aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Rabu, 05 Desember 2012

Ayat-ayat Al Quran yang Berhubungan dengan Ilmu Fisika

  

Gejala Fisis  
 
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (Al Imran :190)

Dalam ayat diatas kita diberi petunjuk, setidaknya tersirat beberapa makna antara lain adalah: alam semesta yang senantiasa berproses tanpa henti dan menyajikan banyak sekali gejala dalam seluruh dimensi ruang dan waktu yang terus berkembang.

” Hanya kepada Allah lah tunduk/patuh segala apa yang ada dilangit dan di bumi baik atas kesadarannya sendiri ataupun karena terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang” (ar Raad :15)

Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan kita bahwa apapun nama dan bentuk gejala yang ditunjukan-Nya selalu mengikutisuatu sistem dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.

” Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah diwaktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya. Dan dengan bulan apabila jadi purnama, sesungguhnya kamu melalui tingkat-demi tingkat”. (Al Insyiqaaq 16-19)

Allah SWT menampilkan gejala fisis untuk diartikan sebagai perumpamaan antara lain behwa terdapat 3 tahap yang harus dilalui manusia yaitu : pertama, adanya ketidaktahuan kita seperti kita melihat dalam kegelapan malam. Kedua, adanya keragu-raguan kita seperti halnya kepekaan kita melihat cahaya merah di waktu senja dan ketiga, ditunjukan-Nya gejala fisis serta penjelasan secara nyata dan membawa isyarat keindahan dan keagungan-Nya.

Model dan Perumusan Fisika


” Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat memetik pelajaran “ (az Zumar :27)

“Kepunyaan Allah lah segala apa yang dilangit dan dibumi, Sesungguhnya Allah, Dialah Maha kaya lagi Maha Terpuji. “(Luqman :26)


Untuk memenuhi keingintahuan terhadap rahasia-rahasia alam ini penjelasan-penjelasannya selalu dipakai pendekatan-pendekatan dalam bentuk atau keadaan yang sederhana atau keadaan-keadaan ideal. Keadaan ideal ini dinyatakan dalam bentuk perumusan matematika yang selanjutnya kita sebut sebagai hukum-hukum fisika.

Besaran Fisis



” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. (Al Qamar: 49)

” Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Al Furqan :2)


Kedua ayat diatas mengisyaratkan bahwa kata ” Ukuran” adalah apa yang ada di alam ini dapat dinyatakan dalam dengan dua peran, yang pertama sebagai bilangan dengan sifat dan ketelitian yang terkandung didalamnya dan yang keduanya sebagai hukum atau aturan.

Dimensi dan Ruang



“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup ( bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ?” (Al Fushshilat :53)

Dalam kata kata “tanda-tanda (kekuasaan) Allah” tersirat sifat dan perilaku seluruh ciptaan Nya dengan berbagai proses dan gejalanya. Adapun yang terkandung dalam pengertian “ufuk”, selain yang berlaku sebagai dimensi ruang juga termasuk dalam makna dimensi-dimensi.

Dinamika



“Tidak ada balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula.” (Ar Rahman: 60)

Secara harfiah dapat diartikan bahwa munculnya balasan kebaikan merupakan buah dari interaksi. Dalam ayat ini tersirat pula makna dari pemberian dan balasan berupa potensiyang dimiliki suatu benda.

Usaha dan Energi 



“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdekatan … (ar Rad : 4)

Secara harfiah diartikan sebagai berdekatan dalam dimendi tempat, sebagi daerah, wilayah, negara dsb. Yang mempunyai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya yang mengolah, mengembangkan dan meningkatkan.. Berikutnya potensi tersebut saling dipertukarkan baik dari sisi keunggulan komparatif maupun kompetitif.

Impuls dan momentum 


” Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakan, dan mereka tidak akan merugikan.” (Al Jaatsiyah :22)

Ayat diatas merupakan penjabaran interaksi yang terjadi dialam secara lebih luas lagi. Interaksi tidak sekedar saling pengaruh mempengaruhi, saling memberi dan saling menerima antar manusia, mahluk atau benda.

Getaran  
 
” Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah mahluk yang paling banyak membantah.” (Al Kahfi :54)

Ayat diatas merupakan pernyataan Allah SWT tentang kandungan al Quran yang mengingatkan kita dengan berbagai perumpamaan secara berulang-ulang. Apabila kita perluas makna ayat diatas dengan peristiwa atau gejala fisis bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan wujudnya atau materinya selalu bergerak secara berulang-ulang. Gerak berulang dalam ruang berdimensi satu sering kita sebut sebagai getaran.

Gelombang



” Dan diantara tanda -tanda kekuasaanNya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmatNya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintahNya dan supaya kamu dapat mencari karuniaNya, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (Ar Ruum : 46)

Secara umum “angin” disini sebagai angin yang bertiup membawa awan untuk menurunkan air hujan dan angin yang meniup kalpal layar agar dapat berlayar dilautan. Kita merasakan kedekatan makna “angin” dalam ayat ini adalah gelombang, bukan saja gelombang bunyi yang membawa berita tetapi juga gelombang radio atau gelombang elektromagnet yang mampu dipancarkan kesegala penjuru dunia bahkan seluruh jagad raya ini.

Elastisitas


” Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca.” (ar Rahman: 7)

Dalam ayat ini tersirat yang berhubungan dengan kenyataan yang telah diketahui manusia dari berbagai gejala yang terlihat atau telah dilakukan percobaan dan pengukurannya. Dalam kaitan masalah yang akan di bahas di sini, bukan peristiwa pemuaiannya atau keseimbangannya , namun ada suatu sifat yang menertai dalam peristiwa itu yaitu sifat kelenturan atau elastis.

