aguspurnomosite.blogspot.com

aguspurnomosite.blogspot.com
Berpikir Luas Membuka Cakrawala Kehidupan! Berusaha Memberikan Yang Terbaik Untuk Masa Depan! Katakan "Go Go Go SEMANGAT" !!!

Selasa, 28 Mei 2013

PENINGKATAN KUALITAS GURU, BELAJAR DARI SISTEM JEPANG


 Hari pendidikan nasional 2 Mei lalu masih menyisakan banyak PR bagi dunia pendidikan di Indonesia. Masalah carut-marutnya UAN, standarisasi pendidikan yang masih dipertanyakan antara pusat, daerah serta wilayah-wilayah tertinggal, termasuk juga standarisasi para guru dari sabang sampai meroke, menunggu untuk diselesaikan. Semua menjadi tangung jawab setiap orang yang mengaku peduli dengan dunia pendidikan.

Salah satu masalah yang masih menjadi polemik di Indonesia adalah masalah standarisasi guru dengan menggunakan cara sertifikasi. Meskipun setiap guru di Indonesia dianjurkan untuk belajar lagi sampai jenjang S1, lalu mengurus sertifikasi sebagai tanda kelayakan sebagai guru, namun peningkatan kualitas setelah diberikantreatment tersebut masih saja dipertanyakan. Apakah guru yang sudah tersertifikasi benar-benar sudah memiliki kualitas yang baik untuk mengajar? Ataukah hanya sebagai pernyataan di atas kertas yang disertai dengan penambahan uang saku, namun tidak ada perubahan apa-apa dalam metode mengajar? Masalah ini perlu dipikirkan dengan serius.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru di Indonesia?

Sistem kualifikasi guru di jepang mungkin bisa menjadi contoh yang baik dalam menjawab masalah ini.

Untuk menjadi guru di Jepang sangatlah sulit. Pertama, para calon guru harus menjalani kuliah di universitas keguruan untuk mendapat lisensi guru. Kalau tidak masuk ke dalam universitas keguruan, mereka harus menjalani semacam kursus yang diselenggarakan oleh badan pemerintah Jepang, yang bisa mengeluarkan lisensi untuk menjadi guru.

Setelah itu, untuk menjadi guru di daerah tertentu, mereka harus mengikuti tes yang dilaksanakan setiap daerah. Di Jepang standarisasi setiap daerah berbeda, karena itu setiap daerah mengeluarkan ujian sendiri untuk calon guru yang berminat di daerahnya. Misalnya, untuk mengajar di kota Tokyo, mereka harus mengikuti ujian khusus untuk menjadi guru di kota tersebut. Biasanya para calon guru di Jepang melamar di beberapa daerah, sebagai cadangan bila ternyata mereka tidak lulus ujian di daerah pertama.

Setelah mendaftar, maka calon guru harus mengikuti dua kali ujian. Yang pertama tes tertulis. Kalau lulus, mereka harus mengikuti ujian wawancara. Bila keduanya lulus, maka calon guru tersebut akan dipilihkan sekolah tempat mereka akan mengajar nantinya, oleh pejabat pendidikan di kota tersebut.

Dari proses ini bisa terbayang, betapa beratnya untuk menjadi guru di Jepang. Persaingan dan proses penyaringannya lumayan sulit. Para calon guru yang berhasil melewati tes adalah guru yang sudah tersaring dengan ketat. Kualitasnya sesuai dengan standar yang berlaku di daerah tersebut.

Nah, itu baru dari tes masuk saja.

Selain itu, setiap sepuluh tahun, para guru harus kembali mengikuti pelatihan dan kembali mengikuti ujian sertifikasi untuk menjadi guru. Hal ini penting agar setiap guru tetap memiliki pengetahuan yang up to date, tetap belajar hal-hal yang baru di dunia pendidikan. Ini murni untuk peningkatan kualitas mengajar para guru, dan kualitas pendidikan secara umum. Jadi tidak ada hubungannya dengan kenaikan gaji.

Tradisi belajar ditumbuhkan dengan peran aktif sekolah dalam memberikan contoh langsung kepada murid tentang pentingnya belajar. Sekolah-sekolah yang bagus bahkan punya tradisi penelitian tahunan. Biasanya mereka menentukan tema penelitian, yaitu target umum yang akan dicapai oleh sekolah di tahun tersebut. Lalu apa peran setiap mata pelajaran untuk mencapai target tersebut. Umumnya tidak jauh-jauh dari target pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah jepang, yaitu agar setiap murid Memiliki dasar-dasar pengetahuan, Memiliki sikap (positif) dalam belajar, dan Mengembangkan kemampuan berpikir, menganalisa dan berekspresi. Terakhir agar siswa Memiliki minat belajar yang baik.

Bagai mana teknis untuk mencapai target tersebut, diserahkan kepada setiap guru untuk memikirkannya. Di sini peran guru adalah berusaha mencapai target penelitan sekolah melalui mata pelajaran yang diajarkannya. Misalnya, bagaimana pelajaran IPS bisa meningkatkan kemampuan berpikir, menganalisa dan berekspresi setiap murid di kelasnya. Caranya dengan melakukan proyek penelitian lapangan, lalu hasilnya didiskusikan dalam kelompok, setelah itu setiap kelompok melakukan presentasi lisan dan menulis laporan secara individu. Cara ini bisa menjadi metode yang tepat untuk mencapai target tersebut.

Penelitian tahunan sekolah Jepang sering diadakan dengan cara Open Class. Artinya, wali murid, para mahasiswa di bidang keguruan dan masyarakat yang berminat, bisa melihat langsung proses penelitian tersebut.

Selain tiga hal di atas, kualitas yang bagus dari para guru di Jepang tidak lepas dari tradisi Lesson Study, yang sudah dijalankan sejak seratus tahun lebih, di sekolah-sekolah Jepang.

Lesson Study atau penelitian tindakan kelas, merupakan proses penelitian tentang efektifitas proses belajar mengajar di kelas. Prosesnya biasanya dimulai dari penyusunan rencana mengajar tentang satu topik pelajaran, yang kemudian dirancang bersama-sama dalam satu tim guru. Setelah pembuatan rencana mengajar selesai, kemudian rencana itu diaplikasikan di kelas, sambil diobservasi oleh tim dan guru lain yang berada diluar tim. Setelah proses belajar mengajar selesai, proses berikutnya adalah ajang refleksi, masukan dan saran. Sesi ini dilakukan secara sungguh-sungguh, dengan semangat untuk perbaikan kualitas pendidikan, bukan untuk menjelek-jelekkan atau menjatuhkan sang pengajar. Setiap guru di Jepang minimal harus melakukan Lesson Study sekali selama masa mengajarnya.

Terakhir, adanya rolling guru-guru senior yang sudah memiliki banyak pengalaman ke berbagai sekolah, agar guru-guru lain bisa belajar dari pengalaman mereka. Dengan cara ini, kualitas belajar mengajar di sekolah-sekolah setiap daerah menjadi merata.

Itulah beberapa cara yang dipakai oleh Jepang untuk meningkatkan kualitas para gurunya. Sekarang, bagaimana dengan Indonesia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar