aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Senin, 23 Desember 2013

Wanita lebih cepat dewasa daripada pria?

Selama ini beredar anggapan yang menyebutkan bahwa tingkat kedewasaan wanita lebih cepat berkembang daripada pria. Namun ternyata hal tersebut benar adanya.

Seperti dilansir dari dailymail.co.uk, disebutkan bahwa para peneliti dari Newcastle University melakukan penelitian yang menyangkut akan hal itu. Mereka menemukan bahwa semakin Anda dewasa ada beberapa bagian sel-sel otak yang mengalami penyusutan untuk membuat lebih efisien dalam bekerja. Hal tersebut terjadi pada setiap orang termasuk pria dan wanita.

"Proses penyusutan sel-sel otak tersebut dialami oleh setiap orang termasuk pria dan wanita. Namun pada wanita, proses ini lebih cepat berlangsung dari pria. Akibatnya wanita pun selangkah lebih maju dari pria dalam hal kedewasaan," jelas Dr Marcus Kaiser dari universitas yang sama.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cerebral Cortex mengatakan bahwa walaupun otak mengalami penyusutan namun kerja otak tetap efektif dan efisien untuk mencerna informasi dan menyimpan memori.

Minggu, 22 Desember 2013

Perintah Belajar Sejarah Dalam Surat Al-Fatihah


Surat al-Fatihah, awal surat dalam al-Qur’an itu ternyata menyiratkan perintah untuk belajar sejarah. Mungkin banyak yang tidak sadar, walau setiap hari setiap muslim pasti mengucapkannya. Tidak sekali bahkan. Tetapi banyak yang tidak menyadari sebagaimana banyak yang tidak mempunyai kesadaran untuk membaca, mengkaji, mendalami sejarah Islam.

Bermula dari doa seorang muslim setiap harinya: 
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fatihah [1] : 6) 

Jalan lurus, yang oleh para mufassir ditafsirkan sebagai dienullah Islam itu, dengan gamblang digambarkan dengan ayat selanjutnya dalam al-Fatihah: 

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” 

Di sinilah perintah tersirat untuk belajar sejarah itu bisa kita dapatkan. Ada tiga kelompok yang disebutkan dalam ayat terakhir ini;  
1. Kelompok yang telah diberi nikmat oleh Allah
2. Kelompok yang dimurkai Allah
3. Kelompok yang sesat 

Ketiga kelompok ini adalah generasi yang telah berlalu. Generasi di masa lalu yang telah mendapatkan satu dari ketiga hal tersebut. 


Kelompok Pertama, Generasi Yang Merasakan Nikmat Allah 

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir 1/140, al-Maktabah al-Syamilah) menjelaskan bahwa kelompok ini dijelaskan lebih detail dalam Surat an-Nisa: 69-70, 

“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an-Nisa [4] : 69-70) 

“Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” 

Ada kata penghubung yang sama antara ayat ini dengan ayat dalam al-Fatihah di atas. Yaitu kata (أنعم) yaitu mereka yang telah dianugerahi nikmat. Sehingga Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat dalam al-Fatihah tersebut dengan ayat ini. 

Mereka adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para shalihin. Kesemua yang hadir dalam dalam doa kita, adalah mereka yang telah meninggal. 

Ini adalah perintah tersirat pertama agar kita rajin melihat sejarah hidup mereka. Untuk tahu dan bisa meneladani mereka. Agar kita bisa mengetahui nikmat seperti apakah yang mereka rasakan sepanjang hidup. Agar kemudian kita bisa mengikuti jalan lurus yang pernah mereka tempuh sekaligus bisa merasakan nikmat yang telah mereka merasakan. 

Perjalanan hidup mereka tercatat rapi dalam sejarah. Ukiran sejarah abadi mengenang, agar menjadi pelajaran bagi setiap pembacanya. 

Kelompok Kedua, Mereka Yang Dimurkai Allah 

Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 1/141, al-Maktabah al-Syamilah) kembali menjelaskan bahwa mereka yang mendapat nikmat adalah mereka yang berhasil menggabungkan antara ilmu dan amal. Adapun kelompok yang dimurkai adalah kelompok yang mempunyai ilmu tetapi kehilangan amal. Sehingga mereka dimurkai. 

Kelompok ini diwakili oleh Yahudi. Sejarah memang mencatat bahwa mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sekalipun, sesungguhnya tahu dengan yakin bahwa Muhammad SAW adalah Nabi yang dijanjikan dalam kitab suci mereka akan hadir di akhir zaman. 

Sekali lagi, mereka bukanlah masyarakat yang tidak berilmu. Justru mereka telah mengantongi informasi ilmu yang bahkan belum terjadi dan dijamin valid. Informasi itu bersumber pada wahyu yang telah mereka ketahui dari para pemimpin agama mereka. 

“Demi Allah, sungguh telah jelas bagi kalian semua bahwa dia adalah Rasul yang diutus. Dan dialah yang sesungguhnya yang kalian jumpai dalam kitab kalian….” kalimat ini bukanlah kalimat seorang shahabat yang sedang berdakwah di hadapan Yahudi. Tetapi ini adalah pernyataan Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraidzah. Dia sedang membuka ruang dialog dengan masyarakatnya yang dikepung oleh 3.000 pasukan muslimin, untuk menentukan keputusan yang akan mereka ambil. 

Maka benar, bahwa Yahudi telah memiliki ilmu yang matang, tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Inilah yang disebut oleh Surat al-Fatihah sebagai masyarakat yang dimurkai. Para ulama menjelaskan bahwa tidaklah kaum Bani Israil itu diberi nama Yahudi dalam al-Qur’an kecuali dikarenakan setelah menjadi masyarakat yang rusak. 

Rangkaian doa kita setiap hari ini menyiratkan pentingnya belajar sejarah. Untuk bisa mengetahui detail bangsa dimurkai tersebut, bagaimana mereka, seperti apa kedurhakaan mereka, ilmu apa saja yang mereka ketahui dan mereka langgar sendiri, apa saja ulah mereka dalam menutup mata hati mereka sehingga mereka berbuat tidak sejalan dengan ilmu kebenaran yang ada dalam otak mereka. Sejarah mereka mengungkap semuanya. 

Kelompok Ketiga, Mereka Yang Sesat 

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bagian dari penafsirannya adalah masyarakat Nasrani. Masyarakat ini disebut sesat karena mereka memang tidak mempunyai ilmu. Persis seperti orang yang hendak berjalan menuju suatu tempat tetapi tidak mempunyai kejelasan ilmu tentang tempat yang dituju. Pasti dia akan tersesat jalan. Kelompok ketiga ini kehilangan ilmu walaupun mereka masih beramal. 

Masyarakat ini mengikuti para pemimpin agamanya tanpa ilmu. Menjadikan mereka perpanjangan lidah Tuhan. Sehingga para pemimpin agamanya bisa berbuat semaunya, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu. 

Sebagaimana yang jelas tercantum dalam ayat: 
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9] : 31)

Kisah’ Adi bin Hatim berikut ini menjelaskan dan menguatkan ayat di atas, 

Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu anhu berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan di leherku ada salib terbuat dari emas, aku kemudian mendengar beliau membaca ayat: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Aku menyatakan: Ya Rasulullah sebenarnya mereka tidak menyembah rahib-rahib itu. Nabi menjawab: Benar. Tetapi para rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka itulah peribadatan kepada para rahib itu. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dihasankan oleh Syekh al-Albani) 

Bagaimanakah mereka masyarakat Nasrani menjalani kehidupan beragama mereka? Bagaimanakah mereka menjadikan pemimpin agama mereka menjadi perwakilan Tuhan dalam arti boleh membuat syariat sendiri? Di manakah kesesatan mereka dan apa efeknya bagi umat Islam dan peradaban dunia? 

Semuanya Dicatat Oleh Sejarah 

Inilah doa yang selama ini kita mohonkan dalam jumlah yang paling sering dalam keseharian kita. Al-Fatihah yang merupakan surat pertama. Bahkan surat pertama yang biasanya dihapal terlebih dahulu oleh masyarakat ini. Surat utama yang paling sering kita baca. Surat yang mengandung doa yang paling sering kita panjatkan. 

