aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Rabu, 03 April 2013

Dari Motivasi Menjadi Berkualitas

Kualitas Siswa yang dihasilkan merupakan ukuran dari keberhasilan sebuah sistem pendidikan. Bisa dilihat ketika berada dimasyarakat memperlihatkan kualitasnya. Nantinya masyarakat akan melihat baik dan buruk kualitas siswa ketika masih berada dibangku sekolah dan ketika menamatkan diri dari sekolah. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengeneralisir seseorang namun kiranya hanya berbagi pengetahuan dan informasi untuk kemajuan dunia pendidikan. Apabila kualitas tamatan siswa yang baik diperlukan pula pengajar yang berkualitas. Karena guru adalah idola yang nyata bagi siswa. Setidaknya tindakan guru sedikit banyak mempengaruhi kualitas dari siswa. 

Guru yang berkualitas tidak hanya diukur dari tinggi rendahnya suatu pendidikan guru. Pendidikan minimal S1 yang diwajibkan dan mungkin saja S2,S3, untuk setiap guru hanyalah untuk mengikuti perkembangan zaman. Dampak globalisasi yang telah masuk ke negara kita membuat pemikiran para siswa tidak sama seperti dulu, sehingga pemikiran lebih maju untuk mengimbangi tersebut dibuatlah aturan seperti itu. 

Guru yang berkualitas juga memiliki ciri lain oleh seorang guru untuk menjadi guru yang berkualitas. Diantaranya adalah kedisiplinan, tata krama, teknik pengajaran, dan banyak hal lain yang harus dikuasai. Utama yang harus dimiliki oleh guru adalah akhlak dan budi pekerti yang baik. Perilaku guru secara langsung atau tidak langsung akan dicontoh oleh muridnya. Seperti kata pepatah; guru kencing berdiri murid kencing berlari. Ini membuktikan murid adalah pencotek yang baik. Ketika seorang guru tidak bisa menjaga hal ini maka murid yang melihat kelakuan dari guru tersebut akan dengan mudah mengikuti setiap perilaku guru. Bagaimana mungkin kita bisa menciptakan siswa yang berkualitas jika gurunya berkelakuan buruk ? 

Kemudian seorang guru juga harus mempunyai kedisiplinan. Kedisplinan merupakan kunci bagi siswa untuk sukses nantinya. Dengan disiplin terhadap waktu, pekerjaan, dan lainnya, maka hidup akan jadi teratur. Seorang guru harus menunjukan sikap disiplin terhadap anak didiknya. Karena sikap ini harus ditanamkan kepada diri siswa agar ketika berada dimasyarakat dapat menerapkan sikap ini. Dalam hal ini yang diperhatikan adalah teknik mengajar dari seorang guru. Selain akhlak dan mental para peserta didik ilmu yang diberikan kepada mereka juga sangat penting untuk mengetahui kualitas. 

Proses pembelajaran tidak semua murid yang mempunyai kecakapan untuk menerima pelajaran dengan baik. Setiap guru yang masuk kedalam kelas untuk menyampaikan materi harus mempunyai strategi khusus agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Selain itu strategi yang digunakan harus bervariasi agar tidak membuat para siswa menjadi bosan. Masih banyak lagi hal yang harus dikuasai oleh seorang guru namun dengan memiliki sikap, sedikit banyaknya akan mempengaruhi kualitas dari para siswa. Dengan memiliki guru yang berkualitas tentu akan menciptakan siswa yang berkualitas pula. Guru yang berkualitas akan menjadi harapan pendidikan Indonesia. 

Kiat sederhana memotivasi belajar siswa; 

Ilmu pengetahuan dimisalkan seperti bara api yang menyala itulah motivasi. Dalam memainkan posisi yang penting konteks tercapainya tujuan pendidikan dan motivasi dalam belajar lebih prioritas dari apa yang di pelajari. Guru hanya mengajar tanpa memberikan motivasi belajar pada muridnya yang di dapat hanyalah sebatas materi yang di sampaikan guru. Suatu saat nanti para siswa yang sudah lulus dari sekolah hanya akan mengenang dulu aku pernah dapat pelajaran ini dan itu. 

Berbeda dengan seorang guru selain mengajar juga memberikan motivasi. Anakpun akan memiliki energi yang lebih besar dalam belajar. Bahkan terkadang para murid akan mencari tahu sendiri secara aktif mata pelajaran tanpa menunggu perintah. Mengapa? Karena sasaran fokusnya pada makna yaitu motivasi. 

Motivasi adalah ruh, ruh ini menyatu dalam diri siswa untuk mempelajari sesuatu dengan demikian semangatnya akan menyala. Misalnya ketika siswa meminjam buku paket untuk membuat soal ujian akhir semester. Saat itu memang sudah dekat dengan ujian. Siswa menjawab saya mau belajar dari sekarang, pokoknya saya nanti mau dapat nilai tertinggi, betapa bangganya mendengar kata-kata seperti itu. 

Kiat sederhana yang bisa di terapkan untuk memotivasi belajar siswa: 

1. Menjelaskan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran; 

Sebelum memulai belajar harus benar-benar mengerti kemana akan di bawa. Apa yang sebenarnya di harapkan setelah mempelajarinya nanti. Dengan demikian siswa akan mengetahui tujuan akhirnya dengan jelas. Menjelaskan Apa Manfaatnya Bagiku; Jangan sampai kita bersusah payah merakit perahu tanpa mengetahui apa fungsinya. Harus memahami dengan baik manfaat yang akan didapatkan setelah mempelajari materi yang guru sampaikan. Dengan mengetahui manfaatnya dengan baik maka siswa tidak akan belajar karena tuntutan namun karena kebutuhan, belajar karena merasa membutuhkan. Hal tersebut sudah harus mengakar dalam kejiwaan sebelum memulai belajar. 

2. Mengajar dengan hati ; 

Apa yang kita katakan dengan akal hanya akan diterima oleh akal dan apa yang kita katakan dengan hati akan diterima oleh hati ini harus difahami dengan baik oleh guru. Mengajar harus di sampaikan dengan hati kata-kata dan nasehat sederhana yang disampaikan dengan hati akan lebih mengena di hati dan lebih berpengaruh bagi para siswa di bandingkan dengan kata yang di rangkai indah namun tidak tulus ketika diucapkan. 

3. Memberikan reward bagi siswa yang berprestasi; 

Prestasi tidak selamanya diwakili dengan angka-angka nominal. Guru harus benar-benar bijak dalam menilai para siswanya. Reword tidak boleh hanya di berikan kepada siswa yang memperoleh nilai tertinggi saat ujian, namun juga siswa yang memiliki semangat dalam belajar yang paling aktif dalam diskusi-diskusi di kelas atau yang mengalami kemajuan dalam kepribadiannya. Selain itu guru harus mampu memilih kata-kata yang positif dalam merespon siswanya. Dengan demikian akan tercipta iklim dan suasana belajar yang positif, kompetitif, dan menyenangkan. 

4. Bersikap terbuka; 

Hubungan antara murid dengan guru jangan sampai berhenti pada hubungan-hubungan formal. Guru juga harus memposisikan diri sebagai teman bagi siswa didiknya. Guru harus siap mendengar, guru harus memberikan ruang untuk bisa berbagi dengannya. Jika itu adalah masalah pribadi yang rahasia guru harus menjadi penjaga rahasia itu. Berilah rasa aman di hati siswa kita. Kedekatan personal ini pasti akan memberikan efek langsung pada motivasi belajar anak. Bagaimana dengan Anda? 

Sejarah Singkat Edmodo


Data Singkat Edmodo :   
  • Type : Private
  • Yayasan : tanggal September 2008
  • Markas San Mateo, California
  • Orang penting : Nicolas Borg, Jeff O'Hara
  • Slogan Jaringan (s) : Sosial Aman untuk Sekolah
  • Situs : edmodo.com
  • Alexa rank : 4.000 (Desember 2012)
  • Jenis layanan : situs jaringan sosial
  • Pendaftaran : Diperlukan
  • Pengguna : 13.000.000 +
  • Tersedia dalam bahasa Inggris, Spanyol, Portugis, Jerman, Yunani, PrancisSaat ini statusnya: Aktif 

Desain:
Edmodo menggunakan desain yang mirip dengan Facebook, dan menyediakan guru dan siswa tempat yang aman untuk menghubungkan, berkolaborasi dan berbagi konten. Guru juga dapat mengirim nilai, tugas dan kuis untuk siswa. Siswa dapat mengajukan pekerjaan rumah dan melihat nilai-nilai mereka dan komentar guru mungkin telah diposting tentang tugas mereka. Guru juga dapat membuat jajak pendapat dan topik posting untuk diskusi di kalangan mahasiswa. Guru dapat membedakan dan individualize belajar melalui penciptaan sub-kelompok dalam kursus. Setelah setiap periode kursus selesai, guru menutup keluar jaringan dan menciptakan yang baru untuk kursus berikutnya. Edmodo juga memiliki iOS dan aplikasi Android tersedia melalui Apple App Store dan Google Putar (masing-masing) ini dibuat dan diterbitkan oleh pengembang Edmodo. [Menggunakan Web API]

Groups:
Grup adalah bagian swasta di Edmodo dibuat oleh guru untuk dapat berkomunikasi dengan hanya itu kelas dan orang tua. Siswa harus memiliki kode untuk bergabung dengan grup.

Security: 
Dalam upaya untuk mencegah orang luar bergabung dengan jaringan sekolah, Edmodo menyediakan kode khusus untuk sekolah dan kelas. Kode-kode ini diberikan kepada siswa dan diperlukan untuk bergabung dengan kelompok. Perusahaan ini baru-baru ini meningkatkan keamanan layanan Edmodo dengan menerapkan perlindungan injeksi SQL untuk mencegah akses tidak sah ke sumber daya website dan database.

History:
Edmodo didirikan oleh Nicolas Borg dan Jeff O'Hara, teknologi yang bekerja di sekolah-sekolah yang terpisah di daerah Chicago, sebagai platform pembelajaran sosial yang aman bagi siswa dan guru. Pada tahun 2010 Edmodo meluncurkan "subjek" dan "penerbit" masyarakat, media digital perpustakaan, pusat bantuan, dan rekening induk untuk berkomunikasi dengan guru, orang tua, dan siswa.

Applications:
Edmodo dapat dimasukkan ke dalam ruang kelas melalui berbagai aplikasi. Menggunakan saat ini meliputi tugas posting, jajak pendapat untuk menciptakan respon siswa, klip video embedding dan media lainnya untuk mendukung siswa belajar, dan hanya tempat bagi siswa dan guru untuk mengirim pesan satu sama lain. Pendidik menemukan cara-cara kreatif untuk mendukung pembelajaran siswa dengan menggunakan Edmodo sebagai tempat untuk posting dan kritik sastra analisis satu sama lain, bekerja sama dengan rekan-rekan mereka, dan posting tulisan kreatif untuk penonton. Pada awal Desember 2012, Edmodo menjalani gaya merubah. Ini sekarang termasuk browsing lebih mudah, tanggapan emoticon untuk tugas, dan penambahan 2 aplikasi, editor foto dan SchoolTube, situs video pendidikan.

Implications:
Seiring dengan skenario pembelajaran yang tercantum di atas, pendidikan situs jejaring sosial, seperti Edmodo, menawarkan kesempatan unik untuk"terhubung dengan siswa dan membantu mereka menciptakan norma-norma dan merefleksikan bagaimana tindakan online yang berbeda akan diinterpretasikan." Edmodo menawarkan pendidik kesempatan untuk memulai dialog yang memenuhi siswa dengan pengalaman mereka untuk memeriksa secara kritis penggunaan jaringan sosial dan etis penggunaan media dan format online.

Kolaborasi Pendidikan Jarak Jauh

Dalam pertemuan selama dua hari, akhir Februari lalu, di Kampus National Polytechnic Institute of Cambodia di Phnom Penh, Kamboja, terjadi kesepakatan. Sejumlah perwakilan SMK dan perguruan tinggi dari Indonesia serta Kamboja setuju menjalin kemitraan di bidang pendidikan.

Dalam waktu dekat, guru/dosen dan pelajar dari kedua negara menerapkan kolaborasi pendidikan lewat teknologi informasi dan komunikasi dengan dukungan Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Center (SEAMOLEC) yang berkantor di area Universitas Terbuka, Tangerang.

Sebelum penandatanganan nota kesepahaman, sempat tebersit kekhawatiran dari kalangan petinggi provincial training center, semacam balai latihan Kamboja, bahwa kemitraan ini sulit dilaksanakan. Persoalan terbatasnya dana dari pemerintah bisa menghambat program kolaborasi pendidikan.

Gatot Hari Priowirjanto, Direktur SEAMOLEC, menepis keraguan tersebut dengan menawarkan program yang realistis. Caranya lewat pembentukan kelas maya (virtual class) yang akan mempertemukan guru dan siswa Indonesia-Kamboja.

”Kami sudah mengembangkan belajar berbasis web Edmodo, yang mirip Facebook, sebagai wadah untuk belajar bersama. Guru dan siswa Indonesia-Kamboja, ataupun dari negara lain, bisa membuat akun bersama dan saling terhubung. Kolaborasi pembelajaran tidak sulit lagi,” kata Gatot.

Pemanfaatan internet untuk mengembangkan belajar secara daring (online) yang terbuka dan jarak jauh terus dipromosikan SEAMOLEC yang kini berusia 16 tahun. Menghadapi komitmen untuk membentuk Komunitas ASEAN 2015, SEAMOLEC makin gencar menghubungkan berbagai institusi pendidikan di negara-negara ASEAN.

Pada akhir tahun lalu, SEAMOLEC mempertemukan 17 SMK Indonesia dan 26 college (setara D-2) Thailand di Bangkok. Kolaborasi pendidikan tidak hanya dijalin lewat pertukaran pelajar/guru, tetapi juga belajar dan ujian bersama.

Kerja sama pendidikan, terutama di kawasan ASEAN, tak hanya terbatas di kalangan institusi pendidikan yang besar. Perguruan tinggi swasta pun bisa menjalin kemitraan dengan institusi setara di luar negeri.

Di Kamboja, misalnya, kerja sama pendidikan dimulai SEAMOLEC dengan National Polytechnic Institute of Cambodia (NPIC). Terjadi pertukaran mahasiswa untuk belajar di Indonesia dan Kamboja. Kemudian, NPIC mengajak kampus lain di Kamboja untuk terlibat dalam kemitraan pendidikan. Dari Indonesia pun demikian.

Sethirom Huon Serey (26), mahasiswa NPIC, mendapat beasiswa untuk kuliah di D-4 Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 2010. Kini, Serey melanjut ke jenjang S-2 ITB.

Serey fasih berbahasa Indonesia. Bahkan, dia menikmati kesempatan untuk berbagi pengetahuan dengan kalangan pendidik di Kalimantan dan Papua. Dengan dukungan SEAMOLEC, mereka memanfaatkan web conference dalam pembelajaran.

Di NPIC, saat ini ada delapan mahasiswa dari sejumlah politeknik dan sekolah tinggi bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Jawa Barat. Mereka tinggal di Kamboja selama setahun sehingga mendapat gelar sarjana dari kampus mereka di Indonesia dan NPIC.

Gatot menuturkan, pemberian beasiswa dari pemerintah negara-negara ASEAN ataupun institusi pendidikan yang bekerja sama memungkinkan untuk memberikan pengalaman para anak muda itu ke luar negeri.

”Namun jumlahnya terbatas. Dengan mengembangkan kolaborasi pendidikan secara daring lewat Edmodo dan media sosial lain, hingga video conference, siswa dan guru Indonesia serta negara lain makin banyak yang bisa terhubung. Kita membutuhkan generasi muda yang mampu bekerja sama secara nasional, regional, dan internasional,” kata Gatot.

Pemanfaatan TIK

Pendidikan abad ke-21 membutuhkan keterampilan dalam penguasaan TIK untuk pembelajaran. SEAMOLEC sebagai salah satu dari 20 pusat SEAMEO yang tersebar di kawasan ASEAN berupaya memperkuat kapasitas institusi pendidikan guna menerapkan TIK untuk belajar terbuka dan jarak jauh.

Di Indonesia, SEAMOLEC menawarkan program kepada pemerintah daerah untuk memperkuat kapasitas pendidik menguasai TIK. Selain pemanfaatan Edmodo dan media sosial lain, kini dikembangkan pembuatan buku digital. Ada juga ujian bersama yang bersifat paperless (tanpa kertas) lewat SEACyberClass Evaluation.

SEAMOLEC berperan aktif mewujudkan sinergi dan kerja sama pendidikan di dalam dan luar negeri lewat pemanfaatan TIK. Bentuknya lewat pelatihan secara daring penuh atau kombinasi tatap muka-daring.

Ada juga tawaran kemitraan pendidikan dengan institusi pendidikan di kawasan ASEAN, Selandia Baru, Jerman, Australia, dan China. Sekolah atau perguruan tinggi di Indonesia umumnya secara swadaya menanggung keikutsertaan dalam program kemitraan pendidikan dengan luar negeri.

Pilihan kursus yang ditawarkan beragam. Ada technopreneurship, pengembangan bahan ajar mandiri, belajar inovatif, pengembangan game hingga musik digital untuk belajar, dan masih banyak lagi.

SEAMOLEC dan sejumlah perguruan tinggi membuat program pendidikan vokasi berkelanjutan yang jadi cikal bakal lahirnya akademi komunitas di Indonesia dalam waktu dekat. Program yang berjalan baik, dengan pemanfaatan TIK untuk belajar jarak jauh yang menjadi spesialisasi SEAMOLEC, antara lain program diploma satu animasi dan fashion di ITB.