Fluida bergerak atau mengalir



” Dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berakal. (Al Jaatsiyah : 5)

” Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari padanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaanNya bagi kaum yang berfikir.” (Al Jaatsiyah : 13)


Kedua ayat diatas sangat berkaitan erat dengan teknologi keudaraan.. Diawali dengan ayat 5, dengan terjemahan “tshriifirriyaahi” sebagai perkisaran angin kita dituntun untuk mempelajari sifat fluida yang bergerak atau mengalir. Disambung oleh ayat 13, menegaskan dasar dari teknologi keudaraan.

Suhu dan Kalor


“Dan Dia {menundukan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainnan macamnya, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaannya. (An Nahl :13)
Secara harfiah memang kita melihat dan merasakan banyak wujud dan jenis benda yang diciptakan Allah SWT. Dibalik itu banyak juga yang tidak tampak dan berupa sifat atau potensi, antara lain seperti energi yang disediakan untuk manusia. Energi itu termasuk suhu dan kalor.

Besi  
 
Besi adalah salah satu unsur yang dinyatakan secara jelas dalam Al Qur’an. Dalam Surat Al Hadiid, yang berarti “besi”, kita diberitahu sebagai berikut:

“…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ….” (Al Qur’an, 57:25)

Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur’an diturunkan.

Magnet dan Logam



“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Al Qur’an, 36:36)


“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

RELATIVITAS WAKTU 

Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.
Tapi ada perkecualian; Al Qur’an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 22:47)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 32:5)

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Al Qur’an, 70:4)




Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (Al Qur’an, 23:122-114)
Sumber : zhuldyn.wordpress.com

Serial Eset Update 05 December 2012

 
Update 05 December 2012

Username dan password untuk Eset Smart Security 4, 5 dan 6 

Username: TRIAL-76248804
Password: 2x22rrkc7c
Expiry Date: 16.12.2012

Username: TRIAL-76248782
Password: 7ptn7fdedm
Expiry Date: 16.12.2012

Username: TRIAL-76248795
Password: 6t7p4vtc36
Expiry Date: 16.12.2012

Username: EAV-73195391
Password: amtuvkx7e3
Expiry Date: 01.01.2013

Username: EAV-73195395
Password: uat48vbscc
Expiry Date: 01.01.2013

Username: EAV-76001317
Password: kd8mbvjbe4
Expiry Date: 18.02.2013

Username: EAV-76001321
Password: ncsdjh88xc
Expiry Date: 18.02.2013

Username: EAV-76001335
Password: 856nra3pj7
Expiry Date: 18.02.2013

Username: EAV-76001355
Password: 2smfd7a37k
Expiry Date: 18.02.2013

Username: EAV-76001359
Password: kfmpphmm5v
Expiry Date: 18.02.2013

Username dan password untuk Eset Antivirus 4, 5 dan 6

Username: EAV-76007819
Password: axprxnjs44
Expiry Date: 19.02.2013

Username: EAV-76007825
Password: 6aamcex2jj
Expiry Date: 19.02.2013

Username: EAV-76007831
Password: 744su52ppk
Expiry Date: 19.02.2013

Username: EAV-76007851
Password: hmrmbnhv5a
Expiry Date: 19.02.2013

Username: EAV-76007866
Password: uuumchnv3h
Expiry Date: 19.02.2013

PERIODE ANGKATAN 45

 
A. Latar Belakang
Periode Angkatan 45 dimulai tahun 1942, tidak lama sesudah masuknya Jepang ke Indonesia. Periode ini merupakan pengalaman dan saat yang penting dalam sejarah bangsa dan juga sastra Indonesia. Pada masa ini, Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan diganti dengan bahasa Melayu. Hal ini memberi dampak pada intesifikasi pada penggunaan bahasa Melayu (Indonesia) dan, tentu saja, mengintensifkan perkembangan kesusastraan Indonesia.
Secara politik, Jepang mengumpulkan para seniman di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho). Awalnya, banyak seniman yang dengan penuh semangat menerima panyatuan di bawah satu organisasi. Namun, bersama lalunya waktu, para seniman tersebut sadar bahwa mereka diperalat untuk kepantingan propaganda Jepang yang sedang berusaha menguasai seluruh Asia. Kesadaran tersebut muncul setelah mengetahui janji-janji kosong, kekejaman, dan penindasan yang dilakukan oleh Jepang. 

Dalam bidang seni, kekecewaan itu merupakan dampak dari kebijakan Jepang
yang membatasi kreativitas para seniman. Kebijakan tersebut antara lain sebagi berikut.
  • Segala macam surat kabar dan majalah dilarang terbit kecuali terbitan yang berada di bawah pengawasan Jawa Shimbun Kai.
  • Pendirian Kantor Pusat Kebudayaan yang pada dasarnya digunakan untuk menindas kebudayaan Indonesia dan sebagai alat propaganda Jepang.

B. 45 sebagai Nama Angkatan
Penamaan angkatan ini dengan nama Angkatan 45 didasarkan pada peristiwa politik, yaitu kemerdekaan Indonesia. Selain nama tersebut ada beberapa nama yang digunakan dengan maksud yang sama. Nama-nama tersebut antara lain Angkatan Kemerdekaan, Angkatan Pembebasan, Angkatan Perang, Angkatan Sesudah Perang, Angkatan Sesudah Pujangga Baru, Angkatan Chairil Anwar, dan Anggkatan Gelanggang. 

Sebagai sebuah angkatan, Angkatan 45 adalah sebuah rentang waktu dalam kesusastraan Indonesia. Rentang waktu angkatan ini adalah antara 1942-1953. Periode ini dibagi menjadi dua, yaitu masa penjajahan Jepang dan masa sesudah penjajahan Jepang. Masa penjajahan Jepang antara 1942-1945 dan masa sesudah penjajahan Jepang antaara 1945-1953.


C. Karakteristik Angkatan 45
Jika dibandingkan dengan Angkatan sebelumnya (Angkatan Balai Pustaka dan Angkatan Pujangga Baru), Angkatan 45 memiliki persamaan dan perbedaan. Untuk memperjelas karakteristik Angkatan 45, pembahasan dilakukan dengan menggunakan sudut-pandang tertentu.

1. Karakteristik Struktur
a. Puisi
  1. Puisi bebas, tak terikat pembagian bait, jumlah baris, dan persajakan.
  2. Gayanya ekspresionisme.
  3. Aliran dan gayanya realisme.
  4. Diksi mencerminkan pengalaman batin yang dalam dan untuk intensitas arti mempergunakan kosa kata bahasa sehari-hari sesuai dengan aliran realisme.
  5. Bahasa kiasan yang dominan metafora dan simbolik; kata-kata, frasa, dan kalimat-kalimat ambigu menyebabkan arti ganda dan banyak tafsir.
  6. Gaya sajaknya prismatis dengan kata-kata yang ambigu dan simbolik, hubungan baris-baris dan kalimat-kalimatnya implisit.
  7. Gaya pernyataan pikiran berkembang (nantinya gaya ini berkembang menjadi gaya sloganis).
  8. Gaya ironi dan sinisme menonjol

b. Prosa
  1. Alur sorot balik lebih banyak dari periode sebelumnya.
  2. Alur padat dan digresi tidak digunakan lagi.
  3. Dalam menggambarkan perwatakan/penokohan, analisis fisik tidak dipentingkan, yang ditonjolkan analisis kejiwaan, tetapi tidak dengan analisis langsung, melainkan dengan cara dramatik: dengan arus kesadaran dan cakapan antar tokoh.
  4. Seperti juga dalam puisi, gaya ironi dan sinisme banyak digunakan.
  5. Gaya realisme dan dan naturalisme: penggambaran kehidupan sewajarnya.

2. Karakteristik Pandangan Hidup
1) Pandangan hidup angkatan 45 adalah humanisme universal. Hal ini, secara implisit, ditunjukkan pada studi-studi mereka terhadap sastra dunia antara lain Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika. Secara eksplisit pandangan hidup ini diungkapkan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang.


SURAT KEPERCAYAAN GELANGGANG

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang-banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan. 

Ke-Indonesia-an kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kami tidak akan memberikan suatu kata-ikatan untuk kebudayaan Indonesia. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia yang kemudian dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha-usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran-nilai. 

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikianlah kami berpendapat bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.  

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu aseli; yang pokok ditemui itu ialah manusia. Dalam cara mencari, membahas dan menelaah kami membawa sifat sendiri. 

Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.
Jakarta, 18 Februari 1950


2) Individualisme menonjol dalam genre puisi; kesadaran akan eksistensi diri terpancar kuat dalam sajak-sajak periode ini.
3) Dalam filsafat, periode ini banyak mengindikasikan adaya pengaruh eksistensialisme.


3. Tema
  1. Dalam puisi, periode ini menghadirkan karya yang berbicara tentang kehidupan batin/jiwa manusia melalui peneropongan diri sendiri.
  2. Menggambarkan masalah kemasyarakatan, di antaranya ketimpangan sosial dalam masyarakat, kemiskinan, dsb.
  3. Pemecahan masalah dengan menyajikan pandangan hidup dan pemikiran pribadi.
  4. Zaman peperangan merupakan tema utama dalam kebanyakan prosa terutama peranga kemerdekaan melawan Belanda dan Jepang

D. Sastrawan-Sastrawan Angkatan 45
Sastrawan Angkatan 45, tidak seperti angkatan sebelumnya, telahberkembang jumlahnya. Dengan demikian, dalam tulisan ini disampaikan yang tercatat dalam beberapa referensi dan akan dikembangkan pada saat yang lain ketika ada referensi baru yang dapat dijangkau. 

Berikut sastrawan-sastrawan Angkatan 45 yang tersusun alfabetis. 1. A. S. Dharta (Lekra)
2. Achdiat K. Mihardja
3. Amal Hamzah
4. Anas Ma’ruf
5. Anggraito
6. Aoh Kartahadimadja
7. Ashar Munir Samsul
8. Asrul Sani
9. Bachtiar Siagian (Lekra)
10. Bahrum Rangkuti
11. Bakri Siregar (Lekra)
12. Bandaharo Harahap (Lekra)
13. Buyung Saleh Puradisastra (Lekra)
14. Chairil Anwar
15. Darmawijaya
16. Dodong Jiwapraja
17. H. B. Jassin
18. Ida Nasution
19. Idrus
20. Joebaar Ajoeb
21. Katili AG Abdullah
22. Kirjamulya
23. Laurens Koster Bohang
24. M. A. Juhana
25. Mahatmanto
26. Maria Amin
27. Marlupi
28. Matumona
29. Mochtar Lubis
30. Nugroho
31. Nursyamsu
32. Purwa Atmaja
33. Pramoedya Ananta Toer
34. Rivai Apin
35. Rosihan Anwar
36. Rukiah (Lekra)
37. Rusman Sutiasumarga
38. Rustandi Kartakusuma
39. Sitor Situmorang
40. St. Nuraini
41. Subardjo
42. Suwandi Tjitrowarsito
43. Taslim Ali
44. Toto Sudarto Bachtiar
45. Trisno Sumardjo
46. Usmar Ismail
47. W.S. Rendra
48. Waluyati
49. Wiratmo Sukito

DAFTAR PUSTAKA
  1. Hendy, Zaidan.1988. Pelajaran Sastra 1. Jakarta: Gramedia
  2. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, Dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  3. Rosidi, Ajip. 1968. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta
  4. Soetarno. 1983. Peristiwa Sastra Indonesia. Surakarta: Widya Duta

KESUSASTRAAN ZAMAN BALAI PUSTAKA

 
1. Latar Belakang
Latar belakang berdirinya Balai Pustaka di Indonesia erat hubungannya dengan kebijaksanaan pemerintah Belanda jauh sebelumnya. Kaum Liberal yang berkuasa di Negeri Belanda memandang perlu untuk meningkatkan taraf hidup rakyat bumiputera (rakyat Indonesia dahulu). Lahirlah politik Etis (yang bertalian dengan moral) pada tahun 1870. Politik Etis ini meliputi edukasi (pendidikan), transmigrasi, dan irigasi (pengairan). 


Di bidang pendidikan, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah seperlunya, terutama di pulau Jawa. Tujuannya adalah untuk meningkatkan taraf berpikir segelintir rakyat Indonesia, di samping untuk menjadikan mereka sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda yang dapat digaji lebih murah daripada mengangkat pegawai dari negeri Belanda atau Eropa lainnya. 

Karena pendidikan ini, sebagian kecil rakyat bisa baca-tulis. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda kalau-kalau kepandaian rakyat ini melunturkan kepercayaan dan kesetiaan kepada pemerintah. Lebih-lebih bila mereka ini mendapatkan bacaan dari luar yang isinya menghasut. Untuk itu perlu diatasi dengan mengadakan buku bacaan yang digemari rakyat, setelah disensor terlebih dahulu.
Pada tanggal 14 September 1908 dengan surat keputusan pemerintah no. 12 berdirilah sebuah komisi yang bernama Commissie voor de Inlandsche School (Komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat). Komisi ini beranggotakan 6 orang yang dikepalai oleh Dr. G.A.J. Hazeu. Komisi ini berkewajiban pula member pertimbangan kepada Directuuur Onderwijs (Bagian Pengajaran) untuk memilih buku-buku yang baik bagi murid-murid di sekolah.


2. Berdirinya Balai Pustaka
Makin banyak rakyat ingin membaca, makin banyak buku yang dibutuhkan. Tugas komisi makin banyak dan makin sibuk. Maka pada tanggal 22 September 1917 komisi tersebut menjadi Kantoor voor de Volkslectuur(Kantor Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan Balai Pustaka. Balai artinya bangunan atau tempat yang luas untuk melakukan kegiatan dan Pustaka artinya buku-buku. Balai Pustaka ini beralamat di jalan Dr. Wahidin, Jakarta Pusat. Tugas Balai Pustaka berkenaan dengan karang-mengarang dan pencetakan buku bacaan dan buku-buku lain. Usaha Balai Pustaka dalam memajukan kesusastraan antara lain:

  1. Mengumpulkan atau menghimpun cerita-cerita (dongeng) daerah dan mengalihkannya ke dalam bahasa Melayu.
  2. Menerjemahkan cerita-cerita Eropa atau cerita asing lainnya ke dalam bahasa Melayu.
  3. Menerbitkan majalah dalam bahasa daerah yaitu: Panji Pustaka (Melayu),Parahiayangan (Sunda), dan Kejawen (Jawa).
  4. Menerbitkan buku Almanak Rakyat yang berisi ilmu pengetahuan praktis untuk kehidupan rakyat sehari-hari dengan harga murah.
  5. Membuka perpustakaan rakyat melalui sekolah-sekolah di pelosok tanah air.

3. Dampak Berdirinya Balai Pustaka
Pada waktu itu, bahasa yang dipakai sebagai bahasa karangan di Balai Pustaka adalah bahasa Melayu. Karena itu pengarang-pengarang Balai Pustaka kebanyakan orang Melayu. Hanya beberapa pengarang yang bukan dari Melayu yang menjadi penulis dalam Balai Pustaka. Karena Balai Pustaka merupakan lembaga yang mendukung pendidikan, Balai Pustaka sangat berperan dalam perkembangan sejarah Indonesia sebelum kemerdekaan. Jasa-jasa Balai Pustaka antara lain:
  1. Mempercepat pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan Indonesia.
  2. Perkembangan dan kemajuan sastra menjadi pesat karena naskah karangan yang disusun pengarang dapat terbit dengan biaya Balai Pustaka.
  3. Pertumbuhan dan perkembangan bahasa lebih terpelihara karena hanya naskah cerita yang bahasanya baik yang dapat diterbitkan.
  4. Membangkitkan semangat pengarang-pengarang muda dan mengembangkan bakat mereka.
  5. Sampai sekarang merupakan gelanggang karang-mengarang dan cetak mencetak buku.
Karena berdiri dibawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, ada dampak-dampak yang merugikan bagi karangan yang akan diterbitkan. Hal ini terjadi karena naskah-naskah yang masuk bisa dicetak hanya jika memenuhi kriteria tulisan yang diperkenankan pemerintah Hindia Belanda. Hal-hal yang berdampak buruk tersebut antara lain:
  1. Pengarang tidak bebas mengemukakan pikiran dan perasaan karena harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan pemerintah Hindia Belanda, misalnya naskah tidak boleh berbau politik, harus netral dan tidak boleh menyinggung suatu golongan.
  2. Staf redaksi sebagai pengemban kemauan pemerinth Hindia Belanda sangat menentukan nasib sebuah naskah. Tidak jarang naskah yang terbit itu sudah berbeda jauh dari aslinya karena disesuaikan dengan selera staf redaksi.

4. Balai Pustaka Sebagai Nama Angkatan

Angkatan Balai Pustaka diambil dari nama penerbit ini karena sebagian besar pengarang pada periode ini berkumpul pada lembaga penerbitan ini. Sebelum dicetak Balai Pustaka berhak memperbaiki baik isi maupun bahasanya. Karena perana Balai Pustaka terhadap karya periode ini, angkatan tersebut disebut Angkatan Balai Pustaka. 

