aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Sabtu, 20 Juli 2013

Puasa Mengendalikan Nafsu Materialisme Duniawi

Kata materialisme terdiri dari kata 'materi' dan 'isme'. Materi dapat dipahami sebagai bahan, benda, segala sesuatu yang tampak. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis. Orang-orang ini adalah para pengusung paham (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata (harta, uang, dsb). 

Oleh karena itu, paham meterialisme senantiasa mengantar penganutnya pada ateisme dan mengingkari adanya Tuhan sang pencipta alam materi ini. Menurut mereka, materi adalah sumber kesadaran dan pikiran bagi manusia.

Tradisi Islam tidak mengenal paham meterialisme dan filosof-filosuf materialis, bahkan bahasa arab tidak mengenal makna filosofis untuk istilah materi (maddah) dan juga tidak mengenal materialisme dalam tradisi klasik adan abad pertengahan. Istilah ini dengan pengertian ini baru dikenal dalam kamus-kamus yang mencatat peradaban Islam pada era modern. Ini sebagai akibat dari pengaruh filsafat barat yang datang bersamaan kontak kaum muslimin dengan barat pada masa penjajahan. Kata 'maddah' (materi) dalam istilah Bahasa Arab adalah tambahan yang bersambung dan segala sesuatu yang menjadi bantuan bagi yang lainnya.

Allah swt menggambarkan kehidupan orang-orang meterialis dalam Alquran, yang artinya:
“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al-A’la: 16-17).
Ungkapan mereka yang Allah abadikan di dalam Alquran,

“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (dahr) dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24).

Rasulullah SAW mengingatkan bahaya materialisme yang buahnya tidak lain adalah Hubbuddun'ya (cinta dunia) dalam sabdanya,

“Apabila umatku mengagungkan dunia, maka dicabutlah kehebatan Islam darinya. Dan apabila meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, maka terdindinglah keberkahan wahyu.” (HR At-Tirmidzi).

“Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.” Sahabat bertanya,"apakah lantaran waktu itu jumlah kami hanya sedikit ya Rasulullah?” Dijawab oleh beliau, “bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam wahn (kelemahan jiwa).” Sahabat bertanya, “apa yang dimaksud kelemahan jiwa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “cinta dunia dan takut mati”. (HR Abu Daud).

Budaya kita hari ini termasuk kategori motivasi rendah atau papan bawah, karena hampir semuanya berada dalam kebutuhan fisiologis, fisik dan kebendaan. Motivasi perilaku individu, elit, kelompok masih berkutat dan berorientasi pada pencapaian rezeki saja, identik dengan materialisme. Uang telah mengatur kehidupan manusia. Uang bukan lagi menjadi alat untuk kebahagiaan kehidupan kelompok, tapi sudah menjadi tujuan hidup individu danmasyarakat.

Orang-orang materialis beranggapan bahwa yang mempunyai nilai tertinggi dalam kehidupan ini adalah harta dan sejarah akan terus berulang, mereka akan menumpuk-numpuk harta tanpa akan peduli dengan norma, dan akan melihat tak bernilai mereka yang dan tak berharta kemudian dengan entengnya menyebar kezhaliman melalui lisan dan perbuatannya, Allah berfirman dalam surah Al-Humazah yang artinya:

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (Al-Humazah: 1-3).

Sayyid Qutb ketika mengomentari surah ini mengatakan, “surah ini merefleksikan salah satu gambaran da’wah di masa awal. Pada saat yang sama juga merupakan contoh yang selalu berulang dalam setiap lingkungan masyarakat. Yaitu gambaran seorang yang tercela dan kerdil jiwanya, yang diberi harta lalu harta itu menguasai dirinya, hingga ia tidak mampu melepaskan diri dari pengaruhnya. Ia merasa bahwa harta merupakan nilai tertinggi dalam kehidupan. Nilai yang membuat semua nilai dan kehormatan menjadi rendah di hadapannya. Baik kehormatan manusia, kehormatan makna ataupun kehormatan berbagai hakikat. Karena ia telah memeliki harta maka ia merasa telah memiliki kehormatan manusia dan harga diri mereka!

