aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Jumat, 14 Juni 2013

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN

Sebagai sebuah proses, pembelajaran dihadapkan pada beragam permasalahan, problematika. Problematika pembelajaran adalah berbagai permasalahan yang mengganggu, menghambat, mempersulit, atau bahkan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran.  




  
Problematika pembelajaran dapat ditelusuri dari jalannya proses dasar pembelajaran. Secara umum, proses pembelajaran dapat ditelusuri dari faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh 3 faktor, Bahan Baku (Raw Input), Instrumen, dan Lingkungan. Proses tersebut dapat digambarkan sebagaimana bagan berikut.

Pembelajaran pada dasarnya merupakan usaha mengubah atau meningkatkan potensi seseorang, calon siswa (raw input) menjadi pribadi baru (raw output) dengan kualitas tertentu. Pembelajaran mengubah sikap, prilaku dan kemampuan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu. Pembelajaran juga berarti meningkatkan potensi seseorang dari sedikit tahu menjadi lebih banyak tahu, bahkan dari kurang baik menjadi lebih baik melalui proses belajar yang dijalani. 

BAHAN BAKU (RAW INPUT)

Calon siswa merupakan bahan baku pembelajaran. Merekalah yang akan "diolah" melalui proses pembelajaran hingga mencapat kondisi tertentu. Melalui proses pembelajaran mereka diubah, dikembangkan atau ditingkatkan potensinya, sehingga mereka berubah dari kondisi sebelumnya. Mereka berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dewasa menjadi dewasa, dari tidak mampu menjadi mampu, dan sebagainya.

Siswa disebut bahan baku, bahan mentan, sebab sebelum diberikan pembelajaran, pada dasarnya mereka memiliki potensinya sendiri. Potensi itulah yang perlu dikembangkan hingga mencapai kondisi tertentu. Potensi tersebut juga mempengaruhi kualitas proses pembelajaran. Kualitas mental dan kecerdasan calon siswa dengan turut menentukan keberhasilan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran akan menghadapi masalah, bila kualitas mental dan kecerdasan calon siswa tidak menunjang kelancaran proses pembelajaran. Siswa dengan mentalitas yang tidak stabil dan impulsif, misalnya, akan menyulitkan kelangsungan proses pembelajaran.

INSTRUMEN PEMBELAJARAN

Instrumen pembelajaran adalah segala kelengkapan yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung dan mencapai tujuan yang ditetapkan. Instrumen pembelajaran terdiri dari guru, managemen sekolah, kurikulum, sarana dan prasarana. 


 

Bila proses belajar diibaratkan mengisi botol dengan air, maka sumber air merupakan bahan pembelajaran, gayung dan corong adalah sarana dan prasarana pembelajaran, dan menuangkan air ke dalam botol adalah metode dan strategi pembelajaran, dan guru adalah orang yang menuangkan air ke dalam botol tersebut. Gangguan terhadap salah satu instrumen akan menimbulkan masalah dalam menuangkan air ke dalam botol tersebut. 

Dalam konteks pembelajaran, problem pembelajaran akan mengemuka bilamana terdapat instrumen yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Guru tidak akan mampu membelajarkan siswa secara optimal bilamana managemen sekolah tidak memberikan dukungan memadai terhadap pelaksanaan tugasnya, kurikulum tidak siap, sarana dan prasarana tidak memadai, atau gurunya sendiri tidak piawai dalam membelajarkan siswa.

Bilamana keseluruhan instrumen baik berupa program kurikulum, managemen dan administrasi dan sarana dan prasarana telah memadai, maka kunci keberhasilan pembelajaran terletak pada kepiawaian guru. Bahkan khusus dalam hal pembelajaran, guru merupakan instrumen utamanya. Hal ini dikarenakan disain pembelajaran, termasuk dalam hal pemanfaatan sarana dan prasarana pembelajaran sangat tergantung pada kesiapan guru dan memanfaatkannya. 

LINGKUNGAN

Problem pembelajaran juga dapat muncul dari faktor lingkungan. Lingkungan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kondisi masyarakat sekitar sekolah yang mempengaruhi kelangsungan proses pembelajaran. Pengaruh tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: berpengaruh pada siswa dan pengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan atau sekolah.
Berpengaruh Langsung pada Siswa

Faktor-faktor yang berpegaruh langsung pada siswa terdiri-dari berbagai hal yang mempengaruhi kesiapan mental peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran. Di antara faktor-faktor dimaksud adalah kondisi keluarga, pola asuh orang tua, dan lingkungan pergaulan peserta didik. 

Berpengaruh pada Sekolah

Faktor yang berpengaruh pada sekolah di antaranya adalah adanya kebisingan, bau, dan suhu udara, seperti yang dialami oleh sekolah yang berada di lingkungan pabri yang bising, peternakan yang berbau menyengat, jalan raya dan pasar yang terlalu hiruk-pikuk. 

Faktor lingkungan juga dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu lingkungan yang dapat diubah dan tidak dapat diubah oleh sekolah. Lingkungan yang bisa diubah terdiri dari lingkungan yang dapat dijangkau dengan kebijakan sekolah, terutama yang ada di sekolah itu sendiri. Sedangkan lingkungan yang tidak dapat diubah adalah lingkungan yang tak terjangkau oleh kebijakan atau kekuasaan sekolah. 

Problematika pembelajaran akibat faktor lingkungan pada dasarnya tetap dapat diantisipasi dengan kebijakan sekolah, bila saja guru dan pengelola sekolah memiliki kemauan untuk mengatasinya. Sekolah-sekolah tertentu, terutama yang menerapkan layanan plus, biasanya sudah mengantisipasi faktor-faktor tersebut melalui berbagai kebijakan. Dampak lingkungan yang diidentifikasi dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran disikapi sedemikian rupa sehingga dapat dieliminir sekecil mungkin.

KUNCI KEBERHASILAN PEMBELAJARAN: PENGUASAAN MATERI

Di antara 3 faktor pembelajaraan (raw input, instrumen dan lingkungan), guru merupakan instrumen paling menentukan keberhasilan pembelajaran. Guru memang hanya salah satu instrumen pembelajaran, tetapi faktor guru jauh lebih menentukan dibanding faktor dan instrumen yang lain. 

Ibarat memasak, kualitas masakan sering ditentukan oleh juru masaknya, dibanding bahan dan alat memasaknya. Kepiawaian guru memungkinkan kualitas bahan dan sarana pembelajaran disiasati sedemikian rupa sehingga memungkinkan pembelajaran berlangsung efektif.

Kompetensi guru dalam pembelajaran ditentukan oleh berbagai kompetensi yang seharusnya dimiliki. Meski demikian, berdasarkan pengalaman kami, di antara kompetensi kepribadian, pedagogi, profesional dan sosial, kompetensi profesional khususnya penguasaan materi ajar merupakan kompetensi pertama dan paling menentukan keberhasilan pembelajaran.
Sedemikian menentukannya penguasaan materi terhadap keberhasilan mengajar menjadikan sebagian sekolah lebih menyukai lulusan bidang studi MIPA untuk mengajarkan mata pelajan MIPA sekalipun bukan dari jurusan keguruan atau non-FKIP. Sebagian sekolah juga lebih menyukai lulusan Syari'ah untuk mengajarkan mata pelajaran PAI dibanding lulusan Tarbiyah jurusan PAI. Sekalipun tidak memiliki basis pedagogik, mereka cenderung memiliki penguasaan materi yang lebih baik dan lebih mendalam dibandingkan lulusan jurusan kependidikan, FKIP atau Tarbiyah. Itu sebabnya banyak sarjana non-kependidikan yang mampu mengajar lebih baik dibanding sarjana pendidikan.