Selain Balai Pustaka, nama lain yang digunakan untuk menyebut angkatan ini adalah Angkatan Dua Puluhan karena angkatan ini lahir pada rentang waktu tahun dua puluhan. Angkatan ini dimulai dari terbitnya buku Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang terbit tahun 1920 yang memiliki corak yang sama dengan karya-karya berikutnya. Kesamaan corak pada rentang waktu tersebut mendasari penamaan angkatan tersebut menjadi angkatan Dua Puluhan.

Selain dua nama tersebut angkatan ini juga disebut Angkatan Siti Nurbaya. Penamaan ini diambil dari judul sebuah roman karangan Marah Rusli yang berjudul Siti Nurbaya. Hal ini sebagai akibat dari kepopuleran tema roman tersebut pada waktu itu.


5. Pembaharuan Yang Dilakukan oleh Balai Pustaka
Pada periode ini terjadi perkembangan sastra yang berbeda dari sastra sebelumnya, yaitu sastra Melayu lama. Perkembangan ini terjadi pada setiap genre sastra yang dikenal dalam sastra Melayu, yaitu prosa, puisi, dan drama. 

Dalam prosa, angkatan Balai Pustaka telah bergerak jauh berbeda dari sastra Melayu lama. Dari segi isi, prosa periode ini mengambil bahan cerita dari Minangkabau. Hal ini berbeda dengan prosa lama yang kebanyakan mengambil setting istana dangan tempat negeri “antah berantah” yang tidak bisa ditelusuri tempat sebenarnya. 

Kisah yang diceritakan dalam prosa-prosa Balai Pustaka mengangkat tema perjuangan kaum muda dalam menanggapi kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam masyarakat. Kejanggalan-kejanggalan itu membentuk pertentangan-pertentangan antara kaum muda yang berpikiran maju dengan kaum tua yang berpikiran kolot. Secara lebih khusus tema-tema yang menjadi latar pertentangan antara kaum tua dan kaum muda mengenai adat, kawin paksa, kebangsawanan, poligami, gaya hidup barat dan sebagainya.


6. Karakteristik Balai Pustaka
Dalam menunjukkan karakteristik periode angkatan Balai Pustaka Pradopo (2007: 23-4) membagi menjadi dua, yaitu berdasarkan ciri-ciri struktur estetik dan ciri-ciri ekstra estetik. Struktur estetik lebihdekat dengan istilah unsur intrinsik dan ekstra estetik dengan unsur ekstrinsik

a. Ciri-ciri struktur estetik

  1. Gaya bahasanya menggunakan perumpamaan klise, pepatah-pepatah, dan peribahasa, namun menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang lain dari bahasa hikayat sastra lama.
  2. Alur roman sebagian besar alur lurus. Ada juga yang menggunakan alur sorot balik tapi sedikit, misalnya pada Azab dan Sengsara dan Di Bawah Lindungan Kaabah.
  3. Teknik penokohan dan perwatakannya banyak mempergunakan analisis langsung (direct author analysis) dan deskripsi fisik. Tokoh-tokohnya berwatak datar (flat character)
  4. Setting berlatar kedaerahan. Selain itu setting yang digunakan adalah saat ini dan pada sebuah tempat tertentu di masa kini, bukan dahulu kala di negeri antah-berantah
  5. Pusat pengisahan pada umumnya mempergunakan metode orang ketiga atau diaan. Ada juga yang menggunakan orang pertama atau akuan misalnyaKehilangan Mestika dan Di Bawah Lindungan Kaabah.
  6. Banyak terdapat digresi, yaitu sisipan yang tidak secara langsung berkaitan dengan cerita, misalnya uraian adat, dongeng-dongeng, syair, pantun, dsb.Digresi tersebut terdapat, misalnya, dalam kutipan-kutipan berikut.
Pantun
Demikian sekalian perempuan itu tertawa-tertawa pula, sehingga malu Asri tadi itu terlipur sudah. Apabila karena Asnah pun ikut tertawa jua. Akan tetapi tertawanya itu sebagai bunyi pantun:
Maninjau berpadi masak,
batang kapas bertimbal jalan.
Hati risau dibawa gelak,
bak panas mengandung hujan. (Iskandar, 1990: 82-3)


Syair 
Maka Nurbaya berseri, ketika melihat surat itu, karena besar hatinya, dan pada bibirnya kelihatan gelak senyum, yang mencekungkan kedua pipinya, menambah manis rupanya. Bertambah-tambah besar hatinya menerima surat, karena telah dua Jumat ia tiada mendapat kabar dari samsu 

    7. Bersifat didaktis.
    8. Bercorak romantis sentimental


b. Ciri-ciri ekstra estetik

  1. Pertentangan paham antara golongan tua dan golongan muda soal adat lama dan kemodernan
  2. Tidak mempermasalahkan nasionalisme dan rasa kebangsaan

7. Pengarang-Pengarang Angkatan Balai Pustaka
Pengarang-pengarang Balai Pustaka seperti telah disebutkan di muka kebanyakan berasal dari Sumatera hanya sebagian kecil yang bukan berasal dari Sumatera. Dalam tulisan ini akan dibagi 2, yaitu pengarang yang berasal dari Sumatera dan bukan Sumatera. 

a. Berasal dari Sumatera
1) Abdul Muis
2) Adinegoro (Djamaluddin)
Karyanya:

