disembunyikan hartanya itu, hingga mereka membiarkannya pergi sedang mereka kembali ke Makkah. Anehnya, mereka memercayai ucapan Shuhaib tanpa meragukannya sedikit pun. Hingga mereka tidak meminta suatu bukti, bahkan tidak meminta agar ia mengucapkan sumpah.

Kenyataan ini menunjukkan tingginya kedudukan Shuhaib di mata mereka, sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Shuhaib melanjutkan lagi perjalanan hijrahnya seorang diri tetapi berbahagia, hingga akhimya berhasil menyusul Rasulullah SAW di Quba. Waktu itu Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh beberapa orang sahabat, ketika dengan tidak diduga Shuhaib mengucapkan salamnya.

Rasulullah yang melihatnya berseru dengan gembira. Rasulullah pun bersabda, "Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya. Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”

Dan ketika itu juga turunlah ayat, "Dan di antara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridhaan Allah, dan Allah Maha penyantun terhadap hamba-hambanya.” (QS. Al-Baqarah: 207).

Memang, Shuhaib telah menebus dirinya yang beriman itu dengan segala harta kekayaan, ia mengumpulkan harta kekayaan itu dengan menghabiskan masa mudanya. Seluruh usia mudanya, dan sedikit pun ia tidak merasa dirinya rugi.

Ia amat disayangi oleh Rasulullah SAW. Di samping kesalehan dan ketakwaannya, Shuhaib adalah seorang periang dan jenaka. Pada suatu hari, Rasulullah melihat Shuhaib sedang makan kurma dan salah satu matanya bengkak.

Rasulullah bertanya kepadanya sambil tertawa, "Mengapa kamu makan kurma sedang sebelah matamu bengkak?"

“Apa salahnya?” timpal Shuhaib. "Saya memakannya dengan mata yang sebelah lagi."

Shuhaib juga seorang pemurah dan dermawan. Tunjangan yang diperolehnya dari Baitul Mal dibelanjakan semuanya di jalan Allah, yakni untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin dalam kesengsaraan.

Hal itu dilakukannya untuk memenuhi firman Allah SWT, “Dan diberikannya makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang tawanan,” (QS. Al-Insan: 8).

Sampai-sampai kemurahannya itu mengundang peringatan dari Umar. Umar pernah berkata kepada Shuhaib, “Aku lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas.”

Shuhaib menjawab, “Sebab, saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sebaik-baik kalian ialah yang suka memberi makanan.”

Setelah diketahui kehidupan Shuhaib berlimpah ruah dengan keutamaan dan kebesaran, maka ia dipilih Umar bin Khathab untuk menjadi imam bagi kaum Muslimin dalam shalat.

Tatkala Amirul Mukminin diserang orang sewaktu melakukan shalat Subuh bersama kaum Muslimin. Maka disampaikannyalah pesan dan kata-kata akhirnya kepada para sahabat, “Hendaklah Shuhaib menjadi imam kaum Muslimin dalam shalat!”

Ketika itu, Umar telah memilih enam orang sahabat yang diberi tugas untuk mengurus pemilihan khalifah baru. Dan Khalifah kaum Musliminlah yang biasanya menjadi imam dalam shalat-shalat mereka. Maka siapakah yang akan bertindak sebagai imam dalam saat-saat vakum antara wafatnya Amirul Mukminin dan terpilihnya khalifah baru itu? Dan Umar telah memilih Shuhaib, sembari menunggu munculnya khalifah baru yang akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya.
Reff

Suhail bin Amr, Tawanan yang Jadi Pahlawan

Sosok pemuda ini pernah menjadi tawanan kaum Muslimin di Perang Badar.

Umar bin Khathab RA, saking kesalnya dengan yang bersangkutan, pernah mendekati Rasulullah SAW untuk membujuk beliau, "Wahai Rasulullah, biarkan saya cabut dua buah gigi depan Suhail bin Amr ini, biar ia tidak bisa berpidato menjelek-jelekkan anda lagi!”

Rasulullah SAW menjawab, “Jangan, wahai Umar! Aku tidak mau merusak tubuh seseorang, karena nanti Allah akan merusak tubuhku walaupun aku seorang Nabi!”

Kemudian Rasulullah menarik Umar ke dekatnya, lalu bersabda, “Hai Umar, mudah-mudahan esok, pendirian Suhail akan berubah seperti yang kamu sukai!”

Di akhir tahun keenam hijrah, Rasulullah SAW bersama para sahabatnya pergi ke Makkah dengan tujuan berziarah ke Baitullah dan melakukan umrah. Keberangkatan Rasulullah ini bukanlah bermaksud hendak berperang, jadi perjalanannya tanpa mengadakan persiapan untuk peperangan.

Keberangkatan mereka ini diketahui oleh Quraisy, hingga mereka pergi menghadang. Mereka bermaksud menghalangi kaum Muslimin berangkat ke kota Makkah. Suasana pun menjadi tegang dan hati kaum Muslimin menjadi berdebar-debar.

Rasulullah berkata kepada sahabatnya, “Jika pada waktu ini Quraisy mengajak kita untuk berdamai, tentu akan kukabulkan!” Maka, setiap utusan Quraisy kepada Nabi SAW dijelaskanlah kepada mereka bahwa kedatangannya bukanlah untuk berperang.

Kedatangan kaum Muslimin semata-mata untuk mengunjungi Baitullah Al-Haram dan menjunjung tinggi upacara-upacara kebesarannya.

Utusan-utusan itu datang bergantian. Quraisy terus mengirim utusan yang lebih bijak dan lebih disegani sehingga tibalah giliran Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Seorang yang lebih tepat untuk diserahi tugas seperti ini. Menurut anggapan Quraisy, ia akan mampu meyakinkan Rasulullah untuk kembali pulang ke Madinah.

Namun tak lama kemudian, Urwah kembali kepada kaumnya, seraya berkata, “Wahai rekan-rekanku kaum Quraisy, saya sudah pernah mendatangi Kaisar Kisra dan kepada Negus di Istana mereka masing-masing. Demi Allah, tak seorang dari mereka yang saya lihat lebih dihormati oleh rakyatnya, seperti Muhammad oleh para sahabatnya. Sungguh, di sekitarnya saya dapati suatu kaum yang sekali-kali takkan rela membiarkannya mendapat cedera. Nah, pertimbangkanlah apa yang hendak kalian lakukan dengan hati-hati!”

Saat itu, orang-orang Quraisy pun merasa yakin bahwa usaha-usaha mereka tidak ada faidahnya, hingga mereka memutuskan untuk menempuh jalan berunding dan perdamaian.

Dan untuk melaksanakan tugas ini mereka pilihlah pemimpin mereka yang lebih tepat, tiada lain dari Suhail bin Amr.

Kaum Muslimin melihat Suhail datang dan mengenal siapa dia. Maka maklumlah mereka bahwa orang-orang Quraisy akhirnya berusaha untuk berdamai dan mencapai saling pengertian, dengan alasan bahwa yang mereka utus itu ialah Suhail bin Amr.

Suhail duduk berhadapan muka dengan Rasulullah, dan terjadilah perundingan yang berlangsung lama di antara mereka, yang berakhir dengan tercapainya perdamaian.

Dalam perundingan ini Suhail berusaha hendak mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk Quraisy. Disokong pula oleh toleransi luhur dan mulia dari Nabi SAW yang mendasari berhasilnya perdamaian tersebut.

Sementara itu, waktu terus berjalan hingga tibalah tahun kedelapan Hijriyah. Rasulullah bersama kaum Muslimin berangkat untuk membebaskan Makkah. Quraisy melangar perjanjian dan ikrar mereka dengan Nabi SAW sehingga orang-orang Muhajirin pun kembali ke kampung halaman mereka.

Bersama mereka ikut pula orang-orang Anshari. Kembalilah pula Islam secara keseluruhannya, mengibarkan panji-panji kemenangannya di angkasa luas. Dan Kota Makkah pun membukakan semua pintunya. Sementara orang-orang musyrik terpaku dalam kebingungannya.

Rasulullah yang amat pengasih ternyata tidak hendak membiarkan mereka meringkuk demikian lama di bawah tekanan perasaan yang amat pahit dan getir ini. Dengan dada yang lapang dan sikap lemah lembut, dihadapkan wajahnya kepada mereka, “Wahai segenap kaum Quraisy,” kata beliau. “Apakah menurut sangkaan kalian, yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Mendengar itu tampillah musuh Islam kemarin, Suhail bin Amr, memberikan jawaban, “Harapan yang baik. Anda adalah saudara kami yang mulia, dan putra saudara kami yang mulia!”

Sebuah senyuman yang bagaikan cahaya, tersungging di kedua bibir Rasulullah kekasih Allah itu, “Pergilah, kalian bebas!”

Ucapan yang keluar dari mulut Rasulullah itu tidaklah akan diterima begitu saja oleh orang yang masih mempunyai perasaan, kecuali dengan hati yang telah menjadi peleburan dan perpaduan antara rasa malu, ketundukan dan penyesalan.

Pada saat itu juga, suasana yang penuh dengan keagungan dan kebesaran ini telah membangkitkan semua kesadaran Suhail bin Amr, menyebabkannya menyerahkan dirinya kepada Allah Rabbul Alamin.

Dan keislamannya itu, bukanlah keislaman seorang laki-laki yang menderita kekalahan lalu menyerahkan dirinya kepada takdir di saat itu juga.

Keislaman Suhail yang terpikat dan terpesona oleh kebesaran Nabi Muhammad SAW dan kebesaran agama yang diikuti ajaran-ajarannya oleh Nabi Muhammad, dan yang dipikulnya bendera dan panji-panjinya dengan rasa cinta yang mendalam.

Orang-orang yang masuk Islam di hari pembebasan Kota Makkah itu disebut “thulaqa” artinya orang-orang yang dibebaskan dari segala hukum yang berlaku bagi orang yang kalah perang, karena mereka mendapat amnesti dan ampunan dari Rasulullah. Dengan kesadaran sendiri mereka pindah dari kemusyrikan ke agama tauhid.

Agama Islam telah menempa Suhail dengan ideologi baru. Semua kelebihan dan keahliannya selama ini menambah kokoh imannya. Sehingga orang-orang melukiskan sifatnya dalam beberapa kalimat, “Pemaaf, pemurah, banyak shalat, shaum dan bersedekah serta membaca Alquran dan menangis disebabkan takut kepada Allah.”

Demikianlah kebesaran Suhail. Walaupun ia menganut Islam di hari pembebasan dan bukan sebelumnya, tetapi kita lihat dalam keislaman dan keimanannya itu mencapai kebenaran tertinggi, sedemikian tinggi hingga dapat menguasai keseluruhan dirinya dan merubahnya menjadi seorang abid dan zahid, dan seorang mujahid yang mati-matian berkorban di jalan Allah.

Tatkala Rasulullah berpulang ke rahmatullah, berita itu sampai ke Makkah. Waktu itu Suhail sedang bermukim di sana. Kaum Muslimin yang berada di sana menjadi resah dan gelisah serta ditimpa kebingungan, seperti halnya saudara-saudara mereka di Madinah.

Untunglah keadaan itu segera ditenteramkan oleh Abu Bakar RA dengan kalimat-kalimatnya yang tegas, “Barangsiapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat! Dan barangsiapa yang menyembah kepada Allah, maka sesungguh­nya Allah tetap hidup dan takkan mati untuk selama-lamanya!”

Kalau Abu Bakar berhasil menenangkan kaum Muslimin, di Madinah, maka tindakan yang sama juga dilakukan Suhail di Makkah. Dikumpulkannya seluruh penduduk, lalu berdiri memukau mereka dengan kalimat-kalimatnya yang mantap, memaparkan bahwa Muhammad itu benar-benar Rasul Allah dan bahwa ia tidak wafat sebelum menyampaikan amanat dan melaksanakan tugas risalat.

Dan sekarang, menjadi kewajiban bagi orang-orang mukmin untuk meneruskan perjalanan menempuh jalan yang relah digariskannya. Maka dengan langkah dan tindakan yang diambil oleh Suhail ini, serta dengan ucapannya yang tepat dan keimanannya yang kuat, terhindarlah fitnah yang hampir saja menumbangkan keimanan sebagian manusia di Makkah ketika mendengar wafatnya Rasulullah.

Dan pada hari itu pula, lebih dari saat-saat lainnya, terpampanglah secara gemilang kebenaran dari nubuwah Rasulullah SAW. Bukankah telah dikatakannya kepada Umar ketika ia meminta izin untuk mencabut dua buah gigi Suhail sewaktu ia tertawan di perang Badar.

Ketika sampai ke telinga kaum Muslimin di Madinah tindakan yang diambil Suhail di Makkah serta pidatonya yang mengagumkan dan mengukuhkan keimanan dalam hati, teringatlah Umar bin Khathab akan ramalan Rasulullah.

Lama sekali ia tertawa, karena tibalah hari yang dijanjikan itu, di saat Islam beroleh manfaat dari dua buah gigi Suhail yang sedianya akan dicabut dan dirontokkannya.

Di saat Suhail masuk Islam di hari dibebaskannya Kota Makkah. Dan setelah ia merasakan manisnya iman, ia berjanji terhadap dirinya yang maksudnya dapat disimpulkan pada kalimat-kalimat berikut ini:

“Demi Allah, suatu suasana yang kualami bersama orang-orang musyrik, pasti akan kualami pula seperti itu bersama kaum Muslimin. Dan setiap nafkah yang kubelanjakan bersama orang-orang musyrik, pasti akan kubelanjakan pula seperti itu bersama kaum Muslimin. Semoga perbuatan-perbuatanku belakangan ini akan dapat mengimbangi perbuatan-perbuatanku terdahulu.”

Dahulu dengan tekun ia berdiri di depan berhala-berhala. Maka sekarang ia akan berbuat lebih dari itu berdiri di hadapan Allah Yang Maha Esa bersama orang-orang Mukmin. Itulah sebabnya ia terus shalat dan shalat, tekun shaum dan shaum, segala macam ibadah yang dapat menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT pasti dilaku­kannya sebanyak-banyaknya.

Demikian pula di masa silam, ia berdiri di arena peperangan bersama orang-orang musyrik menghadapi Islam. Maka sekarang ia harus tampil di barisan tentara Islam sebagai prajurit yang gagah berani, untuk memadamkannya bersama para pendekar kebenaran.

Suhail sangat mencintai kampung halamannya, Makkah. Walaupun demikian, ia tak hendak kembali ke sana setelah kemenangan kaum Muslimin di Suriah. Ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketekunan seseorang pada suatu saat dalam perjuangan di jalan Allah, lebih baik baginya daripada amal sepanjang hidupnya.’ Maka sungguh Aku akan berjuang di jalan Allah sampai mati, dan takkan kembali ke Makkah!”

Suhail memenuhi janjinya ini. Dan ia tetap berjuang di medan perang sepanjang hayatnya, sehingga tiba saat keberangkatannya. Maka ketika ia pergi, segeralah rohnya terbang mendapatkan rahmat dan keridhaan Allah.

Suraqah bin Malik, Menanti Janji Rasulullah

Ketika para pembesar Quraisy menghentikan pelacakan terhadap Rasulullah SAW dan sahabatnya, Abu Bakar Shiddiq, yang telah berhasil hijrah ke Madinah.

Mereka kemudian membuat pengumuman ke segenap kabilah yang terpencar-pencar sepanjang jalan antara Makkah dan Madinah.

“Siapa yang berhasil membawa Muhammad hidup atau mati ke hadapan para pembesar Quraisy, akan diberi hadiah seratus ekor unta betina yang bagus,” demikian bunyi pengumuman itu.

Suraqah bin Malik Al-Madlaji mendengar pengumuman itu dibacakan. Ketika itu sedang berada di balai desa kampung halamannya, Qudaid, di pinggiran Kota Makkah.

Tiba-tiba seorang utusan Quraisy datang menyiarkan pengumuman berhadiah besar yang disediakan oleh kaum Quraisy, yaitu seratus ekor unta betina muda yang hampir beranak, bagi siapa yang berhasil membawa Muhammad hidup atau mati ke hadapan para pembesar Quraisy.

Setelah mendengar hadiah seratus ekor unta betina pilihan, maka timbullah sikap tamak Suraqah. Dia bertekad hendak merebut hadiah besar itu. Karena tamak, niatnya itu tidak diungkapkannya kepada siapa pun. Tetapi dipendamnya sendiri dalam hati, supaya ia tidak didahului orang lain.

Kebetulan, sebelum Suraqah berangkat hendak melacak Nabi Muhammad SAW, seorang laki-laki datang ke balai desa. Dia mengabarkan bahwa belum lama berselang dia bertemu dengan tiga orang di tengah jalan. Keras dugaannya ketiga-tiganya ialah Muhammad, Abu Bakar dan seorang penunjuk jalan.

“Tidak mungkin!” kata Suraqah membantah. “Mereka adalah Bani Fulan yang tadi lewat di sini mencari unta mereka yang hilang.”

“Mungkin begitu!” kata yang lain mengiyakan pendapat Suraqah.

Kemudian Suraqah diam. Siasatnya tidak menimbulkan perhatian orang-orang yang berada di balai desa. Ketika orang beralih membicarakan masalah lain, dengan perlahan-lahan dia menyelinap keluar dari kumpulan mereka. Lalu dia segera pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah diperintahkannya pelayan menyiapkan kuda. Kemudian disuruhnya membawa kuda itu ke lembah dengan sembunyi-sembunyi dan menambatkannya di sana. “Hati-hati agar tidak kelihatan oleh orang lain. Siapkan juga senjataku, dan kamu keluar dari pintu belakang,” kata Suraqah memerintah pelayannya. Suraqah menyusul kemudian.

Sesampainya di lembah, Suraqah mengenakan baju besi, menyandang pedang, dan memasang pelana. Kemudian dia berpacu sekencang-kencangnya, menyusul Nabi Muhammad SAW untuk mendapatkan hadiah besar yang disediakan kaum Quraisy.

Suraqah bin Malik memang terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan. Perawakannnya tinggi besar. Kedua matanya tajam, sebagai pencari jejak yang cermat, pandai dan berpengalaman.

Jalan-jalan yang sukar dilalui, dapat ditempuhnya dengan sigap. Dia sabar dan hati-hati. Kudanya tangkas dan terlatih baik.

Suraqah memacu kudanya dengan pesat. Tetapi tanpa terduga-duga, tiba-tiba kaki kudanya tersandung, dan dia jatuh terguling dari punggung kuda. “Kuda sialan!” katanya menyumpah kesal.

Tanpa memedulikan rasa sakit, dinaikinya kembali kudanya dan segera berpacu. Belum jauh dia lari, kudanya tersandung pula kembali.

Hatinya kesal dan merasa sial. Karena itu dia bermaksud hendak pulang saja kembali dan mengurungkan niatnya. Tetapi karena tamak akan beroleh hadiah 100 ekor unta, diteruskannya juga pelacakan itu.

Belum begitu jauh dia berpacu dari tempatnya jatuh yang kedua, dia melihat Rasulullah SAW bersama sahabatnya. Lalu diulurkannya tangannya hendak mengambil busur. Tetapi ajaib, tiba-tiba tangannya kaku tidak dapat digerakkan.

Kaki kudanya terbenam ke pasir. Debu berterbangan di sekitarnya menyebabkan matanya kelilipan dan tidak dapat melihat. Dicobanya menggerakkan kuda tetapi tidak berhasil. Kaki kudanya seperti lekat di bumi bagai dipaku.

Dia berpaling kepada Rasulullah dan sahabatnya sambil berseru dengan suara memelas, “Hai kalian berdua, berdoalah kepada Tuhanmu supaya dia melepaskan kaki kudaku. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian!”

Rasulullah berdoa, maka bebaslah kaki kuda Suraqah. Tetapi karena tamaknya, maka setelah dia bebas, digertakkannya kudanya dengan tiba-tiba hendak menyerang Rasulullah tanpa memedulikan janjinya. Namun malang baginya, kaki kudanya terbenam pula kembali lebih parah dari semula.

Suraqah memohon belas kasihan kepada Rasulullah dan berkata, “Ambillah perbekalanku, harta dan senjataku. Aku berjanji demi Allah kepada kalian berdua, akan menyuruh kembali setiap orang yang berusaha melacak kalian di belakangku.”

“Kami tidak butuh perbekalan dan hartamu. Cukuplah kalau engkau suruh kembali orang-orang yang hendak melacak kami!” jawab Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah berdoa, maka bebaslah kaki kuda Suraqah. Ketika hendak kembali, dia berkata, “Demi Allah, saya tidak akan mengganggu Tuan-tuan lagi!”

“Apa yang engkau kehendaki dari kami?” tanya Rasulullah.

“Demi Allah, ya Muhammad! Saya yakin agama yang Tuan bawa akan menang dan pemerintahan Tuan akan tinggi. Berjanjilah kepadaku, apabila aku datang nanti ke kerajaan Tuan, maka Tuan akan bermurah hati kepada saya. Tuliskanlah itu untuk saya,” pinta Suraqah.

Rasulullah menyuruh Abu Bakar menulis pada sepotong tulang, lalu diberikannya kepada Suraqah sambil berkata, “Bagaimana, hai Suraqah, jika pada suatu waktu engkau memakai gelang kebesaran Kisra?”

“Gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz?” tanya Suraqah terkejut.

“Ya, gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz!” jawab Rasulullah meyakinkan.

Suraqah kembali pulang dengan santai. Di tengah jalan dia bertemu dengan kelompok orang-orang yang hendak melacak kepergian Rasulullah.

“Kembalilah kalian semuanya! Telah kuperiksa seluruh tempat dan jalan- jalan yang mungkin dilaluinya. Namun, aku tidak menemukan si Muhammad. Padahal, kalian tidak sepandai aku mencari jejak,” ujar Suraqah kepada mereka.

Mendengar ucapan Suraqah yang tegas itu, mereka kembali dengan kecewa. Suraqah merahasiakan pertemuannya dengan Rasulullah dalam pelacakannya, sampai dia yakin benar Rasulullah dan sahabatnya telah tiba di Madinah, dan aman dari jangkauan musuh-musuhnya. Setelah itu, baru disiarkannya.

Ketika Abu Jahal mendengar berita tentang pertemuan Suraqah dengan Rasulullah tersebut, dia mencela Suraqah dan menghinanya sebagai pengecut yang tak tahu malu, bodoh karena menyia- nyiakan kesempatan yang baik.

Suraqah menjawab, “Hai Abu Hakam! Demi Allah, seandainya engkau menyaksikan dan mengalami peristiwa yang kualami ketika kaki kudaku amblas ke dalam pasir, engkau akan yakin dan tak akan ragu sedikit pun, bahwa Muhammad itu jelas Rasulullah. Nah, siapa yang sanggup menantangnya, silakan!”

Suatu hari, Suraqah menyiapkan kudanya. Dia pergi menghadap Rasulullah SAW hendak menyatakan imannya di hadapan beliau. Tidak lupa dia membawa sepotong tulang bertulis perjanjian Rasulullah kepadanya sepuluh tahun yang lalu.

Suraqah bercerita, “Saya temui Rasulullah di Ji’ranah (sebuah desa antara Makkah dan Thaif, tetapi lebih dekat ke Makkah). Saya datang menghadap, ketika beliau sedang berada di perkemahan pasukan berkuda kaum Anshar. Mereka menghalangiku masuk dan memukulku dengan pangkal tombak. ‘Berhenti! Berhenti! Hendak ke mana engkau? cegah mereka.

Tetapi aku tidak peduli, dan terus menyeruak di antara mereka hingga sampai ke dekat Rasulullah. Beliau sedang menunggang unta. Lalu kuangkat tulang bertulis perjanjian beliau kepadaku, seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, saya Suraqah bin Malik. Dan ini tulang bertulis perjanjian Tuan kepadaku dahulu!”

‘Mendekatlah ke sini, hai Suraqah! Mendekatlah! Hari ini adalah hari menepati janji dan hari perdamaian!’ seru Rasulullah. Setelah berhadapan dengan beliau, aku menyatakan iman dan Islam kepadanya.”

Tidak berapa lama kemudian, hanya lebih kurang sembilan bulan sesudah Suraqah menyatakan Islamnya di hadapan Rasulullah, Allah SWT memanggil Nabi-Nya ke hadirat-Nya. Alangkah sedihnya Suraqah ketika mengetahui Rasulullah telah tiada.

Dia teringat kembali masa lalu, ketika dia berniat membunuh Nabi dan Rasul yang mulia, hanya karena mengharapkan seratus ekor unta di dunia. Padahal sekarang, andaikata dikumpulkan untuknya seluruh unta di muka bumi, lebih berharga berharga ujung kuku Nabi baginya.

Tanpa disadarinya, dia mengulang ucapan Rasulullah kepadanya, “Bagaimana hai Suraqah, jika engkau memakai gelang kebesaran Kisra?”

Suraqah tidak pernah ragu, suatu saat pasti dia akan memakai gelang tersebut.

Hari demi hari berjalan terus. Tampuk pemerintahan kaum Muslimin kini berada di tangan Khalifah Umar bin Khathab Al-Faruq.

Pada masa pemerintahannya yang penuh berkah itu, tentara kaum Muslimin bergerak maju menggetarkan kerajaan Persia, menyusul gerakan-gerakan kemenangan sebelumnya.

Benteng demi benteng direbutnya. Pasukan-pasukan musuh yang menghalang melintang ditumpasnya tuntas. Tahta demi tahta dijungkirbalikkannya. Harta rampasan bertumpuk. Dan kekuasaan raja-raja Persia pindah ke tangan mereka.

Pada suatu hari, akhir masa pemerintahan Khalifah Umar, beberapa utusan panglima Sa’ad Abi Waqqash (penakluk Persia) tiba di Madinah. Mereka melaporkan kemenangan-kemenangan yang dicapai tentara Muslimin, dan menyetorkan kepada Khalifah seperlima harta rampasan yang diperoleh dalam perang Sabilillah.

Setelah harta rampasan perang bertumpuk di hadapan Khalifah Umar, ia memandang kebingungan. Dalam tumpukan itu terdapat antara lain mahkota raja-raja bertahtakan mutiara mutu manikam. Pakaian-pakaian kebesaran kerajaan bersulam benang emas bertabur intan permata, sangat indah tiada terperi. Kalung-kalung mutiara dan intan berlian.

Di samping itu terdapat pula dua buah gelang kebesaran Kisra cantik tiada tandingan. Dan berbagai macam perhiasan raja-raja, ratu dan pangeran. Semuanya serba indah tiada ternilai harganya.

Khalifah membolak-balikkan tumpukan itu, memeriksa dengan tongkat beliau. Kemudian dia berpaling kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya, lalu berkata, “Alangkah jujurnya orang-orang yang menyetor semua ini!”

Ali bin Abi Thalib yang turut hadir ketika itu menyahut, “Ya Amirul mukminin, lantaran anda bersih, maka rakyat akan bersih pula semuanya. Tetapi bila anda curang, mereka akan turut curang pula seperti anda!”

Sesudah itu, Khalifah Umar Al-Faruq memanggil Suraqah bin Malik. Lalu dipakaikannya kepada Suraqah pakaian kebesaran Kisra, lengkap dengan celana dan sepatunya. Kemudian disisipkannya pedang dengan ikat pinggang kebesaran Kisra.

Diletakkannya mahkota di kepala Suraqah. Sesudah itu dipakaikannya pula gelang kebesaran kerajaan di kedua tangan Suraqah. Kaum Muslimin memuji kagum dengan mengucapkan kalimat takbir, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Khalifah berdiri mematut-matut Suraqah seraya berkata, “Wah, wah! Alangkah hebatnya anak Arab dusun Madlaji memakai mahkota dan gelang kebesaran Kisra!”

Kemudian Khalifah menadahkan tangan sambil berdoa, “Ya Allah, telah Engkau tahan harta ini semuanya terhadap Muhammad Rasul-Mu. Padahal, beliau lebih Engkau kasihi dan lebih mulia daripadaku. Engkau tahan pula harta ini semua terhadap Abu Bakar Ash-Shiddiq. Padahal beliau lebih Engkau cintai dan lebih mulia daripadaku. Kini Engkau berikan semua ini kepadaku. Aku berlindung kepada-Mu dari pemberian-Mu ini, agar semua ini tidak mencelakakanku dan umat ini.”

Setelah itu, harta tersebut dibagi-bagikannya kepada kaum Muslimin.

Reff

Habib bin Zaid, Keteguhan Hati Pembela Rasul

Habib bin Zaid dibesarkan dalam sebuah rumah yang penuh keharuman iman di setiap sudutnya, di lingkungan keluarga yang melambangkan pengorbanan.

Ayah Habib, Zaid bin Ashim, adalah salah seorang dari rombongan Yatsrib yang pertama-tama masuk Islam. Zaid termasuk Kelompok 70 orang yang melakukan baiat dengan Rasulullah di Aqabah. Bersama Zaid bin Ashim turut pula di baiat istri dan dua orang putranya.

Ibu Habib, Ummu Amarah Nasibah Al-Maziniyah, merupakan wanita pertama yang memanggul senjata untuk mempertahankan agama Allah dan membela Nabi Muhammad SAW.

Saudaranya, Abdullah bin Zaid, adalah pemuda yang mempertaruhkan lehernya sebagai tebusan dalam Perang Uhud, untuk melindungi Rasul yang mulia. Tak heran jika Rasulullah berdoa bagi keluarga tersebut, "Semoga Allah melimpahkan barakah dan rahmat-Nya bagi kalian sekeluarga."

Cahaya iman telah menyinari hati Habib bin Zaid sejak dia masih muda belia, sehingga melekat kokoh di hatinya. Allah telah menakdirkannya bersama-sama ibu, bapak, bibi, dan saudaranya pergi ke Makkah, turun beserta Kelompok 70 untuk melakukan baiat dengan Rasulullah SAW dan melukis sejarah.

Habib bin Zaid mengulurkan tangannya yang kecil kepada Rasulullah sambil mengucapkan sumpah setia pada malam gelap gulita di Aqabah. Maka sejak hari itu, dia lebih mencintai Rasulullah daripada ayah bundanya sendiri. Dan Islam lebih mahal baginya daripada dirinya sendiri.

Habib bin Zaid tidak turut berperang dalam Perang Badar, karena ketika itu dia masih kecil. Begitu pula dalam Perang Uhud, dia belum memperoleh kehormatan untuk ikut ambil bagian, karena dia belum kuat memanggul senjata. Tetapi setelah kedua peperangan itu, dia selalu ikut berperang mengikuti Rasulullah SAW, dan bertugas sebagai pemegang bendera perang yang dibanggakan.

Pengalaman-pengalaman perang yang dialami Habib bagaimana pun besar dan mengejutkannya, pada hakikatnya tiada lain ialah merupakan proses mematangkan mental Habib untuk menghadapi peristiwa yang sungguh mengguncangkan hati, seperti terguncangnya miliaran kaum Muslimin sejak masa kenabian hingga masa kita sekarang.

Pada tahun ke-9 Hijriyah, tiang-tiang Islam telah kuat tertancap dalam di Jazirah Arab. Jamaah dari seluruh pelosok Arab berdatangan ke Yatsrib menemui Rasulullah SAW, masuk Islam di hadapan beliau, dan berjanji (baiat) patuh dan setia.

Di antara mereka terdapat pula rombongan Bani Hanifah dari Najd. Mereka menambatkan unta-untanya di pinggir kota Madinah, dijaga oleh beberapa orang kawannya. Seorang di antara penjaga ini bernama Musailamah bin Habib Al-Hanafy. Para utusan yang tidak bertugas menjaga kendaraan, pergi menghadap Rasulullah SAW. Di hadapan beliau mereka menyatakan masuk Islam beserta kaumnya. Rasulullah menyambut kedatangan mereka dengan hormat dan ramah tamah. Bahkan beliau memerintahkan supaya memberi hadiah bagi mereka dan bagi kawan-kawannya yang tidak turut hadir, karena bertugas menjaga kendaraan.

Tidak berapa lama setelah para utusan Bani Hanifah ini sampai di kampung mereka, Najd, Musailamah bin Habib Al-Hanafy murtad dari Islam. Dia berpidato di hadapan orang banyak menyatakan dirinya Nabi dan Rasul Allah. Dia mengatakan bahwa Allah mengutusnya menjadi Nabi untuk Bani Hanifah, sebagaimana Allah mengutus Muhammad bin Abdullah untuk kaum Quraisy. Bani Hanifah menerima pernyataan Musailamah tersebut dengan berbagai alasan. Tetapi yang terpenting di antaranya ialah karena fanatik kesukuan.

Seorang dari pendukungnya berkata, "Saya mengakui sungguh Muhammad itu benar dan Musailamah sungguh bohong. Tetapi kebohongan orang Rabi’ah (Musailamah) lebih saya sukai dari pada kebenaran orang Mudhar (Muhammad)."

Tatkala pengikut Musailamah bertambah banyak dan kuat, dia mengirim surat kepada Rasulullah: "Teriring salam untuk Anda. Adapun sesudah itu... Sesungguhnya aku telah diangkat menjadi sekutu Anda. Separuh bumi ini adalah untuk kami, dan separuh lagi untuk kaum Quraisy. Tetapi kaum Quraisy berbuat keterlaluan."

Surat tersebut diantar oleh dua orang utusan Musailamah kepada Rasulullah SAW. Selesai membaca surat itu, Rasulullah bertanya kepada keduanya, “Bagaimana pendapat kalian (mengenai pernyataan Musailamah ini)?"

"Kami sependapat dengan Musilamah!" jawab mereka ketus.

Rasulullah bersabda, "Demi Allah, seandainya tidak dilarang membunuh para utusan, sesungguhnya kupenggal leher kalian."

Rasulullah membalas surat Musailamah sebagai berikut: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailamah pembohong. Keselamatan hanyalah bagi siapa yang mengikuti petunjuk (yang benar). Adapun sesudah itu... Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah, Dialah yang berhak mewariskannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendakinya.
Kemenangan adalah bagi orang-orang yang takwa."

Surat balasan tersebut dikirimkan melalui kedua utusan Musailamah. Musailamah bertambah jahat, dan kejahatannya semakin meluas. Rasulullah mengirim surat lagi kepada Musailamah, memperingatkan supaya dia menghentikan segala kegiatannya yang menyesatkan itu. Beliau menunjuk Habib bin Zaid, untuk mengantarkan surat tersebut kepada Musailamah. Ketika itu Habib masih muda belia. Tetapi dia pemuda mukmin yang beriman kuat, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

Habib bin Zaid berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan Rasulullah kepadanya dengan penuh semangat, tanpa merasa lelah dan membuang-buang waktu. Akhirnya sampailah dia ke perkampungan Najd. Maka diberikannya surat Rasulullah itu langsung kepada Musailamah.

Ketika membaca surat tersebut, dada Musailamah turun naik karena iri dan dengki. Mukanya memerah disaput kemurkaan. Lalu diperintahkannya kepada pengawal supaya mengikat Habib bin Zaid.

Keesokan harinya, Musailamah muncul di majelisnya diiringkan para pembesar dan pengikutnya. Dia menyatakan majelis terbuka untuk orang banyak. Ia kemudian memerintahkan agar Habib bin Zaid diseret ke hadapannya. Habib masuk ke dalam majelis dalam keadaan terbelenggu, dan berjalan tertatih-tatih karena beratnya belenggu yang dibawanya.

Habib bin Zaid berdiri di tengah-tengah orang banyak dengan kepala tegak, kokoh dan kuat.

Musailamah bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengaku Muhammad itu Rasulullah?"

“Ya, benar! Aku mengakui Muhammad sesungguhnya Rasulullah!” jawab Habib tegas.

Musailamah terdiam karena marah. “Apakah kamu mengakui, aku sebagai Rasulullah?" tanya Musailamah lagi.

Habib bin Zaid menjawab dengan nada menghina dan menyakitkan hati. "Agaknya telingaku tuli. Aku tidak pernah mendengar yang begitu."

Wajah Musailamah berubah. Bibirnya gemeretak karena marah. Lalu katanya kepada algojo, "Potong tubuhnya sepotong!"

Algojo menghampiri Habib bin Zaid, lalu dipotongnya bagian tubuh Habib, dan potongan itu menggelinding di tanah.

Musailamah bertanya kembali, "Apakah kamu mengakui Muhammad itu Rasulullah?"

Jawab Habib, "Ya, aku mengakui sesungguhnya Muhammad Rasulullah!”

"Apakah kamu mengakui aku Rasulullah?"

"Telah kukatakan kepadamu, telingaku tuli mendengar ucapanmu itu!"

Musailamah kembali menyuruh algojo memotong bagian lain tubuh Habib, dan potongannya jatuh di dekat potongan yang pertama. Orang banyak terbelalak melihat keteguhan hati Habib yang nekat menentang sang nabi palsu.

Musailamah terus bertanya, dan algojo terus pula memotong-motong tubuh Habib berkali-kali sesuai dengan perintah Musailamah. Walaupun begitu, bibir Habib tetap berujar, "Aku mengakui sesungguhnya Muhammad Rasulullah!"

Separuh tubuh Habib telah terpotong-potong dan potongannya berserakan di tanah. Separuhnya lagi bagaikan onggokan daging yang bicara. Akhirnya, jiwa Habib melayang menemui Tuhannya. Kedua bibirnya senantiasa mengucapkan bahwa ia hanya mengakuai Muhammad SAW—yang telah ia baiat pada malam Aqabah—sebagai Rasulullah.

Setelah berita kematian Habib bin Zaid disampaikan orang kepada ibunya, Nasibah bin Maziniyah, ia hanya berucap, "Seperti itu pulalah aku harus membuat perhitungan dengan Musailamah Al-Kadzdzab. Dan kepada Allah jua aku berserah diri. Anakku Habib bin Zaid telah bersumpah setia dengan Rasulullah SAW sejak kecil. Sumpah itu dipenuhinya ketika dia muda belia. Seandainya Allah memungkinkanku, akan kusuruh anak-anak perempuan Musailamah menampar pipi bapaknya."

Beberapa lama kemudian, setelah kematian Habib bin Zaid, tibalah hari yang dinanti-nantikan Nasibah. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengerahkan kaum Muslimin memerangi nabi-nabi palsu, termasuk Musailamah Al-Kadzdzab. Kaum Muslimin berangkat untuk memerangi Musailamah. Dalam pasukan itu terdapat Nasibah Al-Maziniyah dan putranya, Abdullah bin Zaid.

Ketika perang di Yamamah itu telah berkecamuk, Nasibah membelah barisan demi barisan musuh bagaikan seekor singa, sambil berteriak, "Di mana musuh Allah itu, tunjukkan kepadaku!"

Ketika Nasibah menemukan Musailamah, sang nabi palsu ternyata telah pulang ke akhirat, tewas tersungkur di medan pertempuran tubuh bermandi darahnya sendiri. Tidak lama kemudian, Nasibah pun gugur sebagai syahidah.

Imran bin Hushain, Menyerupai Malaikat

Pada waktu Perang Khaibar, ia datang kepada Rasulullah SAW untuk berbai’at. Dan semenjak ia menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasul, maka tangan kanannya itu memperoleh penghormatan besar. Ia pun bersumpah pada dirinya, tidak akan menggunakannya kecuali untuk perbuatan utama dan mulia.

Pertanda ini merupakan suatu bukti jelas bahwa pemiliknya mempunyai perasaan yang amat halus. Imran bin Hushain merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran, sifat zuhud dan kesalehan serta mati-matian dalam mencintai Allah dan menaati-Nya.

Walaupun memperoleh taufik dan petunjuk Allah yang tiada terkira, namun ia sering menangis mencucurkan air mata. "Kenapa aku tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja," ia kerap meratap.

Kaum Muslimin takut kepada Allah bukanlah karena banyak melakukan dosa, tidak! Setelah menganut Islam, boleh dikata sedikit sekali dosa mereka. Mereka takut dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka beribadah, rukuk dan sujud, tetapi ibadah dan syukurnya itu belumlah memadai nikmat yang telah mereka terima.

Pernah suatu saat beberapa orang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, kenapa kami ini... Bila kami sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lunak hingga tidak menginginkan dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat dengan mata kepala. Tetapi bila kami meninggalkanmu dan berada di lingkungan keluarga, anak-anak dan dunia kami, maka kami pun telah lupa diri?"

Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah, yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan menampakkan dirinya menyalami kamu. Tetapi, yang demikian itu hanya sewaktu-waktu."

Pembicaraan itu kedengaran oleh Imran bin Hushain, maka timbullah keinginannya, dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berhenti dan tinggal diam, sebelum mencapai tujuan mulia tersebut. Bahkan walau terpaksa menebusnya dengan nyawanya sekalipun. Dan seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu itu. Ia menginginkan suatu kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus dan tiada henti-hentinya, memusatkan perhatian dan berhubungan selalu dengan Allah Azza Wa Jalla.

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, Imran dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami agama. Demikianlah, di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka ketika dikenal oleh penduduk, mereka pun berdatanganlah mengambil berkah dan meniru teladan ketakwaannya.

Hasan Basri dan Ibnu Sirin berujar, "Tidak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang datang ke Bashrah, lebih utama dari Imran bin Hushain!"

Dalam beribadah dan berhubungan dengan Allah, Imran tak sudi diganggu oleh apa pun. Ia menghabiskan waktu dan seolah-olah tenggelam dalam ibadah, hingga seakan-akan dirinya bukan lagi penduduk bumi. Seolah-olah ia adalah malaikat, yang hidup di lingkungan malaikat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman dengannya.

Dan tatkala terjadi pertentangan tajam di antara kaum Muslimin, yaitu antara golongan Ali dan Muawiyah, Imran bersikap tidak memihak. Bahkan ia juga meneriakkan kepada umat agar tidak campur tangan dalam perang tersebut, dan agar membela serta mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. "Aku lebih suka menjadi penggembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal, daripada melepas anak panah ke salah satu pihak, biar meleset atau tidak," katanya.

Dan kepada orang-orang Islam yang ditemuinya, ia kerap berpesan, "Tetaplah tinggal di masjidmu. Dan jika ada yang memasuki masjidmu, tinggallah di rumahmu. Dan jika ada lagi yang masuk hendak merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah dia!"

Keimanan Imran bin Hushain membuktikan hasil gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu menggangu selama 30 tahun, tak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring.

Dan ketika para sahabatnya dan orang-orang yang menjenguknya datang dan menghibur hatinya terhadap penyakitnya itu, ia tersenyum sambil berkata, "Sesungguhnya barang yang paling kusukai ialah apa yang paling disukai Allah."

Dan sewaktu hendak meninggal, ia berwasiat kepada kaum kerabatnya dan para sahabatnya, "Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan!"

Memang, sepatutnyalah mereka menyembelih hewan dan mengadakan jamuan. Karena kematian seorang Mukmin seperti Imran bin Hushain bukanlah merupakan kematian yang sesungguhnya. Itu tidak lain dari pesta besar dan mulia, di mana satu ruh yang tinggi dan diridhai dibawa menghadap-Nya.

Khabbab bin Arats, Guru dalam Ilmu dan Pengorbanan

Khabbab bin Arats adalah seorang pandai besi yang ahli membuat alat-alat senjata, terutama pedang. Senjata dan pedang buatannya dijualnya kepada penduduk Makkah dan dikirimnya ke pasar-pasar.

Sejak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Khabbab pun mendapatkan kedudukan yang tinggi di antara orang-orang yang tersiksa dan teraniaya. Ia mendapat kedudukan itu di antara orang-orang yang walau pun miskin dan tak berdaya, tetapi berani dan tegak menghadapi kesombongan, kesewenangan dan kegilaan kaum Quraisy.

Dan dengan keberanian luar biasa, Khabbab memikul tanggung jawab semua itu sebagai seorang perintis.

Sya’bi berkata, "Khabbab menunjukkan ketabahannya, hingga tak sedikit pun hatinya terpengaruh oleh tindakan biadab orang-orang kafir. Mereka menindihkan batu membara ke punggungnya, hingga terbakarlah dagingnya.”

Kafir Quraisy telah merubah semua besi yang terdapat di rumah Khabbab yang dijadikannya sebagai bahan baku untuk membuat pedang, menjadi belenggu dan rantai besi. Lalu mereka masukkan ke dalam api hingga menyala dan merah membara, kemudian mereka lilitkan ke tubuh, pada kedua tangan dan kedua kaki Khabbab.

Pernah pada suatu hari ia pergi bersama kawan-kawannya sependeritaan menemui Rasulullah SAW, bukan karena kecewa dan kesal atas pengorbanan, hanyalah karena ingin dan mengharapkan keselamatan.

Mereka berkata,"Wahai Rasulullah, tidakkah anda hendak memintakan pertolongan bagi kami?"

Rasulullah SAW pun duduk, mukanya jadi merah, lalu sabdanya: "Dulu sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga tidak dapat menggoyahkan keimanannya. Sungguh Allah akan menyempurnakan hal tersebut, hingga setiap pengembara yang bepergian dari Shana’a ke Hadlramaut, tiada tahut kecuali pada Allah Azza wa Jalla."

Khabbab dengan kawan-kawannya mendengarkan kata-kata itu, bertambahlah keimanan dan keteguhan hati mereka. Dan masing-masing berikrar akan membuktikan kepada Allah dan Rasul-Nya hal yang diharapkan dari mereka, ialah ketabahan, kesabaran dan pengorbanan.

Demikianlah, Khabbab menanggung penderitaan dengan sabar, tabah dan tawakkal. Orang-orang Quraisy terpaksa meminta bantuan Ummi Anmar, yakni bekas majikan Khabbab yang telah membebaskannya dari perbudakan. Wanita tersebut akhirnya turun tangan dan turut mengambil bagian dalam menyiksa dan menderanya.

Wanita itu mengambil besi panas yang menyala, lalu menaruhnya di atas kepala dan ubun-ubun Khabbab, sementara Khabbab menggeliat kesakitan. Tetapi nafasnya ditahan hingga tidak keluar keluhan yang akan menyebabkan algojo-algojo tersebut merasa puas dan gembira.

Pada suatu hari Rasulullah SAW lewat di hadapannya, sedang besi yang membara di atas kepalanya membakar dan menghanguskannya. Hingga kalbu Rasulullah pun bagaikan terangkat karena pilu dan iba hati. Rasulullah kemudian berdoa, "Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab!"

Dan kehendak Allah pun berlakulah, selang beberapa hari, Ummi Anmar menerima hukuman qishas. Seolah-olah hendak dijadikan peringatan oleh Yang Maha Kuasa baik bagi dirinya maupun bagi algojo-algojo lainnya. Ia diserang oleh semacam penyakit panas yang aneh dan mengerikan. Menurut keterangan ahli sejarah ia melolong seperti anjing.

Dan orang memberi nasihat bahwa satu-satunya jalan atau obat yang dapat menyembuhkannya ialah menyeterika kepalanya dengan besi menyala. Demikianlah, kepalanya yang angkuh itu menjadi sasaran besi panas, yang disetrikakan orang kepadanya tiap pagi dan petang

Jika orang-orang Quraisy hendak mematahkan keimanan dengan siksa, maka orang-orang beriman mengatasi siksaan itu dengan pengorbanan. Dan Khabbab adalah salah seorang yang dipilih oleh takdir untuk menjadi guru besar dalam ilmu tebusan dan pengorbanan. Boleh dikata seluruh waktu dan masa hidupnya dibaktikannya untuk agama yang panji-panjinya mulai berkibar.

Di masa-masa dakwah pertama, Khabbab. tidak merasa cukup dengan hanya ibadah dan shalat semata, tetapi ia juga memanfaatkan kemampuannya dalam mengajar. Didatanginya rumah sebagian temannya yang beriman dan menyembunyikan keislaman mereka karena takut kekejaman Quraisy, lalu dibacakannya kepada mereka ayat-ayat Alquran dan diajarkannya. Ia mencapai kemahiran dalam belajar Alquran yang diturunkan ayat demi ayat dan surat demi surat.

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan mengenai dirinya, bahwa Rasuiullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa ingin membaca Alquran tepat sebagaimana diturunkan, hendaklah ia meniru bacaan Ibnu Ummi Abdin (Khabbab bin Arats)!"

Hingga Abdullah bin Mas’ud menganggap Khabbab sebagai tempat bertanya mengenai soal-soal yang bersangkut paut dengan Alquran, baik tentang hapalan maupun pelajarannya.

Khabbab adalah juga yang mengajarkan Alquran kepada Fatimah binti Khatthab dan suaminya Sa’id bin Zaid ketika mereka dipergoki oleh Umar bin Khatthab yang datang dengan pedang di pinggang untuk membuat perhitungan dengan agama Islam dan Rasulullah SAW.

Khabbab bin Arats menyertai Rasulullah SAW dalam semua peperangan dan pertempurannya, dan selama hayatnya ia tetap membela keimanan dan keyakinannya. Dan ketika Baitul Mal melimpah-ruah dengan harta kekayaan di masa pemerintahan Umar dan Utsman RA, maka Khabbab beroleh gaji besar, karena termasuk golongan Muhajirin yang mula pertama masuk Islam.

Penghasilannya yang cukup ini memungkinkannya untuk membangun sebuah rumah di Kufah, dan harta kekayaannya disimpan pada suatu tempat di rumah itu yang dikenal oleh para shahabat dan tamu-tamu yang memerlukannya. Hingga bila di antara mereka ada sesuatu keperluan, ia dapat mengambil uang yang diperlukannya dari tempat itu.

Walaupun demikian, Khabbab tak pernah tidur nyenyak dan tak pernah air matanya kering setiap teringat akan Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang telah membaktikan hidupnya kepada Allah. Mereka beruntung telah menemui-Nya sebelum pintu dunia dibukakan bagi kaum Muslimin dan sebelum harta kekayaan diserahkan ke tangan mereka.

Ketika para sahabatnya datang menjenguk ketika ia sakit, mereka berkata, "Senangkanlah hati anda wahai Abu Abdillah, karena anda akan dapat menjumpai teman-teman sejawat anda."

Khabbab berkata sambil menangis, "Sungguh, aku tidak merasa kesal atau kecewa, tetapi kalian telah mengingatkanku kepada para sahabat dan sanak saudara yang telah pergi mendahului kita dengan membawa semua amal bakti mereka, sebelum mereka mendapatkan ganjaran di dunia sedikit pun juga. Sedang kita masih tetap hidup dan beroleh kekayaan dunia, hingga tak ada tempat untuk menyimpannya lagi kecuali tanah."

Kemudian Khabba menunjuk rumah sederhana yang telah dibangunnya itu, lalu ditunjuknya pula tempat untuk menaruh harta kekayaannya. "Demi Allah, tak pernah saya menutupnya walau dengan sehelai benang, dan tak pernah saya menghalangi siapa pun yang meminta," ujarnya.

Dan setelah itu ia menoleh kepada kain kafan yang telah disediakan orang untuknya. Maka ketika dilihatnya mewah dan berlebih-lebihan, air matanya mengalir. "Lihatlah ini kain kafanku. Bukankah kain kafan Hamzah paman Rasulullah SAW ketika gugur sebagai salah seorang syuhada, hanyalah burdah berwarna abu-abu, yang jika ditutupkan ke kepalanya terbukalah kedua ujung kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke ujung kakinya, terbukalah kepalanya?"

Khabbab berpulang pada tahun 37 Hijriyah. Dengan demikian, si pembuat pedang di masa jahiliyah telah tiada lagi. Demikian halnya guru besar dalam pengabdian dan pengorbanan dalam Islam telah berpulang.

Al-Barra' bin Malik, Pahlawan Perang Tustar

Dia adalah saudara Anas bin Malik, namanya Al-Barra' bin Malik. Dia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang juga pahlawan perang. Walau bertubuh kerempeng dan berkulit legam, namun ia mampu menewaskan ratusan orang musyrik dalam perang tanding satu lawan satu.

Dalam Perang Yamamah, perang melawan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Al-Barra' bin Malik menunjukkan kepahlawanannya. Ketika panglima perang Khalid bin Walid melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Al-Barra' seraya berseru, "Wahai Al-Barra', kerahkan kaum Anshar!"

Saat itu juga Al-Barra' berteriak memanggil kaumnya. "Wahai kaum Anshar, kalian jangan berpikir kembali ke Madinah! Tidak ada lagi Madinah setelah hari ini. Ingatlah Allah, ingatlah surga!"

Setelah berkata demikian, dia maju mendesak kaum musyrikin, diikuti prajurit Anshar. Pedangnya berkelebat, menebas musuh-musuh musuh Allah yang datang mendekat.

Melihat prajuritnya berguguran, Musailamah dan kawan-kawannya kecut dan gentar. Mereka lari tunggang-langgang dan berlindung di sebuah benteng yang terkenal dalam sejarah dengan nama Kebun Maut.

Kebun Maut adalah benteng terakhir bagi Musailamah dan pasukannya. Pagarnya tinggi dan kokoh. Sang pendusta dan pengikutnya mengunci gerbang benteng rapat-rapat dari dalam. Dari puncak benteng, mereka menghujani kaum Muslimin yang mencoba masuk dengan panah.

Menghadapi keadaan yang demikian, kaum Muslimin sempat kebingungan. Dalam benak Al-Barra' muncul ide. Ia pun berteriak, "Angkat tubuhku dengan galah dan lindungi dengan perisai dari panah-panah musuh. Lalu lemparkan aku ke dalam benteng musuh. Biarkah aku syahid untuk membukakan pintu, agar kalian bisa menerobos masuk."

Dalam sekejap, tubuh kerempeng Al-Barra' telah dilemparkan ke dalam benteng. Begitu mendarat di benteng bagian dalam, ia langsung membuka pintu gerbang. Dan kaum Muslimin pun membanjir menerobos masuk. Pedang mereka berkelebat menyambar tubuh dan kepala musuh. Lebih dari 20.000 orang murtad tewas, termasuk pimpinan mereka; Musailamah Al-Kadzdzab.

Jasa Al-Barra' begitu besar. Lebih dari sebulan lamanya ia terpaksa dirawat akibat luka-luka yang dideritanya. Akhirnya ia sembuh kembali.

Sebenarnya Al-Barra' bin Malik sangat merindukan mati syahid. Dia kecewa karena gagal memperolehnya di Kebun Maut. Sejak itu ia selalu menceburkan diri ke kancah peperangan. Ia sangat rindu bertemu Rasulullah SAW.

Tatkala Perang Tustar melawan Persia berlangsung, Al-Barra' bin Malik tidak mau ketinggalan. Kala itu, pasukan musuh terdesak dan berlindung di sebuah benteng kokoh dan kuat. Temboknya tinggi besar. Kaum Muslimin mengepung benteng tersebut dengan ketat.

Dalam keadaan demikian, pasukan Persia menggunakan berbagai cara untuk menaklukkan kaum Muslimin. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikatkan ke ujung rantai besi yang dipanaskan. Rantai tersebut mereka lemparkan kepada pasukan Muslimin sehingga sebagian dari mereka tersambar pengait panas itu.

