aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Sabtu, 08 Desember 2012

MEMAKNAI SANG WAKTU

 
Di barat waktu adalah uang yang jika tak diambil akan mendatangkan penyesalan.
Di timur waktu adalah pedang. Menebas pemilik yang tak menggunakanya dengan baik.
Di Indonesia waktu adalah Karet. Fleksibel, unpredictable,gampang diatur. Iya gak?
Hasan Albanna mengatakan waktu itu adalah kehidupan. Betul juga soalnya orang mati berarti udah kehabisan waktu dan telah mencapai garis finish umurnya.

Waktu itu Jauh
Imam Al-ghazali pernah memberikan teka-teki kepada muridnya
, “apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”. Para murid memiliki jawaban yang beraneka ragam.
Murid 1: " Negeri Cina "
Murid 2: "Bulan"
Murid 3: "Matahari"
Murid 4: "Bintang-bintang"
Iman Ghazali: "Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu.

Dan tahukah kita berapa jarak bulan, matahari dan bintang dari bumi :

  • Bulan berjarak 450.000 km (1,5 detik cahaya)
  • Matahari berjarak 149.juta km (8 menit cahaya)
  • Bintang (terdekat setelah matahari)
  • Alpha Centauri berjarak 4,2 tahun cahaya.
  • Bintang Barnard berjarak 6 juta tahun cahaya
  • Wolf 359 berjarak 7,8 tahun cahaya
  • Lalande 21185 berjarak 8,3 tahun cahaya
  • Bintang terjauh berjarak 13,07 milyar tahun cahaya
Catatan :
  • Kecepatan cahaya = 300.000 km/s
  • Jarak 1 tahun cahaya = 300.000 km/s x 60 (detik) x 60(menit) x 24(jam) x 360 (hari) = 9.331.200.000.000 km
  • Jadi, 1 tahun cahaya = 9,331 triliun km
  • Jika bulan dan bintang-bintang sejauh itu. Bagaimana dengan masa lalu yang lebih jauh lagi menurut Imam Al-Gazhali?
Selanjutnya, Beberapa abad setelah al-Ghazali muncul seorang ilmuwan juga muncul dan terkenal dengan simbolnya E= mc2.(*einstein). Tepat sekali. Jika al-Ghazali mengatakan waktu tidak akan bisa kembali. Lain halnya dengan Einstein yang mempunyai alternatif lain. Ia berteori seandainya ada kendaraan ataupun manusia yang mampu melaju dengan kecepatan cahaya(300 ribu km/detik), maka ruang bisa diperpendek, dan waktu bisa diperlambat. Artinya kita bisa kembali ke masa lalu. Sementara kecapatn cahaya yang saat ini kita ketahui adalah 300 ribu km/detik. Benar-benar cepat dari apa yang kita bayangkan. keliling bumipun (yang jaraknya sekitar 40.000 km) tak akan sampai sedetik dengan menggunakan kecepatan tersebut. 


Sayangnya, sampai sekarang belum satupun di temukan kendaraan seperti itu. Space shuttle aja baru mencapai 20 ribu mil/jam. Sangat jauh jika dibandingkan dengan kecepatan cahaya.
Well, bisa atau tidaknya manusia ke masa lalu, itu tergantung persepsi dan keyakinan anda. Intinya dari ke 2 pendapat orang besar tersebut, kita sepakat bahwa betapa sangat dan sangat jauhnya waktu yang telah berlalu meskipun 1 detik. Sampai-sampai Einstein membutuhkan kecepatan cahaya untuk mengejar 1 detik yang baru saja pergi. 

Sebenarnya tanpa teori sekalipun kita semua sudah tahu betapa jauhnya masa lalu. Namun terkadang kita menggapnya begitu remeh. Olehnya itu kolaborasi antara teka teki al-ghazali dan teori Einstein yang tadi, hanya sekedar menggambarkan betapa besar dan berharganya hal yang sering-kita sia-siakan dan lewatkan begitu saja.


Waktu itu Singkat
Seorang guru besar pernah bertanya. “Mengapa ketika turnamen sepak bola berlangsung, para pemain ga ada yang menelepon, nonton tivi, kirim sms, apa lagi facebookan?”.(*pertanyaan apaan tuh?). pertanyaannya memang aneh tapi lihat dulu jawabannya. karena waktu yang digunakan hanya 90 menit (*jawabannya juga aneh). bayangkan jika waktu yang disediakan 90.000 menit, kira-kira apa saja yang akan dilakukan ke 11 pemain tersebut. tentu mereka sempat makan, tidur, nonton, Ye’eM-an. 

Ini tentang kesadaran akan singkatnya waktu yang dimiliki. Itulah alasan mengapa pemain bola langsung berlari ketika peluit pertama dibunyikan. Apalagi ketika masa-masa injury times. Mereka akan mengerahkan seluruh energinya untuk membuka setiap peluang menciptakan goal. 

Sama halnya dengan hidup kita. Ketika peluit kehidupan telah berbunyi manusia mengawalinya dengan perjuangan bertahan hidup, belajar, berkembang, dan bertindak. Sayangnya manusia terkadang lupa bahwa hidup ini seperti lapangan sepak bola. Dimana kita harus selalu siap dan bersegera dalam memanfaatkan momentum untuk mencetak goal kehidupan. 

Kita terlalu menganngap remeh waktu yang berlalu. Hidup ini terlalu murah jika hanya untuk melakukan hal yang biasa-biasa saja. Jangan biarkan sisa umur kita berakhir tanpa mencetak goal sedikitpun. Umur panjang namun prestasi kurang. Hidup berabad namun tiada manfaat. Jarum jam selalu berdetak, bagamana mungkin kita diam tak bergerak. Sed fugit interea, fugit inreparabile tempus.

Jika ingin tahu makna ……….  

  • Satu tahun
  • Satu bulan
  • Satu minggu
  • Satu jam
  • Satu menit
  • Satu detik
  • Satu milli detik  
Maka tanyakan kepada ………………………….

  • Siswa yang tidak naik kelas
  • Ibu yang melahirkan bayi prematur/ puasa ramadhan
  • Editor majalah mingguan
  • Seseorang yang telah lama menunggu kekasihnya
  • Orang yang ketinggalan kereta
  • Orang yang hampir saja kecelakaan
  • Peraih medali perak olimpade marathon 

Jika waktu terus berjalan, maka seharusnya kita terus berlari !!!
Source : ilho071.blogspot.com

IBNU AL-HAYTHAM – PAKAR OPTIK PERTAMA DUNIA

 
Melalui Kitab Al Manadhir, teori optik pertama kali dijelaskan. Hingga 500 tahun kemudian, teori yangfenomenal ini dikutip banyak ilmuwan sekelas Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Copernicus dan bahkan Sir Isaac Newton juga. Tahukah anda, siapa sang ilmuwan luar biasa tersebut?

Tak banyak orang yang tahu bahwa orang pertama yang menjelaskan soal mekanisme penglihatan pada manusia -yang menjadi dasar teori optik modern- adalah ilmuwan Muslim asal Irak. Namanya Ibnu Al-Haytham atau di Barat dikenal dengan nama Alhazen. Lewat karya ilmiahnya, kitab Al Manadhir atau Kitab Optik, ia menjelaskan berbagai ragam fenomena cahaya termasuk sistem penglihatan manusia.

Selama lebih dari 500 tahun, Kitab Al Manadhir terus bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik. Di tahun 1572, karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judulOpticae Thesaurus. Bab tiga volume pertama buku ini mengupas ide-ide dia tentang cahaya. Dalam buku itu, Haytham meyakini bahwa sinar cahaya keluar dari garis lurus dari setiap titik di permukaan yang bercahaya. Ia membuat percobaan yang sangat teliti tentang lintasan cahaya melalui berbagai media dan menemukan teori tentang pembiasan cahaya. Ia jugalah yang melakukan eksperimen pertama tentang penyebaran cahaya terhadap berbagai warna.

Dalam buku yang sama, ia menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam, dan juga teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi. Ia juga melakukan percobaan untuk menjelaskan penglihatan binokular dan memberikan penjelasan yang benar tentang peningkatan ukuran matahari dan bulan ketika mendekati horison.