  • Asmara Jaya. Roman ini terbit tahun 1927.
  • Darah Muda. Roman ini terbit tahun 1928.
  • Melawat ke Barat. Prosa ini berbentuk kisah perjalanan.
  • Falsafah Ratu Dunia. Buku ini berisi surat-surat dan pandangan.
  • Revolusi dan Kebudayaan. Karya ini berupa essay yang terbitkan Balai Pustaka pada tahun 1954.
3) Aman Datuk Madjoindo
4) Hamidah
5) Hamka
6) Marah Rusli
Karyanya:
  • SitiNurbaya. Roman ini diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1922.
  • Anak dan Kemenakan. Diterbitakan Balai Pustaka pada 1956.
  • La Hami. Roman ini berlatar sejarah pulau Sumba.
7) Merari Siregar
Karyanya:
  • Azab dan Sengsara.Roman ini diterbitkan 1920 oleh Balai Pustaka.
  • Si Jamin dan Si Johan. Cerita ini merupakan cerita saduran dari Oliver Twist karya Charles Dickens menurut A.A. Teeuw menurut Armyn Pane cerita ini saduran dari Uit hek wolk karya Justus van Maurik.
  • Binasa karena Gadis Priyangan. Roman ini diterbilkan Balai Pustaka tahun 1931
  • Cinta dan hawa Nafsu.
  • Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Bertawi. Roman ini diterbtkan Balai Pustaka tahun 1924
8) Moh. Yamin
9) Muhammad Kasim
10) Sa’adah Alim
11) Nurani
12) Nur Sutan Iskandar
Sastrawan ini adalah salah satu penulis yang aktif dengan karya yang relatif banyak. Karya-karya tersebut berupa terjemahan, saduran, dan karangan sendiri.
Terjemahan:
  • Bertanam Kacang.
  • Permainan Kasti.
  • Abunawas
  • Iman dan Pengasihan. Karya ini merupakan terjemahan dari Quo Vadis
Saduran:
  • Pelik-pelik pendidikan.
  • Si Bachil. Karya ini merupakan saduran dari drama L’avare karya Moliere.
  • Dewi Rimba.
13) Rustam Effendi
14) Selasih
15) Suman Hs.
16) Tulis Sutan Sati
Karyanya:
  • Siti Marhumah yang Saleh. Syair ini merupakan saduran dari cerita lamaHasanah yang Saleh.
  • Syair Rosina. Saduran tentang kejadian yang sebenarnya terjadi di Betawi.
  • Sabai nan Aluih. Saduran dari kaba dengan judul yang sama.
  • Sengsara Membawa Nikmat. Roman ini terbit tahun 1928.
  • Tidak Tahu Membalas Guna. Roman ini terbit pada tahun 1932.
  • Tak Disangka. Roman ini terbit pada tahun 1932.
  • Memutuskan Pertalian. Roman ini terbit pada 1932.

b. Berasal dari daerah lain
17) H.S.D. Muntu (Sulawesi)
18) I Gusti Nyoman Panji Tisna (Bali)
19) Marius Ramis Dayoh (Sulawesi)
20) L. Wairata (Pulau Seram)
21) Paulus Supit (Sulawesi)
22) Sutomo Djauhar Arifin (Jawa)

PUJANGGA BARU

 
A. Awal Kelahiran Pujangga Baru
Pujangga Baru dilatarbelakangi semangat persatuan yang hidup dalam msyarakat Indonesia. Semangat ini dipelopori oleh kaum muda yang pada tanggal 28 Oktober 1928 telah mencetuskan Sumpah Pemuda. Sumpah sakti ini berbunyi sebagai berikut:
Sumpah Pemuda
1. Kami putra dan putri Indonesia bertumpah darah satu Tanah Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia berbangsa satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia. 

Ikrar sumpah pemuda ini mempengaruhi banyak bidang pergerakan. Gerakan tersebut dilaksanakan dalam berbagai bidang, misalnya sosial, pendidikan, budaya, dsb.
Pujangga Baru adalah salah satu gerakan dalam bidang kebudayaan yang di dalamnya mencakup sastra. Selain Pujangga Baru banyak media-media yang dimanfaatkan oleh para sastrawan untuk mengekspresikan idennya. Media-media tersebut antara lain Timbul dan Panji Pustaka. Keduanya memiliki rubrik khusus sastra. Pujangga Baru adalah satu-satunya majalah yang memuat karya sastra secara khusus pada waktu itu. 

Majalah Pujangga Baru ini bertujuan untuk membawa atau menyebarkan semangat baru dalam lapangan kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan sosial yang tujuan akhirnya adalah terbentuknya persatuan bangsa. Hal ini nampak pada semboyan Pujangga Baru yang beberapa kali mengalami perubahan. Semboyan-semboyan tersebut antara lain:
  • Menuju dan berjuang untuk memajukan kesusastraan baru (mulai tahun 1933)
  • Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan dan soal masyarakat umum (mulai tahun 1935)
  • Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia (mulai tahun 1936)
Mulai tahun 1933-1935 Pujangga Baru dipimpin oleh Armyn Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, dan Mr. Sumanang. Mulai tahun 1935-1938 Pujangga Baru dipimpin oleh Sugiarti, Mr. Amis Syarifuddin, Mr. S. Moh. Syah, Mr Sumanang, Dr. Ng. Purbacaraka, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Sekretaris redaksi dipegang oleh Mr. S. Moh. Syah (1936-1937), Armyn Pane (1937-1938), dan W.J.S. Purwodarminto (akhir tahun 1938-pertangahan 1940). Selain tokoh-tokoh di atas, ada banyak tokoh lain yang membantu majalah ini. Toko-tokoh tersebut tersebar di seluruh Indonesia.


B. Pujangga Baru sebagai Nama Angkatan
Pujangga Baru dengan latar belakangnya tidak diragukan memiliki karakteristik yang khusus. Karakter khusus ini berbeda dari angkatan Balai Pustaka yang merupaka angkatan pendahulunya. Karena karakteristik ini Pujangga Baru dapat dimasukkan dalam periode tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Karena laihir pada tahun tiga puluhan, angkatan ini juga disebut angkatan tiga puluhan.  