Siratan perintah untuk belajar sejarah sangat kuat terlihat. Maka sangat penting bagi kita untuk memperhatikan kandungan surat yang paling akrab dengan kita ini. Agar terbukti dengan baik dan benar doa kita; 

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah [1] : 6-7).

Setetes Embun Ditengah Laut

Cerita Musa dan Khidir adalah cara Allah mendidik Nabi-Nya, Musa a.s., untuk tidak merasa terlalu tahu, untuk tidak merasa hebat. Dengan cara itu Allah hendak memangkas keangkuhannya, sekaligus menanamkan kepadanya sebuah kesadaran baru bahwa apa yang tidak kita ketahui jauh lebih banyak daripada apa yang kita ketahui. Semua yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui terangkum lengkap dalam ilmu Allah. Yang kita ketahui itu terbatas. Sementara yang tidak kita ketahui itu tidak terbatas. Pengetahuan kita adalah gambaran keterbatasan kita sebagai manusia. Sementara ketidaktahuan kita adalah gambaran ketidakterbatasan Allah, sekaligus ketergantungan kita kepada-Nya.

Bisakah embun mengalahkan laut? Tidak! Tapi itu juga bukan perbandingan yang setara. Ilmu kita memang hanya ibarat setetes embun di tengah lautan. Tapi lautan sendiri takkan pernah cukup untuk menulis ilmu Allah itu. Itu sebabnya di penghujung surat Al-Kahfi di mana Allah mengisahkan cerita Musa dan Khidir, Allah mengatakan: “Andaikan laut dijadikan tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allah, niscaya habislah laut itu sebelum kalimat-kalimat Allah itu habis, walaupun Kami mendatangkan laut lain sebanyak itu lagi”. Laut itu akan kering sebelum semua ilmu-Nya, segenap kebijaksanaan-Nya, tercatat!

Semakin dalam kita menyadari betapa luasnya ketidatahuan kita, semakin cepat kita sampai pada sebuah kesadaran baru, bahwa adalah salah besar untuk menafsirkan keberhasilan-keberhasilan kita dengan pengetahuan. Tentu saja pengetahuan kita berhubungan dengan kesuksesan kita. Katakanlah misalnya antara pengetahuan dan kekayaan.

Tapi hubungan itu tidaklah bersifat kausalitas mutlak. Pengetahuan hanyalah salah satu faktor yang bisa menjelaskan kekayaan seseorang atau sebuah bangsa. Tapi apa yang menjelaskan fakta bahwa banyak orang pintar yang miskin, dan sebaliknya, banyak juga orang bodoh yang kaya raya? Pengetahuan mungkin menjelaskan kekayaan Bill Gates dan Amerika. Tapi mungkinkah Bill Gates sekaya itu seandainya dia lahir dua ratus tahun yang lalu? Sebaliknya, apa yang menjelaskan kekayaan negara-negara Teluk? Pengetahuan? Atau keberuntungan?

Selain itu, apa yang terjadi seandainya Allah memberikan semua pengetahuan dan sumber daya alam kepada bangsa-bangsa Barat, dan membiarkan bangsa-bangsa Teluk hidup tanpa pengetahuan dan sumber daya alam? Pengetahuan adalah karunia Allah. Sumber daya alam adalah juga karunia Allah. Dengan membelahnya ke Barat dan Timur, Allah menciptakan interdependensi dalam kehidupan manusia. Dalam makna ini pula Allah menghadirkan kisah Qarun, Haman dan Fir'aun dalam keseluruhan riwayat hidup Nabi Musa. Qarun adalah simbol kekayaan. Haman adalah simbol pengetahuan.

Fir'aun adalah simbol kekuasaan. Ketiganya tenggelam ditelan laut dan bumi. Karena Qarun, misalnya, menafsirkan kekayaannya dengan tafsir tunggal “sesungguhnya aku diberi kekayaan ini karena pengetahuan yang kumiliki”.

Ketiga tokoh simbol itu adalah cerita tentang keangkuhan yang rapuh. Dan dihadirkan untuk mengajari kita makna perbedaan antara embun dan laut.

TAHU DIRI

Empat kategori golongan pengetahuan diri manusia, yang manakah anda?
1) ORANG YANG TAHU DIRINYA TAHU ADALAH SEBAIK-BAIK MANUSIA. 
2) ORANG YANG TAHU DIRINYA TIDAK TAHU ADALAH MANUSIA YANG BERUNTUNG. 
3) ORANG YANG TIDAK TAHU BAHWA DIRINYA TAHU ADALAH ORANG YANG MERUGI. 
4) ORANG YANG TIDAK TAHU BAHWA DIRINYA TIDAK TAHU ADALAH SEBURUK-BURUK MANUSIA. 


Maksudnya :
1) Orang yang tahu bahwa dirinya tahu dan menggunakan pengetahuan yang ada pada dirinya untuk kepentingan dirinya, orang lain dan lingkungannya maka dialah sebaik-baik manusia.
2) Orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga dia terus berusaha menambah pengetahuannya dengan cara belajar dengan berbagai cara maka dia adalah orang yang beruntung.
3) Orang yang tidak tahu bahwa dirinya tahu sehingga pengetahuan yang ada pada dirinya tidak bermanfaat bagi siapapun maka dia adalah orang yang merugi.
4) Orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga dia menganggap dialah orang yang paling tahu dan dia tidak pernah berfikir untuk menambah pengetahuannya, oleh karenanya pengetahuannya tidak pernah bertambah, maka dia adalah seburuk-buruk manusia.

Semoga Bermanfaat
[Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi edisi 216]

Kamis, 19 Desember 2013

LDR - Long Distance Relationship

LDR atau singkatan dari Long Distance Relationship, dalam bahasa Indonesia bisa diartikan Hubungan Jarak Jauh. Merupakan suatu jalinan, ikatan antara dua orang atau lebih tapi ikatan tersebut dijauhkan oleh jarak. Untuk kisah cinta atau jalinan asmara, biasa juga disebut LDL singkatan dari Long Distance Love, bila diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah Cinta Jarak Jauh. Cinta disini mempunyai makna yang luas, tidak hanya tentang seorang pria dan seorang wanita yang sedang berpacaran, tetapi juga cinta antara seseorang kepada saudaranya, keluarganya, sahabatnya bahkan bisa juga kepada benda atau hewan yang memang dia cintai.

Untuk yang sedang berpacaran, LDL bisa terjadi karena komitmen dari kedua belah pihak. Hal ini dikarenakan tanpa adanya komitmen maka jalinan yang telah terajut bisa hancur berantakan, apabila diawal mula tidak yakin akan LDL sebaiknya diakhiri saja hubungan itu karena hanya akan menjadi beban. Lain halnya apabila LDL ini terjadi antara Suami dan Istrinya, keduanya harus saling menguatkan, karena hubungan pernikahan jelas jauh berbeda dengan pacaran.

LDL yang paling banyak ditemui adalah karena alasan pendidikan dan pekerjaan. Seseorang harus menuntut ilmu ditempat yang jauh dikarenakan keinginan orang tersebut, atau juga karena mendapat beasiswa (siapa yang ga mau gratis???), dia harus rela meninggalkan orang-orang terdekatnya demi ilmu yang akan diraihnya. LDL yang disebabkan alasan pekerjaan terjadi karena tuntutan profesionalitas pegawai kepada organisasi yang memakai tenaganya. LDL jenis ini terjadi karena alasan mutasi (perpindahan antar instansi dalam satu organisasi). LDL jenis ini dapat disikapi dengan cara pasangan mengikuti kemana pasangan lainnya ditempatkan bertugas. Tetapi tentunya banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti pendidikan anak, kehidupan orang tua dll.

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan ketika menjalani LDL sehingga ikatan yang telah terjalin tidak hancur berantakan, yaitu :