PENINGKATAN PENGUASAAN MATERI 

Penguasaan materi memungkinkan guru mengidentifikasi dan memilahkan materi-materi pelajaran ke dalam bagian-bagian, dari yang termudah ke yang tersulit dengan beragam pilihan cara, media dan tahapan yang lebih baik. Guru yang gagal mengantarkan siswa mencapai KKM/SKM hampir selalu berawal dari kurang menguasai materi atau bahan ajar.

Penguasaan bahan materi ajar berarti pemahaman terhadap keseluruhan aspek dari materi atau bahan pembelajaran. Guru yang menguasai bahan ajar berarti paham benar terhadap struktur pengetahuan (body of knowledge) yang diajarkan; dapat memilahkan anatomi materi ajar, termasuk mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan, serta bagian-bagian termudah dan tersulit.

Penguasaan materi memungkinkan guru memilih materi mana yang harus didahulukan dan mana yang disampaikan belakangan. Guru tahu betul mana konsep prasyarat, inti dan yang hanya bersifat pengembangan. Guru dapat membedakan fakta, konsep dan generalisasi dari materi yang diajarkan. Penguasaan materi juga memungkinkan guru memilih metode, tahapan dan media yang tepat untuk mengajarkan bagian demi bagian materi pelajaran.
Ibarat menyuapkan makanan pada anak, guru dapat membedakan mana lauk, sayur, sambal, nasi dan piringnya. Guru yang kurang paham terhadap bagian-bagian makanan (materi ajar) yang disuapkan pada anak, sangat boleh jadi akan menyuapkan sambal terlebih dahulu. Akibatnya, guru bukan membuat anak makan dengan lahap sampai habis, tetapi malah enggan makan (belajar) sejak suapan pertama.

Bahkan tidak jarang ada guru yang tidak mampu membedakan antara piring (media) dan nasi (materi). Misalnya, guru mengajarkan materi tentang "peta" dengan media kertas strimin. Guru yang tidak menguasai materi kadang bukan mengantarkan anak pada bagaimana membaca peta, serta mengenali dan memanfaatkan unsur-unsur peta. Tidak jarang guru hanya membuat anak asyik menggambar, sementara materi pokoknya tidak dikuasai anak. Ini sama halnya anak didik bukan disuapi nasi, tetapi disuruh makan piringnya. 

Problematika semacam ini sering terjadi di sekolah, tanpa banyak disadari oleh pengelola sekolah dan guru. Kebanyakan pengelola sekolah percaya begitu saja pada guru hanya karena sudah sarjana, apalagi kalau lulusan dari jurusan/program studi keguruan. 

Padahal kesarjanaan seseorang sering kali tidak dapat dijadikan jaminan bahwa seorang guru benar-benar menguasai materi yang diajarkan. Apalagi materi pelajaran akhir-akhir ini mengalami peningkatan bobot materi yang lebih berat dari sebelumnya. 

Banyak materi pelajaran di tingkat dasar (SD/MI) misalnya, sebagian merupakan materi pelajaran yang pada beberapa tahun yang lalu baru diajarkan di tingkat sekolah lanjutan (SLTP). Banyak orang tua murid, yang sudah bergelar sarjana sekalipun kesulitan memahami pelajaran kelas IV atau V SD.

Itu sebabnya, penguasaan materi ajar oleh guru perlu selalu dijajagi kembali untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut. Setidaknya, sekolah perlu melakukan sharing penguasaan bahan ajar oleh setiap guru agar pembelajaran berlangsung efektif. Setiap guru perlu memaparkan peta konsep materi dan instrumen pembelajarannya di hadapan guru lain atau pakar tertentu untuk mendapatkan masukan. 

Selain berdasarkan pemaparan peta konsep, indikator sederhana yang dapat dipakai untuk mengetahui sejauh mana penguasaan guru terhadap materi yang diajarkan adalah kesesuaian metode dan media yang digunakan untuk mengajarkan suatu materi. Bilamana guru memilih metode dan media yang tidak relevan, dapat dipastikan bahwa dia perlu diragukan penguasaannya terhadap materi pelajaran.
Semoga bermanfaat.