1. Pengaruh Pengaruh yang Terdapat dalam Angkatan Pujangga Baru
Sebagai sebuah gerakan baru pada waktu itu, perbedaan karakteristik Pujangga Baru pasti dilatarbelakangi oleh sejarah sebelumnya. Jika dirunut kebelakang, Pujangga Baru dipengaruhi setidak-tidaknya empat negeri, yaitu Belanda, India, Parsi, dan Jawa. 

a. Pengaruh dari Belanda
Pujangga Baru dipengaruhi angkatan 1880 dari negeri Belanda, yaituDe Tachtigers. Angkatan ini mengadakan revolusi besar di bidang kesusastraan Belanda. Hal itu sebagai reaksi atas “kesusastraan pendeta” dan kesenian sebelumnya yang bersifat lambat dan dikemudikan oleh pikiran yang berhati-hati. 

Pelopor-pelopor gerakan ini adalah Willem Kloos, Lodewijk van Dyseel, Frederik van Eeden, dan Albert Verwey. Mereka menerbitkan majalah De Nieuwe Gids (Pandu Baru) pada tahun 1885. Syair-syair angkatan ini bersifat lirik-romantik dan pada umumnya berbentuk soneta. Pengaruh-pengaruh tersebut tampak jelas pada karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana, Armyn Pane, dan J.E. Tatengkeng. 

b. Pengaruh India, Parsi, dan Jawa
Pengaruh ini nampak pada karya-karya Sanusi Pane dan Amir Hamzah. 

2. Angkatan Pujangga Baru dan Pelopornya
Sebuah angkatan sastra dilatarbelakangi ide yang merupakan antithesis dari ide sebelumnya. Sebuah ide merupakan motor penggerak sebuah pergerakan yang keluar dari manusia tertentu. Hal ini terjadi pula pada Pujangga Baru. 

Pujangga Baru dipelopori oleh empat orang tokoh, yaitu Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armyn Pane, dan Amir Hamzah. Corak dan aliran Pujangga Baru nampak pada corak dan aliran keempat tokoh ini. 

3. Konsepsi-Konsepsi Pujangga Baru dalam Beberapa Bidang
Meskipun berada dalam satu angkatan dan media yang sama, ide dasar dari keempat tokoh-tokoh Pujangga Baru tidaklah sama. Ide mereka tentang berbagai hal bahkan bertentangan. 

Hal ini terjadi pada hal-hal berikut:
a. Konsepsi Mengenai Semangat Masyarakat Baru  
  1. Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa agar bangsa Indonesia maju ke depan dan sederajat dengan bangsa-bangsa barat, masyarakat Indonesia yang statis itu harus diubah menjadi masyarakat yang dinamis seperti masyarakat barat. Dengan demikian faham-faham yang menyebabkan masyarakat barat maju seperti materialisme, intelektualisme, egoisme, dan individualisme harus juga dimiliki bangsa Indonesia. Sutan Takdir Alisyahbana juga berpendapat bahwa filsafat India yang cenderung mengajak untuk selaras dengan alam harus diganti dengan sikap menguasai alam. Hal ini bahkan tetap menjadi pandangan hidup dalam karya selanjutnya seperti pada sebuah kutipan keyakinan Hidayat dalam Kalah dan Menang. ... Kebudayaan yang aktif dan dinamis selalu akan menguasai kebudayaan yang lemah, yang sudah tua dan tiada sanggup memperbarui dirinya kembali. Dalam hubungan inilah ia sangat terpesona akan soal naik turunnya kebudayaan dan bagaimana kebudayaan-kebudayaan yang banyak itu pengaruh mempengaruhi sepanjang sejarah. 
  2. Sanusi Pane berpendapat bahwa hidup harus mementingkan rohani dan keselarasan jasmani dengan alam. Pandangan ini dipengaruhi ajaran mistik India. 

b. Konsepsi mengenai kebudayaan Indonesia baru
  1. Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia harus terlahir dari semangat keindonesiaan, bukan merupakan sambungan dari kebudayaan Jawa, Sunda, Melayu, dan kebudayaaan suku-suku lain di Indonesia.
  2. Sanusi Pane berpendapat kebudayaan harus bersendikan kebudayaan lama dari timur yang diramu dengan kebudayaan maju dari barat 

c. Konsepsi mengenai seni
  1. Sutan Takdir Alisyahbana dengan tegas bersemboyan seni untuk masyarakatdan menolak semboyan seni untuk seni.
  2. Sanusi Pane lebih cenderung pada seni untuk seni atau l’art pour l’art. Akan tetapi secara umum semboyan Pujangga Baru adalah seni untuk masyarakat. 

d. Konsepsi mengenai kesusastraan baru
Dalam hal ini semua tokoh dalam Pujangga Baru sependapat bahwa kesusastraan Indonesia baru harus memancarkan jiwa yang dinamis, individualisme, dan tidak menghiraukan tradisi yang menghambat kemajuan

4. Karakteristik Sastra Angkatan Pujangga Baru
Karya-karya angkatan Pujangga Baru meliputi berbagai genre sastra. Karya-karya tersebut dalam bentuk prosa, puisi, dan drama. Selain itu terdapat pula essay dan kritik. Namun, dua yang terakhir tidak akan dibahas pada bab ini.

a. Prosa
Prosa Pujangga Baru terdiri atas roman, novel, dan cerpen. Istilah roman pada masa itu cenderung dibedakan dengan novel. Akan tetapi, penulis lebih cenderung untuk menyamakannya dengan alasan bahwa roman sekalipun adalah novel berdasarkan definisinya. Dengan demikian karena karakaterisktik ketiganya hampir sama – dalam hal unsur intrinsic dan ekstrinsiknya – karakteristik ketiganya akan ditulis dalam satu kesatuan karakateristik prosa. 