Penguatan pendidikan technopreneurship menjadi salah satu fokus SEAMOLEC. M Ichsyan, mahasiswa D-1 Animasi ITB, lulusan Program Multimedia SMKN 1 Bogor, mengatakan, dalam pendidikan, mahasiswa menjalani magang dan wajib membuat bisnis sesuai potensi yang mampu menghasilkan uang. Pendidikan bisa dijalankan juga secara jarak jauh sehingga siswa bisa bekerja/magang sekaligus kuliah.

Guna mendukung implementasi Kurikulum 2013, SEAMOLEC menawarkan pemanfaatan sistem Seadunet 2.0. Materi kurikulum ataupun bahan ajar bisa didistribusikan secara masif dengan memanfaatkan Edmodo, Facebook, atau mailing list. Adapun untuk konten bisa dalam bentuk e-book dan video pembelajaran.

Untuk menjalin komunikasi bisa memanfaatkan Skype atau Google+. Terkait evaluasi, SEAMOLEC melaksanakan SEACyberClass hingga uji kompetensi guru secara daring.

”Dalam pemanfaatan TIK untuk pembentukan pembelajaran daring ini diupayakan memakai open source,” ujar Gatot.
Sumber: Cetak.Kompas.com

7 Indikator Bangsa Diambang Kehancuran

Standar baik buruk sebuah umat dan bangsa atau kebaikan mereka tentu dengan tolok ukur syariat Islam yang berangkat dari nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Menurut Al-Quran iman dan takwa adalah faktor pembuka keberkahan dari langit dan bumi. Namun ini dalam konteks keumatan dan kebangsaan. Allah menjamin keberkahan itu akan diperoleh jika “suatu bangsa dan umat” mau komitmen dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

Dalam Al-Quran banyak kisah-kisah umat terdahulu yang dihancurkan oleh Allah karena jauhnya mereka dari nilai-nilai iman dan takwa. Di lain sisi juga banyak kisah bangsa dan umat yang mendapatkan limpahan berkah karena mereka bersyukur, beriman dan bertakwa. Kisah umat Nabi Daud dan Sulaiman misalnya berkisah tentang kekuasaan dan kekayaan yang dikendalikan oleh orang-orang yang shalih bersyukur. Wal hasil, bukan saja manusia, keberkahan juga dirasakan oleh bangsa binatang sekalipun.

Demikian juga kisah tentang “baldatun thayibah” (negeri yang tentram) di bangsa Saba’ karena mereka bersyukur atas nikmat Allah. Pada saat mereka ingkar dan berpaling, Allah menggantikan segala kenikmatan itu menjadi bencana dan malapetaka.

Jika nilai keimanan, takwa, dan syukur menjadi syarat dibukanya pintu berkah, adakah indiktor yang menandakan bahwa sebuah masyarakat yang diberkahi itu diridlai dan baik menurut kaca mata syariat? Satu indikator di antara indikator ini bukan satu-satunya pertanda kebaikan dan keberkahan sebuah bangsa.

1. Kekuasaan Dikendalikan Orang Fasik

Sebab pemimpin adalah produk dari masyarakat itu sendiri. Mereka lahir dari masyarakat yang membesarkannya. Pemimpin sebuah bangsa adalah orang pilihan mereka. Jika pemimpin itu dari sisi moralitas dan inteljensianya di bawah rata-rata itu cerminan dari masyarakat yang memilih mereka jadi pemimpin.

Allah mengisyaratkan hal ini dalam Al-Quran:

“Dan Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al An’am: 129)

Nabi juga menegaskan, “Sebagaimana kondisi kalian, (Allah) memberikan pemimpin yang menguasai kalian.” (HR. Dailami)

Jika pemimpin sebuah bangsa orang yang shalih benar-benar yang akidah, moralitas, visi dan misinya sesuai dengan syariat Islam maka itu pertanda itu masyarakat yang baik menurut standar Islam. Sebab ia akan membawa kebaikan bagi masyarakatnya. Ia akan menggunakan kekuasaannya untuk menegakkan syariat Allah, menegakkan amar makmur dan nahi mungkar dan menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Sebaliknya, jika orang yang jahat atau buruk menjadi penguasa maka itu pertanda masyarakat akan mendapatkan imbas dan sasaran serta obyek dari kejahatan dan nafsu serakahnya. Sebab kepentingan yang diburu adalah kepentingan pribadi dan kelompoknya.

2. Kekayaan Didominasi Orang Yang Jahat dan Fasik

Yang dimaksud orang shalih adalah orang yang baik-baik secara moralitas dan bukan orang yang jahat. Prediket orang salih tentu bukan monopoli kiai, ustad, ajengan, ulama. Orang salih bisa jadi adalah orang biasa-biasa saja secara agama.

Kekayaan adalah tulang punggung sebuah kehidupan, termasuk kehidupan sebuah bangsa. Kekayaan sering digunakan sebagai standar kemakmuran sebuah bangsa. Kuantitas dan kemelimpahan kekayaan sebuah bukan standar satu-satunya keberkahan. Namun yang menjadi indikator adalah sumber kekayaan dan alokasinya.

Kekayaan dikuasi dan didominasi oleh orang-orang yang shalih menjadi pertanda dan indikator baiknya sebuah masyarakat. Sebab mereka pasti akan menggunakan untuk anggaran-anggaran belanja kebaikan bagi masyarakatnya. Serta menggunakan dana itu untuk perbaikan masyarakatnya.

Sebaliknya, jika kekayaan dikuasai oleh orang-orang fasik, anggaran belanja akan digunakan untuk hura-hura, kemaksiatan, kesenangan semata. Bahkan bisa jadi kekayaannya digunakan untuk industri kemaksiatan yang menyebabkan kerusakan di masyarakat.

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik harta adalah harta orang salih.”

3. Ketimpangan Sosial dan Tidak Meratanya Distribusi Kekayaan

Standar kebaikan sebuah bangsa bukan terletak pada kemelimpahan

materi semata. Namun kebaikan sebuah masyarakat apabila distribusi kekayaan dan sumber daya alamnya merata. Dengan kata lain terwujud keadilan social dan tidak ada kesenjangan mengangah antar si kaya dan si miskin. Masyarakat yang baik bukan berarti bersih dari orang miskin. Masyarakat yang baik adalah yang kebutuhan pangannya tercukupi secara umum, baik oleh kemurahan si kaya atau negara yang mengelolah sumber daya alamnya. Itu berarti si kaya menunaikan kewajiban sosialnya berupa zakat infak dan sedekah.

Sebaliknya, tanda masyarakat yang buruk adalah tidak adanya keadilan sosial, ketimpangan dan kesenjangan sosial yang tinggi. Kemiskinan dan kesenjangan menandakan kerakusan dan ketamakan si kaya dan para pejabatnya dalam mengelola SDA dan distribusinya. Akibatnya, kekayaan hanya berkeliling hanya di segelintir orang saya.

Allah berfirman, “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

4. Tingginya Tingkat Kriminalitas

Masyarakat yang baik bukan berarti tanpa ada kasus kriminalitas. Namun sebuah masyarakat disebut rusak apabila angka kriminalitasnya tinggi. Entah itu kasus pidana, pemerkosaan, pencurian, korupsi, dan kejahatan-kejahatan lainnya. Rendahnya angka kriminalitas dan kejahatan mencerminkan masyarakat yang sadar hukum dan moralitas yang tinggi serta supremasi hukum dan wibawa penegak hukum di mata masyarakat. Di jaman Nabi tetap ada kasus perzinaan dan pencurian namun itu hanya satu kasus yang muncul dipermukaan. Namun Nabi menegakkan hukum secara adil tanpa pandang bulu.

Sebaliknya, tingginya angka kriminalitas di sebuah masyarakat mencerminkan rendahnya moralitas masyarakat tersebut atau tidak adanya supremasi hukum sehingga yang berlaku hanya hukum rimba atau karena konten hukum yang tidak efektif dan memberikan dampak perubahan di masyarakat. Rendahnya reputasi institusi hukum, tidak berwibawanya penegak hukum, penegakan hukum yang tidak adil, orang kuat yang melanggar hukum diganjar sanksi ringan sementara si lemah diganjar hukum berat, serta konten hukum yang tidak adil hanya akan menciptakan lingkaran dendam di kalangan masyarakat.

Rasulullah bersabda, “Hancurlah umat-umat sebelum kalian, jika orang lemah mencuri mereka menegakkan hukum kepadanya dan apabila orang terpandang mencuri, mereka membiarkannya.” (HR. Muslim)

5. Tingginya Angka Perceraian

Perceraian dalam Islam memang dibolehkan namun ia menjadi solusi terakhir bagi biduk rumah tangga yang sedang goyah. Karenanya jika perceraian menjadi fenomena lazim di sebuah masyarakat mereka tetap akan dibenci oleh Allah.

