aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Jumat, 13 Desember 2013

10 Tipe Guru dalam Mengajar


Belajar di kelas itu sebenarnya sungguh menyenangkan. Tapi bagaimana mau senang kalau gurunya tidak “sreg” di mata kita? Itulah namanya belajar di dalam kelas. Semuanya butuh kerja keras. Kalau mau senang-senang yah tinggal pergi ke tempat hiburan.

Dari pengamatan saya selama belajar di dalam kelas ada 10 macam tipe guru diantaranya. 

1. Tipe Pengasih Lagi Maha Penyayang

Guru ini selalu memberikan kisi-kisi sebelum berlangsungnya UTS dan US. Kisi-kisinya bukan sembarang kisi-kisi. Kisi-kisi ini hampir 100% akurat persis dengan soal ujian. Sudah pasti yang mempelajari kisi-kisi, ujiannya akan dapat 100.

2. Tipe The Hulk

Nah ini Guru pas menit-menit pertama masuk ngajarnya enak….santai… Tapi setelah 15 menit kemudian dia berubah menjadi MONSTER. Perangainya berubah. Mendadak emosian, marah-marah ke para siswa. Apalagi pas dia lagi asik-asik ngajar ada siswa yang terlambat, maka tamatlah nasib siswa tersebut.

3. Tipe Penjaga Karcis

Sebelum peembelajaran dimulai guru ini terlebih dahulu mengecek tugas siswa minggu kemarin apakah sudah dikerjakan atau belum. Kalau belum mengerjakan tugas siswa tidak boleh masuk. Tugasnyapun aneh-aneh ada yang disuruh merangkum buku yang tebalnya 200 halaman sampai menganalisis kasus yang susahnya minta ampun.

4. Tipe Pendongeng

Sesuai dengan namanya, guru ini di setiap sela-sela pengajarannya selalu mendongengkan para siswa dengan cerita-cerita tentang kehidupannya dan men-sharing segala sesuatu tentang pengalamannya. Kesulitan ekonomi sampai masalah cinta monyet masa kecilpun dia ceritakan. Ketika dia mendongeng, para siswa pada tepar semua.

5. Tipe Motivator

Guru ini selalu mengajarkan kebaikan kepada mahasiswanya untuk tetap bersemangat setiap harinya terutama pada saat pembelajaran. Apabila ada siswa yang cemberut atau kurang bersemangat maka dia dengan segera menceriakan para siswanya. Dia tidak akan mulai mengajar kalau semua siswanya belum merasa “HEPI”. Kadang jam belajar tersebut lebih terasa sebagai ajang curhat.

6. Tipe Pejuang

Guru ini mengemban tugas yang sangat berat. Guru ini dengan mati-matian memperjuangkan para siswanya. Hal apapun akan dia lakukan untuk mendongkrak prestasi siswanya. Walaupun otak siswanya tinggal setetes dia tetap semangat mengajarinya walaupun dilanda kesusahan yang sangat. Inilah guru yang sangat mulia.

7. Tipe Bos Besar

Guru dengan tipe ini cenderung ingin enaknya aja . Masuk ke kelas ngajar sekitar 30 menitan setelah itu memberi soal atau tugas kepada siswanya. Selagi siswanya mengerjakan tugas tersebut dia malah keluar ntah mau kemana dan gak tau mau ngapain. Yang jelas dia kabur dari kelas. Sekitar 15 menit sebelum jam perkuliahan selesai tiba-tiba mukanya nongol lagi.

8. Tipe Tukul

Guru ini setiap masuk kelas pasti ngecengin siswa. Pokoknya ada saja yang bisa dia jadikan lelucon. Kalau kehabisan bahan lelucon, dia malah ngecenginmukanya sendiri. Banyak siswa yang muntah darah gara-gara kebanyakan dengar omongan lucu dari si guru. Belajar bersama guru ini ibarat nonton acara Tawa Sutra.

9. Tipe Pembunuh Berdarah Dingin

Biasanya guru ini berwajah seperti debt kolektor. Kuliah bersama guru dengan tipe ini membuat hari-hari kita serasa lebih panjang. Satu detik rasanya seperti satu menit. Dan satu menit rasanya seperti satu jam. Siswa yang di ajar dengan guru bertipe ini kebanyakan dari mereka pada mati rasa. Matinya diakibatkan terkena serangan jantung.

10. Tipe Black In News

Ini adalah guru teladan. Guru ini selalu mengajarkan mata pelajaran kepada siswanya dengan ramah. Dia menyajikan berbagai informasi yang sangat bermanfaat. Yang diajarkannya tidak hanya sekedar teori akan tetapi guru ini juga mengajarkan bagaimana aplikasinya di dalam kehidupan nyata. Setiap pertanyaan yang dilontarkan siswa kepadanya pasti akan dia jawab dengan penjelasan yang sedetail-detailnya. Orangnya sangat ramah, peduli akan sesama dan lingkungan. Pokoknya nih guru Black Community banget deh…

Bagaimana dengan pengalaman belajar Anda? 

4 Tipe Guru Menurut Sikap dan Perilakunya

Seorang guru memiliki watak dan aktivitas kesibukan sehari-hari baik dikantor maupun dirumah yang beragam. Sehingga dalam praktikknya sikap guru tidaklah mudah dalam merespon stimulus dari perilaku anak didik yang beragam pula. Guru bukan barang elektronikyang monoton dan tidak berubah-ubah. Jika kita lihat dari sebuah buku : Cara Ampuh Merebut Hati Murid ada 4 tipe guru dalam kesehariannya. Ada guru yang dapat menahan arah dan memberikan arahan berupa nasehat agar berperilaku sesuai yang diharapkan. Namun ada juga yang apatis dan bersikap pasif. Guru seperti ini membiarkan kesalahan dan perilaku buruk anak didik yang dilihatnya. Ada juga guru agresif yang melihat persoalan menggunakan 'kaca mata kuda'. Tipe guru seperti ini sering disebut anak didik sebagai guru 'killer'.

4 Tipe Guru Menurut Sikap dan Perilakunya
1. Tipe Guru Apatis (pasif)
2. Tipe Guru Sarkastis (pasif-agresif)
3. Tipe Guru Killer (Agresif)
4. Tipe Guru Asertif


Tipe Guru Apatis (pasif)
Guru tipe ini memiliki ciri-ciri ekspresi wajah datar, tidak berani menatap, sering meremas-remas tangan sendiri dan tekanan suara lemah. Biasa meremehkan diri sendiri (I'm not OK)dan cendrung menghargai orang lain (You are OK). Cendrung menunggu bantuan orang lain sulit mengungkapkan perasaanya dan tidak mampu mengutarakan keinginannya kepada orang lain. Sehingga guru tipe ini tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang ada dihadapannya.

Tipe Guru Sarkastis
Guru tipe ini lain lagi, suka meremehkan orang lain (you're not OK) dan tidak menghargai kemampuan dirinya (I'm not OK). Selalu bersikap pasif didepan orang banyak, tetapi dibelakang forum baru bisa agresif. Kata-katanya tajam, suka menyindir, perangainya kurang baik, selalu berpikir negatif. Biasanya guru tipe ini tidak suka diberi tanggungjawab.

Tipe Guru Killer
Guru Killer memiliki ciri-ciri ekspresi mata melotot, suara tinggi, bertindak spontan, mudah marah, menganggap dirinya benar (I'm OK) dan orang lain selalu salah (You're not OK). Guru tipe ini bila mendapatkan masalah maka mereka akan meluapkan apa yang ada di dalam dadanya lalu meningkatkan kemarahan dan serangan. Tidak peduli dan kejam dengan orang lain tanpa melakukan pendekatan terlebih dahulu.

Tipe Guru Asertif
Guru tipe ini yang ideal menurut anak didik. Selalu menunjukkan ekspresi menyenangkan (I'm OK), menghargai orang lain (You're OK), meatap lawan bicara, tubuh tegap, tekanan suara tepat, tegas dan berani dalam menyatakan pendapat. Selalu melakukan komunikasi dalam suasana saling percaya. Masalah dihadapi dengan mencari solusi untuk menguntungkan semua pihak. Menerima pedapat orang lain dengan berprinsip menghormati orang lain sebagaimana menghormati dirinya sendiri.

Nah, dari 4 Tipe Guru Menurut Sikap dan Perilakunya diatas, tergolong guru tipe apakah kita. Kadang kita bisa sebagai guru killer mungkin, dengan niat agar sebagai shock therapy agar siswa tidak berbuat nakal. Atau bersikap apatis mengingat undang-undang perlindungan anak. Sehingga bagaimanapun perilaku anak yang telah menyimpang karena daripada bermasalah dengan hukum mending diam dan tetap menyampaikan materi. Atau lebih dominan guru asertif yang selalu inovatif dan berpandangan positif terhadap perilaku apapun yang telah diperbuat oleh siswa.

Tapi Guru juga manusia bukan seperti robot elektronik, tidak ada yang sempurna, ke 4 tipe itu pasti kadang kala akan muncul dalam aktivitas mengajar kita. Hanya dominan kecendrungannya saja, mana yang lebih sering, menjadi guru yang bersikap dan berperilaku apatis, sarkastis, guru killer atau asertif. Hanya diri sendiri yang tahu dan survei anak didik yang membuktikannya.

Nilai KKM, Palsukah?

Kini KKM atau Kriteria Ketuntasan Minimal menjadi patokan untuk menilai siswa. Banyak sekolah yang menerapkan nilai KKM yang tinggi. Umumnya disuatu sekolah nilai KKM selalu berkisar 75 bahkan tidak jarang yang menerapkan diatasnya. Tak heran, untuk mendapatkan nilai baguspun bukan hal yang sulit. Apalagi kini banyak sekolah yang tak segan segan memberikan nilai sangat tinggi kepada siswanya. Meski kadang nilai tersebut tidak berbanding lurus dengan kemampuan siswa-siswanya.

Kondisi ini membuat siswapun merasa santai. Mereka berpikir, kenapa harus ngoyo, toh pasti nilai sudah di atas KKM atau minimal sama dengan KKM. Karena jika anak-anak didiknya nilainya dibawah KKM, yang susah juga gurunya. Guru dianggap tidak kompeten mengajar, atau bahkan dikatakan tidak layak untuk mengajar? Hal tersebut menyebabkan para siswa malas belajar dan cenderung leh-leh luweh. 

Padahal kenyataannya, untuk mendapatkan nilai KKM, misal 75 untuk mata pelajaran eksak seperti Matematika, Fisika, Kimia itu tak mudah. Saat ulangan harian atau ulangan semesteran, tak sedikit siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. Bahkan, siswa yang mendapat nilai diatas KKM pun bisa dihitung dengan jari. Akan tetapi, kalau melihat hasil dalam rapor, tentu sangat jauh berbeda dengan nilai asli. Untuk mendapat nilai 90 itu sangat mudah dirapor, karena guru kadang tidak peduli dengan kemampuan siswa, yang penting memberi nilai rapor diatas KKM, maka SAVE-lah guru tersebut? Guru takkan digugat lagi kredibilitasnya sebagai guru "Profesional"?

Sehingga sekarang sering dijumpai, siswa-siswa dengan nilai rapor sangat bagus, tapi kenyataanya, kemampuannya sama sekali bertolak belakang dengan nilai yang didapatkan dalam rapornya? Guru, Walikels, Orang Tua atau siapa saja begitu bangga manakla melihat nilai rapor anak-anaknya begitu tinggi, tapi tidak pernah menanyakan apa sudah sesuai dengan kemampuan anak tersebuT? Apa ini sebuah pembodohan terstruktur dan terencana? Atau sebuah kepalsuan pendidikan yang menipu? Sebuah ironi yang begitu perih dalam dunia pendidikan di negeri ini?

Sebagai insan yang terjun langsung didunia pendidikan, sungguh begitu perih melihat realita yang terjadi, tapi bukannya saya tidak peduli, sungguh kami begitu lemah untuk semua ini, maka hanya kepada-Mu semata kami berserah diri. Berikan kami kekuatan untuk selalu peka menggunakan nurani kami, untuk selalu mejalani dunia kami ini.