Banyak pasukan Islam yang tersambar pengait, di antaranya adalah Anas bin Malik, saudara Al-Barra' bin Malik. Selama beberapa saat, Anas tidak mampu melepaskan diri dari besi panas yang mengaitnya. Melihat hal itu, Al-Barra' bin Malik segera melompat ke dinding benteng dan melepaskan pengait dari tubuh saudaranya.

Tangan Al-Barra' bin Malik melepuh dan terbakar karena memegang pengait yang panas membara. Namun ia tak mempedulikannya, yang penting baginya adalah keselamatan saudaranya. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan Anas walaupun kedua telapak tangannya lepas. Daging kedua lengannya meleleh dan hanya tinggal kerangka. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa.

Dalam Perang Tustar ini juga, Al-Barra' bin Malik memohon kepada Allah agar gugur sebagai syahid. Doanya dikabulkan, ia pun gugur sebagai syahid dengan wajah tersenyum bahagia.

Amr bin Ash, Sang Pembebas Mesir

Ada tiga orang pemuka Quraisy yang sangat menyusahkan Rasulullah SAW disebabkan sengitnya perlawanan mereka terhadap dawah beliau dan siksaan mereka terhadap sahabatnya.

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW selalu berdoa dan memohon kepada Allah agar menurunkan azabnya pada mereka. Tiba-tiba, tatkala beliau berdoa dan memohon, turunlah firman Allah: "Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim." (QS Ali Imran: 128)

Rasulullah SAW memahami bahwa maksud ayat itu ialah menyuruhnya agar menghentikan doa permohonan azab dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah semata. Kemungkinan, mereka tetap berada dalam keaniayaan hingga akan menerima azab-Nya. Atau mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka hingga akan memperoleh rahmat karunia-Nya.

Amr bin Ash adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Allah memilihkan bagi mereka jalan untuk bertaubat dan menerima rahmat, maka ditunjuki-Nya mereka jalan untuk menganut Islam. Dan Amr bin Ash pun beralih rupa menjadi seorang Muslim pejuang, dan salah seorang panglima yang gagah berani.

Para ahli sejarah biasa menggelari Amr bin Ash sebagai “Penakluk Mesir”. Namun gelar ini tidaklah tepat, yang paling tepat untuk Amr adalah “Pembebas Mesir”. Islam membuka negeri itu bukanlah menurut pengertian yang lazim digunakan di masa modern ini, tetapi maksudnya ialah membebaskannya dari cengkraman dua kerajaan besar yang menjajah negeri ini serta rakyatnya dari perbudakan dan penindasan yang dahsyat, yaitu imperium Persi dan Romawi.

Mesir sendiri, ketika pasukan perintis tentara Islam memasuki wilayahnya, merupakan jajahan dari Romawi, sementara perjuangan penduduk untuk menentangnya tidak membuahkan hasil apa-apa. Maka tatkala dari tapal batas kerajaan-kerajaan itu bergema suara takbir dari pasukan-pasukan yang beriman: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, mereka pun dengan berduyun-duyun segera menuju fajar yang baru terbit itu lalu memeluk Agama Islam yang dengannya mereka menemukan kebebasan mereka dari kekuasaan kisra maupun kaisar.

Jika demikian halnya, Amr bin Ash bersama anak buahnya tidaklah menaklukkan Mesir. Mereka hanyalah merintis serta membuka jalan bagi Mesir agar dapat mencapai tujuannya dengan kebenaran dan mengikat norma dan peraturan-peraturannya dengan keadilan, serta menempatkan diri dan hakikatnya dalam cahaya kalimat-kalimat Ilahi dan dalam prinsip-prinsip Islami.

Amr bin Ash tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Ia baru masuk Islam bersama Khalid bin Walid tidak lama sebelum dibebaskannya kota Makkah.

Anehnya keislamannya itu diawali dengan bimbingan Negus raja Habsyi. Sebabnya ialah karena Negus ini kenal dan menaruh rasa hormat terhadap Amr yang sering bolak-balik ke Habsyi dan mempersembahkan barang-barang berharga sebagai hadiah bagi raja. Di waktu kunjungannya yang terakhir ke negeri itu, tersebutlah berita munculnya Rasul yang menyebarkan tauhid dan akhlak mulia di tanah Arab.

Raja Habsyi itu menanyakan kepada Amr kenapa ia tak hendak beriman dan mengikutinya, padahal orang itu benar-benar utusan Allah?

“Benarkah begitu?” tanya Amr kepada Negus.

“Benar,” jawab Negus. “Turutilah petunjukku, hai Amr dan ikutilah dia! Sungguh dan demi Allah, ia adalah di atas kebenaran dan akan mengalahkan orang-orang yang menentangnya.”

Secepatnya Amr ia mengarungi lautan kembali ke kampung halamannya, lalu mengarahkan langkahnya menuju Madinah untuk menyerahkan diri kepada Allah. Dalam perjalanan ke Madinah itu ia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah, yang juga datang dari Makkah dengan maksud hendak baiat kepada Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah melihat ketiga orang itu datang, wajahnya pun berseri-seri, lalu berkata kepada para sahabat, “Makkah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita.”

Mula-mula tampil Khalid dan mengangkat baiaat. Kemudian majulah Amr dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan baiat kepada anda, asal saja Allah mengampuni dosa-dosaku yang terdahulu.”

Maka Rasulullah menjawab, “Hai Amr, berbaiatlah, karena Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya.”

Tatkala Rasulullah SAW wafat, Amr bin Ash sedang berada di Oman menjadi gubernurnya. Dan di masa pemerintahan Umar bin Al-Khathab, jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan-peperangan di Suriah, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi.

Amr tidak hanya seorang panglima perang tangguh sebagaimana Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat lain. Ia tidak hanya seorang diplomat ulung sebagaimana Muawiyah. Tapi juga seorang negarawan yang pintar memerintah. Bahkan bentuk tubuh, cara berjalan dan bercakapnya, memberi isyarat bahwa ia diciptakan untuk menjadi amir atau penguasa. Hingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab melihatnya datang. Ia tersenyum melihat caranya berjalan itu, lalu berkata, “Tidak pantas bagi Abu Abdillah untuk berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir.”

Tetapi di samping itu ia juga memiliki sifat amanat, menyebabkan Umar bin Al-Khathab—seorang yang terkenal amat teliti dalam memilih gubernur-gubernurnya—menetapkannya sebagai gubernur di Palestina dan Yordania, kemudian di Mesir selama hayatnya Al-Faruq.

Amr bin Ash adalah seorang yang berpikiran tajam, cepat tanggap dan berpandangan jauh ke depan. Di samping itu ia juga seorang yang amat berani dan berkemauan keras dan cerdik.

Pada tahun ke-43 Hijriyah, Amr bin Ash wafat di Mesir ketika menjadi gubernur di sana. Di saat-saat kepergiannya itu, ia mengemukakan riwayat hidupnya. “Pada mulanya aku ini seorang kafir, dan orang yang amat keras sekali terhadap Rasulullah SAW hingga seandainya aku meninggal pada saat itu, pastilah masuk neraka. Kemudian aku membaiat kepada Rasulullah SAW, maka tak seorang pun di antara manusia yang lebih kucintai, dan lebih mulia dalam pandangan mataku, daripada beliau. Dan seandainya aku diminta untuk melukiskannya, maka aku tidak sanggup karena disebabkan hormatku kepadanya, aku tak kuasa menatapnya sepenuh mataku. Maka seandainya aku meninggal pada saat itu, besar harapan akan menjadi penduduk surga. Kemudian setelah itu, aku diberi ujian dengan beroleh kekuasaan begitu pun dengan hal-hal lain. Aku tidak tahu, apakah ujian itu akan membawa keuntungan bagi diriku ataukah kerugian.”

Lalu diangkatnya kepalanya ke arah langit dengan hati yang tunduk, sambil bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Pengasih, seraya berdoa, “Ya Allah, daku ini orang yang tak luput dari kesalahan, maka mohon dimaafkan. Daku tak sunyi dari kelemahan, maka mohon diberi pertolongan. Sekiranya daku tidak beroleh rahmat karunia-Mu, pasti celakalah nasibku.”
Reff