  • Komitmen untuk tetap bersama, hal ini sangat diperlukan karena tanpa adanya komitmen maka hubungan yang terjadi akan terasa hambar, karena tidak jelas arah tujuan;
  • Komunikasi harus tetap dijaga, karena tidak dapat bertemu langsung dengan pasangan maka komunikasi harus tetap dipelihara dengan baik, karena hanya inilah alat kita mengetahui kabar pasangan yang lain, sering sms, sering telepon walau cuma sebentar, mengganti kartu selular yang mempunyai produk murah adalah cara-cara yang dapat membantu menjaga komunikasi;
  • Kepercayaan dipertebal, disaat kita jauh dari pasangan percaya adalah satu-satunya cara agar kita tidak curiga yang macam-macam kepada pasangan disaat kita jauh;
  • Pengertian, ini hal yang paling sulit dan fleksibel, terkadang disaat kita sedang rindu atau merasa sepi, pasangan tidak dapat menemani meskipun hanya lewat telepon dikarenakan kesibukannya. Disaat itulah pasangan harus mengerti tentang kesibukan pasangan lainnya.
  • Mencari kesibukan, hal ini mesti dilakukan untuk membunuh sepi, tapi diharapkan kesibukan yang ada tidak mengurangi komunikasi dengan pasangan, atau mengurangi perhatian kita, atau yang paling parah apabila karena kesibukan yang terjadi menyebabkan cinlok dikegiatan tersebut.
  • Biaya komunikasi yang tinggi, seringkali menjadi kendala karena mau tidak mau dalam menjalin hubungan kita harus terus berkomunikasi, belum lagi kalau pasangan kita sedang ngambek. Untuk itulah kita harus sedapat mungkin menjaga perasaan pasangan.
Menurut hasil survey kebanyakan pasangan yang menjalin LDL pasti hancur. Tapi itu kan hanya survey, jadi mulai saat ini kita berusaha untuk menjadi yang sedikit itu. yang jelas tetap komitmen pad ahubungan yang telah terjalin. Reff

Minggu, 15 Desember 2013

Cara Memahami Perilaku Siswa Dalam Belajar


“Kan sudah bukan rahasia lagi bahwa, minat siswa untuk secara serius dikelas saat ini semakin susah, mereka merasa tidak perlu terlalu serius memahami penjelasan guru, bagaimana caranya agar siswa focus pada pembelajaran dikelas?”  
Daya tarik guru dalam menjelaskan materi pelajaran adalah hal utama siswa mau “sacrifice ‘ mengikuti kegiatan belajar.Namun tidak semua guru memiliki daya tarik itu jika tidak memahami arti penting “panggilan “ tugasnya mengajar dan memahami perubahan perilaku siswa secara utuh.  

Untuk itu mind set guru perlu ditata ulang saat melaksanakan tugas professional sebagai pendidik.

1. Jika guru beranggapan bahwa tugas mendidiknya adalah tuntutan profesi semestinya menjadi siswa adalah alasan utama guru itu berprofesi menjalankan tugas mendidiknya. Artinya disebabkan siswa lah diperlukan profesi guru, mengingat siswa tanpa guru pun bisa belajar secara otodidak kepada sumber dan sosok selain kepada guru. Apalagi dengan adanya ICT siswa dapat belajar secara mandiri. Inilah alasan utama bagaimana guru dapat membangkitkan semangat belajar siswa melalui karakter unik sebagai pribadi, pendidik professional, inspiration for developing character propositions.

2. Siswa menjadi alasan utama bagi guru mengembangkan daya kreasinya dalam melakukan kegiatan pembelajaran agar siswa dapat memiliki semangat untuk belajar bersungguh sungguh mencapai prestasi puncaknya. Seorang guru dituntut dapat memberikan pelayanan prima agar daya serap siswa dalam menerima pelajaran menjadi meningkat, sehingga siswa berkonsentrasi dan berprestasi dalam kegiatan belajarnya secara menyenangkan. Untuk itu guru dituntut meningkatkan kompetensi akademiknya dan kompetensi professional.

3. Model pembelajaran yang dikembangkan kepada siswa semestinya adalah "long term sustainability",artinya siswa tumbuh kembang kompetensinya secara urut dan berkesinambungan guna membangun life skill secara optimal, bukan sekedar kenaikan grade dengan kompetensi yang tidak meningkat. Ambil contoh Seorang siswa kelas VII semestinya mendapatkan knowledge dan knowhow menambah dan menguatkan ilmu yang didapat sebelumnya sehingga makin kelihatan “keahliannya”. Untuk itulah seorang guru perlu mengenali secara individu karakter unik setiap siswanya guna membangun kompetensi dan prestasi siswa.

Selanjutnya perlu difahami bahwa siswa sesungguhnya “the real stake holder”.
Karena kesuksesannya dapat mengangkat citra guru, citra sekolah sekaligus citra pendidikan secara nasional.