Dari segi bahasa Pujangga Baru masih menggunakan gaya bahasa lama yang bersifat klise. Akan tetapi, di sisi lain Pujangga Baru banyak menggunakan gaya bahasa baru yang lebih hidup. 

Bahasa yang digunakan adalah bahasa dari pergaulan yang juga menyerap bahasa-bahasa daerah Nusantara. Pujangga Baru tidak menggunakan bahasa Melayu lama atau Melayu tinggi yang biasa digunakan di sekolah-sekolah. Selain itu, banyak istilah-istilah Belanda yang digunakan sehingga Pujangga Baru dikatakan kebelanda-belandaan. 

Pesan yang disampaikan bersifat implicit. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang menyampaikan secara eksplisit. Gerakan cerita wajar dan berjalan dengan sendirinya. Kesimpulan dan penilaian dikembalikan pada pembaca. 

Tokoh dalam Pujangga Baru lebih dinamis dan sudut penceritaan tidak terfokus pada satu tokoh saja. Selain itu, tokoh dalam Pujangga Baru dilukiskan terutama jalan pikiran dan kehidupan jiwa pelakunya. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang menceritakan keseluruhan gerak-gerik pelaku mulai awal sampai akhir. 

Tema yang diangkat dalam Pujangga Baru tidak hanya seputar pertentang tua muda, masalah adat, poligami, kawin paksa, kebangsawanan, gaya hidup kebelanda-belandaan yang dikecam orang-orang tua yang merupakan tema sentral dalam Balai Pustaka. Pujangga Baru memiliki tema sentral perjuangan menuju cita-cita dan semangat kebangsaan. Karya Pujangga Baru berbicara tentang paham-paham dan nilai-nilai, misalnya politik, ekonomi, budaya, agama, dan sebagainya. 

Jika dalam Balai Pustaka banyak berbicara tentang adat yang menunjukkan jiwa komunal masyarakat, Pujangga Baru lebih berbicara tentang individu yang bebas dalam menentukan hidupnya. Selain itu Pujangga Baru tidak lagi bersifat provinsialisme yang memecah-mecah berdasarkan suku dan wilayah. Hal ini ditunjukkan dengan perkawinan antar suku yang bersifat interinsular. Selain perkawinan tema juga menyangkut kehidupan kota dan desa.
Secara garis besar cerita prosa mengenai kehidupan real saat itu. Pujangga Baru tidak menulis tentang imajinasi fantastis seperti pada sastra lama yang masih juga ditemui pada Balai Pustaka. 

Aliran Pujangga Baru adalah romantis-idealis. Hal ini berbeda dengan Balai Pustaka yang beraliran romantis-sentimentil. Pujangga Baru lebih banyak berbicara tentang keindahan dan perjuangan untuk sebuah cita-cita.

b. Puisi
Puisi-puisi Pujangga Baru cenderung untuk meninggalkan puisi-puisi tradisional. Mereka membuat pembaruan-pembaruan dalam bidang ini. Akan tetapi, dalam beberapa hal puisi Pujangga Baru masih menggunakan gaya-gaya Balai Pustaka. 

Tema puisi Pujangga Baru merefleksikan adanya kesadaran nasional, perasaan kebangsaan, cinta tanah air, dan antikolonial. Pada umumnya puisi Pujangga Baru bersifat lirik-romantik.
Puisi-puisi Pujangga Baru masih terikat pada aturan-aturan yang sebagian sudah meninggalkan gaya puisi Balai Pustaka. Puisi Pujangga Baru masih terikat pada baris dalam setiap baitnya. Penyebutan jumlah bait ini berdasarkan istilah puisi barat. Penyebutan tersebut, misalnya, distichon untuk bait dwirangkai, terzina untuk bait trirangkai, kwatryn untuk bait catur rangkai, quin untuk bait panca rangkai, sextet untuk bait sad rangkai, septima untuk bait sapta rangkai, oktavo atau stanza untuk bait hasta rangkai, dan sebagainya. 

Pujangga Baru juga sangat gemar menulis puisi soneta. Soneta ini adalah sejenis puisi yang berasal dari Italia. Puisi ini memiliki kemiripan dengan pantun yang mementingkan rima akhir. Jumlah baris dalam soneta selalu 14 dengan jumlah baris dalam setiap baitnya bervariasi. Pada soneta Pujangga Baru sedikitnya ada lima bentuk, yaitu satu bait 16 baris, dua bait 8-6, empat bait 4-4-3-3, lima bait 4-4-2-2-2, dan tiga bait 4-4-6.
c. Drama
Drama Pujangga Baru tidak begitu dominan. Drama pada jaman ini bertema tentang kebesaran sejarah indonesia yang sesuai dengan gerakan Pujangga Baru yang memperjuangkan rasa kebangsaan Indonesia.

5. Tokoh-Tokoh Pujangga Baru
Dalam Pujangga Baru terdapat tokoh-tokoh yang sangat berperan. Tokoh-tokoh tersebut tersusun sebagai berikut.
1. A. Hasymi
2. A.M. Daeng Mijala
3. Amir Hamzah
4. Armiyn Pane
5. Asmara Hadi
6. Fatimah Hasan Delais
7. G. S. Lalanang
8. I Nyoman Panji Tisna
9. J.E. Tatengkeng
10. Jusuf Sou’yb
11. Laurens Koster Bohang
12. M. D. Yati
13. M. I. Nasution
14. M. Taslim Ali
15. Marius Ramis Dayoh
16. Mozasa
17. Muhammad Yamin
18. N. Adil
19. O.R. Mandank
20. R.D.
21. Rifai Ali
22. Rustam Efendi
23. S. Yudho
24. Samadi
25. Sanusi Pane
26. Suman Hs.
27. Sutan Takdir Alisyahbana
28. Sutomo Jauhar Arifin
29. Yogi (Abdul Rivai)