Haytham mencatatkan namanya sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Ia memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Salah satu teorinya yang terkenal adalah ketika ia mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid.

Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya yang keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.

Dalam buku ini, ia menjelaskan bagaimana mata bisa melihat objek. Ia menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia.

Salah satu karyanya yang paling menomental adalah ketika Haytham bersama muridnya, Kamal ad-Din, untuk pertama kali meneliti dan merekam fenomena kamera obsecura. Inilah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai “ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya.

Sementara dalam bukunya Mizan al-Hikmah, ia mendiskusikan kepadatan atmosfer dan membangun korelasi antara hal tersebut dengan faktor ketinggian. Ia juga mempelajari pembiasan atmosfer dan menemukan fakta bahwa senja hanya muncul ketika matahari berada 19 derajat di bawah horison. Dengan dasar itulah, ia mencoba mengukur tinggi atmosfer. Dalam bukunya, ia juga membahas teori daya tarik massa, suatu fakta yang menunjukkan ia menyadari korelasi percepatan dengan gravitasi.

Selain di bidang fisika, Ibnu Haytham juga memberikan kontribusi penting terhadap ilmu matematika. Dalam ilmu ini, ia mengembangkan analisis geometri dengan membangun hubungan antara aljabar dengan geometri. Haytham juga membuat buku tentang kosmologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Yahudi di abad pertengahan. Karya lainnya adalah buku tentang evolusi, yang hingga kini masih menjadi perhatian ilmuwan dunia.

Sayangnya, dari sekian banyak karyanya -bukunya diperkirakan berjumlah 200 lebih- hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab Al Manadhir, tidak diketahui lagi rimbanya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.

AL QUR’AN MENJAWAB TEKA- TEKI PEMBANGUNAN PIRAMIDA

 
Sejak lama para ilmuwan bingung bagaimana cara sebuah piramida dibangun. Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya.

Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini? Times edisi 1 Desember 2006, menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasian jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan. Profesor Gilles Hug, dan Michel Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida yang paling besar di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan tanah liat.

Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Ini karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram. Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam. Lumpur tersebut merupakan campuran lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air sehingga membentuk campuran tanah liat.

Kemudian olahan itu dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida. Singkatnya lumpur yang sudah diolah menurut ukuran yang diinginkan tersebut dibakar, lalu diletakkan di tempat yang sudah disediakan di dinding piramid. Profesor Davidovits telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur.

Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, ahli geologi belum mampu membedakan antara batu alam dan batu buatan. Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu 10 hari hingga mirip dengan batu aslinya. Sebelumnya, seorang ilmuwan Belgia, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, “Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat.”

Penemuan oleh Profesor Prancis Joseph Davidovits soal batu-batu piramida yang ternyata terbuat dari olahan lumpur ini memakan waktu sekitar 20 tahun. Sebuah penelitian yang lama tentang piramida Bosnia, “Piramida Matahari” dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini tersebar luas di masa lalu. Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun!

Al Qur’an Ternyata Lebih Dulu Punya jawaban Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini 1400 tahun sebelem mereka
mengungkapkannya, perhatikan sebuah ayat dalam Al Qur’an berikut ini:

Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (Al Qashash – 38)

Subhanallah! bukti menakjubkan yang menunjukkan bahwa bangunan bangunan raksasa, patung-patung raksasa dan tiang- tiang yang ditemukan dalam peradaban tinggi saat itu, juga dibangun dari tanah liat! Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Prancis. Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernahmelihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida.

Sebelum ini, para ilmuwan tidak yakin bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen tinggi kecuali beberapa tahun belakangan ini. Ajaib, 1400 tahun yang lampau, Nabi Muhammad saw, berbilang tahun setelah berakhirnya dinasti Firaun memberitahukan bahwa Firaun membangun monumen yang kelak dinamakan Piramid menggunakan tanah liat. Kenyataan ini sangat jelas dan kuat membuktikan bahwa nabi Muhammad saw tidaklah berbicara sesuai hawa nafsunya saja melainkan petunjuk dari Allah yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan nabi Musa Dan Dia pula yang memberitahukan kepada Nabi terakhir-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannya dikemudian hari!
Reff : kisahislami.com