Menjadi Sosok yang Menginspirasi Siswa


Inspirasi merupakan kata yang paling tepat bagi sesuatu yang dapat mempertahankan motivasi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Seseorang yang terinspirasi oleh sesuatu, misalnya setelah menonton sebuah film, untuk mencapai tujuan atau keinginan tertentu akan memiliki semangat yang sangat kuat untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Dalam pembelajaran, guru yang dapat menjadi inspirasi bagi siswa-siswanya akan memberikan daya dorong intrinsik bagi mereka untuk belajar. Selain itu, dorongan tersebut akan tetap bertahan dalam ingatan anak bahkan sampai mereka dewasa. Guru yang dapat menjadi inspirasi akan menjadi pelita hidup mereka. Mungkin banyak diantara kalian yang masih mengingat satu atau dua guru setelah puluhan tahun berlalu karena perilaku atau karakter mereka yang mengagumkan, sehingga kalian sangat ingin menjadi seperti itu. Demikianlah kekuatan dari inspirasi.

Muin (2010) menjaelaskan bahwa karakter guru yang dapat menginspirasi terutama dari 4 kriteria berikut:

  • Seorang yang terus belajar
  • Kompeten
  • Spiritualis
  • Kreatif 

Dalam kenyataan sehari-hari, pengalaman kita mungkin bervariasi seribu satu jenis karakter dan perilaku guru yang membuat kita tetap mengidolakan dan menjadikan mereka sebagai salah satu acuan hidup kita hingga saat ini. Sepertinya ada baiknya jika kita berbagai mengenai karakter atau perilaku guru yang masih tetap kita kagumi hingga saat ini. Mudah-mudahan kita bisa saling belajar, terus belajar dan saling menginspirasi.

Semangat dalam Pembelajaran

Semangat adalah api yang membakar mental manusia hingga berkobar pancarkan panas dan cahaya ke sekelilingnya. Dalam semangat terdapat ledakan-ledakan energi membuat manusia yang mengalaminya akan hilang kemalasan dan kelelahan. Dalam semangat juga terdapat lautan bahan bakar tak terbatas, setiap aktivitas akan terlaksana dengan maksimal.

Belajar akan menjadi mudah dan menyenangkan bila dilakukan dengan semangat yang membara. Siswa akan mengalami momen-momen kreatif dan menyenangkan di dalamnya, hingga berbagai pengetahuan dan ide cemerlang akan lahir dan tumbuh dalam kelas yang penuh dengan api motivasi.

Sayangnya guru yang dapat membakar siswa dengan api semangat pun dapat tertipu. Para siswa yang begitu bergairah dalam aktivitas menyerap informasi, berdiskusi dan praktikum dapat bersikap seperti api yang tersiram hujan lebat. Begitu guru pergi hilang semua gairah dan semangat itu. Berganti dengan kemalasan atau keengganan ilmiah.

Begitulah kalau motivasi yang diberikan guru lebih bersifat motivasi eksternal. Misalnya guru yang begitu lucu dapat membuat anak menjadi senang dengan pelajarannya. Tapi bukan berarti lantas mereka suka belajar pelajaran tersebut di rumah. Siswa menjadi tergantung dengan lucunya sang guru. Walau motivasi eksternal baik, namun setiap guru harusnya mau untuk meningkatkan menjadi berorientasi motivasi internal diri siswa.

Salah satu teknik untuk menanamkan motivasi internal dalam diri siswa adalah dengan memberi mereka tujuan hidup (Habibi, 2012). Tujuan ini bermacam-macam, mulai dari jangka pendek, menengah, panjang hingga tujuan akhir. Setiap jenis tujuan yang kuat akan melahirkan motivasi dan semangat untuk mencapainya. Untuk mencapai suatu tujuan otomatis kita butuh belajar. Tapi jangan sampai tertipu dengan tujuan semu, yaitu tujuan yang hanya berupa keinginan tanpa suatu komitmen untuk mencapainya. Siapapun bisa membuat tujuan jenis ini, tapi ia tak akan pernah belajar untuk itu.

Menjadi Guru Sederhana, Berpikirlah seperti Dewey!

Belajar merupakan proses kompleks yang melibatkan banyak sekali aspek dalam kehidupan manusia. Kompleksitas proses inilah yang membuat banyak guru menjadi pusing dan juga khawatir kalau-kalau apa yang dilakukannya ketika mengajar akan gagal mengantarkan siswa menuju perubahan yang lebih baik. Kondisi ini tampaknya sangat banyak dialami oleh guru-guru di Republik ini.

Tidak hanya guru, bahkan menteri pendidikan pun tampaknya selalu berada dalam kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan dalam mengelola kurikulum nasional. Saking takutnya, hingga beliau seringkali melakukan dan mengulangi program-program yang gagal dan memperburuk keadaan seperti Ujian Nasional.

Namun pembahasan kita bukan pada aspek kurikulum atau kinerja pendidikan secara luas. Saat ini kita akan membahas bagaimana menjadi guru sederhana, berpikir sederhana tanpa dibebani rasa takut berlebihan. Namun justru kesederhanaan itu yang akan membawa manfaat dan kemauan belajar bagi siswa.

Apakah anda percaya itu bisa dilakukan?

Salah satu yang dapat saya tawarkan untuk menjadi guru sederhana adalah dengan menggunakan pola berpikir John Dewey dalam melihat dan memperlakukan anak didik. Dewey (dalam Habibi, Pengantar Teori Belajar, 2013) menjelaskan tiga fase manusia dalam belajar yaitu fase main (orientasi aktivitas untuk kesenangan), fase kerja (orientasi aktivitas untuk hasil nyata) dan fase simbol (orientasi aktivita untuk prinsip atau nilai yang dipegang).

Mengetahui tiga fase itu dapat membuat guru secara sederhana menyesuaikan proses mengajarnya dengan karakter para siswanya. Terkadang, keinginan positif yang berlebihan terhadap siswa justru berakibat negatif apabila tidak disesuaikan dengan karakter dasar yang siswa miliki. Dengan demikian menjadi guru sederhana akan membawa anda pada kemudahan dalam proses mengajar ataupun perkembangan jiwa anda sendiri.

Pentingnya Mengenali Karakter Anak Sebelum Mengajar

Penting bagi para guru mengenali karakter anak sebelum mengajar. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Hal itu perlu dipahami para guru. Seorang guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai psikolog. Minimal, seorang guru dapat mengenali karakter anak dari kebiasaan sehari-hari di sekolah. Hal tersebut akan sangat membantu guru dalam melakukan proses pembelajaran dengan baik bersama anak didiknya.

Berbedanya karakter akan berpengaruh pada gaya belajar anak. Neil Fleming, guru dari New Zealand menyebut gaya belajar dengan learning style. Menurutnya, ada 4 gaya belajar anak, antara lain aural, read/write, visual, dan kinestetik. Gaya belajar aural dulunya disebut auditori. Anak dengan gaya belajar tersebut akan cenderung memahami sesuatu lewat hal yang didengar, sedangkan anak dengan gaya belajar visual akan memahami sesuatu lewat hal yang dilihat. Berbeda dengan itu, anak dengan gaya belajar read/write akan memahami sesuatu lewat proses membaca dan menulis, sedangkan anak dengan gaya belajar kinestetik akan memahami sesuatu setelah mencoba melakukannya sendiri.

Fleming menemukan bahwa 41% orang memiliki salah satu gaya belajar di atas secara dominan, artinya ada yang hanya visual saja, aural saja, read/write saja, atau kinestetik saja. Sekitar 27% memiliki dua gaya belajar sekaligus, misalnya visual dan kinestetik. Ada 9% yang memiliki sekaligus 3 gaya belajar dominan, misalnya visual, aural, dan read/write. Sekitar 20% sisanya memiliki sekaligus keempat gaya belajar yang telah disebutkan, sehingga mudah baginya untuk memahami segala informasi dan pelajaran lewat gaya apapun.

Anak—anak yang memiliki 3—4 gaya belajar sekaligus biasanya dianggap sebagai anak yang pintar, apapun yang dilakukan para guru maupun orang tua untuk mengajarinya akan segera ditangkap. Sebaliknya anak yang memiliki hanya 1 atau 2 gaya belajar saja, ketika gaya belajarnya berbeda dari orang tua dan guru yang mengajarinya, sering jadi masalah. Entah itu sulit menangkap pelajaran, sulit mengingat apa yang sudah dipelajari, sulit berkonsentrasi, dan sering menghasilkan nilai yang pas-pasan saja.

Persoalannya, dari temuan Fleming, hampir 70% orang memiliki hanya 1—2 gaya belajar yang dominan. Kalau guru tidak mengenali gaya belajar anak yang dominan, sangat mungkin kesulitan mengajari anak. Anak jadi membenci proses belajar. Jadi, penting bagi seorang guru untuk mengenali karakter anak lewat gaya belajarnya.

Sebagai guru tentu harus berani mengambil langkah untuk dapat mengoptimalkan cara belajar anak. Seorang guru harus mengetahui cara agar para anak yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda itu dapat menyesuaikan dengan yang lain. Hal tersebut dibarengi dengan mengombinasikan metode belajar anak.

Satu langkah penting yang perlu dilakukan seorang guru adalah menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menarik bagi anak didiknya. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memberlakukan semacam kesepatan yang nantinya menjadi aturan yang harus dipahami dan dilakukan anak. Aturan ini dibarengi dengan pemberian reward sebagai bentuk apresiasi dan sebagai konsekuensi logis atas pelanggaran yang dilakukan anak. Selain itu, libatkan anak-anak dalam aktivitas belajar secara aktif dan intens.

Astronom, Temukan Bulan Baru Pluto

Tim astronom melaporkan penemuan bulan baru yang mengelilingi planet kecil dan dingin, Pluto.

Berdasarkan observasi menggunakan teleskop Hubble milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), para astronom memperkirakan bentuk bulan bergaris lintang 6-15 mil (sekitar 24 kilometer) itu tidak beraturan.

Bulan itu mengorbit dalam lingkaran berdiameter 58.000 mil (93.341 kilometer) dan diperkirakan berada dalam satu bidang dengan satelit lain yang mengitari Pluto.

“Bulan-bulan ini membentuk rangkaian rapi di orbit, seperti boneka Rusia,” kata ketua tim astronom, Mark Showalter dari SETI Institute di Mountain View, California, seperti dikutip laman resmi NASA.

Penemuan bulan baru itu menambah jumlah bulan yang diketahui mengelilingi Pluto menjadi lima.

Bulan terbesar Pluto, Charon, ditemukan tahun 1978 dalam observasi yang dilakukan United States Naval Observatory di Washington DC.

Selanjutnya, observasi Hubble tahun 2006 menemukan dua bulan kecil Nix dan Hydra. Bulan keempat, P4, juga ditemukan tahun 2011 dari data Hubble.

Menurut teori yang banyak dianut, semua bulan itu adalah sisa tabrakan antara Pluto dengan objek besar Sabuk Kuiper lain milyaran tahun yang lalu.

Tim astronom tertarik mempelajari Pluto karena planet kecil itu memiliki rangkaian satelit yang kompleks. Penemuan bulan kali ini akan memberi petunjuk tambahan untuk mengungkap bagaimana sistem Pluto terbentuk dan berevolusi.

Penemuan baru juga akan membantu para ilmuwan mengemudikan pesawat antariksa New Horizons milik NASA melewati sistem Pluto tahun 2015, saat pesawat melakukan perjalanan bersejarah melintasi dunia yang jauh dengan kecepatan tinggi.

Tim mengandalkan jarak pandang Hubble yang kuat untuk menjelajahi sistem Pluto, melihat potensi bahaya bagi pesawat New Horizons yang akan melintasi planet kecil itu dengan kecepatan 30.000 mil (48.280 kilometer) per jam. Perlintasan itu berpotensi menyebabkan tabrakan antara pesawat dengan serpihan orbit.

“Penemuan begitu banyak bulan kecil secara tidak langsung memberitahu kita bahwa pasti ada banyak sekali partikel kecil yang tidak kelihatan dalam sistem Pluto,” kata Harold Weaver dari Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins University.

“Ini akan membantu tim New Horizons merancang lintasan pesawat antariksa yang lebih aman,” tambah Alan Stern dari Southwest Research Institute di Boulder, Colorado.