Sebagaimana ia mengira bahwa harta berkuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang tidak bisa dilakukan dengan harta! Bahkan mampu menolak kematian dan mengabadikan kehidupan. Atau mampu menolak qadha’ (ketetapan), hisab dan balasan Allah, jika ia masih menganggap ada hisab dan balasan.

Oleh sebab itu, ia bertindak bodoh dengan harta tersebut; selalu menghitung-hitungnya dan merasa senang menghitung-hitungnya. Di dalam dirinya muncul rasa sombong yang merajalela yang mendorongnya untuk meremehkan kehormatan dan harga diri manusia. Mengumpat dan mencelanya. Mencelanya dengan lidah dan melecehkan dengan gerakan.”

Orang materialis akan lelap, lalai dan terbuai oleh gaya hidup bermegah-megahan sehingga tidak sadar bahwa ia berada di tubir jurang. Ia terlena, bermegah-megahan dengan harta dan kekayaan tanpa sadar ia akan berpisah dengannya, ia lupa dengan apa yang ada sesudah itu, lubang sempit yang di dalamnya tiada lagi saling bermegah-megahan dan saling membangga-banggakan.

Mari kita perhatikan firman Allah dalam Surah At-Takatsur;

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian (1), sampai kalian masuk kedalam kubur (2), janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat dari perbuatan kalian) (3), dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetehui. (4), janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin (5), niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahiim (6), dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (7), kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahan di dunia itu).(8)"

Oleh karenanya Rasulullah telah mewanti-wanti kita agar tidak tertipu dan tersilaukan oleh fatamorgana dunia, sahabat yang mulia Abu Sa’id al-Khudri mengatakan, Rasulullah bersabda:
“Sungguh dunia itu manis lagi hijau, dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana yang kalian amalkan (apa perbuatan kalian). Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah dari para wanita karena ujian pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanitanya.” (HR Muslim)

Pada sabdanya yang lain, Rasulullah saw juga mengingatkan: ”Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian. Nanti kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Pembicaraan materialisme tidak boleh melupakan pembahasan puasa Ramadan sebagai lambang pengendalian diri, karena tujuan puasa adalah untuk menundukkan hawa nafsu duniawi, melepaskan mereka dari jerat dan jebakan kenikmatan duniawi yang selama ini akrab dan lekat dalam kehidupan mereka, kemudian mengingatkan mereka akan kefanaan itu semua dan mengingatkan kepada mereka tentang akhirat yang kekal adanya, karena obat 'hubbuddun ya' (cinta dunia) adalah ingat akan fananya dunia dan kekalnya balasan akhirat.

Untuk itulah bulan Ramadan datang, dimana di dalamnya diselenggarakan training spiritual umat, layak dijadikan momentum perlawanan terhadap materialisme dan menjadi titik tolak perubahan.


Hubbud dunya yang berdampak pada degradasi keimanan dan kewibawaan umat ini harus segera diobati dengan cara membina diri menjadi orang-orang yang menegakan Alquran dan As-Sunnah.

Letakan dunia ditangan dan jangan disimpan dilalam hati, dan sebaik-baiknya duania yang berada di tangan orang – orang yang beriman yang menjadikan Akhirat sebagai tujuan dan cita-cita hidupnya. Renungkanlah sabda Rasulullah di bawah ini;

“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan Allah akan mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai, bersamaan dengan itu dunia datang kepadanya dalam keadaan hina dan rendah. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kefakirannya di hadapan kedua matanya, dan Allah l akan mencerai-beraikan urusannya yang semula terkumpul, sementara dunia tidak datang kepadanya selain sebatas apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR at-Tirmidzi, dihasankan dalam ash-Shahihah no 949).
Source

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar