aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Jumat, 15 November 2013

Hajar Aswad Adalah Super Konduktor

Encyclopedia Americana menulis : “…Sekiranya orang-orang Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun shalat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yang berpusat di Hajar Aswad, tidak lagi memancarkan gelombang elektromagnetik.

Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas : menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yg ada.

Beberapa astronot yg mengangkasa melihat suatu sinar yg teramat terang memancar dari bumi, dan setelah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka’bah. Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yg sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.

Prof Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis : “…Sungguh kita berhutang besar kepada orang Islam, shalat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu…”Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha illallah, Allahu Akbar.

Betapa bergetar hati kita melihat dahsyatnya gerakan thawaf haji & Umroh. Tulisan ini bisa menjawab fitnah & tuduhan jahiliyah yang tak didasari ilmu pengetahuan ; yaitu mengapa kaum Muslimin shalat ke arah kiblat dan bahwa umat Islam di anggap menyembah Hajar Aswad.

Wallahu a’lam.
Source

Kamis, 17 Oktober 2013

Belajar Sepanjang Usia

Lu Pingkung adalah seorang raja, dia adalah seorang raja yang pintar dan adil. Ketika dia berusia 70 tahun, dia masih berkeinginan belajar lebih banyak lagi, untuk menambah pengetahuannya.

Lu Pingkung merasa pengetahuan yang dimilikinya masih sangat minim. Tetapi seorang yang berumur 70 tahun ingin belajar lagi, kesulitannya semakin banyak, Lu Pingkung merasa tidak percaya diri, dia lalu pergi meminta nasehat kepada seorang menterinya yang pintar.

Menterinya ini adalah seorang tua yang buta, tetapi dia adalah seorang cendekiawan, walaupun matanya buta, tetapi hati sanubarinya sangat terang.
Lu Pingkung bertanya kepada menterinya ini, ”Coba engkau lihat, saya sudah berumur 70 tahun, sudah cukup tua, tetapi saya masih sangat ingin belajar lebih banyak ilmu, supaya dapat menambah lebih banyak pengetahuan, tetapi selalu merasa kurang percaya diri, selalu merasa sudah terlambat?”

Menteri ini menjawab, ”Paduka merasa terlambat? Lalu kenapa tidak menyalakan lilin?”

Lu Pingkung tidak mengerti maksud dari menteri ini, lalu berkata, ”Saya berbicara serius denganmu, kenapa engkau bercanda? Mana ada seorang menteri yang mempermainkan rajanya?”

Mendengar perkataan rajanya, menteri ini merasa gembira lalu berkata, ”Paduka, engkau salah paham, saya adalah seorang menteri tua yang buta, mana berani mempermainkan Paduka? Mengenai hal belajar lagi saya juga berkata serius kepada Paduka.”

Lu Pingkung dengan bingung berkata, ”Saya tidak mengerti apa maksudmu?”

Menteri berkata, ”Menurut yang saya pelajari, ketika manusia pada masa kecil mempunyai keinginan belajar, bagaikan mendapat sinar mentari pagi yang sangat lembut, sinar mentari makin lama makin terang, waktu bersinarnya juga sangat panjang.

Ketika manusia pada masa remaja mempunyai keinginan untuk belajar, bagaikan mendapat sinar mentari di siang hari, walaupun sinar mentari di siang hari sudah menyinari setengah hari, tetapi sinarnya sangat terik, waktunya bersinar juga masih panjang.

Sedangkan manusia pada masa tuanya mempunyai keinginan untuk belajar, walaupun matahari sudah tenggelam, tidak ada sinar terang lagi, tetapi masih bisa meminjam cahaya lilin untuk menerangi, walaupun cahaya lilin tidak begitu terang, tetapi dengan sedikit cahaya ini lebih bagus daripada meraba-raba ditempat yang gelap.

Lu Pingkung segera tersadarkan, dengan gembira dia berkata, ”Perkataanmu sangat benar, Memang harus demikian! Sekarang saya merasa percaya diri lagi.”

Jika tidak ingin belajar, walaupun membuka mata dengan lebar disiang bolong, sepasang mata ini akan kehilangan, sangat gelap; Dengan terus belajar, tidak peduli muda maupun tua, lebih banyak pengetahuan sanubari akan semakin terang, dengan demikian dapat dengan tidak membabi buta mengambil keputusan dalam menghadapi masalah sehingga hidup ini tidak menjadi sia-sia.

Kisah Penghargaan

Seorang pemuda lulusan akademis terbaik melamar pekerjaan sebagai seorang manager di sebuah perusahaan besar.

Dia telah melewati interview awal; Direktur yang akan melakukan interview akhir dan menentukan putusannya.

Sang Direktur melihat dari CV dan menemukan prestasi akademis yang luar biasa, sejak dari sekolah dasar hingga tingkat sarjana, tak pernah sekalipun si Pemuda mendapat nilai buruk.

Sang Direktur bertanya, "Apakah engkau memperoleh bea siswa dari sekolah?", dan si Pemuda menjawab "belum pernah".
Sang Direktur bertanya, "Ayahmu yang membiayai sekolahmu?", si Pemuda menjawab, "Ayahku meninggal saat aku masih bayi, Ibuku yang membayarkan uang sekolahnya".

Sang Direktur bertanya, "Dimana ibumu bekerja?", si Pemuda menjawab, "Ibuku bekerja sebagai tukang cuci pakaian". Kemudian, sang Direktur meminta si Pemuda memperlihatkan tangannya, yang kemudian menunjukkan sepasang tangannya yang halus dan lembut.

Sang Direktur bertanya, "Apakah selama ini engkau membantu Ibumu mencucikan pakaian?". Si Pemuda berkata, "Tidak pernah. Ibuku selalu memintaku untuk belajar dan rajin membaca buku, lagipula Ibuku dapat mencuci pakaian lebih cepat dari yang dapat kulakukan".Sang Direktur berkata, "Aku punya satu permintaan, jika kau pulang nanti, coba bersihkan tangan ibumu, dan temui aku lagi besok pagi".

Si Pemuda merasa bahwa kesempatannya mendapat pekerjaan tsb sangat berpeluang, jadi dia segera pulang, dan dengan penuh senang ingin membersihkan tangan ibunya.
Ibunya merasa heran dan senang bercampur-baur, tapi ia tetap julurkan tangannya kepada sang anak. Si Pemuda membersihkan tangan Ibunya dengan pelan, sambil berlinang air mata. Ini pertama kalinya ia mengetahui betapa tangan Ibunya begitu keriput, dan penuh goresan luka. Beberapa luka masih begitu pedih, sehingga membuat tubuh Ibunya menggigil saat dibersihkan dengan air.

Baru pertama kali ini si Pemuda menyadari bahwa inilah sepasang tangan yang tiap hari mencuci pakaian demi uang sekolahnya, luka-luka goresan itu adalah harga yang dibayar oleh sang Ibu untuk pendidikan dan masa depannya.

Setelah selesai membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencucikan semua sisa pakaian tsb.

Malam itu, keduanya bercakap-cakap lama sekali.

Esok paginya, si Pemuda datang kembali ke kantor sang Direktur

Sang Direktur melihat linangan air mata si Pemuda, dan bertanya: "Bisa kamu ceritakan apa yang telah kau lakukan dan pelajari di rumahmu kemarin.?"

Si Pemuda menjawab, "Aku membersihkan tangan ibuku, dan juga menyelesaikan sisa cucian pakaian".

Sang Direktur berkata, "coba ceritakan apa perasaanmu."

Si Pemuda berkata, "Pertama, aku sekarang mengerti arti penghargaan, tanpa Ibuku, tiada keberhasilan bagiku hari ini. Kedua, aku telah bekerja bersama ibuku, dan sekarang mengerti sulitnya untuk menyelesaikan sesuatu dengan sempurna. Ketiga, aku menyadari pentingnya nilai kekeluargaan."

Sang Direktur berkata, "Itulah yang kuminta, aku ingin mempekerjakan orang yang bisa menghargai bantuan orang lain, seseorang yang bisa memahami sulitnya menyelesaikan suatu tugas, dan seseorang yang tidak melulu mengukur uang sebagai patokan karirnya. Engkau diterima bekerja."

Di kemudian hari, si anak muda ini bekerja dengan tekun dan giat, serta mendapat rasa hormat dari bawahannya, semua rekannya juga demikian, dan perusahaan maju dengan pesat. Seorang anak yang selalu dibantu mengerjakan dan dimanja permintaannya, akan membentuk mental 'terima jadi' dan selalu menuntut diutamakan. Ia takkan menghargai upaya orang-tuanya. Ketika bekerja, ia beranggapan orang lain harus menurut padanya, dan jika menjadi seorang atasan, ia takkan mau memahami kesulitan anak-buahnya dan selalu menyalahkan. Orang macam ini bisa berhasil, tetapi hanya sekejap, karena tidak akan merasakan suatu kepuasan, ia akan selalu mengeluh dan penuh rasa benci dan permusuhan.
Jika kita menjadi orang-tua yang protektif seperti itu, kita mencintai sang anak atau justru menjerumuskannya..?

Anda bisa memberikan anak anda sebuah rumah tinggal yang besar, makanan yang enak dan sehat, menonton tv layar lebar. Tetapi saat anda memotong rumput halaman, biarkan mereka juga mengalaminya. Setelah makan, minta mereka mencuci piring dan mangkok bersama-sama. Bukan sekadar masalah uang untuk menggaji pembantu, tetapi karena anda mencintai mereka dengan cara yang benar. Anda ingin mereka mengerti, bahwa meskipun kaya, akan tiba suatu waktu rambut mereka juga beruban. Hal yang terpenting adalah bahwa "anak anda belajar bagaimana cara menghargai usaha yang dilakukan, mengalami kesulitan dan tantangan, serta belajar bekerja-sama dengan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu.

Minggu, 29 September 2013

Subhanallah, Terungkap Alasan Ilmiah Kenapa Pria Dilarang Memakai Emas

Atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit melalui pori2 dan masuk ke dalam darah manusia. Jikaseorang pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas (dikenal dengan sebutan migrasi emas).

Dan apabila ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer.sebab jika tidak di buang maka dalam jangka waktu yang lama atom emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu penyakit alzheimer.

Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal,tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa.salah seorang yang terkena penyakit alzheimer adalah charles bronson, ralph waldo emerson dan sugar ray robinson.

Sedangkan, mengapa Islam memperbolehkan wanita untuk mengenakan emas ?

Jawabannya adalah..

“Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi.” itulah sebabnya islam mengharamkan pria memakai emas dan membolehkan wanita memakai perhiasan emas.

itulah alasan agama Islam melarang pria memakai emas,ternyata hal ini telah diketahui Nabi Muhammad 1400 tahun yang lalu. Padahal beliau tidak pernah belajar ilmu fisika.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum laki-laki memakai cincin emas.

Al-Bukhari dan Muslim masing-masing dari Al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, maka beliau memintanya supaya mencopot cincinnya, kemudian melemparkannya ke tanah. (HR. Bukhori & Muslim)

Apakah Google Menantang Tuhan Dengan Program Calico-nya ?

Google belakangan ini mengumumkan sebuah perusahaan yang berjanji akan ‘menunda kematian’, yang bernama Calico.

Calico dibuat untuk menantang hukum alam seputar kematian. Google ingin meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan sehingga di masa mendatang tak ada lagi penyakit yang bisa memperpendek umur manusia.

CEO Google, Larry Page mengatakan, “Penyakit dan penuaan merupakan hal yang terjadi terhadap kita. Dengan pengayaan beberapa bioteknologi dan perawatan kesehatan, saya percaya kita bisa meningkatkan umur dari jutaan nyawa,” katanya.

Padahal, sejatinya, hidup dan mati merupakan hak prerogatif Tuhan. Walaupun dengan segala daya dan upaya, manusia hingga kini tak bisa menciptakan teknologi untuk mencegah ataupun menunda hal yang menjadi suratan takdir tiap manusia tersebut.

Upaya Google untuk ‘menantang’ Tuhan ini bisa saja dilakukan mengingat Google memiliki sumber daya yang tak terbatas, terutama dari segi teknologi dan uang. Selain itu, selama ini, Google sendiri disadari atau tidak sudah menjadi ‘Tuhan’ baru di era teknologi.

Dikutip dari situs resmi Google (19/8), Arthur D. Levinson , Chairman dan mantan CEO Genentech dan Ketua Apple, akan menjadi Chief Executive Officer dan pemimpin para investor dari perusahaan Calico tersebut.

“Saya telah mengabdikan sebagian besar hidup saya untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan tujuan peningkatan kesehatan manusia. Fokus pada proses penyembuhan Larry telah mengilhami saya, dan saya sangat bersemangat tentang apa yang bisa saya perbuat berikutnya.” kata Levinson.

Minggu, 22 September 2013

At-Tawaazun, Keseimbangan Hakiki


Hukum dan Keadilan (ilustrasi) “(Allah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?'' (QS. 67:3)

Pakar Tafsir Al-Qur’an terkemuka, Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukuMembumikan Al-Qur’an (Jilid 2 hal. 34), menyebutkan beberapa karakteristik ajaran Islam antara lain al-wasathiyah (moderasi), yakni pertengahan dalam tuntunannya baik tentang Tuhan maupun dunia, alam dan manusia. 

Islam memandang hidup dunia dan akhirat saling melengkapi. Tidak boleh tenggelam dalam materialisme dan juga terlena dalam spritualisme. 

Meraih materi duniawi tetapi dengan nilai-nilai samawi. Oleh karena itulah, umat Islam dijadikan umat pertengahan (ummatan wasathan) (QS.2:143).

Semakna dengan al-wasathiyah adalah at-tawaazun (equilibrium) yakni keseimbangan dan al-’adlu (keadilan).  Pertengahan menunjukkan kesemibangan sekaligus keadilan. 

Nabi Saw bersabda : ”al-wasthu al-’adlu, ja’alnakum ummatan wasathan”. Artinya ; ”Tengah-tengah itu adalah adil. Kami jadikan kamu satu umat yang tengah-tengah (terbaik)”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad). 

At-Tawaazun atau al-Mizan adalah prinsip keseimbangan ajaran Islam.  Alam semesta dan manusia  diciptakan dengan hukum keseimbangan (QS.67:3-4). (QS. 55:7-9).  

Allah SWT  telah menurunkan petunjuk baik dalam ayat Qouliyah (al-Qur’an) maupun ayat Kauniyah (alam semesta) yang memuat hukum keseimbangan (al-mizan). 

Oleh karena itu, jika manusia ingin hidup tenang, mesti tunduk pada hukum keseimbangan.  Mengapa hidup kita seringkali susah, dikejar-kejar hutang, sakit-sakitan dan konflik keluarga ? Boleh jadi, karena belum mampu menjaga keseimbangan. 

Paling tidak, ada tiga hal yang harus diseimbangkan yaitu : 
Pertama ; Keinginan (Want). Dalam bahasa agama disebut dengan al-hawa an-nafs(hawa nafsu) yakni keinginin diri sendiri. 

Imam al-Gazali pernah berpesan yang paling besar di dunia ini adalah hawa nafsu. Keinginan manusia itu tidak terbatas seperti minum air laut, akan bertambah haus. Hawa nafsu selalu menggiring kepada keburukan kecuali yang dirahmati Allah (QS.53:12,75:2,89:27). 

Jika manusia mengikuti nafsu, ia mempertuhankan diri sendiri (QS.45:23) dan melakukan apa saja bahkan lebih bejat dari binatang (QS. 25:44, 7:179).  

Keinginan pula yang membuat kita susah. Dapat yang satu ingin yang lain. Begitu pun konsumsi,  apa saja dimakan dan berlebihan (tabzir),  padahal menzalimi diri sendiri (6:119,17:26-27,38:26). 
Tidak satu pun pekerjaan yang dilandasi hawa nafsu yang menghasilkan kebaikan (kualitas), tapi akan berakhir dengan kegagalan. 

Kedua ; Kebutuhan (Need). Dalam istilah agama disebut al-haajah. Islam tak hendak membunuh hawa nafsu, tapi mengendalikannya. Tak ada kehidupan jika tidak ada keinginan terhadap seks, harta, wanita, jabatan dan lain-lain (QS. 3:14). 

Salah satu yang bisa menyeimbangkan keinginan adalah kebutuhan. Apakah kita butuh terhadap yang kita inginkan ? Kebutuhan lebih kecil dari keinginan. Lihatlah mobil, motor, baju, sepatu, asesoris rumah, apakah dibutuhkan atau diinginkan ?  

Keinginan meraih sesuatu telah melalaikan kita pada hak badan, keluarga, tetangga dan masyarakat. Tubuh berhak akan istirahat dan gizi, istri dan anak (HR. Bukhari).
Dalam ibadah saja pun, Nabi SAW melarang berlebihan. Beliau puasa terus berbuka, tahajjud lalu tidur dan menikah (HR. Muttafaq ’alaih). Malam untuk istirahat dan siang bekerja (25:47,78:10-11). Jika keinginan tidak seimbang dengan kebutuhan, akan terjadi disharmoni individual, sosial dan spritual.   

Ketiga ; Kemampuan (Ability). Dalam bahasa agama disebut denganistitha’ah.  Jika keinginan (gas) bisa diseimbangkan dengan kebutuhan (rem), maka laju dan irama akan terkontrol. 

Tapi, kebutuhan pun  subjektif. Ibarat  gas ditancap tapi rem diinjak, bisa blong ata aus. Oleh karena itu, keinginan belum bisa diimbangi dengan kebutuhan saja, tapi juga harus dengan kemampuan (mesin).  

Mesin kenderaan akan rusak jika over capacity. Agama Islam tidak memberatkan umatnya (’adamul haraji) dan tidak menghendaki kesukaran dalam menjalankannya (QS.22:78). Allah SWT. pun tak memaksa kita melakukan ibadah melampaui kemampuan (QS.2:286,23:62). 

Begitu pun memberi nafkah kepada keluarga  (QS.2:233, 65:7), memberi mahar (QS.2;236),  shalat dalam perjalanan diberi rukhsah (keringanan), jika tidak bisa berdiri, duduk atau terbaring, (QS.3:191). Puasa jika tidak mampu boleh berbuka atau bayar fidyah (QS.2:184). Menunaikan haji jika mampu (QS.3:97.

Ketika Kita ingin dan butuh sesuatu serta mampu, apakah boleh melakukannya ? Agama memberikan pedoman hidup agar merujuk kepada 3 (tiga) nilai dasar keislaman, yakni kebenaran (ilmu), kebaikan (etika) dan keindahan (estetika). 

Bertanyalah, apakah hal itu benar, baik dan indah menurut pandangan agama dan kearifan ? At-tawaazun adalah keseimbangan hidup dengan pribadi, sosial, lingkungan alam semesta dan Allah SWT. Ia ada di pertengahan. 

Pesan Nabi SAW. : ”khairul umuri awsathuha” (sebaik-baik urusan adalah pertengahan). Sikap dermawan itu di tengah kikir dan boros. Keberanian di tengah nekat dan pengecut.  Allahu a’lam bish-shawab. 
Source

Al-Hasib, Yang Maha Membuat Perhitungan

"Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya." (QS Ar-Ra’d: 41)

Apabila kita rajin mengamati benda-benda kosmos di angkasa, kita akan mendapati benda-benda itu bergerak stabil tanpa dipengaruhi faktor-faktor eksternal sejak jutaan tahun yang lampau. Tak bisa tidak, kita akan menyimpulkan bahwa ada sistem perhitungan yang amat komplek atasnya yang begitu alamiah. Perhitungan yang diperlukan untuk menjalankan kosmos besar itu tidak pernah bisa dijangkau oleh “rasio” manusia, siapa pun.

Lalu, siapakah yang menciptakan sistem yang begitu kompleks, rumit, dan perhitungan yang demikian akurat? Dia-lah Allah, yang menjadikan kriteria kosmis tetap untuk melindungi kelangsungan hidup manusia di muka bumi dengan cara yang sempurna, yang dengan itu manusia dapat melaksanakan tugasnya di muka bumi sebagai hamba sekaligus khalifah.

Coba renungkan betapa Allah (Al-Hasib) membuat keseimbangan kimiawi, fisiologis, dan astronomis yang ada di alam semesta secara mengagumkan sehingga tidak kita temukan kesalahan sekecil apa pun di dalamnya. Kesalahan perhitungan sekecil apa pun, bahkan sebesar rambut dibelah lima puluh (bukan sekadar dibelah tujuh), sekalipun pasti akan berakibat fatal. Di sini, tidak ada toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun.

“Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan dengan kadar (kalkulasi dan akurasi) yang ditentukan. Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan bagaikan kejapan mata.” (QS Al-Qamar: 49 dan 50).

Luar biasa! Betapa akuratnya perhitungan Allah dalam penciptaan benda-benda angkasa sehingga keberadaannya dapat dihisab sekaligus dirukyat.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang berilmu.” (QS Yunus: 5).

“Dialah yang menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am: 96).


Sungguh, secerdas apa pun pikiran manusia, mereka tak bakal mampu menjangkau angka perhitungan di seluruh jagad raya dari atom terkecil hingga planet terbesar dalam berbagai jenis, orbit, dan lingkungannya. Manusia, bahkan tak bakal mampu menyebut angka perhitungan yang terjadi dalam tubuh mereka sendiri.

Al-Qur’an tidak saja menjelaskan tentang akurasi perhitungan Allah terhadap penciptaan langit dan bumi. Tapi Dia sangat cermat dalam memperhitungkan segala amal perbuatan hamba-Nya dan membalas mereka sesuai dengan keadilan-Nya.

“Sesungguhnya Allah Maha memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisaa: 86).

"Agar Allah membalas setiap jiwa (seperti) apa yang telah mereka usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat dalam menghisab.” (QS Ibrahim: 51).


Setiap perbuatan manusia, yang baik maupun yang buruk, semua diperhitungkan, tanpa ada yang kelewat. Sekecil apa pun perbuatan manusia, bahkan yang masih disembunyikan dalam hati, diketahui oleh Allah dan diperhitungkan-Nya. Kelak di hari kiamat, manusia akan melihat data, rekaman, dan dokumentasi amalnya.

“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS Al-Zalzalah: 7 dan 8).

Lalu, hikmah apa yang bisa kita ambil dari sifat dan nama Allah Al-Hasib? Hisablah dirimu sendiri sebelum dirimu dihisab. Wallahu a’lam.

Jumat, 20 September 2013

Siapakah Orang yang Merugi Itu

Semua manusia yang hidup di dunia ini pasti tidak akan menginginkan hidup dalam kerugian. Seorang pedagang akan selalu bekerja dengan sungguh-sungguh agar niaganya laris dan dia mendapat banyak keuntungan. Seorang pelajar akan serius belajar agar dia berhasil dalam belajarnya dan tidak termasuk orang yang merugi.

Di zaman yang semakin maju dengan berbagai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan ini. Hampir semua manusia mengartikan kerugian adalah mereka yang rugi secara materi. Seseorang yang kehilangan harta benda dikatakan merugi. Seseorang yang tertipu dalam sebuah bisnis disebut merugi. Seorang yang hidupnya terpenjara disebut juga sebagai orang yang rugi. Maka dapat disimpulkan, patokan sebuah kerugian adalah ketika seseorang rugi secara materi semata. Padahal seebenarnya Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah telah menjelaskan arti dari kerugian yang sebenarnya.

Di dalam Surat Al ‘Asr Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa pada dasarnya semua manusia yang hidup di dunia ini dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Inilah salah satu kerugian pertama yang dijelaskan di dalam Al qur’an yaitu merugi waktu atau zaman.

Berapa banyak orang yang hidup bertahun-tahun lamanya namun sedikit sekali beramal untuk kepentingan Akhirat. Berapa banyak manusia yang membiarkan dirinya terus menerus berada dalam dunia kemalasan tanpa berusaha untuk keluar darinya. Berapa banyak orang yang melihat sebuah kemungkaran terjadi di depan mata, tapi tidak mengingkarinya dengan tangan, lisan, dan hatinya. Bahkan tidak sedikit dari manusia justru mengikuti kemungkaran itu. Mereka inilah orang-orang yang membuang waktunya berjalan tanpa memberikan manfaat baik untuk diri atau orang lain. Mereka adalah orang yang telah memberikan kerugian pada diri mereka sendiri.

Kemudian kerugian yang kedua adalah merugi kekuatan. Apabila kita berbicara tentang kekuatan maka akan kita dapati bahwa kekuatan itu ada di dalam jiwa para pemuda. Kekuatan seorang pemuda untuk beramal atau bekerja tentu berbeda dengan orang yang sudah dimakan usia. Semangat seorang pemuda adalah semangat yang tidak mudah untuk dipadamkan walau dengan berbagai cara. Untuk itulah kenapa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada umatnya dalam sebuah hadsit untuk benar-benar memperhatikan masa muda sebelum datang masa tua.

“Dari Ibnu Abbas dia berkata: telah bersabda Rasululloh, seraya menasehati seseorang: Jagalah olehmu lima perkara sebelum datang lima perkara yang lainnya, jaga masa mudamu sebelum tuamu, jaga masa sehatmu sebelum datang waktu sakit, jaga masa kayamu sebelum jatuh miskin, jaga masa lapangmu sebelum sempit, dan jaga masa hidupmu sebelum datang kematian”.

Akan tetapi, sebuah realita yang menyedihkan dalam masyarakat kita adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa masa muda adalah masa foya-foya. Mereka menghabiskan waktu untuk selalu bermain, bersenda gurau berlebihan, dan pesta-pesta tanpa pernah untuk memikirkan kehidupan akhirat. Mereka tidak menyadari bahwa seharusnya kekuatan yang ada pada diri mereka digunakan untuk hal-hal yang bersifat positif dan diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Di dalam hadist yang lain Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira dengan naungan Allah pada hari akhir kepada pemuda yang tumbuh besar dengan beribadah kepada Allah.

Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah... (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, sebuah realita yang kita temui saat ini adalah sedikitnya jumlah pemuda yang hadir mengikuti jama’ah subuh di masjid –kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah-. Masjid masih saja di dominasi oleh orang-orang yang tidak lagi berusia muda atau bisa jadi hanya ada kakek-kakek yang lanjut usia. Sebuah pertanyaan yang perlu ditanyakan kepada para pemuda adalah, apakah mereka bisa menjamin kematian itu datang hanya kepada yang lanjut usia ? Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau mempercepat sesaat pun.” (Qs. Al-A’raf: 34)

Sudah saatnya bagi seorang muslim untuk menghindarkan dirinya dari kerugian yang akan mendatangkan penyesalan apabila terus-menerus berkubang di dalamnya. Sedangkan Allah tidak akan merubah seseorang kecuali dia berusaha untuk merubah dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” (Qs. Ar-ra’d: 11)

Semoga Allah ta’ala memberikan kepada kita kebaikan di dunia dan Akhirat, serta menjauhkan kita dari api Neraka.

Rabu, 11 September 2013

Melongok Bekas Istana Qarun

Qasru el-Qarun atau dikenali sebagai istana Qarun terletak di pinggir Tasik Qarun dan hampir 40 kilometer dari bandar Fayyoum. Istana ini sisa sebagiannya masih kokoh hingga kini dan tidak ditenggelamkan oleh Allah hingga saat ini sebagai pengiktibaran untuk umat manusia. Dipercayai terdapat 360 buah bilik di dalam istana ini yang menyamai 360 hari dalam setahun. Terdapat tiga tingkat yang menempatkan kaum kerabat dan tempat menyimpan harta Qarun tidak termasuk beberapa lapisan di bawah istana tersebut.

Al-Quran menerangkan tentang penampilan Qarun suka mempamerkan kebesaran dan kekayaannya. Kebiasaannya ia dilakukan tiada motif tertentu kecuali ia merupakan strategi menarik perhatian ramai agar ia dikagumi sebagai idola. Dengan mempamerkan kekayaannya juga bermaksud memberikan pesan bahawa ia mampu melakukan segala-gala, mengupah, membeli dan membiayai apa saja dan berapa saja.Dalam penceritaan selanjutnya al-Quran menyebut tentang adanya kelompok yang memang mengagumi Qarun, iaitu golongan material yang terlalu ghairah untuk menjadi kaya dengan cara apa saja. Mereka ingin menjadi Qarun, kerana ia adalah lambang kejayaan seorang usahawan, kejayaan yang hanya diukur dari jumlah yang tertimbun, tanpa mengambil kira dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Kerana itu Qarun mengakhiri hayatnya dengan nasib yang sangat tragik, hancur luluh ditelah bumi.al-Quran memberikan gambaran, bagaimana Qarun terbenam ke dalam bumi bersama rumah dan isinya sekalian .
Reff

Manusia Tempat Salah Dan Khilaf

Berhati-hatilah Dengan Hati 

“Manusia tidak luput dari salah, tidak ada manusia yang sempurna”, atau “manusia tempat salah dan khilaf”, 


Itulah kiranya dua ungkapan atau istilah yang sering terucap dalam menggambarkan betapa sosok manusia adalah sosok yang lemah, punya kecenderungan yang besar untuk berbuat salah dan khilaf.

Terkadang kelemahan manusia itu sendiri sering dijadikan sebuah pembenaran, sehingga tidak jarang seorang manusia seakan tidak mau belajar dari kesalahannya sendiri, tidak mau introspeksi. “Tidak ada manusia yang sempurna”, dalam kalimat itulah terkadang manusia berlindung dari kesalahan-kesalahannya.

Didalam kehidupan dunia, sudah ketentuan Allah SWT manusia dihadapkan pada dua pilihan, dua jalan atau dua bisikan, yakni jalan kebenaran dan jalan kesesatan. Semenjak Iblis tidak mau bersujud kepada Adam sesuai dengan perintah Allah SWT, dan menjadi makhluk terkutuk yang berjanji akan menyesatkan manusia hingga ingkar daripada jalan kebenaran, ingkar dari perintah dan larangan Allah SWT kemudian semenjak Adam dan Hawa diturunkan oleh Allah SWT dari Surga karena bujuk rayu Iblis, maka sampai hari kiamat pula iblis menjadi musuh yang nyata manusia, musuh yang selalu berkomitmen mengajak manusia kedalam kesesatan, membujuk dan merayu agar sama-sama satu barisan dalam menentang segala jalan kebenaran agama yang bersumber dari Allah SWT lewat Al-Quran, Hadist dan Sunnah.

Dalam rangka itu, iblis, setan dan bala tentaranya tidak lelah dan terus mencari titik kelemahan manusia yang mudah ditaklukan. Salah satu titik lemah manusia ada dalam hati, karena hati merupakan nahkoda atau setirnya jiwa dan raga, pengendali dari semua tindakan manusia. Untuk itulah dalam hati manusia selalu dua kekuatan yang saling berperang, kekuatan yang menyeru pada kebaikan dan kekuatan yang menyeru kepada keburukan dan kesesatan. Seruan kebaikan bersumber dari perintah dan larangan yang digariskan oleh Allah SWT lewat ajaran agama, dan seruan keburukan/kesetan bersumber dari iblis, setan dan bala tentaranya.

Dalam prosesnya, ada manusia yang bisa memerangi seruan iblis, setan dan bala tentaranya, ada manusia yang tidak bisa memeranginya, artinya manusia yang kalah dan menyerah pada seruan iblis, setan dan bala tentaranya sehingga hatinya selalu condong pada keburukan, kesesatan, dan itu semua dimanifestasikan lewat tindakan yang sifatnya mengingkari apa-apa yang diperintahkan dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT lewat ajaran agama. Iblis, setan dan bala tentaranya selalu bercokol dalam hati manusia, menyeru pada pemuasan hawa nafsu dan kebatilan. Inilah sumber dan sebab-musabab kenapa manusia punya kecenderungan untuk berbuat salah. Disamping sosok manusia yang diciptakan sesuai dengan ketentuan Allah SWT adalah sosok yang lemah dengan segala kekurangannya, ditambah pula dengan bujuk rayu iblis, setan dan bala tentaranya yang selalu bersemayam dalam hati manusia dalam menyeru kepada jalan yang sesat. Untuk itulah kenapa manusia dianjurkan untuk selalu mendekatkan diri kepada Rabb-nya, Allah SWT, meminta kekuatan dan petunjuk dari-Nya guna menangkal godaan-godaan iblis dan setan dalam hati manusia.

Niscaya, orang yang tidak mau mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, memohon kekuatan dan petunjuk dari-Nya, dia adalah orang yang menjadi sasaran empuk iblis, setan dan bala tentaranya sehingga dengan mudah hatinya dapat ditaklukan oleh seruan-seruan yang menyesatkan. Berbeda dengan orang yang selalu mendekatkan dirinya kepada Rabb-nya, meminta pertolongan, kekuatan dan petunjuk dari sang Khalik, maka hatinya akan memiliki tameng dalam menahan seruan kesesatan dari iblis dan setan, dan iblis, setan akan memerlukan tenaga ekstra untuk membujuk hatinya.

Untuk itulah kenapa Nabi Muhammad SAW bersabda,

“ sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumbal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baik pula tubuh manusia itu, tapi bila segumpal daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia itu, segumpal daging itu adalah Qalbu (hati)” (HR. Bukhari Muslim). 

Inilah hati manusia, bila diibaratkan, hati merupakan benteng pertahanan manusia, bila benteng itu roboh oleh musuh maka musuh dapat dengan mudah menguasai isinya, tapi bila benteng itu kokoh maka musuh akan sulit menguasai isinya, yakni imannya manusia. Dalam sebuah hadits marfu' dari Anas disebutkan,

"Tidak lurus keimanan seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak lurus hati seseorang sebelum lurus lisannya." (HR. Ahmad). 
Wallahualam bishawab.