Rasulullah bersabda, “Hal yang halal yang paling dibenci Allah adalah talak (perceraian)”

Tingginya angka dan kasus perceraian di masyarakat menjadi indikator bahwa keluarga-keluarga mereka mengalami masalah keharmonisan. Keluarga adalah unsur terpenting bagi bangsa dan umat. Jika keluarganya sukses, pemerintahan akan sukses.

6. Bangsa Yang Menggantungkan kepada Hutang

Hutang adalah indikator kelemahan ekonomi sebuah bangsa sekaligus politiknya. Bangsa yang berhutang akan lebih banyak patuh dan tunduk kepada negara kuat yang menghutanginya. Karena itu, Rasulullah memerintahkan umat agak berlindung di antaranya dari lilitan hutang.

7. Merebaknya Musibah dan Bencana

Banyaknya musibah dan bencana alam memang tidak selalu menjadi indikator bangsa itu runtuh secara moral. Namun jika indikator-indikator sudah ada di masyarakat; kemusyrikan dan kemungkaran meraja lela sementara orang-orang salih tidak berdaya dan hanya diam tidak menunaikan amar makruf nahi mungkar, maka kemungkinan besar bencana dan musibah itu karena bentuk kemarahan Allah kepada umat tersebut.

“Dan takutlah kepada fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kalian.” (Al-Anfal: 25)

Indikator dan fenomena di atas semata sebagai pengingat bagi kita untuk terus melakukan perubahan di masyarakat dengan mengefektifkan peran masing-masing. Wallahu a’lam. (A. Tarmudli/spiritislam)

Ketika Fir'aun Berzikir

Siapakah Fir’aun Sebenarnya? 

Fir’aun (Inggris: Pharao) adalah gelar untuk raja-raja Mesir. Yang dihadapi dan dilawan Nabi Musa ialah Firaun Ramses II (1304-1237) SM. Al Qur’an menggambarkan Firaun sebagai tiranik (thagha), juga menyebutkannya sebagai orang yang mengaku Tuhan dan menindas rakyat. Karena itu dia adalah seorang musyrik, sebab mengaku sebagai Tuhan selain “Tuhannya Musa” (QS al-Qashash/28:38) yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Perlawanan Musa VS Firaun (Tauhid VS Syirik) 

Oleh karena itu, maka Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sebab dia memerintah dengan sewenang-wenang, kemudian berkatalah kalian berdua dengan tutur kata yang lembut kepadanya, kalau-kalau dia menjadi ingat (merenung) atau takut (kepada Allah)” (QS Thaha/20:43-44).

Dalam memerintah Fir’aun memiliki banyak pembantu, mereka adalah para ahli sihir. Fir’aun yang tidak suka dengan peringatan itu lalu mengumpulkan para ahli sihirnya untuk melawan Nabi Musa. Maka terjadilah suatu peristiwa yang sering kita dengar yakni perang dua kekuatan antara Nabi Musa dan tukang sihir Fir’aun. Mereka melemparkan tali dan tongkat dan berubah wujud menjadi ular-ular kecil. Atas petunjuk Allah Nabi Musa melemparkan tongkat di tangan kanannya, berubah menjadi ular besar, lalu menelan semua ular-ular milik tukang sihir Fir’aun, hingga tidak bersisa (QS Thaha/20:68-69) 

Kitab suci juga menuturkan bahwa para ahli sihir Mesir yang semula mendukung Fir’aun akhirnya beriman kepada Nabi Musa juga berdoa agar kelak mati sebagai orang-orang yang Muslim (QS al-A’raf/7:126).

Mengapa Fir’aun Tidak Menyukai Bani Israel

Fir’aun (Raja Mesir) itu menjalankan kekuasaan secara sewenang-wenang, sombong dan sesat. Dia menindas dan menjajah sekelompok rakyat yang tidak disukainya, yaitu Bani Isra’il (=hamba Allah). Bani Israil hidup sengsara di bawah kekuasaannya, tabah dalam siksaan dan penindasan.

Di Mesir keturunan Nabi Yaqup berkembang biak melalui 12 anak-anaknya dan Bani Israil (Bangsa Yahudi) terbagi menjadi 12 suku (QS al-A’raf/7:60). Tetapi lama-kelamaan Fir’aun yang zalim merasa kurang senang terhadap keturunan Nabi Yaqup, karena sebagian besar mereka menganut agama tauhid yang berlawanan dengan agama Mesir yang politheisme (musyrik).

Fir’aun semakin keras dalam menindas Bangsa Ibrani, lantaran mereka menolak meninggalkan keyakinan Nabi Musa. Akhirnya Nabi Musa memutuskan hijrah bersama kaumnya mencari negeri yang lebih aman. Pada suatu malam, ia memimpin kaumnya meninggalkan Mesir menuju tanah suci. Nabi Musa membawa mereka mengungsi dengan tujuan ke Kana’an (Palestina Selatan).

Rupanya Fir’aun tidak tinggal diam, dia kerahkan pasukannya mengejar. Perjalanan Nabi Musa dan kaumnya sempat terhenti, di depan membentang samudra luas tak bertepi. Jalan keselamatan tiba, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu” (QSal-Syu’ara/26:63). 

Samudra yang gelap dan seolah tanpa dasar itu tahu-tahu terbelah menjadi 12 lorong, sesuai dengan jumlah kelompok Bani Israil. Allah berfirman, “Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tidak usah kuatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)” (QS. Thaha/20:77).

Fir’aun dan Seluruh Pasukannya Tenggelam di Laut Merah

Beberapa saat Fir’aun tercengang melihat laut terbelah, akal liciknya timbul, dia katakan kepada pasukannya bahwa laut terbelah oleh kesaktian dan kemahakuasaannya. Seluruh pasukan mempercayai kata-kata Fir’aun dan bergerak memasuki lorong air tersebut, tapi Nabi Musa dan kaumnya telah lebih dulu sampai ke daratan. Allah berfirman, “Pukulkanlah kembali tongkatmu, maka lautan akan kembali seperti semula” dan lorong air itu tiba-tiba menutup, Fir’aun dan pasukannya tenggelam ditelan gelombang samudra. Tak ada satupun yang selamat dan tiba di daratan.

Ketika Fir’aun Berzikir

Ketika tubuh Fir’aun terombang ambing ombak lautan, baru disadarinya kedudukan dan hakikat keberadaannya, baru dia temukan kebenaran, dia hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa, manusia hina yang tak mampu mencegah bahaya.

Disaat yang genting, saat nafasnya mencapai pangkal leher, Fir’aun menyatakan keimanannya, “Aku percaya bahwa tiada Tuhan selain Tuhan yang dipercayai Bani israil, dan aku termasuk orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. Yunus/10:70).
Zikir ini termasuk zikir terbaik, maka baik musuh maupun kekasih Allah, ketika mendapat ujian berat, mereka bergegas kembali kepada-Nya.

Dia sama sekali tidak dalam kegagahan dan keperkasaan, melainkan justru dalam kehinaan yang lebih mendasar, karena dia diperhamba oleh nafsunya sendiri untuk berkuasa dan menguasai orang lain. Inilah keadaan Firaun yang kemudian mengalami hukum Tuhan yang tragis dan dramatis dan dia baru insaf setelah malapetaka menimpa, namun sudah terlambat.

Allah tidak menerima keimanannya. Allah tidak menerima muslihat penguasa zalim itu, yang sepanjang hidupnya dia gunakan untuk membuat kerusakan di muka Bumi dan menindas orang-orang lemah. Lagipula kalimat tersebut diucapkan Fir’aun bukan dalam rangka ibadah, tetapi semata agar dirinya tidak tenggelam. 

Selain pada saat mengucap kalimat itu kalbunya tidak hadir, tidak diikuti dengan suatu kesadaran dan kondisi kalbu yang lalai, sehingga dia mengucap, “Aku beriman bahwa tiada Tuhan selain Tuhan yang dipercaya oleh Bani Israil,” dengan mengalihkan pengetahuan tentang hakikat kalimat tersebut kepada orang lain. Apa yang dia ucapkan tidak lain hanyalah sekedar ‘mengekor’ kalimat yang biasa diucapkan kaum Bani Israil.

Sedangkan sebelumnya Fir’aun adalah seorang kafir, bahkan dia juga menyeru sebagaimana dituturkan dalam firman Allah, “ Dia mengumpulkan (para pembesarnya) dan menyeru memanggil kaumnya. Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”” (QS al-Nazi’at: 23-24).

Hal ini memperkuat argumentasi atas pertanyaan, “Mengapa Allah tidak menerima keimanan Fir’aun?” lantaran kalimat Tauhid yang diucapkannya bukanlah kalimat yang sudah dihayati jauh sebelumnya.